Selasa, 19 April 2016

Janji Allah Untuk Orang Yang Hendak Menikah

Janji Allah untuk orang yang hendak menikah. Dalam sebuah materi kajian tentang rizki yang pernah saya ikuti di Wisata Hati Semarang, Pak Ustadz menyampaikan sebuah cerita. Ia pernah didatangi oleh seorang pemuda yang mengeluhkan tentang rizkinya. Sang pemuda merasa, gajinya tidak terlalu kecil, tapi entah kenapa selalu amat mepet untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang sepertinya tidak seberapa.

Pak Ustadz hanya menanggapi cerita si pemuda dengan pertanyaan ringan, "Kamu sudah nikah belum?". Dan benar saja, ternyata si pemuda belum menikah. Solusi ang ditawarkan oleh Pak Ustadz pun sederhana. Pulang, dan menikahlah. Hihi.

Lho, apa korelasinya?

Sebagian besar dari kita pasti sudah pernah mendengar bahwa salah satu pembuka pintu rizki adalah dengan menikah. Kata Pak Ustadz di atas, sebelum menikah kita hanya berhak atas rizki diri kita sendiri. Sedangkan setelah menikah, akan ada pintu rizki lain yang terbuka -- rizki anak dan istri. Tidak percaya? Hal ini sudah dijanjikan Allah dengan amat jelas dalam Al-Qur'an. Tapi tetap saja syarat dan ketentuan berlaku, ya! Ikhtiar tetap saja menjadi salah satu kunci utamanya.
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. An Nuur: 32)
Saya juga beberapa kali membaca atau mendengar cerita pengalaman beberapa orang. Banyak yang bilang, setelah menikah itu ada saja rizkinya. Bahkan, dari sejak saat mempersiapkan pernikahanm  pun hal itu sudah bisa dirasakan. Ada saja rizki dari arah yang tidak kita duga-duga.

Nah, kalau yang ini saya baru saja merasakannya sendiri. Saya tergolong orang yang kurang pintar menabung. Sampai saat tiba waktunya saya mempersiapkan pernikahan, saya hampir tidak punya tabungan sama sekali. Sempat bingung dan resah. Nanti bayar souvenir pakai apa, bayar undangan gimana, dll. Tapi, Masya Allah... ada saja rizkinya. Tiba-tiba ada insentif cair, ada bonus blablabla cair. Alhamdulillah.
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Memang, ilmu matematikanya Allah itu tidak akan bisa kita jangkau hanya dengan akal pikiran. Terutama tentang menikah. Wajar memang jika resah memikirkan apakah akan bisa mencukupi kebutuhan hidup setelah berumahtangga atau tidak. Tapi kalau resah itu menjadikan kita terus menerus menunda pernikahan, rasanya ada yang perlu dibenahi dari tauhid kita. Tidakkah itu artinya kita meragukan janji Allah untuk orang yang hendak menikah?
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Seorang mujahid yang memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)
Jadi, yuk nikah! Insya Allah janji-janji Allah akan tertunai untuk setiap niat baik kita :)

Selasa, 12 April 2016

Hal-Hal Yang Terjadi Pada Tubuh Saya Menjelang Pernikahan

Hari-hari menjelang pernikahan kata banyak orang merupakan hari-hari yang amat rawan stress. Ya wajar sih, karna menjelang pernikahan pasti banyak banget yang harus diurus dan dipikir. Gak cuma memikirkan tentang printilan yang berkaitan sama terselenggaranya acara, tapi juga kepikiran nanti gimana setelah nikah, bisa jadi istri yang baik gak, bisa adaptasi di keluarga baru gak, dll. Iya, kan?!

Saya sebenarnya gak merasa bahwa saya stress sih. Biasa aja, santai. Emm, ya kadang kepikiran sih iya. Kadang mewek sendiri inget bentar lagi harus jadi istri yang nurut sama apa kata suami juga iya. Haha. Tapi, apa tanda bahwa saya sedang stress? Saya sih merasa enggak.

Konon, saat sedang stress, tubuh kita akan memperlihatkan beberapa respon. Dan beberapa ciri yang terjadi pada tubuh, yang disinyalir sebagai tanda-tanda stress ternyata saya rasakan. Hal-hal berikut inilah yang terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan:

Jerawatan
Dari awal masa puber (menstruasi pertama) sampai SMA, bisa dibilang saya jaraaaang banget jerawatan. Malah pernah pengen punya jerawat satu dua seperti teman-teman remaja saya yang lain. Bahkan, suatu hari saat muncul satu jerawat kecil di muka saya, dengan bangga saya memamerkannya. Hihi.

Setelah dewasa (yakin udah dewasa? :D), baru deh nyesel pernah punya keinginan seperti itu. Sekarang sih kalau muncul jerawat rasanya nyesek. Tapi saya masih cenderung jarang berjerawat. paling jerawatan kalau pas menjelang menstruasi, itu pun paling satu. Tapi beda dengan sebulan terakhir ini :( Jerawan saya amit-amit, banyak banget. Hiks. Cuma di dahi sih, dan kalau pakai jilba gak terlalu kelihatan. Tapi ya tetep aja sediiiih.

Apalagi, tiap ketemu orang pasti yang dikomentarin pertama kali selalu jerawat. "Lho, tumben jerawat kamu banyak?", "Kok jerawatmu banyak", dan di akhir kalimat pasti dibubuhi, "Waaahh, pasti gara-gara stress mau nikah nih!". Plis plis, pura-pura gak lihat jerawat saya bisa gak? :(

Selain berkomentar, orang-orang juga memberi saya tips untuk mengatasi jerawat tersebut, atau kadang saya yang minta tips terlebih dahulu. Dan akhirnya saya kebingungan sendiri tips mana yang harus saya coba lebih dulu. Haha. Pake jeruk nipis sudah, timun sudah, obat jerawat ina inu sudah, tapi belum ada yang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tapi saya sadar diri sih, usaha yang saya lakukan belum maksimal. Saya masih kurang istiqomah menjalani tips-tips yang saya dapatkan. Padahal kan gak bisa ya dicoba sekali langsung CLINK berhasil. Emangnya sulap! -_-

Menstruasi Yang Kacau
Selama ini, Alhamdulillah saya dianugerahi Allah siklus menstruasi yang teratur. Saya hampir selalu bisa menghitung kapan saya akan kedatangan tamu dengan tepat. Yah, meleset sehari-dua hari sih kadang. Pokoknya masa suci saya seringnya adalah 21 hari.

Nahh, bulan ini, kalau menurut perhitungan saya, saya bakal dapet mens tanggal 16. Eeeeh, lha kok kemarin tanggal 10 si tamu tiba-tiba sudah muncul, dan bikin saya kaget. Maju 6 hari!
 
Dan gak cuma itu yang bikin saya merasa aneh pada tubuh saya sendiri. Biasanya saya menstruasi selalu lancar. Hari pertama sampai ke-tiga bahkan seringnya banjir. Tapi kali ini enggak :( Yang bikin saya sempat resah banget adalah, saya kedatangan tamu sore, cuma berupa flek coklat. Magrib keluar darah dikit. Tapi setelah itu, hingga pagi gak ada darah yang keluar lagi. Saya kan jadi panik, ada apaaa ini?! Saya sempet browsing -- lupa pakai kata kunci apa -- dan kalian tau hasilnya apa? itu tanda-tanda kehamilan!! Weehh, kalau hamil itu bisa lewat bluetooth sih mungkin saya bakal khawatir banget jangan-jangan saya beneran hamil :D

Lalu saya coba tanya lewat chatt ke seorang teman yang dokter, bidan dan perawat. Haha, biar mantep. Dan ketiganya bilang, gak papa, santai aja, itu mungkin efek kelelahan dan stress menjelang pernikahan! Alhamdulillah.

Berat Badan Bertambah
Saya gak tau sih ini salah satu tanda stress atau bukan. Yang jelas ini terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan. Berat badan saya yang biasanya alot banget kalau disuruh nambah, kali ini malah nambah beberapa kilogram. Parahnya lagi, kebaya resepsi yang dipesankan kakak perempuan saya dan baru jadi minggu lalu ternyata sesak saat saya coba! Huhu. Padahal dulu pas ngukur pertama kali gak ngepas banget gitu :(

Tapi Alhamdulillah masih bisa dipaksa masuk sih. Hehe.

Memang hari-hari menuju pernikahan adalah saat yang penuh dengan warna-warni, ya. Gak cuma yang bisa bikin senyum-senyum, tapi banyak juga yang bikin hati mendung. Kalau gak pinter-pinter me-manage emosi ya gini akhirnya, stress! Hal-hal yang terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan ini, membuat saya sadar bahwa saya harus semakin banyak istrighfar biar lebih tenang :)

Minggu, 10 April 2016

#NasehatPernikahan1: Kalian Berdua Manusia


Minggu lalu, saya diminta menghadap pimpinan di kantor, terkait surat ijin cuti menikah atas nama saya.

Seperti biasa, beliau cerita beberapa hal yang temanya berhubungan dengan pernikahan. Lalu beliau juga meminta saya cerita tentang bagaimana mulanya hingga keputusan menikah ini kami ambil.

Di penghujung percakapan kami, beliau menyelipkan sebuah nasehat.

"Mbak Rosa manusia, pasangannya Mbak Rpsa juga manusia. Dan manusia pasti punya masa lalu. Jangan pernah menggugat ada siapa saja di masa lalu pasanganmu. Satu hal saja yang harus selalu dipegang dan diyakini: kini, dia milikmu. Sudah itu saja"

Sepemahaman saya, nasehat beliau adalah tentang mengendalikan rasa cemburu, terutama cemburu pada masa lalu.

Ah, bagaimana beliau bisa tau kalau saya pencemburu? :D

Jumat, 08 April 2016

5 Pertimbangan Saat Memilih Kartu Undangan Pernikahan


Satu lagi printilan nikah yang gak mungkin luput dari pikiran, bahkan dari awal sejak baru memutuskan akan menikah. Iya apa iya?! Hehe. Iya sih, undangan ini memang bisa dibilang elemen penting dalam terselenggaranya acara pesta pernikahan. Yaiya dong, kalau gak pake undangan berarti pesta pernikahan terus gimana ada orang yang mau datang? Kecuali kalo memang nikahnya mau sederhana aja, gak ngundang siapa-siapa selain keluarga. Itu beda soal, ya, undangan bisa di-skip dari checklist.

Seiring kemajuan teknologi yang luar biasa derasnya, harusnya undangan pernikahan sudah gak selalu harus dalam bentuk kartu, ya. Beberapa kali saya melihat beberapa pasangan memilih undangan berbentuk web untuk acara pesta pernikahan mereka. Kalau mau lebih irit, Facebook kan juga menyediakan fasilitas undangan event. Hehe. Mau lebih simple lagi? Pakai saja broadcast BBM. Haha.

Meskipun begitu, nyatanya, menurut pengamatan saya, undangan pernikahan dalam bentuk kartu undangan fisik tetap tak kehilangan kepopulerannya. Diakui atau tidak, kartu undangan tetap paling bersahabat untuk semua kalangan, terutama dari kalangan tua. Iya, kan?

Seperti halnya pemilihan souvenir yang pasti bikin kepala pening, memilih kartu undangan pernikahan pun dijamin gak bakal kalah bikin pening. Selain sekedar bentuknya yang bagus, ada hal-hal lain yang gak kalah penting yang harus diperhatikan. Apa saja itu? Nah, berikut ini adalah hal-hal yang saya jadikan pertimbangan saat memilih kartu undangan untuk acara pernikahan saya nanti, Insya Allah.

1. Menghindari penggunaan tulisan dengan huruf Hijaiyah, terutama yang terkandung dalam Al-Qur'an

Pernah lihat kartu undangan yang ada kalimat Bismillah-nya, dan ditulis dengan huruf Hijaiyah? Saya pernah, dan miris. Kira-kira kartu undangan pernikahan tersebut akan berakhir di mana, sih? Setahu saya, seringnya sih kartu undangan harus berakhir di tempat sampah. Iya sih, ada beberapa orangyang menyimpan atau mengoleksi kartu-kartu undangan yang pernah diterimanya. Tapi saya sih gak yakin jumlahnya lebih banyak dari orang yang membuang. Nah, coba kita pikir, misal di undangan itu ada kalimat Bismillah-nya, lalu setelah itu dibuang di tempat sampah, dosa gak sih? Saya belum tau landasan hukumnya secara jelas. Tapi kalau saya lebih milih menghindarinya.

2. Tentang pemilihan quote

Ini sepertinya sepele, ya. Tapi saya memilih untuk memperhatikannya. Pernah lihat kartu undangan yang ada qoute yang kata-kata 'terserak'-nya itu? Ada yang bilang, doa itu masih abu-abu sumbernya, alias shahih atau enggaknya. Saya gak berani pakai lah, kan sama aja mendakwahkan sesuatu yang belum jelas, kan? Amannya, saya memilih menyantumkan terjemah ayat Al-Qur'an aja. Berhubung Terjemah Surah Ar Rum sudah sangat sering dipakai, akhirnya saya pilih terjemah Qur'an Surah An Nur: 32 aja :)
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (TQS. An Nur: 32)
3. Design

Memperhatikan design undangan di sini maksudnya bukan memperhatikan yang gimana-gimana banget sih. di point ini saya cuma memperhatikan dua hal, di antaranya, designnya simpel/sederhana, warnanya soft (tidak mencolok). Sebenarnya pengen kartu undangan warna-warna shabby chic plus ada gambar-gamabr kartunnya gitu. Tapi setelah ditimbang-timbang lagi, kayaknya kurang pas kalau nanti kasih undangan dengan model seperti itu ke atasan di kantor. Hihi. Akhirnya saya memilih model  yang terlihat cukup dewasa.

4. Harga!

Haha, kenapa pakai tanda seru segala? Karna ini sebenarnya yang paling penting. Hehe. Ini tergsntung budget masing-masing orang sih ya. Mahal buat saya tentu saja belum tentu mahal untuk orang lain. Status sosial juga sepertinya menentukan. Kan gak mungkin pesta pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina kartu undangannya tiga ribu rupiah. Haha.

Kalau orang biasa seperti saya ini, ya gak perlu lah kayaknya mahal-mahal. Sekali lagi saya ingatkan, kartu undangan itu sebagian besar akan berakhir di tempat sampah. Sayang banget kalau budget yang kita alokasikan di pos ini lumayan besar. Lebih baik dibuat tambah budget konsumsi, lebih bermanfaat dan bisa dinikmati :)

5. Jumlah Eksemplar

Nah, lagi-lagi untuk menghindari kemubadziran, saya berusaha menghitung dengan cermat jumlah teman dan kerabat yang akan saya undang ke acara pesta pernikahan saya nanti. Tapi, tentu saja sebaiknya jangan pesan terlalu pas, dilebihkan sedikit. Hal itu saya lakukan untuk mengantisipasi siapa tau masih ada teman yang kelewat saya list, dan nanti tiba-tiba ingat.

Sekali lagi, point-point di atas tentu sangat subjektif sifatnya. Saya hanya membagi apa saja pertimbangan-pertimbangan yang saya pakai.

Kalau kamu, apa saja pertimbangan yang kira-kira akan kamu pakai (bagi yang belum menikah) dan yang telah kamu pakai (bagi yang sudah menikah) saat mentukan kartu undangan untuk pesta pernikahanmu? Share, yuk :)