Senin, 03 April 2017

Cerita Pengalaman Melahirkan Pertama

Cerita Pengalaman Melahirkan Pertama. Sejak hari pertama anak saya lahir, saya sudah berangan-angan menulis cerita pengalaman melahirkan pertama saya. Selain agar bisa dibaca lagi sewaktu-waktu sebagai dokumentasi kenangan, siapa tau ada yang butuh membaca cerita semacam ini dalam rangka mempersiapkan diri untuk melahirkan pertama kali :)

Berdasarkan perhitungan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), HPL (Hari Perkiraan Lahir) anak saya jatuh pada tanggal 9 Maret 2017. Tapi, karna banyaknya orang di sekitar saya yang bilang bahwa kebanyakan bayi laki-laki lahirnya maju dari HPL, maka saya mulai ambil cuti pada tanggal 20 Februari 2017, atau pada usia kehamilan 37 minggu.

Periksa terakhir di usia kehamilan 38 minggu Alhamdulillah posisi di janin sudah mulai masuk panggul berhasil melewati plasenta yang tadinya sempat agak menghalangi kepalanya, meskipun masih kurang turun. Itu artinya, Insya Allah terbuka kemungkinan untuk melahirkan normal. Saya harus lebih memperbanyak jalan saja agar posisi janin segera turun.

Sejak itu, setiap pagi saya jalan-jalan selama kurang lebih satu jam ditemani ibu saya, karna suami di Semarang kecuali saat weekend. Selain jalan-jalan pagi, saya juga memperbanyak sujud (posisi nungging), jalan di dalam rumah, dan aktivitas-aktivitas yang konon bisa membuat janin turun ke jalan lahir.

Saya sempat resah, kok belum juga ada tanda-tanda si adek akan segera lahir. Kontraksi palsu juga belum pernah sama sekali. Padahal tadinya saya yakin sekali dia akan lahir maju dari HPL.

Tanggal 6 Maret 2017 pagi, menjelang mas suami berangkat kembali ke Semarang untuk kerja, akhirnya tanda-tanda pertama itu datang. Saya mendapati lendir kecoklatan saat buang air kecil. Saya langsung laporan mas suami. Tapi dia tetap berangkat karna belum ada mules atau kontraksi sedikitpun. Hari itu keresahan saya berkali-lipat, mengira kontraksi akan segera datang. Ternyata hingga berganti hari, saya masih belum merasakan apa-apa.

Tanggal 7 Maret 2017 menjelang dhuhur, saya kembali terperangah karna mendapati lendir bercampur darah saat buabg air kecil. Jauh lebuh banyak dari hari sebelumnya. Saya kemudian diantar mbak ke bidan. Bu bidan hanya bilang, itu tandanya si bayi sudah akan segera lahir. Ditunggu saja. Lagi-lagi keresahan saya berlipat-ganda. Beberapa kali rasa mulas mulai saya rasakan, tapi kemudian hilang.

Makam harinya, saya mulai gak bisa tidur. Mulas mulai samar-samar hadir, tapi belum seberapa. Saya gak bisa tidur lebih karna resah. Esok harinya, tanggal 8 Maret 2017, lendir darah mulai intens keluar. Mulas pun semakin datang teratur. Awalnya setengah jam sekali. Ba'da dhuhur, mulasnya mulai lima belas menit sekali. Tapi saya masih tahan, masih aktivitas di rumah seperti biasa. Level mulasnya masih seperti saat menstruasi awal. Bahkan saya sempat membatin, 'Oh, jadi mulasnya seperti ini. Kalo cuma seperti ini sih saya tahan lah' =D

Saya belum tau bahwa level mulasnya akan terus bertambah. Ba'da ashar, mulasnya mulai bikin saya meringis. Ohya, mas suami mungkin sudah ada firasat. Tanpa saya minta, beliau memang sudah berencana pulang sore itu.

Menjelang magrib, mas suami datang. Bersamaan dengan mulas yang semakin aduhai. Di tengah kegelapan karna listrik padam, mas suami bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat ke Puskesmas Nalumsari. Ba'da magrib, kami berangkat.

Sesampainya di puskesmas, saya di periksa dalam oleh seorang bidan. Sudah bukaan empat, katanya. Alhamdulillah. Saya masih kuat berjalan, meskipun mulai gemetar menahan rasa sakitnya. Perhitungan sok tau saya, si adek akan lahir sekitar jam satu malam. Ternyata salah besar =D

Memasuki tengah malam, mulasnya makin menjadi-jadi. Punggung seperti ditusuk dengan puluhan paku. Ibu dan mas suami secara bergantian menghibahkan badannya untuk saya peluk sekuat tenaga saat mulas datang. Sholawat dan berbagai kalimat thoyyibah berusaha terus saya ucapkan. Saat diperiksa dalam lagi, ternyata baru bukaan delapan. Saat saya tanya berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan sampai bukaan lengkap, bidannya menjawab kurang lebih dua jam. Saya mengerang tertahan. Gak bisa membayangkan harus merasakan sakit yang seperti itu dua jam lagi.

Tapi rasa sakit itu memang bukan untuk dibayangkan. Hehe. Yang teramat saya syukuri dalam proses melahirkan saya adalah, saya bisa ditemani oleh suami. Lebih bersyukur lagi, dia tegar sekali malam itu. Padahal saya tau persis hatinya gentar. Dialah orang yang menyuntikkan keyakinan bahwa saya mampu, saat saya sendiri sudah merasa hampir gak mampu.

Pukul tiga dini hari, bukaan saya dinyatakan lengkap. Dipandu oleh dua bidan dan ditemani oleh ibu dan mas suami di kanan-kiri saya, saya mulai mengejan. Inilah momen paling dramatis dalam hidup saya. Saya kira seperti cerita ibu, dan seperti yang saya lihat di sinetron-sinetron, mengejan cukup satu-dua kali, lalu bayi lahir. Qodarullah, bagian saya lebih dari itu.

Puluhan kali saya mengejan, si adek belum juga bisa lahir. Hampir dua jam. Tenaga saya sudah semakin menipis. Bu bidan memberi ultimatum, jika setengah jam lagi gak lahir, terpaksa saya harus dirujuk ke rumah sakit. Saya bahkan sempat minta divakum saja. Tapi bu bidan bilang mereka gak punya wewenang untuk itu. Lagipula vakum sangat gak dianjurkan.

Saya hampir menyerah. Tapi mas suami terus membisikkan keyakinan. Saya bisa. Saya kuat. Saya mampu. Adzan subuh berkumandang, saya kembali mengejan. Dan, Allahu Akbar! Gak berselang lama setelah adzan subuh usai, tangis seorang bayi pecah bersama tangis kami bertiga -- saya, mas suami dan ibu saya. Puluhan hamdallah kami langitkan. Puluhan ciuman mas suami kecupkan ke wajah saya. Subhanallah wal hamdulillah...

Foto pertama anak kami, sesaat setelah lahir
Oleh mas suami, bayi kami diadzani lalu ditahnik. Sedangkan saya masih harus dijahit, dan sempat mengalami perdarahan. Setelah tindakan penjahitan selesai, saya dipindahkan ke ruang perawatan, lalu diminta menyusukan bayi saya untuk pertama kalinya. Melihat bayi mungil itu, tangis saya kembali buncah. Akhirnya saya melihat sosok yang selama ini hanya saya rasakan tendangannya di perut saya. Dan bayi itu kami beri nama, Muttaqina Mafaza.

Beberapa saat setelah melahirkan

Kami baru diijinkan pulang 1x24 jam setelah persalinan. Beberapa jam setelah melahirkan saya sempat pingsan dua kali =D Ternyata Hb saya drop sekali setelah melahirkan, dan itu membuat produksi ASI saya agak terhambat.

Yah begitulah. Susah sekali sebenarnya menulis cerita ini agar benar-benar menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu. Yang jelas, proses kelahiran benar-benar penuh keajaiban. Sakit memang. Sakit sekali bahkan. Bohong kalau bilang gak sakit. Tapi yang jelas saya percaya bahwa wanita telah Allah setting tubuhnya untuk mampu menanggung sakit luar biasa itu. Sejauh ini saya belum pernah dengar seorang wanita meninggal saat melahirkan yang sebabnya murni karna gak kuat menahan sakitnya.

Untuk para wanita yang sedang hamil dan hendak melahirkan, selamat berjuang. Percayalah, kalian bisa :)

9 komentar:

  1. Mulasnya nggak nahan mbak.. Dan kalau aku malah belum ada pembukaan sama sekal,udah mulas ampun2an.. Ternyata kaya gitu to kontraksi... :D tapi semua rasa sakit terbayar lihat dede ganteng ya mbak. Semoga dik Muttaqina Mafaza jadi anak yang sholih dan mensholihkan.. Aamiin

    BalasHapus
  2. Masya Allah. Sesakit itu kah? Du ... baca tulisan mba Ocha antara bikin aku pengen segera punya bayi, plus ngerasain bagaimana dulu perjuangan mama melahirkanku.

    BalasHapus
  3. Ah iya mba emang sakit, 2x ngelahirin aku msh takut aja dg rasa sakit itu, haha. Bahkan hamil kali ini aku msh takut. Tp kok ya gak kapok hamil dan pny cita2 pny anak 5, wakaka.

    Semoga si kecil jd anak soleh ya :)

    BalasHapus
  4. Sakit tapi mau kan hamil lagi???

    BalasHapus
  5. masyaallah walhamdulillah, selalu terharu dengan cerita kelahiran. barakallah mbak...

    BalasHapus
  6. Hanya bisa membayangkan. Hingga waktunya tiba nanti merasakan sendiri.. Mudah2an aku normal hamilnya :)

    BalasHapus
  7. pengalaman melahirkan itu selalu indah untuk diceritakan y..semoga cepat pulih..selamat dengan babynya yg cantik

    BalasHapus
  8. Mbaaak aku mbrebes mili bacanya. Kamu hebat Mbak, mules menstruasi masih dianggap biasa. 😅 Semoga aku nanti kuat :"

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)