Laman

Jumat, 28 Juni 2019

Anak Laki-Laki Tidak Boleh Menangis, Kata Siapa?

"Ih, anak laki-laki kok nangis?"

"Sudah, cup cup, anak laki-laki nggak boleh nangis!"

Familiar dengan kalimat-kalimat kayak gitu? Kalo bagi saya pribadi yang punya anak laki-laki, ya. Saya sering sekali mendengar ungkapan semacam itu yang ditujukan pada Faza.




Kalo lagi baperan, rasanya pengen banget teriak, ANAK LAKI-LAKI NGGAK BOLEH NANGIS? ITU KATA SIAPA SIH? Ayo coba tunjukkan ke saya dasar ilmunya!

Huhu, maaf yaa emak emosi.

Sedih banget soalnya kalo Faza diomongin kayak gitu.

Gini ya. Sepanjang saya belajar ilmu parenting, meski mungkin ilmu saya masih sangat-sangat-sangat minim, menangis adalah cara anak berkomunikasi. Menangis adalah salah satu cara anak menyalurkan emosi. 

Nah, kalo anak mau menyalurkan emosi aja dilarang-larang sejak kecil, jangan kaget kalo dia tumbuh jadi orang yang sering memendam emosi. Dan memendam emosi, gak pernah berdampak baik. Dia akan jadi bom waktu. Sering memendam emosi akan membuat kita menjadi orang yang bermental 'sakit'.

Tolong ya, bedain antara memendam emosi dan mengendalikan marah. Jangan dikira sama. Itu beda banget!

Justru kemampuan mengendalikan amarah akan dimiliki oleh orang yang terlatih menyalurkan emosi dengan benar sejak dini.

Jadi, kalo anak nangis, kita tu cuma harus tau apa sih sebabnya dia nangis? Lalu membimbingnya untuk menemukan solusi. Pun termasuk kalo dia nangis dalam rangka tricky. Kita hanya perlu ngasih tau dia cara yang lebih benar untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kita cuma harus ngasih tau, bahwa nangis bukan satu-satunya cara buat dia untuk mendapatkan apapun yang dia mau.

Apalagi kalo kasusnya anak jatuh, misalnya.

Lalu dia nangis karna sakit. Ya kan WAJAR kalo dia nangis, lha wong sakit. gimana sih?! Masa iya gak boleh nangis? Meskipun kenyataannya dia larinya kurang hati-hati.

Apakah tepat kalo kita bilang ke dia, "Sudah gak usah nangis. Kan anak laki-laki. Makanya lain kali hati-hati!"

Saya sedih banget denger kalimat semacam itu 😭

Anak berpribadi macam apa yang dibesarkan dengan kalimat seperti itu? Kalimat minim empati, judgemental.

Coba dibayangin kalo kita naik motor terus jatuh, lalu malah dibilang, "Ya udah gak usah nangis. Makanya naik motor tu hati-hati!", marah gak?

Lho, nasehatin supaya lain kali hati-hati masa salah?

Gak salah, mak. Cuma gak tepat caranya. Tunjukkan dulu bahwa kita berempati atas sakitnya. "Oh, Adek jatuh? Sakit ya, nak? Mana coba yang sakit ibu lihat".

Baruuu setelah itu katakan, "Lain kali lebih hati-hati lagi ya"

Biar dia sekalian belajar tentang bagaimana caranya berempati atas kesakitan orang lain. Agar dia tumbuh jadi anak yang gak apatis melihat orang yang sedang kesusahan, dan dengan enteg menganggap, 'ah dia susah kan karna salahnya sendiri'.

Nangis itu boleh. Nangis itu manusiawi.

Kalo anak dilarang menyalurkan emosi dengan menangis, tanpa dibimbing untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih baik, jangan salahkan kalo dia menyalurkan emosi dengan cara yang salah kaprah.

2 komentar:

  1. Siapa yang nggak menangis waktu lahir, coba? hehehe

    BalasHapus
  2. setuju... akupun mendidik anak laki2ku seperti itu. ga mungkin utk melarang anak menangis. aku cm takut dia nantinya mlah jd dingin terhadap apapun, ga ada emosi.. yg ada malah mnjurus ke perbuatan kriminal kalo sudah besar krn sedari kecil dilarang menunjukkan emosinya :( .

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)