Rabu, 22 Februari 2017

#BincangKeluarga: Pekerjaan Rumah Tangga Yang Paling Disukai dan Dibenci

Pekerjaan Rumah Tangga Yang Paling Disuka dan Dibenci. Meskipun minggu lalu kita ngobrolin tentang pekerjaan domestik rumah tangga yang seharusnya gak sepenuhnya jadi tanggung jawab istri, tetap saja kita sebagai istri tetap gak akan bisa memisahkan diri dari yang namanya pekerjaan rumah tangga, ya. Yah, kecuali kalau kita istrinya Mas Anang -- misalnya. Haha.


Baca punya Ade:


Saya bisa dibilang merupakan satu dari sedikit perempuan yang gak lincah dan kurang terlatih soal pekerjaan rumah tangga. Salahkan ibu saya yang sukanya memborong semua pekerjaan dan membiarkan anak gadisnya ini cuma duduk manis sambil baca novel. Hihi.

Setelah nikah, nah lhooo... kena batunya deh. Masa iya tinggal di rumah mertua mau cuma duduk manis aja? Nyari mati itu sih. Hihi. Misal gak tinggal sama mertua pun, lebih gak mungkin lagi kan cuma ongkang-ongkang kaki?! Mau gak mau, suka gak suka, saya harus mulai membiasakan diri dengan berbagai pekerjaan rumah tangga.

Witing trisna jalaran saka kulina. Datangnya cinta (suka) karna terbiasa. Begitu kata peribahasa. Lalu, apakah ini juga akan berlaku juga pada pekerjaan rumah tangga? Apakah karna sudah terbiasa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga, saya jadi menyukai semua pekerjaan tersebut?

Sayangnya tidak =D

Tetap saja ada pekerjaan rumah tangga yang paling saya benci. Dan sebaliknya, pasti ada dong pekerjaan rumah tangga yang paling saya sukai.

Pekerjaan apakah itu?

Pekerjaan rumah tangga yang paling saya sukai

Kalau boleh jujur sih gak ada. Haha. Bohong ding.

Meskipun gak suka suka banget, ya seenggaknya ada lah satu yang disukai lebih dari yang lain.

Dan itu adalah memasak.

Iya, meskipun gak tergolong hobi banget, tapi saya suka masak. Seru. Meracik berbagai bahan menjadi satu hidangan yang lezat. Apalagi kalau setelah itu dipuji enak sama suami. Aaaaa, makin sukaaa.

Cuma konsekuensi dari memasak itu setelahnya harus mencuci banyak perabotan yang dipakai. Dan itu yang bikin lumayan males -_-

Tapi mencuci piring dan berbagai peralatan masak lainnya bukan pekerjaan rumah tangga yang paling saya benci sih. Bisa dibilang mencuci piring juga termasuk lumayan saya suka.

Masih ada pekerjaan rumah tangga lain yang paling saya benci. Dan itu adalah...

Ngepel!

Xixixixixi. Iya, saya benciiii banget sama pekerjaan ngepel lantai. Duh, mending disuruh nyuci piring bertumpuk-tumpuk deh daripada ngepel lantai rumah.

Sepanjang 26 tahun hidup saya di dunia, kayaknya frekuensi saya ngepel lantai bisa dihitung pakai jari tangan. Ahahaha. Buka aib biarin deh.

Gak tau kenapa, kalau mau ngepel tuh belum mulai aja badan rasanya udah langsung capek semua -_-Tapi kalau lantai udah kebangetan kotor ya dengan amat terpaksa saya ngepel juga sih.

Nahh, kalau kalian, apa sih pekerjaan rumah tangga yang paling disukai dan dibenci? Sebutkan di kolom komentar, yaaa. Pasti jawabannya beda-beda dan seru deh =D

Rabu, 15 Februari 2017

#BincangKeluarga: Semua Urusan Domestik Rumah Tangga Tanggung Jawab Istri. Oh Ya?

Semua Urusan Domestik Rumah Tangga Tanggung Jawab Istri. Oh Ya? Salah satu teman saya tanya setengah protes ke saya.

"Kenapa sih kalau suami ngerjain pekerjaan domestik rumah tangga, misal nyapu atau nyuci, pasti langsung banyak banget yang memuja-muji? Dianggap suami idaman lah, suami rajin lah, dll. Sedangkan kalau istri yang mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga, seolah dianggap hal yang wajar dan jarang yang mengapresiasi."

Baca punya Ade:


Saya gak bisa langsung menjawab saat itu. Iya juga, ya... pikir saya. Saya sering mendapati fakta seperti yang diutarakan oleh teman saya tersebut. Suami yang tadinya gak pernah nyapu halaman rumah, sekalinya nyapu langsung dipuji oleh para tetangga yang kebetulan melihat. Sedangkan istri yang setiap hari mengerjakannya, gak pernah sekalipun mendapat pujian. Memang sudah tugasnya kok. Memang sudah jadi kewajibannya kok.

Oh ya? Benarkah semua pekerjaan domestik rumah tangga itu hanya menjadi urusan istri?
Harusnya sih enggak, ya =((

Gak adil sekali jika semua pekerjaan domestik rumah tangga dibebankan pada istri saja. Terlebih lagi jika istri juga bekerja. Contohnya saya.

Saya gak bisa bayangin kalau suami saya gak bersedia berbagi pekerjaan domestik rumah tangga dengan saya. Mungkin tingkat kewarasan saya akan semakin merosot dari hari ke hari. Alhamdulillah, suami saya gak keberatan berbagi tugas dengan saya soal pekerjaan domestik. Sejak awal menikah hingga hari ini, mencuci baju menjadi urusan beliau. Kalau yang jemur sih gantian, siapa yang sempat saja. Mencuci piring juga beliau yang mengerjakan sejak saya hamil tua dan gak tahan berdiri lama-lama.

Kalau istri bekerja tapi suami gak mau berbagi pekerjaan domestik rumah tangga gimana? Gampang. Minta aja dicariin pembantu. Hehe.

Terus apa kalau istri di rumah (gak kerja di luar rumah), artinya sudah seharusnya semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi urusan istri?

Ya gak gitu juga dong. Apalagi jika sudah ada anak. Apalagi jika anaknya masih batita atau balita yang sedang sangat aktif sehingga butuh pengawasan penuh.

Saya belum pernah mengalami sendiri langsung. Tapi saya sudah sering melihat contoh nyata. Ada anak dua tahun di rumah itu hampir gak bisa ngapa-ngapain sama sekali saat si anak gak sedang tidur. Lengah dikit saja -- misal si ibu sambil ngawasi sambil nyetrika -- meleng dikit aja bisa-bisa si anak sudah lari ke luar rumah. Terus jatuh dan kepalanya benjol. Terus saat suami pulang, ia memarahi istrinya, menganggap istrinya gak bisa jaga anak. Hallooooo! -_____-

Ayolah, istri itu konon memang sosok yang pandai multitasking. Tapi ia tetaplah punya keterbatasan dan butuh bantuan.

Saya jadi inget cerita Teh Kiki Barkiah di buku 5 Guru Kecilku. Teh Kiki selalu bertanya pada sang suami, "apa tugas utama saya di rumah?". Dan sang suami menjawab bahwa tugas utamanya di rumah adalah menyusui anak mereka yang masih membutuhkan ASI. Jadi, ketika rumah berantakan dan Teh Kiki gak sempat beresin, sang suami akan memaklumi dan gak segan membantu. Yang penting tugas menyusui gak terbengkalai.

Jadi, jika masih saja ada suami yang menuntut istrinya menyelesaikan semua pekerjaan domestik rumah tangga seorang diri dan gak berkenan membantu, lalu menyalah-nyalahkan jika ada pekerjaan yang gak beres, mungkin ia perlu diikutsertakan dalam program konseling rumah tangga =D

Buat para istri, yuk jangan segan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang mengganjal di hati pada suami. Jika pekerjaan domestik yang ada dirasa  terlalu membebani, ungkapkan. Jangan sampai kita jadi tertekan dan gak bahagia hanya karna kita enggan mengkomunikasikan. Mari jadi istri yang berbahagia menjalani peran kita ^_^

Rabu, 08 Februari 2017

#BincangKeluarga: Menjaga Penampilan di Hadapan Suami, Antara Ekspektasi VS Realita

Menjaga Penampilan di Hadapan Suami, Antara Ekspektasi VS Realita. Saya pernah dengar (atau baca, ya?) sebuah lelucon yang mengatakan bahwa daster adalah pakaian penghancur rumah tangga. Konon laki-laki (suami) itu cenderung gak suka istrinya memakai daster, sedangkan kebanyakan perempuan (istri) suka sekali memakai daster. Dan itu katanya menjadi salah satu pemicu perselingkuhan.

Duh, waktu tau soal itu, saya (yang saat itu belum menikah) langsung bertekad dalam hati: saya gak akan memakai daster di hadapan suami! Mau selalu pakai baju tidur yang seksi-seksi. Pokoknya BIG NO buat daster. Itu ekspektasi saya.

Realitanya hari ini gimana?




Pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa saya perempuan biasa yang gak bisa menolak pesona dari daster =D Pernah dengar gak, daster itu semakin jelek dan buluk semakin nyamaaaannn banget dipakai? Itu benar sekali menurut saya! =D

Pernah sih sok-sokan saya berbaju lumayan 'rapi' waktu di rumah. Ehh mas suami malah tanya, "Lho, mau kemana kok pakai baju bagus?" -___-

Saya bilang, ya gak kemana-mana, kan biar gak sepet lihat saya pakai daster. Beliaunya bilang, "Ah, gak sepet kok. Kalau di rumah pakai baju rapi gitu malah kesannya sumpek". Xixixi. Lagian kalau saya pakai daster, mas suami rasanya lebih... ah, sudahlah, gak usah dibahas =D

Yup, daster adalah point pertama atas ekspektasi saya yang gak sesuai dengan realita yang terjadi hari ini.

Dan ekspektasi saya soal menjaga penampilan di hadapan suami masih sangat banyak. Soalnya, katanya kelemahan suami itu ada pada matanya, sedangkan kelemahan perempuan ada pada telinganya. Itulah sebabnya laki-laki paling lemah lihat paha perempuan, sedangkan kita mah lihat paha laki-laki kok blas gak ada tertarik-tertariknya, ya? Padahal kan sama-sama aurat. Tapi di sisi lain, cuma dengar kalimat 'kaulah segalanya bagiku' aja udah bikin kita perempuan melayang-layang =D

Dulu sebelum nikah, saya rajin facial muka sendiri di rumah. Facial sederhana aja sih. Pake peeling dan masker gitu. Luluran juga lumayan rajin. Seringnya, setiap melakukan hal tersebut saya sambil berekspektasi.  
Nanti kalau sudah nikah, saya akan tetap rajin rawat badan kayak gini, ah. Biar suami senang.

Realitanya?

Aduh mak, kalau pulang kerja rasanya kasur lebih menggoda. Sedangkan saat weekend, setumpuk setrikaan dan kamar yang berantakan sudah menanti sentuhan tangan untuk dibereskan. Mendadak susah sekali meluangkan waktu untuk sekedar luluran.

Ah, jangankan luluran. Ekspektasi yang lebih sederhana dari itu saja ternyata masih gak sesuai sama realita. Belajar dari pengalaman kakak saya yang diperintah oleh suaminya untuk selalu 'cantik', minimal pakai lipstik jika dihadapannya, saya pun dulu berekspektasi seperti itu.

Sayang, lagi-lagi realitanya gak sesuai. Karena apa? Mas suami gak suka lihat saya pakai lipstik, apalagi pakai make up macem-macem. Dia jauh lebih suka liat wajah polos saya katanya. Haha, yasudahlah.

Saya kadang mikir. Duh, saya kok gak 'nyunnah' banget, ya =(( Kan menjaga penampilan di hadapan suami itu sunnah, kan? Eh, atau wajib?

Pernah juga saya sampai minta maaf pada mas suami, karna saya belum bisa menjaga penampilan di hadapan beliau.

Mas suami cuma ketawa. Kata beliau, menjaga penampilan itu jangan diartikan sempit dengan cara selalu berpakaian bagus dan pakai make up saja. Yang paling utama itu justru menampilkan wajah yang selalu 'enak dilihat' -- yang mana artinya (bagi mas suami) adalah: gak cemberut, MESKIPUN LAGI PMS!

Haha, iya, soal 'meskipun lagi PMS' itu ditekankan sekali sama mas suami. Soale kalau lagi PMS saya seringnya kayak mak lampir =D

Yah, begitulah. Ekspektasi-ekspektasi sederhana tentang menjaga penampilan di hadapan suami, pada kenyataannya gak selalu mudah direalisasikan. Butuh niat dan tekad yang kuat.

Saya belum setahun nikah, jadi belum berani sesumbar bahwa suami saya gak masalah saya tampil sangat apa-adanya seperti saat ini. Saya tetap merasa butuh dan menyimpan ekspektasi untuk selalu menjaga badan dan penampilan untuk suami. Terutama setelah ada anak nanti, pastilah tantangannya lebih berat.

Kalau teman-teman gimana? Seperti apa ekspektasi VS realita soal menjaga penampilan di hadapan suami? Share ceritanya, ya :)

Kamis, 02 Februari 2017

Berbagai Keluhan Selama Kehamilan Pertama Saya


Berbagai Keluhan Selama Kehamilan. Kalau ditanya gimana rasanya hamil, saya akan jawab NIKMAT! Iya lah, hamil itu nikmat tak terkira. Gimana enggak nikmat jika di luar sana banyak teman yang masih berikhtiar untuk bisa merasakan hamil, saya sudah bisa merasakannya.

Salah satu mbak ipar saya pernah bilang, pokoknya pengen anak dua saja. Pas ditanya kenapa, jawabnya gak kuat lagi nanggung beratnya masa kehamilan. Hamil dua kali, dia hampir gak kuat ngapa-ngapain sama sekali selama 9 bulan. Tiduraaann terus. Teler.

Ada yang segitunya. Ada juga yang masa kehamilannya lancar jaya kayak jalan tol. Gak mual, gak loyo. Tapi setau saya, setiap kehamilan pasti ada keluhannya masing-masing. Meskipun kadar keluhannya beda-beda. Keluhan di sini maksudnya bukan mengeluh meratapi, 'kok giniii sih!', melainkan kondisi-kondisi kurang nyaman yang gak biasa dirasakan ketika sedang gak dalam keadaan hamil.

Saat baru beberapa minggu ketauan hamil, saya sempat jumawa, ah hamil saya enak-enak aja kok. Gak seperti yang banyak dikeluhkan orang-orang. Eits, tapi kejumawaan saya segera luntur seiring berjalannya usia kehamilan dari minggu ke minggu. Satu per sayu keluhan kehamilan mulai saua rasakan.

Nah, berikut ini beberapa keluhan yang saya rasakan selama hamil:

1. Punggung bagian bawah sakit

Ini keluhan pertama yang saya rasakan. Punggung bagian bawah luar biasa sakit. Seperti setiap menjelang mens, hanya saya tingkat sakitnya jauh lebih tinggi.

Keluhan ini berakhir hanya beberapa hari setelah saya periksa kehamilan yang pertama. Oleh dokter saya diperkirakan kurang kalsium, jadi diberi suplemen kalsium untuk diminum setiap hari. Dan, voila... bye-bye punggung sakit.

2. Pusing setiap bangun tidur hingga jam 10-an pagi, pada trimester pertama

Alhamdulillah saya gak pernah mual selama trimester pertama kehamilan, seperti kebanyakan orang. Tapi bukan berarti saya gak merasakan morning sickness.

Morning sickness yang saya rasakan adalah pusing yang teramat sangat pada pagi hari. Meski hanya sampai sekitar jam 10-an pagi, dan setelahnya pusingnya akan hilang sendiri, keluhan ini sempat cukup mengganggu aktivitas pagi saya di kantor. Keluhan ini saya rasakan kira-kira sejak memasuki usia kehamilan 10 minggu, hingga memasuki trimester kedua.

3. Kaki bengkak

Kaki bengkak, konon merupakan keluhan yang umum terjadi pada sebagian wanita hamil. Tapi, kasus kaki bengkak saya agak istimewa. Pasalnya, kaki saya bengkak sejak usia kehamilan saya baru memasuki bulan ke-tiga. Padahal kebanyakan mengalaminya saat sudah memasuki trimester akhir.

Bisa dibilang, keluhan kaki bengkak inilah yang paling mengganggu aktivitas, meskipun Alhamdulillah saya masih tahan :) Hingga hari ini, saat usia kehamilan saya sudah memasuki usia 35 minggu, bengkaknya kaki saya semakin menjadi-jadi.

Saya sempat resah dengan keluhan ini. Tapi kata dokter, gak perlu terlalu dikhawatirkan selama tekanan darah saya normal (tidak tinggi) dan tidak ada kebocoran protein pada urine saya yang bisa diketahui melalui hasil test lab.

4. Perut bagian bawah sakit, dan sering BAK dalam kuantitas sedikit-sedikit

Keluhan ini hanya saya rasakan beberapa hari saja, pada trimester kedua. Gara-garanya saat tengah liburan di kampung halaman yang suhunya termasuk adem, sehingga saya 'lupa' minum. Efeknya ya itu, perut bagian bawah sakit, dan terus-terusan pengen BAK, tapi keluarnya sedikit-sedikit.

5. Pendarahan

Ini yang paling bikin sport jantung. Ketika pada suatu pagi, tiba-tiba saya melihat darah pada tissue yang saya pakai setelah BAK. Waktu itu saya segera dilarikan ke UGD oleh suami yang kebetulan bekerja satu instansi dengan saya.

Setelah di USG, ternyata penyebabnya adalah letak plasenta saya yang tergolong rendah. Setelah kejadian pendarahan tersebut, saya diwaniti-wanti untuk menjaga agar jangan sampai kecapekan agar pendarahan tersebut gak berulang.

6. Tangan kebas

Sejak trimester kedua, gak hanya kaki saya yang bengkak, tapi juga jari-jari tangan saya. Tapi biasanya hanya terjadi ketika bangun tidur, dan kembali normal ketika sudah dipakai beraktivitas (tangan saja yang kembali normal).

Namun akhir-akhir ini tangan saya gak hanya bengkak, tapi juga terasa kebas. Seperti mati rasa. Keluhan ini cukup mengganggu, terutama ketika dipakai beraktivitas. 

7. Kulit wajah berjerawat

Kalau yang ini sepertinya keluhan yang paling gak penting, tapi juga paling bikin galau. Hehe. Entah kenapa wajah saya yang dulunya jarang berjerawat, sejak hamil jadi akrab sekali dengan jerawat.

Konon hal itu wajar, karena dipengaruhi perubahan hormon saat hamil. Sudah beberapa cara saya coba untuk mengendalikan tumbuhnya jerawat di wajah saya, tapi belum ada yang benar-benar berhasil. Mungkin memang saya harus bersabar hingga melahirkan nanti untuk melakukan penumpasan jerawat dengan lebih maksimal.

Yup, tujuh point di atas merupakan keluhan yang saya rasakan selama kehamilan pertama ini. Saya menulis ini bukan bermaksud untuk mengeluh. Saya menulis dengan harapan, siapa tau ada teman-teman yang juga sedang hamil pertama seperti saya, dan bingung atau merasa ketakutan dengan beberapa keluhan yang dirasakan.

Soalnya saya dulu gitu. Ada keluhan dikit, langsung panik. Takut itu pertanda bahaya, dll. Jadi, bagi yang mengalami keluhan seperti tujuh point di atas, jangan panik. Karna sejauh ini semua keluhan si atas sudah saya konsultasikan dengan dokter, dan dokter bilang bukan sesuatu yang berbahaya :)

Yang jelas, setiap kehamilan itu 'istimewa'. Gak perlu minder karna merasa 'kok aku hamil banyak keluhan, gak kayak dia yang lancar jaya?!', dan gak perlu jumawa ketika dianugrahi kehamilan tanpa kendala hingga membuat mudah nge-judge orang lain manja.

Mari menjalani kehamilan dengan bahagia ^_^

Rabu, 01 Februari 2017

#BincangKeluarga: Periksa Hamil Pada Dokter Kandungan Laki-Laki, Yay or Nay??

Di kantor, salah satu teman saya sedang galau soal memilih dokter kandungan untuk istrinya yang juga sedang hamil anak pertama. Dan beliau memilih saya beserta suami sebagai tempat meminta pertimbangan. Mungkin karna saat ini saya juga sedang hamil, jadi pastilah sedang akrab dengan dokter kandungan.

Jadi, di beberapa bulan pertama kehamilan, dia periksa ke seorang dokter kandungan perempuan di sebuah rumah sakit. Tapi keluarga istrinya tiba-tiba mendesak teman saya untuk ganti dokter kandungan, gara-gara habis dengar cerita tentang track record si dokter perempuan tersebut.

Dia sempat tanya-tanya tentang dokter kandungan saya. Minta rekomendasi dokter-dokter kandungan yang saya tau juga. Tanya sana-sini. Eh, akhirnya mentok dipaksa untuk periksa ke dokter kandungan rekomendasi ibu mertuanya... yang mana adalah dokter kandungan laki-laki!

Galaunya adalah, karna si teman saya itu dari awal bilang kekeuh gak pengen istrinya periksa ke dokter kandungan laki-laki. Hihi.


Baca punya Ade:


Salah satu hal pertama yang terlintas dalam benak saya saat melihat dua garis merah di testpack adalah: mau periksa hamil ke mana??

Saya sempat tanya-tanya ke beberapa teman yang udah pernah hamil. Tentang ke mana mereka periksa hamil, dokter siapa, dan gimana dokternya, dll. Selain tanya-tanya, saya browsing juga tentang apa saja yang harus dipertimbangkan saat akan memilih dokter kandungan.

Tema ini juga sudah jadi bahan obrolan saya dengan mas suami, bahkan sebelum saya hamil. Hihi. Kalau saya pribadi sih pokoknya yang penting dokternya harus enak diajak ngobrol. Duh, jangan sampai deh saya periksa ke dokter kandungan yang kalau ditanya-tanya jawabannya jutek. Bisa naik darah nanti bumil. Haha.

Nah, kalau syarat dari saya cukup enak diajak ngobrol, beda dengan mas suami. Mas suami sudah sejak awal bilang, saya harus periksa hamil pada dokter kandungan perempuan. Beliau ga rela saya periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki.

Waktu saya tanya apa alasannya, beliau bilang ini soal ego laki-laki. Egonya gak rela ada laki-laki lain yang melihat bagian tubuh istrinya yang seharusnya cuma buat dia. Cemburu, nih yeeee.... Haha.

Tapi saya seneeeng sih dia bersikap seperti itu. Artinya dia benar-benar pengen 'jaga' saya. Bagi saua itu sweet banget :')

Lagian kata beliau, kalau ada dokter kandungan perempuan yang juga bagus, kenapa harus periksa pada dokter kandungan laki-laki sih?

Jadi, kalau saya ditanya periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki, yay or nay??

Saya, nay! Nay karna saya tau mas suami gak ridho. Jadi ini berkaitan sama taat saya pada suami.

Tapi tunggu dulu! Mas suami tetep punya toleransi kok. Kalau kondisi darurat dan memang harus ditangani sama dokter laki-laki, ya sudah gak papa. Keselamatan tetap jadi yang utama.

Contohnya mbak ipar saya. Beliau dari awal kehamilan selalu periksa pada dokter kandungan perempuan. Tapi pas hari H melahirkan ternyata si dokter perempuan gak ada di tempat, dan hanya ada dokter kandungan laki-laki. Yowis, mau gimana lagi??

Emm, berarti jawaban saya di atas perlu dilengkapi, ya. Periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki, yay or nay??

Nay, selama situasi dan kondisi masih serba memungkinkan. Kecuali dalam kondiai darurat.

Kalau teman-teman gimana? Periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki, yay or nay?