Rabu, 30 Mei 2018

#CeritaFaza: 14 dan 15 Bulannya Faza


Seiring makin besarnya Faza, Alhamdulillah saya juga makin menikmati peran sebagai ibu. Makin enjoy. Gak kayak dulu apa-apa dipikir sampai stress, apa-apa bikin baper.

Saya sempat ada di fase males ah baca-baca teori-teori parenting. Bodo amat. Tapi lama-lama merasa butuh. Karna tanpa teori, saya hanya akan jadi ibu yang tak tau arah jalan pulang *halah* 😅. 

Bedanya, kalau dulu baca teori parenting pasti bawaannya stress. Aduh gimana dong, kok Faza gak sesuai sih sama teori bla bla bla. Sekarang kalau ada yang gak sesuai, yaudah buat evaluasi. Oh di usia sekarang harusnya udah bisa gini, tapi Faza belum bisa. Oke berarti ayok dikasih stimulus pelan-pelan. Gitu lah.

Yang sangat saya syukuri, sampai usia 15 bulan ini, Faza bisa dibilang jarang banget sakit. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Semoga begini seterusnya. Sampai usia ini, dia pilek 3 atau 4 kali kalo gak salah. Dan itupun gak pernah lama. 3 hari udah sembuh. Dan jarang disertai demam.

Ngobrolin soal milestone, usia 13-15 bulan ini milestone yang dicapai Faza cukup signifikan menurut saya. Yang paling bikin terharu, tentu saja kemampuan berbahasanya yang mulai berkembang pesat.

Baca juga: Fase Separation Anxiety

Faza mulai bisa menirukan kata-kata dengan dua suku kata. Lampu, kaca, duduk, bobok, dll.

Satu lagi, setiap minta nenen, dia akan bilang, "Bu... nanaa..." dengan ekspresi super manis. Huhu, ibu sungguh terharu, nak 😘

Selain kemampuan berbahasa, Faza juga sudah mulai bisa dikasih instruksi. Tapi sekaligus menolak instruksi jika gak sejalan dengan yang dia inginkan 😅 Sudah bisa menunjukkan beberapa anggota tubuh seperti hidung, kepala, telinga, kaki, dll.

Yang bikin saya lega, sejak umur 13 bulan ia mulai lancar merangkak. Setelah sekian lama penantian, dan setelah sebelumnya selalu merayap dengan perut dan dada.

Bagi orang lain mungkin aneh. Anak setahun lebih kok baru bisa merangkak dan emaknya senang?

Iya, kebanyakan anak mungkin sudah merangkak sejak usia 9 bulan, atau kalaupun gak merangkak, beberapa sudah bisa berjalan di usia setahun. Sedangkan Faza, usia setahun baru bisa merangkak.

Beberapa orang juga bilang, gak papa gak merangkak, mungkin nanti langsung jalan. Tapi saya ingin sekali Faza melewati semua fase, termasuk merangkak ini. Jadi, meskipun lewat jauh dari red flag saya tetep lega akhirnya Faza gak melewatkan fase merangkak.

Baca juga: Tantrum Pertamanya Faza

Soal Faza yang terlambat merangkak, Insya Allah nanti saya buat satu postingan khusus.

Makin seru yaaa ternyata nunggu perkembangan demi perkembangan anak dari hari ke hari. Semoga anak-anak kita sehat selalu yaaa 😘

Senin, 28 Mei 2018

Menghadapi Fase Separation Anxiety



Sebulanan terakhir ini saya lumayan kewalahan plus galau menghadapi Faza. Separation anxiety-nya menjadi-jadi. Padahal sudah sempet mereda sebelumnya.

Meski Faza tipe anak yang cukup mudah dialihkan perhatiannya, sebagai ibu berhati peri (plis jangan muntah 😂), hati saya selalu perih setiap mendengar tangis pilu Faza ketika saya tinggal pergi -- padahal cuma ke kamar mandi, dan dia ditemani ayahnya.

Makanya saya berusaha baca sana-sini, gimana seharusnya menghadapi fase separation anxiety yang sebenernya wajar banget ini. Wajar, tapi gak jarang bikin ibu kelabakan.

Ohya, adakah yang belum ngeh apa itu separation anxiety?

Separation Anxiety itu  perasaan takut dan resah pada anak yang berlebihan ketika berpisah dengan ibunya atau orang terdekatnya, meski dalam waktu yang gak lama. Sebenarnya separation anxiety adalah fase yang sangat wajar terjadi pada anak, dan justru menjadi salah satu penanda semakin berkembangnya kecerdasan emosi mereka. Mereka mulai tau siapa saja orang yang membuat dia nyaman, yang selalu ada untuk dia, dan bisa membedakan dengan mana yang orang asing.

Cuma ya itu, kadang menguras hati juga jika kita gak segera merumuskan harus gimana menghadapi fase ini. Yang jelas, saya yakin bahwa setiap fase yang dilalui anak harus dihadapi dengan benar, karna pasti ada dampak yang mengikutinya.

Saya mencoba membuat daftar hal-hal yang saya lakukan untuk menghadapi separation anxiety-nya Faza. Siapa tau bermanfaat untuk buibu yang sedang ada di fase ini juga 😊

Berpamitan setiap akan pergi

Meski saya tau Faza pasti akan menangis, saya memilih untuk selalu berpamitan setiap akan pergi meninggalkannya. Entah itu pergi ke kantor, atau sekedar ke toilet. Tapi anehnya, kalo ditinggal ke kantor, dia malah jarang banget nangis. Dia seperti sudah tau polanya, kapan ibu harus pergi, kapan ibu di rumah untuk dia. Sekalinya di rumah, baru deh dia seolah pengen 'nempel' ibunya setiap waktu setiap saat.

Baca juga: Tantangan Sebagai Ibu Bekerja

Saya gak mau banget ninggalin dia dengan cara curi-curi. Karna, gimana ya... anak itu sama kayak kita orang dewasa. Punya perasaan juga. Coba bayangin kalo ada orang yang kita sayang, tiba-tiba pergi tanpa pamit, sakitnya kayak apa? 😁

Jujur

Feeling saya bilang, fase separation anxiety ini merupakan salah satu fase dimana anak sedang membangun rasa percaya dan nyamannya pada sosok ibunya. Gak tau sih ini benern apa gak dari segi ilmu parenting.

Yang jelas, saya memilih untuk berusaha jujur pada Faza. Jujur mengatakan saya akan perginya lama atau sebentar. Saya juga akan berusaha menjelaskan dengan jujur untuk keperluan apa saya harus pergi.

Memberi pengertian berulang-ulang

Ketika saya kembali -- misal dari kamar mandi -- dan mendapati Faza masih menangis, saya akan memberinya pengertian.

"Faza kenapa nangis, nak? Sedih ya ibu pergi? Kan ibu cuma pergi sebentar ke kamar mandi, nak. Dan ada ayah yang nemenin Faza"

Gitu aja terus berulang-kali, sampai bosen. Haha. Mungkin saat ini dia belum paham betul. Tapi saya percaya banget lah apa yang saya bilang lama-lama akan terekam dan mampu ia pahami.

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Memberinya ide kegiatan sebelum pergi

Seringnya, sebelum pergi saya akan beri dia ide tentang kegiatan apa yang akan bikin dia asyik, hingga gak fokus sama saya. Misal, sebelum pergi saya beri dia buku, karna kebetulan Faza paling mudah dibikin asyik kalo sudah ngadepin buku.

Jadi saya ambilkan buku, lalu menyerahkannya pada si ayah. Ayahnya akan bilang, "sini Nak, ayah bacain buku". Nah, kalo mereka berdua udah asyik, baru deh saya mlipir bentar -- setelah pamitan sebelum mereka asyik baca buku sebelumnya.

Dari hasil baca-baca, katanya fase separation anxiety ini bisa bertahan sampai anak berusia 2 tahun. Gak tentu sih, tergantung masing-masing anak. Tapi saya berharap Faza gak sampai dua tahun melalui fase ini.

Yang saya heran, kenapa dia gitu cuma sama ibu? Sedangkan sama ayahnya sama sekali enggak. Padahal mereka juga deket. Kalo mainan dan ngobrol asyik banget. Bahkan Faza lebih mudah tidur jika ayahnya yang menidurkan.

Kalo ada buibu yang telah sukses yang melewati fase ini, boleh dibagi doong cerita pengalamannya untuk ibu baru seperti saya ini 😊 

Kamis, 10 Mei 2018

Review Botanina Immune Guard Baby Oil


Beberapa kali berkunjung ke baby shop, beberapa kali pula saya dan mas suami dihadang oleh mbak-mbak SPG dari beberapa merk Essential Oil. Dengan senyum tanggung kami memutuskan untuk mendengarkan penjelasan panjang lebar mbak SPG tersebut. Bagaimanapun, beliau sedang berusaha meyakinkan kami. Kami harus menghargai.

Meski jujur saja kami gak ada niatan beli ketika tau harganya ampuh sekali. Bayangin aja, untuk seukuran botol kecil dengan netto hanya beberapa mili, harganya hampir seratus ribu. Untuk sebuah barang yang manfaatnya masih absurd bagi kami, itu mahal sekali.

Iya, dalam benak kami Essential Oil itu masih absurd. Seperti hanya minyak, tapi bisa memperkuat daya tahan tubuh, memperbaiki pola tidur, nafsu makan, dll. Kok bisa? Gimana ceritanya? Kecuali kalo bilang bisa menyembuhkan ruam atau biang keringat. Nah itu masuk akal sekali.

Tapi suatu hari Mbak Annisast si blogger idola itu cerita tentang salah satu merk essential oil lokal di IG stories-nya, langsunglah klepek-klepek dan kebelet beli. Saya mudah terpengaruh memang 😁

Gak pake lama saya kepo-in akun IG Botanina. Dan gak pake lama juga, langsung memutuskan order.

Botanina terdiri dari banyak varian essential oil, di antaranya ada Immune guard yang konon salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga daya tahan tubuh, cold and flu untuk menyembuhkan atau menghindarkan dari flu, bugs repelent spray yang berfungsi untuk menghindarkan dari gigitan serangga, dll. Essential Oil Botanina dibagi menjadi 3 kelompok usia, yaitu bayi, anak-anak dan dewasa.

Karna baru pertama kali dan masih belum yakin banget sama manfaatnya -- demi memuaskan rasa penasaran saya -- akhirnya saya order satu buat Faza, yang varian Immune Guard Baby Oil (untuk anak usia 6 bulan - 2 tahun) ukuran 30 ml. Harganya 55.000, dengan ongkir dari Bandung ke Semarang sebesar 17.000. Jadi total 72.000.

Ohya, saya ordernya dengan cara wapri ke nomor yang tertera di Bio akun IG-nya. Fast respon, dan mbaknya ramah.

Saya lupa barang sampai dalam waktu berapa hari. Yang jelas gak sampai seminggu deh kayaknya. Packingnya rapi 💙

Klaim yang tertera pada botolnya:

Mendukung sistem imun, melembabkan, mengatasi masalah kulit, meredakan sakit, meningkatkan nafsu makan, menenangkan.

Aromanya soft. Sedep. Mirip Bio Oil menurut saya. Hihi.

Teksturnya kayak minyak. Eh gimana, kan emang minyak ya 😅 Tapi gak bikin berminyak dan lengket ketika dioleskan. Cepat meresap gitu.

Tentang manfaatnya, apakah terbukti?

Antara terbukti dan tidak.

Kalau untuk klaim mengatasi permasalahan kulit, saya YES. Pernah suatu pagi pan*atnya Faza ruam. Merah-merah tebal menyedihkan. Saya oles sedikit Botanina Immune Guard Baby Oil ini. Sorenya, pan*atnya udah mulus lagi, WOW saya terharu 😍

Tapi untuk klaim soal menenangkan (saat tidur -- tambahan 'saat tidur' ini disampaikan oleh mbak admin yang balas wapri saya), saya masih ragu. Ohya, FYI, salah satu klaim yang paling saya harap akan beneran terbukti jujur aja adalah point ini. Karna Faza itu kalo di atas jam 10 malam, boboknya entah kenapa gak tenang banget, sering terbangun. Huhu, Ibu ngantuk, Za 😴

Masalahnya, pernah suatu hari saya pijitin dia pakai botanina immune guard ini menjelang tidur. EH beneran malemnya boboknya pules. Seneng banget dong 😍 Saya mendadak jatuh cinta pada Botanina.

Tapi malam berikutnya, saya pijitin lagi pakai Botanina seperti malam sebelumnya, dan FAILED. Boboknya gak tenang lagi kayak kemarin-kemarin. Patah hati 💔

Jadi soal bisa menenangkan (saat tidur), entahlah saya belum benar-benar membuktikannya.

Tentang Klaim bisa menjaga daya tahan tubuh, saya cukup membuktikan.

Tiga mingguan yang lalu ayahnya flu. Disuruh jaga jarak sama anaknya mana bisa. Nempel terus tetep. Sempet khawatir Faza ketularan kan, soalnya biasanya gitu. Eh Alhamdulillah kali itu enggak 😍

Tapi ini malah anaknya lagi flu. Saya udah semingguan libur mijitin dia pake Botanina sih 😅

Kesimpulan. Kalau disuruh ngasih nilai, saya akan kasih 3,5 dari 5 bintang.

Re-purchase? Yes, Insya Allah. Next pengen nyobain yang cold and flu. Karna lihat anak flu itu ga tega banget yaaa 😭

Kalian gimana, udah pernah nyoba pake essential oil?

Rabu, 09 Mei 2018

#BincangKeluarga: Tantangan Menjadi Ibu Bekerja

Kalau ngobrolin tentang tantangan, hampir seluruh peran pasti ada tantangannya ya. Gak mungkin ada yang benar-benar mulus lancar-jaya tanpa ada tantangan.

Termasuk menjadi ibu. Saya sering heran kalau baca mom-war tentang ibu rumah tangga VS ibu bekerja. Masing-masing ngotot perannya lebih WOW, lalu mengecilkan peran lainnya. Padahal, masing-masing pasti ada tantangannya.

Saya dulu termasuk yang sering mikir, jadi ibu bekerja itu jauh lebih capek. Ibu rumah tangga sih enak, pengen tidur yaudah tidur aja. Bebas. Ternyata kenyataannya gak gitu, ya. Beberapa ibu rumah tangga mengaku, tiap mau tidur rasanya sayang, mending buat menyelesaikan pekerjaan rumah.

Nah, pada #BincangKeluarga kali ini saya yang ibu bekerja pengen cerita, apa saja sih tantangan menjadi ibu bekerja versi saya. Sementara Ade akan bercerita tentang tantangan menjadi ibu rumah tangga versi dia. Biar kita makin ngerti dan gak saling meremehkan peran orang lain 😊


Baca punya Ade:

Manajemen Waktu

Jujur aja ini yang paling bikin ngos-ngosan. Jam kantor saya dimulai jam 8 pagi, dan berakhir jam 4 sore. Jadi, tiap pagi saya harus gedabrukan gimana caranya supaya bisa menyiapkan makannya Faza dan segala keperluannya selama saya tinggal kerja, nyiapin bekal makan siang untuk saya dan suami di kantor (kalo lagi pengen mbekal aja sih), dll. Dan semuanya harus selesai maksimal jam 7 pagi.

Jujur aja saya lumayan sering telat sampai kantor. Sepertinya masih ada yang salah sih sama manajemen waktu saya. Karna entah kenapa meski sudah bangun lebih pagi dari biasanya pun tetep aja selesainya sama aja kayak kalau saya bangun jam 5 pagi. Zzzz 😴

Baca juga: Menu Praktis Untuk Bekal Makan Siang

Ada yang mau sharing ke saya tentang ini? Siapa tau ada yang senasib sepenanggungan.

Makanya saya sering salut banget ih sama workingmom di kota besar macam Jakarta. Sebagian udah harus sudah berangkat jam 5 pagi, demi menghindari macet. Trus bangunnya jam berapa cobaaa? KALIAN KEREN lah pokoknya!

Malemnya, saya dan suami juga masih harus gedabrukan mengerjakan segala macam pekerjaan rumah tangga. Lipetin baju lah, nyetrika bajunya Faza, nyuci botol ASIP, dll.

Tentang Keseimbangan

Ini juga gak kalah menantang sih. Tentang gimana caranya saya harus menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, pegawai sebuah Yayasan (dan Blogger), sekaligus sebagai diri pribadi yang (katanya) butuh me time.

Jadi saya harus memastikan bahwa ketika sudah di rumah, gak ada cerita saya pusing mikirin/ngurusin kerjaan. Ini gampang sih menurut saya yang levelnya cuma staff. Gak tau deh kalo levelnya udah kepala bagian.

Yang paling menantang justru menyeimbangkan antara peran sebagai ibu dan istri ketika di rumah. Karna seharian udah gak sama faza, begitu sampai rumah kadang fokus saya sepenuhnya ke Faza. Nah, gak jarang speran saya sebagai istri kadang agak terlupakan. Contoh kecilnya, ketika masih menemani Faza bermain, saya jadi kelupaan ambilin mas suami minum.

Huhu, Alhamdulillahnya mas suami ngerti dan gak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele gini sih. Cuma sayanya masih sering merasa bersalah di bagian ini 😭

Saat Budhe Minta Libur

Ini tantangan seluruh ibu bekerja ya kayaknya. Eh, kecuali yang memilih daycare sih.

Beberapa minggu lalu, saya sempat dibuat galau gara-gara masalah ini. Budhenya Faza tiba-tiba sakit agak lumayan yang butuh waktu sekitar seminggu untuk pulih. Sedangkan saat itu saya sedang dikejar beberapa pekerjaan yang tenggat waktunya sudah mepet 😭

Tau gak, saya akhirnya sampai mendatangkan ibu saya dari Jepara untuk menemani Faza, biar saya bisa berangkat kerja.

Tantangan yang satu ini bikin saya beberapa kali mempertimbangkan daycare sebagai pilihan. Saya gak anti daycare kok. Cuma, saya sudah terlanjur cinta sama Budhenya Faza ini. Kalau suatu hari (naudzubillah) Budhenya Faza tiba-tiba memutuskan berhenti, saya pastikan saya akan memilih daycare aja.

Sebenarnya masih banyak sih tantangan menjadi ibu bekerja. Tapi cukup 3 saja yang saya ceritakan di sini.

Yang jelas, peran apapun yang kita pilih PASTI ada tantangannya masing-masing. Jadi jangan terburu-buru memandang rumput tetangga lebih hijau.

Jadi jangan gegabah memutuskan resign, karna merasa jadi ibu rumah tangga gak ada tantangannya. Ah, siapa bilang?

Pun jangan buru-buru menyebar lamaran pekerjaan karna melihat teman yang ibu bekerja kayaknya enjoy banget, bisa dandan rapi pake sepatu hak tinggi bla bla bla, karna merasa jadi ibu rumah tangga sangat melelahkan.

Percayalah, ada kebaikan di balik setiap keputusan yang kita ambil, asal kita menjalaninya dengan tulus 😊

Kamis, 03 Mei 2018

Yang Harus Dibawa Saat Bepergian Bersama Bayi



Yang harus dibawa saat bepergian  bersama bayi. Dulu, hal semacam ini saya anggap remeh. Gak pernah sama sekali ada niatan mencari tau -- minimal browsing -- soal ini. Ah udah, beginian doang sih gampang lah yaa.

Sama ya kasusnya dengan urusan pumping. Menggampangkan dan sok tau, akhirnya ZONK. Hahaha.


Eh ternyata, gagap juga lho pas awal-awal harus bepergian bawa Faza. Adaaa aja yang ketinggalan. Adaaa aja yang kurang, terus akhirnya senewen sendiri. Sampai-sampai saya sempat malas ikut bepergian. Ribet 😑

Alhamdulillah, lama-lama mulai terbiasa dan jadi makin tau kebutuhan apa saja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi. Dan biar gak ribet, barang-barang wajib bawa ini biasanya saya sediakan khusus di tas yang biasanya dipakai saat bepergian. Jadi gak perlu keluar-masuk, untuk meminimalisir resiko ketinggalan. Maklum ya, saya ibu anak satu yang agak pikun 😭

Yaudah yok mari dilist apa saja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi, agar stabilitas nasional terjaga.

1. Toiletries

Ini terdiri dari beberapa item yah. Apa aja?

  • Tissue kering
  • Tissue basah
  • Diaper rash cream
  • Diapers
Untuk diapers, saya selalu bawa lebih dari satu. Kita gak akan pernah tau apa yang akan terjadi, kan? *halah. Jadi buat jaga-jaga ya cari aman, jangan cuma bawa satu.

2. Baju, dll.

Setiap bepergian bersama Faza, meski gak jauh dari rumah, saya selalu bawa baju ganti untuk dia. Minimal satu kaos dan satu celana. Kan bayi, apalagi yang lagi aktif-aktifnya, rawan banget bajunya kotor atau gak sengaja ketumpahan sesuatu gitu ya.

Nah, kalau gak bawa baju ganti kan sedih. Masa berangkatnya rapi jali, pulang-pulang kucel dan dekil?

3. Selimut atau kain untuk alas

Item ini sebenernya sudah mulai saya eliminasi demi berkurangnya isi tas. Tapi kadang juga masih bawa jika bepergiannya agak jauh atau lama.

Kalau saat bayi, ini wajib banget bawa. Untuk apa? Biar kalau Faza tidur, dan harus diletakkan (misal pas makan di warung lesehan), kain atau selimut ini bisa untuk alas, karna kebersihan lantainya kan gak terjamin ya kalau di tempat umum. Apalagi ini bayi, daya tahan tubuhnya belum bener-bener kuat. Kalau kita mah gegoleran di tanah juga oke aja 😂

Paling enak sih kalau pakai geos alias gendongan kaos yah. Jadi 2 in 1. Bisa buat gendong, sekaligus buat kain alas. Empuk dan lembut pula.

4. Makanan dan Minuman

Ini harus, gak boleh lupa. Apalagi untuk orangtua yang berprinsip gak boleh memberi sembarangan makanan ke anak.

Kalau saya, minimal bawa biskuit. Atau kalau memungkinkan ya bawa buah. Jadi jika selama bepergian gak ketemu sama makanan yang ramah anak, kita gak perlu panik. Udah ada persediaan.

Kalau minuman, saya cuma bawa air putih di straw cup-nya Faza. Iya sih air putih gak bawa pun gampang dapetnya. Tapi kalau saya tetep lebih milih sedia sendiri aja. Kenapa bawanya air putih doang? Ya soalnya kalau ASI mah ya otomatis saya bawa lah pabriknya 😂

Udah sih, bagi saya 4 point ini sudah memadahi sekali. Dengan catatan bepergiannya gak jauh-jauh banget, dan gak yang sampai nginep. Kalau sampai nginep sih beda urusan yaa. Daftarnya jauh lebih panjang.

Nah, kalau kalian apa aja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi, moms? Share, yaa... siapa tau masih ada yang kurang di list-ku. Biar makin lengkap 😊


Selasa, 01 Mei 2018

Ketika Faza Mengingatkan


Tadinya saya bingung mau ngasih judul apa untuk postingan kali ini. Karna sejujurnya, di postingan kali ini saya mau cerita setengah-setengah halu khas orangtua baru, sekaligus nulis milestone-nya Faza di usia setahun yang kelewatan saya tulis di sini dan di sini.

Sebagai orangtua, tentu saja saya (dan suami) sangat ingin menanamkan berbagai kebiasaan baik pada anak kami. Iya lah, kayaknya semua orangtua juga ingin melakukan hal yang sama kan?!

Kebiasaan baik yang ingin kami tanam paling dini pada Faza adalah kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan penanaman aqidah, karena kami muslim.

Nah, sejak Faza bayi, saya selalu membiasakannya untuk berdoa. Mau nenen, doa dulu. Mau tidur, doa dulu. Bangun tidur, doa juga. Mau keluar rumah, doa dulu. Naik kendaraan, doa juga. Dan seterusnya. Doanya tentu saja yang yang ngucapin, sembari tangannya Faza saya angkat ke posisi berdoa. Setelah selesai berdoa, tangannya saya usapin ke muka. Meski suami bilang, gerakan mengusapkan tangan ke muka setelah berdoa itu gak ada tuntunannya ya. Hehe.

Saat Faza masuk ke fase meniru -- lupa tepatnya umur berapa, hiks -- tiap ditanyain, "Faza kalo berdoa gimana?", pasti tangannya langsung diangkat, dilanjut dengan mengusapkan tangannya ke muka. Huhu, sumpah lucu sekalii. *biarin muji anak sendiri* 😋

Yang bikin kamu trenyuh, adakalanya saat kami lupa berdoa, sekarang justru Faza yang mengingatkan kami.

Misalnya saat mau pergi naik mobil. Saya asyik ngobrol sama ayahnya. Eh Fazanya angkat tangan ke posisi berdoa, sembari menggumam, "eh eh eh", seolah berdoa. Saya dan mas suami saling berpandangan. Malu sekaligus terharu. Malu karna lupa berdoa. Terharu karna Faza sudah bisa mengingatkan kami.

Selain berdoa, Faza juga sudah fasih menirukan gerakan takbiratul ihram. Yang ini kami gak mengajarkan secara langsung. Dia belajar sendiri karna sering melihat kami sholat.

Yang lumayan bikin jleb, setiap dengar suara adzan, pasti Faza langsung takbiratul ihram -- menandakan dia sudah paham bahwa adzan adalah tanda datangnya waktu sholat. Ini bikin saya dan ayahnya malu banget. Seasyik apapun Faza bermain, begitu dengar suara adzan pasti langsung takbiratul ihram. Seolah ngingetin ayah-ibunya untuk segera sholat. Huhu.

Kejadian kayak gitu terjadi berulangkali. Dan saya masih selalu terharu dibuatnya. Lalu saya mikir. Padahal baru berdoa yang kami ajarkan dan tanamkan. Kalau kami (saya dan ayahnya) bersungguh-sungguh menanamkan lebiiihhhh banyak lagi kebaikan pada diri Faza, maka secara gak langsung menyiapkan benteng untuk diri kami sendiri.

Sayangnya, orangtua kadang punya ego. Gak selamanya diingatkan oleh anak itu bisa diterima dengan hati lapang. Hari ini mungkin saya terharu ketika Faza mengingatkan kami untuk berdoa atau sholat, karna dia masih lucu

Tapi gimana dengan nanti? Ketika Faza mengingatkan kami saat usianya sudah remaja atau dewasa? Masihkah kami menerimanya dengan sukacita, atau justru tersinggung merasa ego kami diusik? 😔

Harusnya kita orangtua gak perlu tersinggung ya ketika anak mengingatkan, karna status sebagai orangtua gak menjadikan kita serta-merta gak mungkin salah, kan? Orangtua gak selamanya benar, begitu juga anak yang gak selalu salah.

Semoga saya selalu ingat tentang ini 😌