Senin, 27 Agustus 2018

Nifas Tak Kunjung Selesai


Salah satu kegalauan saya setelah melahirkan dulu, adalah masa nifas saya yang tak kunjung selesai. Bodohnya, saya gak sesegera mungkin mendatangi tenaga medis untuk mencari solusi. Saya hanya terus menenangkan diri -- kalo istilah orang jawa 'ngayem-ngayemi' diri sendiri dengan berkata dalam hati, "Ah, gakpapa. Besok juga berhenti sendiri".

Menjelang 40 hari, darah nifas saya udah tinggal dikit-dikit keluarnya. Saya udah seneng. Yess bentar lagi nifasnya selesai! Apalagi mas suami *eh

Eh ternyata, sampai 40 hari bahkan lebih, darahnya masih terus keluar. Meski hanya berupa flek, seperti saat hari-hari terakhir menstruasi. Saya masih tenang, karna dari hasil googling, memang ada orang yang nifas hingga 60 hari.

Saya mulai galau dan harap-harap cemas, ketika mendekati 60 hari, flek masih tak kunjung berhenti. Bahkan ketika sudah lebih dari 60 hari pun saya masih terus flek.

Karna sudah lebih dari 60 hari, maka saya mulai sholat, dengan cara membersihkan setiap hendak sholat. Karna hukumnya udah berubah jadi darah istikhadhoh (darah penyakit) kan.

Galau saya jelas makin menjadi-jadi. Saya parno mikir yang enggak-enggak. Mas suami menenangkan. Lalu mengajak saya untuk priksa ke dokter kandungan saja. Biar gak hanya berspekulasi terus-terusan.😭

Akhirnya saya datang ke tempat praktek seorang dokter kandungan perempuan, yang letaknya gak jauh dari rumah saya. Namanya dokter Kartika, Sp.Og. Setelah menjelaskan keluhan beserta riwayat singkat persalinan saya,  dokter Kartika memeriksa saya dengan alat USG.

Lalu beliau menjelaskan, sembari menunjuk layar USG, bahwasanya masih ada sisa jaringan plasenta di rahim saya. Dan itu memang menyebabkan pendarahan tidak kunjung berhenti.

Jelas saya langsung parno. Saya tanya, apakah itu bahaya, dan bagaimana cara mengatasinya.

"Ini saya kasih obat dulu. Kalau darahnya berhenti, Alhamdulillah, berarti masalah selesai. Kalau ternyata tetap gak berhenti berarti harus dikuret," kata dokter Kartika.

Huaaaa, rasanya pengen nangis saat itu juga. Sudah ngeri membayangkan akan dikuret 😭 Tapi mas suami terus menenangkan.

Singkat cerita, Alhamdulillah setelah 3 hari minum obat, darahnya berhenti. Leganya tak terkira! Setelah obat habis, saya kembali kontrol ke dokter Kartika untuk memastikan lagi. Setelah di USG, dokter Kartika bilang bahwa sisa jaringan plasentanya sudah bersih. Jadi gak perlu dikuret. Alhamdulillah 😭

Apakah setelah itu masalah selesai? Ternyata belum 😭

Selang seminggu, saya flek lagi. Duh, jangan ditanya saya kalutnya kayak apa. Tanpa pikir panjang, saya ke dokter kandungan lagi. Tapi kali ini saya gak ke dokter Kartika lagi, melainkan ke dokter Retno di RSIA Kusuma Pradja -- tempat saya priksa rutin selama hamil.

Baca juga: Catatan Kehamilan

Saya menceritakan semua kronologi kasus saya secara detil, sejak persalinan, hingga diagnosa sisa jaringan plasenta yang katanya sempat tertinggal, dll.

Lagi-lagi, saya di USG. Dokter Retno bilang, rahim saya udah bersih dan kembali ke ukuran normal. Lalu memberikan diagnosa lain, yaitu gangguan hormon. Hadehh, apalagi itu, pikir saya 😂

Kata beliau, hal seperti ini memang terjadi pada beberapa ibu pasca melahirkan. Beliau lalu memberi saya obat untuk menstabilkan hormon. Katanya, setelah minum obat ini, darah biasanya akan berhenti, tapi selang seminggu saya akan menstruasi. Setelah itu, Insya Allah siklus saya akan kembali normal.

Ternyata benar, setelah minum obat dari dokter Retno, fleknya berhenti. Lalu selang seminggu saya menstruasi. Tapiii... bulan berikutnya saya gak menstruasi. Stress lagi. Haha. Saya coba testpack, hasilnya negatif. Ternyata hingga 10 bulan ke depan saya gak juga mens. Dan Alhamdulillahnya bukan karna ada yang salah, tapi karna saya masih menyusui.

Huuftt, panjang yaa ceritanya. Tujuan saya cerita ini, biar jika ada teman-teman yang mengalami kasus serupa, gak panik dan parnoan dulu seperti saya. Secepatnya datang ke tenaga medis aja 😊

Menurut situs alodokter.com ada beberapa penyebab jika darah nifas tak kunjung berhenti, antara lain:
  • efek penggunaan KB
  • Infeksi pada rahim
  • sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim
  • kontraksi rahim yang tidak adekuat
  • gangguan hormonal
Sekian cerita masa lalu saya 😆 Semoga ada manfaat yang bisa diambil bagi siapapun yang membaca. Aamiin 😊

Rabu, 08 Agustus 2018

#BincangKeluarga: Pertemanan Setelah Menikah

Sebenernya udah pernah nulis soal ini sih di rosasusan.com

Cuma kayaknya seru juga kalo tema ini dijadikan tema #BincangKeluarga minggu ini.



Baca Punya Ade:


Saya sebenarnya bukan tipe orang yang temannya buanyaakk. Bisa dibilang saya cukup pemilih untuk urusan teman. Milih yang bener-bener nyaman dan klik, karna pada dasarnya saya ini kurang supel dan gak gampang akrab sama teman baru.

Maka dari itu, saya tipe yang temannya itu-itu aja. Jadi, sejak SD hingga kuliah, saya selalu punya sekelompok teman dekat yang kemana-mana ya sama mereka terus. Bahkan ada yang sampe level kayak sodara saking deketnya.

Sama para teman rasa saudara ini, kami pernah saling merajut mimpi. Merawat pertemanan sampai kapanpun, sampai nanti masing-masing dari kami sudah bawa pasangan dan anak masing-masing.

Realisasinya?

Susah sekali yaaa ternyata! Lulus SMA, kita punya dunia baru di kampus masing-masing. Punya kepentingan sendiri-sendiri, termasuk punya teman-teman baru yang gak kalah akrabnya. Mau bikin janji ketemu sama teman SMA, duh lha kok ternyata syusyah sekaliii atur jadwal supaya match antara satu dengan yang lain. Huhu.

Padahal itu masing sama-sama single. Lha apalagi kalo sudah sama-sama menikah? Makin ribet urusannya, karna sudah bukan lagi tentang antara kita dan teman kita.

Apalagi dalam kasus saya, 2 teman dekat saya saat SMA adalah laki-laki. Dulu sih udah kayak kakak-adek banget ya. Udah sama sekali gak kepikiran macem-macem lah. Pokoknya kami adalah sahabat. Titik.

Beda cerita saat kami sudah sama-sama punya pasangan seperti saat ini. Ada hati pasangan kami yang harus dijaga. Jangankan mau ketemuan, mau sekedar menyapa melalui WA aja saya mikir-mikir dulu. Karna bisa jadi buat saya itu sekedar sapaan biasa. Tapi mungkin bisa dianggap beda kan jika sapaan itu dibaca istrinya, atau suami saya -- meski baik suami saya maupun istri teman saya sama-sama tau, dan kami semua saling mengenal.

Saya lebih memilih untuk berhati-hati sekali soal pertemanan dengan lawan jenis, setelah menikah. Karna, ya, mungkin pertemanan memang harus dirawat. Tapi merawat pernikahan jauuhhh lebih prioritas bagi saya. Bodo amat kalo ada yang bilang saya terlalu kaku, dll.

Nah, beda cerita kalo sama beberapa teman dekat saat kuliah. Selain semua teman dekat saya saat kuliah adalah perempuan, beberapa dari kami juga masih tinggal satu kota hingga hari ini. Beda sama teman SD, SMP dan SMA.

Sekali waktu, kami menyempatkan bertemu. Seringnya sih makan bareng.

Alhamdulillahnya, dengan teman-teman kuliah yang ini, pertemanan kami bukan saja tentang diri kami sendiri. Setiap ketemuan, kami pasti ngajakin pasangan untuk ikut gabung. Jadi suami-suami kami pun jadi berteman. Bisa dibilang ini mendekati idelaisme kami soal pertemanan 😍

Yah meski momen kayak gitu langkaaa banget ya terjadinya. Lagian kalo sering-sering juga gak seru jadinya.

Sering curhat soal masalah rumah tangga gak sama sahabat atau teman dekat?

Alhamdulillahnya enggak. Saya ke mereka enggak, mereka ke saya pun enggak. Bukan karna kami gak saling percaya, Insya Allah. Tapi karna kami sama-sama paham, bahwa kami punya kewajiban untuk menjaga aib rumah tangga kami masing-masing.

Jadi intinya, menurut saya pertemanan setelah menikah adalah pertemanan yang sarat dengan rule dan batasan.

Menurut kalian gimana?

Rabu, 01 Agustus 2018

Tentang Keputusan Nambah Anak

Beberapa kali pulang kampung, saya selalu dikejutkan dengan kabar kehamilan kedua dan ketiga beberapa tetangga. Yang terakhir, saya dikejutkan oleh kehamilan kedua tetangga saya yang usianya masih muda sekali. Jauh lah sama saya. Padahal anak pertamanya juga gak selisih jauh dengan Faza.


Kenapa harus kaget? Toh dia hamil ada suaminya! Gitu kata kakak saya yang merupakan si pembawa berita. Wkwk.

Yaiya juga sih. Tapi, pikiran saya kan gak sekedar tentang itu. Hamil (bagi saya) gak sesederhana itu.

Gini. Saya kaget karna... kok mereka berani banget ya ambil keputusan nambah anak. Kok kayaknya enteng banget gitu. Tanpa beban. Kira-kira apa pertimbangan mereka saat memutuskan untuk nambah anak, dan akhirnya bikin mereka mantap. dll dll.

Pertanyaan-pertanyaan itu lho yang seketika datang saat denger kabar kehamilan mereka-mereka itu.

Jujur aja saya kadang udah pengen nambah anak lagi. Tapi masih takut. Dan merasa sama sekali belum siap dari berbagai faktor. Ekonomi, manajemen waktu, manajemen emosi, dll.

Terus kadang saya mikir. Mereka itu kalo punya anak apakah pernah pusing juga mikirin milestone-nya anak, mikir tekstur MP-ASI anak, biaya masuk SD anak nanti, dll gitu gak sih? Lalu pernah diskusi panjang kali lebar tentang macem-macem teori parenting gitu gak sih?

Kata kakak saya sih, ya jelas enggak lah!

Lalu saya mellow. Sedih aja bayangin anak-anak (yang seharusnya) bisa jadi generasi gemilang itu harus tumbuh dengan kurang maksimal, karna orangtuanya gak bener-bener tau gimana peran dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak.

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Bukannya saya sok gimana ya kalo mikir gitu 😟 Saya kepikiran gitu karna melihat fakta tentang kesadaran soal pendidikan yang masih cukup memprihatinkan di daerah saya, dan gak menunjukkan perbaikan yang signifikan sejak bertahun-tahun berlalu.

Tapi saya buru-buru istighfar.

Kalo dipikir-pikir, orangtua saya juga bukan tipe orangtua yang mikirin macem-macem secara detail saat berencana punya anak. Buktinya, Alhamdulillah saya dan kakak saya bisa melangkah sejauh ini (meski gak jauh-jauh banget juga sih 😂).

Cuma sebelah hati saya bilang, tapi saya gak pengen lah anak saya 'hanya' akan seperti saya. Saya pengen dia jadi generasi yang jauh lebih baik dari saya. Makanya saya berusaha membuat perencanaan yang lebih baik soal anak.

Intinya, kadang mikir terlalu detail juga bikin mumet ya. Bikin gak berani melangkah. Dan yang paling sedih, sering bikin lupa bahwa selalu ada pertolongan Allah jika kita selalu bergantung pada-Nya.

Orang-orang dengan pola pikir sederhana seperti para tetangga saya itu, mungkin lebih tentram ya hatinya. Hamil ya hamil aja. Karna mereka yakin anak kan bawa rejekinya masing-masing. Allah pasti bantu.

Yatapi, kita kan juga wajib ikhtiar sebaik mungkin ya. Gak cuma pasrah.

Cuma, saya kadang mikir. Bapak-ibu saya mungkin juga gak pernah bayangin akan mampu menguliahkan 3 anaknya suatu saat, karna pada masa itu buat makan pun kadang nge-pas banget. Tapi toh nyatanya mereka mampu kan? Alhamdulillah. Dari mana? Pertolongan Allah. Tapi di balik itu, bapak-ibu saya jungkir balik ikhtiarnya.

Kok lama-lama tulisan ini makin gak jelas ya 😂 Jadi semacam perdebatan antara setan dan malaikat di sinetron-sinetron gitu.

Jadi gimana harusnya? Hamil ya hamil aja, atau harus benar-benar direncanakan dan dipikirkan secara matang?

Kalian gimana?