Selasa, 20 April 2021

Akhirnya Faza Sekolah!

 Awal Maret lalu, Budhe Hana (orang yang sejak bayi menjaga Faza saat saya kerja) terpapar Covid-19 dan harus dirawat di Rumah Sakit kurang lebih dua minggu. Jelas kami kalang kabut memikirkan Faza sama siapa saat saya dan ayahnya kerja? Yangtitinya masih aktif bekerja, sementara akungnya meski sudah pensiun, tapi tergolong orang yang masih aktif di beberapa lembaga pemerintah. Jadi gak setiap hari di rumah. Lagipula, saya gak tega minta tolong akungnya untuk jaga Faza sendirian dari pagi sampai sore.

Alhamdulillahnya, kantor tempat saya dan suami kerja, aturannya super duper santai. Ijin untuk gak masuk kerja sangat mudah. Jadi kami ijin gantian. Sehari saya yang ijin, besoknya suami yang ijin. Ohya, sebelumnya saya juga udah swab-in Faza dan Alhamdulillah negatif. Makanya kami masih berani beraktivitas seperti biasa.

Selama di rumah saya Faza, saya jadi sadar. Intensitas Faza nonton TV sudah mulai berlebihan. Dari mana saya tau? Lha tiap kami nonton TV bareng, dia hafal semua jingle iklan, cobaaaa *CRY*. Udahlah emang saya nya kalo malem udah mager mau belajarin dia macem-macem, mentok paling baca buku, siangnya kegiatan dia kebanyakan nonton TV. Hiks.

Tapi saya gak menyalahkan budhe Hana sama sekali ya. Sedikit pun enggak. Gimanapun, beliau itu tugasnya hanya menjaga Faza selama saya kerja. Beliau gak punya jobdesc untuk mendidik.

Setelah berpikir tentang gimana caranya Faza gak terlalu sering nonton TV lagi, akhirnya saya WA teman saya yang dulu pernah kasih info soal PAUD sekaligus daycare. Apakah bisa menerima peserta didik baru atau enggak. Alhamdulillahnya, kata teman saya bisa kalau mau daftar sekarang!

Gak pakai mikir lama, saya langsung WA miss-nya, bilang bahwa hari Senin tanggal 22 Maret lalu saya akan datang ke sekolah untuk mendaftarkan Faza. Selasanya, Faza langsung masuk hari pertama.

Ohya, FYI, saya udah pernah survey daycare ini setahun lalu. Niatnya tahun lalu saya ingin mendaftarkan Faza. Tapiii, jeng jeng... tiba-tiba pandemi. Bubar jalan semua rencana. Makanya ketika kali ini akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan, bisa dibilang saya udah punya gambaran tentang daycare tersebut.

Kan masih pandemi, emang gak khawatir?

Enggak sih, Bismillah. Saya yakin aja.

Toh pas masih di Budhe Hana juga dia gak ada jaminan terlindungi dari virus. Malah interaksinya sama jauh lebih banyak orang. Sedangkan daycarenya ini, sejak pandemi, hanya ada satu anak yang fullday. Peserta didik yang lain pada halfday, itupun yang halfday diberlakukan seperti sekolah-sekolah yang lainnya, yaitu masing-masing anak masuk sekolahnya hanya sepekan sekali. Dengan jadwal yang diatur sedemikian rupa. Jadi masuknya enggak barengan semua anak.

Sekolahnya pun punya aturan tentang protokol kesehatan. Jadi, Insyaa Allah akan jauh lebih terkontrol.

Proses Adaptasinya Gimana?

Agak menguji kesabaran sih. Padahal awalnya saya dan ayahnya agak ketinggian eskpektasi sama dia. Kirain dia akan semudah itu adaptasi, ujug-ujug enjoy di sekolah baru gitu. Haha. Jangan mimpi, Marimar!

Tentu saja tidak.

Hari pertama pas saya antar, dia kelihatan nahan nangis (tapi gak nangis). Kata missnya, mau mainan tapi belum mau gabung sama teman yang lain. Maunya sendiri. Oke, mungkin karena belum kenal.

Siangnya missnya ngabari, Faza nangis heboh minta pulang. Waduh, saya panik. Tapi lalu ingat dulu ponakan saya juga gitu awal masuk sekolah. Inhale-exhale, saya mulai tenang, lalu saya video call Faza lewat missnya. Lihat wajah saya, makin keras dia nangisnya. Haha. Saya beri semangat dan afirmasi positif secukupnya. Apakah dia langsung tenang? Ya jelas tidak. Tetap nangis. Tapi kata missnya, meski sedang menangis, Faza tetap mau diajak berkomunikasi, tetap jawab setiap ditanya.

 

ekspresi di minggu kedua sekolah, saat diantar

Hari berikutnya, drama semakin menjadi. Udah rewel sejak mau berangkat. Dirayu dengan diajak jajan ke indomaret, mau. Sampe sekolah, ya tetep aja nangis. Gitu terus sampe seminggu ke depan. Tapi Alhamdulillah nangisnya maksimal cuma sampai jam 10 sih. Haha.

Seminggu pertama sekolah, mainan barunya ada 4! Itu rekor banget. Dalam rangka untuk 'hadiah', dan biar dia semangat sekolah. Hihi. Lepas seminggu, udah mulai stabil. Tapi masih ada agak rewel-rewelnya dikit. Masuk minggu ketiga, Alhamdulillah sudah aman suraman. Alhamdulillah!

Gimana Faza setelah sekolah?

Sedihnya, dia gak mau banyak cerita tentang kegiatannya di sekolah. Cerita sih, tapi sepengennya dia. Kalau ditanyain, dia malah jadi males cerita. Hih. Saya juga awalnya tanyanya salah sih. Saya tanya, 'Faza di sekolah belajar apa atadi?', Faza jawabnya, 'Faza gak belajar kok, Faza mainan'. Ahahaha, lhaiyaaa... kan di PAUD sih isinya memang mainan, cuma mainannya lebih terarah dan ada goals-nya aja.

 


Tapi Alhamdulillah missnya kooperatif sekali. Sering ngirim foto-fotonya Faza selama berkegiatan di sekolah, dan update informasi apapun.

Yang paling bikin saya senang setelah Faza sekolah sih satu: saya gak perlu masak buat bekal makan siangnya dia, karena makan siangnya sudah disediakan oleh sekolah, YEAY!

Selasa, 09 Februari 2021

Cerita Khitan Faza: Masih Kecil kok Sunat?

Saat masih hamil Faza, saya pernah nggak sengaja membaca postingan Instagram (lupa instagram-nya siapa), yang mengatakan bahwa, dari segi medis, waktu terbaik khitan/sunat seorang anak laki-laki adalah di bawah satu tahun. Lumayan kaget, karena selama ini yang lazim di lingkungan saya, anak laki-laki dikhitan rata-rata usia di atas tujuh tahun. Ada sih beberapa yang sunah dikhitan ketika masih kecil, tapi seringnya karena ada penyebab yang memang mengharuskan di baliknya. Setiap ada anak usia di bawah 7 tahun sunat, rata-rata orang akan bertanya: masih kecil kok sunat?


Ketika Faza lahir, ingatan tentang postingan usia terbaik anak laki-laki khitan itu kembali lagi. Lalu terbersit keinginan untuk mengkhitankan Faza saat bayi. Karena selain ternyata memang direkomendasikan oleh kacamata medis, kalau dipikir-pikir khitan saat masih bayi rasanya akan jauh lebih simpel.


Kenapa simpel? Yah, kalau misal setelah khitan jadi rewel kan tinggal dinenenin. Gendong juga masih enteng. Toh enggak karena dikhitan pun, adakalanya bayi rewel semalaman kan. Jadi sekalian gitu repot dan begadangnya. Hehehe.


Tentu saja niatan itu ditolak oleh keluarga saya, terutama Ibu. Karena, ya nggak lazim di mata mereka. Jadi yawis akhirnya niatan itu saya urungkan. Tapi keinginan untuk mengkhitankan Faza sesegera mungkin masih selalu ada dalam benak saya dan mas suami.


Sejak Faza sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah -- kurang lebih usia 1,5 tahun, kami mulai intens mensounding Faza untuk dikhitan. Kami menjelaskan ke dia bahwa Faza anak laki-laki, dan anak laki-laki harus dikhitan.


Nah, karena kami sudah sounding dari jauh-jauh hari, kami jadi tinggal nunggu dia siap saja. Jadi prosesnya mirip saat menyapih. Tinggal nunggu moment 'aha'-nya dia, cepat atau lambat dia akan bilang mau dan siap.

 

Baca juga: Menyapih dengan Cinta


Dan benar ternyata. Faza menemukan moment 'aha'-nya ketika kakak sepupunya dikhitan. Dia tiba-tiba bilang, "Ibu, aku mau dikhitan juga seperti Mas Danish"


Wow, tentu saja saya dan ayahnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Kami segera mengatur rencana: kapan, mau sunat di mana, dll. Setelah berunding dengan Akung dan Yangtinya Faza, akhirnya kami sepakat mengkhitankan Faza pada tanggal 4 Desember 2020 lalu. Selang lama banget yaaa dengan saat cerita ini ditulis, hehe. 


Saat itu, kami sempat galau mau menggunakan metode sunat apa. Awalnya saya berniat memakai metode clamp. Sudah sempat menghubungi Rumah Khitan yang bersedia Home Service juga. Tapi setelah berunding lagi, kami akhirnya memutuskan agar Faza disunat oleh tetangga kami yang seorang dokter dan memang sudah terbiasa mengkhitan anak, dengan metode laser.


Saat Proses Khitan


Saat proses khitan berlangsung, tentu saja kami semua tegang. Bisa jadi kami yang mendampingi yang jauh lebih tegang dibanding Faza, Fazanya manempatkan dirinya sendiri di tempat tidur malah. Hehe.


Yang membuat lebih tegang adalah, saat dokter sudah memotong kulit ujung penisnya, dan akan melanjutkan proses selanjutnya, tiba-tiba dokter bilang, "Lho..." dengan nada agak kaget. Jangan tanya saya paniknya seperti apa, meski tentu saja harus berusaha tetap tenang.


Ternyata, kulit penis Faza yang harus dipotong agak banyak, dan pemotongan yang pertama masih kurang. Jadi harus dipotong lagi. Setelah dipotong kedua kali, baru ketauan bahwa ternyata sudah mulai ada perlengketan antara kulit dan kepala penisnya, atau bisa dibilang sudah mulai gejala fimosis. Jadi kata dokter, keputusan untuk mengkhitankan Faza sekarang adalah keputusan yang sangat tepat. Alhamdulillah.


Nah tapi, karena ada perlengketan, tentu saja hal ini membuat proses khitan jadi makin lama. Di tengah-tengah proses menjahit, efek obat bius lokalnya sepertinya sudah mulai hilang, jadi Faza bisa merasakan saat dia dijahit, Hiks. Jelas saja dia nangis teriak-teriak. Tapi Alhamdulillah masih sangat terkendali.


Setelah Khitan Rewel Nggak?


Hampir semua orang juga bertanya seperti ini.

 

Kurang Lebih 3 Jam Setelah Sunat

 

Setelah proses khitan selesai, jelas Faza sempat menangis heboh. Mungkin sekitar setengah jam. Sempat muntah juga gara-gara oleh dokter kami disuruh langsung meminumkan obat pereda nyeri, dan Faza masih sambil nangis.


Alhamdulillahnya, proses khitannya dilakukan siang hari. BErte[atan dengan jam tidur siang Faza, Jadi, setelah capek nangis dan minum obat, dia langsung bobok. Puleeeess banget.


Setelah bobok, ya udah. Nggak ada rewel-rewel lagi. Alhamdulillah. Nangisnya paling kalau mau dioles salep, karena dia parno duluan. Hehe.


Berapa Hari Proses Pemulihannya?


Tepat seminggu, Alhamdulillah Faza sudah pulih total. Meskipun dalam seminggu itu, sempat diwarnai bengkak, karena Faza nggak bisa disuruh diem.

 

Hari ke-3 udah bisa gaya, LOL

 

Saat bengkak itu, saya sempat agak panik. Karena (maaf), bentuk penisnya jadi nggak beraturan. Saya khawatir nggak bisa balik lagi bentuknya, Huhu. Alhamdulillah kekhawatiran saya nggak terjadi.


Legaaaa banget rasanya, punya anak laki-laki dan sudah mengkhitankannya. Tinggal nunggu moment dia minta ijin untuk nikah. Huehehehe.


Jadi, bagi buibu pakbapak yang berniat mengkhitankan anaknya sedini mungkin, nggak usah khawatir yaaa. Semangat :)