Senin, 02 November 2020

Cerita Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Sebahagia-bahagianya punya anak, pasti ada titik di mana kita merasa 'ini kok menguji kesabaran banget ya?'. Iya, kan?

Anak Ibu A, perkembangan motoriknya oke banget. Tapi makannya susah setengah mati.

Anak Ibu B, makannya gampang banget, sama sekali nggak picky eater, tapi sering banget tantrum.

Anak Ibu C, anaknya manis, jarang tantrum, tapi beberapa perkembangan motoriknya butuh stimulasi khusus.

Dan masih banyak sekali kombinasi lain. Yang jelas, setiap anak itu unik. Dan setiap ibu punya ujiannya masing-masing.

Dalam setiap sesi obrolan dengan teman sesama ibu saya selalu bilang, ujian terberat saya dari punya anak adalah saat menghadapi trauma BAB Faza. Bukan tentang flat foot-nya.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Yep, Faza sempat mengalami trauma BAB berkepanjangan, dan benar-benar menguras energi, air mata, kesabaran -- dan nggak ketinggalan, materi. Keinginan untuk menuliskan cerita tentang trauma BAB yang Faza alami sudah ada sejak lama. Tapi saya selalu merasa nggak siap. Karena, beneran deh, rasanya nyesek banget. Akhirnya saya memutuskan untuk bertekad menuliskannya saat Faza sudah bisa dikatakan pulih dari trauma tersebut.

 

trauma-BAB-berkepanjangan

 

Dan Bismillah, here we go!

Awal Mula Faza Trauma BAB

Sejak Faza masih hanya mengonsumsi ASI, BAB-nya memang cenderung jarang banget. Kalau banyak orang cerita bayi bisa BAB beberapa kali dalam sehari, Faza enggak. Pernah bahkan sampai seminggu lebih dia nggak BAB. Tapi karena saat itu dia hanya mengonsumsi ASI, dan dari hasil browsing sekaligus konsul dengan dokter katanya nggak masalah karna masih bayi ASI, ya sudah saya nggak merasa itu masalah.

Yang jadi masalah adalah ketika dia mulai MPASI, tentu saja. Dengan pengetahuan saya yang sangat minim saat itu tentang per-MPASI-an, tapi sok tau banget, siklus BAB Faza masih tetap nggak lancar. Tiga hari sekali itu sudah termasuk yang paling cepat. Tapi Faza nggak menunjukkan tanda-tanda dia merasa nggak nyaman dengan perutnya. Makan tetap banyak. Nggak pernah GTM sama sekali.

Sampai suatu hari, sepulang jalan-jalan dengan beberapa teman kuliah saya, Faza tiba-tiba rewel sekali. Saat itu, dia -- kalau nggak salah -- udah hampir seminggu nggak BAB. Iya, saya tau saya salah karena kok ya dibiarin aja anak seminggu nggak BAB.

Saat itu Faza usia 9 bulan. Untuk pertama kalinya dia sembelit. BAB-nya keras sekali. Nangisnya heboh dan seperti sangat kesakitan. Jelas saya ikut nangis.

Dan dari situlah trauma BAB faza bermula. Sejak hari itu, nggak pernah sekalipun Faza BAB tanpa menangis ketakutan.

Trauma BAB Berkepanjangan, bak Lingkaran Setan

Saya kira, sembelit saat itu nggak akan berkepanjangan. Sayangnya, perkiraan saya salah besar.

Tadinya, saya selalu berharap, semakin besar Faza akan semakin paham bahwa BAB itu bukan hal menakutkan. Kenyataannya, semakin besar dia justru semakin pandai menahan BAB-nya, yang akhirnya menjadi lingkaran setan.

Trauma BAB --> nahan BAB --> BAB jadi keras dan sakit --> makin trauma lagi

Muter gitu aja terus, dan bikin saya berkali-kali merasa kehilangan harapan.

Saya nggak berlebihan ketika bilang merasa seperti kehilangan harapan, padahal 'cuma' soal trauma BAB. Kalian nggak akan bilang 'cuma', jika tau seperti apa Faza setiap hendak BAB.

Nangisnya seperti anak yang sedang disiksa oleh ayah-ibunya. Meraung-raung. Setiap BAB, kamar mandi rasanya seperti neraka. Dan lagi-lagi, seperti lingkaran setan.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya -->> dan seterusnya. Bahkan beberapa kali dia sampe gloseran di lantai kamar mandi *CRY*.
Ya Allah, nyeritain ini aja rasanya bikin saya capek banget karena masih merasakan betapa terkurasnya emosi saya saat itu :(

Perjalanan Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Hampir setiap orang yang tau cerita soal Faza yang BAB-nya susah alias selalu sembelit, pasti akan bilang: dikasih sayur dan buah dong!

Padahal ya, berani taruhan, Faza makan JAUH LEBIH BANYAK sayur dan buah dibanding anak mereka-mereka semua yang bilang seperti itu!

Yang bikin saya bingung, beberapa artikel bilang bahwa anak batita justru tidak disarankan makan terlalu banyak buah dan sayur. Tapi ketika datang ke dokter spesialis anak, ada dokter yang setuju dengan isi artikel tersebut, namun ada pula yang tidak setuju dan tetap menyarankan memperbanyak sayur dan buah. Pusing!

Apa saja cara yang kami tempuh untuk menyembuhkan trauma BAB Faza?

Rasanya hampir semua cara yang kami tau, sudah pernah kami coba.

Pergi ke dokter, tentu saja. Oleh mereka dikasih resep prebiotik dan obat pengencer poop yang cukup menguras kantong. Apakah ada hasilnya? Nope. Nggak ada hasil signifikan.

Oleh tetangga yang bekerja di sebuah klinik dokter, pernah menyarankan sebuah obat pencahar. Yang konon manjur banget, karena ibunya yang sempat sembelit parah, minum obat itu sekali, poop-nya langsung lancar jaya. Bahkan kata beliau, saat minum agak kebanyakan dikit, poop-nya malah jadi 'terlalu lancar'.

Jelas saya langsung beli obat yang sama. Hasilnya? Nihil. Bahkan saya sempat nekat memberi Faza lebih banyak dari takaran sebenarnya, dan tetap nggak ngaruh sedikit pun!

Betapa sakti mandragunanya anak saya dalam hal menahan hasrat BAB-nya -_____-

Yogurt dari yang mahal sampai yang biasa saja? Sudah.

Yakult? Hampir tiap hari.

Pernah juga saya sengaja ngasih makanan pedas. Dengan harapan dia diare. Bayangkan, ibu macam apa yang bisa-bisanya pernah sangat berharap anaknya diare?! Ya itu, saking hopeless-nya. Saya pikir, kalau Faza diare, mungkin akan mengubah pola pikir dia tentang betapa susah dan sakitnya mengeluarkan poop.

Sayangnya, lagi-lagi harapan saya nggak terkabul. Faza hampir nggak pernah diare, malah sejak saat itu dia jadi doyan makan pedas. Saat itu saya bahkan bingung harus bersyukur atau nggak untuk hal ini. Haha!

Cara terakhir yang kami andalkan dalam setiap sesi per-BAB-an Faza adalah: microlax.

Pakai Microlax, hampir selalu berhasil membuat pup Faza keluar, meski pernah juga beberapa kali tetap nggak keluar, atau butuh 2 microlax sekali BAB. makanya saya bilang, nggak cuma menguras emosi, air mata, dan kesabaran. Kantong pun ikut terkuras. Bayangkan, tiap dia BAB, kami harus mengeluarkan uang minimal dua puluh lima ribu. Mewah sekali BAB anak saya. Hihi.

Sayangnya, di mata Faza, cara pakai Microlax itu menakutkan. Dia nangis makin-makin heboh tiap kami akan member dia Microlax. jadi tambah satu lagi kan lingkaran setannya.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya --> kami memberi microlax --> nangis makin-makin-makin heboh --> Faza makin-makin trauma --> dan seterusnya.
Tapi ya gimana lagi, hanya Microlax yang bisa kami andalkan agar poop Faza keluar. Meski sedih luar biasa melihat dia ketakutan saat dikasih Microlax, kami lebih nggak mau membuat dia harus masuk Rumah Sakit karena poop-nya nggak keluar :((

Sounding? Hampir setiap hari. Saya bahkan membelikan dia buku bertema ajakan untuk poop, demi mengubah persepsinya tentang poop. Saya pernah berpikir ingin membawa Faza untuk hypno-therapy. Tapi belum kesampaian karena minim info tentang ini.

Baca juga: Rekomendasi Buku Favorit Faza

Dulu, setiap habis menemani Faza BAB, saya pasti selalu kehabisan energi. Lemes. Efek dari perasaan sedih, capek, marah, bercampur menjadi satu. Dan hampir pasti, saya pasti menangis. Sibuk menyalahkan diri sendiri kenapa Faza jadi seperti itu.

Saat itu, tiap melihat poop Faza keluar, rasanya saya seperti melihat emas! Rasa leganya bahkan mirip dengan saat saya berhasil mengeluarkan dia dari perut saya.

Butuh Hampir Tiga Tahun Untuk Bisa Melihat Faza BAB Tanpa Menangis

Harapan terbesar saya saat itu, betapa inginnya saya melihat Faza BAB tanpa menangis, seperti anak-anak pada umumnya. Harapan yang patah entah berapa ratus kali, lalu dengan susah payah saya tumbuhkan lagi.

Sounding yang biasanya selalu efektif saat saya menyapih dan mengajari dia untuk tidak pipis di diapers pun rasanya tidak kunjung menuai hasil.

Doa seusai sholat pun yang utama adalah 'sembuhkan Faza dari trauma BAB-nya, Ya Rabb'. Ya, doa adalah senjata terakhir saya. Saat saya benar-benar nggak tau lagi harus gimana.

Ternyata, semua itu bukan tidak membuahkan hasil. Hanya saja, butuh waktu hampir tiga tahun untuk saya akhirnya bisa melihat Faza bisa BAB tanpa menangis heboh. Saya lupa bagaimana persisnya awal mula Faza mulai pulih.

Sepertinya memang karena dia sudah mulai bisa mencerna pengertian, bahwa setiap orang BAB, BAB itu harus, kalau BAB ditahan nanti semakin sakit karena keras, dll. Kalimat yang sudah saya ulang hampir ribuan kali.

Alhamdulillah, di usia 3,5 tahun Faza perlahan mulai pulih dari trauma BAB-nya. Meski masih harus merayu untuk BAB, setidaknya dia tidak lagi histeris mendengar kata 'ayo BAB'.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.

Trauma BAB Faza, mungkin meninggalkan luka batin pada diri Faza. Karena dalam perjalanan panjang menyembuhkan trauma BAB-nya, entah berapa kali kami -- ayah-ibunya -- membentaknya, membuatnya ketakutan. Ya Tuhan, sedih banget tiap ingat masa-masa itu. Sediiiih banget.

Mungkin, trauma ini akan membekas pada diri Faza sebagai luka pengasuhan. Mungkin akan membekas pada diri faza sebagai inner child. Saya janji pada diri saya sendiri, kelak saat Faza dewasa, saya akan meminta maaf secara khusus atas masa-masa itu. Saya menulis ini pun, salah satunya agar semoga kelak dia bisa membacanya.

Terima kasih untuk siapa saja yang telah bersedia membaca cerita saya ini :)

Sabtu, 15 Agustus 2020

#CeritaFaza: Fase Threenager

Selamat tinggal masa tantrum, selamat datang masa drama. Hihihi.

Konon, masa-masa anak usia dua tahun itu seringkali diisi dengan seringnya si anak tantrum. Hampir tiap hari. Dulu saya ingin mengingkari teori itu. Ah, enggak. Anakku pasti manis. No tantrum-tantrum club.

Ternyata? HAHAHA. Bye-bye impian, selamat datang kenyataan. Faza tantrum hampir setiap hari di masa dua tahunnya. Dan itu bikin capek. Banget.

 


Sejak saat itu, saya memilih untuk percaya sama teori selanjutnya, yaitu tentang fase tiga tahun yang sering diberi istilah threenager, dan berharap fase itu segera datang, hihihi.

Kenapa disebut threenager? Karna anak usia tiga tahun konon polah tingkahnya bakal mirip seperti anak Teenager. Suka berargumen, mau coba melakukan segala sesuatunya sendiri, suka ngambek, dll. Wow, kayaknya akan jauh lebih ringan ya dibanding fase terible two.

Dan ternyata bener!

Semua yang dikatakan teori tentang threenager itu terjadi pada Faza. Sejak masuk usia dua tahun, dia udah hampir nggak pernah tantrum. Udah lebih bisa dikasih pengertian. Di fase terible two, saat ada yang nggak sesuai keinginannya, respon yang dia tunjukkan adalah dengan nangis teriak-teriak. Kadang ditambah pukul-pukul nggak karuan.

Di fase threenager, saat ada yang nggak sesuai dengan keinginannya, dia akan berargumen saat kami memberi pengertian. Saat argumentasinya nggak bisa kami terima, dia akan ngambek. Ngambeknya beneran mirip sama anak teenager. Hihihi.

Setelah masuk usia tiga tahun, Alhamdulillah Faza tergolong sudah bisa mengelola emosi dengan sangat baik. Mungkin karna di usia 2 tahun, saya memang cenderung fokus mengenalkan beragam emosi ke dia, dan cara mengelolanya.

Jadi catatan penting yang harus saya garisbawahi adalah, jika ingin masa tantrum tidak berkepanjangan, fokus mengenalkan emosi ke anak di masa tantrumnya. Tentang senang, sedih, marah, kecewa. Beri label untuk semua emosinya, dan beri tahu dia gimana cara menyalurkan emosinya itu dengan benar.

Soalnya ada juga anak teman saya yang sudah masuk usia tiga tahun tapi masih struggling sama masalah emosi anaknya yang meledak-ledak. Yah meskipun mungkin ada faktor karakter tiap anak memang beda.

Di usia tiga tahun ini, kemampuan Faza mengolah kata semakin luar biasa, Masyaa Allah. Berbanding lurus dengan kemampuan berargumennya, eerrrrr -_-

Tidak jarang, saya dan ayahnya kadang harus terdiam lamaaa untuk mikirin harus jawab apa. Saking masuk akalnya argumentasinya dia.

Dari sisi kemandirian, sepertinya ayahnya punya perna yang jauh lebih besar dibanding saya. Gimana lagi, Faza kalo sama ibu pasti manja sekali, huhu. Disuruh belajar pakai dan lepas baju dan celana sendiri aja bisa nangis bombay kalo sama ibu. Padahal kalau sama ayah mau. Sekarang Alhamdulillah udah mulai lancar, meski masih butuh sedikit bantuan.

Ambil minum sendiri ke dispenser juga sudah pandai. Makan sendiri sudah tidak terlalu berantakan. Wow, anakku sudah besar!

Nah, tapi saya punya kegalauan di fase threenager ini. Saya bertanya-tanya, kenapa Faza belum punya ketertarikan sama kegiatan yang menggunakan alat tulis? Lalu kapan waktu yang tepat mengenalkan huruf dan angka ke dia? Karna di satu sisi, saya ingin segera mengenalkan, takut telat. Di sisi lain, saya nggak ingin maksa dan bikin dia jadi punya kesan pertama yang buruk dengan angka dan huruf.

Tadinya, saya berencana masukin dia ke PAUD kan tahun ini. Tapi apa daya, qodarullah ada pandemi Covid-19. Mau maksa didaftarin, yang ada paling ibunya yang ngerjain tugas. Sudahlah bayar, eh nggak maksimal dampaknya ke anak. Jadi ya sudah memutuskan untuk ditunda tahun depan. Semoga pandemi segera berakhir.

Huhu, galaw!

Kamis, 25 Juni 2020

Catatan Ibu Profesional: Aliran Rasa di Penghujung Matrikulasi

Tidak terasa ternyata sebentar lagi kelas matrikulasi berakhir, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke samudra yang jauh lebih dalam lagi.

Saya jadi terkenang, tentang niat saya belajar di Institut Ibu Profesional yang sudah ada sejak dua tahun lalu. Sempat maju-mundur, karna awlanya merasa inferior. Kenapa inferior? Karna saya kira, IIP lebih diperuntukkan untuk ibu rumah tangga yang fokus di ranah domestik. Saya sempat takut akan mendapatkan banyak justifikasi negatif sebagai ibu yang memilih untuk berkiprah di ranah publik. Alhamdulillah, ketakutan saya tersebut sama sekali tidak terjadi.


ibu-profesional


Di kelas matrikulasi ini, saya banyak sekali belajar. Tentang hal-hal yang sebenarnya sangat mendasar yang harus diketahui seorang ibu pembelajar. Tapi sayangnya justru banyak dilupakan. Salah satunya tentang core value: belajar, berkembang, berkarya, lalu berdampak.

Berapa banyak ibu pembelajar yang selama ini lompat dari belajar ke (berusaha) berdampak? Saya sendiri salah satunya. Tidak heran jika akhirnya dampaknya tidak akan maksimal, atau bahkan bisa jadi gagal berdampak sama sekali.

Salah satu materi yang berkesan bagi saya adalah materi yang disampaikan oleh Widyaismara Mbak Rima. Khususnya bagian tentang bahwa belajar pun butuh skala prioritas. Kenapa sangat berkesan bagi saya? Karna selama ini saya tidak punya skala prioritas dalam belajar. Saya ingin belajar banyak hal, tapi lupa bahwa tenaga, pikiran dan waktu saya terbatas. Saya nggak mungkin bisa belajar semua hal yang saya inginkan dalam satu waktu, tanpa membuat skala prioritas.

Misi Connecting The Dots kemarin juga bagi saya cukup berkesan. Kami diminta untuk melihat lebih jauh ke dalam diri kita sendiri. Tentang seperti apa diri kita ini, apa yang membuat kita unik, nilai apa yang selalu kita pegang, dan apa yang sedang kita perjuangkan.

Dalam misi Connecting The Dots tersebut, banyak teman matrikan di regional Semarang yang merasa misi ini sangat menantang dan membuat kitaharus merenung cukup lama. Ya, saya pun merasakannya. Dari situ saya jadi bisa melihat. Betapa kita sebenarnya sering lalai melihat diri kita sendiri. Betapa kita sering lalai mengenali diri sendiri, sehingga merasa cukup kesulitan saat diminta untuk menjabarkan hal-hal yang diminta dalam misi tersebut.

Tapi yang paling berkesan bagi saya sejujurnya adalah bertemu banyak sekali para ibu pembelajar di kelas matrikan, khususnya dari regional Semarang. Saya senang sekali punya banyak teman baru yang hebat-hebat, yang tidak berhenti belajar dan yang selalu membawa aura positif.

Semoga pertemanan kami tidak turut selesai bersamaan dengan selesainya kelas matrikulasi batch 8 ini. Aamiin.

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kelas matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional.

Jumat, 19 Juni 2020

Catatan Ibu Profesional: Mencari Makna Diri

Dulu saya pikir, pencarian makna diri itu sudah selesai di masa-masa remaja hingga menginjak dewasa. Saya pikir, setelah menikah dan punya anak, saya tidak perlu lagi mencari makna diri karna saya akan dengan serta-merta menjadi 'utuh' ketika sudah berumah tangga dan melahirkan seorang anak.

Bukankah penanaman keliru seperti itu masih banyak terjadi di masyarakat kita? Seolah menikah dan punya anak adalah titik akhir bagi seorang wanita. Seolah setelah itu, kita tidak lagi bisa dan perlu mengembangkan diri.

Beruntungnya, kita ada di sebuah era di mana informasi berkembang amat cepat. Termasuk ilmu pengetahuan dan kesempatan belajar yang juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi tersebut. Dengan banyaknya informasi yang saya dapat, saya jadi 'ngeh', ternyata saya belum boleh berhenti mencari makna diri. Saya harus terus berproses untuk membuat diri saya utuh sebagai pribadi, istri maupun ibu.

Maka, berikut adalah catatan saya dalam proses mencari makna diri.



Seperti Apa Aku Ini

Seperti apa saya ini?

Saya adalah seorang berkepribadian 75% introvert, 25% ekstrovert. Seperti umumnya orang introvert, saya kurang suka bertemu banyak orang. Bertemu dan mengobrol dengan banyak orang bagi saya cukup menguras tenaga.

Sejalan dengan itu, kemampuan komunikasi lisan saya tidak begitu baik. Saya bukan orang yang pintar memaparkan apa yang ada di kepala saya dnegan baik melalui lisan. Sebaliknya, saya lebih suka memaparkan isi pikiran saya melalui tulisan.

Meski begitu, Alhamdulillah saya punya sedikit jiwa ekstrovert yang membuat saya adakalanya merasa butuh bersosialisasi dan berkomunitas, meski tidak pernah bias maksimal dan sering membuat saya merasa kelelahan di tengah perjalanan, karena introvert saya jauh lebih mendominasi.

Saya juga seorang plegmatis yang cinta damai. Saya paling tidak suka dan tidak tahan dengan konflik. Hal itu membuat saya sering sekali menjadi ‘juru damai’ bagi orang-orang di sekitar saya yang sedang berkonflik. Saya senang menjadi penengah, dan punya kemampuan untuk ‘mendinginkan’ mereka.

Selain itu, saya adalah seseorang yang sangat mudah tertarik pada hal baru, dan ingin mempelajarinya. Terutama sejak jadi ibu. Saya ingin mempelajari banyak hal, hingga seringkali membuat saya merasa kewalahan dan kehilangan focus.

Alhamdulillah, sejak belajar di kelas matrikulasi IIP, saya jadi tau, bahwa belajar pun butuh skala prioritas. Kapasitas otak saya terbatas. Saya tidak mungkin bisa. Kalua dipaksakan, pasti tidak akan maksimal.

Nilai Apa yang Saya Miliki?

Saya senantiasa berusaha memegang nilai-nilai yang ada dalam Al Qur'an dan Hadist, meski masih jauuuuhh dari sempurna.

Saya juga punya beberapa nilai yang saya pegang dengan cukup teguh, di antaranya adalah: "Kita diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan". Nilai tersebut sebagai pengingat bagi diri saya, bahwa jika kita ingin diperlakukan dengan baik, maka kita harus memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Apa yang Membuat Saya Unik?

Yang membuat saya unik adalah, saya seorang introvert tapi punya cukup banyak teman dan tergolong cukup mudah akrab dengan orang baru. Selain itu, saya adalah pendengar yang cukup baik, sehingga banyak sekali teman yang memilih saya sebagai tempat curhat mereka. Termasuk bagi suami saya sendiri.

Selain itu, saya juga orang yang cukup peka terhadap perasaan orang lain, tapi di sisi lain sering 'tidak peduli; dengan sekitar, saat sedang melakukan sesuatu. Saya sering tenggelam dan asyik dengan dunia saya sendiri.

Apa yang Saya Perjuangkan?

Yang saya perjuangkan sebagai pribadi adalah saya ingin jadi seseorang yang punya energi positif dan bisa membagikan energi tersebut ke orang lain. Saya ingin menjadi orang yang punya kesehatan mental yang baik, sehingga saya bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya tanpa menjadi toxic. Selain itu, saya juga berjuang untuk bisa terus menghasilkan karya yang membuat saya bisa mengapresiasi diri saya sendiri, dan pada akhirnya membuat saya semakin percaya diri.

Sebagai istri, saya sedang berjuang untuk menjadi istri sholihah bagi suami saya. Yang qona'ah, dan taat pada apapun perintahnya, sehingga kami bisa terus bersama tidak hanya di dunia, melainkan hingga surga.

Sebagai seorang ibu, saya berjuang untuk menjadi fasilitator terbaik bagi anak saya, dan mengantarkannya menjadi orang sholih yang mensholihkan orang lain, tapi tidak menjadikan kesholihannya untuk mengukur kesholihah orang lain.. Saya ingin membersamai tumbuh kembang anak saya, meski waktu yang saya miliki untuk mendampinginya tidak banyak, saya percaya kualitas jauh lebih penting dibanding kuantitas. Saya ingin menjadi ibu yang bisa sekaligus menjadi sahabat bagi anak saya hingga ia dewasa.

Apa Kesamaan Saya dengan IIP?

Kesamaan saya dengan IIP adalah sama-sama ingin selalu mengembangkan diri dan memberikan dampak baik bagi orang lain.

IIP juga menjadi wadah bagi banyak ibu untuk mengembangkan diri, seperti saya yang menjadi wadah bagi keluarga saya untuk mengembangkan diri.

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Batch 8 regional Semarang IIP.

Jumat, 12 Juni 2020

Melayani dengan Hati

Saya bungsu dari 3 bersaudara. Ibu saya seorang ibu rumah tangga yang keinginan melayaninya luar biasa besar. Kebahagiannya adalah ketika bisa memastikan suami dan anak-anaknya terpenuhi segala keinginan dan kebutuhannya di dalam rumah. Tidak jadi soal meski itu membuat tubuhnya letih kepayahan.

Sebagai anak bungsu, saya seolah selalu ditempatkan di zona nyaman. Tidak peduli sedang ada badai dalam keluarga kami, semua orang seperti selalu memastikan saya aman, dan tidak perlu tau semua itu. Pun dengan dua kakak saya yang luar biasa sayangnya pada saya.

Bersyukur? Jelas!

Tapi apakah ini ada sisi negatifnya? Sayangnya, ada.

Karena terlalu lama ada di zona nyaman, saya limbung begitu 'dilepaskan' oleh keluarga saya untuk mengarungi pelayaran panjang di bahtera bernama rumah tangga. Saya seperti tidak punya cukup bekal untuk menjadi seorang istri dan ibu dengan segala peran dan tanggung jawabnya.

Maka, tiga tahun awal pernikahan saya, diisi dengan saya yang terombang-ambil di tengah pelayaran. Saya yang sarjana akuntansi, menjadi akuntan yang sangat handal untuk menghitung apa saja tugas yang sudah saya lakukan, dan apa saja yang sudah suami saya lakukan. Ya, saya hitung-hitungan tiap hari. Kalau saya sudah nyetrika, artinya suami saya harus nyuci piring. Kalau saya masih belum bisa tidur karna ngurusin rumah di malam hari, maka suami saya pun nggak boleh tidur. Semua saya hitung dengan detail.

Pun dengan kemampuan melayani saya yang nol besar. Saya nggak merasa harus menyuguhkan minuman untuk suami jika dia belum minta. Pun saat waktunya makan, saya nggak merasa harus melayani dengan mengambilkan nasi dan lain-lain untuk suami saya, kecuali jika dia minta tolong. Dulu saya selalu berpikir, kenapa pula harus diambilkan? Kan ambil sendiri pun bisa.

Hari-hari di awal pernikahan saya diwarnai dengan banyaknya protes di dalam hati. Kok gini sih ternyata jadi istri dan ibu? Kok apa-apa harus selalu saya? Udah capek masak, nyetrika, dan lain-lain, eh waktunya anak mandi maunya sama saya lagi!



Melayani dengan Hati

Hingga suatu hari saat merenung, saya merasa ada yang salah dengan semua ini. Ada yang perlu dibenahi dari diri saya sendiri.

Saya kemudian belajar. Dari banyak buku, banyak tulisan dan sharing orang-orang yang bisa dijadikan panutan, tidak terkecuali ibu saya sendiri.

Saya belajar tentang fitrah apa saja yang Allah sematkan dalam diri seorang wanita yang telah berstatus sebagai istri sekaligus ibu. Saya membuka mata hati agar bisa melihat dan menemukan kunci atas keikhlasan para istri-istri luar biasa yang saya kenal, dalam mempersembahkan pelayanan terbaik bagi keluarganya.

Dan belum lama ini saya menemukannya!

Kuncinya adalah: sertakan hati. Gunakan hati untuk merasai bagaimana bahagianya bisa melayani. Gunakan hati untuk menghayati peran yang melekat pada diri. Agar tak terus-terusan membandingkan zona nyaman di masa lalu, saat belum memiliki peran seperti yang hari ini diemban.

Yang jauh lebih menguatkan lagi adalah nasehat sederhana ibu, yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya di bawah ini. Tentang sebuah motto sederhana agar selalu ringan bergerak.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"


Kesadaran diri itu tidak dibiarkan oleh Allah saya temukan begitu saja tanpa mengujinya, apakah saya benar-benar bisa mengaplikasikan kesadaran diri tersebut?

Yaitu melalui moment Work From Home selama kurang lebih dua bulan, tepatnya pada bulan April dan Mei. Saat itu, saya benar-benar berusaha menanamkan sekuat mungkin kesadaran diri tentang peran dan fitrah saya sebagai istri dan ibu. Saya menyertakan hati di setiap tugas dan tanggung jawab yang saya jalani.

24 jam bersama di rumah, sesuatu yang dulu sangat saya impikan, dan Alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk mencecap rasanya meski hanya sementara.

Lelah? Sekali! Berkali lipat lelahnya dibandingkan saat saya harus bekerja di kantor seperti biasanya. Masak sehari tiga kali. untuk makanan inti. Ditambah masak berbagai jajanan, mencoba berbagai resep. Mencuci piring entah berapa kali sehari. Menyetrika, dan banyak lagi tugas yang lain.

Tapi amazing-nya, saya nggak sedikitpun marah dan memprotes keadaan seperti sebelum-sebelumnya. Saya merasakan kenikmatan yang belum pernah saya rasakan. Ketika melihat anak dan suami melahap dengan nikmat apa yang saya sajikan. Memuji, lalu tersenyum dan memeluk saya dengan penuh cinta. Lelah, tapi nikmat. Yang seperti itu ternyata memang ada.

Melayani dengan hati, ternyata membuat beratnya tugas melayani bertransformasi menjadi salah satu hal yang terasa membahagiakan serta melegakan.

NB: Tulisan ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 8.

Rabu, 08 April 2020

Nasehat Ibu: Sebuah Motto Hidup Sederhana Seorang Istri

Saya itu bisa dibilang sama sekali bukan perempuan yang #wifematerial. Lhah, kalimat pembukanya udah buka aib duluan, hehe.

Tapi beneran. Istri itu kan salah satu fitrahnya melayani ya. Sedangkan saya dibesarkan hampir tanpa dididik untuk melayani. Beda banget sama ibu saya.

Yep, ibu saya adalah perempuan dengan jiwa melayani yang totalitas banget. Logikanya, harusnya anaknya ngikuti jejak ya. Sayangnya enggak. Saking totalitasnya ibu saya dalam melayani, nggak terkecuali anak-anaknya pun jadi terbiasa untuk dilayani. Please, jangan diartikan saya dan kakak-kakak saya memperlakukan ibu kami seperti pembantu ya. Bukan. Bukan melayani yang seperti itu. Melayani yang semacam: anaknya pengen makan apa, beliau akan berusaha memasakkan meski anaknya bilang nggak usah pun nggak apa-apa. Gitu lah pokoknya.

nasehat-ibu
gemes banget! Pengen yg kayak gini Ya Allah :')
(sumber: pixabay.com)


Nah, ketidakbiasaan saya untuk melayani itu, menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan saya berproses menjadi istri dan ibu.

Sejak awal menikah, saya langsung ngerasa, WOW, gini ya ternyata jadi istri? Waktunya makan harus inget suami, mikirin dia harus makan apa, siapin, dll. Sedangkan sebelumnya, saya tipe yang lebih rela laper daripada harus gerak. Beneran. Karna ada ibu saya yang akan dengan segala cinta-kasihnya, akan nyodorin saya makan. Itu sebabnya waktu kost, magh adalah oenyakit langganan. Saking seringnya melewatkan makan gara-gara males banget harus nyari dulu. Haha. Kebangetan!

Nah, long story short, pada kepulangan saya ke kampung halaman bulan lalu, saya sempat ketangkap sama ibu nggak memerankan fungsi istri yang seharusnya. Halah. Biasanya kan saya pencitraan dong, biar beliau bahagia. Hehe.

Ceritanya, waktu habis makan. Beliau bilang, sekalian dicuci ya piringnya. Saya bilang, nanti deh biar dicuci sama Mas Sani. Ups, keceplosan! Hihi.

Langsung deh, tausiyah dimulai. Tapi dari sekian banyak tausiyah beliau, ada satu kalimat dari beliau yang ngena banget di saya. Kayaknya itu motto hidup beliau selama berperan sebagai istri dan ibu deh. Motto hidup yang amat sederhana, tapi beneran powerfull sekali untuk membuat beliau senantiasa memberikan pelayanan terbaiknya.

Apa motto hidup sederhana itu?

Kata beliau, "jadi istri itu, tanamkan kuat-kuat dalam hati: 'kalau bukan aku siapa lagi?' - saat akan melakukan apapun. Nggak usah pikirkan dibantu atau enggak. Biar saat dibantu, kita senang dan bersyukur. Kalau udah menuntut dibantu sejak awal, dan ujungnya nggak dibantu, pasti kita akan kecewa."

Aaaaakk, JLEB JLEB JLEB!

Gimana enggak JLEB coba? Saya ini kan dari dulu hobi banget itung-itungan sama mas suami. Kalau saya udah masak, artinya dia yang harus nyuci piring. Kalau saya nyetrika, dia harus yang nyuci dan jemur. Pokoknya saya paling nggak terima kalau saya ngerjain sesuatu terus beliaunya leyeh-leyeh.

Ibu saya memang bukan perempuan yang punya konsep berpikir tentang kesetaraan gender bla bla bla gitu ya. Di otak beliau hampir nggak ada ide bahwa suami harus mau bantuin ngerjain kerjaan rumah tangga, seperti yang ada di otak saya ini. Hehe. Bagi beliau, sudah fitrahnya perempuan ngurusin rumah, dan selama mampu ya akan sekuat tenaga beliau kerjakan sendiri. Kalau Bapak punya inisiatif bantu ya Alhamdulillah, kalau enggak ya enggak apa-apa.

Qodarullah, sepulang dari kampung halaman dan mendapatkan nasehat itu, ternyata bersamaan dengan seruan pemerintah untuk di rumah saja sementara waktu, dan work from home. Bagi saya pribadi, ini seperti ujian dari Allah, apakah saya bisa mengaplikasikan nasehat ibu dengan baik atau enggak.

Buibu pasti tau ya, di rumah saja itu malah jauh lebih capek dan lebih banyak kerjaan dibanding dengan saat harus kerja di kantor. Begitupun yang saya rasakan. masak sehari tiga kali. Nyuci piring sehari entah berapa kali. Nyetrika. Dll.

Setiap malas hendak menghinggapi, atau mau mulai itung-itungan, suara ibu seperti bergaung di telinga saya, "kalau bukan aku, siapa lagi?"

Dan, magic! Kalimat itu seperti punya kekuatan yang membuat hati saya lebih legowo mengerjakan aneka macam pekerjaan, dan seperti menyuntikkan semangat meski badan rasanya udah capek banget.

Wow, betapa kita sebenernya hanya butuh prinsip-prinsip sederhana tapi powerfull ya untuk bisa terus bergerak.

Yang masih work from home, atau menemani anakknya belajar dari rumah mana suaranya? Semangat yaaa :) Semoga sepenggal nasehat sederhana ibu saya bermanfaat.

Senin, 02 Maret 2020

Rangkuman Usia 2 Tahun Faza

Beberapa saat lalu, saya tiba-tiba sadar. Saya minim sekali nulis satu tahun terakhir ini. Banyak sekali yang saya lewatkan untuk ditulis, tidak terkecuali cerita-cerita tentang tumbuh kembang Faza.

Saya hampir nggak nulis cerita tumbuh kembang faza di masa usia 2 tahunnya sama sekali. Sedih :(

Karna suatu saat, pasti adakalanya saya ingin memanggil ingatan saya tentang masa-masa Faza berusia 2 tahun.

Tapi karna sudah terlanjur lewat, yang bisa saya lakukan adalah melakukan perbaikan. Dalam hal ini, saya akan mencoba menulis rangkuman masa 2 tahun Faza. Berdasarkan beberapa ingatan, dan dokumen-dokumen pendukung. Halah.

Dokumen pendukungnya cuma data di Primaku, foto dan video, serta ingatan-ingatan yang masih berhasil tersimpan kuat di memori sih.



Oke deh, Bismillah, saya mulai.

Biar gampang, saya akan pake 5 aspek tumbuh kembang balita:

1. Aspek Fisik

Dari segi aspek fisik, Alhamdulillah Faza bisa dibilang tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan di usia 2 tahun ini. Berat  badannya naik kurang lebih 2 Kg dalam setahun terakhir, sesuai dengan kriteria. Begitu juga tinggi badannya yang Alhamdulillah masuk kategori ideal menurut aplikasi Primaku.


Bersyukur sekali meskipun saya alpa mencatat detail tumbuh kembang Faza di blog ini, seenggaknya di Primaku saya nggak lupa meng-update data tiap beberapa bulan sekali. Jadi saya bisa tracking pertumbuhannya.

2. Aspek Kognitif

Saya jujur agak bingung sih menjabarkan bagian aspek kognitif ini.

Ini aspek yang mungkin saya banyak alpa dalam menstimulus dan memantau perkembangannya secara serius. Tapi saya merasa perkembangannya sudah sesuai usia.

Dia sudah bisa memahami cerita dengan baik, sudah mulai paham tentang konsep sebab-akibat. Bahkan dia sudah bisa diminta untuk me-retelling sebuah gambar di buku ceritanya. Faza sudah hafal warna di usia 2 tahunnya, sudah paham konsep besar-kecil, atas-bawah, sekarang-nanti.

3. Aspek Bahasa

Ini sih udahlah... Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Faza dapet turunan gen dari ayah ibunya yang suka ngomong (meski kalo lagi mode diem ibunya suka males ngomong hehehe).

Aspek bahasanya Faza berkembang sangat pesat di rentang usia 2 tahunnya. Di awal-awal usia dua tahun, dia mulai bisa bicara satu kalimat utuh yang terdiri dari 3 kata. Contoh, "Adek mau maem" -- tadinya cuma "Maem... maem".

Kalau sekarang sih, hmmm... udah nyaingin ibunya. Udah bisa cerita panjang kali lebar. Kayaknya bisa cerita panjang itu baru beberapa bulan terakhir ini, alias 2,5 tahunan kurang lebih.

Sekarang Faza udah mulai bisa protes, udah mulai bisa berpendapat dan bernegosiasi.

Ohya, perkembangan yang kelihatan sekali adalah pelafalan per katanya yang makin sempurna. Tadinya, Faza cenderung 'males' melafalkan kata dengan pelafalan yang sempurna -- cenderung sering menghilangkan huruf konsonan. Misal, kata "dimana', dia akan melafalkannya dengan "diana". "Kuda, jadi "Uda". Dll. Sekarang (baru dua mingguan terakhir ini), dia udah mulai terbiasa melafalkannya kata per kata dengan lebih sempurna.

Thanks to Uwak Onang yang bikin kami aware soal ini. Tadinya saya nggak merasa harus mengoreksi, karna merasa 'sudah paham' meskipun dia nggak bener ngomongnya, dan merasa nanti juga lama-lama bener sendiri. Ternyata memang harus dikoreksi.

4. Aspek Sosial

Di awal usia 2 tahun, beuh Faza egosentrisnya luar biasa -- yang mana memang sangat wajar. Keakuannya sangat tinggi. Termasuk soal kepemilikan.

Saya sempet dibikin nggak enak kalo Faza nggak bersedia meminjamkan mainan ke teman seumurannya. Padahal si teman seumuran itu nggak pernah segan meminjamkan mainannya atau berbagi makanan dengan Faza. Mungkin karna si teman sepermainan itu punya kakak yang jeda umurnya sedikit sekali, jadi sudah terbiasa berbagi di rumah.

Kalau sama orang yang lebih tua, Faza dari dulu terkenal ramah. Makanya dia punya beberapa fans fanatik orang sepuh. Hihi. Tiap lewat, Faza sering nyapa. "Eyaaang...", atau "Budheee...", gitu. Hihi, Alhamdulillah sifat ibunya yang kadang suka males nyapa gak kebawa sama Faza. Kalau disapa atau diajak bicara juga Faza sering menjawab dengan baik. Alhamdulillah.

Kemampuannya beradaptasi di lingkungan baru juga Alhamdulillah gak sesusah yang saya kira dulu. Dia ternyata cenderung mudah akrab dan adaptasi. Pernah suatu hari saya ajak dia ke kantor, dan dia enjoy aja. Sama temen-temen kantor pun nggak segan salim, ngobrol, dll.

5. Aspek Emosional

Ini nih yang paling kerasa bangettt di usia 2 tahunnya Faza. Soalnya aspek ini menguji kesabaran saya dan mas suami sekali. Haha.

Kalau usia 2 tahun sering dibilang sebagai terrible two, saya setuju banget. Karna begitu yang terjadi di Faza. Sering tantrum? Beuh, sering banget. Terutama di setengah tahun pertama usia 2 tahunnya dia. Emosinya meledak-ledak sekali. Mulai agak kalem kayaknya 3 bulanan terakhir ini deh.

Saya sampe kadang mikir, ini kenapa masa tantrumnya awet banget, apa karna saya sering kalah? Apa karna ada yang nggak bener dari cara kami mengatasi tantrumnya dia?

Tapi setelah direnungi lagi, rasanya kami hampri nggak pernah kalah -- dalam artian akhirnya ngasih apa yang dia mau (yang tadinya nggak dibolehin) hanya gara-gara dia tantrum. Kami cenderung konsisten. Yang kami belepotan banget itu soal mengatasi emosi kami.

Jujur aja nggak jarang kalo Faza tantrum, saya atau ayahnya kadang suka ikut tantrum. Huhu, Padahal harusnya nggak boleh. Kalo dia tantrum, kitanya ikut tantrum, yang ada tantrumnya nggak bakal selesai-selesai. Kalo kita tantrum, harusnya kitanya stay cool. Tapi percayalah, menghadapi anak tantrum saat lelah raga dan pikiran itu sungguh ujian hidup.

Di luar ke-5 aspek di atas, ada beberapa point juga yang rasanya harus saya tulis dalam rangkuman ini.

  • Konsisten No Gadget

Ini salah satu hal yang saya syukuri dan apresiasi dari diri saya sendiri sebagai orangtua. Alhamdulillah di antara banyaknya wacana yang akhirnya nggak mampu saya realisasikan, konsisten no gadget menjadi satu dari sedikit hal yang bisa saya lakukan.

Enggak 100% no gadget sih. Karna memang bukan itu goal saya. Faza sesekali (jarang sekali) saya pinjami ponsel saya, tapi hanya untuk lihat video-videonya sejak bayi.

Sedangkan di ponsel ayahnya, memang sengaja kami menyiapkan video kesukaannya yang tersimpan di gallery, untuk pertolongan di kondisi-kondisi darurat. Misalnya sedang di luar rumah, dan dia bosan atau rewel. Kenapa harus disimpan di gallery? Biar pilihannya terbatas, jadi lama-lama dia akan bosan juga. Kalau di youtube kan pilihannya tak terbatas. Adaaaa terus video lain yang akan bikin pengen lagi, pengen lagi sampai akhirnya kecanduan.

Dia dikasih nonton youtube nggak? Dikasih kok. Tapi lewat komputer, dan hanya di hari sabtu/ahad. Lewat ponsel pernah nggak? Pernah, tapi bisa dihitung jari satu tangan.

  • Toilet Training

Faza mulai toilet training kalo nggak salah bulan Ramadhan 2019 lalu. Sudah berhasil? 50:50 sih.

Kalau soal pipis, selama dia nggak dalam kondisi tidur, dia pasti akan minta pipis ke kamar mandi. Bahkan misal saat pergi dan saya pakaikan diapers pun, dia sering merengek minta pipis di kamar mandi. Cumaaa, kalau pas tidur dia masih belum bisa. Jadi ya kalau tidur masih selalu pakai diapers.

Sebenernya ini salah saya sih. Dulu dia udah sempet lho minta ke kemar mandi saat malam tiap pengen pipis. Tapi dalam satu malam dia bisa sampe 3-4 kali pipisnya. Paginya, saya pusing banget mirip pas dia masih nenen dulu hiks. Akhirnya saya nyerah. Biarin deh kalo malem pake diapers aja. Haha. Dasar emak lemah.

Poopnya gimana?

Oh, kalo poop mah dari sebelum usia 2 tahun juga udah selalu ke toilet. Karna apa? Lha poopnya aja harus dirayu setengah mati dulu -___-

Iyap, trauma BAB-nya Faza masih berjalan sampai sekarang. Dan ini salah satu yang bikin saya sediiiih banget. Sedih tiap dia mau BAB nangis-nangis seolah kesakitan sekali. Padahal mah poopnya enggak keras dan saya yakin enggak sakit. Dia cuma trauma.

  • Terapi Flat Feet

Ohiya, di usia 2 tahun, Faza juga sempat menjalani terapi okupasi dan fisioterapi di RS Nasional Diponegoro Semarang.

Terapinya ngaruh nggak?

Kalau ke struktur tulang sih hampir nggak ada pengaruh sama sekali ya. Karna selain terapi, Faza kan harus pakai sepatu koreksi yang mana dia nggak konsisten pakai. Sekarang malah udah nggak dipakai sama sekali. Saya pun sebagai orangtua emang nggak terlalu serius maksa dia sih.

Tapi kalau ke keseimbangannya, terapinya membantu sekali sih. Terutama karna kami juga mendukungnya dengan ngasih dia balance bike.



Selengkapnya sudah saya ceritakan di postingan ini.

  • Kesukaan

Faza udah mulai punya idola. Siapa? Upin-Ipin. Haha.

Kayak nggak bosen-bosen. Tiba juga masanya saya hafal cerita Upin-Ipin karna tiap hari nemenin dia nonton. Haha.

Selain itu dia juga mulai tertarik sama beberapa tokoh Action Figure. Terutama Ultraman. Dulu saya punya keinginan agar anak-anak saya nggak kenal tokoh-tokoh Action Figure sih sebenernya. Yah, tapi apa daya. Saya kan enggak 24 jam sama dia.

Dia juga sekali mobil-mobilan. Terutama mobil pemadam kebakaran. Hihi.

  • Soal makan gimana?

Masyaa Allah, ini hal yang amat sangat saya syukuri. Faza tipe anak yang gampaaaaang sekali makannya. Sama sekali bukan picky eater. Makannya banyak. Bahkan seringkali saya yang harus memaksa dia berhenti. Tapi, makanan yang akan bikin dia makan dengan sangat lahap adalah: nasi, plus ayam goreng atau lele goreng dan sambal. Yup, Faza doyan makan sambal sejak usia 1 tahun. Hihi.

Udah sih, kayaknya hampir semua point masa 2 tahun Faza sudah terangkum di atas. Meski tetap saja saya kehilangan banyak detail kejadian atau perasaan yang alpa terabadikan lewat tulisan. Tapi nggak papa-lah. Seenggaknya tulisan ini nggak akan bikin saya clueless-clueless amat saat suatu hari nanti ingin mengingat masa 2 tahun Faza.

Mohon doa ya teman-teman, agar Faza selalu sehat dan selau dalam lindungan Allah yang terbatas perlindungannya :)

Selasa, 04 Februari 2020

Melakukan Kebaikan

Notes: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Pengikat Makna 1 kelas Habituasi Sejuta Cinta Institut Ibu Profesional.

Katanya, kebaikan itu menular. Satu kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, bisa jadi akan terkenang oleh si penerima kebaikan. Dan suatu saat, membuat dia termotivasi untuk melakukan kebaikan serupa pada orang lain lagi.

Bayangkan jika setiap orang punya keinginan untuk melakukan kebaikan. Niscaya dunia akan diisi oleh kebaikan demi kebaikan yang saling bersambungan.

Jangan mengeluh tentang wajah dunia hari ini yang penuh dengan ketidakbaikan. Terkikisnya rasa simpati dan empati ketika melihat kesulitan orang lain. Coba tanya pada diri sendiri, di mana posisi kita?

Jangan-jangan, kita punya andil yang membuat wajah dunia semakin suram nan kelabu.

Kebaikan itu tidak berarti harus mengumrohkan semua sanak saudara. Bukan tentang memberi makan beratus-ratusan fakir miskin. Bukan hanya tentang hal-hal sebesar itu.

Kebaikan bisa kita mulai dari hal terkecil yang kita mampu.

Apa contohnya?

Berikut adalah kebaikan yang saya kerjakan di hari kemarin:

1. Menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesah seorang teman melalui chatt Whatsapp

Sepele? Ya, sangat sepele. Apa sih, sekedar nyimak chatt dan bales.

Tapi mungkin enggak untuk teman saya. Dia yang saat ini sedang meniti kehidupan baru dan harus tinggal seatap dengan mertua karna suatu hal, ada orang yang bersedia menyimak unek-unek dan perasaannya mungkin bukan hal sepele. Apalagi dia bercerita pada saya yang sudah 3  tahun seatap dengan mertua.

Selain menyimak chattnya dengan baik, saya juga berusaha menyempurnakan kebaikan yang saya lakukan untuknya dengan tidak men-judge apapun yang ia katakan. Saya berusaha untuk menjadi sebaik-baik pendengar untuknya.

Dengan kebaikan yang sepele itu, Alhamdulillah di akhir obrolan kami, dia bilang merasa sudah plong dan bisa kembali bercanda lagi.

2. Memasak Untuk Anak

Saya adalah seorang ibu bekerja. Yang artinya, saya punya banyak sekali keterbatasan untuk mencurahkan cinta saya pada anak. Tidak seperti ibu-ibu lain yang bisa senantiasa menemani anaknya bermain, saya hanya punya sedikit sekali waktu yang saya khususkan untuk anak.

Tapi apakah artinya saya jadi nggak bisa mengungkapkan cinta saya padanya lewat kebaikan-kebaikan kecil untuknya?

Bisa, tentu saja bisa.

Di antaranya, saya selalu berusaha memasakkan makan pagi dan siang untuknya, sebagai bekal selama saya di kantor. Adakalanya saya malas. Masak itu capek kan? Beli aja gampang.

Tapi saya ingin kebaikan kecil yang saya kasih ke dia ini akan membekas di hatinya. Saya ingin, tubuhnya tumbuh dan berkembang sebagian besarnya adalah dari apa yang dihasilkan tangan saya.

3. Membuatkan Teh untuk Suami

Seperti waktu saya yang terbatas untuk mencurahkan cinta pada anak, begitu pula kondisi saya pada suami. Karna kami sama-sama bekerja dari pagi sampai sore, waktu kami bersama sangat terbatas.

Tapi sekali lagi, hal itu sama sekali tidak menghalangi kita untuk saling mencurahkan cinta.

Saya dengan segala keterbatasan, berusaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil untuknya.

Di antaranya, membuatkannya teh sepulang dari kerja. Bagi saya, itu kebaikan yang sangat sepele. Tapi ternyata enggak bagi suami saya. Bagi beliau, meminum teh hasil adukan istri itu nikmatnya mampu meluruhkan segala lelah setelah seharian beraktivitas.

See?

Ternyata melakukan kebaikan bisa dilakukan dengan semudah itu. Sesepele itu.

Yuk, jangan berhenti melakukan kebaikan.

Jumat, 10 Januari 2020

Pelajaran Tentang Keluarga Dari Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Akhirnya nulis lagi di sini!

Saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Tapi adakalanya ada film-film tertentu yang saya merasa 'wah, kayaknya harus nonton nih!'. Dan entah kenapa, seringnya yang saya pengen banget nonton adalah film-film bertema keluarga.

Kemarin akhirnya nonton lagi, setelah setahun lalu (di bulan Januari juga) nonton Film Keluarga Cemara. Yang saya tonton, apalagi kalau bukan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Tadinya bingung sih mau nulis tentang film ini di blog ini, atau di rosasusan.com. Tapi karna yang pengen saya tulis adalah pelajaran tentang keluarga yang bisa diambil dari film ini, kayaknya lebih cocok saya tulis di blog ini :)

Ohya, mungkin sedikit banyak tulisan ini akan mengandung spoiler. Mohon maaf. Kalau yang nggak berkenan, jangan lanjut baca ya. Sampai sini aja :)



Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini bercerita tentang sebuah keluarga. Terdiri dari ayah ibu dan tiga anaknya. Konflik yang disajikan adalah seputar hubungan antar anggota keluarga. Terutama hubungan ayah dan anak-anaknya.

Sepanjang nonton, benak saya penuh dengan kilasan-kilasan wajah keluarga saya. Karna kebetulan, semua tokoh utama di film NKCTHI ada semua cerminannya dalam diri orang-orang terdekat saya. Lihat ayahnya ingat bapak dan mertua. Lihat Angkasa ingat kakak sulung dan anak sulung saya. Lihat Aurora ingat kakak laki-laki dan suami saya. Lihat Awan, ingat diri saya sendiri. Hehehe.

Maka, nggak bisa dipungkiri, selama nonton, otak saya juga sambil terus berpikir. Apa yaa pelajaran yang bisa saya ambil dari film ini? Dan berikut ini, adalah beberapa pelajaran yang akhirnya berhasil saya dapatkan, setelah merenung dan meresapi cerita film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok orangtua

Saya percaya, (hampir) gak ada orangtua dengan anak lebih dari satu yang dengan sengaja ingin membeda-bedakan kasih sayangnya ke masing-masing anak. Pengennya mah pokoknya sayang ke semua anak.

Tapi bagaimanapun, orangtua kan tetap manusia biasa. Saat lihat ada satu anak yang jauh lebih menonjol dari anak lain, secara manusiawi biasanya akan jadi lebih condong ke si anak tersebut. Dan saya pernah baca soal ini, katanya itu wajar

Begitulah yang terjadi pada sosok Ayah dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini, dalam memperlakukan 3 anaknya. Angkasa, Aurora dan Awan. Sosok ayah dalam film ini digambarkan punya kecenderungan hati yang jauh lebih besar pada salah satu anaknya.

Intinya, kecenderungan hati ke salah satu anak itu wajar dan manusiawi. Tapi tetap usahakan nggak terlalu mencolok agar anak yang lain tidak jadi merasa dibedakan atau diabaikan. Apalagi jika 'lebih sayang'nya hanya karna urutan lahir. Jauh lebih sayang dan perhatian ke anak bungsu, misalnya. Rasanya itu jauh lebih nggak adil untuk anak dibanding jika lebih sayangnya karna prestasi yang lebih menonjol.

Salah satu dampak buruk dari 'perbedaan' sayang ke masing-masing anak ini adalah hubungan antara kakak beradik yang kadang jadi tidak harmonis. Karna dipicu perasaan cemburu. Kan pasti sedih ya kalau lihat anak-anak kita nggak akur. Apalagi kalau penyebabnya adalah kita sendiri :(

Pelajaran kedua yang saya ambil adalah tentang cara kita sebagai orangtua untuk menunjukkan rasa sayang. Kadang kita sebagai orangtua tuh maunya cuma menunjukkan rasa sayang, tanpa mau tau apakah cara sayang kita itu berkenan atau enggak ke anak.

Seperti si ayah dalam film NKCTHI, yang selalu menjawab segala keluhan anaknya tentang sikap si ayah dengan kalimat, "Ayah kayak gini kan karna sayang sama kamu!"

Sounds familiar?

Ego sebagai orangtua yang merasa lebih tau kadang bikin orangtua jadi enggan mendengarkan keluh kesah anak tentang cara kita memperlakukan mereka. Karna bisa jadi, cara kita menyayangi anak justru diartikan lain dan negatif oleh anak. Jadi, jangan segan mendengarkan mereka.
 
Pelajaran ketiga tentang zona nyaman. Saking sayangnya sama anak-anaknya, sosok Ayah dalam film NKCTHI berusaha sekuat tenaga untuk membuat anaknya ada di kondisi nyaman. Ia berusaha keras agar istri dan anak-anaknya tidak perlu merasakan perasaan sedih. Bahkan pada salah satu anaknya, ia selalu turut campur di segala sisi kehidupan si anak. Termasuk, selalu mencarikan solusi untuk segala permasalahannya.

Akhirnya, anaknya tumbuh jadi anak yang merasa tidak utuh. Karena tidak pernah merasakan mengambil keputusan. Tidak pernah merasakan gimana caranya mencari solusi untuk masalahnya sendiri, dll.

Pelajaran yang saya ambil sebagai orangtua, sayang boleh. Tapi bukan berarti kita harus selalu menempatkan anak di zona nyaman terus-terusan. Adakalanya dia perlu merasakan sedih. Merasakan gagal. Merasakan kecewa. Karna semua itulah yang justru akan membuat mereka tumbuh menjadi sosok tangguh.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok anak

Dari sisi sebagai seorang anak, pelajaran yang diambil cuma dikit sih, cuma satu. Tapi dalem. Dan bikin saya jadi lebih paham perasaan Bapak saya.

Ayahnya Angkasa, Aurora dan Awan mungkin awalnya punya kesan buruk di mata anak-anaknya. Tapi satu yang mereka akhirnya tau. Alasan dari semua sikap ayah mereka adalah karna rasa sayang yang terlampau besar pada mereka.

Pelajaran yang saya ambil, orangtua - terutama ayah - seringkali menjadi orang yang sebenarnya paling keras berusaha untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya, tapi sekaligus sering tidak bisa menginterpretasikan rasa sayang tersebut dengan cara yang benar. Salah satu sebabnya mungkin karna kurang mendengarkan istri dan anak-anaknya.

Saya jadi inget Bapak. Kasihan ya mereka itu. Berusaha keras, tapi malah diartikan negatif sama anak-anaknya. Huhu.

Ada yang sudah nonton Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga? Cerita dong, pelajaran apa yang kalian ambil dari film ini?