Rabu, 09 Juni 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 3)

Halohaaa

Bismillah, mau lanjutin cerita lagi yaaa. Tiap nulis, aku berharap semoga ada manfaat yang dibawa dan sampai ke pembaca dari tulisanku ini. Aamiin.

Jadi bertepatan dengan bulan Ramadan 1142 H alias bulan April 2021 Masehi, aku kembali mengalami apa yang aku alami di bulan Desember 2020 lalu. Yup, keluar flek beberapa hari setelah mens (kalo kali ini tepatnya 2 hari setelah mens), dan berkelanjutan sampe lebih dari hari ke 15 menstruasi.

Sedih bangeeettt, karena bertepatan dengan bulan Ramadan, hiks. Utang puasanya jadi banyak, huhu.

Pada hari ke-10/11 menstruasi akhirnya memutuskan untuk datang lagi ke dokter. Gak mau nunda-nunda lagi. Dan kali ini akhirnya saya bulatkan tekad untuk datang ke dokter sub-spesialis Konsultan Fertilitas. Yang Alhamdulillahnya, di Rumah Sakit yang se-naungan dengan tempat kerja saya, ada dokter konsultan fertilitas perempuan. Tepatnya di Rumah Sakit Islam Sultan Agung, dengan dr. Rini Ariani, Sp.Og, K.Fer.

Saat ketemu dr. Rini Ariani, beliau langsung memeriksa saya melalui -- lagi-lagi -- USG Transvaginal.

Dan, taraaa... sesuatu yang sudah familiar bagi saya, tapi belum pernah saya lihat sebelumnya di hasil pemeriksaan saya sendiri akhirnya.

 


Terlihat folikel-folikel kecil dan banyak di layar. Karena kebetulan saya udah lumayan sering baca-baca artikel yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita -- terutama sejak merencanakan untuk hamil lagi -- saya sudah bisa menduga apa yang terjadi, sebelum dokter menjelaskan.

Dan sesuai perkiraan saya, dokter Rini bilang, arahnya ke PCOS. Karena saya juga mengalami tanda-tanda lain seperti munculnya flek ini, rambut rontok parah berkepanjangan, sering merasa capek, dan tumbuh rambut halus di bagian tubuh tertentu yang sebelumnya nggak ada.

Dokter Rini juga bilang, ada indikasi saya kekurangan vitamin D. Konon, itu problem yang sangat umum pada para pekerja kantoran yang jarang terpapar sinar matahari. Dan setelah cari tau apa sih tanda-tanda vitamin D, saya tercengang. Hampir semuanya ada di aku. Huhu.

Aku juga tercengang membaca dampak dari kekurangan vitamin D ini. Padahal selama ini, minum suplemen vitamin D itu sesuatu yang kurang familiar kan ya. Nggak nyangka ternyata perannya buat tubuh sebesar itu.

Meski begitu, dokter Rini tidak (belum) menganjurkan saya untuk melakukan tes darah (tes lab), mengingat biayanya yang gak bisa dibilang murah, dan menurut beliau gambarannya sudah cukup bisa dilihat dari gejala-gejala yang muncul. Huhu, terharu. Dokter yang pengertian sekali. Karena banyak kan dokter yang menganjurkan tes ini-itu, tanpa kepikiran kemampuan finansial pasiennya. Padahal untuk promil, pemeriksaan yang dilakukaan pasti butuh banyak biaya, Jadi menurut beliau, alangkah lebih baik menekan apa yang bisa ditekan. Kecuali memang kondisi mengharuskan melakukan pemeriksaan tersebut.

Tapi, dokter Rini meminta kami untuk melakukan dua tes yang WAJIB dilakukan jika ingin menjalankan promil. Yaitu, tes analisa sperma untuk suami, dan HSG untuk istri.

Saya sempat nawar. Gimana kalau kondisi yang udah kelihatan bermasalah dibereskan dulu? Dalam kasus saya, hormon kacau yang bikin sel telur saya berukuran kecil-kecil itu yang dibereskan dulu.

Dokter Rini menolak. Beliau dokter yang prosedural sekali. Kalau memang mau promil, ya selain harus tau gimana sel telurnya, juga harus tau gimana spermanya, dan gimana saluran tuba falopinya. Karena percuma jika salah satu diperbaiki, tapi ternyata ada masalah lain yang belum ketahuan.

Baiklah.

Meski jujur saya agak shock sih. Shock-nya karena, wow -- lagi-lagi -- saya nggak nyangka akan ada di fase harus menjalani pemeriksaan-pemeriksaan semacam itu, yang sebelumnya cuma saya dengar lewat cerita.

Tapi yaudahlah ya, Bismillah. Que sera sera, whatever will be will be...

Akhirnya kami pun mengatur jadwal kapan saya akan HSG dan kapan suami analisa sperma. Gimana cerita soal HSG dan analisa sperma ini, lanjut lagi di Part 4 yaaa. Biar gak kepanjangan.

Jumat, 28 Mei 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part. 2)

 Bismillah, mau melanjutkan cerita promil anak kedua.

Kemarin waktu part. 1-nya release, ada satu teman dekat yang penasaran banget dengan lanjutan ceritanya. Minta spoiler, tapi aku kekuh nyuruh nunggu cerita part 2-nya di blog ini. Haha. Maafkan, sayaaang.

Hayuk lah, kita mulai ceritanya.

Sebelumnya baca dulu: Part. 1 Cerita Promil Anak Kedua

 

cerita-promil-anak-kedua


Setelah periksa di RSIA Anugerah Semarang dan disarankan untuk mencoba promil alami dulu, kami pun nurut. Balik ke promil alami seperti sebelum-sebelumnya.

Sampai akhirnya tibalah kami di bulan Desember 2020. Pada bulan Desember 2020 ini cukup banyak moment memorable untuk kami. Dimulai dari Faza yang akhirnya dikhitan, sampai... Kami sekeluarga (kecuali ibu mertua dan Faza), dinyatakan positif Covid-19 dan harus menjalani isolasi.

Saat isolasi di Pesantren covid yang disediakan oleh tempat kerja saya, pada hari ketiga saya dibuat kaget. Karena mendapati flek darah di celana dalam. Nggak banyak sih, tapi tetap saja bikin kaget dan was-was. Karena saat itu, saya belum ada seminggu beres mens.

Fleknya pun berlanjut terus bahkan sampai saya selesai isolasi, dan kemudian ketemu siklus mens berikutnya.

Pada saat mens itu, saya lagi-lagi datang ke dokter kandungan. Kali ini saya memilih ke ke klinik praktek dokter kandungan dekat rumah saya. namanya dr. Kartika Budi P, Sp.OG. Dan lagi-lagi, sekalian saya bilang, mau promil.

Tanpa babibu, saya langsung dikasih obat penyubur oleh beliau. Dan disuruh kembali pada hari ke-10 (kalo gak salah ingat) menstruasi, untuk USG Transvaginal.

Soal flek-nya gimana? kata beliau, mungkin stress dan kecapekan. Huhu, itu jawaban klise yang susah bikin saya percaya sebenernya. Tapi jadi masuk akan ketika bulan itu emang bisa dibilang saya stress banget saat harus isolasi.

Yaudah singkat cerita saya minum obat yang diresepkan oleh beliau. Lalu, kembali ke kliniknya di hari yang sudah ditentukan. Hasilnya? Beliau sempat kaget, lho mana kok gak ada telur yang ukurannya besar, padahal udah dikasih penyubur?? Waduh??!!

Tapi setelah beliau amati lagi, beliau bilang, eh sorry-sorry, ada deng. Tapiii, kata beliau yang ada sel telurnya hanya tuba sebelah kiri. Sedangkan yang kanan nggak ada. Saya agak bertanya-tanya, kok gitu? Apakah tuba kanan saya sudah gak berfungsi dengan baik? Sayangnya, pertanyaan itu hanya saya simpan dalam hati :(

Setelah itu, kami dikasih jadwal kapan aja harus berhubungan. Wooowww, jadwalnya banyak bangettt. Bahkan saat hari perkiraan ovulasi, kami diminta berhubungan setiap hari. Padahal bukannya sperma itu butuh waktu kurang lebih dua hari ya untuk 'mematangkan diri'? Entahlah.

Apakah kami patuhi sesuai jadwal yang dikasih itu? Sadly, enggak. Bukan karena gak mau atau gak suka ya 😂 Tapi jujur, bagi kami yang dua-duanya kerja dari pago sampai sore, ditambah sudah ada Faza, jadwal itu terasa gak masuk akal. Gak bisa bayangin lah pokoknya kalo berhubungannya macam 'kejar setoran' gitu. Khawatir malah bikin trauma kalo dipaksakan, huhu. Kualitas nomor 1, oke?! Hehehe.

Yaudah, habis itu akhirnya macet lagi. Kami gak balik untuk priksa lagi, wakakaka.

Setelah itu, saya balik ke mode naik-turun emosi lagi. Adakalanya sediihhh dan bertanya-tanya, kapan yaaa aku hamil lagi? Kenapa yaa aku gak kunjung hamil padahal dulu anak pertama cepet? Dll.

Sampai akhirnya masuk ke fase: ya sudah kalau memang jalannya harus gini. Semua atas pengaturan dari Allah yang Maha sempurna Pengaturannya, kan?

Tapi yaaa, percaya gak, tiap kita mau masuk fase baru yang lebih baik, pasti adaaaa aja cobaannya. Terutama cobaan hati. Waktu saya berusaha untuk 'nyelehke ati', diuji dengan kabar kehamilan anak kedua dari beberapa orang teman yang anaknya kurang lebih seumuran faza, bahkan ada yang jauh lebih kecil dari Faza.

Rasanya? Haha, yagitudeh. Pasti sempat mellow. Iri. Dll.

Beruntungnya, saya punya teman-teman supportif yang selalu ngasih vibe positif. Intinya, tiap orang punya jalannya masing-masing, dan tidak untuk dibandingkan. Alhamdulillah meski gak semudah kelihatannya, akhirnya saya bisa melewati fase itu dengan baik.

Lalu, sampailah kita pada bulan Ramadhan, yang bertepatan dengan bulan April 2021. Lagi-lagi, saya mengalami hal yang sama dengan yang saya alami pada bulan Desember 2020 lalu. Menstruasi saya memanjang. Saya terus-terusan flek hingga 15 hari lebih. Huhu sedih banget, mana pas Ramadhan pula kaaan.

Dan bagi saya, tubuh saya udah makin jelas banget ngasih alarm ketidakberesan.

Tanpa pikir panjang, saya langsung priksa. Dan kali ini, saya milih datang ke dokter kandungan yang punya sub-spesialis sebagai konsultan fertilitas. Atau yang punya gelar K.Fer di belakang gelar Sp.OG-nya.

Sebenernya saya udah tau lamaaa, bahwa kalau merasa ada yang gak beres dengan kesuburan atau ingin program hamil itu, datangnya bukan ke yang hanya Sp.OG, tapi yang K.Fer. Tapi emang dasarnya bandel sih anaknya, harus banget nyoba sana-sini dulu. Haha.

Alhamdulillah, di Rumah Sakit Islam Sultan Agung yang kebetulan merupakan lembaga tempat saya kerja, ada dokter konsultan fertilitas PEREMPUAN. Soalnya itu syarat mutlak dari suami. Huehehe.

Udah ah, lanjutannya di Part. 3 yaaaa. Udah panjang banget soalnya.

Jumat, 21 Mei 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 1)

 Wow, sama sekali tidak pernah terbersit dalam bayanganku, akan datang masa di mana saya menulis tentang kisah perjuangan promil seperti ini di anak kedua.

Kenapa begitu? Karena saya kepedean gilak. Dulu di kehamilan pertama, bisa dibilang saya 'ujug-ujug' hamil. Hanya selang satu bulan setelah menikah. Tadinya saya ngira nanti pas saya udah pengen punya anak kedua, ya tinggal 'bikin aja', terus ujug-ujug hamil juga seperti anak pertama.

Ternyata saya salah. Tidak semudah itu, Maemunah. Huhu.

cerita-promil-anak-kedua

 

 

Ini mungkin sekaligus 'sentilan' kecil dari Allah untuk saya. Dulu setelah Faza lahir, saya selalu bilang ih jangan sampai hamil lagi dulu. Pokoknya saya kekeuh hamil harus sesuai rencana.

Tulisan ini salah satu buktinya: Tentang Keputusan Nambah Anak

Bahkan saya sampai merencanakan mau hamil lagi bulan apa, biar lahirnya di bulan yang sama dengan Faza. Saya seolah lupa, anak itu bener-bener sepenuhnya hak Prerogatif Allah. Siapa saya ini kok congkak banget merasa bisa ngatur-ngatur, ya kan?

Tapi ya udah. Tidak untuk disesali, cukup diistighfari dan ditaubati. Alhamdulillah Allah mengingatkan saya, sehingga saya gak jadi manusia yang makin congkak.

Oke deh, hayuk kita mulai cerita perjuangan promil saya untuk mendapatkan amanah anak kedua. 

Promil Anak Kedua

Tahun 2019 lalu, kakak pertama saya sedang hamil anak ketiga. Waktu itu saya bilang ke suami, oke deh nanti setelah beliau lahiran, kita mulai program anak kedua.

Pertengahan 2019, kakak saya melahirkan. Sejak saat itu, saya dan suami juga mulai ikhtiar untuk mendapatkan momongan lagi. FYI, kami gak pakai alat kontrasepsi apapun sejak Faza lahir. Hanya mengatur sendiri dengan kalender (karena jadwal mens saya selalu teratur), ditambah ikhtiar 'tembak luar'.

Sampai masuk 2020, ternyata saya belum kunjung hamil. Sempat bertanya-tanya dan agak gak nyangka, karena sekali lagi, tadinya kami optimis banget bakal secepat saat pertama hamil. Tapi juga belum terlalu panik, karena sepertinya saat itu tekad dan mental kami belum benar-benar bulat untuk punya anak lagi.

Bulan demi bulan, tekad kami makin bulat, Faza juga sudah mulai makin sering bilang bahwa dia ingin punya adik, tapi qodarullah saya masih juga belum hamil. Mulai lah saya agak panik.

Akhirnya, Bismillah, saya memutuskan untuk datang ke dokter kandungan. Berniat untuk memulai promil, sekaligus karena kebetulan saya juga mulai merasa ada yang gak beres dengan tubuh saya.

Sinyal Tidak Beres Pada Tubuh

Sinyal ketidakberesan yang langsung saya sadari sekitaran pertengah tahun 2020 adalah saat saya gak mendapati adanya lendir serviks di kisaran tanggan masa subur saya. Kenapa saya langsung sadar dan merasa aneh? Ya karena biasanya, setiap masa subur datang, selalu ditandai dengan keluarnya lendir serviks.

Sudah pada tau kan bahwa masa subur salah seorang wanita ditandai salah satunya dengan adanya lendir serviks yang mirip putih telur dan teksturnya elastis?

Nah, saat itu, sama sekali gak ada. Bener-bener kering.

Jujur saja saya langsung panik dan bertanya-tanya. Kenapa? Apa yang salah? Apakah saya tidak mengalami masa subur alias tidak terjadi ovulasi pada diri saya? Apakah ini salah satu sebab promil anak kedua kami tidak kunjung membuahkan hasil?

Tapi saya gak langsung memutuskan ke dokter saat itu juga. Saya masih ingin mengamati dulu sejauh mana alarm yang diberikan oleh tubuh saya. Siapa tau cuma karena bulan itu saya stress atau kecapekan, lalu bulan depannya sudah normal lagi.

Ternyata, saya salah. Bulan berikutnya pun saya masih tetap gak mendapati lendir serviks yang biasa muncul pada tanggal masa subur. Hingga kurang lebih tiga bulanan hal itu terjadi, baru akhirnya saya memutuskan untuk datang ke dokter.

Mencari dan Memilih Dokter Kandungan Perempuan di Semarang

Ini bagian yang paling bikin pusing. Emm, bukan pusing sih, tapi apa yaaa... yah, gitu lah pokoknya. Butuh effort tersendiri untuk mencari dan memilih dokter yang klik di hati. Yep, saya orang yang lumayan mengutamakan kenyamanan di hati saat memilih dokter. Saya butuh dokter yang mau dengan sabar mendengarkan berbagai keluhanku, lalu menanggapinya sesuai dengan kapabilitasnya.

Sejujurnya, saya ingin sekali ke dokter kandungan yang sama dengan saat saya hamil faza dulu. Sayangnya, dr. Retno sudah pindah dari Kota Semarang, dan menetap di kota lain.

Mau gak mau saya harus mencari dokter kandungan perempuan lain di Semarang ini. Setelah tanya sana-sini, cari reviewnya lewat google dll, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada dr. Hervy Purwiandari, Sp.OG di RSIA Anugerah Semarang.

Saya datang saat menstruasi hari ketiga, sesuai saran dari teman yang katanya kalau mau promil datangnya sebaiknya pas hari ketiga menstruasi.

Ternyataaa, salah. Kata dr. Hervy, datang di hari ketiga menstruasi itu benar jika kita sudah benar-benar mau start promil. Tapi sebelumnya tentu saja harus dilakukan pemeriksaan awal, agar bisa tau treatment apa saja yang harus diberikan untuk memulai promil.

Maka, hari itu gak ada pemeriksaan apapun yang dilakukan pada saya. Baru sekedar obrolan prolog tentang keluhan yang saya rasakan dan keinginan saya dan suami untuk promil anak kedua. Dr. Hervy kemudian meminta kami untuk datang lagi hari ke 10 menstruasi (kalau gak salah) agak bisa melakukan USG Transvaginal untuk melihat kondisi sel telur saya.

Pada hari yang sudah kami sepakati tersebut, saya datang lagi. Yang bikin saya takjub sama RSIA Anugerah Semarang ini adalah ketika hendak melakukan USG Transvaginal, mereka menyiapkan semacam pembungkus kaki khusus, juga selimut. Sehingga privasi alias aurat saya tetap sangat terjaga. Bahkan dokter pun gak melihat aurat saya lho. Wow, ini sebuah kemewahan sih menurut saya. Karena baru kali itu menemukan yang se-menjaga privasi itu.

Gimana hasilnya?

Dokter bilang, kondisi sel telur saya baik. Ukurannya normal. Tidak terlihat ada masalah sama sekali. Alhamdulillah.

Sejujurnya, saya antara lega dan bertanya-tanya. Gak ada masalah sama sekali? Masa sih? Tapi kok saya merasa alarm tubuh saya bunyi.

Tapi ya sudah. Lagi-lagi saya membungkam pikiran dan perasaan saya itu. Karena dokter bilang gak ada masalah, mungkin hanya stress atau kecapekan. Lalu menyarankan kami untuk mencoba lagi promil alami, dan hanya membekali kami dengan vitamin standar macam asam folat dll gitu lah.

Sampai akhirnya, Desember 2020 alarm tubuh saya kembali bunyi. Alarm apa tuh?

Udah kepanjangan. Lanjut Part 2 yaaa. Ditunggu :)

Selasa, 20 April 2021

Akhirnya Faza Sekolah!

 Awal Maret lalu, Budhe Hana (orang yang sejak bayi menjaga Faza saat saya kerja) terpapar Covid-19 dan harus dirawat di Rumah Sakit kurang lebih dua minggu. Jelas kami kalang kabut memikirkan Faza sama siapa saat saya dan ayahnya kerja? Yangtitinya masih aktif bekerja, sementara akungnya meski sudah pensiun, tapi tergolong orang yang masih aktif di beberapa lembaga pemerintah. Jadi gak setiap hari di rumah. Lagipula, saya gak tega minta tolong akungnya untuk jaga Faza sendirian dari pagi sampai sore.

Alhamdulillahnya, kantor tempat saya dan suami kerja, aturannya super duper santai. Ijin untuk gak masuk kerja sangat mudah. Jadi kami ijin gantian. Sehari saya yang ijin, besoknya suami yang ijin. Ohya, sebelumnya saya juga udah swab-in Faza dan Alhamdulillah negatif. Makanya kami masih berani beraktivitas seperti biasa.

Selama di rumah saya Faza, saya jadi sadar. Intensitas Faza nonton TV sudah mulai berlebihan. Dari mana saya tau? Lha tiap kami nonton TV bareng, dia hafal semua jingle iklan, cobaaaa *CRY*. Udahlah emang saya nya kalo malem udah mager mau belajarin dia macem-macem, mentok paling baca buku, siangnya kegiatan dia kebanyakan nonton TV. Hiks.

Tapi saya gak menyalahkan budhe Hana sama sekali ya. Sedikit pun enggak. Gimanapun, beliau itu tugasnya hanya menjaga Faza selama saya kerja. Beliau gak punya jobdesc untuk mendidik.

Setelah berpikir tentang gimana caranya Faza gak terlalu sering nonton TV lagi, akhirnya saya WA teman saya yang dulu pernah kasih info soal PAUD sekaligus daycare. Apakah bisa menerima peserta didik baru atau enggak. Alhamdulillahnya, kata teman saya bisa kalau mau daftar sekarang!

Gak pakai mikir lama, saya langsung WA miss-nya, bilang bahwa hari Senin tanggal 22 Maret lalu saya akan datang ke sekolah untuk mendaftarkan Faza. Selasanya, Faza langsung masuk hari pertama.

Ohya, FYI, saya udah pernah survey daycare ini setahun lalu. Niatnya tahun lalu saya ingin mendaftarkan Faza. Tapiii, jeng jeng... tiba-tiba pandemi. Bubar jalan semua rencana. Makanya ketika kali ini akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan, bisa dibilang saya udah punya gambaran tentang daycare tersebut.

Kan masih pandemi, emang gak khawatir?

Enggak sih, Bismillah. Saya yakin aja.

Toh pas masih di Budhe Hana juga dia gak ada jaminan terlindungi dari virus. Malah interaksinya sama jauh lebih banyak orang. Sedangkan daycarenya ini, sejak pandemi, hanya ada satu anak yang fullday. Peserta didik yang lain pada halfday, itupun yang halfday diberlakukan seperti sekolah-sekolah yang lainnya, yaitu masing-masing anak masuk sekolahnya hanya sepekan sekali. Dengan jadwal yang diatur sedemikian rupa. Jadi masuknya enggak barengan semua anak.

Sekolahnya pun punya aturan tentang protokol kesehatan. Jadi, Insyaa Allah akan jauh lebih terkontrol.

Proses Adaptasinya Gimana?

Agak menguji kesabaran sih. Padahal awalnya saya dan ayahnya agak ketinggian eskpektasi sama dia. Kirain dia akan semudah itu adaptasi, ujug-ujug enjoy di sekolah baru gitu. Haha. Jangan mimpi, Marimar!

Tentu saja tidak.

Hari pertama pas saya antar, dia kelihatan nahan nangis (tapi gak nangis). Kata missnya, mau mainan tapi belum mau gabung sama teman yang lain. Maunya sendiri. Oke, mungkin karena belum kenal.

Siangnya missnya ngabari, Faza nangis heboh minta pulang. Waduh, saya panik. Tapi lalu ingat dulu ponakan saya juga gitu awal masuk sekolah. Inhale-exhale, saya mulai tenang, lalu saya video call Faza lewat missnya. Lihat wajah saya, makin keras dia nangisnya. Haha. Saya beri semangat dan afirmasi positif secukupnya. Apakah dia langsung tenang? Ya jelas tidak. Tetap nangis. Tapi kata missnya, meski sedang menangis, Faza tetap mau diajak berkomunikasi, tetap jawab setiap ditanya.

 

ekspresi di minggu kedua sekolah, saat diantar

Hari berikutnya, drama semakin menjadi. Udah rewel sejak mau berangkat. Dirayu dengan diajak jajan ke indomaret, mau. Sampe sekolah, ya tetep aja nangis. Gitu terus sampe seminggu ke depan. Tapi Alhamdulillah nangisnya maksimal cuma sampai jam 10 sih. Haha.

Seminggu pertama sekolah, mainan barunya ada 4! Itu rekor banget. Dalam rangka untuk 'hadiah', dan biar dia semangat sekolah. Hihi. Lepas seminggu, udah mulai stabil. Tapi masih ada agak rewel-rewelnya dikit. Masuk minggu ketiga, Alhamdulillah sudah aman suraman. Alhamdulillah!

Gimana Faza setelah sekolah?

Sedihnya, dia gak mau banyak cerita tentang kegiatannya di sekolah. Cerita sih, tapi sepengennya dia. Kalau ditanyain, dia malah jadi males cerita. Hih. Saya juga awalnya tanyanya salah sih. Saya tanya, 'Faza di sekolah belajar apa atadi?', Faza jawabnya, 'Faza gak belajar kok, Faza mainan'. Ahahaha, lhaiyaaa... kan di PAUD sih isinya memang mainan, cuma mainannya lebih terarah dan ada goals-nya aja.

 


Tapi Alhamdulillah missnya kooperatif sekali. Sering ngirim foto-fotonya Faza selama berkegiatan di sekolah, dan update informasi apapun.

Yang paling bikin saya senang setelah Faza sekolah sih satu: saya gak perlu masak buat bekal makan siangnya dia, karena makan siangnya sudah disediakan oleh sekolah, YEAY!

Selasa, 09 Februari 2021

Cerita Khitan Faza: Masih Kecil kok Sunat?

Saat masih hamil Faza, saya pernah nggak sengaja membaca postingan Instagram (lupa instagram-nya siapa), yang mengatakan bahwa, dari segi medis, waktu terbaik khitan/sunat seorang anak laki-laki adalah di bawah satu tahun. Lumayan kaget, karena selama ini yang lazim di lingkungan saya, anak laki-laki dikhitan rata-rata usia di atas tujuh tahun. Ada sih beberapa yang sunah dikhitan ketika masih kecil, tapi seringnya karena ada penyebab yang memang mengharuskan di baliknya. Setiap ada anak usia di bawah 7 tahun sunat, rata-rata orang akan bertanya: masih kecil kok sunat?


Ketika Faza lahir, ingatan tentang postingan usia terbaik anak laki-laki khitan itu kembali lagi. Lalu terbersit keinginan untuk mengkhitankan Faza saat bayi. Karena selain ternyata memang direkomendasikan oleh kacamata medis, kalau dipikir-pikir khitan saat masih bayi rasanya akan jauh lebih simpel.


Kenapa simpel? Yah, kalau misal setelah khitan jadi rewel kan tinggal dinenenin. Gendong juga masih enteng. Toh enggak karena dikhitan pun, adakalanya bayi rewel semalaman kan. Jadi sekalian gitu repot dan begadangnya. Hehehe.


Tentu saja niatan itu ditolak oleh keluarga saya, terutama Ibu. Karena, ya nggak lazim di mata mereka. Jadi yawis akhirnya niatan itu saya urungkan. Tapi keinginan untuk mengkhitankan Faza sesegera mungkin masih selalu ada dalam benak saya dan mas suami.


Sejak Faza sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah -- kurang lebih usia 1,5 tahun, kami mulai intens mensounding Faza untuk dikhitan. Kami menjelaskan ke dia bahwa Faza anak laki-laki, dan anak laki-laki harus dikhitan.


Nah, karena kami sudah sounding dari jauh-jauh hari, kami jadi tinggal nunggu dia siap saja. Jadi prosesnya mirip saat menyapih. Tinggal nunggu moment 'aha'-nya dia, cepat atau lambat dia akan bilang mau dan siap.

 

Baca juga: Menyapih dengan Cinta


Dan benar ternyata. Faza menemukan moment 'aha'-nya ketika kakak sepupunya dikhitan. Dia tiba-tiba bilang, "Ibu, aku mau dikhitan juga seperti Mas Danish"


Wow, tentu saja saya dan ayahnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Kami segera mengatur rencana: kapan, mau sunat di mana, dll. Setelah berunding dengan Akung dan Yangtinya Faza, akhirnya kami sepakat mengkhitankan Faza pada tanggal 4 Desember 2020 lalu. Selang lama banget yaaa dengan saat cerita ini ditulis, hehe. 


Saat itu, kami sempat galau mau menggunakan metode sunat apa. Awalnya saya berniat memakai metode clamp. Sudah sempat menghubungi Rumah Khitan yang bersedia Home Service juga. Tapi setelah berunding lagi, kami akhirnya memutuskan agar Faza disunat oleh tetangga kami yang seorang dokter dan memang sudah terbiasa mengkhitan anak, dengan metode laser.


Saat Proses Khitan


Saat proses khitan berlangsung, tentu saja kami semua tegang. Bisa jadi kami yang mendampingi yang jauh lebih tegang dibanding Faza, Fazanya manempatkan dirinya sendiri di tempat tidur malah. Hehe.


Yang membuat lebih tegang adalah, saat dokter sudah memotong kulit ujung penisnya, dan akan melanjutkan proses selanjutnya, tiba-tiba dokter bilang, "Lho..." dengan nada agak kaget. Jangan tanya saya paniknya seperti apa, meski tentu saja harus berusaha tetap tenang.


Ternyata, kulit penis Faza yang harus dipotong agak banyak, dan pemotongan yang pertama masih kurang. Jadi harus dipotong lagi. Setelah dipotong kedua kali, baru ketauan bahwa ternyata sudah mulai ada perlengketan antara kulit dan kepala penisnya, atau bisa dibilang sudah mulai gejala fimosis. Jadi kata dokter, keputusan untuk mengkhitankan Faza sekarang adalah keputusan yang sangat tepat. Alhamdulillah.


Nah tapi, karena ada perlengketan, tentu saja hal ini membuat proses khitan jadi makin lama. Di tengah-tengah proses menjahit, efek obat bius lokalnya sepertinya sudah mulai hilang, jadi Faza bisa merasakan saat dia dijahit, Hiks. Jelas saja dia nangis teriak-teriak. Tapi Alhamdulillah masih sangat terkendali.


Setelah Khitan Rewel Nggak?


Hampir semua orang juga bertanya seperti ini.

 

Kurang Lebih 3 Jam Setelah Sunat

 

Setelah proses khitan selesai, jelas Faza sempat menangis heboh. Mungkin sekitar setengah jam. Sempat muntah juga gara-gara oleh dokter kami disuruh langsung meminumkan obat pereda nyeri, dan Faza masih sambil nangis.


Alhamdulillahnya, proses khitannya dilakukan siang hari. BErte[atan dengan jam tidur siang Faza, Jadi, setelah capek nangis dan minum obat, dia langsung bobok. Puleeeess banget.


Setelah bobok, ya udah. Nggak ada rewel-rewel lagi. Alhamdulillah. Nangisnya paling kalau mau dioles salep, karena dia parno duluan. Hehe.


Berapa Hari Proses Pemulihannya?


Tepat seminggu, Alhamdulillah Faza sudah pulih total. Meskipun dalam seminggu itu, sempat diwarnai bengkak, karena Faza nggak bisa disuruh diem.

 

Hari ke-3 udah bisa gaya, LOL

 

Saat bengkak itu, saya sempat agak panik. Karena (maaf), bentuk penisnya jadi nggak beraturan. Saya khawatir nggak bisa balik lagi bentuknya, Huhu. Alhamdulillah kekhawatiran saya nggak terjadi.


Legaaaa banget rasanya, punya anak laki-laki dan sudah mengkhitankannya. Tinggal nunggu moment dia minta ijin untuk nikah. Huehehehe.


Jadi, bagi buibu pakbapak yang berniat mengkhitankan anaknya sedini mungkin, nggak usah khawatir yaaa. Semangat :)