Laman

Kamis, 11 April 2019

Menjadi Ibu, Menjadi Orangtua



Tahun ini, saya dan mas suami Insya Allah berencana program anak kedua.

Yakin sudah siap?

Jujur saja tingkat keyakinannya belum sampe 100% sih. Saya sedang banyak-banyak merenung dan bertanya pada diri sendiri. Apakah saya beneran sudah siap menjadi ibu dari 2 orang anak?

Karna menjadi ibu, nyatanya memang sama sekali gak sederhana.

Baca juga: Tentang Keputusan Nambah Anak

Saya jadi ingat prolog dari buku 5 Madrasah Kecilku karya Mbak Kiki Barkiah.

Apa sih motivasi kita punya anak? Biar ada yang rawat saat kita tua kah?

Kenyataannya, banyak tuh orangtua yang harus sebatang kara bahkan akhirnya tinggal di panti jompo padahal anaknya banyak.

Biar bahagia kah? Kenyataannya, banyak sekali kasus tentang anak yang menjadi sumber stress orangtuanya.

Jadi kalo dipikir-pikir, motivasi punya anak harusnya melampaui hal-hal keduniawian semacam di atas ya?

Sayangnya, banyak juga (atau kebanyakan?) yang punya anak ya sekedar punya anak aja. Karna memang umumnya orang ya gitu. Anak-anak, dewasa, menikah, lalu punya anak. Gak ada yang perlu dipikir dan direncanakan dengan baik.

Akibatnya, anak-anak yang lahir dan tumbuh dari orang tua yang motivasinya cuma 'umumnya-manusia-ya-habis-nikah-punya-anak', akhirnya tumbuh setumbuh-tumbuhnya. Terpaksa kehilangan kesempatan memupuk potensi luar biasanya, karna orangtua mereka sama sekali gak ngeh tentang potensi tersebut.

Jadi, harusnya keputusan untuk punya anak gak pernah boleh sesederhana itu. Menjadi ibu gak boleh seremeh itu.

Bayangin ya. Kita, ketika menjadi orangtua, adalah sebab atas terlahirnya seorang manusia baru ke dunia. Manusia yang kecil, lemah, belum bisa apa-apa. Maka, ia adalah sepenuhnya tanggungjawab kita.

Kalo diibaratkan, anak adalah kaset kosong. Dan orangtuanya lah yang bertanggungjawab atas apa saja yang terekam dalam kaset kosong tersebut kelak. Karna kita orangtuanya lah yang merekamkannya.

Fiuuhh.

Bahkan, gak usah jauh-jauh ke soal mendidik, dll dulu deh.

Baru pas proses hamilnya aja udah gak sederhana kan tanggungjawabnya?

Tentang menjaga asupan makan, gak peduli seberapa gak nafsunya kita. Menghindari makanan tertentu yang sekiranya kurang baik bagi janin, gak peduli seberapa suka dan pengennya kita. Minum macem-macem vitamin. Menjaga emosi. Dll.

Ada juga yang protes. Kenapa perempuan kalo punya anak jadi kayak kehilangan dirinya sendiri sih? Jadi seolah semua-mua tentang anak. Gak boleh egois. Kenapa harus begitu?

Ya memang harus begitu. Itu si jabang bayi gak minta loh dikandung dan dilahirkan sama kita. Kita lah yang bertanggungjawab penuh atas hadirnya dia di dunia.

Contohnya soal menjaga makan saat hamil. Sebenernya ada beberapa dokter yang bilang, gak usah ada yang dipantang. Makan apa aja boleh. Mie instan juga gak masalah.

Baca juga: Problematika Menjadi Ibu Baru

Tapi kalo saya pribadi ya. Buat orang dewasa yang gak lagi hamis aja sebenernya mie instan gak sehat kan? Apalagi buat janin kecil yang pertahanannya masih sangat lemah? Daripada kenapa-napa dan saya nyesel cuma gara-gara makanan, saya lebih milih sekuat tenaga menahan diri.

Itu satu dari sekian banyak bentuk ketidakegoisan saya ketika menjadi ibu.

Makanya ketika berencana hamil lagi, bener-bener saya harus menyiapkan diri. Agar saya mampu menekan egoisme saya semaksimal mungkin. Dan itu gak mudah. Makanya harus dipersiapkan. Hehe.

Jadi, kalo ada yang bilang, menjadi ibu itu harus siap melakukan apapun demi anak, rasanya gak berlebihan. Asal, 'apapun'-nya dalam konteks yang mendidik.

Yah, begitulah. Menjadi ibu gak pernah sederhana. Karna kalo sederhana, gak mungkin imbalannya surga 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)