Kamis, 08 September 2016

#sanirosastory: Prosesi Adat Tumplak Punjen dan Filosofi di Baliknya

Saat menjelang menikah beberapa bulan lalu itu, sejujurnya saya ingin gak perlu ada prosesi-prosesi adat di dalamnya. Yang simpel-simple saja lah. Tapi apa daya, saat menikah bisa dibilang kita itu hanya 'lakon' yang skenarionya gak mungkin sepenuhnya ditentukan oleh si lakon sendiri. Beberapa anggota keluarga -- terutama Ibuk -- pengen prosesi adat tetap dilakukan, walaupun gak lengkap dan gak saklek. Ibuk sebenernya bukan orang yang masih menjunjung tinggi adat jawa sih. Kayaknya paham filosofi-filosofinya juga enggak. Hehe. Beliau cuma seneng aja nanti album fotonya jadi isinya lebih berwarna oleh beragam pose saat prosesi adat. Ahahaha. Tapi prosesi adat di pernikahan saya juga seadanya sih. Dari mulai rangkaiannya, peralatannya, dan segala macemnya jauh lah dari standar prosesi adat yang baik dan benar sesuai tuntunan. Hihi. Semoga gak dianggap merusak adat, ya :)

Tapi, dari beberapa prosesi adat yang saya jalani di hari pernikahan saya, ada satu prosesi adat yang paling disukai Ibuk, dan menjadi salah satu cita-cita Ibuk sejak lama jika suatu hari saya menikah. Apa itu? Tumplak punjen. Iya, tumplak punjen adalah prosesi adat yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat di wilayah saya. Yang lain-lainnya sih jarang.

Apa itu tumplak punjen? Yang orang Jawa pasti tau ya, atau paling gak punya gambaran. Kalo di benak saya sih tumplak punjen itu nyebar uang receh untuk diperebutkan para tamu yang hadir. Tumplak punjen biasanya diadakan hanya di pernikahan anak bungsu, atau di pernikahan terakhir dalam sebuah keluarga (jika si bungsu menikah lebih dulu dari sang kakak). Mungkin ini yang bikin tumplak punjen jadi istimewa.

Berhubung rumah saya itungannya di desa banget -- yang mana orang desa itu cenderung cuek sama yang namanya pakem, maka tumplak punjen yang sering saya lihat ya sekedar sekeluarga berdiri berurutan dari yang tua ke yang muda, lalu jalan muterin gerabah yang isinya air, lalu tiba-tiba uang disebar dan diperebutkan. Sudah, gitu doang. Nahh, saat pernikahan saya, baru deh dijelasin sama Bapak Pranotocoro urutan-urutan prosesinya -- walaupun saya masih tetep ga tau sih ini sudah bener-bener sesuai pakem apa belum. Hehe.

Kakak saya saat menyampaikan ucapak maaf dan terima kasih pada Bapak-Ibu
Jadi, pertama, kakak laki-laki saya -- mewakili saya dan kakak perempuan, menyampaikan beberapa kalimat. Isinya adalah permintaan maaf pada Bapak dan Ibu atas segala kesalahan kami selama ini, ucapan terima kasih atas segala kebaikan mereka pada kami hingga hari ini, dan permohonan doa agar rumah tangga kami senantiasa diberkahi oleh Allah. Huhu, momen ini lumayan bikin terharu. Tapi nangisnya ditahan lah ya, kan gak lucu kalau bulu matanya lepas. Huahaha.

saat kakak saya sungkem

waktu saya nerima sangu dari Ibuk. Hehe
Kedua, harusnya Bapak menjawab apa yang telah kakak saya sampaikan. Tapi berhubung Bapak saya orangnya merasa gak pede ngomong di depan para tamu undangan, akhirnya di-skip deh. Hihi. Lalu dilanjutkan sungkeman. Diawali oleh kakak tertua saya beserta suami dan anaknya, lalu kakak kedua bersama istri (anaknya lagi tidur), kemudia saya dan Mas Suami. Nah, saat sungkem itu, Ibu memberikan kantongan berwarna putih yang isinya uang. Ceritanya, uang tersebut merupakan 'sangu' terakhir dari Bapak-Ibu untuk modal hidup kami ke depan. Uangnya masih saya simpen sampai sekarang lho. Hehe.

sampai sekarang kita gak tau kenapa ekspresinya pada gak jelas gitu :D

ini waktu jalan muter-muter
Setelah sungkeman, kami lalu berdiri berurutan (yang paling depan Bapak -- yang paling sepuh -- dan paling belakang saya -- bungsu). Lalu salah satu saudara yang kami tuakan memegang pecut, yang konon filosofinya adalah bentuk dukungan atau support dari para sesepuh agar kami bisa sukses. Lalu kami jalan mengitari gerabah berisi air dan bunga setaman yang ditutup dengan tampah (tau tampah gak ya?). Setelah tiga kali putaran, Ibu mengambil gerabah yang kami kitari tersebut, lalu melemparkannya hingga pecah berserakan di depan pelaminan. Filosofinya, kini saatnya kami 'memecah', tidak lagi bersatu di satu rumah melainkan berpencar untuk menjalani kehidupan masing-masing, sedangkan bunga setaman melambangkan harapan Ibu agar hidup kami senantiasa 'wangi' dimanapun berada. Huhu, so sweet ya.

Setelah gerabah dilemparkan oleh Ibu, saudara yang kami anggap sepun lalu menyebarkan uang receh dan beras kuning untuk diperebutkan oleh para tamu undangan. Filosofinya sebagai bentuk syukur atas nikmat yang ingin kami bagi dengan semua sanak-kerabat. Sudah deh, selesai. Hehe.

ini waktu saudara yang dituakan nyebar uang. Yang dituakan belum tua sih :D
 Ternyata di balik proses-prosesi adat itu terkandung nasehat-nasehat luhur kehidupan ya jika kita mau mendalami. Jadi jangan cuma diikuti seolah itu ritual sakral, tanpa tau artinya. Apalagi jika sampai menyusupkan mitos-mitos tertentu yang merusak aqidah. Itu tuh yang gak bener. Contohnya dalam prosesi tumplak punjen. Mitosnya, uang yang kita dapat dari hasil rebutan itu bisa jadi penglaris usaha jika disimpan. Duh duh, ini gak bener banget! Syirik jatuhnya. Saya berlepas diri dari apa yang para tamu saya lakukan dengan uang sebaran saat acara tumplak punjen di pernikahan saya.

10 komentar:

  1. beda2 ya tiap daerah yang penting sakral. Selamat jadi pengantin baru ya mak...semoga keluarganya samara. aamiin

    BalasHapus
  2. Paling nggak kita brusaha melestarikan adat dan budaya yg baik deh

    BalasHapus
  3. Aku baru tahu prosesi lengkap tumplak punjen ini, Mbak. Dulu waktu adik saya menikah ya cuma berdoa trus duitnya disebar deh.
    Selamat atas pernikahannya ya Mbak, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, aamiin.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, saya juga baru tau pas nikah mbak :)

      Hapus
  4. Selamat menempuh hidup baru ya. Acaranya seru..eh... Kalo di Jakarta aku kok gak inget ya acaa tumplek ini.

    BalasHapus
  5. selamat menempuh hidup baru... semoga menjadi keluarga yang samawa ya...


    www.hijabmoderncantik.com

    BalasHapus
  6. Waaa..saya paling suka kalo kondangan ada tradisi adat seperti ini mbak, happy wedding ya mbak..

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)