Minggu, 09 April 2017

Oh, Jadi Begini Rasanya Baby Blues


Saya mengenal istilah baby blues jauh sebelum menikah. Beberapa kali membaca artikel terkait juga. Sayangnya, saya masih gagal paham. Yang saya pikirkan setiap membaca tentang baby blues adalah: kok bisa sih? Punya anak kok bukannya bahagia malah kayak gitu? Kok kayak gak bersyukur? Dan lain sebagainya.

Setelah menikah, saat sudah hamil saya cukup sering baca tentang baby blues. Terutama tulisan para blogger, yang kebanyakan menceritakan pengalaman pribadi mereka sendiri. Dari tulisan-tulisan itu, saya mulai paham. Baby blues bukan tentang gak bersyukur. Bukan juga tentang gak bahagia mendapat anugrah berupa anak. Baby blues itu soal lain.

Meskipun sudah mulai paham tentang baby blues, saya tetap yakin dan optimis gak akan terkena syndrom tersebut setelah melahirkan nanti. Saya yakin hanya akan ada tawa bahagia saat si kecil lahir. Sayangnya, keyakinan saya gak saya barengi dengan upaya pencegahan. Saya sama sekali gak melakukan apapun sebagai usaha agar baby blues gak menyapa.

Hingga tibalah saatnya, ketika saya berkata lirih dalam hati, "Oh, jadi begini rasanya baby blues".

Sehari setelah melahirkan, sekembalinya saya dari puskesmas tempat saya bersalin, drama demi drama hadir.

Pertama, ketika ASI saya gak kunjung keluar. Sepulang dari puskesmas, saya meminta mbak saya yang juga masih menyusui, untuk menyusui Faza sejenak yang sejak lahir belum mendapatkan ASI. Melihat ia menyusu dengan semangat, hati saya teriris. Karna bukan saya yang menyusuinya. Saya cemburu. Tapi saya masih bisa menahan diri.

Lalu satu demi satu tetangga datang menengok. Dan pertanyaan yang ditanyakan oleh hampir semua yang datang adalah, "air susunya sudah keluar belum?". Lebih menyakitkan lagi, ketika beberapa orang (yang masih saudara) menganggap saya tega ketika tau saya belum membelikan anak saya susu formula, padahal ASI saya belum keluar.

Kamu kira anakmu gak lapar? Nanti malem kalau rewel gimana? Dinanti-nanti kapan lahir kok begitu lahir kamu biarkan lapar sih? Dan masih banyak lagi yang mereka katakan. Bodohnya, saat itu saya membuang-buang tenaga dengan menjelaskan bahwa bayi bisa bertahan tiga hari tanpa asupan apapun. Penjelasan yang akhirnya hanya seperti angin lalu bagi mereka.

Esok harinya, drama selanjutnya terjadi. Hati saya kembali seperti diiris-iris melihat tatapan sayu Faza yang tetap bersedia terus menyusu pada saya meskipun tak setetespun ASI keluar. Saya tau ia lapar.

Belum usai sampai di situ. Ibu saya yang prihatin melihat cucunya yang lapar, berkomentar. Dengan nada prihatin, beliau menyayangkan saya yang sudah sejak jauh-jauh hari membeli segala perlengkapan berkaitan ASI. Pompa ASI, botol ASIP, dll. Entah apa hubungannya dengan ASI saya yang belum keluar, saya juga gak tau. Yang jelas, saya sedih sekali mendengarnya.

Tepat setelah itu, saya bersiap mandi. Ketika baru masuk ke kamar mandi, tiba-tiba suami saya menyusul ikut masuk, karna ia masih khawatir dengan kondisi Hb saya yang masih sangat rendah. Entah kenapa, saat melihat suami saya masuk, tiba-tiba tangis saya tak terbendung. Pecah sepecah-pecahnya. Saya menangis meraung di pelukan suami saya. Saya merasa jadi ibu yang gagal, dan semua orang memojokkan saya. Setelah agak tenang, dengan masih berlinang air mata saya suruh suami saya pergi membeli susu formula. Yang ada di benak saya saat itu hanya satu, yang penting Faza kenyang. Masa bodoh soal ASI Eksklusif.

Hari-hari setelahnya, saya masih sering dirundung rasa sedih. Terutama ketika memberikan susu melalui dot pada Faza. Saya ketakutan, gimana kalau nanti bingung puting? Gimana kalau nanti jadi gak mau lagi menyusu pada saya sama sekali? Alhamdulillah, ketakutan saya gak terjadi. 10 hari setelah melahirkan, ASI saya keluar. Dan di usianya yang ke 11 hari, Faza gak lagi minum susu formula hingga hari ini.

Apakah baby blues saya hanya soal drama ASI? Tidak.

Soal berbagai adaptasi yang harus segera saya lakukan setelah memiliki anak juga membuat saya sering dirundung kesedihan dan keresahan. Dunia saya seolah terbolak-balik.

Dulu, saya orang yang paling gak bisa diganggu soal tidur. Ada keributan macam apapun, gak akan ngaruh kalau saya memang lagi tidur pulas. Satu lagi, jika jam tidur saya berubah sedikit saja, saya pasti akan 'rewel'. Misal, saya biasa tidur jam sembilan malam. Tiba-tiba karna suatu hal, saya harus tidur jam sebelas malam. Paginya saya pasti akan pusing, lesu, atau badmood.

Setelah punya anak? Mau gak mau saya harus bangun ketika ia merengek minta nenen, sepulas apapun tidur saya. Paling sedikit tiga kali dalam semalam.

Siangnya pun saya gak bisa 'balas dendam', seperti yang dulu biasa saya lakukan saat kurang tidur. Saya harus menyesuaikan jam tidur Faza. Itupun seringkali belum juga pulas, saya sudah harus bangun karna Faza terbangun :(

Dunia saya tiba-tiba hanya soal Faza, Faza dan Faza. Faza yang taunya hanya tidur, nenen, dan ngompol. Yang mau diajak ngobrol model apapun gak akan merespon. Yang ketika nangis gak bisa diajak kompromi sama sekali, kecuali jika disodori puting.

Sekali lagi, ini bukan soal gak bersyukur. Ini soal beratnya masa adaptasi. Saya yang dulu bisa melakukan apapun yang saya mau, pergi kemanapun yang saya pengen, tiba-tiba harus selalu mempertimbangkan Faza di atas segalanya. Bahkan ketika saya haus sekali, sedangkan Faza sedang nenen dan sudah hampir terlelap, maka rasa haus akan saya abaikan demi agar Faza gak batal tidur. Saat Faza menangis dan kami sedang hanya berdua di kamar, gak jarang saya akan ikut menangis =D

Saya juga kadang heran. Kok bisa sih saya baby blues. Padahal saya ada di tengah kondisi yang amat nyaman. Saya ada di rumah orangtua saya. Saya bebas dari segala tugas. Tugas saya hanya satu, yaitu mengurusi Faza, itupun masih banyak dibantu oleh ibu saya. Segala kebutuhan saya tercukupi. Ibu saya selalu menuruti apapun yang saat saya pengen makan sesuatu.

Tapi tetap saja saya merasa 'tidak aman'. Saya selalu merasa was-was dan resah. Satu-satunya orang yang membuat saya merasa 'aman' adalah suami saya. Hanya pada dia saya berani mengungkapkan apa yang saya rasakan saat itu. Padahal saya yakin, suami saya sebenarnya gak benar-benar paham soal baby blues.

Secara tersirat ia sempat bertanya, bukankan saya dari dulu amat ingin segera memiliki anak setelah menikah? Bukankah dulu saya bahagia sekali ketika hamil? Bukankah yang amat gak sabar menanti kelahiran anak kami adalah saya? Kenapa ketika sudah lahir malah saya seperti ini?

Tapi beruntungnya, meski suami saya gak benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi pada saya, ia tetap bersedia merengkuh saya. Menenangkan saya. Menyediakan pundak dan telinga untuk saya.

Yah, begitulah. Ternyata seperti ini rasanya baby blues. Alhamdulillah perlahan tapi pasti, perasaan sedih, resah dan was-was saya mulai hilang. Saya bersyukur hampir melewatinya. Dan bersyukur karna baby blues yang saya alami gak sampai tahap membenci atau ingin menyakiti Faza.

Tulisan ini saya buat dalam rangka terapi dan berbagi. Saya yakin banyak yang mengalami hal seperti ini, tapi tak mampu mengungkapkannya karna berbagai alasan :)

15 komentar:

  1. Mau sufor atau ASI, terpenting adalah bayi kita mbak.. Jangan sampai dia dehidrasi, tapi alhamdulillah ya mbak sudah keluar ASInya, dulu pas hamil pertama aku sering nyemil kedelai dan minum sari kacang hijau mbak.. Alhamdulillah pas lahiran keluar juga ASInya walaupun nggak melalui proses IMD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu hamil saya lalai memang mbak, kurang ikhtiar biar ASI bisa langsung keluar. Buat pelajaran utk anak kedua nanti :)

      Hapus
  2. pas anak pertama lahir juga sempat kena baby blues mbk.tpi bru ngeh klo itu aku mengalami baby blues pas uda lewat aja kejadiannya. kalo anak kedua ini alhamdulillah enggak

    BalasHapus
  3. Punya anak memang nano-nano rasanya :) tetap semangat ya mbak :)

    BalasHapus
  4. Komentar2 orang tu emang kadang bikin makin baper ya say. Sabar aja tetep semangat jd ibu memang ga gampang tp ga ada yg lebih membahagiakan saripada menjadi ibu :)

    BalasHapus
  5. Aihhh ... ternyata begitu ya mba rasanya. Semoga mba dan faza selalu bahagia ya.

    BalasHapus
  6. semangat ya mbak..anak pertama ya?banyak yg ngalamin asinya ga keluar. kakak iparku juga. tapi fisik & genetis orang beda2 juga sih. coba dikompres pakai air hangat mbak.minum asi booster

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, katanya kalo anak pertama emang kadang ada yg seret dulu

      Hapus
  7. Selamat ya Mbak Rosa, udha jadi ibu. Baca tulisannya jadi bener-bener ngerti posisi Mbak. Well, kayaknya aku mau antisipasi deh selama seminggu pertama nggak mau ditemuin siapa-siapa. Karena kedatangan orang lain seringkali merecoki keadaan. 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa ikaaa, good idea tuuhh... hihi

      Hapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)