Senin, 18 Juli 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Pertama [5w4d]

Setelah melakukan uji dengan testpack pada tanggal 4 Juli 2016 dan ternyata hasilnya positif, saya gak langsung periksa ke dokter. Selain karena saat itu sudah mepet sekali dengan lebaran dan hampir semua dokter (Muslim) pasti sudah cuti, ada yang bilang kalau telatnya baru sebentar bisa saja waktu di USG belum terlihat janinnya. Saya gak tau sih itu benar atau tidak.

Beberapa hari setelah lebaran, saya sudah makin gak sabar untuk memeriksakan diri. Sempat bingung juga mau periksa di mana, dan dengan dokter siapa. Yang jelas, Mas Suami memberi syarat dokter kandungannya harus wanita, titik. Saya sempat meminta rekomendasi pada beberapa teman yang sudah memiliki anak tentang dokter kandungan mereka dulu. Dua diantaranya memberi rekomendasi untuk periksa pada dr.Prima saja. Sayangnya, dr.Prima bertugas di dua Rumah Sakit yang dua-duanya agak jauh jaraknya dari tempat tinggal saya. Belum lagi, aambi nomor antriannya konon harus pagi-pagi buta, karena pasiennya banyak sekali. Haduh, sepertinya saya gak sanggup.

Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk periksa pada dokter yang sama dengan kakak ipar saya yang telah ia pakai jasanya di dua kali kehamilan. Namanya dr. Retno Kusumaningrum, Sp.Og. di RSB Kusuma Pradja Semarang. Bismillah, saya mantap, karena track record yang saya dengan dari kakak ipar cukup bagus.

Pada tanggal 11 Juli 2016 hari Senin Pukul lima sore, kami pergi periksa. Kami? Iya, saya, suami dan kakak ipar yang juga mau periksa. Sebelumnya saya sudah daftar melalui telfon, dan dapat nomor antrian enam. Sekitar Pukul 19.00 nama saya dipanggil. Grogi sekali, karena ini pengalaman pertama.

Sesampainya di dalam ruang periksa, saya menceritakan bahwa saya telat datang bulan dan sudah melakukan testpack yang hasilnya positif. Oleh dokter Retno, saya dipersilakan untuk USG. Nah, di bagian ini saya sempat cemas dan khawatir. Dokter Retno sempat seperti bingung ketika melihat layar, lalu bertanya, "Habis pipis, ya?", Saya jawab iya. "Pipisnya kapan?" Lanjut beliau. "Sebelum berangkat ke sini, dok", jawab saya. "Lalu setelah itu gak minum?", tanya beliau lagi. "Enggak, dok", jawab saya. "Ah, pantesan USGnya gak bisa dalem", ucap beliau. Iya, minum saya memang tergolong sedikit sekali, dan saya baru tau kalo itu berpengaruh pada USG. Sampai di situ, kecemasan saya masih berlanjut, sementara Mas Suami tampak serius mengamati layar USG. Dokter Retno seperti mencari sesuatu. Sedangkan saya bertanya-tanya, mana janinnya? Kok gak ada gambar seperti foto-foto hasil USG seperti milik teman-teman yang biasanya saya lihat? Jangan-jangan hasil testpacknya salah?

"Oooh, ini dia!" ucap dokter Retno tiba-tiba. "Ini pak janinnya, masih kecil sekali. Selamat ya pak, istri Anda positif hamil", lanjut dokter Retno. Saat itulah kecemasan saya baru sirna, meskipun deg-degannya masih. Alhamdulillah, batin saya. Saat periksa pertama, usia kandungan saya 5 Minggu 4 hari. Ukuran janin masih kecil.

Dokter Retno juga sempat memaparkan apa saja yang gak boleh saya makan, yaitu makanan apapun yang mengandung pengawet, pewarna makanan, pemanis buatan. Gak boleh minum teh hingga menyusui (padahal saya hobi ngeteh), gak boleh makan nangka, nanas dan durian. Sedangkan untuk aktivitas, saya dikarang naik-turun tangga berkali-kali dalam sehari, dan saat naik motor, Mas Suami dihimbau untuk gak bikin saya kaget (rem mendadak misalnya). "Karena ini kehamilan pertama, kita sama-sama belum tau seberapa kuat kandungan Ibu", ucap dokter Retno.

Sebelum berangkat periksa, rasanya saya punya banyak sekali daftar pertanyaan, tapi entah kenapa saya tiba-tiba blank saat di depan dokter. Saking groginya =D Saya cuma inget tanya soal apakah saya tetep boleh pakai kosmetik dan mengungkapkan keluhan saya tentang punggung yang sakit sekali. Dan dokter Retno bilang gak masalah, setelah sebelumnya menanyakan apa merk kosmetik saya. Tapi beliau menyarankan krim malamnya jangan dipakai dulu. Sedangkan untuk sakit punggung, beliau bilang akan memberi saya tambahan kalsium.

Ohya, satu lagi himbauan dari dokter Retno. Soal berhubungan, beliau mengatakan boleh, asal jangan 'dikeluarkan' di dalam. Hihi.

Sehat yaa, Nak... tumbuhlah dengan sempurna di perut Ibu :*

2 komentar:

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)