Rabu, 07 November 2018

Demam Naik Turun Selama 10 Hari, Faza Sakit Apa?



Demam naik turun terus selama sepuluh hari, Faza sakit apa?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya sepulu hari ke belakang kemarin. Pertanyaan yang bikin saya galau maksimal, gak tenang sepanjang hari, dan gak bisa kerja selama di kantor. Bener-bener blank. Huhu.

Jadi ceritanya, sehari setelah pulang berkunjung dari rumah Pakdhenya Faza alias kakak saya di Purworejo, Faza badannya anget. Tapi kami masih santai. Oh, paling karna kecapekan. Kami pantau demamnya dengan termometer. Dan karna panasnya sempat nyentuh angka 39 derajat, akhirnya kami memberinya parasetamol.

Demamnya sempet turun sebentar, tapi kemudian naik lagi. Sampai pagi Faza gak membaik. Sampai akhirnya saya memutuskan gak masuk kantor, dan memeriksakan Faza ke dokter keluarga (Faskes 1 BPJS).

Hasilnya standar aja sih. Batuk pilek. Saya juga nganggepnya juga gitu. Masih santai. Dikasih parasetamol dan antibiotik aja.

Tapi sampai obat habis, masih gak menunjukkan tanda-tanda Faza sehat. Panasnya naik-turun terus. Saya pun mulai was-was.

Yang perlu diingat, demam bukanlah penyakit, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang gak beres di dalam tubuh. Demam merupakan respon alami tubuh untuk melawan virus/bakteri yang sedang menyerang tubuh.  Makanya saya was-was memikirkan, ini virus/bakteri apaaa yang sedang bercokol di dalam tubuh Faza.

Hari Senin saya minta tolong ke akungnya untuk membawa Faza lagi ke dokter keluarga. Saya gak bisa ijin karna ada deadline kerjaan 😭

Oleh dokter, akhirnya Faza diminta untuk cek lab. Saya dikabari akungnya siang hari, langsung deh seketika nangis sesenggukan. Pertama bayangin Faza diambil darahnya, kedua parno bayangin hasil lab-nya. Saya takut banget Faza positif DB atau typhus 😭

Sepulang kerja, saya melihat hasil labnya, dan keparnoan saya makin menjadi-jadi. Karna beberapa angka menunjukkan ketidaknormalan. Contohnya, trombosit yang ada di bawah angka normal. Hemoglobin yang justru lebih tinggi dari angka normal, dll.

Sebagai emak milenial, tentu saja saya langsung googling cari tau itu kenapaaa bisa gitu angkanya. Dan seperti biasa, bukannya dapat pencerahan, saya malah makin parno. Hasil googlingnya serem-serem amat 😭

Ditambah lagi, paginya kami bawa Faza ke DSA di Hermina Banyumanik untuk mengonsultasikan hasil lab tersebut. Kebetulan, DSA yang biasa kami kunjungi kebetulan lagi gak praktek. Dengan pertimbangan biar Faza dapet penanganan secepat mungkin, akhirnya kami pindah ke DSA lain, yang belum kami tau sama sekali seperti apa track recordnya.

Dan bener aja. Kami keluar dari ruang praktek DSA dengan sangat tidak puas dan tanda tanya yang makin memenuhi kepala. Ya gimana enggak, dokternya ga jelasin apa-apa soal hasil lab-nya Faza. Waktu saya tanya, beliau malah menunjukkan raut bingung seolah berkata, "Iya ya, kok gini ya hasilnya, ini kenapa ya?" 😭

Sebelum keluar saya tanya lagi, "Terus ini diagnosanya apa ya, dok?"

Jawabnya, "Kayaknya radang sih". KAYAKNYA loh! *mulai emosi*

Beliaunya bilang, kalo 3 hari masih demam naik-turun, maka harus cek lab ulang. Huaaa, makin gak karuan rasanya hati ini.

Dan beneran aja, 3 hari berikutnya, demamnya Faza masih aweetttt banget. Batuknya aja yang lumayan berkurang.

Akhirnya ya lab lagi. Alhamdulillah kali ini angkanya sudah normal semua 😭😭😭

Malemnya kami konsultasi ke Hermina. Puji syukur sebanyak-banyaknya, karna saat itu dokter anak yang sebelumnya gak praktek, jadi kami diijinin ganti dokter. Akhirnya kami kembali ke DSA awal-nya Faza. Huhu, terharuu... ini namanya rejeki.

Kali ini kami mendapatkan penjelasan panjang lebar. Dokter bilang, diagnosa sementara memang radang. Tapi kalo seminggu ke depan masih demam, maka harus observasi lebih lanjut.

Faza diperiksa penisnya, takutnya ada kotoran yang bikin infeksi. Tenggorokan juga dilihat. Lalu dokter juga memeriksa perutnya Faza yang saat itu kencang sekali dan kembung. Setelah melihat resep obat sebelumnya, beliau bilang ada obat yang salah satu efek sampingnya bikin perut melilit dan kembung.

Pantesan beberapa kali Faza ngeluh perutnya sakit 😢

Gak cuma itu, kami juga dijelasin panjang lebar soal kebutuhan kalori anak seusia Faza. Berapa persen yang harusnya terdiri dari makanan padat, dan berapa persen cair, Yang kesimpulannya, konsumsi susu Faza harus dikurangi.

Diet yaaa, Nak 😁

Setelah itu kami dikasih rujukan agar Faza di nebul karna dahaknya Faza banyaakk banget dan bikin grok-grok. Nebul beres, kami ke apotek rumah sakit. Eh ternyata resep kali ini obatnya gak ada yang bisa dicover BPJS 😂

Gakpapa yang penting Faza sembuh Ya Allah.

Dan ALHAMDULILLAH, setelah dua hari minum obat, demamnya Faza pergiiii 😭

Ini bener-bener pengalaman Faza demam pertama kali. Udah pernah demam sih sebelumnya, tapi karna imunisasi yang paling lama 2 hari udah sehat lagi.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, kalo anak sakit gak usah kebanyakan googling buibuuu. Bikin stress 😅

Udah sih gitu aja ceritanya. Maaf yaaa kalo kurang berfaedah 😅

Jumat, 02 November 2018

Bijak Ketika Anak Sakit

Postingan di awal bulan November yang (sayangnya) harus bermuatan kelabu. Huhu.

Dan 90% akan berisi curhatan emak yang lagi galau anaknya sakit 😂

Ini ceritanya ilustrasi saya yg seminggu ini gak pernah bisa tidur nyenyak karna Faza sakit 😂 Ambil dr Pixabay.

Iya, sudah seminggu ini Faza sakit. Demamnya naik-turun. Batuknya, haduuhhh... bikin ngilu. Batuk berdahak.

Faza termasuk jaraaang sekali sakit, Alhamdulillah. Makanya sekalinya sakit, saya dan masuami bawannya galau terus. Apalagi kemarin Faza akhirnya harus cek lab juga, dan hasilnya makin bikin galau. Angka hasil lab-nya mengindikasinya Faza terinfeksi virus. Sampai sekarang masih observasi, dan hari ini harus cek lab ulang.

Saya lalu menarik mundur beberapa hari sebelum Faza sakit. Kebetulan kami baru saja berkunjung ke rumah seorang kerabat. Kerabat tersebut juga punya anak yang sedikit lebih tua dari Faza.

Faza tentu saja girang sekali punya teman main. Nah, kebetulan pula, anak si kerabat tersebut sedang sakit batuk lumayan parah. Batuk berdahak.

Saya melihat beberapa kali, ketika tengah bermain bersama, si anak kerabat batuk-batuk tepat di depan Faza tanpa menutupi mulutnya.

Miriiiiis sekali rasanya hati saya saat itu, Bu 😭

Ingin sekali rasanya saya mengingatkan, "Kak, mulutnya ditutup yaa kalau batuk"

Atau ingin sekali saya menarik Faza dan bilang, "Faza, siniii sama Ibu"

Tapi saya gak punya cukup keberanian 😭 Saya takut ibu si anak tersinggung, karna saya tau beliaunya tipe yang cukup sensitif soal ginian. Huhu.

Saya gak menyalahkan si kerabat saya beserta anaknya atas sakitnya Faza.

Tapi saya mengambil pelajaran untuk diri saya sendiri melalui kasus ini.

Bahwa ketika anak sakit dan sakitnya mudah menular ke anak lain, mari menjadi bijak. Bijak untuk berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga anak kita agar jangan sampai menularkan sakitnya ke anak lain.

Misalnya dengan mengisolasi anak sementara dari teman-temannya, sembari memberi pengertian. Atau dengan mengajari, misal anak batuk, ajari dia untuk menutup mulutnya saat batuk atau dengan menjauh sebentar dari teman-temannya.

Atau misalnya saya sedang lalai, dan ada orangtua lain yang mengingatkan, "Dek Faza lagi pilek, jangan dekat-dekat temannya dulu ya", harusnya saya gak perlu tersinggung. Semoga saya inget terus soal ini.

Saya sadar diri, sebagai ibu, sayang saya pada anak kadang gak proporsional. Misal, saat anak salah dan diingatkan orang lain, kita tersinggung. Marah. Saking sayangnya sama anak. (Emm atau jangan-jangan saking tingginya ego kita ya?)

Gitu lah pokoknya. Intinya saya belajar banyak dari sakitnya Faza kali ini.

Ending postingan ini benar-benar anti-klimaks 😂

Senin, 22 Oktober 2018

#MelawanMitos: Tentang Mitos (Jahat) yang Dipercaya



Minggu kemarin, saya mendapat kabar bahagia yang kemudia disusul dengan kabar menyedihkan.

Kabar bahagianya, sahabat dekat saya sejak SMP Alhamdulillah telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dengan selamat. Proses melahirkannya sempat membuat saya iri karna terbilang sangat lancar dan cepat. Dia juga dengan enteng bilang, "ternyata melahirkan gak sesakit yang saya bayangkan".

Huaaa, iri sekali, jika mengingat proses melahirkan saya dulu yang Masyaa Allah, susah dijelaskan dengan kata-kata. Lebih iri lagi ketika dia bilang, ASI-nya sudah keluar. Gak perlu nunggu 10 hari seperti saya dulu.

Tapi sepulangnyadari rumah sakit, dia mengabarkan lagi sebuah berita pada saya melalui WA. Kabar yang bikin saya seketika bikin hati saya perih.

"Aku gak diijinin ngasih ASI ke dedek", begitu katanya.

Seketika saya ingat hari-hari pertama saya menjadi ibu, yang penuh dengan air mata saking inginnya saya memberi ASI untuk Faza. Tapi apa kuasa saya saat itu? Nyatanya ASI saya memang belum keluar sama sekali hingga 10 hari ke depan. Yang saya bisa hanya berusaha berusaha berusaha.

Sedangkan teman saya ini? ASI-nya sudah keluar, tapi TIDAK DIIJINKAN memberikan ASI itu pada anaknya. Bayangkan betapa sedihnya.

Gimana bisa sih ngasih ASI ke anak sendiri kok gak diijinin?

Oh, tentu saja bisa. Kalian mau tau apa sebabnya?

Karna MITOS lah. Apalagi!

Mitos yang jahat sekali kan?

Jadi, di daerah saya ada sebuah mitos yang dipercaya banyak orang, bahwa jika seorang perempuan bentuk putingnya (seperti) terbelah di tengah gitu, maka saat perempuan tersebut punya anak, ia gak boleh memberikan ASI untuk anaknya. Karna ASI-nya dipercaya tidak bagus. Jika memaksa diberikan, maka si anak akan 'kenapa-napa'.

Pernah ada kejadian (masih di daerah saya). Seorang ibu 3 anak yang juga punya puting terbelah, memberi 3 anaknya sufor. Karna saat anak pertamanya lahir, dan dia memberikan ASI-nya pada anaknya yang pertama, gak lama kemudian (entah karna sebab apa), anaknya meninggal.

Maka, makin KUAT dan DIPERCAYALAH mitos itu.

Padahal, mitos itu terjadi ya karna dipercaya!

Yang muslim pasti pernah dengar tentang hadist 'Allah sesuai persangkaan hamba-Nya'. Ya termasuk dalam hal mitos ini. Kita percaya jika melakukan A, sesuatu yang buruk akan terjadi. Yaudah sama Allah dikabulkanlah persangkaan kita tersebut.

Aku bersama sangkaan hambaku padaku, jika sangkaannya baik maka baiklah baginya, dan jika sangkaannya buruk maka buruklah baginya (HR Ahmad)

Ada yang nyebut itu dengan hukum LoA. Law of Attraction. Bahwa apapun yang kita pikirkan dan kita yakini, maka secara gak langsung akan otomatis 'menarik' hal itu untuk terjadi dalam hidup kita. Lebih jelasnya, baca artikel ini aja deh.

Termasuk soal mitos ini. Apalagi kalo yang percaya sama mitos itu adalah orangtua kita -- yang mana dikasih kelebihan sama Allah ucapan dan doanya itu makbul. Ya gimana engga serem kalo yang dipercaya mitos-mitos jahat macam yang di atas 😭

Orangtua saya sendiri termasuk yang masih percaya banyak mitos, termasuk mitos yang berhubungan dengan perbayian. Dulu saat hamil saya banyak dikasih wejangan tentang jangan ini, jangan itu, nanti begini, nanti begitu, yang tentu saja semuanya mitos.

Lalu apakah saya menaatinya? Tidak.

Lalu apakah saya terkena dampak karna saya membangkang? Mari saya ceritakan.

Salah satu yang ibu saya pesankan pada saya sejak saya dinyatakan hamil adalah: JANGAN MAKAN CUMI. NANTI ANAK SAYA KAKINYA LEMAH, ATAU BISA JADI LUMPUH/GAK BISA JALAN.

😭😭😭

Dimana letak masuk akalnya sodara-sodara? Padahal cumi kan enak bangettt, bergizi pula ya kan. Gimana bisa dilarang makan selama 9 bulan hamil. Dengan alasan gak masuk akal pula. Kecuali kalo saya alergi seafood.

Tapi saya IYA-kan saja atas perintah paksu. Yang penting ibu tenang, kata beliau. Tapi nyatanya, kalo saya lagi di Semarang (ibu saya di Jepara), ya saya tetep makan cumi kalo lagi pengen. Yang jelas ibu saya gak tau kalo saya makan cumi.

Waktu Faza usia 8 bulan dan kakinya belum terlalu kuat menjejak ketika diberdirikan, ibu saya langsung panas-dingin. Beliau mengintrogasi saya: kamu makan cumi ya dulu waktu hamil?!

Akhirnya saya ngaku. Tapi plus penjelasan, bahwa itu semua gak ada hubungannya. Saya mengingatkan ibu untuk ayolah jangan percaya. Doakan saja Faza gakpapa. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, ternyata Faza kurang stimulus aja. Alhamdulillah dia bisa jalan sesuai usianya.

Dan mbahnya tentu saja bilang, "Alhamdulillah, mbahbuk lega akhirnya Faza bisa jalan. Mbahbuk deg-degan soalnya ibumu waktu hamil makan cumi" 😂

Begitulah. Mitos-mitos yang gak masuk akan seringkali membuat kita ragu-ragu atau takut melakukan sesuatu yang sebenernya sangat bermanfaat. Padahal semakin dipercaya dan terus didengungkan, mitos-mitos itu akan semakin kejadian.

Sedangkan jarang banget ada edukasi untuk meluruskan soal mitos ini. Akhirnya, yasudah terus mengakar dan mendarahdaging dalam kepercayaan.

Saya pengen banget deh bikin gerakan #melawanmitos dengan cara menulis mitos-mitos yang pernah kita langgar dan Alhamdulillah kita gak kena dampak buruk dari hal itu, di blog atau instagram. Biar makin banyak yang berani untuk #melawanmitos.

Biar semakin banyak orang yang tau bahwa percaya pada mitos hanya akan membuat kita sibuk sama prasangka buruk yang akhirnya justru bikin hal buruk itu benar-benar terjadi. 

Adakah teman-teman yang bersedia membantu saya?

Rabu, 17 Oktober 2018

#BincangKeluarga: Cemburunya Suami

Katanya, cemburu merupakan bumbu dalam sebuah hubungan. Yah meskipun yang namanya bumbu, kalo kebanyakan juga bisa bikin eneg ya kan? Pada dasarnya, segala sesuatu memang harus diletakkan sesuai porsinya sih. Jangan sampai kurang apalagi gak ada sama sekali, jangan pula berlebihan.

Saya termasuk orang yang cemburuan. Dulu adakalanya saya berlebihan soal cemburu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya makin sadar bahwa cemburu yang berlebihan hanya akan membuat pasangan gak nyaman.

Sekian lama, hampir gak ada obrolan atau konflik yang berhubungan dengan cemburu antara saya dan mas suami. Hingga beberapa hari lalu, Ade mengajak saya untuk nulis soal cemburu, khususnya cemburunya suami. Saya iyakan, tapi saya juga mikir. Kok kayaknya mas suami gak pernah cemburu ya sama saya?


Baca punya Ade:


Sesaat setelah mengiyakan ide Ade, saya langsung tanya ke mas suami.

"Yah, kok kayaknya ayah gak pernah cemburu sih sama aku? Padahal katanya cemburu tanda cinta lhooo"

Mas suami ketawa. Lalu jawab, "Soalnya sinok (panggilan sayang beliau ke saya) pandai jaga hatinya ayah"

Saya auto-ngakak denger jawaban beliau. Ya soalnya saya tau jawabannya tu setengah ngegombal 😂

Tapi kalo dipikir-pikir, iya juga sih #eeaaa. Lha gimana mau cemburu coba? Saya dan mas suami kerja di lembaga yang sama. Pulang-pergi bareng. Teman beliau adalah teman saya. Semua aktivitas saya bisa beliau pantau langsung.

Lagipula ya, kami bekerja di lembaga Islam yang memantau banget pergaulan antar-karyawannya, terutama lawa jenis. Jadi gak pernah ada cerita di kantor ada pria-wanita ngobrol asyik dan cekikikan bareng. Ya ngobrol sih tetep, tapi ada batasnya banget.

Jadi, di bagian mana suami saya harus cemburu?

Anehnya, sampai malam pun saya masih kepikiran soal ini 😅

Saya mikir, masa sih mas suami gak pernah cemburu? Kok hati saya semacam gak terima yaa kalo beliaunya gak pernah cemburu 😂

Yang saya lakukan berikutnya tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk mengorek ingatan, apakah mas suami pernah cemburu hanya mungkin saya lupa?! *ini semua gara-gara Ade!* 😂

Dan... berhasil nemu dong, YEAAYY!

Saya inget mas suami pernah cemburu sama driver gojek. Gara-gara saya memilih pulang duluan, dan naik gojeg, alih-alih ikut beliau naik mobil dan jemput ibu mertua dulu yang otomatis pulangnya akan jauh lebih sore.

Sampai rumah, beliau bilang, "Duh, istriku habis diboncengin orang lain ya tadi"

Saya melongo dong. Wajah beliau serius banget pula. Haha, berarti beliau cemburu.

Tiap saya dinas luar kantor dan di antar sopir, saya juga tau beliau cemburu. Beliau gak henti memantau saya melalui ponsel.

Cemburunya hanya semacam itu sih. Ya karna saya emang gak pernah lah sampai level chatt atau telfonan sama mantan. Hadeehh, jangan sampai lah.

Dari situ saya jadi menyimpulkan. Bukan hanya istri yang bisa cemburu. Suami pun pasti juga bisa cemburu. Tapi bentuk cemburunya biasanya beda.

Cemburunya suami cenderung masih pakai akal sehat. Beda sama cemburunya istri yang kadang kemana-mana gak jelas juntrungannya 😅

Jadi sebagai istri kita harus peka. Gak usah nunggu suami kita bilang 'aku cemburu' baru berusaha menjaga hati mereka.

Kalau suami buibu sekalian gimana, sering cemburu juga gak?

Senin, 01 Oktober 2018

Ibu Bekerja Tanpa ART, Gimana Caranya Agar Tidak Stress?



Saya pernah ditanya oleh seseorang. Jadi ibu bekerja dan tanpa ART di rumah, gimana caranya agar tidak stress? Gimana biar gak kepikiran kerjaan kantor saat di rumah dan kepikiran rumah saat di kantor? Gimana membagi waktunya untuk istirahat dan mengerjakan pekerjaan rumah?

Dan lain-lain, dan lain sebagainya. Macam wawancara saja.

Segala pertanyaan di atas juga pernah berputar-putar di kepala saya, terutama sebelum menikah. Masih mengurus diri sendiri saja saya merasa keteteran banget, sampai di kantor sering telat, lha gimana nanti saat sudah menikah dan punya anak ya?

Tapi nyatanya bisa kok 😍 Learning by doing.

Saya pernah sih merasa capeeekkk banget. Stress banget lah pokoknya menjalani peran sebagai ibu bekerja tanpa ART di rumah. Kok kayaknya kerjaan gak ada selasainya ya. Gak ada jeda sama sekali. Pulang kerja pengen leyeh-leyeh, harus nemenin Faza main. Setelah Faza tidur mau ikut tidur, ehh lihat setrikaan numpuk 😭

Tapi itu duluuu. Saat saya belum tau kunci agar tidak stress menjadi ibu bekerja tanpa ART.

Sekarang setelah saya tau kuncinya, Alhamdulillah perlahan-lahan hidup saya mulai tertata. Kerjaan kantor beres, kerjaan rumah stabil, kualitas istirahat oke. Kan katanya kalo ibu bahagia, suami dan anak juga pasti ikutan bahagia kan? 😊

Nah, di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang 3 kunci agar tidak stress menjalani peran sebagai ibu bekerja tanpa ART. Siapa tau di luar sana ada ibu bekerja tanpa ART yang sedang bingung harus gimana menata hidup, kayak saya dulu.

  • Bangun teamwork yang Oke dengan pasangan
Ini KUNCI UTAMA banget ya. Suami yang memutuskan untuk mengijinkan istrinya jadi ibu bekerja, dan memutuskan untuk sepakat gak pakai jasa ART, ya konsekuensinya harus siap bantu kerjaan rumah tangga

Lebih tepatnya bukan bantu sih. Kalau bantu kesannya kerjaan rumah tangga adalah kewajiban istri ya? Padahal sebenarnya ya kewajiban bersama kan 😊 

Intinya, jika kamu adalah seorang ibu bekerja tanpa ART di rumah, dan kamu ingin gak stress, maka tinggalkan jauh-jauh stigma 'kerjaan rumah tangga adalah kewajiban istri'. Bangun kerjasama dengan suami. Minta bantuan kalo emang gak sanggup ngerjain semuanya sendiri.

Saya dan suami Alhamdulillah sudah beres urusan ini. Udah gak pernah lagi ada eyel-eyelan soal 'aku ngerjain ini-kamu ngerjain itu'. Seperti sudah otomatis, siapa yang sempat ya sudah langsung aja dikerjakan.

  • Rendahkan ekspektasi dan Sub-kontraktor
Dulu saya sering stress gara-gara melihat tumpukan baju bersih yang belum dilipat atau disetrika. Kok rasanya gak pernah habis ya padahal saya sudah nyetrika setiap malam? 😭

Dll.

Maka, mari rendahkan ekspektasi kita jika kita adalah ibu bekerja tanpa ART di rumah yang gak pengen stress.

Lihat baju belum disetrika menggunung, tapi kok ngantuk. Yasudah tidur saja dulu. Nanti bangun dini hari, baru deh nyetrika. Atau, jangan lupakan tetangga yang bersedia menawarkan jasanya untuk menyetrikakan baju.

Pengennya sih masak tiap hari untuk suami dan anak. Tapi kok capeekkk banget yaaa 😭  Ya sudah sesekali beli lauk jadi pun gak langsung bikin gizi buruk laaah.

Pokoknya, beri pemakluman pada diri sendiri. Gak perlu dikit-dikit merasa bersalah. Berusaha tetap melakukan tugas kita sebaik-baiknya, tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri 😊

  • Lakukan hal-hal yang menjadi hobi kita
Sesekali, luangkan waktu untuk melakukan hal-hal di luar rutinitas kita, yang sekaligus menjadi hobi kita. Jadi ibu bekerja bukan berarti sudah gak waktunya lagi melakukan hobi lho. Melakukan hobi bisa menjadi saran merefresh pikiran dari segala rutinitas.

Misal kita suka baca buku. Ya meski cuma 15 menit sebelum tidur, baca buku kesukaan dulu. Atau merajut. Tiap weekend saat anak tidur siang, bisa banget tuh diisi dengan merajut. Sesuaikan saja dengan apa hobi dan kesukaan kita.

Sejak menerapkan 3 point di atas dalam hidup saya, Alhamdulillah saya sudah hampir gak pernah lagi stress menjadi ibu bekerja tanpa ART. Ya kalo jenuh tetep ada sih kadang. Manusiawi. Tapi penyebabnya bukan lagi tentang peran saya sebagai ibu bekerja yang gak punya ART di rumah.

Jika kamu ibu bekerja tanpa ART juga, dan punya cara lain agar tidak stress, share di kolom komentar yaa 😊

Rabu, 12 September 2018

#CeritaFaza: Faza 18 Bulan

Berasa udah lamaaaa banget gak nulis #CeritaFaza. Ternyata baru 3 bulan kok. (((BARU))). Hahaha.

Faza susah bgt difoto sekarang, Jadi ga punya stok foto dia sendirian yg bagus. Blur semua :(


Seperti biasa tulisan ini rangkuman cerita perkembangan Faza sejak usia 16 hingga 18 bulan.

Tiap nulis #CeritaFaza, saya selalu berpikir, beneran yaa ternyata, time flies. Waktu kok kayaknya cepet banget larinya. Kayaknya baru kemarin saya belajar nenenin Faza sembari menahan perihnya puting lecet. 

Ehh lha kok sekarang tiba-tiba udah lari-lari main bola, udah bisa diajak ngobrol pula. Huhu sungguh kuterharuu 😭

18 bulan adalah usia yang cukup bikin saya deg-degan. Kenapa? Karna usia ini merupakan red flag kemampuan berjalan bagi seorang anak. Jadi, kalo belum 18 bulan belum jalan, berarti 'ada yang salah' dan sebaiknya datang ke tenaga profesional untuk konsultasi.

Saya dega-degan mengingat Faza bisa merangkaknya aja telat banget kan. Usia setahun baru bisa. Nah, takutnya jalannya juga telat.

Ternyata Faza bikin surpraise banget buat ayah-ibunya, karna tiba-tiba bisa jalan dan langsung lancar di awal usia 16 bulan! 😍 Saya bilang tiba-tiba, karna beneran tiba-tiba banget.

Kemarinnya dia masih takuuttt banget disuruh coba jalan sendiri beberapa langkah dari saya menuju ke ayahnya gitu. Lalu malem seperti biasa saya sounding dia. "Nak, ayooo belajar jalan. Deadlinenya September yaa... kalo September belum bisa jalan, kita ketemu dokter".

Eh paginya saya suruh coba jalan, dia langsung mau dan BISA dan langsung lancar 😍 Masyaa Allah tabarakallah.

Selain jalan, di usia ini Faza juga Alhamdulillah udah mulai lancar diajak berkomunikasi. Kosakatanya udah mayan banyak. Dan kalo diajak ngobrol sudah nyambung, meskipun kadang jawabannya nyleneh.

Sukaaa banget sama cara dia berekspresi kalo lagi ngomong. Iyalah, anak sendiri masa' gak suka. Haha. Pengen banget bisa video-in kalo dia lagi ngomong, macam ibuk Retno Hening gitu. Tapi apalah daya, anak hamba kalo divideo atau difoto malah langsung cranky dan bernafsu merebut HP. Zzzzz 😞

Di samping semua kelucuan itu, adakalanya Faza labil bak ABG lagi PMS. Ayah-ibu serba salah. Kadang pengen ngakak, tapi gak jarang juga pengen salto ngadepin dia 😂

Salah satu contoh kelabilan itu, adalah ketika dia minta masuk kamar. Begitu masuk kamar ya saya buka jilbab lah pasti, Semarang panasnya to the max gitu, bisa buka jilbab adalah hal pertama yang pasti saya lakukan dong kalo udah di kamar.

Eeehh lha kok Fazanya tiba-tiba nangis teriak-teriak. Saya bingung dong. Kenapa pula ini anak -___-. Dia nangis sambil nunjuk-nunjuk kepala saya dan berkata, "baakk... bakkk...". Maksudnya "jilbab". Barulah saya mudeng, ternyata dia minta saya pakai jilbabnya lagi 😂😂😂

Jujur selain seneng melihat berbagai perkembangan Faza, saya juga kadang resah. Aduuuhh jangan terlalu cepat besar dong, nakk... nanti gak lucu lagi. Nanti ibu kangen kamu hari ini T__T. Cuma ayahnya sewot tiap saya ngomong gitu.

Pikiran macam apa itu, kata blio. Kalo Faza gak lucu lagi, ya nanti kan ada adeknya yang lucu lagi. Eeerrr -___-. Tapi ya saya aminkan sih 😊

Baiklah. Sampai jumpa di #CeritaFaza berikutnya. Saya gak yakin sih ada yang minat baca tulisan ini 😂


Rabu, 05 September 2018

#BincangKeluarga: 5 Perlengkapan Bayi Yang Tidak Terlalu Penting Untuk Dibeli

Namanya juga orangtua baru yah. Semua-mua rasanya bikin excited. Mulai dari USG, ngrasain gerakan pertama si janin, termasuk belanja perlengkapan bayi ketika udah dekat HPL.

Waktu pertama kali datang ke baby shop untuk belanja buat Faza dulu, rasanya pengen deh dibeli semua. Alhamdulillahnya sih saya masih ingat ya kalau uang yang kami punya terbatas 😂 Dan untungnya lagi sebelum belanja kami udah bikin list barang apa aja yang harus kami beli.

Baca juga: Daftar Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Tapi ternyata, udah bikin list pun -- yang mana list tersebut kami bikin berdasarkan hasil baca banyak artikel tentang apa saja perlengkapan bayi yang harus dibeli -- pada akhirnya masih ada beberapa barang yang hampir gak kepake sama sekali. Misal gak dibeli pun rasanya gak ngaruh apa-apa.

Nah, berdasarkan pengalaman itu, di seri #BincangKeluarga kali ini, saya dan Ade bikin list 5 Perlengkapan Bayi Yang Tidak Terlalu Penting Untuk Dibeli.


Baca punya Ade:


1. Bouncer

Setiap melihat bouncernya Faza, saya pengen ketawa ngenes 😂 Dulu sebenernya kami gak punya budget untuk beli bouncer. Tapi saya pengen banget beli. Sempet udah berdamai sama diri sendiri, yaudahlah gak usah beli bouncer gak papa. Cuma rasanya masih pengeeeenn banget. Sedih banget lah pokoknya, masa anak pertama bouncer aja gak beli.

Sampai pada akhirnya, ada rejeki dari arah yang gak terduga-duga, dan nominalnya pas banget kalo buat beli bouncer, meskipun bukan merk yang sebelumnya saya idamkan. Okelah, akhirnya kebeli. Seneng banget.

Begitu Faza lahir, lha kok bouncernya gak kepake amat ya. Entahlah rasanya bingung kapan mau makenya. Pas berjemur pagi mau ditaruh bouncer, tapi sayanya lebih seneng mangku si Faza langsung.

Akhirnya bouncer hanya teronggok menjadi tempat gundukan baju Faza yang baru diangkat dari jemuran 😂

2. Kasur bayi

Ini juga awalnya suami bilang gak perlu. Tapi saya ngotot. Haha, iya, saya suka ngotot emang 😅

Maksudnya kasur bayi yang jadi satu sekalian ada kelambunya itu lho. Saya pikir ini penting banget lah, kan biar si dedek gak digigit nyamuk ya. Eh ternyata cuma kepake gak lebih dari 2 minggu 😑

Mending di bobok-in langsung di kasur yang sama dengan saya udah. Lha kalo ada tambahan kasur bayinya, berasa jadi sempit tempat tidurnya. Entahlah pokoknya terasa gak praktis.

Iya sih masih agak berguna kalau sewaktu-waktu mau bobokin Faza di tempat yang gak ada kasurnya. Tapi menurut saya kasur bayi gak dibeli pun gak papa. Tidak terlalu penting.

3. Gurita

Gurita juga kepake gak lebih dari dua minggu. Padahal udah beli banyak. Hahaha.

Kenapa kepake hanya dua minggu? Ada beberapa alasan lah pokoknya.

4. Bedak bayi & Parfum bayi

Bedak bayi yang saya beli buat Faza akhirnya gak terpakai sama sekali dan saya kasih ke tetangga. Soale kalo dipakein bedak bayi, kulitnya malah sering merah-merah. Lagian ngeri aja, takut kehirup dan masuk ke hidungnya.

Terus parfum juga gak pernah saya pakein. Gak tau ya, rasanya kasian aja, anak bayi dikasih wewangian macem-macem. Padahal bajunya juga udah wangi kan, wong dicuci pake pewangi. Kadang disetrika juga pake pelembut. Masak iya masih harus pake parfum lagi. Padahal bau badan alami bayi bukannya sedep kan.

5. Nail Care Set

Ya Allah mak, si bocah mau dipotongin kukunya sampai selesai dan tetap tenang aja udah Alhamdulillah banget. Jadi nail care set di saya yang kepake ya bener-bener cuma potongan kukunya. Yang lain-lain sama sekali gak sepake 😂

Eniwei, barang-barang di atas saya katakan tidak terlalu penting untuk dibeli itu dari sudut pandang bener-bener subjektif yaa. Jadi, tidak penting untuk saya bisa jadi penting banget untuk ibu-ibu yang lain 😊

Nah, boleh dong di share, kalo perlengkapan bayi yang tidak penting untuk dibeli menurut ibu-ibu apa sih? Siapa tau bisa bahan pertimbangan ulang saat akan membeli bagi para calon ibu yang lain 😊

Senin, 27 Agustus 2018

Nifas Tak Kunjung Selesai


Salah satu kegalauan saya setelah melahirkan dulu, adalah masa nifas saya yang tak kunjung selesai. Bodohnya, saya gak sesegera mungkin mendatangi tenaga medis untuk mencari solusi. Saya hanya terus menenangkan diri -- kalo istilah orang jawa 'ngayem-ngayemi' diri sendiri dengan berkata dalam hati, "Ah, gakpapa. Besok juga berhenti sendiri".

Menjelang 40 hari, darah nifas saya udah tinggal dikit-dikit keluarnya. Saya udah seneng. Yess bentar lagi nifasnya selesai! Apalagi mas suami *eh

Eh ternyata, sampai 40 hari bahkan lebih, darahnya masih terus keluar. Meski hanya berupa flek, seperti saat hari-hari terakhir menstruasi. Saya masih tenang, karna dari hasil googling, memang ada orang yang nifas hingga 60 hari.

Saya mulai galau dan harap-harap cemas, ketika mendekati 60 hari, flek masih tak kunjung berhenti. Bahkan ketika sudah lebih dari 60 hari pun saya masih terus flek.

Karna sudah lebih dari 60 hari, maka saya mulai sholat, dengan cara membersihkan setiap hendak sholat. Karna hukumnya udah berubah jadi darah istikhadhoh (darah penyakit) kan.

Galau saya jelas makin menjadi-jadi. Saya parno mikir yang enggak-enggak. Mas suami menenangkan. Lalu mengajak saya untuk priksa ke dokter kandungan saja. Biar gak hanya berspekulasi terus-terusan.😭

Akhirnya saya datang ke tempat praktek seorang dokter kandungan perempuan, yang letaknya gak jauh dari rumah saya. Namanya dokter Kartika, Sp.Og. Setelah menjelaskan keluhan beserta riwayat singkat persalinan saya,  dokter Kartika memeriksa saya dengan alat USG.

Lalu beliau menjelaskan, sembari menunjuk layar USG, bahwasanya masih ada sisa jaringan plasenta di rahim saya. Dan itu memang menyebabkan pendarahan tidak kunjung berhenti.

Jelas saya langsung parno. Saya tanya, apakah itu bahaya, dan bagaimana cara mengatasinya.

"Ini saya kasih obat dulu. Kalau darahnya berhenti, Alhamdulillah, berarti masalah selesai. Kalau ternyata tetap gak berhenti berarti harus dikuret," kata dokter Kartika.

Huaaaa, rasanya pengen nangis saat itu juga. Sudah ngeri membayangkan akan dikuret 😭 Tapi mas suami terus menenangkan.

Singkat cerita, Alhamdulillah setelah 3 hari minum obat, darahnya berhenti. Leganya tak terkira! Setelah obat habis, saya kembali kontrol ke dokter Kartika untuk memastikan lagi. Setelah di USG, dokter Kartika bilang bahwa sisa jaringan plasentanya sudah bersih. Jadi gak perlu dikuret. Alhamdulillah 😭

Apakah setelah itu masalah selesai? Ternyata belum 😭

Selang seminggu, saya flek lagi. Duh, jangan ditanya saya kalutnya kayak apa. Tanpa pikir panjang, saya ke dokter kandungan lagi. Tapi kali ini saya gak ke dokter Kartika lagi, melainkan ke dokter Retno di RSIA Kusuma Pradja -- tempat saya priksa rutin selama hamil.

Baca juga: Catatan Kehamilan

Saya menceritakan semua kronologi kasus saya secara detil, sejak persalinan, hingga diagnosa sisa jaringan plasenta yang katanya sempat tertinggal, dll.

Lagi-lagi, saya di USG. Dokter Retno bilang, rahim saya udah bersih dan kembali ke ukuran normal. Lalu memberikan diagnosa lain, yaitu gangguan hormon. Hadehh, apalagi itu, pikir saya 😂

Kata beliau, hal seperti ini memang terjadi pada beberapa ibu pasca melahirkan. Beliau lalu memberi saya obat untuk menstabilkan hormon. Katanya, setelah minum obat ini, darah biasanya akan berhenti, tapi selang seminggu saya akan menstruasi. Setelah itu, Insya Allah siklus saya akan kembali normal.

Ternyata benar, setelah minum obat dari dokter Retno, fleknya berhenti. Lalu selang seminggu saya menstruasi. Tapiii... bulan berikutnya saya gak menstruasi. Stress lagi. Haha. Saya coba testpack, hasilnya negatif. Ternyata hingga 10 bulan ke depan saya gak juga mens. Dan Alhamdulillahnya bukan karna ada yang salah, tapi karna saya masih menyusui.

Huuftt, panjang yaa ceritanya. Tujuan saya cerita ini, biar jika ada teman-teman yang mengalami kasus serupa, gak panik dan parnoan dulu seperti saya. Secepatnya datang ke tenaga medis aja 😊

Menurut situs alodokter.com ada beberapa penyebab jika darah nifas tak kunjung berhenti, antara lain:
  • efek penggunaan KB
  • Infeksi pada rahim
  • sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim
  • kontraksi rahim yang tidak adekuat
  • gangguan hormonal
Sekian cerita masa lalu saya 😆 Semoga ada manfaat yang bisa diambil bagi siapapun yang membaca. Aamiin 😊

Rabu, 08 Agustus 2018

#BincangKeluarga: Pertemanan Setelah Menikah

Sebenernya udah pernah nulis soal ini sih di rosasusan.com

Cuma kayaknya seru juga kalo tema ini dijadikan tema #BincangKeluarga minggu ini.



Baca Punya Ade:


Saya sebenarnya bukan tipe orang yang temannya buanyaakk. Bisa dibilang saya cukup pemilih untuk urusan teman. Milih yang bener-bener nyaman dan klik, karna pada dasarnya saya ini kurang supel dan gak gampang akrab sama teman baru.

Maka dari itu, saya tipe yang temannya itu-itu aja. Jadi, sejak SD hingga kuliah, saya selalu punya sekelompok teman dekat yang kemana-mana ya sama mereka terus. Bahkan ada yang sampe level kayak sodara saking deketnya.

Sama para teman rasa saudara ini, kami pernah saling merajut mimpi. Merawat pertemanan sampai kapanpun, sampai nanti masing-masing dari kami sudah bawa pasangan dan anak masing-masing.

Realisasinya?

Susah sekali yaaa ternyata! Lulus SMA, kita punya dunia baru di kampus masing-masing. Punya kepentingan sendiri-sendiri, termasuk punya teman-teman baru yang gak kalah akrabnya. Mau bikin janji ketemu sama teman SMA, duh lha kok ternyata syusyah sekaliii atur jadwal supaya match antara satu dengan yang lain. Huhu.

Padahal itu masing sama-sama single. Lha apalagi kalo sudah sama-sama menikah? Makin ribet urusannya, karna sudah bukan lagi tentang antara kita dan teman kita.

Apalagi dalam kasus saya, 2 teman dekat saya saat SMA adalah laki-laki. Dulu sih udah kayak kakak-adek banget ya. Udah sama sekali gak kepikiran macem-macem lah. Pokoknya kami adalah sahabat. Titik.

Beda cerita saat kami sudah sama-sama punya pasangan seperti saat ini. Ada hati pasangan kami yang harus dijaga. Jangankan mau ketemuan, mau sekedar menyapa melalui WA aja saya mikir-mikir dulu. Karna bisa jadi buat saya itu sekedar sapaan biasa. Tapi mungkin bisa dianggap beda kan jika sapaan itu dibaca istrinya, atau suami saya -- meski baik suami saya maupun istri teman saya sama-sama tau, dan kami semua saling mengenal.

Saya lebih memilih untuk berhati-hati sekali soal pertemanan dengan lawan jenis, setelah menikah. Karna, ya, mungkin pertemanan memang harus dirawat. Tapi merawat pernikahan jauuhhh lebih prioritas bagi saya. Bodo amat kalo ada yang bilang saya terlalu kaku, dll.

Nah, beda cerita kalo sama beberapa teman dekat saat kuliah. Selain semua teman dekat saya saat kuliah adalah perempuan, beberapa dari kami juga masih tinggal satu kota hingga hari ini. Beda sama teman SD, SMP dan SMA.

Sekali waktu, kami menyempatkan bertemu. Seringnya sih makan bareng.

Alhamdulillahnya, dengan teman-teman kuliah yang ini, pertemanan kami bukan saja tentang diri kami sendiri. Setiap ketemuan, kami pasti ngajakin pasangan untuk ikut gabung. Jadi suami-suami kami pun jadi berteman. Bisa dibilang ini mendekati idelaisme kami soal pertemanan 😍

Yah meski momen kayak gitu langkaaa banget ya terjadinya. Lagian kalo sering-sering juga gak seru jadinya.

Sering curhat soal masalah rumah tangga gak sama sahabat atau teman dekat?

Alhamdulillahnya enggak. Saya ke mereka enggak, mereka ke saya pun enggak. Bukan karna kami gak saling percaya, Insya Allah. Tapi karna kami sama-sama paham, bahwa kami punya kewajiban untuk menjaga aib rumah tangga kami masing-masing.

Jadi intinya, menurut saya pertemanan setelah menikah adalah pertemanan yang sarat dengan rule dan batasan.

Menurut kalian gimana?

Rabu, 01 Agustus 2018

Tentang Keputusan Nambah Anak

Beberapa kali pulang kampung, saya selalu dikejutkan dengan kabar kehamilan kedua dan ketiga beberapa tetangga. Yang terakhir, saya dikejutkan oleh kehamilan kedua tetangga saya yang usianya masih muda sekali. Jauh lah sama saya. Padahal anak pertamanya juga gak selisih jauh dengan Faza.


Kenapa harus kaget? Toh dia hamil ada suaminya! Gitu kata kakak saya yang merupakan si pembawa berita. Wkwk.

Yaiya juga sih. Tapi, pikiran saya kan gak sekedar tentang itu. Hamil (bagi saya) gak sesederhana itu.

Gini. Saya kaget karna... kok mereka berani banget ya ambil keputusan nambah anak. Kok kayaknya enteng banget gitu. Tanpa beban. Kira-kira apa pertimbangan mereka saat memutuskan untuk nambah anak, dan akhirnya bikin mereka mantap. dll dll.

Pertanyaan-pertanyaan itu lho yang seketika datang saat denger kabar kehamilan mereka-mereka itu.

Jujur aja saya kadang udah pengen nambah anak lagi. Tapi masih takut. Dan merasa sama sekali belum siap dari berbagai faktor. Ekonomi, manajemen waktu, manajemen emosi, dll.

Terus kadang saya mikir. Mereka itu kalo punya anak apakah pernah pusing juga mikirin milestone-nya anak, mikir tekstur MP-ASI anak, biaya masuk SD anak nanti, dll gitu gak sih? Lalu pernah diskusi panjang kali lebar tentang macem-macem teori parenting gitu gak sih?

Kata kakak saya sih, ya jelas enggak lah!

Lalu saya mellow. Sedih aja bayangin anak-anak (yang seharusnya) bisa jadi generasi gemilang itu harus tumbuh dengan kurang maksimal, karna orangtuanya gak bener-bener tau gimana peran dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak.

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Bukannya saya sok gimana ya kalo mikir gitu 😟 Saya kepikiran gitu karna melihat fakta tentang kesadaran soal pendidikan yang masih cukup memprihatinkan di daerah saya, dan gak menunjukkan perbaikan yang signifikan sejak bertahun-tahun berlalu.

Tapi saya buru-buru istighfar.

Kalo dipikir-pikir, orangtua saya juga bukan tipe orangtua yang mikirin macem-macem secara detail saat berencana punya anak. Buktinya, Alhamdulillah saya dan kakak saya bisa melangkah sejauh ini (meski gak jauh-jauh banget juga sih 😂).

Cuma sebelah hati saya bilang, tapi saya gak pengen lah anak saya 'hanya' akan seperti saya. Saya pengen dia jadi generasi yang jauh lebih baik dari saya. Makanya saya berusaha membuat perencanaan yang lebih baik soal anak.

Intinya, kadang mikir terlalu detail juga bikin mumet ya. Bikin gak berani melangkah. Dan yang paling sedih, sering bikin lupa bahwa selalu ada pertolongan Allah jika kita selalu bergantung pada-Nya.

Orang-orang dengan pola pikir sederhana seperti para tetangga saya itu, mungkin lebih tentram ya hatinya. Hamil ya hamil aja. Karna mereka yakin anak kan bawa rejekinya masing-masing. Allah pasti bantu.

Yatapi, kita kan juga wajib ikhtiar sebaik mungkin ya. Gak cuma pasrah.

Cuma, saya kadang mikir. Bapak-ibu saya mungkin juga gak pernah bayangin akan mampu menguliahkan 3 anaknya suatu saat, karna pada masa itu buat makan pun kadang nge-pas banget. Tapi toh nyatanya mereka mampu kan? Alhamdulillah. Dari mana? Pertolongan Allah. Tapi di balik itu, bapak-ibu saya jungkir balik ikhtiarnya.

Kok lama-lama tulisan ini makin gak jelas ya 😂 Jadi semacam perdebatan antara setan dan malaikat di sinetron-sinetron gitu.

Jadi gimana harusnya? Hamil ya hamil aja, atau harus benar-benar direncanakan dan dipikirkan secara matang?

Kalian gimana?

Rabu, 18 Juli 2018

Tentang Membahagiakan Anak


Sejak sebelum punya anak -- sebelum menikah bahkan -- saya selalu bertekad bahwa anak saya harus jauh lebih bahagia dibanding saya ketika kecil. Bukan berarti saya gak bahagia. Tapi harus saya akui bahwa 'saya kecil' tumbuh bersama banyak kekecewaan.

Bapak-ibu saya orang desa, dengan tingkat pendidikan rendah. Jadi saya memaklumi dan sepenuhnya memaafkan mereka jika pola asuh mereka pada saya ternyata banyak yang dipandang gak sesuai dengan ilmu parenting yang saya pelajari hari ini.

Contohnya saja, soal membanding-bandingkan anak dengan anak lain. Ibu saya dulu hobi sekali membandingkan saya dengan sepupu atau teman sepermainan.

"Nyapu to, Nduk... Lihat itu si A, rajin sekali bantu ibunya". Kalimat-kalimat semacam itu sering saya terima. Hasilnya, saya gak jadi rajin seperti si A, tapi malah semakin dongkol dan semakin enggan membantu. Hahaha.

Yah, yang semacam-semacam itu, pengen sekali saya rombak di pola pengasuhan saya pada anak. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan pola asuh orangtua saya ya. Bukan. Ini tentang mengambil pelajaran dari pengalaman.

Saya juga selalu berharap bisa memberikan kebahagiaan melalui pemenuhan kebutuhan dan pemberian sebanyak mungkin pengalaman positif untuk Faza. Mengingat dulu, saya sedih ketika teman sekelas saya saat TK menerima majalah langganan, sedangkan saya tidak. Di rumah ibu menjelaskan, bahwa ibu gak punya cukup uang untuk ikut berlangganan majalah untuk saya.

Tapi, saya gak pengen membahagiakan anak saya dengan hal-hal yang kurang ada manfaatnya. Apalagi kalo kurang ada manfaatnya, sekaligus terlalu banyak membutuhkan biaya. Big no. Anak saya harus menjadi anak bahagia yang sederhana.

Libur lebaran kemarin, saya dan kakak-kakak mengajak anak-anak kami ke sebuah Swalayan yang di dalamnya terdapat arena bermain anak. Sementara sepupu-sepupunya asyik mencoba berbagai wahana, saya hanya menemani Faza berjalan ke sana-kemari melihat apapun yang tampak sangat menarik baginya.

Lalu kakak saya menegur. Menyuruh saya mengajak Faza mencoba permainan yang sesuai usianya. Bahkan beliau menawari untuk membayarinya. Tapi saya menolak.

Pertama, saya merasa Faza belum butuh diberi kebahagiaan lewat wahana-wahana bermain semacam itu. Dia sedang ada di masa sangat tertarik mengamati sekitar. Nah, saya cukup memfasilitasinya dengan menemaninya berjalan mengelilingi swalayan -- termasuk wahana bermain tersebut. Dan dia sudah tampak sangat berbinar-binar.

Kedua, akan ada masanya dia tertarik dan meminta mencoba salah satu wahana seperti itu. Karna saat ini dia sudah sangat bahagia hanya dengan mengamati, yasudah gak perlu lah buru-buru menyuruhnya mencoba.

Ketiga, diam-diam saya berharap Faza gak terlalu tertarik sama wahana-wahan permainan semacam itu sih sampai dia besar nanti. Biar hemat. Xixixi.

Intinya, saya pengen membahagiakan Faza (dan adek-adeknya) sekaligus ingin melihat mereka menjadi pribadi yang sederhana dan bisa berbahagia dengan hal-hal yang sederhana tersebut. Saya gak pengen mereka bahagia hanya dengan alasan-alasan yang sifatnya selalu materiil.

Yah, begitulah. Sebagai orangtua baru, tentu saja saya masih meracik dan meramu cara yang tepat untuk bisa mencapai hal tersebut. Mengamati sebanyak mungkin contoh, lalu mengambil yang baik-baik dan memodifikasi yang kurang pas. Membaca pengalaman orang lain, termasuk membaca buku tentang ini.

Beberapa waktu lalu, saya membaca instastory Mbak @irrasistible tentang buku "The Danish Way Of Parenting" terbitan Bentang Pustaka. Dari situ, saya juga jadi tau bahwa ternyata Denmark merupakan salah satu negara dengan indeks kebahagiaan paling tinggi. Saya langsung gatel pengen baca buku itu.

Selang beberapa hari, eh Mbak Chi Cerita tentang buku ini di salah satu blogpostnya. Ternyata, salah satu kunci kenapa Denmark bisa mempertahankan prestasinya sebagai Negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi selama bertahun-tahun terletak pada pola pengasuhannya pada anak, atau dikenal dengan metode parenting Denmark.

Saya harus banget baca buku itu deh kayaknya, demi agar bisa segera menemukan ramuan yang PAS untuk mencapai #lifegoals soal menjadikan anak-anak saya pribadi yang bahagia.

Semoga rejeki saya untuk bisa punya buku ini 😊

Kalau kalian punya tips yang berkaitan tentang ini untuk saya, ayoo jangan sungkan share yaa. Saya akan dengan senang hati menerimanya 😘


Rabu, 11 Juli 2018

#BincangKeluarga: Problematika Menjadi Ibu Baru

Menjadi ibu baru merupakan salah satu part hidup yang paling memorable bagi sebagian besar perempuan. Sebuah peran yang seolah memaksa kita untuk menjadi pribadi baru.

Menjadi istri mungkin juga iya. Tapi sebagai istri, kita masih bisa merajuk dan meminta suami yang memahami dan menerima kita apa-adanya. Tapi sebagai ibu, gak mungkin kita menuntut anak kita yang memahami kita.

"Duh, bentar dong dek, jangan minta nenen dulu, ibu masih ngantuk!" -- gitu? Gak mungkin kan 😅

Yang bikin peran sebagai ibu baru memorable, mungkin salah satunya adalah problematikanya.

Jadi kalian para calon ibu baru, saya kasih tau yaa... jangan dikira jadi ibu baru itu isinya hanya penuh romantika. NO! Jangan harap, atau kalian akan kecewa 😂

Tapi ya gak usah parno juga sih. Santai saja. Nah, biar para calon ibu baru nanti gak kaget menghadapinya, saya dan Ade mau cerita nih tentang problematika apa saja yang kami hadapi saat menjalani peran sebagai ibu baru. Jadi biar lebih siap. Dibaca yuukk 😊

Baca punya Ade:



1. Adaptasi Oh Adaptasi

Tadinya, ngantuk tinggal tidur. Laper tinggal maka. Bosen di rumah tinggal jalan-jalan.

lalu tiba-tiba ada sesosok makhluk kecil nan lemah dan tak berdaya, yang menggantungkan hidup sepenuhnya sama kita. Yang kalau laper nangis sejadi-jadinya menuntut kita untuk menyusui, gak peduli seberapa ngantuk diri kita sendiri.

Yang kalo kita lagi laper banget dan baru akan menyendok nasi, tiba-tiba tanpa permisi malah BAB dan mau gak mau harus kita bersihkan.

Yang wajahnya akan terus membayangi, saat kita keluar sebentar ke Alfamart hanya demi ingin sejenak melihat dunia luar.

Saat hamil, kita sering ngrasa udah kenal banget sama bayi dalam perut kita ya. Kalo diajak ngobrol, lalu dia merespon dengan tendangan, kita akan makin ngrasa dia paham apa yang kita bicarakan. Dia anak baik dan pintar yang selalu mengerti ibunya.

Jangan kaget, ketika akhirnya dia lahir, dan saat itu semuaaa keromantisan itu tiba-tiba menguap. Ketika dia menangis tak henti tanpa kamu tau apa yang dia pengen, meski kamu sudah berusaha menimang, ngajak ngobrol, dll. Lalu kita jadi blank. Semua teori hilang tak berbekas seketika 😂

Maka, adaptasi adalah problematika pertama. Mau gak mau, siap gak siap. Hidup kita kini bukan lagi tentang diri kita sendiri.

2. Mabok Teori

Begitu ketauan hamil, salah satu hal yang paling rajin saya lakukan adalah membaca banyaakkk sekali artikel tentang parenting. Gak ada yang lebih menarik dari tema tersebut kayaknya.

Menjelang HPL, saya bersorak-sorai dalam hati. Yeayy, bentar lagi saatnya mempraktekkan semua yang sudah saya baca!

Begitu bayinya lahir, TET TOOOTTT... situasinya jauuuhhh sama yang sudah saya rancang dengan baik. Kondisi fisik yang gak kunjung pulih setelah melahirkan dan ASI yang keluarnya cukup lama adalah dua kondisi yang sudah cukup membuat segalanya terasa jauuhhh dari segala teori yang sudah saya baca.

Sebenernya udah jadi rahasia umum ya. Yang namanya teori itu, gak selalu sejalan sama prakteknya. Apalagi yang namanya hidup. Susah banget kalo harus sesuai terus sama teori.

Tapi namanya juga ibu baru, dan udah terlanjur mabok teori. Menerima kenyataan bahwa gak semuanya harus sesuai sama teori itu bisa jadi satu problematika sendiri loh. Dibutuhkan pikiran yang adem dan hati yang lapang.

3. Idealis

Ini bisa dibilang dampak dari point kedua ya. Gara-gara kebanyakan teori, ibu baru biasanya idealis sekali.

Idealis itu bukan hal buruk sih. Tapi kadang juga bisa jadi problematika baru bagi ibu baru.

Kok bisa jadi problematika?

Misal nih, saya dulu kekeuh pengen bertekad Faza makannya harus full homemade, dan no gulgar. Minimal sampe usia setahun. Ehh tiba-tiba ada satu kondisi dimana saya belum sempat masak dan Faza sudah harus makan. Lalu ayahnya membelikan bubur bayi sehat yang sedang menjamur itu.

Saya cicipi, ternyata ada rasa asinnya meski dikiitt banget. Tapi Fazanya lahap banget 😭 Pas berdua di kamar sama mas suami aja, saya nangis sejadi-jadinya. Nangis karna idealisme saya harus terpatahkan gara-gara Faza makan bubur beli di luar dan pake garam.

Nah, ini nih yang jadi problematika. Idealisme sebenernya gak masalah. Cuma kadang idealisme bikin kita sedih, merasa bersalah, stress, dll ketika kita ada di situasi yang serba gak ideal.

4. Serba Salah

Namanya juga ibu baru ya. Pasti masih minim banget pengalaman lah. Masih serba coba-coba. Masih dalam tahap trial & error macem-macem teori yang ada di kepala.

Masalahnya, gak semua orang yang ada di sekeliling ibu baru itu paham dan maklum sama ini. Alhasil, seringkali ibu baru dibikin serba salah.

Mau mandiin bayi newborn misalnya. Duh kok takut yaa pegang bayi yang masih kecil banget. Trus ada yang komentar, ayoo dong nyoba. Kalo gak nyoba kapan bisanya.

Begitu nyoba, eh adaaaa aja yang salah caranya. bikin makin grogi.

Apalagi sebagai ibu baru yang udah baca banyaaakkk sekali ilmu parenting. Kadang ini juga bisa jadi sumber problematika baru ketika orang-orang di sekitar kita tipe yang masih menjunjung tinggi cara yang dipakai sejak nenek moyang -- yang kadang udah gak relevan.

Pokoknya banyak-banyak minum es biar tetep adem. Haha.

5. Baby Blues

Babyblues bisa dibilang merangkum keseluruhan problematika dari point pertama sampe keempat. Saya gak akan bahas panjang, karna saya merasa belum punya kapasistas untuk bahas ini.

Tapi kalo boleh saya kasih saran, pliss kalian para calon ibu baru, baca juga soal ini yaa. Biar nanti bisa lebih aware ketika ada yang gak beres sama diri kita setelah menjadi ibu baru. Suruh juga suami kalian baca. Biar dia bisa jadi support system yang oke buat kalian.

Baca juga: Begini Ternyata Rasanya Baby Blues

Pokoknya, menjadi ibu baru itu harus punya segudang stok sabar. Harus punya hati seluaaasss lapangan. Akan ada problematika demi problematika yang mau gak mau harus kita hadapi.

Jadi jangan dikira menjadi ibu baru itu isinya akan manis-manis saja ya. Jangan dikira hanya akan ada bahagia melihat anak tumbuh sehat, ceria, ganteng/cantik, pinter, dll. Kehadiran mereka juga akan menjadi triggers untuk banyaakkk problematika.

Etapi jangan jadi enggan belajar dan baca teori-teori parenting yaaa gara-gara baca tulisan ini. Belajar sih tetep HARUS! Penyikapannya aja yang perlu ditata 😊

Baca juga: Tips Untuk Calon Ibu

Jangan lupa bahagia yaaa buibu semuaaa 😘

Senin, 02 Juli 2018

Ketika Bingung Puting Menghantui

kayak baru kemarin bingung puting, sekarang anaknya udah bisa push-up =D

Hampir semua ibu baru di era milenial ini, sepertinya pasti sempat dihantui ketakutan bayi kita akan bingung puting ya? Eh, terutama ibu bekerja sih. Kalo ibu full-time di rumah nemenin anak, mungkin gak akan seberapa takut karna kan bisa direct-breastfeeding 24 jam.

Jangan ditanya dulu saya takutnya kayak apa. Apalagi ASI saya keluarnya cukup lama kan -- 10 hari. Jadi ya mau gak mau Faza udah kenal dot di usia 5 hari. Gimana gak ngeri dia bakal bingung puting coba 😭

Baca juga: Bicara ASI, Bicara Rizki

Jadi combo banget. ASI belum keluar. Lalu stress takut Faza bingung puting gara-gara ASI gak kunjung keluar. Makin seret lah ASI-nya. Lingkaran setan banget 😂

Kenapa langsung dikenalin dot? Kenapa gak pake soft cup feeder atau disendokin?

Waktu hamil sempet sih mimpi pengen idealis: Faza minum ASIP-nya pake soft cup feeder aja, gak boleh pake dot! Tapi setelah lihat harga soft cup feeder di babyshop dan onlineshop, kulangsung keder. Dan tentu berubah pikiran seketika 😂

Entah kebangetan hemat atau kebangetan pelit ya saya ini. Idealisme saya bisa runtuh seketika saat melihat harga 😂 Jadi sebenernya saya emang udah beli dot sebelum Faza lahir. Cuma gak nyangka aja dia harus kenal dot di usia 5 hari 😔

Kenapa gak disendokin?

Sudah, sist, sudah. Pake sendok kecil. Bisa bayangin gak seberapa banyak stok sabar yang harus tersedia? Nyuapin susu pake sendok harus pelan-pelan kan, biar dia gak tersedak. Tapi bayi mana peduli. Yang dia tau, dia laper, dan disuapin pake sendok itu gak kunjung bikin dia kenyang. Nangis lah pasti. Haha. Jadi pake sendok cuma tahan 2 hari.

Harusnya tetep terus dineneni, biar ASI cepet keluar!

Ini sih udah banget. Soal teori ini udah khatam lah saya Insya Allah. Jadi dulu saya tuh ngasih dot ke Faza kalo Faza udah lapeeeerrr banget, yang ditandai dengan rewel atau gak bisa tidur. Kalo belu, ya bakal saya sodorin puting terus 😅

Jadi, sempet bingung puting gak?

Bingung puting banget sih Alhamdulillah belum ya. Tapi sudah sempat ada gejala-gejala ke arah sana. Semenjak kenal dot, tiap saya sodori puting, Faza pasti nangis kejer dulu. Ngamuk.
Ya saya paham sih. Ngenyot puting berjam-jam gak bikin kenyang (karna saat itu ASI belum keluar), sedangkan ngenyot dot gak ada 15 menit udah bisa bikin dia tidur nyenyak kekenyangan. Saya belum lupa sampe sekarang rasanya melihat Faza bisa tidur nyenyak karna dot (bukan karna saya). Periiiihhh, mak 😭

Pernah suatu saat, Faza nangis pengen nenen. Lalu saya sodori puting, dan nangis jejeritan. Saya ikutan nangis sejadi-jadinya sambil liatin Faza nangis 😂

Lalu masih sambil nangis, saya bilang, "Ayolah, Nak... bantu ibu! Kalo kamu gak mau nenen ibu, nanti ASI-nya ibu gak akan keluar. Ibu mohon, bantu ibu..." ngomong gitu terus-terusan, diulang-ulang. Sampe akhirnya Faza berhenti nangis (mungkin capek, haha), dan AMAZING-nya, dia mau nenen saya! 😍 Entahlah mau nenennya gara-gara putus asa yang penting bisa ngenyot sesuatu, atau karna ngerti tadi saya ngomong apa 😂

Baca Juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Setelah ASI keluar, Alhamdulillah Faza gak bingung puting lagi, karna dot langsung saya stop. Masalah muncul ketika menjelang cuti saya habis. Faza gantian nangis kejer tiap dikasih dot 😂

Dan Amazing-nya lagi, hari terakhir saya kasih dot Faza masih kekeuh gak mau, nangis jejeritan, eh paginya saya tinggal kerja, dikasih dot sama budhe yang momong langsung mau kayak gak pernah ada apa-apa. Allahu Akbar!

Kok bisa gitu sih? Apa tipsnya? *yakalik ada yang minta tips 😂*

Berikut usaha yang terus saya lakukan selama masa cuti:
 
- BERDOA. Yaiyalah. Ini harus jadi usaha pertama. Kan senjatanya orang beriman itu doa, to? Jadi jangan dianggap remeh dong.

Saya terus berdoa, seringnya sambil memandangi wajah Faza, agar Allah mengijinkan saya menyusui Faza hingga 2 tahun. Biar Faza gak bingung puting, sekaligus mau minum pake dot ketika saya tinggal kerja.

- SOUNDING. Tadinya sempet ngrasa 'ih apaan sih ngomong sama bayi, emang dia ngerti' gitu pas awal-awal. Tapi saya membuktikan sendiri betapa sounding sangat punya dampak.

Setiap Faza nenen, mulut saya gak berhenti ngedumel. Bilang 'Faza, nanti kalo ibu sudah masuk kerja, Faza minumnya pakai dot ya. Nah, kalo lagi sama ibu, nenen ibu lagi, gak usah pakai dot. Oke, Nak?! Kita doa sama-sama ya, semoga ASi-nya ibu banyak bla bla bla...'. Pokoknya ngomong aja terus.

Selain dua hal itu, saya juga menerapkan beberapa teori yang saya baca di artikel parenting. Semacam, sebaiknya yang memberi ASI dengan media lain (dot) bukan si ibu, melainkan orang lain. Dll.

Udah sih gitu aja. Cerita ini udah kelewat basi ya sebenernya, wong Faza udah hampir 1,5 tahun 😂 Tapi semoga memberi manfaat untuk siapapun yang baca, terutama untuk para ibu baru. Semangaaatt yaa buibu, jangan lupa bahagia 😘

Kamis, 28 Juni 2018

Beberapa Milestone Faza yang Telat Tercapai



Faza baru bisa merangkak di usia setahun. Setahun lebih sebulan malah. Hahaha. Ada yang kaget?

Setelah nulis judul di atas, saya langsung menarik nafas dalam-dalam. Terkenang betapa galaunya saya saat Faza belum juga bisa merangkak di usia 10 bulan. Jangankan merangkak, bergerak maju alias merayap aja belum deh seingat saya. Umur 11 bulan baru pandai merayap.

Beberapa milestone Faza memang telat dicapai. Terutama bagian perkembangan motorik kasarnya. Padahal dia lahir cukup bulan dengan BB yang ideal. Artinya, secara syarat harusnya Faza bisa banget berkembang sesuai usia.

Apesnya, saat itu saya masih bener-bener blank soal tumbuh kembang anak. Akibatnya, saya telat banget menyadari bahwa Faza terlambat perkembangan motorik kasarnya.

Padahal selama hamil saya udah merasa baca banyaaakkk banget tulisan macem-macem soal per-bayi-an. Eh ternyata masih adaaa aja yang kecolongan. Saya jadi sadar ternyata ilmu saya masih dikiiittt banget. Jadi saran untuk para bumil atau calon ibu, jangan malas belajar yaa. Iya sih jadi ibu itu naluriah, gak belajar juga pasti bisa. Tapi kalo udah punya bekal ilmu, pasti beda hasilnya. Insya Allah.

Oke balik ke cerita soal Faza ya.

Jadi, baru bisa merangkak di usia setahun itu merupakan satu poin dari serangkaian keterlambatan yang terlambat saya sadari.

Pertama, tengkurap. Faza lancar tengkurap di usia 4 bulan, tapi belum bisa kembali ke posisi terlentang sendiri. Umur sekitar 5 bulan kayaknya dia baru bisa guling-guling -- dari terlentang ke tengkurap, terus balik terlentang lagi gitu. Kalo ini mungkin belum terlambat banget ya. Tapi udah mulai ada tanda-tanda nih kalau dicermati.

Saat Faza usia 5 bulan, dia saya ajak pulang kampung. Nah, mbahnya (ibu saja) kaget plus jadi resah ketika mendapati Faza belum kuat diberdirikan (menahan berat badan dengan kaki). Pulang dari kampung, saya galau banget gara-gara itu.

Bodohnya, bukannya jadi menyadari, saya malah nganggap ibu saya nyebelin dan parnoan 😅 Padahal bener lho, mampu menopang berat badan dengan kaki harusnya sudah bisa dilakukan saat anak berusia 4 bulan. Saya udah cerita di sini tentang ini.

Gara-gara gak kunjung sadar, keterlambatan milestonenya Faza terus berlanjut deh.

Gongnya yang akhirnya bikin saya sadar ada yang gak bener adalah ketika saya lihat status WA teman saya yang sedang memvideokan anaknya yang usianya lebih muda dari Faza, tapi udah lincah merangkak. Saat itu usia Faza 8 bulan kalo gak salah.

Saya langsung panik. Temennya udah bisa merangkak, kok Faza merayap maju aja belum bisa?

Bukan. Ini bukan soal membanding-bandingkan anak dengan anak orang lain. Saya juga panik sama sekali bukan karna gak mau anak saya kalah saing. Ah, sama sekali gak seremeh itu kepanikan saya. Sebagai orang tua saya cuma pengen tumbuh kembang Faza optimal.

Setelah lihat video anak teman saya yang sudah pandai merangkak itu, baru deh saya browsing tentang milestome bayi 0-12 bulan, lalu saya baca dengan cermat. Sebelumnya saya udah pernah baca, tapi cuma selintas lalu.

Dan, kecurigaan saya bener! Bayi itu harusnya mulai merangkak usia 8 bulan. Sedangkan Faza -- sekali lagi -- jangankan merangkak, merayap maju aja sama sekali belum bisa. Lalu ada satu point lagi yang sebelumnya sama sekali belum saya sadari. Yaitu beranjak ke posisi duduk sendiri tanpa dibantu. Ini idealnya usia 7 bulan sudah bisa. Sedangkan Faza belum 😭

Saat usia 9 bulan, Faza kena impetigo. Ketika saya bawa ke dokter spesialis anak, sekalian deh saya konsultasi tentang keterlambatan milestonenya Faza ini. Terutama soal belum bisa merangkak.

Nah, dokternya -- yang Alhamdulillah komunikatif banget -- bilang, gak papa, terus dilatih aja. Yang pertama harus bisa duduk sendiri dulu. Bayi gak akan bisa merangkak kalau belum bisa duduk sendiri. Lalu beliau mencontohkan gerakan untuk melatih Faza agar segera bisa bangkit duduk sendiri.

Amazingnya, hanya selang 2 mingguan setelah saya latih dengan gerakan yang dicontohkan dokter, Faza bisa bangkit ke posisi duduk tanpa dibantu. YEAY! 😍 Gak lama kemudian, dia bisa merayap maju, di usia menjelang 10 bulan kalo gak salah.

Sebenernya di lingkungan saya, kebanyakan menganggap fase merangkak itu gak wajib dilalui. Malah beberapa ada yang agak heran melihat saya yang ngotot pengen Faza tetep bisa merangkak dulu sebelum jalan.

"Lho, memang ada kok anak yang gak merangkak, tapi langsung bisa jalan. Malah bagus dong langsung bisa jalan"

Intinya, gak masalah gak merangkak dulu, yang penting bisa jalannya cepet. Iya sih, saya tau dan percaya, banyaaakk sekali anak yang melewatkan fase merangkak, dan baik-baik saja.

Tapi entahlah, saya tetap ingin Faza melewati fase merangkak. Gak papa deh meski udah telat. Gak papa bisa jalannya entar-entar aja, yang penting merangkak dulu. Karna saya percaya, fase merangkak punya banyak manfaat buat dia.
Terus gimana caranya biar Faza mau merangkak?

Sejujurnya saya sempat ngerasa stuck sih. Macem-macem stimulus udah dikasih, tetap aja dia ogah merangkak.

Usaha yang saya lakukan di antaranya:

-Kasih contoh ke dia. Jadi saya sering sengaja merangkak gitu biar dia lihat kayak gini lhoo merangkak. Ini saran dari teman.

-Kalo dia minta titah, sering saya tolak. Karna katanya kalo udah kesenengan dititah, makin males merangkak.

-Saya pijit kakinya, Terus ngikutin beberapa gerakan baby gym di yutub.

-BERDOA! Serius, saya doa banget supaya Faza bisa dan mau merangkak. Hehe.

Nah, di saat seperti inilah baru kita boleh bilang, anak punya waktunya masing-masing. Ketika saya udah hampir hopeless, eh tiba-tiba Faza mau merangkak! Alhamdulillah 😍

Wuiih, ternyata udah panjang banget yaa ceritanya 😆 Tapi belum mau udahan nulisnya 😅

Btw, atas beberapa milestone Faza yang terlat tercapai, saya membuat analisis sebab. Kenapa sih kok itu semua bisa terjadi. Saya tulis sekalian ya, biar buibu (terutama ibu baru atau calon ibu) yang baca bisa mengambil pelajajaran dari kesalahan saya ini:

-Saat bayi, Faza jarang sekali saya beri kesempatan untuk tummy time. Selain karna saya belum tau kalo tummy time manfaatnya banyak banget, saya juga masih kagok pegang bayi. Tengkurepin bayi bagi saya horor banget.

-Faza jaraaaang banget saya biarkan melantai. Saking 'sayang'nya, saya dan ayahnya selalu merasa ga tega naruh Faza di lantai. Huhu.

-Jarang banget ajakin Faza melakukkan gerakan-gerakan baby gym.

-dll, yang intinya bisa dirangkum dalam 2 poin: ayah-ibu yang kurang ilmu dan Faza yang kurang mendapat kurang stimulus

 Saya juga punya beberapa saran nih buat para calon ibu dan ibu baru *sungkem dulu sama para ibu senior* 😁

-Membekali diri dengan ilmu itu HARUS. Termasuk ilmu tentang tumbuh kembang anak. Kata teman saya, anak-anak kita berhak diasuh oleh orangtua yang gak malas belajar 😊 Duh sist, yang udah punya ilmu aja masih sangat mungkin salah, apalagi yang kosongan? Iya sih orangtua-orangtua kita mungkin urus kita juga dulu tanpa ilmu. Ngalir aja. Nah, apa iya kita pengen anak kita jadi generasi yang seperti kita? Pasti pengen lebih baik dari kita kan?

-Jangan baperan. Baper itu bikin kita stagnan. Tau bahwa beberapa milestone anak kita telat tercapai, eh langsung baper. Terus gak mau lagi cek-cek milestone atau cari tau harus kasih stimulus apa. Yaudah pasti telatnya bakal makin banyak.

-Jangan terlena dengan kalimat, "ah, nanti juga bisa sendiri". Iya, anak memang punya waktunya masing-masing. Tapi ada red flag yang harus diperhatikan. Kalo udah lewat red flag ya alangkah baiknya segera menemui yang berkompeten di bidang ini.

Untuk poin saran terakhir, rencananya mau saya bahas lebih lanjut di blogpost berikutnya 😊

Udah ah, udah panjang bangeettt. Makasih banget yaaa yang udah mau baca. Tetap semangat dan jadi ibu yang bahagia yaaa buibu 😘

Selasa, 05 Juni 2018

Catatan Dua Tahun Pernikahan


Dua tahun lebih sebulan deng tepatnya 😂

Gak lucu banget yaa nulis catatan anniversary pernikahan, tapi telat sebulan. Hahaha. Tapi lagi-lagi, gak papa lah, daripada gak ditulis sama sekali, kan sayang 😅

Tanggal 7 Mei 2018 kemarin, tepat dua tahun saya bergelar sebagai istri. Dari seorang lelaki yang banyak kekurangan tentu saja. Tapi dari banyaknya kekurangan itu, Alhamdulillah tertutupi dengan sedikit kelebihannya. Hingga saya gak lagi peduli pada kekurangan-kekurangan itu 😊

Dua tahun berumahtangga, Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, Allah karuniakan banyaaaakkk sekali nikmat yang Allah beri buat rumah tangga kami. Kalo lagi ngobrol berdua, kami sering merasa kufur nikmat banget. Karna apa yang Allah beri, sama sekali gak sebanding dengan usaha kami memperbaiki kualitas hubungan dengan-Nya 😭

Usia dua tahun pernikahan mungkin memang belum bisa dibilang matang. Tapi dibanding saat usia pernikahan kami baru setahun, tentu saja rumah tangga kami sudah lebih matang.

Jauh lebih tepatnya mungkin yang lebih matang dari sebelumnya itu saya sih. Mas suami mah dari dulu udah matang. Haha.

Matang seperti apa contohnya?

Dulu di tahun pertama, lihat mas suami nge-game itu rasanya pengen langsung mencak-mencak. Gak rela sekali. Buat apa sih nge-game, kan mending dipake buat ngobrol sama istri tercintanya ini?

Sekarang, saya lebih santai. Gak gampang lagi cemburu dan merasa diduakan sama hal-hal remeh macam game gitu. Mas suami nge-game, ya monggo saja. Asal tugas dan kewajibannya gak sampai keteter hanya karna game.

Intinya saya lebih menyadari, bahwa yang butuh me time itu gak cuma saya. Mas suami pun butuh. Butuh sendiri tanpa saya ataupun Faza.

Saya dan mas suami juga bisa dibilang sudah semakin saling memahami. Di tahun pertama pernikahan, kami lumayan dibuat kewalahan dengan seringnya kami miss komunikasi. Sebelum memutuskan nikah, bisa dibilang kami belum kenal lama. Jadi beberapa cara komunikasi kami masih sering bikin salah paham. Nah, tahun kedua ini Alhamdulillah makin smooth. Gak gampang baper lagi kalo salah satu dari kami bicara dengan nada mayan nyolot. Hehe.

Soal pembagian tugas juga udah makin berjalan natural. Dulu -- terutama setelah Faza lahir -- masih sering banget itung-itungan. Aku kan udah selesaiin ini, yang itu gantian kamu dong. Kamu kan udah tidur sekian jam, aku cuma tidur segini jam. Gitu-gitu lah.

Sekarang udah gak pernah Alhamdulillah. Siapa yang sempat dan bisa menyelesaikan, yaudah cuss aja. Gak pakai itung-itungan lagi.

Tapi tentu saja bukan berarti tantangannya jadi udah gak ada. Tantangan yang sebelumnya sudah terselesaikan, saatnya ganti tantangan baru 😂

Tantangan baru yang paling terasa adalah diskusi-diskusi tentang anak yang kadang berjalan alot. Terutama soal saya yang gampang banget terpengaruh tiap habis baca postingan instagram soal dunia-dunia parenting. Mas suami sering bete karna menurut beliau, gak semua yang orang lain lakukan itu harus langsung ikutan kita terapkan.

Yah begitulah, gak ada rumah tangga yang serba sempurna, seperti halnya gak mungkin ada manusia tanpa kekurangan. Semoga Allah mengijinkan kami untuk terus menghitung tahun bersama, hingga usia memasuki senja, dan kami duduk di teras sembari melihat anak-cucu tertawa riang, dan jemari saling menggenggam. Aamiin 😊

Rabu, 30 Mei 2018

#CeritaFaza: 14 dan 15 Bulannya Faza


Seiring makin besarnya Faza, Alhamdulillah saya juga makin menikmati peran sebagai ibu. Makin enjoy. Gak kayak dulu apa-apa dipikir sampai stress, apa-apa bikin baper.

Saya sempat ada di fase males ah baca-baca teori-teori parenting. Bodo amat. Tapi lama-lama merasa butuh. Karna tanpa teori, saya hanya akan jadi ibu yang tak tau arah jalan pulang *halah* 😅. 

Bedanya, kalau dulu baca teori parenting pasti bawaannya stress. Aduh gimana dong, kok Faza gak sesuai sih sama teori bla bla bla. Sekarang kalau ada yang gak sesuai, yaudah buat evaluasi. Oh di usia sekarang harusnya udah bisa gini, tapi Faza belum bisa. Oke berarti ayok dikasih stimulus pelan-pelan. Gitu lah.

Yang sangat saya syukuri, sampai usia 15 bulan ini, Faza bisa dibilang jarang banget sakit. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Semoga begini seterusnya. Sampai usia ini, dia pilek 3 atau 4 kali kalo gak salah. Dan itupun gak pernah lama. 3 hari udah sembuh. Dan jarang disertai demam.

Ngobrolin soal milestone, usia 13-15 bulan ini milestone yang dicapai Faza cukup signifikan menurut saya. Yang paling bikin terharu, tentu saja kemampuan berbahasanya yang mulai berkembang pesat.

Baca juga: Fase Separation Anxiety

Faza mulai bisa menirukan kata-kata dengan dua suku kata. Lampu, kaca, duduk, bobok, dll.

Satu lagi, setiap minta nenen, dia akan bilang, "Bu... nanaa..." dengan ekspresi super manis. Huhu, ibu sungguh terharu, nak 😘

Selain kemampuan berbahasa, Faza juga sudah mulai bisa dikasih instruksi. Tapi sekaligus menolak instruksi jika gak sejalan dengan yang dia inginkan 😅 Sudah bisa menunjukkan beberapa anggota tubuh seperti hidung, kepala, telinga, kaki, dll.

Yang bikin saya lega, sejak umur 13 bulan ia mulai lancar merangkak. Setelah sekian lama penantian, dan setelah sebelumnya selalu merayap dengan perut dan dada.

Bagi orang lain mungkin aneh. Anak setahun lebih kok baru bisa merangkak dan emaknya senang?

Iya, kebanyakan anak mungkin sudah merangkak sejak usia 9 bulan, atau kalaupun gak merangkak, beberapa sudah bisa berjalan di usia setahun. Sedangkan Faza, usia setahun baru bisa merangkak.

Beberapa orang juga bilang, gak papa gak merangkak, mungkin nanti langsung jalan. Tapi saya ingin sekali Faza melewati semua fase, termasuk merangkak ini. Jadi, meskipun lewat jauh dari red flag saya tetep lega akhirnya Faza gak melewatkan fase merangkak.

Baca juga: Tantrum Pertamanya Faza

Soal Faza yang terlambat merangkak, Insya Allah nanti saya buat satu postingan khusus.

Makin seru yaaa ternyata nunggu perkembangan demi perkembangan anak dari hari ke hari. Semoga anak-anak kita sehat selalu yaaa 😘

Senin, 28 Mei 2018

Menghadapi Fase Separation Anxiety



Sebulanan terakhir ini saya lumayan kewalahan plus galau menghadapi Faza. Separation anxiety-nya menjadi-jadi. Padahal sudah sempet mereda sebelumnya.

Meski Faza tipe anak yang cukup mudah dialihkan perhatiannya, sebagai ibu berhati peri (plis jangan muntah 😂), hati saya selalu perih setiap mendengar tangis pilu Faza ketika saya tinggal pergi -- padahal cuma ke kamar mandi, dan dia ditemani ayahnya.

Makanya saya berusaha baca sana-sini, gimana seharusnya menghadapi fase separation anxiety yang sebenernya wajar banget ini. Wajar, tapi gak jarang bikin ibu kelabakan.

Ohya, adakah yang belum ngeh apa itu separation anxiety?

Separation Anxiety itu  perasaan takut dan resah pada anak yang berlebihan ketika berpisah dengan ibunya atau orang terdekatnya, meski dalam waktu yang gak lama. Sebenarnya separation anxiety adalah fase yang sangat wajar terjadi pada anak, dan justru menjadi salah satu penanda semakin berkembangnya kecerdasan emosi mereka. Mereka mulai tau siapa saja orang yang membuat dia nyaman, yang selalu ada untuk dia, dan bisa membedakan dengan mana yang orang asing.

Cuma ya itu, kadang menguras hati juga jika kita gak segera merumuskan harus gimana menghadapi fase ini. Yang jelas, saya yakin bahwa setiap fase yang dilalui anak harus dihadapi dengan benar, karna pasti ada dampak yang mengikutinya.

Saya mencoba membuat daftar hal-hal yang saya lakukan untuk menghadapi separation anxiety-nya Faza. Siapa tau bermanfaat untuk buibu yang sedang ada di fase ini juga 😊

Berpamitan setiap akan pergi

Meski saya tau Faza pasti akan menangis, saya memilih untuk selalu berpamitan setiap akan pergi meninggalkannya. Entah itu pergi ke kantor, atau sekedar ke toilet. Tapi anehnya, kalo ditinggal ke kantor, dia malah jarang banget nangis. Dia seperti sudah tau polanya, kapan ibu harus pergi, kapan ibu di rumah untuk dia. Sekalinya di rumah, baru deh dia seolah pengen 'nempel' ibunya setiap waktu setiap saat.

Baca juga: Tantangan Sebagai Ibu Bekerja

Saya gak mau banget ninggalin dia dengan cara curi-curi. Karna, gimana ya... anak itu sama kayak kita orang dewasa. Punya perasaan juga. Coba bayangin kalo ada orang yang kita sayang, tiba-tiba pergi tanpa pamit, sakitnya kayak apa? 😁

Jujur

Feeling saya bilang, fase separation anxiety ini merupakan salah satu fase dimana anak sedang membangun rasa percaya dan nyamannya pada sosok ibunya. Gak tau sih ini benern apa gak dari segi ilmu parenting.

Yang jelas, saya memilih untuk berusaha jujur pada Faza. Jujur mengatakan saya akan perginya lama atau sebentar. Saya juga akan berusaha menjelaskan dengan jujur untuk keperluan apa saya harus pergi.

Memberi pengertian berulang-ulang

Ketika saya kembali -- misal dari kamar mandi -- dan mendapati Faza masih menangis, saya akan memberinya pengertian.

"Faza kenapa nangis, nak? Sedih ya ibu pergi? Kan ibu cuma pergi sebentar ke kamar mandi, nak. Dan ada ayah yang nemenin Faza"

Gitu aja terus berulang-kali, sampai bosen. Haha. Mungkin saat ini dia belum paham betul. Tapi saya percaya banget lah apa yang saya bilang lama-lama akan terekam dan mampu ia pahami.

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Memberinya ide kegiatan sebelum pergi

Seringnya, sebelum pergi saya akan beri dia ide tentang kegiatan apa yang akan bikin dia asyik, hingga gak fokus sama saya. Misal, sebelum pergi saya beri dia buku, karna kebetulan Faza paling mudah dibikin asyik kalo sudah ngadepin buku.

Jadi saya ambilkan buku, lalu menyerahkannya pada si ayah. Ayahnya akan bilang, "sini Nak, ayah bacain buku". Nah, kalo mereka berdua udah asyik, baru deh saya mlipir bentar -- setelah pamitan sebelum mereka asyik baca buku sebelumnya.

Dari hasil baca-baca, katanya fase separation anxiety ini bisa bertahan sampai anak berusia 2 tahun. Gak tentu sih, tergantung masing-masing anak. Tapi saya berharap Faza gak sampai dua tahun melalui fase ini.

Yang saya heran, kenapa dia gitu cuma sama ibu? Sedangkan sama ayahnya sama sekali enggak. Padahal mereka juga deket. Kalo mainan dan ngobrol asyik banget. Bahkan Faza lebih mudah tidur jika ayahnya yang menidurkan.

Kalo ada buibu yang telah sukses yang melewati fase ini, boleh dibagi doong cerita pengalamannya untuk ibu baru seperti saya ini 😊