Selasa, 31 Mei 2016

#SaniRosaStory : Akad Nikah


Bismillah, mulai semangat nge-blog lagi... hap hap hap!!!

Sesuai dengan niatan saya sejak sebelum nikah, saya pengen mendokumentasikan bagian per bagian dari acara hari pernikahan saya satu per satu. Semoga Allah memudahkan, dan memberi saya kesempatan untuk memenuhi niatan saya tersebut. Sama sekali niatnya bukan untuk pamer. Duh, apa yang bisa saya pamerin dari pernikahan saya yang amat amat sederhana sih? Gak ada rasanya. Niatan saya, selain biar nanti anak-anak saya bisa baca kisah bapak-ibunya, siapa tau dari apa yang saya tulis ada yang memberikan manfaat meski setitik bagi yang membaca. Aamiin :)

Akad nikah kami rencanakan berlangsung pada Pukul 08.30. Sengaja dibikin pagi, biar acara bisa selesai maksimal Pukul 14.00 (sudah sekaligus resepsi), agar kami bisa mengejar sholat dhuhur. Rombongan keluarga mempelai pria sudah datang sekitar pukul 08.00. Pagi sekali, dan sempat bikin grogi karna saya dan beberapa keluarga belum selesai di make up. Huhu.

Setelah berbagai kericuhan akibat grogi yang rasanya menjalar dari satu orang ke orang lain, akhirnya prosesi menuju akad nikah dimulai sekitar Pukul 08.30. Diawali dengan prosesi penyerahan calon mempelai pria yang diwakili oleh salah satu sesepuh keluarga si Mas pada keluarga saya, mempersilakan keluarga saya untuk mengambil alih si Mas untuk dinikahkan dengan saya. aiiihh, aiiihhh... pipi saya kok rasanya memerah nulis ini =D Lalu keluarga saya yang juga diwakili oleh seorang sanak family sekaligus guru ngaji saya waktu kecil, menerima penyerahan dari keluarga si Mas, sekaligus mengucapkan selamat datang di kediaman kami. Ohya, prosesi ini berlangsung di jalan depan rumah saya. Posisinya berhadapan gitu antara rombongan keluarga si Mas dan keluarga saya. Nah, setelah diterima oleh keluarga saya, si Mas kemudian diberi minum air zamzam oleh ibu saya dan dikalungi rangkaian bunga melati. Lalu disusul dengan penyerahan seserahan dari keluarga mempelai pria pada keluarga saya. Ohya, FYI, saat prosesi ini, saya hanya melihat dari depan pintu rumah yang jaraknya lumayan jauh.



Kemudian acara berpindah lokasi ke Masjid Baitul Makmur yang kami sepakati sebagai tempat akan dilangsungkannya acara akad nikah. Rombongan keluarga saya dan keluarga si Mas berjalan beriringan, diiringi tabuhan rebana dan lantunan sholawat. Lalu dengan langkah gemetar dan hati yang kebas saya menyusul dengan didampingi seorang saudara. Sebenernya awalnya saya berniat tetap di rumah saja saat akad nikah berlangsung. Tapi si Mas meminta pada saya untuk turut hadir di masjid, mendengarkan langsung ijab qabul antara Bapak dan dia, dan mendengarkan janji sighat taklik yang akan si Mas baca.

Sesampainya saya di masjid, si Mas sudah duduk tepat di depan bapak saya yang akan mengucapkan  ijab sendiri, dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Diawali dengan acara pembukaan, dilanjutkan lantunan ayat suci Al Qur'an oleh Pakdhe dan khotbah nikah oleh petugas KUA yang membacakannya dengan amat indah, tiba saatnya Bapak dan si Mas mengucapkan Ijab-Qabul. Masya Allah, menuliskannya saat ini saja rasanya hati saya bergetar. Suara Bapak terdengar agak bergetar. Saya gak tau seperti apa perasaan beliau, karna beliau bukan tipe orang yang bisa mengekspresikan perasaan dengan baik. Suara si Mas terdengar agak lirih, gak setegas dan selantang saat latihan sebelumnya =D Tapi Alhamdulillah, cukup sekali, dan saksi menyatakan SAH, disambung dengan doa keberkahan. Ohya, salah satu saksi nikah kami adalah orang yang di mata kami amat istimewa karna kesholihannya, Insya Allah. Beliau adalah Bapak H. Hasan Toha Putra :)

SAH! :D

Setelah saya dan si Mas SAH sebagai suami istri *cieeeee*, si Mas membacakan sighat taklik yang merupakan janjinya pada saya tentang bagaimana seharusnya dia mempergauli saya. Setelah itu, saya yang tadinya duduk di sebelah Ibu -- dibelakang si Mas, dipersilakan maju -- bersanding dengan si Mas, untuk mendengarkan nasehat pernikahan dari saudara sekaligus cendekiawan di desa saya. Kami sempat saling melirik, tapi cepet-cepet nunduk lagi. Maluuuu. Hihi, luar biasa rasanya saat itu. Saya sudah jadi istri orang ternyata :')

ini sudah SAH. Jalan dari Masjid menuju ke rumah :)

Usai prosesi sakral itu, pastilah lanjutannya adalah acara foto-foto. Foto bareng Bapak-Ibu saya dan Bapak-Ibu si Mas, foto bareng keluarga, bareng teman-teman, dll. Ohya, ada sebuah cerita yang cukup bikin saya geli-geli gimanaaaa gitu. Saat Ijab-Qobul berlangsung, saya menggenggam tangan ibu saya. Ia membalasnya dengan menggenggam tangan saya erat. Saya pikir ibu saya terharu luar biasa, murni dan fokus pada moment luar biasa sakral itu. Ternyataaaa... tangan dingin ibu saya itu disebabkan oleh -- salah satunya -- resah memikirkan apakah salah satu sajian resepsi akan bisa disajikan tepat waktu, karna ada beberapa hal yang bikin sajian tersebut ditunda proses memasaknya. Owalaaaahhh, Ibuuuu... =D

Karna sudah terlalu panjang, tentang baju yang kami pakai pada acara akad nikah ini Insya Allah akan saya ceritakan pada postingan selanjutnya :)

Rabu, 18 Mei 2016

Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan


Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan


Alhamdulillahi Rabbil 'Alamiin...

Entah rasa syukur sebesar apa yang harus saya haturkan pada Allah atas segala karunia ini. Setelah sekian tahun bergelut dengan pertanyaan 'siapa jodohku' dan 'kapan aku menikah', akhirnya hari ini saya bisa melepaskan diri dari teror kegalauan tersebut. Jadi pengen teriak: YES, SAYA SUDAH NIKAH! Ehehehehe.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, bahwa setelah menikah kita akan merasakan ketenangan hati yang tidak akan kita rasakan saat masih sendiri. Dan, iya... Alhamdulillah saya merasakannya :) Meskipun saya tau, tau banget, bahwa pernikahan ini bukanlah akhir dari segala kegalauan. Akan ada kegalauan-kegalauan berikutnya yang mungkin akan saya rasakan. Tapi seenggaknya, saat ada kegalauan yang menerpa saya, ada seseorang yang bersedia menjadi tempat saya berbagi kegalauan tersebut, dan semoga bisa mengimbanginya dengan menyalurkan energi positifnya pada saya. AHSEK! =))

Seminggu pertama pernikahan, apa yang saya rasakan? Bersyukur, pasti. Bahagia, tentunya. Lebih dari itu, seminggu pertama pernikahan ini saya masih ada dalam fase berusaha menyadari bahwa sekarang sudah saatnya saya mempraktekkan ilmu-ilmu pernikahan, terutama kewajiban-kewajiban sebagai istri yang telah saya pelajari (meskipun tentu saja belum sepenuhnya). Sudah bukan lagi waktunya saya hanya 'sebatas' membaca. Apa gunanya ilmu tanpa amal?

Dan menyadari hal tersebuat butuh waktu dan proses. Hari pertama menikah, saat lapar saya asyik makan sendiri, sementara mas suami di kamar. Saya baru sadar baru setelah kakak ipar saya menegur, 'Lho, kok makan sendiri?! Kamu udah punya suami lhoo'. Wkwkwkw =)) Ya, menyadari kewajiban-kewajiban super sederhana seperti itu ternyata juga butuh kesungguhan dan pembiasaan. Apalagi kewajiban-kewajiban yang jauh lebih besar dari itu.

Yang coba saya tanamkan pertama kali di awal pernikahan ini adalah sebuah nasehat yang pernah saya baca dalam sebuah artikel. Bahwa seorang istri itu harus menjaga mata, hidung dan perut suaminya. Menjaga mata agar tak melihat sesuatu yang tak ia suka. Ini tantangan buat saya. Mas suami tipe orang yang suka kerapian. Sedangkan saya? Haha! Maka, saya harus mendidik diri saya sendiri untuk menciptakan keadaan rapi yang disukai oleh mas suami. Menjaga hidung agar ia tak sampai mencium sesuatu yang tak ia sukai dari diri saya. Dan menjaga perut dengan cara memperhatikan waktu makannya. Ya, saya mencoba memulai menjadi istri yang diridhoi suami dari hal yang menurut saya mampu saya usahakan.

Sekali lagi, apakah saya bahagia? Ya, tentu saja sangat bahagia. Meski pun tak serta-merta jadi lupa diri. Beberapa orang berkomentar menanggapi luapan kebahagiaan saya dan si mas. Ah, baru seminggu sih, baru indahnya aja yang kelihatan! Lantas, apakah kami jadi harus pasang kewaspadaan penuh 'menanti' ketidakindahan hadir, dan mengabaikan kebahagiaan kami? Saya mencoba belajar dari mereka. Bahwa komentar simpel pun adakalanya berpotensi mengusik kebahagiaan orang lain :)

Kami bahagia. Tapi di atas kebahagiaan ini, kami tengah membangun pondasi, yang semoga akan membuat bahtera kami tetap tangguh saat tiba saatnya badai dan angin menerpa.

Kepada seluruh sanak-saudara, sahabat baik, dan teman-teman yang telah hadir memberikan doa dan hadiah dalam acara walimah kami pada tanggal 7 Mei 2016 dan 14 Mei 2016, serta yang tak kuasa hadir tapi tetap menyempatkan mengirimkan doa, kami memgucapkan seluas-luasnya rasa terima kasih. Jazakumullahu khairan katsir...

Minggu, 01 Mei 2016

Bismillah...


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sesungguhnya segala puji mutlak hanya untuk Allah
Sholawat dan salam semoga tertetapkan untuk penyampai risalah

 Ketika akad terucap, menyatukan jiwa-jiwa pencinta
Tak lagi sekedar mainan, pun kepuraan
Namun sebuah perjanjian, ikatan batin
Tulus menggapai tujuan suci, sakinah, mawaddah, warahmah

Pernikahan telah menuntun kapal itu berlabuh ke dermaga, dari kelelahan mengembara
Pernikahan telah meletakkan hati itu bersandar ke penyangga, dari kerapuhan akan hakikat penciptaan
Pernikahan telah mengokohkan pondasi itu, dengan segala kedayaan rasa
Pernikahan telah menyempurnakan separuh agama, mengejawantahkan asa bahagia
Pernikahan telah menafikan keakuan menjadi kekitaan

Suami telah memilihmu dari bidadari-bidadari dunia, sebagai perilaku adami
Suami telah memilihmu sebagai bidadari di syurga, dengan segala rahmat-Nya

Meski suami tak semulia Muhammad, tak setakwa Ibrahim, tak setabah Ayyub, pun tak segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi imam, mengikuti sunnah, membangun keturunan yang shalih

Istri telah memilihmu dari wajah-wajah pencinta
Istri telah memilihmu sebagai pasangan di syurga, dengan segala rahmat-Nya
Meski istri tak semulia Khadijah, tak setakwa A’isyah, tak setabah Fatimah, pun tak setegar Hajar, apalagi secantik Zulaikhah
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi istri sholihah, penjaga kehormatan keluarga

(diambil dari undangan pernikahan Mas Ahmad Nasirul Ulum & Mbak Firoh)