Sabtu, 24 Desember 2016

Henna di Hari Pernikahan

Memakai henna di hari pernikahan. Sejak kapan sih sebenarnya henna jadi trend, khususnya untuk pengantin perempuan di hari pernikahannya? Saya sendiri gak tau kapan persisnya. Yang jelas, pertama kali melihat langsung teman saya memakai henna saat menikah adalah saat saya masih semester pertengahan kuliah. Gak cuma tangannya yang dihenna, kakinya pun iya. Dan saat saya tanya berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk henna tersebut, kalau saya gak salah ingat biayanya adalah tujuh ratus ribu!

Sejak saat itu saya membatin, kayaknya saya gak akan berencana memakai henna saat menikah nanti. Duh, sayang uangnya. Hehe. Bayar mahal, terus bakal ilang begitu saja tanpa bekas. Lagian apa pentingnya sih? Kan gak mempengaruhi esensi dari pernikahan itu sendiri, kan?

Tapi itu dulu. Hati manusia mudah terbolak-balik, kan? Nyatanya beberapa bulan menjelang menikah, saya akhirnya kepincut juga pada foto-foto tangan ber-henna yang bertebaran di instagram. Apalagi saat melihat semakin banyak teman yang saat menikah memakai henna, makin pengenla, jelas!

Gayung serasa bersambut, ketika saya bertemu dengan seorang teman baru di tempat kajian yang punya ketrampilan meng-henna, bahkan sudah sering mendapatkan job henna untuk pernikahan. Saya sempat tanya-tanya. Biasanya dia pasang tarik sekitar tujuh puluh ribu per satu tangan, plus biaya transport tentunya. Ini yang bikin saya agak mikir. Dia tinggalnya di Semarang, sedangkan acara pernikahan saya di Jepara. Untuk jarak Semarang-Jepara yang cukup jauh, tentu saja butuh biaya transport yang juga lumayan. Hehe.

Saya lalu iseng-iseng googling henna pernikahan di Kota Jepara. Sayangnya, saat saya menghubungi salah satu nomor yang tertera di webnya, sama sekali gak ada respon :( Lalu saat saya sedang chit-chat dengan salah satu teman dekat saya sejak SMP, saya terbersit untuk tanya ke dia. Siapa tau dia punya rekomendasi. Dan benar saja, dia berjanji menanyakan nomor HP dari seorang peng-henna yang jasanya dipakai temannya yang baru menikah beberapa minggu sebelum saya.

Namanya Mbak Khadijah. Keturunan Arab, cantik banget. Ramah pula. Saya menghubunginya pertama kali lewat SMS, lalu selanjutnya kami bertukar Pin BBM. Dia memasang tarif enam puluh ribu per satu tangan. Dia juga minta tambahan transport lima puluh ribu. Meskipun sama-sama di Jepara, tapi rumah Mbak Khadijah di Jepara kota, sedangkan saya di pelosok. Hehe. Jadi saya cukup maklum. Finally, deal saya booking Mbak Khadijah di tanggal 6 Mei 2016 untuk meng-henna tangan saya. Yang butuh kontak jasa henna untuk pernikahan di Kota Jepara, hubungi saya ya =))

A photo posted by Rosa Susan (@rosalinasusanti) on

Beliaunya datang ba'da dhuhur waktu itu. Proses henna-nya gak terlalu lama, sekitar satu jam saja, lalu dilanjutkan prosespengeringan sekitar lima belas menit. Saya request model henna yang gak terlalu rumit waktu itu. Hasilnya cukup memuaskan buat saya pribadi, meski ada beberapa bagian yang sedikit kurang rapi.

Buat apa sih henna di hari pernikahan? Ya biar cantik aja sih. Hehe. Terutama saat di foto. Maklumlah, kan di hari pernikahan ceritanya kita adalah ratu, jadi harus istimewa dong tampilannya. Dengan catatan biayanya gak berlebihan aja sih kalau saya. Misal harga henna-nya tujuh ratus ribu saya kayaknya ogah =D

Tuu, jadi cantik kan (tangannya) =D

Kalau kamu gimana, mau pakai henna gak waktu nikah nanti?

Minggu, 18 Desember 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Keenam [27w] dan berbagai Drama yang Menyertainya

Alhamdulillah Ya Allah... Gak kerasa sekali sudah separuh lebih perjalanan kehamilan saya. Betapa bersyukurnya saya telah diijinkan untuk merasakan nikmat hamil ini.

Lagi-lagi, ini late post, tentang periksa kehamilan yang ke-enam pada tanggal 2 Desember 2016. Memasuki umur kehamilan 27 minggu ini, Alhamdulillah cenderung hampir gak ada keluhan. Em, kalaupun ada, paling migrain di pagi hari yang akan segera hilang dalam beberapa jam. Itupun Alhamdulillah udah gak saya rasakan beberapa hari terakhir.

Tapi, pada periksa kehamilan kali ini saya mendapat teguran sekaligus ultimatum oleh dokter. Gara-garanya, kami dibuat tercengang oleh angka timbangan yang menunjukkan kenaikan sebanyak 5 Kg sejak periksa kehamilan yang terakhir. Itu angka kenaikan yang berlebihan dalam sebulan, menurut dokter. Lalu dokter Retno bertanya apakah saya sering makan mie. Saya jawab tegas, tidak. Fiuhh, makan nyicip mie-nya mas suami dua sendok saja saya merasa bersalah sekali rasanya. Pertanyaan dokter berlanjut, apakah saya sering makan roti. Nah, kalo yang ini bikin saya meringis mengiyakan. Dalam sebulan ini, saya sering sekali makan roti. Gara-gara ibu mertua sempat masuk rumah sakit, rumah jadi kayak gudang roti dari para pembesuk. Ya siapa lagi yang menghabiskan kalau bukan kami yang sehat. Hehe. Setelah saya mengiyakan, dokter Retno tegas meminta saya berhenti ngemil roti, dan menghimbau untuk gak boleh ngemil selain buah.

Alhamdulillahnya, melalui pemeriksaan USG, berat badan adek bayi masih standar -- sesuai dengan umurnya. Tapi tetap saja dokter bilang kalau pola makan saya gak diatur mulai sekarang, bisa jadi di bulan-bulan terakhir berat badan adek bayi melonjak. Saat ini berat adek bayi sudah mencapai angka 1,02 Kg. Sehat. Lagi-lagi, Alhamdulillah. Ohya, soal keputihan, dokter tanya perkembangannya. Saya bilang tetap ada, tapi kuantitasnya sedikit. Menurut dokter retno, kalau sedikit dan gak berbau atau bikin gatal ya gak masalah.

Di akhir konsultasi, saya sempat bertanya kapan sebaiknya kalau mau USG 4D. Dokter Retno menyarankan akhir bulan Desember, atau awal Februari. Akhirnya, sebelum pulang saya mendaftar sekalian untuk USG 4D pada tanggal 22 Desember 2016, karna menurut petugas pendaftarannya kalau lebih dari tanggal itu usia kehamilan saya sudah terlalu tua untuk USG 4D. Takutnya jadi gak maksimal.

Konsultasi kami di periksa kehamilan ke-enam ini memang cenderung gak lama. Karna ya itu, Alhamdulillah saya hampir gak ada keluhan. Menjelang trimester ke-tiga ini, saya merasa enjoy. Mungkin karna badan saya sudah 'selesai' beradaptasi. Bengkak di kaki juga mulai berkurang.

Tapi, jalan cerita Allah memang sering sekali mengejutkan. Periksa kehamilan yang 'adem-ayem' tersebut, ternyata berlanjut dengan beberapa drama yang sama sekali gak terduga.

Drama Pertama

Rabu tanggal 7 Desember, saya masuk kerja seperti biasanya. Saya merasa sehat-sehat saja, sama sekali gak ada hal gak nyaman yang saya rasakan.

Sekitar pukul 10, saya ke dapur kantor untuk meminta tolong OB membelikan saya cemilan, karna lapar dan kebetulan lagi gak bawa persediaan cemilan dari rumah. Sekembalinya dari dapur, saya sekalian mampir toilet untuk pipis. Setelah pipis, saya terkejut melihat tissue yang saya gunakan untuk mengeringkan daerah kewanitaan berwarna merah. Saya coba sekali lagi, merah lagi. DEG, darah!

Jelas saya panik dan takut. Saya cari mas suami, ternyata gak ada di ruangannya. Akhirnya saya manggil mbak ipar yang juga kebetulan satu kantor. Sambil menangis, saya cerita bahwa saya pendarahan, dan memintanya mencari suami saya. Gak lama berselang, mas suami datang dengan wajah panik, dan langsung membawa saya ke UGD Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, ditemani mbak ipar juga.

Di UGD, seorang bidan mengecek detak jantung janin saya. Betapa lega ketika saya mendengar detak jantungnya masih sehat seperti biasa. Setelah ditensi, dll, saya dirujuk ke poly obsgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Di poly obsgyn, saya diperiksa oleh dokter Yulice. Melalui USG, dokter mengatakan bahwa sebab pendarahan yang baru saja saya alami adalah karna letak plasenta saya rendah. Subhanallah :(

Sempat juga saya diperiksa 'dalam'. Alhamdulillah sudah gak ada tetesan darah. Tapi saya tetep harus waspada, karna kata dokter Yulice letak plasenta yang rendah bisa saja menyebabkan pendarahan lagi di lain waktu. Beliau meminta saya bedrest tiga hari, sekaligus menghimbau agar rencana mudik ke Jepara tanggal 10 Desember dibatalkan, setelah mas suami bertanya soal itu :(

Drama selanjutnya saya ceritakan di post yang berbeda, ya.. Sekaligus cerita tentang periksa kehamilan ke-tujuh.

Sabtu, 10 Desember 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Kelima [22w6d]

Ini too late post banget. Soalnya periksanya aja sudah awal bulan lalu, dan bahkan sudah selesai periksa yang ke-enam. Hihi. Tapi saya tetep kekeuh pengen mencatat setiap tahapan periksa pada sebuah blogpost. Biar bisa di baca-baca lagi saat hamil kedua nanti 😁


Kalau pada periksa kehamilan ke-empat cukup banyak yang istimewa; di antaranya deg-degan sama hasil cek darah plus jenis kelaminnya si adek udah kelihatan, pada periksa kehamilan kali ini cenderung datar.

Eh, ada sih yang istimewa. Berat badan saya sudah melampaui angka 50 Kg teman-temaaan. Tepatnya 51 Kg. Yeaayyy 😀 Kenapa ini istimewa sekali?? Karena belum pernah sekalipun berat badan saya melampaui angka 45 Kg sebelumnya.

pipisnya gak kelihatan ya kalo di foto. haha
Si Adek juga kasih kejutan periksa kehamilan kali ini. Sewaktu di USG, ternyata dia lagi pipis, dan kelihatan di layar USG. Hahaha. Saya baru tau kalau janin dalam kandungan itu juga sudah pipis segala 😀

Soal keluhan, masih sama. Kaki bengkak tiap pulang kerja. Tapi saya sudah mulai terbiasa. Toh setelah dibuat tiduran, Alhamdulillah bengkaknya ilang. Soal keputihan juga masih tetep bikin resah. Salahnya, saya gak teratur pakai obat yang diresepkan oleh Dokter. Seperti yang saya ceritakan di catatan kehamilan sebelumnya, obat untuk keputihan yang diresepkan itu bukan untuk diminum, melainkan dimasukkan langsung melalui lubang Ms. V menjelang tidur malam. Efeknya, pagi-pagi ketika bangun tidur, gak nyaman banget rasanya. Berminyak dan... argh, pokoknya gak nyaman. Makanya saya agak malas-malasan pakainya.

Oleh karena itu, di periksa kali ini mas suami meminta dokter untuk meresepkan ulang, dan memaksa saya untuk lebih teratur dari sebelumnya. Baiklah 😏

Emm, terus apalagi ya. Ohya, beratnya adek bayi di usia 22 week ini Alhamdulillah sudah setengah kilo lebih. kata dokter itungannya lumayan endut. Sehat terus ya, Nak...

Udah sih, itu saja sepertinya cerita periksa kehamilan kali ini. Mohon doa agar saya dan janin diberi kesehatan serta keselamatan selalu ya, teman-teman 😊