Kamis, 22 Agustus 2019

Tentang Flat Foot-nya Faza

Mau nulis ini kok, Ya Allah, gak kesampain teruusss.

Sebenernya sudah pernah cerita lumayan panjang di IG Story. Tapi kayaknya tetap harus ditulis di blog, sebagai arsip pribadi. Dan semoga bermanfaat jika ada yang baca.

Waktu cerita tentang flat foot-nya Faza di IG Story, saya baru tau, ternyata banyak banget yang belum pernah tau tentang apa sih itu flat foot?

Kaki rata atau flat foot adalah kondisi di mana lengkungan yang seharusnya terdapat di telapak kaki, menjadi rata. Pada bayi atau balita, kondisi ini tergolong normal karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Namun pada anak-anak yang sudah lebih besar dan orang dewasa, kaki rata dapat menjadi tanda adanya kelainan pada tulang atau jaringan tendon kaki, jaringan yang menempelkan otot ke tulang. (dikutip dari alodokter)

Kapan saya sadar Faza flat foot?

Ini nih bentuk telapak kaki Faza
Sejak dia bisa jalan, sebenernya. Saya langsung ngeh, kayaknya dia 'istimewa' nih. Tapi, seperti kebanyakan orangtua lainnya ketika melihat kekurangan pada diri anak, saya sempat mengalami masa denial. Ah, nggak pa-pa ah, kakinya Faza pasti nggak pa-pa, nanti pasti bagus sendiri, dan lain-lain, dan seterusnya.

Di masa-masa denial itu, saya terus mencari penjelasan. Saya baca artikel-artikel tentang flat foot, sampai suatu hari, saya membaca IG Story Mbak Brenda (penggiat #ReadAloud), tentang anak-anaknya yang juga punya flat foot.

Memangnya apa sih dampak buruk flat foot sehingga butuh perhatian khusus? Ternyata, soal ini masih banyaakk yang belum tau ya (dilihat dari respon teman-teman pada IG story saya).

Jadi, flat foot itu punya beberapa dampak kurang baik buat seseorang. Di antaranya:

1. Akan cepat capek, alias gak kuat jalan jauh. Faza tu kalo saya ajak jalan agak jauh, pasti malamnya ngeluh, 'ibu, kakinya sakit', gitu.

2. Pergerakan terganggu. Pada Faza, point ini terlihat dari dia yang jadi 'kurang lincah' untuk aktivitas-aktivitas semacam memanjat, berlari, dll. Keseimbangannya kurang bagus gitu. Agak mudah 'goyah', karna pondasinya gak kokoh.

3. Dll. Dampak jangka panjangnya banyak sih.

Dari situ, saya akhirnya bertekad, oke, kayaknya kaki flat foot-nya Faza butuh dikonsultasikan dengan dokter. Sayangnya, mungkin karna tekad kami (saya dan mas suami) yang kurang kuat, rencana konsultasi ke dokter terus tertunda, hingga akhirnya terealisasi di sekitar bulan April 2019.

Langkah pertama, saya dan mas suami datang ke dokter Faskes 1 kami. Ya, kami memakai fasilitas BPJS. Setelah menjelaskan dan menunjukkan kondisi kaki Faza pada dokter, akhirnya kami diberi rujukan ke dokter spesialis anak di RS. Hermina Banyumanik Semarang.

Ohya, ternyata, gak semua dokter 'ngeh' bahwa flat foot itu sebuah kondisi yang harus mendapat penanganan. Soalnya anak teman saya yang juga flat foot, ketika dibawa ke dokter (umum), dokternya bilang, itu bukan masalah, dan menolak memberikan rujukan.

Lanjut ya. Setelah mendapat rujukan, kami datang ke RS Hermina Banyumanik Semarang untuk bertemu dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak, kami kemudian dirujuk ke dokter rehabilitasi medik.

Oleh dokter rehabilitasi medik, Faza diberi rekomendasi untuk mendapatkan terapi, dan harus dibuatkan sepatu koreksi. Sayangnya, di RS. Hermina Banyumanik Semarang sendiri, tidak bisa memfasilitasi pemesanan sepatu koreksi tersebut, sehingga kami minta pindah rujukan ke RS Nasional Diponegoro (RSND) Tembalang Semarang.

Oleh dokter rehabilitasi medik RSND, Faza mendapat rekomendasi yang sama dengan saat di Hermina, yaitu dibuatkan sepatu koreksi, dan terapi rutin seminggu sekali.

Terapinya sendiri terdiri dari 2 macam terapi. Yaitu terapi okupasi (melatih keseimbangannya dengan macam-macam stimulus permainan), dan fisioterapi (dipijat).

Ini ruang terapinya

Ini waktu Fisioterapi. Terapi okupasinya kebanyakan video, upload di IG aja deh nanti.

Alhamdulillah sejauh ini Faza enjoy menjalani setiap sesi terapinya. Ini sudah masuk bulan kedua, dan kemarin dokter rehabilitasi medik menyarankan agar terapi dilanjutkan lagi hingga 1 paket (5x pertemuan) lagi.

Apakah sudah kelihatan hasilnya?

Ya enggak secepat kilat itu sih. Ada hasilnya, meski belum benar-benar signifikan. Keseimbangannya sudah cukup bagus. Naik turun tangga sudah lebih lincah. Tapi bentuk kakinya belum terkoreksi. Karna pakai sepatunya juga belum disiplin :(

Ini sepatu koreksinya Faza. Fokus yaa, fokus! =D


Kalo berdasarkan rekomendasi, sepatu koreksi dipake full-time kecuali saat tidur. Sedangkan Faza, kalo di dalam rumah masih belum mau pakai sepatu. Karna dia kan mindsetnya selama ini di dalam rumah ya nggak pakai alas kaki. Lagian sepatunya kan kotor yaa karna sering dipakai di luar rumah, saya galau kalau dipakai di dalam rumah, nanti takut banyak najis yang tersebar :(

Emm, apa lagi yaa yang mau diceritain? Segitu dulu sih.

Yang jelas, dari ujian keistimewaan Faza ini, saya belajar banyaaakk banget. Belajar lebih sabar lagi, belajar berlapang dada menerima kondisi apapun, belajar macem-macem deh pokoknya.

Baca juga: Menjadi Ibu, Menjadi Orangtua

Saya juga makin saluuttt sama para orangtua di luar sana yang juga dikasih ujian anak yang jauh lebih istimewa dari Faza, dan mau berjuang untuk putra-putrinya. Masyaa Allah tabarakallah :)

3 komentar:

  1. wah baru tahu saya soal flat foot ini. ntar mau ngecek kaki anak-anak ah apakah termasuk normal atau flat foot. makasih infonya, mbak

    BalasHapus
  2. ponakanku pernah ke sepatu khusus begini sampe 4 thn mba. dari bayi. tp mungkin krn dipakein dari sjk bayi, setiap saat, lepas cm pas mandi dan tidur, anaknya jd terbiasa. skr sih kakinya udh normal lagi yaaa. udh gede juga anaknya 7 thn. dulu aku sempet bingung gmn sepatu yg terlihat biasa gitu bisa mengubah kaki anak yg bermasalah. tp memang ampuh kok :D. diliat biasa, tp hrgnya juga lumayan yaa jeung :D

    BalasHapus
  3. Semangat buat Faza, mama juga ayah. Alhamdulillah sudah kelihatan perkembangan dr terapi yg diikuti faza.

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)