Jumat, 19 Januari 2018

Babak Baru Pernikahan

Rasanya baru kemarin tangan saya dihenna menjelang acara pernikahan. Ehh, tau-tau udah memasuki tahun kedua pernikahan aja. *klise* 😂

Adik ipar saya bulan lalu nikah. Lihat pasangan pengantin baru, saya jadi kepikiran nulis ini.

Baca ini juga ya: Lika-Liku Adaptasi di Awal Pernikahan (Part 1)

Pengantin baru sih isinya manis doang yah. Iya sih tetep ada lah betenya, kadang malah terasa berat karna kan masa adaptasi dari lajang ke menikah. Tapi tetep aja kalo diinget sekarang, marahan pada masa-masa pengantin baru kok rasanya marah yang unyu dan menggemaskan ya 😂

Beda lah levelnya sama marahan setelah memasuki tahun kedua pernikahan. Tahun pertama menurut saya adalah tahun dimana gelora cinta sedang ada di puncak gelora. Iya lah, tahun pertama punya seseorang yang halal dipeluk kapanpun, selalu ada buat kita, mau ngapa-ngapain bebaaasss dan sah, baru tau rasanya yang 'enak-enak' *ups*, jelaasss dong masih sangat bergelora.

Baca juga yang ini:  Lika-Liku Adaptasi di Awal Pernikahan (Part 2)

Sementara memasuki tahun kedua pernikahan, pelan-pelan ada beberapa pergeseran. Saat berpegangan tangan sudah gak lagi semenggairahkan dulu karna... kan udah biasa ya, wong sudah setahun lebih. Lalu obrolan-obrolan soal: anggaran belanja, kebutuhan bulanan, biaya listrik, nabung buat beli rumah, dll mulai mendominasi. Saat inilah komitmen mulai diuji. Dan...

Selamat datang di babak baru pernikahan 😍

Yup, saya merasakan sekali momen babak baru pernikahan menginjak tahun kedua menjalani bahtera ini. Apalagi saya dan suami -- yang Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah -- memasuki tahun kedua pernikahan sudah punya Faza. Jadi sudah bukan tentang aku dan kamu lagi. Tapi berubah jadi ada Faza diantara kita 😂😂😂

Yang paling terasa perbedaannya di babak baru ini adalah soal komunikasi. Hadirnya Faza -- tanpa sedikitpun bermaksud mendustakannya sebagai sebuah anugrah terindah -- gak bisa dipungkiri bikin kami jauh lebih capek dari tahun pertama pernikahan.

Sudah gak ada cerita pulang kerja leyeh-leyeh. Ada Faza yang harus ditemenin main karna sudah seharian kami tinggal. Setelah Faza tidur, saya dan mas suami mulai berjibaku dengan 'tugas' kami masing-masing. Nyuci baju, jemur, cuci botol ASIP, dot, breastpump, setrika baju Faza (yang gak tega kami laundry-kan), dll.

Gara-gara lebih capek banget itu, kami jadi lebih sering sensi di tahun kedua pernikahan ini. Yang satu ngomong apa, yang satu nangkepnya apa. Salah paham, lalu sensi-sensian. Capek kan bikin kita lebih bernafsu makan orang ya 😂 Apa-apa teraa ngeselin, semua jadi terlihat salah 😢

Tapi bukan berhati kami jadi pesimis, lantas merasa 'apakah sudah tak ada cinta di antara kita?'. BIG NO!

Justru di babak ini kami sadar, artinya kami bertumbuh, tidak stagnan. Pernikahan kami memasuki babak baru, yaitu pernikahan yang dewasa. Bukan lagi sekedar romantis-romantisan dan pamer ke media sosial. Tapi gimana caranya tetap bisa sesekali romantis di tengah berbagai kewajiban yang menumpuk di depan mata.

Baca juga: Memperbarui Cinta

Di babak baru pernikahan ini, Alhamdulillah saya merasa bahagia saya menjadi jauh lebih sederhana. Dulu, sering ngrengek ke suami diajak makan di resto-resto hits, baru saya merasa senang dan menganggap suami romantis.

Sekarang? Saya lagi nyetrika, lalu suami -- yang baru selesai jemur baju -- mengelus kepala sambil bilang, "kalo capek istirahat, yaa" itu aja sudah berbunga-bunga hati ini 💕💕💕

Yah, tapi kami tau jalan masih panjang. Baru memasuki tahun kedua. Semoga kami diberi kesempatan oleh Allah untuk terus menghitung tahun bersama, dan itu artinya akan masih ada banyaaakkk sekali babak baru dalam pernikahan kami.

Sharing dong manteman tentang suka-duka babak baru pernikahan kalian, biar saya bisa belajar 😉 Saya tunggu ceritanya di kolom komentar yah 😘

2 komentar:

  1. Wah selamat ya bun ulang tahun pernikahannya yang ke 2. Semoga jadi keluarga yang barokah 🙏

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)