Jumat, 11 Januari 2019

#BincangKeluarga: Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)?

Mana versi pertamanya kok tiba-tiba udah yang ke-2?

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuan (1) ada di blog rosasusan.com. Tulisan itu saya tulis di awal-awal ngeblog. Saat saya belum menikah dan otomatis belum punya mertua lah. Haha.

Bisa dibilang itu tulisan pertama yang mengundang pembaca. Dan herannya, tulisan itu mengundang banyaaaakkk sekali curhatan dari para pembaca.

Ini salah satu curhatan ini tulisan tentang ibu mertua vs menantu perempuan (1)

Se-complicated itu kah hubungan ibu mertua dan menantu perempuan? Hahaha. Minggu lalu saya di Wa sama Ade. Dia ngajak nulis bareng soal tema mertua ini. Buru-buru saya iya-kan karna kayaknya seru aja ngobrolin soal ini lagi, setelah saya ngalami sendiri lika-liku hubungan dengan ibu mertua.

Sayangnya, minggu ini saya sibuk bangettt di kantor 😭 Jadi baru bisa posting hari ini, sementara Ade udah posting kemarin.



Baca punya Ade:


Salah satu sahabat saya bilang, dia salu banget karna saya masih bisa bertahan sampai sekarang tinggal seatap dengan mertua. Gak bisa bayangin kayak apa rasanya, dia bilang. Ya gak usah dibayangin lah, dijalanin aja! 😂

Baca juga: Tinggal Sama Mertua

Ya gimana, saya gak setega itu memaksa suami untuk meninggalkan orangtuanya hanya berdua di rumah, dengan usia yang sudah memasuki senja.

Lagipula, rasanya tinggal seatap dengan mertua rasanya ternyata gak semenyeramkan itu. Gak semenyiksa itu. Setidaknya bagi saya.

Saya kadang mikir. Kok saya ngerasa fine-fine aja ya tinggal sama mertua (meski ya gak berharap selamanya juga lah), sementara di luaran sana, banyaaakkk sekali yang bilang tinggal sma mertua itu bak neraka?! Karna mertua saya memang baik, atau sayanya aja yang kelewat cuek dan kalem? Ahaha. Entahlah.

Pernah gak ada konflik sama mertua? Tentu saja pernah. Meski Alhamdulillah, bukan konflik besar dan bukan konflik terbuka.

Setelah hampir tiga tahun tinggal seatap dengan mertua, saya mulai bisa memetakan beberapa penyebab yang biasanya bikin hubungan ibu mertua VS menantu perempuannya jadi memanas.

Mencintai dan Dicintai oleh Lelaki yang Sama

Ini niiihh! 😅

Sumber konflik utama dengan ibu mertua seringkali karna ini. Karna kita mencintai dan dicintai oleh satu lelaki yang sama. Yaitu suami kita, yang sekaligus adalah anak lelakinya.

Adakalanya kita men-treatment suami kita dengan cara A -- yang menurut kita udah paling baik. Kan kita istrinya ya. Pasti merasa tau apa yang baik untuk suami kita.

Eh ternyata menurut ibu mertua cara itu kurang oke. Dia lebih suka cara B. Tentu saja ibu mertua pun merasa jauh lebih tau anak lelakunya dibanding kita yang kenalnya baru beberapa tahun belakangan.

Dueerrr! Pecahlah konflik 😂

Apalagi kalau kita dan mertua punya kepentingan yang berbeda di waktu yang sama. Dua-duanya pengen dianter oleh suami/anak lelakinya. Siapapun yang 'dinomorduakan' biasanya akan termehek-mehek cemburu.

Saling Memendam Perasaan

Udah macam anak ABG aja yaa -- memendam perasaan 😂

Yah gimana lagi. Ibu mertua VS menantu perempuan itu makin rumit urusannya karna mereka sama-sama perempuan yang kebanyakan hobi kode-kodean, main ilmu kebatinan dan seringkali merasa 'dia harusnya tau tanpa aku harus ngomong'.

Sebenernya, gak cuma sama ibu mertua kita sering berkonflik. Sama ibu kandung sendiri juga pasti pernah ada konflik-konflik kecil atau perbedaan pendapat kan?

Bedanya, kalo sama ibu kandung sendiri mah ya gak cocok dikit langsung bantah.

Kalo sama mertua? Kebanyakan pada dipendem, grundel dalam hati,, nangis, atau marah-marah ke anak laki-lakinya a.k.a suami kita kan? 😅

Nah, makin sering mendem, biasanya akan jadi akumulasi perasaan negatif biasanya. Jadi merasa gak nyaman sama mertua, atau bahkan antipati. Huhu. Jangan yaa, nak.

Perbedaan Sudut Pandang dan Latar Belakang

Salah satu image negatif tentang ibu mertua yang banyak diperbincangkan adalah 'suka ikut campur urusan rumah tangga kita'. Itu sudut pandang kita.

Sudut pandang mertua kita bisa jadi beda. Bisa jadi maksud beliau baik. Ingin rumah tangga anaknya jauh lebih baik, misalnya.

Belum lagi soal perbedaan latar belakang keluarga. Kita dididik oleh orangtua kita dengan cara A. Sedangkan ibu mertua mendidik anak-anaknya dengan cara B.

Kalo disatukan, jelas akan butuh banyaaakkk sekali proses adaptasi.

Baca juga: Keluargaku, Keluargamu

Contohnya. Ibu mertua saya tipe orang idealis. Bahkan untuk hal sesepele menjemur baju. Jadi, suami saya pun terbiasa menjemur baju dengan sangat sistematis, ada pakem-pakem tertentu yang harus dipatuhi.

Sedangkan saya dibesarkan oleh ibu yang santaiii kayak di pantai. Pokoknya yang penting udah dijemur aja pokoknya 😂

Nah, saat suatu hari (saat masih pengantin baru) yang kebagian tugas menjemur baju adalah saya. Dan akhirnya kami sama-sama shock. Ibu mertua saya shock karna... OMG, kenapa jemur bajunya seberantakan ituuuu! Sedangkan saya shock karna gak habis pikir jemur baju aja ada SOP-nya 😂

Lucu juga masa awal-awal adaptasi kalo diinget sekarang 😆

Tapi dear... para menantu perempuan. Jangan pernah lupa ini!

Bagaimanapun juga, beliau tetaplah ibu mertua kita. Ibu yang melahirkan seorang lelaki yang kini menjadi orang terdepan yang menanggung hidup kita.

Kalau kita bilang kita mencintai suami kita karna bla bla bla segala sifat baiknya, jangan lupa, itu semua adalah HASIL DIDIKAN ibu mertua kita.

Jadi, ayolah... konflik apapun sama mertua, selesaikan baik-baik.

Iya sih, mungkin memang ada jenis konflik yang gak mudah diselesaikan. Saya gak mau sok-sokan menasehati karna -- Alhamdulillah -- saya dikaruniai ibu mertua yang baik. Tapi yang jelas, tetep aja, please... jangan pernah menyuruh anak lelaki mereka (suami kita) -- dengan sengaja ataupun gak sengaja -- untuk berhenti berbakti sama mereka.

Please, JANGAN 😭

Menempatkan Diri Sebagai Ibu Mertua


Kalian mungkin gak percaya, saya nulis bagian ini sambil menahan tangis.

Sejak saya punya Faza, saya bisa dibilang jadi sering membayangkan perasaan ibu mertua saya.

Saat dia lagi tidur, saya bayangin. Anak yang saat ini saya belai-belai sepenuh hati, saya sayang sepenuh jiwa, yang selalu berusaha saya prioritaskan di atas segala kepentingan, suatu hari nanti akan punya orang lain di sisinya. Yang bisa jadi akan lebih ia prioritaskan dibanding saya -- seperti halnya adakalnya suami saya pun begitu.

Saya membayangkan, suatu hari saya meminta padanya, "Nak, antarkan ibu ke pasar", lalu ia menjawab, "Duh, Bu... gak bisa. Aku mau anter istriku".

Dan rasanya, hal-hal semacam itu pasti gak mudah bagi ibu mertua kita.

Maka, ayooo bantu suami kita untuk lebih berbakti pada ibunya. Buktikan bahwa adanya kita di sisi anak lelakinya, gak akan mengurangi apapun dari beliau -- terutama kasih sayang anaknya 😊

16 komentar:

  1. Huhuhu mewek juga membayangkan Emir :'(((( Tapi emang bener perbuatan baik kita itu juga akan kita tuai nanti. Setidaknya Allah ga pernah tidur. Semoga kita slalu baik2 aja dan bisa mencintai mertua kita :*

    BalasHapus
  2. Mbak Rosaaa
    Akuu bacanya sambil bayangin begimana kalau dah sama mamas, huhuhuu
    Masih kemarin2 ketemu sama camer, sekali dan kagok banget, jaim2 gitu
    Sebelumnya saat belum ketemu camer mesti bawaannya menakutkan begitu hhee
    Tapi, semoga pertemuan pertama saat itu menjadi kesan yang lebih baik lagi kedepannya, aminn
    Makasih banyak buat advice dan pesan-pesan dari tiap postingan atau related post nya mbak :* :* :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, kalo pertemuan pertama pasti serba canggung rohmah. Semangaaaat yaaa. semoga bisa jadi teman baik dengan mertua nanti :)

      Hapus
  3. Iyes bener banget, kalau sama ibu kandung mah bisa bantah dan malah cuek aja karena udah tau kan sifatnya kaya gimana.

    Nah, justru kalau sama mertua nih yang suka nggak terima sama sifatnya, karena ya mungkin emang belum terbiasa aja, ya.

    Btw salut loh tiga tahun satu atap sama mertua. Aku satu tahun aja udah ga betah, padahal mertuaku juga baik tapi nggak bebas aja kalau hidup satu atap.

    BalasHapus
  4. Senangnya punya mertua yg baik. Mertua saya mah...sama Mama saya ajah seperti itu sikapnya *ehcurhat. Yah saya hanya berharap semoga nanti di masa depan, sikap saya tak seperti mertua. Aamiin.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah bun.. salut deh. Alhamdulillah dapat mertua baik juga ❤. Aku belum pernah punya pengalaman seatap dengan mertua, paling hanya berkunjung 2-3 hari saja. Alhamdulillah ya bun yang penting dijalani dgn ikhlas..

    BalasHapus
  6. Betul sekali. Sangat bermanfaat memosisikan diri sbg ibu mertua untuk memahami apa yang dirasakan dan dipikirkannya

    BalasHapus
  7. Duh aku mewek bacanya, sampai hari ini aku ada konflik ma ibu mertua, rasanya apapun yang aku bikin selalu salah, akhirnya aku mendem kesal sendiri merasa nggak dihargai...depresi

    BalasHapus
  8. Bener banget mba perbedaan latar belakang teryata memang kadang jadi selisih tapi alhamdulillah jika dilakoni dengan baik ya akan baik baik saja :)

    BalasHapus
  9. Kok terharu bacanya ya terutama bagian terakhir, aku juga dua tahun tinggal bareng mertua, Alhamdulillah baik-baik aja..

    BalasHapus
  10. Alhamdililah aku pun juga ada balada ama mertua .tapi ga aku ambil pusing berusaha tetap positif dikembalikan ama yg diatas ya mom makasi sharingnya ..semangat mom

    BalasHapus
  11. Saya lagi menulis seputar masalah ini belum kelar kelar. Hihi...

    BalasHapus
  12. Perbedaan sudut pandang nih mba yang dominan. Tapi kalau harus memilih lebih baik tidak tinggal dengan mertua. 😅

    BalasHapus
  13. Mbaaaa positif sekali kamu.
    Ak gak pernah ada konflik besar sama mertua. Lbh tepatnya aku membatasi diri agak gak terjadi konflik. Klo yerkadang kesel ya dipendem ajalah.

    BalasHapus
  14. Alhamdulilah..aku dan mertuaku akur2 mba, semoga selalu begitu sampai selamanya ya mba..salam buat mama mertuanya ya mba

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)