Kamis, 23 Juni 2022

Surat Cinta Untuk Anak Pertamaku

Assalamu'alaikum. Hai, Nak...

Hehe, akhir-akhir ini kamu sering protes yaa kalau ibu panggil 'nak'. Karena kamu merasa panggilan 'nak' itu untuk anak yang masih kecil, sedangkan kamu merasa sudah besar.

"Kakak bu, bukan nak..." begitu katamu. Ah iya ya... anak kesayangannya ibu sebentar lagi jadi kakak. Masyaa Allah tabarakallah.

Maafkan ibu yaa, yang sampai sekarang belum juga terbiasa manggil kamu dengan sebutan 'Kakak'. Masih sering keceplosan panggil nama langsung. Tapi ibu akan berusaha.

Akhirnya yaa, Kak... setelah ratusan doa yang kita langitkan bersama, Insyaa Allah sebentar lagi akan hadir seorang adik bayi di tengah-tengah kita. Seorang adik bayi yang pasti akan menjadi fasilitator untuk kita bertumbuh menjadi pribadi baru, yang semoga jauh lebih baik.

Dulu Kak, hati ibu serasa diremas-remas tiap mendengar kamu berdoa.

"Ya Allah, berikan Faza adek, biar Faza nggak kesepian. Adeknya Faza jangan lama-lama disimpan di langit ya Ya Allah..."

Harus ibu akui, doa-doamu itulah yang menjadi pemantik semangat ayah dan ibu untuk terus berikhtiar dan berdoa lebih kuat lagi agar Allah berkenan menitipkan amanah itu pada kita.

Dan Alhamdulillah, Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim, mengabulkan doa-doa kita.

Maka dari itu Kak, betapa ibu kaget ketika kemarin, kamu tiba-tiba berucap, "Aku harusnya nggak punya adek aja. Nanti kalau aku punya adek, pas lagi mainan, ibu suruh aku 'Zaaa, bikinin adek susu', terus 'Zaaa, jagain adeknya"

Deg!

Ya Allah, nak... maafkan ibu. Maafkan jika selama ini, usaha ibu untuk sounding ke kamu tentang peran seorang kakak, justru membuat kamu merasa terintimidasi oleh bayangan betapa beratnya peran itu bagimu.

Akhir-akhir ini, jujur saja ibu agak kewalahan menghadapi kamu. Ibu sampai merasa, yang dua mingguan ini ibu hadapi sama sekali bukanlah Faza yang ibu kenal. Emosimu sangat labil. Meledak-ledak. Dan sangat menguji kesabaran ayah-ibu, yang sayangnya masih lebih sering tidak sabarnya :'(

Tapi akhirnya ibu sedikit menemukan 'clue', nak. Tentang apa sebab dari labilnya kamu akhir-akhir ini. Mungkin ini akumulasi dari gejolak perasaanmu selama beberapa bulan terakhir ini, sejak kita tau di dalam perut ibu sedang tumbuh adek janin.

Seringkali sepulang ibu kerja, kamu sering minta ditemani mainan, dan sering pula ibu menjawab, "ya Allah, nak... punggungnya ibu sakit sekali, kan ibu sedang hamil..."

Tanpa ibu sadar, ibu terlalu sering menuntut kamu memahami ibu, memahami apa yang ibu rasakan. Dan di saat bersamaan, ibu seolah lupa bahwa kamu juga punya perasaan yang butuh dipahami.

Berkali-kali kamu mengungkapkan kekecewaanmu tentang ibu yang sekarang jarang sekali menemani kamu main karena alasan hamil. Tapi ibu bebal sekali tetap gak mau mengerti perasaanmu. Maafkan ibu ya, nak...

Akhirnya pelan-pelan ibu memahami, bahwa bukan cuma ayah dan ibu yang sedang kerepotan menghandle hati dan pikiran menjelang hadirnya anggota keluarga baru, tapi kamu pun juga merasakan hal yang sama.

Beberapa kali kamu tampak memikirkan sesuatu, lalu mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hangat hati ibu. Seperti kemarin, tiba-tiba kamu bilang, "Yaudah Bu, nanti kalau adek sudah lahir, kalau ayah capek cuci baju, Faza aja yang jemur. Nanti Faza bantu cuci botol susu adek juga."

Masyaa Allah, nak... Kepikiran sekali yaa sama peran baru sebagai kakak yang sebentar lagi akan kamu sandang?

Faza, anakku sayang... percaya sama Ibu, meski nanti sudah ada adek, sama sekali bukan berarti sayangnya ibu untuk kamu akan terbagi apalagi terkurangi. Sayangnya ibu justru akan berkali-lipat lebih besar sehingga tetap cukup dan rata untuk kalian berdua.

Jika nanti dalam perjalanannya kamu merasa ada sikap ayah atau ibu yang seolah berat sebelah, semoga kamu selalu punya hati yang lapang untuk memaafkan kami ya, Nak. Semoga kamu akan selalu paham bahwa itu bukan tolok ukur bahwa sayang kami ke kamu berkurang sejak ada adek.

Faza, anak pertamaku sayang... Ibu tau kamu tidak pernah memilih dilahirkan sebagai anak pertama.

Meski begitu, kamu mungkin akan menanggung beberapa konsekuensi atas sesuatu yang tidak pernah kamu pilih itu, nak. Konsekuensi yang mungkin adakalanya terasa berat.

Mungkin, ayah-ibu akan adakalanya secara tidak langsung 'menuntutmu' untuk bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adikmu. Atau membebankan tanggung jawab yang jauh lebih berat dari yang diterima adik-adikmu. Maafkan, ya nak.

Tidak apa-apa ya, nak. Karena menjadi anak pertama adalah takdir ya telah Allah gariskan untukmu, ayah-ibu yakin, Allah pun juga akan memberikan pundak yang kokoh untuk menanggung itu.

Yang pasti, meski kamu anak pertama, bukan berarti kamu harus selalu kuat, nak. Adakalanya kamu merasa lemah atau ingin menangis. Dan itu boleh. Sesekali merasa lemah justru menunjukkan sifat kemanusiawianmu. Karena sejatinya manusia memang lemah, dan justru itu kita selalu perlu meminta kekuatan dari Allah yang Maha kuat.

Dan, ingat satu hal ini, nak. Sampai kapanpun, sudah sejauh apapun langkahmu kelak, ibu akan selalu siap menjadi tempatmu pulang, saat kamu merasa butuh pelukan untuk menguatkan.

Dear Faza, anak pertamaku... frasa terima kasih rasanya tidak akan cukup untuk mewakili apa yang ingin ibu ungkapkan padamu.

Tapi apa daya, bahasa manusia terbatas, dan terima kasih memang rasanya masih jadi yang paling tepat.

Terima kasih ya, Nak. Terima kasih karena kamu adalah Guru Besar pertama dalam sejarah kehidupan ibu. Guru besar yang menemani ibu bermetamorfosis menjadi manusia baru.

Karena kamu, ibu jadi tau rasanya bertahan dari rasa sakit luar biasa lebih dari 12 jam -- yang ajaibnya langsung hilang begitu saja ketika kamu keluar.

Karena kamu, ibu jadi paham arti berjuang mati-matian untuk bisa memberimu ASI full selama 6 bulan, meski 24 jam hidup ibu rasanya jadi hanya tentang pumping pumping dan pumping.

Karena kamu, ibu jadi bisa sedikit mengalahkan ego untuk tetap bangkit dari rebahan ketika kamu mengeluh lapar. Padahal dulu, ibu akan selalu lebih memilih kelaparan daripada harus bergerak, sampai Mbahbuk harus mengalah menyuapi ibu demia tidak ingin melihat ibu telat makan.

Ya, karena kamu nak... kamu mendobrak zona nyaman yang selama berpuluh tahun ibu pertahankan.

Tapi apakah artinya ibu sudah banyak berkorban untukmu? Tidak, nak. Sama sekali tidak.

Kenapa ibu harus menyebutnya sebagai perngorbanan seolah ibu adalah 'korban'? Padahal kehadiranmu selain karena atas kehendak Allah juga karena ayah-ibu sendiri yang menginginkan.

Artinya, apapun yang ayah-ibu lakukan untukmu adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya ayah-ibu lakukan, sebagai tanggungjawab telah menjadi perantara hadirmu di dunia.

Sepertinya surat ibu sudah terlalu panjang. Semoga suatu hari kelak, entah masih ada ibu di dunia ataupun tidak, kamu punya kesempatan untuk membaca ini ya.

Sekali lagi, tanamkan di benakmu baik-baik, ibu sayang kamu tanpa syarat. Selama ibu ada di dunia, ibu berjanji akan berusaha untuk menjadi tempat paling nyaman untukmu beristirahat dari segala lelah dan bisingnya dunia.


Dari ibu yang penuh kekurangan,

tapi selalu ingin mencintaimu tanpa batasan.

Kamis, 19 Mei 2022

Hamil Kedua: Overview Trimester Kedua

 Ngebuttt nulisnya. Soalnya Insyaa Allah bentar lagi udah masuk trimester ketiga. Kan gak lucu ya kalau anaknya lahir, cerita tentang kehamilannya masih belum beres. Hehehe.

Trimester kedua di kehamilan kedua bisa dibilang lebih berwarna dan nano-nano rasanya.

Kenapa nano-nano? Karena beberapa keluhan khas ibu hamil mulai saya rasakan. Dari yang punggung bagian bawah sering pegel, apalagi kalau habis duduk seharian di kantor. Terus yang agak ganggu adalah sering terbangun tengah malam, lalu susah banget mau tidur lagi. Beberapa kali juga saya ngrasain sesak nafas dan ulu hati yang rasanya penuh sekali. Kayaknya ini efek asam lambung sih.

 

USG-Trimester-2

Oh ya, kalau di kehamilan pertama saya cenderung parnoan, terutama soal makan, di kehamilan kedua ini saya memutuskan untuk lebih santai. Dulu dikit-dikit khawatir, ini boleh gak yaaa buat ibu hamil, dll. Sampai mie instan pun gak berani makan sama sekali. Sekarang? Hajar aja! Haha. Tapi dengan satu prinsip: gak boleh berlebihan. Misal, makan mie instan boleh lah, maksimal sebulan sekali. Itu juga belum tentu.

Selain mie instan, saya juga masih minum kopi. Dan hampir tiap hari. wkwkwk. Soalnya saya baca gapapa kok minum kopi, asal maksimal sehari secangkir kecil. Saya malah seringnya cuma setengah cangkir. Soalnya kalau gak minum kopi, kepala saya pasti pusing sekali. Begitu minum kopi beberapa teguk, eh ilang pusingnya. Hihi.

Usia Kehamilan 16 Minggu

 Di usia kehamilan 16 minggu, saya gak nyangka ternyata dokter Kartika sudah bisa ngasih bocoran perkiraan jenis kelamin si dedek janin. Insyaa Allah sesuai dengan isi doanya Kakak Faza selama ini. Hihi.

Saya dan ayahnya sih masih tetap pada ikrar semula, apapun jenis kelaminnya, akan kami terima dengan penuh sukacita.

Di usia kehamilan ini pula, kami merencanakan untuk menyelenggarakan doa untuk 4 bulan usia kehamilan saya. Acara akan diadakan di masjid, bersama majelis pengajian ibu-ibu sekitar tempat tinggal kami. Semua sudah dipersiapkan dengan matang.

 

Buku 4 bulanan

Tapiii, qodarullah wa maa sya'a fa'ala. Kami hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.

H-3 acara pengajian 4 bulanan, tiba-tiba saya demam tinggi. Sempat muntah-muntah juga. Plus linu di seluruh tulang. Jujur agak parno karna konon katanya demam bisa berdampak pada janin. Akhirnya, sorenya mas suami membawa saya ke IGD.

Di IGD, saya di-swab. Dan yep, ternyata saya positif covid. Wkwkwkw. Saat itu memang kasus Omicron sedang membludak. Tapi dokter menenangkan, Insyaa Allah kalau sudah vaksin 1 dan 2, gejalanya gak akan terlalu berat.

Kemudian, saya diberi infus cairan vit. C di IGD. Setelah infus habis, saya dibolehkan pulang. Alhamdulillah sepulangnya dari IGD, demam saya sudah turun.

Btw, ini kali kedua saya dinyatakan positif covid. Dan Alhamdulillah yang kedua ini udah gak pake parno-parnoan lagi. Bedanya juga, kalau saat kena covid yang pertama, badan saya rasanya kayak dikerjain habis-habisan sama virus -- sehari seolah sehat, besok diare lagi, sehat lagi, ambruk lagi, gitu terus berkali-kali -- di covid yang kedua ini, Alhamdulillah progressnya sangat nyata dari hari ke hari. Hari pertama demam, hari kedua sudah gak demam, tapi ganti batuk. Hari ketiga batuk tiba-tiba hilang, terus ganti pilek. Di hari ke-5 saya swab ulang, dan sudah dinyatakan negatif. Alhamdulillah.

Mulai Periksa Ke Klinik Ngesti Widodo Ungaran

Belajar dari kehamilan pertama, saya ingin memilih tempat untuk persalinan dengan lebih serius. Di persalinan pertama dulu, saya bisa dibilang 'menggampangkan' sekali tentang ini. Milih di puskesmas karena biar yg nanganin cuma bidan dan sesedikit mungkin tim. Gak siap banget kalau harus melahirkan di Rumah Sakit.

Tapi saya lupa memperhatikan aspek lain. Di antaranya kelengkapan fasilitas. Dulu habis melahirkan saya sempat pendarahan, dan dari ciri-cirinya mengalami anemia yang lumayan lama pulihnya. Sempet 3 kali pingsan juga setelah melahirkan. Yakin deh, kalau di tempat persalinan yang lebih mumpuni, saya pasti udah ditransfusi, sehingga mungkin pulihnya lebih cepat.

Di kehamilan kedua ini, kami Insyaa Allah memilih Klinik Ngesti Widodo Ungaran sebagai tempat persalinan.

Selain karena testimoni dari beberapa teman dekat kami saat melahirkan di sana, setelah cari tau lebih dalam, suka banget dengan prinsip gentle birth yang diusung oleh Ngesti Widodo.

Pertama kali saya periksa ke klinik Ngesti Widodo adalah saat usia kehamilan saya 20 minggu. Pelayanannya super ramah dan penuh edukasi. Kayaknya soal pengalaman periksa hamil di Ngesti Widodo, nanti saya cerita di post berbeda aja deh, biar gak kepanjangan.

Prenatal Yoga

Sejak kenal Yoga dan dapat merasakan langsung dampak positifnya sejak rutin yoga promil, saya jadi suka banget sama yoga. Meski sukanya ya masih tahap kadang rajin kadang enggak, hehe. Tapi kalau disuruh milih jenis olahraga, saya mantap milih yoga.

Termasuk saat hamil ini. Saya cukup sering mempratekkan beberapa tutorial prenatal yoga di youtube. Dan Alhamdulillah, berbagai keluhan yang saya rasakan berkurang bangetttt tiap saya rajin yoga. Terutama pegal-pegal di area punggung hingga kaki.

PR di Trimester 2

PR utama dari dokter Kartika maupun Bu Bidan Cahyaning (pemilik Ngesti Widodo) sama sih. Minum minimal 2,5 liter per hari. Yang mana, ini masih berat banget buat saya, hiks.

Dokter Kartika berulang kali bilang, air ketuban saya sedikit. Tapi Bidan Cahyaning bilang, coba cari second opinion soal air ketuban ini.

Bidan Cahyaning juga wanti-wanti saya agar harus sudah mulai olahraga. Lalu ngasih PR tambahan agar saya mulai nungging sehari 2 kali masing-masing 5 menit, karena di usia kehamilan 26 minggu, kepala dedek janin masih di atas bagian kanan.

Pertama Kali Melewati Ramadan Saat Hamil

Saat hamil pertama dulu, saya ketauan hamil tepat di hari terakhir ramadan. Jadi bisa dibilang belum ada pengalaman atau bayangan gimana rasanya puasa saat hamil trimester 2. Jujur agak kepikiran dan grogi, 'kuat gak yaaa?'

Soalnya pernah ngrasain puasa saat menyusui aja rasanya Subhanalllah.... bener-bener lemes, gemeter, kayak mau pingsan 😭 Apalagi hamil, yang mana bayinya masih di badan saya? Gitu yang berkecamuk di pikiran saya

Tapi Masyaa Allah, ternyata sama sekali gak seberat yang saya pikirkan. Alhamdulillah saya kuat puasa, dan gak ngrasa berat-berat amat. Ya lapar dan haus sewajarnya orang puasa gitu. Cuma sempat kebablasan gak bisa bangun sahur 2x, jadi saya gak puasa. Gak berani kalau gak sahur.

 Saat menulis ini, usia kehamilan saya sudah memasuki 28 minggu alias udah masuk trimester 3. JAdi ceritanya lanjut di post berikutnya yaa, Insyaa Allah.

Teriring doa untuk teman-teman yang juga sedang hamil, atau yang masih menjadi pejuang garis dua. Semoga Allah kasih kemudahan untuk segala urusan teman-teman. Aamiin.



Senin, 25 April 2022

Hamil Kedua: Overview Trimester Pertama

Masyaa Allah, masih gak nyangka akhirnya bisa nulis cerita tentang kehamilan kedua :')

Saat saya udah mulai pasrah dan adakalanya hopeless. Pernah di suatu siang di tengah ikhtiar program hamil, saat sedang beberes lemari, saya nangis tersedu-sedu ketika menemukan kaos kaki Faza saat bayi yang belum pernah dipakai sama sekali. Saya ingat sekali dulu saya bilang, nanti buat adeknya aja, soalnya Faza sudah ada beberapa kaos kaki lain. Sedih banget karena saya gak nyangka perjalanannya ternyata akan senaik-turun itu.

Cerita Trimester Pertama Kehamilan Kedua

Dulu hamil pertama nulis ceritanya sih tiap bulan alias tiap habis kontrol ke dokter. Sekarang, yah jangan ditanya. Hihi. Ini aja udah masuk pertengahan Trimester 2, eh baru mau nulis cerita saat trimester satu. Gapapa lah yaaa, yang penting tetap ada dokumentasinya.

Di kehamilan kedua ini, Alhamdulillah masih sama seperti kehamilan pertama. Sama sekali gak ada mual muntah. Gak ada sakit punggung yang banget-banget kayak pas hamil pertama juga. Jadi Alhamdulillah bisa dibilang sangat nyaman.

Cuma mood-nya memang yang jadi kayak roller coaster. Termasuk mood soal makan.  Sering banget ngrasa laper, tapi gak tau mau makan apa. Bukan karna gak ada makanan, melainkan makanan yang ada tuh gak ada yang sesuai mood. Terus akhirnya cranky sendiri. Huhu.

Jadi mudah tersinggung dan 'meledak' pada hal-hal sepele juga.

Tapi Alhamdulillahnya, fase super moody ini gak terlalu lama.

Di kehamilan kali ini, saya dan mas suami memutuskan untuk priksa di klinik dokter kandungan deket rumah aja, Namanya Dr. Kartika, yang dulu juga menjadi salah satu dokter yang saya datangi saat awal-awal promil.

Pertama kali saya datang setelah test pack menunjukkan dua garis yang garis keduanya sangat samar, usia kehamilan saya sekitar 5 minggu. Dan Alhamdulillah ketika pertama kali USG, sudah langsung kelihatan kantung janin dan janinnya.

 

USG Pertama


Dokter Kartika meminta kami datang dua minggu kemudian untuk evaluasi denyut jantung, karna di usia 5 minggu, denyut jantung belum terdeteksi. Saya diresepkan obat penguat kandungan (Microgest), promavit dan folic acid 1000mg.

Ternyata obat penguat ini harganya lumayan banget, bund. Hihi. Total periksa plus obat 1 juta lebih saat itu.

Saya agak kaget waktu mulai minum obat penguat kandungannya. Efeknya bikin super duper lemes banget, plus ngantuk! Padahal obatnya harus diminum sehari dua kali, pagi dan malam. Saya biasanya minum jam 8-nan pagi, dan sekitar jam 10-an saya pasti gak bisa kerja. Cuma bisa tersungkur lunglai di meja kerja. Haha. Alhamdulillah, atasan saya memaklumi.

Dua minggu kemudian, kami datang ke dokter Kartika lagi, dan Alhamdulillah detak jantung si dedek udah bisa terdeteksi. Masyaa Allah. Gak terungkapkan lagi betapa buncah dada kami saat itu, bisa kembali dengar detak jantung yang berasal dari dalam rongga perut saya.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmus sholihat...

 

USG saat UK 12 minggu (akhir trimester 1)

Saya juga saat itu cerita tentang efek obat penguat yang bikin saya gak bisa kerja kalau pagi. Akhirnya oleh dokter Kartika, dosisnya dikurangi menjadi sehari sekali saja. Karna Alhamdulillah saya juga gak ada riwayat keguguran.

Dua kali priksa ke dokter Kartika, Faza juga selalu ikut. Dia senang sekali tentu saja. Apalagi dokter Kartika juga sangat friendly ke anak-anak. Beliau selalu mengikutsertakan si calon Kakak tiap memeriksa si janin.

"Waahh, ini detak jantungnya adek nih kak, kakak denger gak?" semacam-semacam itu.

Ohya, biaya priksa+USG di klinik dokter kartika sebesar Rp 165.000,-. Sedangkan untuk vitamin-vitaminnya boleh ditebus di situ, boleh juga tidak. Ditebus separuh dari resep juga boleh. Fleksibel pokoknya.

Selain priksa ke dokter, saya juga memutuskan untuk priksa ke puskesmas. Biar masuk ke database pemerintah aja sih. Hehehe.

Kalau periksa ke puskesmas, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan jauh lebih detail. Tentang riwayat kehamilan sebelumnya, terutama. Terus pemeriksaannya juga. Diukur lingkar lengan, perut, dll.

Bayar gak? Enggak. Gratis. Dan Alhamdulillah, petugas puskesmas di daerah ini ramah-ramah.

Terus apalagi yaaa yang harus diceritakan di Trimester pertama ini. Saking lamanya tertunda, sampai udah pada lupa kan jadinyaa, hiks.

Udah dulu aja deh sepertinya, nanti saya edit kalau ternyata ada yang kelewatan diceritakan.

Jumat, 18 Maret 2022

Cerita Promil Anak Kedua (8): Jawaban Atas Doa dan Ikhtiar

Selama promil, saya banyak sekali nyimak perjuangan teman-teman pejuang gari dua lainnya. Kebanyakan saya simak melalui sosial media.

Di antara banyak kisah itu, sering sekali saya mendapati cerita tentang penantian sekian tahun, udah ikhtiar macem-macem dari A-Z, eh akhirnya positif hamil hanya dengan minum X -- yang mana rasanya sepele sekali dibanding puluhan ikhtiar lainnya yang pernah dilakukan.

Dari cerita-cerita semacam itu, saya akhirnya menarik kesimpulan. Promil itu bukan tentang ikhtiar apa yang ampuh atau manjur, tapi tentang ikhtiar mana yang Allah ridhoi sebagai perantara hamilnya kita.

Dan ternyata, hal ini juga terjadi pada saya.

Dari judul tulisan ini, pasti sudah bisa ditebak. Ya, akhirnya dengan ijin Allah, saya hamil. Justru setelah dua bulan memutuskan untuk rehat ke dokter seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmussholihat...

Saat menulis ini, usia kandungan saya sudah menginjak usia 20 minggu. Kenapa baru nulis sekarang? Pertama, memang diniatkan baru akan cerita saat usia kandungan sudah menginjak 4 bulan. Kedua, biasa, emang suka nunda-nunda, jadi baru kesampaian saat usia kandungan sudah 5 bulan. Hehehe.

Oke, Bismillah... saya akan cerita dari awal ya. Apapun yang saya ceritakan di sini, semoga saya dihindarkan dari sifat riya', dan semoga Allah menjaga niat saya, bahwa semata-mata niat saya ingin berbagi -- terutama untuk teman-teman sesama pejuang gari dua.

Setelah akhirnya memutuskan istirahat ke dokter, saya lanjut ikhtiar sendiri, seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Tapi ada satu yang kelewat. Yaitu baca surah Yasiin dan Al Waqi'ah setiap hari.

Selama istirahat ke dokter, Alhamdulillah mens saya sudah balik teratur lagi. Gak pernah flek lagi. Saya masih tetap berusaha menjalankan pola hidup sehat. Makan dijaga, olahraga teratur (olahraga saya hanya yoga yang link-nya sudah saya sertakan di postingan sebelumnya. Saya juga masih minum berbagai suplemen seperti yang saya cantumkan di postingan sebelumnya juga.

Tapi yang paling saya rasakan perbedaannya adalah ketenangan hati saya. Saya gak lagi kemrungsung tentang kapan ya saya hamil dll.

Hati saya cenderung lebih tentram dan pasrah. Sudahlah, ikut ketentuan Allah saja. Pas mens, yang biasanya sedih mellow ga karuan juga Alhamdulillah udah biasa aja. Ya tetep ada sedikiittt sedihnya sih, tapi kayak udah nerima aja gitu.

Bahkan, di salah satu periode mens saya, darahnya keluarnya jauh lebih sedikit dari biasanya. Yang biasanya saya mens 7 hari, itu di hari ke-4 darah udah hampir gak keluar lagi.

Saya sempat was-was. Apakah ini salah satu tanda bahwa tingkat kesuburan saya sudah mulai menurun? Apakah memang rejeki anak dari Allah buat kami hanya 1?

Tapi terus saya kembalikan lagi pada Allah. Kalau memang iya, ya sudah, saya harus menerima dengan sabar dan syukur. Jangan sampai hanya karena keinginan memiliki anak kedua, membuat kami jadi malah lupa mensyukuri nikmat berupa kehadiran Faza dalam hidup kami.

Bulan November 2021, sekitar di atas tanggal 10, saya sudah mulai merasakan tanda-tanda menjelang mens seperti yang saya rasakan biasanya. Yaitu nyeri payudara. Cuma yang kali ini, nyerinya jauh lebih nyeri dibanding biasanya.

Hari berganti hari, kok mens saya gak kunjung datang. Tapi nyeri payudaranya semakin  hebat. Perasaan saya mulai gak karuan. Mulai ada rasa Ge Er, apakah saya hamil? Perasaan ini sebenernya ingin sekali saya tepis. Karena saya gak pengen patah hati lagi.

Saya bahkan cenderung mensugesti diri, ah paling besok mens. Gituu terus. Sampai akhirnya datang juga tanggal 20. Saya mulai gak bisa kontrol rasa Ge Er saya. Akhirnya saya bilang ke mas suami yang juga sudah ikut bertanya-tanya kok saya belum mens, untuk minta ijin beli test pack.

Soalnya sepanjang sejarah, meskipun hormon saya sedang kacau, gak pernah sekalipun saya telat mens. Pas hormon kacau, yang ada malah majunya jadi banyak banget kan. Awalnya mas suami bilang gak usah beli test pack dulu. Saya paham sih dia juga was-was seperti saya. Takut ternyata negatif seperti sebelum-sebelumnya, terus sayanya jadi mellow.

Tapi saya yakinkan lagi, Insyaa Allah saya ikhlas apapun hasilnya. Saya test pack biar pikirannya gak gelisah dan galau terus terusan aja. Kalau ternyata negatif, ya artinya hormonku memang belum benar-benar stabil lagi.

Akhirnya, beliau ACC. Pulang kerja kami mampir apotek untuk beli 5 buah test pack. Paginya saya cek. Tapi kali ini gak se deg-degan-an biasanya. Biasanya tiap test pack pasti saya gemetaran banget.

Hasilnya, terlihat garis satu. Saya langsung menghela nafas panjang. Saya letakkan test packnya beberapa saat. Kemudia saya ambil lagi, dan perhatikan lagi garisnya.

"Eh, lho... kok kayak ada garis kedua tapi samar banget ya? Atau hanya perasaanku aja karena saking Ge Ernya?"

Coba saya tunjukkan test pack itu ke mas suami. Mas suami kelihatan banget berusaha untuk stay cool. "Makanya kan ayah bilang jangan langsung test pack," gitu kata beliau. Beliau nyuruh test pack seminggu lagi. Tapi saya mana tahaaaan. Hahaha.

Paginya saya test pack lagi. Masih samar lagi. Pagi berikutnya saya test pack lagi. Tetep samar lagi.

 

cerita promil

 

Akhirnya suami gregetan dan nyuruh langsung daftar ke dokter aja biar sekalian jelas, daripada test pack test pack terus. Hihi.

Akhirnya kami pergi ke dokter. Kalau dihitung dari HPHT, saa datang ke dokter di minggu ke 4 menjelang 5 kalau gak salah.

Dan Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, dokter bilang memang sudah ada kantung rahimnya. Kami disuruh kembali dua minggu kemudian untuk observasi. Kemudian saya diresepkan obat penguat.

Begitulah cerita tentang jawaban atas doa dan ikhtiar saya dan suami. Sesungguhnya semuanya adalah karena Maha Rahman an Rahimnya Allah pada kami. Mohon doa semoga Allah memberi saya dan janin dalam kandungan saya kesehatan dan keselamatan.

Doa terbaik saya untuk teman-teman pejuang garis dua yang masih menanti. Jangan berputus asa dari Rahmat Allah, yaa. Big virtual hug :')


Kamis, 13 Januari 2022

Cerita Promil Anak Kedua (7): Istirahat Hati, Mental dan Dompet

Lanjut yuk ceritanya... Hehe.

Sesuai cerita sebelumnya, setelah penuh kegalauan berunding dengan suami, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dulu ke dokter. Keputusan itu kayaknya direstui oleh semesta, karena qodarullah, obat induksi sel telur yang diresepkan oleh dokter (beda dengan resep induksi sel telur sebelumnya) gak ada di beberapa apotik yang kami datangi, bahkan termasuk di farmasi rumah sakit tempat saya periksa sendiri.

Ya udah, pas.

Sebenernya ada perasaan sayang juga saat memutuskan berhenti ke dokter. Karena perjalanan sudah sejauh ini, terus harus berhenti di tengah jalan lagi. Takutnya nanti saat mau ke dokter lagi, prosesnya juga harus ngulang dari awal. Huhu.

Tapi mau lanjut, kok ya dompet dan mentalnya pengen istirahat banget!

Soal dompet sih jelas ya, gak usah dijelasin juga udah jelas.

Nah kalo soal mental, emang capek gimana sih? Gimana yaaa... hari-hari tuh rasanya jadi kayak gak pernah berhenti kepikiran, bulan ini bakal mens gak yaaa.... terus kerjaannya menghitung hari terus. Begitu mens, periksa lagi, kepikiran lagi. Pas HB sama suami juga jadi kurang bisa menikmati karena sambil mikir, ini bakal jadi gak yaaa ini bakal jadi gak yaaa... wkwkwkw.

Tapi meskipun akhirnya kami memutuskan untuk berhenti ke dokter, bukan berarti kami berhenti berikhtiar. Hanya saja, kami berikhtiar dengan cara lain.

Ikhtiar apa sajakah itu?

Ikhtiar Langit

Kalau Tiktok sering diidentikkan sebagai media sosial yang gak ada manfaatnya karena isinya cuma orang joget-joget, saya sama sekali gak setuju.

Tiktok sama seperti media sosial lainnya. Ada konten positif, ada pula yang negatif. Lagi-lagi kembali kepada pemakainya. Kenapa tiba-tiba ngomongin tiktok? Karena, saya mendapat banyak informasi bermanfaat mengenai promil dari platform ini. Salah satunya tentang promil ikhtiar langit.

Ada banyak versi promil dengan ikhtiar langit. Tapi intinya satu, yaitu merayu Allah melalui ibadah agar berkenan mendengarkan doa kita, karena anak itu sepenuhnya hak prerogatif Allah semata. Ini juga jadi moment di mana saya kembali merenungi, bahwa mungkin selama ini hati dan pikiran saya masih dominan tertumpu pada ikhtiar dunia yang saya lakukan. Secara gak sadar saya seolah 'lupa' bahwa sehebat apapun ikhtiar yang saya lakukan, ketentuannya tetap milik Allah.

Beberapa ikhtiar langit yang saya lakukan saat itu di antaranya:

1. Berusaha memperbaiki ibadah wajib secara umum, dan memperbanyak ibadan sunnah di antaranya sholat dhuha, sholat malam dan puasa sunnah. Saya juga sempat puasa sunnah daud meski hanya sebulan, karena saya sempat sakit dan setelahnya gak lanjut lagi. Lanjutnya puasa senin-kamis saja.

2. Membaca 'Laa ilaha illallah, Almalikul haqqul mubiin, Muhammadurrasulullah shodiqul wa'dil aamiin', sebanyak 40x setiap usai sholat subuh.

3. Membaca surah Maryam ayat 1-11 sesering mungkin. Kalau bisa setiap usah sholat wajib.

4. Mendengarkan Ruqyah promil di Youtube.yang terdiri dari Surah Ali Imran ayat 33-41 (7x).

 

bacaan ruqyah untuk promil

5. Sedekah diniatkan agar Allah berkenan menitipkan amanah seorang anak yang sholih/sholihah untuk kita.


Selain itu saya juga tetap ikhtiar secara jasmani dengan minum beberapa suplemen (beberapanya banyak banget sih, hihi). Di antaranya vitamin D, kapsul minyak zaitun, habbatussauda, plus saya akhirnya memantapkan diri beli suplemen yang harganya tergolong lumayan mahal. Yaitu Ovaboost dan FertileCM, produk dari fairhaven. Saya beli lewat agen resminya karena khawatir palsu kalo beli di seller lain dengan harga lebih murah.

 

suplemen untuk promil

 

Satu lagi, saya juga rutin ngikutin Yoga di channelnya Kak Naomi yang namanya "My Fit Daily Dose". Di channel tersebut ada playlist yang berjudul Yoga Promil. Kayaknya olahraga yang paling cocok buat saya adalah yoga. Selain gerakannya yang kalem dan gak bikin stress badan, gak terlalu bikin capek, saya juga ngrasain banget efeknya.

 

yoga untuk program hamil

 

Sejak rutin yoga, saya jarang banget ngrasain kaku-kaku di badan. Tidur juag lebih nyenyak. Pernah juga suatu hari, mens saya seperti kurang lancar. Di hari ke-4, darah yang keluar udah dikiittt banget dan berwarna coklat tua kehitaman. Saya agak worry karna itu juga salah satu tanda hormon saya belum stabil. Saya langsung ngikuti yoga yang untuk melancarkan menstruasi di channel Kak Naomi juga. Alhamdulillah, bi idznillah darah mens saya keluar lagi dengan lebih normal.

Tapi, yang paling utama dari semua ini, saya berusaha untuk berdamai dengan apapun ketentuan Allah. Tugas saya berikhtiar, adapun hasilnya, biarlah Allah yang menentukan.