Laman

Jumat, 12 Juni 2020

Melayani dengan Hati

Saya bungsu dari 3 bersaudara. Ibu saya seorang ibu rumah tangga yang keinginan melayaninya luar biasa besar. Kebahagiannya adalah ketika bisa memastikan suami dan anak-anaknya terpenuhi segala keinginan dan kebutuhannya di dalam rumah. Tidak jadi soal meski itu membuat tubuhnya letih kepayahan.

Sebagai anak bungsu, saya seolah selalu ditempatkan di zona nyaman. Tidak peduli sedang ada badai dalam keluarga kami, semua orang seperti selalu memastikan saya aman, dan tidak perlu tau semua itu. Pun dengan dua kakak saya yang luar biasa sayangnya pada saya.

Bersyukur? Jelas!

Tapi apakah ini ada sisi negatifnya? Sayangnya, ada.

Karena terlalu lama ada di zona nyaman, saya limbung begitu 'dilepaskan' oleh keluarga saya untuk mengarungi pelayaran panjang di bahtera bernama rumah tangga. Saya seperti tidak punya cukup bekal untuk menjadi seorang istri dan ibu dengan segala peran dan tanggung jawabnya.

Maka, tiga tahun awal pernikahan saya, diisi dengan saya yang terombang-ambil di tengah pelayaran. Saya yang sarjana akuntansi, menjadi akuntan yang sangat handal untuk menghitung apa saja tugas yang sudah saya lakukan, dan apa saja yang sudah suami saya lakukan. Ya, saya hitung-hitungan tiap hari. Kalau saya sudah nyetrika, artinya suami saya harus nyuci piring. Kalau saya masih belum bisa tidur karna ngurusin rumah di malam hari, maka suami saya pun nggak boleh tidur. Semua saya hitung dengan detail.

Pun dengan kemampuan melayani saya yang nol besar. Saya nggak merasa harus menyuguhkan minuman untuk suami jika dia belum minta. Pun saat waktunya makan, saya nggak merasa harus melayani dengan mengambilkan nasi dan lain-lain untuk suami saya, kecuali jika dia minta tolong. Dulu saya selalu berpikir, kenapa pula harus diambilkan? Kan ambil sendiri pun bisa.

Hari-hari di awal pernikahan saya diwarnai dengan banyaknya protes di dalam hati. Kok gini sih ternyata jadi istri dan ibu? Kok apa-apa harus selalu saya? Udah capek masak, nyetrika, dan lain-lain, eh waktunya anak mandi maunya sama saya lagi!



Melayani dengan Hati

Hingga suatu hari saat merenung, saya merasa ada yang salah dengan semua ini. Ada yang perlu dibenahi dari diri saya sendiri.

Saya kemudian belajar. Dari banyak buku, banyak tulisan dan sharing orang-orang yang bisa dijadikan panutan, tidak terkecuali ibu saya sendiri.

Saya belajar tentang fitrah apa saja yang Allah sematkan dalam diri seorang wanita yang telah berstatus sebagai istri sekaligus ibu. Saya membuka mata hati agar bisa melihat dan menemukan kunci atas keikhlasan para istri-istri luar biasa yang saya kenal, dalam mempersembahkan pelayanan terbaik bagi keluarganya.

Dan belum lama ini saya menemukannya!

Kuncinya adalah: sertakan hati. Gunakan hati untuk merasai bagaimana bahagianya bisa melayani. Gunakan hati untuk menghayati peran yang melekat pada diri. Agar tak terus-terusan membandingkan zona nyaman di masa lalu, saat belum memiliki peran seperti yang hari ini diemban.

Yang jauh lebih menguatkan lagi adalah nasehat sederhana ibu, yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya di bawah ini. Tentang sebuah motto sederhana agar selalu ringan bergerak.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"


Kesadaran diri itu tidak dibiarkan oleh Allah saya temukan begitu saja tanpa mengujinya, apakah saya benar-benar bisa mengaplikasikan kesadaran diri tersebut?

Yaitu melalui moment Work From Home selama kurang lebih dua bulan, tepatnya pada bulan April dan Mei. Saat itu, saya benar-benar berusaha menanamkan sekuat mungkin kesadaran diri tentang peran dan fitrah saya sebagai istri dan ibu. Saya menyertakan hati di setiap tugas dan tanggung jawab yang saya jalani.

24 jam bersama di rumah, sesuatu yang dulu sangat saya impikan, dan Alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk mencecap rasanya meski hanya sementara.

Lelah? Sekali! Berkali lipat lelahnya dibandingkan saat saya harus bekerja di kantor seperti biasanya. Masak sehari tiga kali. untuk makanan inti. Ditambah masak berbagai jajanan, mencoba berbagai resep. Mencuci piring entah berapa kali sehari. Menyetrika, dan banyak lagi tugas yang lain.

Tapi amazing-nya, saya nggak sedikitpun marah dan memprotes keadaan seperti sebelum-sebelumnya. Saya merasakan kenikmatan yang belum pernah saya rasakan. Ketika melihat anak dan suami melahap dengan nikmat apa yang saya sajikan. Memuji, lalu tersenyum dan memeluk saya dengan penuh cinta. Lelah, tapi nikmat. Yang seperti itu ternyata memang ada.

Melayani dengan hati, ternyata membuat beratnya tugas melayani bertransformasi menjadi salah satu hal yang terasa membahagiakan serta melegakan.

NB: Tulisan ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 8.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)