Rabu, 08 Juni 2016

Keluargamu, Keluargaku


Salah satu hal yang paling berat dalam masa-masa awal pernikahan -- menurut saya -- adalah membuka hati seluas-luasnya untuk bisa menerima keluarga si Mas Suami, dan menganggapnya sebagai keluarga kita juga. Menerima dalam artian benar-benar menganggap mereka keluarga kita, menyayangi mereka seperti kita menyayangi keluarga kita sendiri. Sepertinya sepele, ya. Tapi bagi saya itu bukan hal yang mudah. Kalo sekedar menerima si Mas Suami setelah berbagai pembuktian cintanya buat kita, saya rasa itu bukan hal yang sulit (dengan ijin Allah), karena karakteristik hati manusia, terutama wanita, adalah mudah luluh. Tapi tentang menerima keluarganya, itu perkara lain. Bagian ini benar-benar menuntut perjuangan dan luasnya hati kita.

Kenapa begitu?

Karna sudah sekian puluh tahun otak dan pikiran kita hanya diisi oleh satu keluarga, yaitu keluarga kita sendiri, yang sudah kita kenal sejak kita lahir di dunia. Mereka mengenal segala seluk-beluk tentang kita, baik maupun buruk. Begitu juga sebaliknya, kita mengenal segala baik-buruk mereka. Hal-hal buruk atau kurang pas yang ada pada keluarga kita, seolah akan terlihat biasa di mata kita, karna sudah menjadi kewajaran. Kita akan dengan sangat mudah memaklumi apapun tentang keluarga kita sendiri.

Tapi gak akan semudah itu saat kita dihadapkan pada keluarga baru. Saat menikah dengan seseorang, otomatis kita harus juga akan memiliki keluarga baru. Sebuah keluarga yang sudah punya kebiasaan, kultur, dan baik-buruknya sendiri sebagaimana keluarga kita juga memilikinya. Bedanya, kita lebih banyak belum taunya. Ketidaktauan sekaligus waktu kenal yang relatif belum lama, membuat pemakluman kita cenderung belum terlalu luas. Misal, di keluarga Mas Suami punya kebiasaan 'X' yang di mata kita buruk. Kadang, kita langsung berpikir, 'Ih, kok gitu sih'. Padahal keluarga kita juga punya keburukan yang setara dengan 'X' itu, hanya saja sudah terasa biasa di mata kita.

Jika kita tidak menyadarinya sejak awal, rasanya hal ini bisa menjadi bom waktu. Kita wajib rasanya berusaha menerima sepenuh hati keluarga pasangan, dan sebaliknya pula pasangan pun harus berusaha menerima keluarga kita. Agar kita bisa sama-sama berkata: Keluargamu, keluargaku pula. Terutama kita sebagai wanita. Pasti sudah tau kan ilmu tentang bagaimana posisi kita sebagai wanita yang sudah menikah dan bagaimana posisi seorang laki-laki setelah menikah dari sudut pandang seoang anak. Laki-laki yang telah menikah tetap memiliki tanggung jawab penuh atas keluarganya, terutama ibunya. Sedangkan kita sebagai wanita, keluarga sudah menjadi yang nomor ke sekian setelah terpenuhinya hak suami.

Baca juga: Tips Membangun Hubungan Baik Dengan Mertua

Kalau kita sebagai istri gak bisa menganggap keluarga suami sebagai keluarga kita juga, pasti yang ada grundel terus tiap keluarga suami meminta bantuan ke suami kita. Begitu juga sebaliknya. Jika suami tidak bisa menerima keluarga kita, mungkin ia akan bersikap sangat tidak adil saat keluarga kita membutuhkan sesuatu dari kita.

Begitulah. Pernikahan memang tidak sederhana dan menuntut kedewasaan, karna di dalamnya gak cuma menampung dua kepala dan dua kepentingan, melainkan dua keluarga yang akan selalu saling bersinggungan. Setelah menikah, sudah bukan lagi saatnya untuk egois dan menempatkan kepentingan kita dan keluarga di atas segalanya, karena kita telah memiliki keluarga baru. Saya masih berusaha untuk ini. Berusaha menerima dan menyayangi keluarga Mas Suami seperti saya menyayangi keluarga saya sendiri. Mudah? Tentu saja tidak. Saya mengenal dan tinggal dengan keluarga saya sudah seperempat abad, sedangkan mengenal dan tinggal bersama keluarga Mas Suami baru satu bulan. Langkah pertama yang saya lakukan untuk menganggap keluarga Mas Suami sebagai keluarga saya juga adalah dengan mengenal mereka dengan baik perlahan-lahan, dan mengesampingkan segala ego agar bisa melihat segala sesuatu selama masa perkenalan dengan lebih jernih.

Kalian yang sudah menikah, gimana kisah awal mula menerima keluarga suami? Share, yuk :)

5 komentar:

  1. Hai salama kenal, iya makasih lho tulisanmu ngena banget buat aku saat ini. agak susah memang menyatukan keluarga yang berbeda adat, budaya, kultur dengan semua kebiasaan - kebiasaannya. Terkadang kita masih ingin berlama-lama dengan keluarga kita sendiri, terkadang suami yang sangat mengutamakan kepentingan keluarga nya diatas keluarga saya. Semua itu terkadang menjadi hal yang benar-benar menguras emosi bahkan sampai memacing pertengkarang-pertengkaran kecil. Kadang merasa diperlakukan tidak adil atas keluarga saya dan keluarga si mas suami. Bagaimana agar semua tentram dan damai tidak ada yang merasa berat sebelah atau tidak adil. Memang sangat butuh kedewasaan tingkat tinggi dan butuh waktu yang tidak sebentar dalam beradaptasi. Semoga keluarga kita semua dijauhkan dari marabahaya dan ftnah, semoga dijadikan keluarga yang sakinah mawahdah warohmah, amin .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak, harus dewasa, menyingkirkan ego dan dikomunikasikan dengan baik. Saya juga masih dalam tahap terus-menerus berkomunikasi ttg hal ini agar kami berdua sama-sama legowo dan gak ada yg memendam perasaan gak enak yg bisa jadi bom waktu.
      Tetep semangat dan keep positif thinking yaa mbak :)

      Hapus
  2. Jadi pada intinya kita sebagai suami harus menganggap keluarga istri sebagai keluarga sendiri dan buat istri harus menganggap keluarga keluarga suami sebagai keluarga sendiri juga. Ehh apa sih ribet ya saya :) hihi maaf maklumin aja ya saya belum menikah :) hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, akan tiba saatnya Mas Effendi tau dan paham :)

      Hapus
  3. seiring berjlnnya waktu, semua kecanggungan itu akan hilang. salam kenal :)

    BalasHapus

Terimakasih telah mampir ke rumah maya sederhana saya... tinggalkan kesanmu, ya :)