Jumat, 18 Januari 2019

Perhatikan Ini Saat Bepergian Bersama Anak dengan Transportasi Umum

Meskipun gak hobi traveling, bukan berarti saya sama sekali gak mau traveling. Tetep pengen lah sesekali.

Apalagi sejak punya anak lelaki. Motivasi utama keinginan traveling saya gak hanya soal ingin refreshing, melainkan karna ingin memberikan pengalaman masa kecil sebanyak-banyaknya pada Faza. Apalagi dia anak lelaki.

Faza itu bisa dibilang agak lembek untuk ukuran anak lelaki. Nurun dari saya. Hehe. Lembek maksudnya bukan kecewek-cewekan ya. Tapi cenderung takut kalo di lingkungan baru. Butuh waktu adaptasi yang lumayan lama sama kondisi dan suasana baru. Dan menurut saya, hal itu bisa diubah pelan-pelan. Contohnya dengan sering-sering mengajak diaa bertemu orang baru atau ke pusat-pusat keramaian. Terbukti cara itu lumayan efektif lho. Kemampuan adaptasi Faza berkembang pesat sekarang ini.

Nah, traveling juga menurut saya bisa jadi sarana pembentukan mental buat dia. Karna kondisi yang serba tidak terduga saat traveling konon bisa membentuk seseorang mempunyai mental dan pribadi yang lebih kuat dan stabil. Dan jujur saja, kondisi serba tidak terduga itu juga yang bikin saya gak terlalu hobi traveling. Hehe.

Jadi, selain untuk mendidik Faza, saya juga bisa sekalian mendidik diri saya sendiri 😂

Tapi, pengertian traveling dalam kamus saya gak selalu mengunjungi tempat wisata tertentu. Sekedar berkunjung ke rumah saudara di luar kota pun sudah termasuk traveling bagi saya.

Dan karna tujuan utama travelingnya adalah untuk memberikan sebanyak mungkin pengalam seru untuk masa kecil Faza, saya lebih suka mengajaknya bepergian dengan transportasi umum.


Sejauh ini, saya sudah pernah mengajak Faza berkunjung ke rumah mbah buyutnya di Cirebon dengan Kereta Api. Lalu jalan-jalan ke Bandung naik Bus. Kapan-kapan saya ingin sekali mengajaknya naik travel atau Bus ke Purworejo - rumah Pakdhenya Faza, lanjut naik kereta api ke Jogja. Lebih seru lagi jika dilanjut naik travel Jogja Jakarta kali yaaaa untuk menguji ketahanan mental dan fisik saya 😂 

Yang jelas, mau pergi ke manapun bersama anak, apalagi naik transportasi umum, harus benar-benar memperhatikan beberapa hal. Agar selama perjalanan di samping mendapatkan pengalaman seru, anak juga tetap merasa nyaman.

Apa aja yang harus diperhatikan?

  • Pastikan transportasi umum yang akan kita  tumpangi adalah jenis transportasi umum yang aman dan nyaman. Jadi misal naik bus, yang jangan bus ekonomi lah untuk ke luar kota dengan jarak yang lumayan jauh. Gak perlu sampai kelas bisnis sih. Pokoknya minimal ber-AC dan busnya nyaman.
  • Pastikan kebutuhan anak tersedia sewaktu-waktu saat dibutuhkan. Macam susu, diapers, tisu basah dan kering, cemilan, dll harus sudah disiapkan. Gak ada istilah lupa. Bayangkan apa yang terjadi jika anak minta susu lalu kita gak bawa?!
 Baca juga: Yang Harus dibawa Saat Bepergian Bersama Bayi
  • Sounding dari jauh-jauh hari. Selalu bilang minimal sebulan sebelumnya ke anak jika akan mengajaknya perjalanan menggunakan transportasi umum. Saya selalu melakukan ini karna sangat percaya manfaat sounding. Biasanya saya akan bilang gini, "Za, besok kita mau ke bla bla bla naik bus loooh. Seruu, Faza pasti suka! Nanti Faza harus kooperatif dan gak boleh rewel ya. Kalo rewel nanti ganggu penumpang yang lain. Soalnya kan yang naik bus orang banyak, bukan cuma kita!". Diulang-ulang terus ngomong seperti itu sampai hari H keberangkatan.
  •  Pastikan kesehatan anak dalam kondisi yang baik. Iya lah tentu saja. Kalo lagi kurang sehat ya gak usah cari penyakit tambahan. Di rumah aja udah. Hehe.

4 hal di atas selalu saya perhatikan saat hendak bepergian bersama anak dengan transportasi umum. Dan Alhamdulillah sejauh ini 4 hal tersebut membuat perjalanan kami nyaman. Yang paling jauh saat perjalanan ke Bandung naik bus, Faza ceria sekali selama di jalan. 
 
Kalau buibu yang lain, apa saja sih yang diperhatikan saat akan bepergian bersama anak dengan transportasi umum selain 4 hal di atas? Share yaaa, siapa tau masih ada yang saya lupa 😊

Jumat, 11 Januari 2019

#BincangKeluarga: Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)?

Mana versi pertamanya kok tiba-tiba udah yang ke-2?

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuan (1) ada di blog rosasusan.com. Tulisan itu saya tulis di awal-awal ngeblog. Saat saya belum menikah dan otomatis belum punya mertua lah. Haha.

Bisa dibilang itu tulisan pertama yang mengundang pembaca. Dan herannya, tulisan itu mengundang banyaaaakkk sekali curhatan dari para pembaca.

Ini salah satu curhatan ini tulisan tentang ibu mertua vs menantu perempuan (1)

Se-complicated itu kah hubungan ibu mertua dan menantu perempuan? Hahaha. Minggu lalu saya di Wa sama Ade. Dia ngajak nulis bareng soal tema mertua ini. Buru-buru saya iya-kan karna kayaknya seru aja ngobrolin soal ini lagi, setelah saya ngalami sendiri lika-liku hubungan dengan ibu mertua.

Sayangnya, minggu ini saya sibuk bangettt di kantor 😭 Jadi baru bisa posting hari ini, sementara Ade udah posting kemarin.



Baca punya Ade:


Salah satu sahabat saya bilang, dia salu banget karna saya masih bisa bertahan sampai sekarang tinggal seatap dengan mertua. Gak bisa bayangin kayak apa rasanya, dia bilang. Ya gak usah dibayangin lah, dijalanin aja! 😂

Baca juga: Tinggal Sama Mertua

Ya gimana, saya gak setega itu memaksa suami untuk meninggalkan orangtuanya hanya berdua di rumah, dengan usia yang sudah memasuki senja.

Lagipula, rasanya tinggal seatap dengan mertua rasanya ternyata gak semenyeramkan itu. Gak semenyiksa itu. Setidaknya bagi saya.

Saya kadang mikir. Kok saya ngerasa fine-fine aja ya tinggal sama mertua (meski ya gak berharap selamanya juga lah), sementara di luaran sana, banyaaakkk sekali yang bilang tinggal sma mertua itu bak neraka?! Karna mertua saya memang baik, atau sayanya aja yang kelewat cuek dan kalem? Ahaha. Entahlah.

Pernah gak ada konflik sama mertua? Tentu saja pernah. Meski Alhamdulillah, bukan konflik besar dan bukan konflik terbuka.

Setelah hampir tiga tahun tinggal seatap dengan mertua, saya mulai bisa memetakan beberapa penyebab yang biasanya bikin hubungan ibu mertua VS menantu perempuannya jadi memanas.

Mencintai dan Dicintai oleh Lelaki yang Sama

Ini niiihh! 😅

Sumber konflik utama dengan ibu mertua seringkali karna ini. Karna kita mencintai dan dicintai oleh satu lelaki yang sama. Yaitu suami kita, yang sekaligus adalah anak lelakinya.

Adakalanya kita men-treatment suami kita dengan cara A -- yang menurut kita udah paling baik. Kan kita istrinya ya. Pasti merasa tau apa yang baik untuk suami kita.

Eh ternyata menurut ibu mertua cara itu kurang oke. Dia lebih suka cara B. Tentu saja ibu mertua pun merasa jauh lebih tau anak lelakunya dibanding kita yang kenalnya baru beberapa tahun belakangan.

Dueerrr! Pecahlah konflik 😂

Apalagi kalau kita dan mertua punya kepentingan yang berbeda di waktu yang sama. Dua-duanya pengen dianter oleh suami/anak lelakinya. Siapapun yang 'dinomorduakan' biasanya akan termehek-mehek cemburu.

Saling Memendam Perasaan

Udah macam anak ABG aja yaa -- memendam perasaan 😂

Yah gimana lagi. Ibu mertua VS menantu perempuan itu makin rumit urusannya karna mereka sama-sama perempuan yang kebanyakan hobi kode-kodean, main ilmu kebatinan dan seringkali merasa 'dia harusnya tau tanpa aku harus ngomong'.

Sebenernya, gak cuma sama ibu mertua kita sering berkonflik. Sama ibu kandung sendiri juga pasti pernah ada konflik-konflik kecil atau perbedaan pendapat kan?

Bedanya, kalo sama ibu kandung sendiri mah ya gak cocok dikit langsung bantah.

Kalo sama mertua? Kebanyakan pada dipendem, grundel dalam hati,, nangis, atau marah-marah ke anak laki-lakinya a.k.a suami kita kan? 😅

Nah, makin sering mendem, biasanya akan jadi akumulasi perasaan negatif biasanya. Jadi merasa gak nyaman sama mertua, atau bahkan antipati. Huhu. Jangan yaa, nak.

Perbedaan Sudut Pandang dan Latar Belakang

Salah satu image negatif tentang ibu mertua yang banyak diperbincangkan adalah 'suka ikut campur urusan rumah tangga kita'. Itu sudut pandang kita.

Sudut pandang mertua kita bisa jadi beda. Bisa jadi maksud beliau baik. Ingin rumah tangga anaknya jauh lebih baik, misalnya.

Belum lagi soal perbedaan latar belakang keluarga. Kita dididik oleh orangtua kita dengan cara A. Sedangkan ibu mertua mendidik anak-anaknya dengan cara B.

Kalo disatukan, jelas akan butuh banyaaakkk sekali proses adaptasi.

Baca juga: Keluargaku, Keluargamu

Contohnya. Ibu mertua saya tipe orang idealis. Bahkan untuk hal sesepele menjemur baju. Jadi, suami saya pun terbiasa menjemur baju dengan sangat sistematis, ada pakem-pakem tertentu yang harus dipatuhi.

Sedangkan saya dibesarkan oleh ibu yang santaiii kayak di pantai. Pokoknya yang penting udah dijemur aja pokoknya 😂

Nah, saat suatu hari (saat masih pengantin baru) yang kebagian tugas menjemur baju adalah saya. Dan akhirnya kami sama-sama shock. Ibu mertua saya shock karna... OMG, kenapa jemur bajunya seberantakan ituuuu! Sedangkan saya shock karna gak habis pikir jemur baju aja ada SOP-nya 😂

Lucu juga masa awal-awal adaptasi kalo diinget sekarang 😆

Tapi dear... para menantu perempuan. Jangan pernah lupa ini!

Bagaimanapun juga, beliau tetaplah ibu mertua kita. Ibu yang melahirkan seorang lelaki yang kini menjadi orang terdepan yang menanggung hidup kita.

Kalau kita bilang kita mencintai suami kita karna bla bla bla segala sifat baiknya, jangan lupa, itu semua adalah HASIL DIDIKAN ibu mertua kita.

Jadi, ayolah... konflik apapun sama mertua, selesaikan baik-baik.

Iya sih, mungkin memang ada jenis konflik yang gak mudah diselesaikan. Saya gak mau sok-sokan menasehati karna -- Alhamdulillah -- saya dikaruniai ibu mertua yang baik. Tapi yang jelas, tetep aja, please... jangan pernah menyuruh anak lelaki mereka (suami kita) -- dengan sengaja ataupun gak sengaja -- untuk berhenti berbakti sama mereka.

Please, JANGAN 😭

Menempatkan Diri Sebagai Ibu Mertua


Kalian mungkin gak percaya, saya nulis bagian ini sambil menahan tangis.

Sejak saya punya Faza, saya bisa dibilang jadi sering membayangkan perasaan ibu mertua saya.

Saat dia lagi tidur, saya bayangin. Anak yang saat ini saya belai-belai sepenuh hati, saya sayang sepenuh jiwa, yang selalu berusaha saya prioritaskan di atas segala kepentingan, suatu hari nanti akan punya orang lain di sisinya. Yang bisa jadi akan lebih ia prioritaskan dibanding saya -- seperti halnya adakalnya suami saya pun begitu.

Saya membayangkan, suatu hari saya meminta padanya, "Nak, antarkan ibu ke pasar", lalu ia menjawab, "Duh, Bu... gak bisa. Aku mau anter istriku".

Dan rasanya, hal-hal semacam itu pasti gak mudah bagi ibu mertua kita.

Maka, ayooo bantu suami kita untuk lebih berbakti pada ibunya. Buktikan bahwa adanya kita di sisi anak lelakinya, gak akan mengurangi apapun dari beliau -- terutama kasih sayang anaknya 😊

Jumat, 04 Januari 2019

Review Macam-Macam Tipe Gendongan

Jaman sekarang yaa, apa aja ada teorinya. Tidak terkecuali soal cara menggendong anak. Jaman orangtua kita, mana ada sih. Gendong ya gendong aja. Model gendongannyapun ya itu-itu aja. Paling populer tentu saja kain panjang alias jarik itu.

Sekarang?

Wuih, model gendongan banyak bangetttt! Ada hipseat, carrier, wrap, geos, sling, dll. Apalagi merk gendongan, jauuhh lebih banyak lagi. Yang harganya sampai jutaan pun ada.

Berbagai model gendongan itu kemudian diiringi dengan menyebarnya ilmu menggendong baru yang membuat beberapa orang terperangah. Karna cara menggendong yang katanya paling sesuai dengan teori kesehatan ternyata beda jauh dengan yang selama ini hampir semua orang tua kita praktekkan dulu. Bahkan, cara menggendong seperti itu justru dikecam oleh mereka selama ini.

Yup, jangan salah, menggendong ternyata juga ada ilmunya. Sesuatu yang gak pernah sekalipun terlintas di benak saya sebelum menikah dulu.

Sebagai mamak milenial, jelas dong saya merasa harus belajar tentang ilmu menggendong. Jadi, menurut teori, menggendong yang benar itu kaki anak harus berposisi M-Shape. Biar jelas, lihat gambar di bawah ini aja ya:



Nah, dari teori M-Shape itu, maka berlomba-lombalah para produsen gendongan untuk menciptakan gendongan-gendongan dengan embel-embel M-Shape. Padahal, sebenernya sih pake kain jarik panjang itu aja juga bisa bangettt gendong dengan posisi M-Shape. Kalau mau belajar lebih detail soal menggendong, silakan kepoin tentang komunitas Indonesia Babywears yang udah terkenal banget.

Tapi lagi-lagi, karna mamak impulsif, ya terpancinglah untuk membeli beberapa model gendongan. Sebenarnya, fokus utama saya saat membeli gendongan justru bukan tentang M-Shape atau enggak sih -- karna sejujurnya, saya kurang punya nyali untuk menggendong Faza (sebelum usia setahun) dengan posisi seperti itu. Takut disambit mbah-mbahnya 😂

Fokus utama saya adalah pada gendongan yang ngasih iming-iming gak bikin capek! *mamak lemah* 😅

Nah, langsung aja yaa review macam-macam tipe gendongan yang dulu saya beli. Semoga bermanfaat untuk yang lagi galau milih tipe gendongan 😊

1. Gendongan Tipe Jarik

Ini saya gak beli sih. Melainkan sudah dipersiapkan oleh Mbahnya Faza tentu saja. Bagi orang kampung saya, hukumnya seolah wajib punya gendongan jarik 😂

Jujur ya, saya paling gak bisa pake gendongan jarik ini. Baik pakai cara konvensional seperti yang selama ini dipraktekkan sesepuh-sesepuhku, maupun pakai cara seperti yang diajarkan para emak-emak Indonesia Babywear.

Entah ya, mlorot-mlorot gak jelas gitu. Yang paling bikin grogi, kalau pergi-pergi sama bocah dengan gendongan ini, terus sempet nglepas gendongannya, grogi bangetttt pas mau pakai ulang. Apalagi kalau gak ada yang bantuin.

Seingat saya, keberhasilan saya makai gendongan jarik ini tanpa bantuan dari orang lain, angkanya gak lebih dari jumlah jari sebelah tangan.😂

Kelebihan gendongan tiper jarik:

Bisa sekalian buat selimut untuk anak, terutama kalau pas bepergian. Bisa M-Shape

Kekurangan gendongan tiper jarik:

Ribet, ofkors.

2. Gendongan Tipe Ring Sling

Ini gendongan yang paling sering saya pakai untuk menggendong Faza. Karena paling simpel, dan saya bisa makai sendiri tanpa bantuan. Itupun setelah usia Faza 6 bulanan. Sebelumnya tetep aja butuh bantuan. Betapa dodolnya hamba 😂

Cumaaa, kalo gendongnya dalam jangka waktu lumayan lama, misa pas jalan-jalan di mall gitu, dijamin, pundak kayak mau patah. Dan yang bikin gak enak banget, cuma pundak sebelah. Apalagi kalo nempatin ring-nya gak pas, wuih, bikin sakit banget itu.

Kelebihan gendongan tipe ring sling:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe ring sling:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit.

3. Gendongan Tipe Wrap (Hanaro Baby Wrap)

Hanaroo Baby Wrap ini merupakan gendongan impian saya, sejak sebelum nikah 😂

Jadi ceritanya, suatu hari saya melihat foto teman kuliah saya yang udah lebih dulu nikah dan punya anak di medsos. Di foto itu, dia lagi gendong anaknya pakai baby wrap. Saya langsung searching dengan keyword "gendongan kaos yang seperti kangguru" 😁 Mana tau saya saat itu kalau namanya ternyata wrap.

Sejak saat itu saya bertekad, besok kalau punya anak, saya harus punya gendongan tipe wrap. Kayaknya nyaman banget gitu.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saya dibeliin ibu mertua saya 😍

Tapi baru berani makainya saat Faza sudah usia 7 bulanan kalau gak salah. Karna kalau dipakai sesuai aturan, para sesepuh pada mencak-mencak. Huft.

nyari foto saya gak nemu, akhirnya pasang foto paksu aja deh 😂

Beneran enak sih gendong pakai gendongan tipe wrap ini. Nyaman dan gak terlalu capek karna bebannya dibagi di tiga titik, yaitu dua pundak dan pinggang. Cuma kalau gendongnya lama ya tetep aja capek sih 😅

Cuma, ribetnya gak nahaaan. Harus diubet-ubet gitu kan. Dan kalau pas ngubet-ubetnya gak pas juga akan gak nyaman seterusnya selama gendong.

Tapi sekarang udah ada gendongan tipe wrap yang instan yaa. Ntar deh kalo anak kedua, Insya Allah 😊
Kelebihan gendongan tipe wrap:

Beban dibagi di tiga titik, jadi gak capek. Bisa M-Shape.

Kekurangan gendongan tipe wrap:

Ribet banget pakainya. Dan bikin bentuk badan bagian belakang terekspos banget.

4. Gendongan Tipe Geos/Gendongan Kaos (My Baby Pouch)

Ini gendongan terakhir yang saya beli di era Faza. Laper mata dan impulsif, gara-gara beberapa teman posting foto dan mention akunnya My Baby Pouch. Langsung deh, kepo berujung khilaf 😂

Lagi-lagi saya kepincut karna kesan 'mudah' yang ditawarkan. Ini kan mirip ring sling ya, cuma dari kaos. Jadi bayangan saya akan nyaman sekali, karna gak ada ring yang akan bikin sakit.

Ternyata memang enak sih. Jauh lebih nyaman untuk pundah. Tapi ya lagi-lagi, bebannya hanya tertumpu pada pundak sebelah. Dan karna Faza gendut, jadi agak sesak gitu sih rasanya.

Itu Fazanya lagi tidur. Tuu kan saya gak berani M-Shape makainya 😅

Gendongan Tipe geos ini merupakan gendongan kedua yang paling sering saya pakai setelah ring sling.

Kelebihan gendongan tipe geos:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe geos:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit. Bisa sekalian buat selimut.

Sebenernya, saya ngebet satu tipe gendongan lagi. Yaitu tipe Carrier. Tapi gak dibolehin sama pak suami dengan beberapa alasan. Pertama, saya jarang banget gendong Faza, karna lebih milih stroller. Kedua, saat itu Faza udah hampir jalan. Jadi menurut beliau gak perlu deh beli gendongan lagi karna pasti akan jarang terpakai.

Yasudah sebagai istri sholihah tentu saja saya nurut 😂

Tapi tetep menyimpan impian untuk beli carrier kalau anak kedua nanti sih. Hehehe.

Kesimpulan saya soal berbagai tipe gendongan yang saya beli adalah: gak ada gendongan yang bener-bener gak bikin capek. Mau semahal apa, sebagus apa, kalau gendongnya dua jam ya tetep aja bakal capek lah. Apalagi kalau anaknya montok kayak Faza 😂

Kalau kalian paling suka gendongan tipe apa buibuuu??