Rabu, 22 Juni 2016

WHAT, Tinggal Sama Mertua???



Tau gak, selain pertanyaan 'kapan nikah?' untuk para single, dan pertanyaan 'sudah isi apa belum?' bagi para penganti baru, ada satu lagi pertanyaan basa-basi yang berbondong-bondong ditanyain pada seseorang yang hendak menikah. Pertanyaan apakah itu?

Nanti tinggal dimana setelah nikah?
  
Iya, saat hendak menikah, pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan setiap ketemu orang yang tau rencana pernikahan saya adalah pertanyaan di atas itu. Terus nanti setelah nikah rencana mau tinggal dimana?
  
Sebenarnya kadar sensitivitas pertanyaan tersebut ga setinggi pertanyaan 'kapan nikah?' dan 'sudah isi belum?' sih. Tapi, komentar-komentar di belakangnya yang mengikuti setelah saya memberi jawaban itu yang kadang lumayan mengganggu.

Setiap ada yang tanya akan tinggal dimana saya setelah menikah, saya jawab Insya Allah akan tinggal di rumah orangtua si mas dulu. Lalu mereka -- para si penanya -- memberikan respon bermacam-macam yang mungkin intinya kurang lebih sama. Dan -- sekali lagi -- lumayan mengganggu perasaan saya waktu itu. Ah, mungkin saya aja ya yang terlalu sensi.

Memangnya apa aja komentarnya?

Macam-macam. Ada yang bilang kenapa gak langsung belajar mandiri, ada yang bertanya sudah beneran siap mental apa belum tinggal sama mertua, ada yang dengan 'baik hati' memberi 'nasehat' bahwa tinggal mertua itu harus gini gitu gini gitu, ada juga yang langsung mringis dengan ekspresi seolah mau bilang: WHAT, tinggal sama mertua??!!

Kenapa komentar-komentar tersebut terasa mengganggu bagi saya? Yang sudah menikah pasti tau, bahwa hari-hari menjelang pernikahan merupakan hari dimana hati diwarnai berbagai macam perasaan. Tanpa dengar macam-macam komentar seperti di atas pun sebenernya hati sudah sangat sibuk menenangkan diri sendiri. Apalagi jika ditambah lagi!
Mendengar berbagai komentar tanggapan saat saya mengatakan akan tinggal sama mertua itu, sejujurnya saat itu saya menjadi resah luar biasa. Bertanya-tanya. Menerka-nerka. Kenapa memangnya jika tinggal dengan mertua? Ada apa sebenarnya? Semenakutkan apa tinggal sama mertua? Dan puluhan teror pertanyaan lain.

Oke, saya mungkin memang sudah punya sedikit gambaran tentang hubungan antara menantu wanita dan ibu mertua yang konon amat rawan konflik, tapi haruskan menambah beban pikiran saya dengan komentar semacam itu? Tapi saya tau, gak seharusnya saya membiarkan diri saya sebegitu terpengaruhnya sama komentar orang. Seharusnya saya tetap fokus untuk mempersiapkan diri menjadi istri dan menantu yang baik. Itu saja.


Satu lagi. Jika ada yang bertanya kenapa gak hidup mandiri saja dengan nada menyayangkan, Ah, Dear... Yang harus kita ingat adalah, setiap orang PASTI punya berbagai pertimbangan (yang gak kita tau) sebelum akhirnya mengambil keputusan. Jadi, jika saya dan si mas memutuskan untuk tinggal sama orangtua sementara waktu, adalah bukan lantaran kami tak ingin hidup mandiri sesegera mungkin setelah menikah. Melainkan karna pilihan tersebutlah yang kami rasa paling bijak.

Sepertinya, image mertua di mata kebanyakan orang Indonesia terutama wanita sudah terlanjur menyeramkan. Bisa jadi, itu justru salah satu pemantik konfliknya. Karna pikiran sudah terlanjur meng-image-kan buruk, maka apapun yang terlihat jadi buruk. Gitu kan, ya? Kalau kita punya niat untuk berusaha membangun hubungan yang baik dengan mertua, Insya Allah pastilah ada caranya. Kita yang muda, sudah selayaknya kita yang jauh lebih berusaha mengerti mereka (mertua). Bukan sebaliknya, menuntut mereka mengerti kita.


Pelajaran yang saya ambil adalah, ternyata berkomentar yang sepertinya biasa saja juga berpotensi mengusik perasaan orang. Kita gak pernah benar-benar tau kondisi seseorang dan pertimbangan apa saja yang ia pakai untuk mengambil sebuah keputusan. Maka, marilah lebih bijak dan hati-hati mengomentari keputusan yang telah orang lain buat. Mengeluarkan komentar bernada dukungan, saya rasa salah satu sikap bijak :)

Senin, 13 Juni 2016

#SaniRosaStory: Baju Akad Nikah

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan dulu, melalui berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk membuat baju yang akan saya dan Mas Suami pkai saat akad nikah -- alias tidak menyewa. Dan Alhamdulillah, keputusan kami didukung penuh oleh Bapak-Ibu mertua (saat itu masih calon) yang dengan senang hati menjadi donatur buat kami dengan membelikan bahannya (kainnya).


Waktu itu saya sempat mikir, 'Duh, kok hari gini baju akad nikah udah mau jadi sih, keburu bosen dong lihatnya'. Soalnya, berhubung yang jahit baju akad nikah saya adalah Ibu dan kakak perempuan saya (Mbak Nita), jadi ya ekspress -- bulan Maret udah jadi, tinggal nambah-nambahin pemanisnya aja. Eehh, ternyataaa... justru pemanisnya itu yang lamaaa. Gaun akad nikah saya akhirnya baru bener-bener jadi dan siap dipakai H-2 minggu acara. Nah, pelajarannya: jangan nunda-nunda kalau memang mau bikin baju akad nikah sendiri. Gak ada salahnya kasih spare waktu yang lumayan lama. Apalagi kalau kamu gak punya ibu atau kakak yang bisa jahit kayak saya. Haha.

Padahal pemanis gaun akad nikah saya gak banyak kok, karna memang dari awal niatnya bikin gaun akad nikah yang sederhana. Hanya saya tambahi renda plus payet. Payetnya pun dikiiitt, cuma di bagian dada dan lengan. Yang bikin agak lama itu karna kami (saya, Ibu dan Mbak Nita) sempat galau mau dikasih renda yang kayak apa. Galau sama harganya juga sih. Hihi. Satu lagi yang bikin lama adalah payetnya. Sebenernya saya dan Mbak Nita bisa pasang payet sendiri, cuma waktunya gak ada. Jadilah akhirnya saya serahkan ke tetangga yang biasa diserahi Ibu orderan payet. Nahh, si tetangga yang tadinya full-time mom ini ternyata sekaran kerja. Jadilah akhirnya saya harus sabar nunggu beliaunya ada waktu luang untuk memasangkan payet di gaun saya.

ini penampakan bagian pinggang. itu tuh akhirnya renda yang saya pilih :) payetnya juga kelihatan kan, dikiitt banget kan :D

Pemanis lainnya selain renda dan payet adalah kancing di bagian lengan itu :)

Bagian pergelangan tangan juga dikasih renda :)
Terus gimana dengan baju akad nikah Mas Suami? Dia juga sama seperti saya, beli bahan, lalu dijahitkan. Bedanya, kalau saya dijahitkan oleh Mbak Nita dan Ibuk sendiri, sedangkan Mas Suami dijahitkan ke penjahit langganan ayahnya (alias Bapak Mertua saya). Mas Suami memang dari awal bilang gak pengen pakai jas saat akad nikah. Dia pengen pake model basofi yang simpel gitu. Saya sempat agak senewen waktu itu gara-gara pas pertengahan Maret, si Mas tiba-tiba baru bilang bahwa kainnya belum jadi ditaruh ke penjahit. Hadeeehh, ya jelas saya panik lah! Kalau waktunya gak cukup terus mau pakai apa pas akad niakh? -_- Tapi Alhamdulillah kekhawatiran saya gak terjadi. Bajunya si Mas jadi juga sekitar H-2 minggu acara pernikahan kami. Sudah langganan sih soalnya =)) Alhamdulillah.

Bagian lengan dan kerah diberi bordir. Sayangnya, warna bordirnya kurang pas menurut saya.
Harusnya warna bordirnya agak tua lagi menurut saya. Hihi

Emm, kira-kira menghabiskan anggaran berapa untuk dua baju itu? Jujur saya gak hitung persisnya habis berapa sih. Untuk gambaran teman-teman, saya akan coba menjabarkannya, ya. Untuk gaun akad nikah, saya memakai 3 jenis kain: Broklat, satin velvet dan sifon. Broklatnya kalo gak salah sekitar enam puluh ribu saja per meter, sedangkan dulu belinya sekitar 2 meter saja. Satin velvet saya pakai yang empat puluh ribu per meter, dan butuhnya sekitar 4 meter. Sedangkan sifon kalo gak salah empat puluh ribu juga per meter, dan dulu beli 5 meter karna mau sekaligus bikin jilbab segiempatnya. Nah, silalakn dihitung sendiri berapa habisnya. Ongkos jahit alhamdulillah saya gak perlu mikir, dan ini lumayan bikin irit cukup siginifikan, ya. Untuk pemanisnya, rendanya per meter empat puluh ribu, sedangkan payetnya saya pakai payet jepang, tapi lupa harganya. Ongkos pasang payetnya cukup dua puluh ribu saja. Hehe. Kalau untuk baju akad nikahnya si Mas Suami, saya lupa nama bahannya, yang jelas per meter sekitar sembilan puluh ribu, dan butuh bahannnya sekitar 5 atau 6 meter -- saya lupa. Ongkos jahitnya kata si Mas sih tiga ratus ribu, sudah dibiknkan peci dan sudah plus bordir juga.

Kalau dihitung-hitung habisnya lumayan banyak sih, ya. Tapi gak papa lah, Alhamdulillah sepadan sama kepuasan hati kami memakai baju tersebut di salah satu moment terpenting sepanjang hidup. Alhamdulillahnya lagi, kami semakin gak merasa rugi karna baju ini gak cuma kami pakai saat akad nikah. Baju tersebut kami pakai lagi saat acara mengantarkan pengantin (Saya dan Mas Suami dianatar oleh keluarga saya ke rumah orangtua Mas Suami) sekaligus acara ngunduh mantu sederhana di rumah Mas Suami. Seneng banget karna beberapa tamu ibu mertua memuji gaun yang saya pakai :)

ini nih penampakan finalnya di hari H :)
Semoga cerita saya bisa jadi salah satu bahan pertimbangan saat teman-teman sedang mempersiapkan pernikahan, ya. Hari pernikahan gak dipungkiri merupakan hari yang amat istimewa, jadi amat wajar kalo kita mengistimewakannya dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Tapi ya tetap diingat, sebaiknya jangan berlebih-lebihan, ya :)

Rabu, 08 Juni 2016

Keluargamu, Keluargaku


Salah satu hal yang paling berat dalam masa-masa awal pernikahan -- menurut saya -- adalah membuka hati seluas-luasnya untuk bisa menerima keluarga si Mas Suami, dan menganggapnya sebagai keluarga kita juga. Menerima dalam artian benar-benar menganggap mereka keluarga kita, menyayangi mereka seperti kita menyayangi keluarga kita sendiri. Sepertinya sepele, ya. Tapi bagi saya itu bukan hal yang mudah. Kalo sekedar menerima si Mas Suami setelah berbagai pembuktian cintanya buat kita, saya rasa itu bukan hal yang sulit (dengan ijin Allah), karena karakteristik hati manusia, terutama wanita, adalah mudah luluh. Tapi tentang menerima keluarganya, itu perkara lain. Bagian ini benar-benar menuntut perjuangan dan luasnya hati kita.

Kenapa begitu?

Karna sudah sekian puluh tahun otak dan pikiran kita hanya diisi oleh satu keluarga, yaitu keluarga kita sendiri, yang sudah kita kenal sejak kita lahir di dunia. Mereka mengenal segala seluk-beluk tentang kita, baik maupun buruk. Begitu juga sebaliknya, kita mengenal segala baik-buruk mereka. Hal-hal buruk atau kurang pas yang ada pada keluarga kita, seolah akan terlihat biasa di mata kita, karna sudah menjadi kewajaran. Kita akan dengan sangat mudah memaklumi apapun tentang keluarga kita sendiri.

Tapi gak akan semudah itu saat kita dihadapkan pada keluarga baru. Saat menikah dengan seseorang, otomatis kita harus juga akan memiliki keluarga baru. Sebuah keluarga yang sudah punya kebiasaan, kultur, dan baik-buruknya sendiri sebagaimana keluarga kita juga memilikinya. Bedanya, kita lebih banyak belum taunya. Ketidaktauan sekaligus waktu kenal yang relatif belum lama, membuat pemakluman kita cenderung belum terlalu luas. Misal, di keluarga Mas Suami punya kebiasaan 'X' yang di mata kita buruk. Kadang, kita langsung berpikir, 'Ih, kok gitu sih'. Padahal keluarga kita juga punya keburukan yang setara dengan 'X' itu, hanya saja sudah terasa biasa di mata kita.

Jika kita tidak menyadarinya sejak awal, rasanya hal ini bisa menjadi bom waktu. Kita wajib rasanya berusaha menerima sepenuh hati keluarga pasangan, dan sebaliknya pula pasangan pun harus berusaha menerima keluarga kita. Agar kita bisa sama-sama berkata: Keluargamu, keluargaku pula. Terutama kita sebagai wanita. Pasti sudah tau kan ilmu tentang bagaimana posisi kita sebagai wanita yang sudah menikah dan bagaimana posisi seorang laki-laki setelah menikah dari sudut pandang seoang anak. Laki-laki yang telah menikah tetap memiliki tanggung jawab penuh atas keluarganya, terutama ibunya. Sedangkan kita sebagai wanita, keluarga sudah menjadi yang nomor ke sekian setelah terpenuhinya hak suami.

Baca juga: Tips Membangun Hubungan Baik Dengan Mertua

Kalau kita sebagai istri gak bisa menganggap keluarga suami sebagai keluarga kita juga, pasti yang ada grundel terus tiap keluarga suami meminta bantuan ke suami kita. Begitu juga sebaliknya. Jika suami tidak bisa menerima keluarga kita, mungkin ia akan bersikap sangat tidak adil saat keluarga kita membutuhkan sesuatu dari kita.

Begitulah. Pernikahan memang tidak sederhana dan menuntut kedewasaan, karna di dalamnya gak cuma menampung dua kepala dan dua kepentingan, melainkan dua keluarga yang akan selalu saling bersinggungan. Setelah menikah, sudah bukan lagi saatnya untuk egois dan menempatkan kepentingan kita dan keluarga di atas segalanya, karena kita telah memiliki keluarga baru. Saya masih berusaha untuk ini. Berusaha menerima dan menyayangi keluarga Mas Suami seperti saya menyayangi keluarga saya sendiri. Mudah? Tentu saja tidak. Saya mengenal dan tinggal dengan keluarga saya sudah seperempat abad, sedangkan mengenal dan tinggal bersama keluarga Mas Suami baru satu bulan. Langkah pertama yang saya lakukan untuk menganggap keluarga Mas Suami sebagai keluarga saya juga adalah dengan mengenal mereka dengan baik perlahan-lahan, dan mengesampingkan segala ego agar bisa melihat segala sesuatu selama masa perkenalan dengan lebih jernih.

Kalian yang sudah menikah, gimana kisah awal mula menerima keluarga suami? Share, yuk :)