Sabtu, 26 Desember 2015

Tak Sebebas Merpati

Hari itu, hati saya sesekali terasa berdesir. Seperti ada kupu-kupu yang berputar-putar di perut. Tapi rasa itu perlahan-lahan mulai pudar saat saya mulai turut turun tangan membantu berbagai kesibukan rumah yang sebagian besar dibantu oleh saudara-saudara. Memasak beberapa menu, menyiapkan ruangan, dll. Mandi dan berdandan sengaja saya letakkan di urutan paling akhir menjelang injury time, karena saya tahu perasaan berdebar akan semakin terasa saat saya sudah berpenampilan sebagaimana mestinya.

Ya, tanggal 14 Oktober 2015 Masehi, atau bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1 Muharram 1427... Akhirnya, dengan mengucap Bismillah kami sampai pada tahapan selanjutnya setelah proses ta'aruf sekedarnya dan proses perjuangan memantapkan hati, yaitu khitbah atau pertunangan. Tentang kenapa memilih tanggal 14 Oktober, keputusan sepenuhnya ditentukan oleh orangtua si Mas. Rombongan keluarga si Mas datang sekitar Pukul 10.00, yang terdiri dari Bapak dan Ibu si Mas, kakak-adik, dan tante-om si Mas.

Setelah prosesi semi-formal -- pihak laki-laki mengutarakan niat kedatangan lalu ditanggapi dengan jawaban dari keluarga saya -- Sang Ibu si Mas menyematkan cincin di jari manis tangan kanan saya. Sayangnya, cincinnya kebesaran. Hehe. Bukan salah cincinnya, tapi salah jari saya yang memang terlalu kecil.


Cincin tersebut sebagai simbol bahwa mulai detik itu, saya tak lagi sebebas merpati. Bahwa saya tak lagi boleh memberi ruang pada kebimbangan, dan harus lebih berhati-hati menjaga hati.

Seorang sahabat bertanya, bagaimana rasanya? Entahlah. Campur aduk. Saya cukup kesulitan untuk menceritakannya dengan baik. Bahagia? Pasti. Siapa wanita yang tidak bahagia ketika tahu ia begitu diinginkan oleh laki-laki yang (Insya Allah) baik untuk menjadi penggenap diennya? :) Meski di sebagiannya yang lain juga ada perasaan cemas dan takut. Cemas apakah proses-proses selanjutnya akan berjalan sesuai keinginan kami. Takut jika ternyata saya tidak bisa menjadi istri yang baik sebagaimana yang diharapkan si Mas nantinya.

Ohya, pada hari tersebut, keluarga kami belum menentukan hari pernikahan, karena alasan satu dan lain hal. Insya Allah tentang penentuan tanggal akan saya ceritakan pada post selanjutnya. Doakan segala sesuatunya berjalan lancar, ya :)

Rabu, 16 Desember 2015

Bagaimana Memantapkan Hati Untuk Menerima Pinangannya?


Dicintai dan diinginkan oleh seseorang, tentulah merupakan salah satu kebahagiaan. Apalagi jika ia juga merupakan orang yang kita cintai dan inginkan. Tapi bagaimana jika seseorang yang mencintai dan menginginkan tersebut adalah orang yang sebelumnya kita anggap sebagai teman biasa? Sedangkan ia menunjukkan kesungguhan yang teramat, dan kita pun menyadari bahwa ia merupakan laki-laki baik yang patut dipertimbangkan?

Ya, memantapkan hati memang bukan urusan sederhana bagi sebagian orang, termasuk bagi saya. Saat seorang teman datang menawarkan niat baik untuk meminang, dengan pembuktian yang terasa amat sungguh-sungguh sebelumnya.

Bagaimana memantapkan hati untuk menerima pinangannya? Sementara hati masih bertarung. Satu sisi amat menyadari bahwa ia laki-laki baik yang tidak patut ditolak. Sebelahnya lagi melawan dengan menyodorkan berbagai keragu-raguan tentang hal-hal remeh yang seolah menjelma menjadi besar. Ya, saya mengalami pergulatan itu. Pergulatan yang cukup menyiksa, karna saya tidak tau harus berpihak pada sisi hati yang mana.

Namun keragu-raguan tidak boleh dibiarkan merajai kita. Bisa jadi ia datangnya dari syetan, yang tengah berusaha menghalangi kita menuju kebaikan. Lalu bagaimana akhirnya saya mengakhiri pergulatan batin dan memantapkan diri untuk menerima pinangannya?

Sederhana saja. Dengan berdoa. Berdoa dengan amat sungguh-sungguh setelah istikharoh. Berdoa memohon pertolongan Allah untuk menentramkan hati kita jika perkara tersebut memang baik bagi urusan dunia dan agama kita. Dan sungguh luar biasa. Saat itu hati saya perlahan menjadi damai. Pergulatan batun yang sebelumnya selalu menghantui saya sedikit demi sedikit semakin samar gaduhnya.

Selain berdoa, tentu saja harus ada ikhtiar sebagai manusia yanh dikaruniai akal. Saat tengah menimbang untuk menerima pinangannya, coba hitung dengan otak matematis kita sebagai manusia. Bandingkan antara kelebihan dan kekurangannya yang bisa ditangkap mata kita. Meskipun ini akan cukup sulit dilakulan dengan objektif saat cinta sudah tumbuh. Karena kita semua pasti tahu, akan sangat sulit bagi orang yang sudah dilanda perasaan cinta untuk melihat semuanya dengan jernih. Semua keburukan bisa seketika menjelma menjadi kebaikan.

Begitupun sebaliknya. Saat ada laki-laki datang dan berniat untuk meminang, sedangkan perasaan cinta belum ada di hati, jangan serta-merta menolaknya.  Percayalah, cinta bisa diupayakan.

Jangan buru-buru menolak saat ada yang datang meminang. Karena bisa jadi ia merupakan laki-laki baik yang Allah kirimkan, dan akan kau sesali saat kau telah memutuskan untuk mengabaikannya :)

Senin, 14 Desember 2015

Tentang Rumah Surga Rosa

Bismillahirrahmanirrahiim...
Haii, saya rosa. Lengkapnya Rosalina Susanti. Umur seperempat abad kurang tiga puluh enam hari. Dan, I'm still single. Haha. Doakan agar status tersebut bisa segera saya pensiunkan ;)

Setelah mengumpulkan tekad dan keberanian, serta meminta saran dan nasehat dari sahabat yang sudah punya ilmu jauh lebih banyak di dunia blogging, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat blog ini. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak jadi membuatnya di bawah 'atap baru', melainkan hanya di dalam 'ruang lain' di rumah utama saya.

Meski begitu, semoga tak mengurangi sedikitpun kesungguhan saya dalam membangun Rumah Surga ini :) Karna saat telah memutuskan membuat blog, artinya saya sudah membuat komitmen dengan diri saya sendiri untuk lebih konsisten berbagi melalui tulisan.

Ke depan, saya ingin mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan 'relationship' dan keluarga. Salah satunya, tentang proses dalam menuju jenjang pernikahan, yang merupakan salah satu lompatan terbesar dalam hidup banyak orang. Senang sekali rasanya membayangkan anak-anak saya nanti bisa membaca proses ibunya melalui tulisan si ibu langsung :)

Kenapa namanya Rumah Surga? Hehe, karena saya bercita-cita menceritakan tentang kisah membangun dan membentuk 'Rumahku Surgaku' alias 'Baiti Jannati' di blog ini.

'Kok pede banget, belum nikah udah berencana nulis tema seperti itu?'

Ya Pede lah, ngapain ga pede? Bagi saya ini salah satu cara memvisualisasikan mimpi saya. Ini salah satu cara saya menstimulus otak saya bahwa saya punya cita-cita besar yang harus saya capai agar bisa saya ceritakan prosesnya ke banyak orang melalui blog ini :)

Doakan saya lebih istiqomah lagi menulis, yaa...