Selasa, 29 November 2016

Perbedaan Gaya Komunikasi Antara Suami dan Istri


Pernah gak sebel sama suami karena suatu hal, tapi kita memilih untuk diam -- berharap suami bisa paham perasaan kita tanpa kita harus mengungkapkannya secara langsung?

Saya sering =D

Pernah gak pengin sesuatu, tapi gengsi untuk bilang, lalu memilih mengirimkan kode pada suami? Misal, lagi pengin diajak piknik, lalu kita nge-share artikel tentang pentingnya mengajak istri piknik di FB, berharap suami paham bahwa itu merupakan kode -- tapi sayangnya bahkan di bacapun enggak.

Lagi-lagi, saya sering =D

Dan ending dari semua itu rata-rata selalu sama. Saya yang semakin uring-uringan dan termehek-mehek karna merasa suami sama sekali gak peka. Gak ngerti perasaan istrinya. Berkali-kali pula suami menekankan, bahwa ia tak tau maksud dan keinginan orang yang diam, karna dia bukan dukun.

Atas kasus hobi kirim kode dan gagal menangkap kode ini, istri seringkali menuduh suami gak peka, sedangkan suami menganggap istri gak jelas. Hehehe.

Lalu saat kita (istri) sedang ingin menumpahkan segala hal yang terasa memenuhi hati dan pikiran. Pernah gak bukannya lega, kita malah dibikin bete karna suami menanggapi dengan berbagai nasehat dan solusi atas apa yang kita ungkapkan, sedangkan kita menganggap semua itu bukanlah solusi yang tepat. Lalu di akhir pembicaraan, dengan sewot kita menutupnya dengan satu pernyataan, 'kamu tu gak ngerti!'. =D

Pada saat yang lain, adakalanya suami tampak jauh lebih pendiam. Insting kita sebagai istri seringkali tau bahwa ia sedang menanggung sebuah beban pikiran. Lalu dengan segenap cinta kita menawarkan telinga untuk mendengarkan segala ceritanya -- seperti kita juga selalu menginginkan hal yang sama saat sedang ada masalah, tapi suami dengan cool-nya menjawab, 'gak ada apa-apa kok'. Kemudian kita terluka. Merasa ia tak percaya pada kita karna enggan berbagi masalahnya.

Pernah mengalami itu semua?

Meski belum lama berumah-tangga, saya sepertinya sudah pernah mencicipi itu semua. Pernah suatu hari, saya menyodorkan buku tentang pernikahan pada suami. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ketika perempuan (istri) sedang bercerita tentang masalah-masalahnya, ia sebenarnya hanya butuh didengarkan. Karena hanya dengan mendengarkan dengan baik, istri merasa sudah dibantu untuk menyelesaikan 75% masalahnya.

"Tuuu mas, jadi kalo aku lagi curhat mas jangan motong dengan nasehat-nasehat atau tawaran solusi, karna itu malah bikin aku bete!" begitu ucap saya.

Tapi saya kecele saat di sub-bab berikutnya dijelaskan bahwa seorang lelaki cenderung fokus untuk merenung dan mencari jalan keluar saat sedang ada masalah, bukan dengan bercerita. Saya malu pada diri sendiri, berarti saat suami gak mau cerita, bukan berarti dia gak percaya sama saya, tapi memang begitulah caranya menghadapi masalah.
Saya jadi ingat kata Ustadz Salim A Fillah dalam sebuah seminar pra-nikah yang saya tonton di Youtube. Beliau mengacu pada buku "Men Are From Mars, Women Are From Venus" karya John Gray. Bahwa laki-laki dan perempuan tumbuh dengan kemampuan linguistik yang jauh berbeda. Perempuan punya linguistik dan kepekaan perasaan luar biasa, sehingga membuatnya mampu (dan suka) mengungkapkan sesuatu secara terselubung, atau istilah masa kininya kode. Sedangkan kemampuan linguistik laki-laki gak cukup berkembang untuk bisa menangkap maksud-maksud terselubung yang dilemparkan perempuan.

Salahnya saya, bukannya menggunakan pengetahuan tersebut sebagai bekal memahami suami, saya malah menggunakannya sebagai 'senjata' untuk menuntut suami memahami saya.

Berulang-kali saya sewot karna suami gak juga paham saat saya mengirimkan kode, berulang-kali pula suami marah dan meminta saya ngomong dengan jelas tanpa perlu kode-kodean. Kalau dipikir-pikir, mengungkapkan sesuatu pakai kode memang bikin capek, kan? Tapi gimana ya, ada rasa gengsi yang gak bisa diungkapkan saat harus mengungkapkan sesuatu secara gamblang. Dan saya menggunakan teori 'laki-laki dari Mars, perempuan dari Venus' itu sebagai dalih pembenaran atas keengganan saya melakukan penyesuaian pola komunikasi dengan suami.

Tapi kemudian suami saya melontarkan teori yang bikin saya terdiam.

"Mas dari Mars, kamu dari Venus... tapi kita bertemu dan bersatu di Bumi. Jadi Ayok kita kesampingkan sifat-sifat bawaan kita dari Mars dan Venus, lalu sama-sama menggunakan sifat Bumi. Jadi bisa selaras." begitu katanya.

Ah, iya ya. Harusnya pengetahuan atas perbedaan yang saya, bukan saya gunakan sebagai senjata menuntut suami untuk memahami, tapi sebagai bekal agar bisa saling memahami dan menyesuaikan agar perbedaan  yang ada gak menjelma menjadi jarak yang semakin melebar.

Pernah gak punya pengalaman soal perbedaan komunikasi dengan pasangan? Share, yuk :)

Selasa, 22 November 2016

Lika-Liku Adaptasi di Masa-Masa Awal Pernikahan (Part. 2)



Di postingan sebelumnya saya bilang bahwa lika-liku adaptasi di masa awal pernikahan hanya terdiri dari penyesuaian kebiasaan yang bisa dibilang sepele. Sepertinya saya harus klarifikasi. Jujur saya akui, adaptasi di masa awal pernikahan ada kalanya terasa berat dan rumit. Tapi kembali lagi kuncinya tetap pada gimana sikap kita saat menghadapinya.



Lika-liku adaptasi akan semakin terasa dinamikanya jika setelah menikah kita harus tinggal di rumah mertua - karna satu dan lain hal. Bagaimanapun, saat tinggal di rumah mertua kita seperti punya 'beban mental' untuk menunjukkan pada mereka bahwa anaknya gak salah memilihkan menantu. Di sisi lain, kita harus tetap bisa menjadi diri sendiri agar tetap nyaman dan gak merasa teriksa.


Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. Ibu kandung saya adalah sosok ibu yang terlalu baik, sehingga gak pernah memaksa anak bungsunya ini memegang segala macam pekerjaan rumah. Jadilah, saya tumbuh jadi gadis yang gak terbiasa dan gak lincah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Jujur saja bagian ini cukup saya sesali setelah menikah. Coba dari dulu saya membiasakan diri, pasti gak terlalu kaku setelah menikah. Jadi dulu saat masih tinggal di rumah, kegiatan sehari-hari saya: bangun subuh, sarapan sudah siap, kadang bantu nyapu ruang TV dan ruang tamu (itupun gak rutin), lalu berangkat sekolah atau kerja. Sore saat pulang sekolah atau kerja, mandi, makan malam, nonton TV, tidur. Saat mulai kerja di luar kota dan harus kost, kegiatan saya gak jauh beda -- lebih parah malah =D Bangun subuh, gegoleran di kasur sambil mainan gadget atau baca novel, mandi, sarapan, berangkat kerja. Pulang kerja sore, gegoleran di kasur, mandi, makan, ngrumpi sama temen-temen kost, tidur. Begitulah hidup saya di masa lalu.

Bisa bayangkan seperti apa lika-liku adaptasi yang harus saya lalui setelah menikah dan harus tinggal sama mertua? =D

Mertua saya dua-duanya rajin sekali. Bangun hampir selalu sebelum subuh. Saat habis sholat subuh saya turun (kamar saya dan suami di lantai dua, sedangkan mertua di bawah), ibu mertua saya sudah selesai nanak nasi, siap-siapin bahan masakan, beres-beres macem-macem. Lantai sudah kinclong, dan ternyata ibu mertua punya kebiasaan ngepel sebelum tidur, sedangkan menantunya yang cantik gak tau diri ini sudah bobok cantik di kamar. Bisa bayangkan betapa malunya saya? Gak usah ditanya seperti apa bingungnya saya di masa-masa awal menikah dulu -- ingung harus ngapain. Ini salah satu efek dari saya yang belum terbiasa dan terlatih mengerjakan aneka pekerjaan rumah tangga.


Alhamdulillah suami dan ibu mertua sabar membimbing saya =)) Perlahan-lahan saya mulai tau kalau pagi harus ngapain aja. Tapi, membiasakan diri untuk mengikuti pola bangun paginya mertua sungguh bukan hal mudah :( Mereka gak pernah menuntut dan memaksa saya untuk itu sih, tapi saya merasa butuh sendiri biar bisa lebih maksimal mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Tapi apa daya, sampai sekarang usaha saya belum membuahkan hasil :(

Itu baru soal pola bangun tidur dan pekerjaan rumah tangga. Lika-liku lainnya saya rasakan soal lidah. Iya, lidah alias selera makan. Saya penggemar pedas. Lauk apapun kalau gak pedas rasanya hambar. Sedangkan keluarga suami terutama bapak-ibu mertua sama sekali bukan penggemar pedas. Di awal-awal masa pernikahan, ini cukup bikin saya galau. Hehe. Saya juga tipe orang yang kalau makan dengan lauk yang sama berturut-turut pasti langsung gak mood makan. Sedangkan ibu mertua tipe yang selama ada lauk yang belum habis, ya berarti makan itu lagi sampai lauk tersebut habis. Satu lagi yang lucu. Dari dulu saya sama sekali gak suka sayur lodeh. Dulu tiap ibu masak sayur lodeh, saya pasti ngambek gak mau makan. Sampai akhirnya beliau memilih untuk gak pernah masak sayur lodeh daripada saya ngambek. Sedangkan ibu mertua, saat belum tau saya gak suka sayur lodeh, dulu lumayan sering masak sayur tersebut. Berhubung masih baru banget jadi menantu, saya gak berani bilang gak suka. Ya sudah saya memaksa diri untuk tetap memakannya. Pernah juga saya disuruh masak sayur lodeh. Duh, gimana mau bisa kalao suka aja enggak, kan? Untung ada Mbah Google tempat saya bertanya =D Tapi dilema sayur lodeh sudah teratasi karna akhirnya mas suami membeberkan rahasia saya yang gak suka sayur lodeh. Hehe.

Itu cuma beberapa point tentang lika-liku adaptasi di masa-masa awal pernikahan. Di lapangan, tentu saja akan jauh lebih banyak dan beragam variasinya. Sekali lagi, bagi yang belum menikah, gak perlu takut apalagi parno. Lika-liku ini jika dihadapi dengan positif thinking akan menjadi salah satu fase pembelajaran yang luar biasa bagi kita. Terutama pelajaran tentang mengalahkan ego pribadi :) Saat sudah menikah, sudah bukan saatnya meletakkan ego pribadi di atas segala-galanya. Sudah bukan saatnya bilang 'Aku itu...", tapi harus mencari jalan tengah yang bisa membuat ego kita dan pasangan serta ego orang-orang di sekitar tak terkecuali mertua membaur menjadi satu perpaduan indah.

Yuk bagi cerita lagi bagi yang punya pengalaman lucu, menarik atau inspiratif tentang lika-liku adaptasi di masa-masa awal pernikahan :)

Kamis, 17 November 2016

Lika-Liku Adaptasi di Masa-Masa Awal Pernikahan (Part. 1)



Lika-Liku Adaptasi di Masa-Masa Awal Pernikahan. Bagi yang masih single dan sedang merencanakan pernikahan, bayangan awal masa pernikahan pastilah menjadi salah satu yang mendominasi pikiran. Masa-masa awal pernikahan adalah masa yang penuh bunga dan madu, begitu kata banyak orang. Gak salah sih, tapi juga gak sepenuhnya benar.

Baca juga: Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan

Memang di masa awal pernikahan gairah cinta masih amat menggelora. Dunia serasa milik berdua. Itulah potret yang sering kita tangkap saat melihat pengantin baru. Tapi bagi kita yang sudah menikah pasti tau, bahwa di balik itu juga ada dinamika dan lika-liku yang terkadang ingin kita simpan sendiri.

Dan lika-liku di masa-masa awal pernikahan itu bernama adaptasi.

Jangan dikira menikah dan hidup bersama dengan orang yang sangat kita cintai gak memerlukan adaptasi. Sayangnya cinta gak seampuh itu untuk mampu membuat dua orang atau lebih hidup bersama tanpa perlu adaptasi. Lha wong sama orangtua kandung yang hidup bersama sejak orok dan cintanya gak pernah kita ragukan saja kadang butuh adaptasi, kan?

Masa adaptasi di awal pernikahan, seringkali menguras perasaan. Gak perlu merasa parno bagi yang belum menikah. Yang menguras perasaan sebenarnya bukan hal-hal yang serem-serem kok. Kadang malah lebih sering hal-hal sepele. Contohnya...

Kita terbiasa selalu meletakkan barang ke tempat semula setelah digunakan, sedangkan pasangan kita terbiasa menaruh sembarangan.

Kita terbiasa memencet pasta gigi dari ujung bawah, sedangkan pasangan kita terbiasa memencetnya dari tengah.

Kita terbiasa dengan jam tidur yang teratur dan mengidamkan 'pillow talk' sebelum tidur, sedangkan pasangan kita terbiasa begadang dan menghabiskan waktu di depan komputer sebelum tidur.

Dan lain sebagainya...

Tuuu kan, apa saya bilang, cuma masalah-masalah sepele, kan? Saya bukannya gak punya gambaran tentang ini sih sebelum menikah. Saya melahap banyak buku-buku tentang pernikahan saat masih single, dan hal-hal di atas hampir selalu menjadi bagian dari isi buku. Tapi mengalaminya secara langsung ternyata tetep saja seru-seru gimanaaaa gitu. Meskipun lika-liku adaptasi di masa awal pernikahan kebanyakan hanya seputar masalah kebiasaan yang bisa dibilang sepele, tetep aja jangan dianggap remeh. Kalau kita gak punya kesiapan menghadapinya, lika-liku yang harusnya bisa terasa seru jika dihadapi dengan bekal kesiapan bisa menjadi sesuatu yang menguras air mata dan makan hati. Hehe.

Tapi sekali lagi, lika-liku adaptasi tersebut bisa kita transformasikan menjadi keseruan yang membuat suasana dengan pasangan jadi cair. Contohnya teman saya. Gara-gara suaminya yang kebiasaan menaruh handuk sembarangan setelah mandi, akhirnya teman saya memberlakukan sistem denda. Siapa di antara mereka yang lupa menaruh handuk ke tempatnya, harus bayar denda yang dimasukkan ke sebuah tempat khusus yang telah dipersiapkan. Apa cara itu efektif? Yup! Ternyata dengan sistem denda, si suami teman saya itu jadi termotivasi dan merasa malu kalo harus bayar denda, meski nominal gak seberapa. Yang bikin makin seru, ketika suatu saat teman sayalah yang lupa menaruh handuk. Derai tawa dan saling bully pun tak terelakkan =D

Saya sendiri pernah menangis tersedu-sedu pada suatu malam. Apa sebabnya? Malam itu saya punya kewajiban menyetrika baju yang sudah semakin menggunung, padahal saya sudah pengeeennn banget selonjoran di kasur sambil FB-an #halah. Kalau gak salah saat itu belum ada dua bulan saya menikah, jadi 'jiwa single' saya masih kental. Biasanya jam segitu saya sudah leyeh-leyeh di kasur sambil mainan HP, eehhh itu harus nyetrika dan kuantitasnya dobel karna yang saya setrika sekarang gak cuma baju saya, melainkan ditambah baju suami saya. Padahal dulu nyetrika baju sendiri saja selalu dadakan saat mau dipakai -_- Itulah sebabnya saya menyetrika sambil menangis saat itu. Kok nikah seberat ini, gitu pikir saya. Haha. Saat suami datang dan bertanya kenapa saya menangis, saya ngakunya kangen sama ibu. Buahahaha. Gak mungkin lah saya ngaku, jaim dikit lah =D

Yah, begitulah. Sesungguhnya di balik status-status berbunga-bungan serta postingan foto romantis pasangan pengantin baru yang mewarnai timeline FB kita, ada perjuangan untuk beradaptasi dibaliknya. Hihihi. Tapi ya gak usah dinyinyirin lah, jauh lebih bagus mereka mengumbar kebahagiaan di timeline, daripada mengumbar keluhan atau nyinyiran, hayoo??

Yang punya pengalaman serunya adaptasi dengan pasangan di awal pernikahan, share yuk :)

Senin, 07 November 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Keempat [19week]

Catatan kehamilan tentang periksa keempat nulisnya telat pakai banget. Sebulan! Haha. Bahkan kemarin saya barusan periksa kehamilan yang kelima =D Tapi gak papa, saya pengen tetep nulis lengkap dan berurutan :)

Periksa kehamilan yang keempat sebenarnya kami (saya dan Mas Suami) niati tanggal 4 Oktober, dengan jadwal tes laboratorium terlebih dahulu. Menurut info yang kami terima dari dokter Retno pada periksa kehamilan sebelumnya, hasil tes laboratorium bisa keluar satu-dua jam setelah dilakukan tes. Maka beliau merekomendasikan saya tes lab sore hari sembari menunggu beliau mulai praktek. Saya dan Mas Suami pun mengikuti anjuran tersebut.

Baca: Catatan Kehamilan Periksa Ketiga [14week]

Tanggal 4 Oktober 2016, sepulang dari kantor kami langsung menuju RSIA Kusuma Pradja. Setelah daftar untuk tes lab sekaligus periksa dengan dokter Retno, kami dipersilakan menuju lab RSIA Kusuma Pradja yang terletak di lantai dua. Saat bertemu dengan petugas lab dijelaskan bahwa ternyata untuk tes TORCH hasilnya gak bisa langsung jadi, melainkan baru bisa jadi sehari setelah tes, alias besok sore. Seperti yang saya ceritakan di catatan kehamilan sebelumnya, saya berkeinginan melakukan tes TORCH meskipun gak lengkap (karna mahal). Setelah diskusi sama suami, kami akhirnya sepakat periksanya besok sore aja, setelah hasil lab jadi, biar bisa sekalian ditunjukkan hasilnya pada dokter Retno. Jujur agak kecewa sore itu, soalnya sudah gak sabar pengen ketemu si adek melalui layar. Jadi sore itu akhirnya cuma diambil darah sama urine aja.

Sore hari berikutnya -- tanggal 5 Oktober -- kami datang lagi ke RSIA Kusuma. Hasil tes lab sudah jadi, an diambil di loket pendaftaran. Dag dig dug baca hasil lab-nya, terutama bagian TORCH-nya. Sekitar setengah tujuh malah, nama saya dipanggil. Setelah dokter Retno membuka hasil lab-nya, beliau bilang semua bagus. Untuk bagian tes TORCH-nya menunjukkan bahwa saya belum pernah terinfeksi virus tokso maupun rubella. Alhamdulillah, lega. Tapi kata dokter Retno itu malah artinya badan saya belum punya antibodi terhadap dua virus tersebut. Sedangkan untuk virus CMV-nya menunjukkan saya sudah pernah terinfeksi di masa lampau, dan itu artinya saya sudah punya antibodi terhadap virus tersebut. Pesen dokter Retno, positif thinking aja. Yang penting berusaha untuk selalu jaga kondisi. Yang lain-lain Alhamdulillah bagus semua, termasuk protein dalam urine, Alhamdulillah negatif. Doakan saya sehat selalu, ya :)


Soal keputihan, ini cukup bikin saya resah karna masih saja berlanjut. Meski gak berbau dan gak bikin gatal, tapi warnanya yang agak kekuningan bikin saya cukup galau. Lalu dokter Retno meresepkan sebuah obat, tapi tidak untuk diminum melainkan dimasukkan ke Ms. V. Bismillah, semoga dengan perantara obat tersebut keputihan saya sembuh. Aamiin. 

Nah, sekarang masuk ke bagian terfavorit sekaligus paling bikin grogi, yaitu USG. Pertama dokter Retno menunjukkan bagian-bagian tubuhnya si adek yang terlihat di layar. Alhamdulillah sudah terlihat dua tangannya dan dua kakinya. Telapak kakinya terlihat jelas sekali, Masya Allah... seneng :') Terus saya nyeletuk tanya, "jenis kelaminnya udah kelihatan belum, dok?". dokter Retno senyum, bilang belum. Beberapa saat menggerak-gerakkan alatnya lagi, tiba-tiba beliau senyum. "Eehh, sudah kelihatan ternyata kelaminnya!". Saya langsung semangat, "Cewek apa cowok, dok?". dokter Retno tersenyum. "Cowok, Insya Allah," jawabnya.


Huaaaa... mata saya berkaca-kaca. Hati saya buncah. Entah kenapa sejak awal hamil saya udah feeling banget si jabang bayi yang ada dalam perut saya adalah cowok. Padahal saya dan Mas Suami netral aja sih, gak ada keinginan yang condong banget ke cewek atau cowok. Apapun, asalkan sehat, selamat dan sempurna itu sudah lebih dari cukup bagi kami.

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang harus kami dustakan? :')