Rabu, 09 Mei 2018

#BincangKeluarga: Tantangan Menjadi Ibu Bekerja

Kalau ngobrolin tentang tantangan, hampir seluruh peran pasti ada tantangannya ya. Gak mungkin ada yang benar-benar mulus lancar-jaya tanpa ada tantangan.

Termasuk menjadi ibu. Saya sering heran kalau baca mom-war tentang ibu rumah tangga VS ibu bekerja. Masing-masing ngotot perannya lebih WOW, lalu mengecilkan peran lainnya. Padahal, masing-masing pasti ada tantangannya.

Saya dulu termasuk yang sering mikir, jadi ibu bekerja itu jauh lebih capek. Ibu rumah tangga sih enak, pengen tidur yaudah tidur aja. Bebas. Ternyata kenyataannya gak gitu, ya. Beberapa ibu rumah tangga mengaku, tiap mau tidur rasanya sayang, mending buat menyelesaikan pekerjaan rumah.

Nah, pada #BincangKeluarga kali ini saya yang ibu bekerja pengen cerita, apa saja sih tantangan menjadi ibu bekerja versi saya. Sementara Ade akan bercerita tentang tantangan menjadi ibu rumah tangga versi dia. Biar kita makin ngerti dan gak saling meremehkan peran orang lain 😊


Baca punya Ade:

Manajemen Waktu

Jujur aja ini yang paling bikin ngos-ngosan. Jam kantor saya dimulai jam 8 pagi, dan berakhir jam 4 sore. Jadi, tiap pagi saya harus gedabrukan gimana caranya supaya bisa menyiapkan makannya Faza dan segala keperluannya selama saya tinggal kerja, nyiapin bekal makan siang untuk saya dan suami di kantor (kalo lagi pengen mbekal aja sih), dll. Dan semuanya harus selesai maksimal jam 7 pagi.

Jujur aja saya lumayan sering telat sampai kantor. Sepertinya masih ada yang salah sih sama manajemen waktu saya. Karna entah kenapa meski sudah bangun lebih pagi dari biasanya pun tetep aja selesainya sama aja kayak kalau saya bangun jam 5 pagi. Zzzz 😴

Baca juga: Menu Praktis Untuk Bekal Makan Siang

Ada yang mau sharing ke saya tentang ini? Siapa tau ada yang senasib sepenanggungan.

Makanya saya sering salut banget ih sama workingmom di kota besar macam Jakarta. Sebagian udah harus sudah berangkat jam 5 pagi, demi menghindari macet. Trus bangunnya jam berapa cobaaa? KALIAN KEREN lah pokoknya!

Malemnya, saya dan suami juga masih harus gedabrukan mengerjakan segala macam pekerjaan rumah tangga. Lipetin baju lah, nyetrika bajunya Faza, nyuci botol ASIP, dll.

Tentang Keseimbangan

Ini juga gak kalah menantang sih. Tentang gimana caranya saya harus menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, pegawai sebuah Yayasan (dan Blogger), sekaligus sebagai diri pribadi yang (katanya) butuh me time.

Jadi saya harus memastikan bahwa ketika sudah di rumah, gak ada cerita saya pusing mikirin/ngurusin kerjaan. Ini gampang sih menurut saya yang levelnya cuma staff. Gak tau deh kalo levelnya udah kepala bagian.

Yang paling menantang justru menyeimbangkan antara peran sebagai ibu dan istri ketika di rumah. Karna seharian udah gak sama faza, begitu sampai rumah kadang fokus saya sepenuhnya ke Faza. Nah, gak jarang speran saya sebagai istri kadang agak terlupakan. Contoh kecilnya, ketika masih menemani Faza bermain, saya jadi kelupaan ambilin mas suami minum.

Huhu, Alhamdulillahnya mas suami ngerti dan gak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele gini sih. Cuma sayanya masih sering merasa bersalah di bagian ini 😭

Saat Budhe Minta Libur

Ini tantangan seluruh ibu bekerja ya kayaknya. Eh, kecuali yang memilih daycare sih.

Beberapa minggu lalu, saya sempat dibuat galau gara-gara masalah ini. Budhenya Faza tiba-tiba sakit agak lumayan yang butuh waktu sekitar seminggu untuk pulih. Sedangkan saat itu saya sedang dikejar beberapa pekerjaan yang tenggat waktunya sudah mepet 😭

Tau gak, saya akhirnya sampai mendatangkan ibu saya dari Jepara untuk menemani Faza, biar saya bisa berangkat kerja.

Tantangan yang satu ini bikin saya beberapa kali mempertimbangkan daycare sebagai pilihan. Saya gak anti daycare kok. Cuma, saya sudah terlanjur cinta sama Budhenya Faza ini. Kalau suatu hari (naudzubillah) Budhenya Faza tiba-tiba memutuskan berhenti, saya pastikan saya akan memilih daycare aja.

Sebenarnya masih banyak sih tantangan menjadi ibu bekerja. Tapi cukup 3 saja yang saya ceritakan di sini.

Yang jelas, peran apapun yang kita pilih PASTI ada tantangannya masing-masing. Jadi jangan terburu-buru memandang rumput tetangga lebih hijau.

Jadi jangan gegabah memutuskan resign, karna merasa jadi ibu rumah tangga gak ada tantangannya. Ah, siapa bilang?

Pun jangan buru-buru menyebar lamaran pekerjaan karna melihat teman yang ibu bekerja kayaknya enjoy banget, bisa dandan rapi pake sepatu hak tinggi bla bla bla, karna merasa jadi ibu rumah tangga sangat melelahkan.

Percayalah, ada kebaikan di balik setiap keputusan yang kita ambil, asal kita menjalaninya dengan tulus 😊

2 komentar:

  1. semangat mba i feel u sbg emak
    bekerja kadang berasa banget dikejar waktu malahan klo aku bangun pagi banget ntar dikantor suka tidur di mushola kan ga enak wkwakk

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)