Rabu, 18 Juli 2018

Tentang Membahagiakan Anak


Sejak sebelum punya anak -- sebelum menikah bahkan -- saya selalu bertekad bahwa anak saya harus jauh lebih bahagia dibanding saya ketika kecil. Bukan berarti saya gak bahagia. Tapi harus saya akui bahwa 'saya kecil' tumbuh bersama banyak kekecewaan.

Bapak-ibu saya orang desa, dengan tingkat pendidikan rendah. Jadi saya memaklumi dan sepenuhnya memaafkan mereka jika pola asuh mereka pada saya ternyata banyak yang dipandang gak sesuai dengan ilmu parenting yang saya pelajari hari ini.

Contohnya saja, soal membanding-bandingkan anak dengan anak lain. Ibu saya dulu hobi sekali membandingkan saya dengan sepupu atau teman sepermainan.

"Nyapu to, Nduk... Lihat itu si A, rajin sekali bantu ibunya". Kalimat-kalimat semacam itu sering saya terima. Hasilnya, saya gak jadi rajin seperti si A, tapi malah semakin dongkol dan semakin enggan membantu. Hahaha.

Yah, yang semacam-semacam itu, pengen sekali saya rombak di pola pengasuhan saya pada anak. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan pola asuh orangtua saya ya. Bukan. Ini tentang mengambil pelajaran dari pengalaman.

Saya juga selalu berharap bisa memberikan kebahagiaan melalui pemenuhan kebutuhan dan pemberian sebanyak mungkin pengalaman positif untuk Faza. Mengingat dulu, saya sedih ketika teman sekelas saya saat TK menerima majalah langganan, sedangkan saya tidak. Di rumah ibu menjelaskan, bahwa ibu gak punya cukup uang untuk ikut berlangganan majalah untuk saya.

Tapi, saya gak pengen membahagiakan anak saya dengan hal-hal yang kurang ada manfaatnya. Apalagi kalo kurang ada manfaatnya, sekaligus terlalu banyak membutuhkan biaya. Big no. Anak saya harus menjadi anak bahagia yang sederhana.

Libur lebaran kemarin, saya dan kakak-kakak mengajak anak-anak kami ke sebuah Swalayan yang di dalamnya terdapat arena bermain anak. Sementara sepupu-sepupunya asyik mencoba berbagai wahana, saya hanya menemani Faza berjalan ke sana-kemari melihat apapun yang tampak sangat menarik baginya.

Lalu kakak saya menegur. Menyuruh saya mengajak Faza mencoba permainan yang sesuai usianya. Bahkan beliau menawari untuk membayarinya. Tapi saya menolak.

Pertama, saya merasa Faza belum butuh diberi kebahagiaan lewat wahana-wahana bermain semacam itu. Dia sedang ada di masa sangat tertarik mengamati sekitar. Nah, saya cukup memfasilitasinya dengan menemaninya berjalan mengelilingi swalayan -- termasuk wahana bermain tersebut. Dan dia sudah tampak sangat berbinar-binar.

Kedua, akan ada masanya dia tertarik dan meminta mencoba salah satu wahana seperti itu. Karna saat ini dia sudah sangat bahagia hanya dengan mengamati, yasudah gak perlu lah buru-buru menyuruhnya mencoba.

Ketiga, diam-diam saya berharap Faza gak terlalu tertarik sama wahana-wahan permainan semacam itu sih sampai dia besar nanti. Biar hemat. Xixixi.

Intinya, saya pengen membahagiakan Faza (dan adek-adeknya) sekaligus ingin melihat mereka menjadi pribadi yang sederhana dan bisa berbahagia dengan hal-hal yang sederhana tersebut. Saya gak pengen mereka bahagia hanya dengan alasan-alasan yang sifatnya selalu materiil.

Yah, begitulah. Sebagai orangtua baru, tentu saja saya masih meracik dan meramu cara yang tepat untuk bisa mencapai hal tersebut. Mengamati sebanyak mungkin contoh, lalu mengambil yang baik-baik dan memodifikasi yang kurang pas. Membaca pengalaman orang lain, termasuk membaca buku tentang ini.

Beberapa waktu lalu, saya membaca instastory Mbak @irrasistible tentang buku "The Danish Way Of Parenting" terbitan Bentang Pustaka. Dari situ, saya juga jadi tau bahwa ternyata Denmark merupakan salah satu negara dengan indeks kebahagiaan paling tinggi. Saya langsung gatel pengen baca buku itu.

Selang beberapa hari, eh Mbak Chi Cerita tentang buku ini di salah satu blogpostnya. Ternyata, salah satu kunci kenapa Denmark bisa mempertahankan prestasinya sebagai Negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi selama bertahun-tahun terletak pada pola pengasuhannya pada anak, atau dikenal dengan metode parenting Denmark.

Saya harus banget baca buku itu deh kayaknya, demi agar bisa segera menemukan ramuan yang PAS untuk mencapai #lifegoals soal menjadikan anak-anak saya pribadi yang bahagia.

Semoga rejeki saya untuk bisa punya buku ini 😊

Kalau kalian punya tips yang berkaitan tentang ini untuk saya, ayoo jangan sungkan share yaa. Saya akan dengan senang hati menerimanya 😘


Rabu, 11 Juli 2018

#BincangKeluarga: Problematika Menjadi Ibu Baru

Menjadi ibu baru merupakan salah satu part hidup yang paling memorable bagi sebagian besar perempuan. Sebuah peran yang seolah memaksa kita untuk menjadi pribadi baru.

Menjadi istri mungkin juga iya. Tapi sebagai istri, kita masih bisa merajuk dan meminta suami yang memahami dan menerima kita apa-adanya. Tapi sebagai ibu, gak mungkin kita menuntut anak kita yang memahami kita.

"Duh, bentar dong dek, jangan minta nenen dulu, ibu masih ngantuk!" -- gitu? Gak mungkin kan 😅

Yang bikin peran sebagai ibu baru memorable, mungkin salah satunya adalah problematikanya.

Jadi kalian para calon ibu baru, saya kasih tau yaa... jangan dikira jadi ibu baru itu isinya hanya penuh romantika. NO! Jangan harap, atau kalian akan kecewa 😂

Tapi ya gak usah parno juga sih. Santai saja. Nah, biar para calon ibu baru nanti gak kaget menghadapinya, saya dan Ade mau cerita nih tentang problematika apa saja yang kami hadapi saat menjalani peran sebagai ibu baru. Jadi biar lebih siap. Dibaca yuukk 😊

Baca punya Ade:



1. Adaptasi Oh Adaptasi

Tadinya, ngantuk tinggal tidur. Laper tinggal maka. Bosen di rumah tinggal jalan-jalan.

lalu tiba-tiba ada sesosok makhluk kecil nan lemah dan tak berdaya, yang menggantungkan hidup sepenuhnya sama kita. Yang kalau laper nangis sejadi-jadinya menuntut kita untuk menyusui, gak peduli seberapa ngantuk diri kita sendiri.

Yang kalo kita lagi laper banget dan baru akan menyendok nasi, tiba-tiba tanpa permisi malah BAB dan mau gak mau harus kita bersihkan.

Yang wajahnya akan terus membayangi, saat kita keluar sebentar ke Alfamart hanya demi ingin sejenak melihat dunia luar.

Saat hamil, kita sering ngrasa udah kenal banget sama bayi dalam perut kita ya. Kalo diajak ngobrol, lalu dia merespon dengan tendangan, kita akan makin ngrasa dia paham apa yang kita bicarakan. Dia anak baik dan pintar yang selalu mengerti ibunya.

Jangan kaget, ketika akhirnya dia lahir, dan saat itu semuaaa keromantisan itu tiba-tiba menguap. Ketika dia menangis tak henti tanpa kamu tau apa yang dia pengen, meski kamu sudah berusaha menimang, ngajak ngobrol, dll. Lalu kita jadi blank. Semua teori hilang tak berbekas seketika 😂

Maka, adaptasi adalah problematika pertama. Mau gak mau, siap gak siap. Hidup kita kini bukan lagi tentang diri kita sendiri.

2. Mabok Teori

Begitu ketauan hamil, salah satu hal yang paling rajin saya lakukan adalah membaca banyaakkk sekali artikel tentang parenting. Gak ada yang lebih menarik dari tema tersebut kayaknya.

Menjelang HPL, saya bersorak-sorai dalam hati. Yeayy, bentar lagi saatnya mempraktekkan semua yang sudah saya baca!

Begitu bayinya lahir, TET TOOOTTT... situasinya jauuuhhh sama yang sudah saya rancang dengan baik. Kondisi fisik yang gak kunjung pulih setelah melahirkan dan ASI yang keluarnya cukup lama adalah dua kondisi yang sudah cukup membuat segalanya terasa jauuhhh dari segala teori yang sudah saya baca.

Sebenernya udah jadi rahasia umum ya. Yang namanya teori itu, gak selalu sejalan sama prakteknya. Apalagi yang namanya hidup. Susah banget kalo harus sesuai terus sama teori.

Tapi namanya juga ibu baru, dan udah terlanjur mabok teori. Menerima kenyataan bahwa gak semuanya harus sesuai sama teori itu bisa jadi satu problematika sendiri loh. Dibutuhkan pikiran yang adem dan hati yang lapang.

3. Idealis

Ini bisa dibilang dampak dari point kedua ya. Gara-gara kebanyakan teori, ibu baru biasanya idealis sekali.

Idealis itu bukan hal buruk sih. Tapi kadang juga bisa jadi problematika baru bagi ibu baru.

Kok bisa jadi problematika?

Misal nih, saya dulu kekeuh pengen bertekad Faza makannya harus full homemade, dan no gulgar. Minimal sampe usia setahun. Ehh tiba-tiba ada satu kondisi dimana saya belum sempat masak dan Faza sudah harus makan. Lalu ayahnya membelikan bubur bayi sehat yang sedang menjamur itu.

Saya cicipi, ternyata ada rasa asinnya meski dikiitt banget. Tapi Fazanya lahap banget 😭 Pas berdua di kamar sama mas suami aja, saya nangis sejadi-jadinya. Nangis karna idealisme saya harus terpatahkan gara-gara Faza makan bubur beli di luar dan pake garam.

Nah, ini nih yang jadi problematika. Idealisme sebenernya gak masalah. Cuma kadang idealisme bikin kita sedih, merasa bersalah, stress, dll ketika kita ada di situasi yang serba gak ideal.

4. Serba Salah

Namanya juga ibu baru ya. Pasti masih minim banget pengalaman lah. Masih serba coba-coba. Masih dalam tahap trial & error macem-macem teori yang ada di kepala.

Masalahnya, gak semua orang yang ada di sekeliling ibu baru itu paham dan maklum sama ini. Alhasil, seringkali ibu baru dibikin serba salah.

Mau mandiin bayi newborn misalnya. Duh kok takut yaa pegang bayi yang masih kecil banget. Trus ada yang komentar, ayoo dong nyoba. Kalo gak nyoba kapan bisanya.

Begitu nyoba, eh adaaaa aja yang salah caranya. bikin makin grogi.

Apalagi sebagai ibu baru yang udah baca banyaaakkk sekali ilmu parenting. Kadang ini juga bisa jadi sumber problematika baru ketika orang-orang di sekitar kita tipe yang masih menjunjung tinggi cara yang dipakai sejak nenek moyang -- yang kadang udah gak relevan.

Pokoknya banyak-banyak minum es biar tetep adem. Haha.

5. Baby Blues

Babyblues bisa dibilang merangkum keseluruhan problematika dari point pertama sampe keempat. Saya gak akan bahas panjang, karna saya merasa belum punya kapasistas untuk bahas ini.

Tapi kalo boleh saya kasih saran, pliss kalian para calon ibu baru, baca juga soal ini yaa. Biar nanti bisa lebih aware ketika ada yang gak beres sama diri kita setelah menjadi ibu baru. Suruh juga suami kalian baca. Biar dia bisa jadi support system yang oke buat kalian.

Baca juga: Begini Ternyata Rasanya Baby Blues

Pokoknya, menjadi ibu baru itu harus punya segudang stok sabar. Harus punya hati seluaaasss lapangan. Akan ada problematika demi problematika yang mau gak mau harus kita hadapi.

Jadi jangan dikira menjadi ibu baru itu isinya akan manis-manis saja ya. Jangan dikira hanya akan ada bahagia melihat anak tumbuh sehat, ceria, ganteng/cantik, pinter, dll. Kehadiran mereka juga akan menjadi triggers untuk banyaakkk problematika.

Etapi jangan jadi enggan belajar dan baca teori-teori parenting yaaa gara-gara baca tulisan ini. Belajar sih tetep HARUS! Penyikapannya aja yang perlu ditata 😊

Baca juga: Tips Untuk Calon Ibu

Jangan lupa bahagia yaaa buibu semuaaa 😘

Senin, 02 Juli 2018

Ketika Bingung Puting Menghantui

kayak baru kemarin bingung puting, sekarang anaknya udah bisa push-up =D

Hampir semua ibu baru di era milenial ini, sepertinya pasti sempat dihantui ketakutan bayi kita akan bingung puting ya? Eh, terutama ibu bekerja sih. Kalo ibu full-time di rumah nemenin anak, mungkin gak akan seberapa takut karna kan bisa direct-breastfeeding 24 jam.

Jangan ditanya dulu saya takutnya kayak apa. Apalagi ASI saya keluarnya cukup lama kan -- 10 hari. Jadi ya mau gak mau Faza udah kenal dot di usia 5 hari. Gimana gak ngeri dia bakal bingung puting coba 😭

Baca juga: Bicara ASI, Bicara Rizki

Jadi combo banget. ASI belum keluar. Lalu stress takut Faza bingung puting gara-gara ASI gak kunjung keluar. Makin seret lah ASI-nya. Lingkaran setan banget 😂

Kenapa langsung dikenalin dot? Kenapa gak pake soft cup feeder atau disendokin?

Waktu hamil sempet sih mimpi pengen idealis: Faza minum ASIP-nya pake soft cup feeder aja, gak boleh pake dot! Tapi setelah lihat harga soft cup feeder di babyshop dan onlineshop, kulangsung keder. Dan tentu berubah pikiran seketika 😂

Entah kebangetan hemat atau kebangetan pelit ya saya ini. Idealisme saya bisa runtuh seketika saat melihat harga 😂 Jadi sebenernya saya emang udah beli dot sebelum Faza lahir. Cuma gak nyangka aja dia harus kenal dot di usia 5 hari 😔

Kenapa gak disendokin?

Sudah, sist, sudah. Pake sendok kecil. Bisa bayangin gak seberapa banyak stok sabar yang harus tersedia? Nyuapin susu pake sendok harus pelan-pelan kan, biar dia gak tersedak. Tapi bayi mana peduli. Yang dia tau, dia laper, dan disuapin pake sendok itu gak kunjung bikin dia kenyang. Nangis lah pasti. Haha. Jadi pake sendok cuma tahan 2 hari.

Harusnya tetep terus dineneni, biar ASI cepet keluar!

Ini sih udah banget. Soal teori ini udah khatam lah saya Insya Allah. Jadi dulu saya tuh ngasih dot ke Faza kalo Faza udah lapeeeerrr banget, yang ditandai dengan rewel atau gak bisa tidur. Kalo belu, ya bakal saya sodorin puting terus 😅

Jadi, sempet bingung puting gak?

Bingung puting banget sih Alhamdulillah belum ya. Tapi sudah sempat ada gejala-gejala ke arah sana. Semenjak kenal dot, tiap saya sodori puting, Faza pasti nangis kejer dulu. Ngamuk.
Ya saya paham sih. Ngenyot puting berjam-jam gak bikin kenyang (karna saat itu ASI belum keluar), sedangkan ngenyot dot gak ada 15 menit udah bisa bikin dia tidur nyenyak kekenyangan. Saya belum lupa sampe sekarang rasanya melihat Faza bisa tidur nyenyak karna dot (bukan karna saya). Periiiihhh, mak 😭

Pernah suatu saat, Faza nangis pengen nenen. Lalu saya sodori puting, dan nangis jejeritan. Saya ikutan nangis sejadi-jadinya sambil liatin Faza nangis 😂

Lalu masih sambil nangis, saya bilang, "Ayolah, Nak... bantu ibu! Kalo kamu gak mau nenen ibu, nanti ASI-nya ibu gak akan keluar. Ibu mohon, bantu ibu..." ngomong gitu terus-terusan, diulang-ulang. Sampe akhirnya Faza berhenti nangis (mungkin capek, haha), dan AMAZING-nya, dia mau nenen saya! 😍 Entahlah mau nenennya gara-gara putus asa yang penting bisa ngenyot sesuatu, atau karna ngerti tadi saya ngomong apa 😂

Baca Juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Setelah ASI keluar, Alhamdulillah Faza gak bingung puting lagi, karna dot langsung saya stop. Masalah muncul ketika menjelang cuti saya habis. Faza gantian nangis kejer tiap dikasih dot 😂

Dan Amazing-nya lagi, hari terakhir saya kasih dot Faza masih kekeuh gak mau, nangis jejeritan, eh paginya saya tinggal kerja, dikasih dot sama budhe yang momong langsung mau kayak gak pernah ada apa-apa. Allahu Akbar!

Kok bisa gitu sih? Apa tipsnya? *yakalik ada yang minta tips 😂*

Berikut usaha yang terus saya lakukan selama masa cuti:
 
- BERDOA. Yaiyalah. Ini harus jadi usaha pertama. Kan senjatanya orang beriman itu doa, to? Jadi jangan dianggap remeh dong.

Saya terus berdoa, seringnya sambil memandangi wajah Faza, agar Allah mengijinkan saya menyusui Faza hingga 2 tahun. Biar Faza gak bingung puting, sekaligus mau minum pake dot ketika saya tinggal kerja.

- SOUNDING. Tadinya sempet ngrasa 'ih apaan sih ngomong sama bayi, emang dia ngerti' gitu pas awal-awal. Tapi saya membuktikan sendiri betapa sounding sangat punya dampak.

Setiap Faza nenen, mulut saya gak berhenti ngedumel. Bilang 'Faza, nanti kalo ibu sudah masuk kerja, Faza minumnya pakai dot ya. Nah, kalo lagi sama ibu, nenen ibu lagi, gak usah pakai dot. Oke, Nak?! Kita doa sama-sama ya, semoga ASi-nya ibu banyak bla bla bla...'. Pokoknya ngomong aja terus.

Selain dua hal itu, saya juga menerapkan beberapa teori yang saya baca di artikel parenting. Semacam, sebaiknya yang memberi ASI dengan media lain (dot) bukan si ibu, melainkan orang lain. Dll.

Udah sih gitu aja. Cerita ini udah kelewat basi ya sebenernya, wong Faza udah hampir 1,5 tahun 😂 Tapi semoga memberi manfaat untuk siapapun yang baca, terutama untuk para ibu baru. Semangaaatt yaa buibu, jangan lupa bahagia 😘

Kamis, 28 Juni 2018

Beberapa Milestone Faza yang Telat Tercapai



Faza baru bisa merangkak di usia setahun. Setahun lebih sebulan malah. Hahaha. Ada yang kaget?

Setelah nulis judul di atas, saya langsung menarik nafas dalam-dalam. Terkenang betapa galaunya saya saat Faza belum juga bisa merangkak di usia 10 bulan. Jangankan merangkak, bergerak maju alias merayap aja belum deh seingat saya. Umur 11 bulan baru pandai merayap.

Beberapa milestone Faza memang telat dicapai. Terutama bagian perkembangan motorik kasarnya. Padahal dia lahir cukup bulan dengan BB yang ideal. Artinya, secara syarat harusnya Faza bisa banget berkembang sesuai usia.

Apesnya, saat itu saya masih bener-bener blank soal tumbuh kembang anak. Akibatnya, saya telat banget menyadari bahwa Faza terlambat perkembangan motorik kasarnya.

Padahal selama hamil saya udah merasa baca banyaaakkk banget tulisan macem-macem soal per-bayi-an. Eh ternyata masih adaaa aja yang kecolongan. Saya jadi sadar ternyata ilmu saya masih dikiiittt banget. Jadi saran untuk para bumil atau calon ibu, jangan malas belajar yaa. Iya sih jadi ibu itu naluriah, gak belajar juga pasti bisa. Tapi kalo udah punya bekal ilmu, pasti beda hasilnya. Insya Allah.

Oke balik ke cerita soal Faza ya.

Jadi, baru bisa merangkak di usia setahun itu merupakan satu poin dari serangkaian keterlambatan yang terlambat saya sadari.

Pertama, tengkurap. Faza lancar tengkurap di usia 4 bulan, tapi belum bisa kembali ke posisi terlentang sendiri. Umur sekitar 5 bulan kayaknya dia baru bisa guling-guling -- dari terlentang ke tengkurap, terus balik terlentang lagi gitu. Kalo ini mungkin belum terlambat banget ya. Tapi udah mulai ada tanda-tanda nih kalau dicermati.

Saat Faza usia 5 bulan, dia saya ajak pulang kampung. Nah, mbahnya (ibu saja) kaget plus jadi resah ketika mendapati Faza belum kuat diberdirikan (menahan berat badan dengan kaki). Pulang dari kampung, saya galau banget gara-gara itu.

Bodohnya, bukannya jadi menyadari, saya malah nganggap ibu saya nyebelin dan parnoan 😅 Padahal bener lho, mampu menopang berat badan dengan kaki harusnya sudah bisa dilakukan saat anak berusia 4 bulan. Saya udah cerita di sini tentang ini.

Gara-gara gak kunjung sadar, keterlambatan milestonenya Faza terus berlanjut deh.

Gongnya yang akhirnya bikin saya sadar ada yang gak bener adalah ketika saya lihat status WA teman saya yang sedang memvideokan anaknya yang usianya lebih muda dari Faza, tapi udah lincah merangkak. Saat itu usia Faza 8 bulan kalo gak salah.

Saya langsung panik. Temennya udah bisa merangkak, kok Faza merayap maju aja belum bisa?

Bukan. Ini bukan soal membanding-bandingkan anak dengan anak orang lain. Saya juga panik sama sekali bukan karna gak mau anak saya kalah saing. Ah, sama sekali gak seremeh itu kepanikan saya. Sebagai orang tua saya cuma pengen tumbuh kembang Faza optimal.

Setelah lihat video anak teman saya yang sudah pandai merangkak itu, baru deh saya browsing tentang milestome bayi 0-12 bulan, lalu saya baca dengan cermat. Sebelumnya saya udah pernah baca, tapi cuma selintas lalu.

Dan, kecurigaan saya bener! Bayi itu harusnya mulai merangkak usia 8 bulan. Sedangkan Faza -- sekali lagi -- jangankan merangkak, merayap maju aja sama sekali belum bisa. Lalu ada satu point lagi yang sebelumnya sama sekali belum saya sadari. Yaitu beranjak ke posisi duduk sendiri tanpa dibantu. Ini idealnya usia 7 bulan sudah bisa. Sedangkan Faza belum 😭

Saat usia 9 bulan, Faza kena impetigo. Ketika saya bawa ke dokter spesialis anak, sekalian deh saya konsultasi tentang keterlambatan milestonenya Faza ini. Terutama soal belum bisa merangkak.

Nah, dokternya -- yang Alhamdulillah komunikatif banget -- bilang, gak papa, terus dilatih aja. Yang pertama harus bisa duduk sendiri dulu. Bayi gak akan bisa merangkak kalau belum bisa duduk sendiri. Lalu beliau mencontohkan gerakan untuk melatih Faza agar segera bisa bangkit duduk sendiri.

Amazingnya, hanya selang 2 mingguan setelah saya latih dengan gerakan yang dicontohkan dokter, Faza bisa bangkit ke posisi duduk tanpa dibantu. YEAY! 😍 Gak lama kemudian, dia bisa merayap maju, di usia menjelang 10 bulan kalo gak salah.

Sebenernya di lingkungan saya, kebanyakan menganggap fase merangkak itu gak wajib dilalui. Malah beberapa ada yang agak heran melihat saya yang ngotot pengen Faza tetep bisa merangkak dulu sebelum jalan.

"Lho, memang ada kok anak yang gak merangkak, tapi langsung bisa jalan. Malah bagus dong langsung bisa jalan"

Intinya, gak masalah gak merangkak dulu, yang penting bisa jalannya cepet. Iya sih, saya tau dan percaya, banyaaakk sekali anak yang melewatkan fase merangkak, dan baik-baik saja.

Tapi entahlah, saya tetap ingin Faza melewati fase merangkak. Gak papa deh meski udah telat. Gak papa bisa jalannya entar-entar aja, yang penting merangkak dulu. Karna saya percaya, fase merangkak punya banyak manfaat buat dia.
Terus gimana caranya biar Faza mau merangkak?

Sejujurnya saya sempat ngerasa stuck sih. Macem-macem stimulus udah dikasih, tetap aja dia ogah merangkak.

Usaha yang saya lakukan di antaranya:

-Kasih contoh ke dia. Jadi saya sering sengaja merangkak gitu biar dia lihat kayak gini lhoo merangkak. Ini saran dari teman.

-Kalo dia minta titah, sering saya tolak. Karna katanya kalo udah kesenengan dititah, makin males merangkak.

-Saya pijit kakinya, Terus ngikutin beberapa gerakan baby gym di yutub.

-BERDOA! Serius, saya doa banget supaya Faza bisa dan mau merangkak. Hehe.

Nah, di saat seperti inilah baru kita boleh bilang, anak punya waktunya masing-masing. Ketika saya udah hampir hopeless, eh tiba-tiba Faza mau merangkak! Alhamdulillah 😍

Wuiih, ternyata udah panjang banget yaa ceritanya 😆 Tapi belum mau udahan nulisnya 😅

Btw, atas beberapa milestone Faza yang terlat tercapai, saya membuat analisis sebab. Kenapa sih kok itu semua bisa terjadi. Saya tulis sekalian ya, biar buibu (terutama ibu baru atau calon ibu) yang baca bisa mengambil pelajajaran dari kesalahan saya ini:

-Saat bayi, Faza jarang sekali saya beri kesempatan untuk tummy time. Selain karna saya belum tau kalo tummy time manfaatnya banyak banget, saya juga masih kagok pegang bayi. Tengkurepin bayi bagi saya horor banget.

-Faza jaraaaang banget saya biarkan melantai. Saking 'sayang'nya, saya dan ayahnya selalu merasa ga tega naruh Faza di lantai. Huhu.

-Jarang banget ajakin Faza melakukkan gerakan-gerakan baby gym.

-dll, yang intinya bisa dirangkum dalam 2 poin: ayah-ibu yang kurang ilmu dan Faza yang kurang mendapat kurang stimulus

 Saya juga punya beberapa saran nih buat para calon ibu dan ibu baru *sungkem dulu sama para ibu senior* 😁

-Membekali diri dengan ilmu itu HARUS. Termasuk ilmu tentang tumbuh kembang anak. Kata teman saya, anak-anak kita berhak diasuh oleh orangtua yang gak malas belajar 😊 Duh sist, yang udah punya ilmu aja masih sangat mungkin salah, apalagi yang kosongan? Iya sih orangtua-orangtua kita mungkin urus kita juga dulu tanpa ilmu. Ngalir aja. Nah, apa iya kita pengen anak kita jadi generasi yang seperti kita? Pasti pengen lebih baik dari kita kan?

-Jangan baperan. Baper itu bikin kita stagnan. Tau bahwa beberapa milestone anak kita telat tercapai, eh langsung baper. Terus gak mau lagi cek-cek milestone atau cari tau harus kasih stimulus apa. Yaudah pasti telatnya bakal makin banyak.

-Jangan terlena dengan kalimat, "ah, nanti juga bisa sendiri". Iya, anak memang punya waktunya masing-masing. Tapi ada red flag yang harus diperhatikan. Kalo udah lewat red flag ya alangkah baiknya segera menemui yang berkompeten di bidang ini.

Untuk poin saran terakhir, rencananya mau saya bahas lebih lanjut di blogpost berikutnya 😊

Udah ah, udah panjang bangeettt. Makasih banget yaaa yang udah mau baca. Tetap semangat dan jadi ibu yang bahagia yaaa buibu 😘

Selasa, 05 Juni 2018

Catatan Dua Tahun Pernikahan


Dua tahun lebih sebulan deng tepatnya 😂

Gak lucu banget yaa nulis catatan anniversary pernikahan, tapi telat sebulan. Hahaha. Tapi lagi-lagi, gak papa lah, daripada gak ditulis sama sekali, kan sayang 😅

Tanggal 7 Mei 2018 kemarin, tepat dua tahun saya bergelar sebagai istri. Dari seorang lelaki yang banyak kekurangan tentu saja. Tapi dari banyaknya kekurangan itu, Alhamdulillah tertutupi dengan sedikit kelebihannya. Hingga saya gak lagi peduli pada kekurangan-kekurangan itu 😊

Dua tahun berumahtangga, Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, Allah karuniakan banyaaaakkk sekali nikmat yang Allah beri buat rumah tangga kami. Kalo lagi ngobrol berdua, kami sering merasa kufur nikmat banget. Karna apa yang Allah beri, sama sekali gak sebanding dengan usaha kami memperbaiki kualitas hubungan dengan-Nya 😭

Usia dua tahun pernikahan mungkin memang belum bisa dibilang matang. Tapi dibanding saat usia pernikahan kami baru setahun, tentu saja rumah tangga kami sudah lebih matang.

Jauh lebih tepatnya mungkin yang lebih matang dari sebelumnya itu saya sih. Mas suami mah dari dulu udah matang. Haha.

Matang seperti apa contohnya?

Dulu di tahun pertama, lihat mas suami nge-game itu rasanya pengen langsung mencak-mencak. Gak rela sekali. Buat apa sih nge-game, kan mending dipake buat ngobrol sama istri tercintanya ini?

Sekarang, saya lebih santai. Gak gampang lagi cemburu dan merasa diduakan sama hal-hal remeh macam game gitu. Mas suami nge-game, ya monggo saja. Asal tugas dan kewajibannya gak sampai keteter hanya karna game.

Intinya saya lebih menyadari, bahwa yang butuh me time itu gak cuma saya. Mas suami pun butuh. Butuh sendiri tanpa saya ataupun Faza.

Saya dan mas suami juga bisa dibilang sudah semakin saling memahami. Di tahun pertama pernikahan, kami lumayan dibuat kewalahan dengan seringnya kami miss komunikasi. Sebelum memutuskan nikah, bisa dibilang kami belum kenal lama. Jadi beberapa cara komunikasi kami masih sering bikin salah paham. Nah, tahun kedua ini Alhamdulillah makin smooth. Gak gampang baper lagi kalo salah satu dari kami bicara dengan nada mayan nyolot. Hehe.

Soal pembagian tugas juga udah makin berjalan natural. Dulu -- terutama setelah Faza lahir -- masih sering banget itung-itungan. Aku kan udah selesaiin ini, yang itu gantian kamu dong. Kamu kan udah tidur sekian jam, aku cuma tidur segini jam. Gitu-gitu lah.

Sekarang udah gak pernah Alhamdulillah. Siapa yang sempat dan bisa menyelesaikan, yaudah cuss aja. Gak pakai itung-itungan lagi.

Tapi tentu saja bukan berarti tantangannya jadi udah gak ada. Tantangan yang sebelumnya sudah terselesaikan, saatnya ganti tantangan baru 😂

Tantangan baru yang paling terasa adalah diskusi-diskusi tentang anak yang kadang berjalan alot. Terutama soal saya yang gampang banget terpengaruh tiap habis baca postingan instagram soal dunia-dunia parenting. Mas suami sering bete karna menurut beliau, gak semua yang orang lain lakukan itu harus langsung ikutan kita terapkan.

Yah begitulah, gak ada rumah tangga yang serba sempurna, seperti halnya gak mungkin ada manusia tanpa kekurangan. Semoga Allah mengijinkan kami untuk terus menghitung tahun bersama, hingga usia memasuki senja, dan kami duduk di teras sembari melihat anak-cucu tertawa riang, dan jemari saling menggenggam. Aamiin 😊

Rabu, 30 Mei 2018

#CeritaFaza: 14 dan 15 Bulannya Faza


Seiring makin besarnya Faza, Alhamdulillah saya juga makin menikmati peran sebagai ibu. Makin enjoy. Gak kayak dulu apa-apa dipikir sampai stress, apa-apa bikin baper.

Saya sempat ada di fase males ah baca-baca teori-teori parenting. Bodo amat. Tapi lama-lama merasa butuh. Karna tanpa teori, saya hanya akan jadi ibu yang tak tau arah jalan pulang *halah* 😅. 

Bedanya, kalau dulu baca teori parenting pasti bawaannya stress. Aduh gimana dong, kok Faza gak sesuai sih sama teori bla bla bla. Sekarang kalau ada yang gak sesuai, yaudah buat evaluasi. Oh di usia sekarang harusnya udah bisa gini, tapi Faza belum bisa. Oke berarti ayok dikasih stimulus pelan-pelan. Gitu lah.

Yang sangat saya syukuri, sampai usia 15 bulan ini, Faza bisa dibilang jarang banget sakit. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Semoga begini seterusnya. Sampai usia ini, dia pilek 3 atau 4 kali kalo gak salah. Dan itupun gak pernah lama. 3 hari udah sembuh. Dan jarang disertai demam.

Ngobrolin soal milestone, usia 13-15 bulan ini milestone yang dicapai Faza cukup signifikan menurut saya. Yang paling bikin terharu, tentu saja kemampuan berbahasanya yang mulai berkembang pesat.

Baca juga: Fase Separation Anxiety

Faza mulai bisa menirukan kata-kata dengan dua suku kata. Lampu, kaca, duduk, bobok, dll.

Satu lagi, setiap minta nenen, dia akan bilang, "Bu... nanaa..." dengan ekspresi super manis. Huhu, ibu sungguh terharu, nak 😘

Selain kemampuan berbahasa, Faza juga sudah mulai bisa dikasih instruksi. Tapi sekaligus menolak instruksi jika gak sejalan dengan yang dia inginkan 😅 Sudah bisa menunjukkan beberapa anggota tubuh seperti hidung, kepala, telinga, kaki, dll.

Yang bikin saya lega, sejak umur 13 bulan ia mulai lancar merangkak. Setelah sekian lama penantian, dan setelah sebelumnya selalu merayap dengan perut dan dada.

Bagi orang lain mungkin aneh. Anak setahun lebih kok baru bisa merangkak dan emaknya senang?

Iya, kebanyakan anak mungkin sudah merangkak sejak usia 9 bulan, atau kalaupun gak merangkak, beberapa sudah bisa berjalan di usia setahun. Sedangkan Faza, usia setahun baru bisa merangkak.

Beberapa orang juga bilang, gak papa gak merangkak, mungkin nanti langsung jalan. Tapi saya ingin sekali Faza melewati semua fase, termasuk merangkak ini. Jadi, meskipun lewat jauh dari red flag saya tetep lega akhirnya Faza gak melewatkan fase merangkak.

Baca juga: Tantrum Pertamanya Faza

Soal Faza yang terlambat merangkak, Insya Allah nanti saya buat satu postingan khusus.

Makin seru yaaa ternyata nunggu perkembangan demi perkembangan anak dari hari ke hari. Semoga anak-anak kita sehat selalu yaaa 😘

Senin, 28 Mei 2018

Menghadapi Fase Separation Anxiety



Sebulanan terakhir ini saya lumayan kewalahan plus galau menghadapi Faza. Separation anxiety-nya menjadi-jadi. Padahal sudah sempet mereda sebelumnya.

Meski Faza tipe anak yang cukup mudah dialihkan perhatiannya, sebagai ibu berhati peri (plis jangan muntah 😂), hati saya selalu perih setiap mendengar tangis pilu Faza ketika saya tinggal pergi -- padahal cuma ke kamar mandi, dan dia ditemani ayahnya.

Makanya saya berusaha baca sana-sini, gimana seharusnya menghadapi fase separation anxiety yang sebenernya wajar banget ini. Wajar, tapi gak jarang bikin ibu kelabakan.

Ohya, adakah yang belum ngeh apa itu separation anxiety?

Separation Anxiety itu  perasaan takut dan resah pada anak yang berlebihan ketika berpisah dengan ibunya atau orang terdekatnya, meski dalam waktu yang gak lama. Sebenarnya separation anxiety adalah fase yang sangat wajar terjadi pada anak, dan justru menjadi salah satu penanda semakin berkembangnya kecerdasan emosi mereka. Mereka mulai tau siapa saja orang yang membuat dia nyaman, yang selalu ada untuk dia, dan bisa membedakan dengan mana yang orang asing.

Cuma ya itu, kadang menguras hati juga jika kita gak segera merumuskan harus gimana menghadapi fase ini. Yang jelas, saya yakin bahwa setiap fase yang dilalui anak harus dihadapi dengan benar, karna pasti ada dampak yang mengikutinya.

Saya mencoba membuat daftar hal-hal yang saya lakukan untuk menghadapi separation anxiety-nya Faza. Siapa tau bermanfaat untuk buibu yang sedang ada di fase ini juga 😊

Berpamitan setiap akan pergi

Meski saya tau Faza pasti akan menangis, saya memilih untuk selalu berpamitan setiap akan pergi meninggalkannya. Entah itu pergi ke kantor, atau sekedar ke toilet. Tapi anehnya, kalo ditinggal ke kantor, dia malah jarang banget nangis. Dia seperti sudah tau polanya, kapan ibu harus pergi, kapan ibu di rumah untuk dia. Sekalinya di rumah, baru deh dia seolah pengen 'nempel' ibunya setiap waktu setiap saat.

Baca juga: Tantangan Sebagai Ibu Bekerja

Saya gak mau banget ninggalin dia dengan cara curi-curi. Karna, gimana ya... anak itu sama kayak kita orang dewasa. Punya perasaan juga. Coba bayangin kalo ada orang yang kita sayang, tiba-tiba pergi tanpa pamit, sakitnya kayak apa? 😁

Jujur

Feeling saya bilang, fase separation anxiety ini merupakan salah satu fase dimana anak sedang membangun rasa percaya dan nyamannya pada sosok ibunya. Gak tau sih ini benern apa gak dari segi ilmu parenting.

Yang jelas, saya memilih untuk berusaha jujur pada Faza. Jujur mengatakan saya akan perginya lama atau sebentar. Saya juga akan berusaha menjelaskan dengan jujur untuk keperluan apa saya harus pergi.

Memberi pengertian berulang-ulang

Ketika saya kembali -- misal dari kamar mandi -- dan mendapati Faza masih menangis, saya akan memberinya pengertian.

"Faza kenapa nangis, nak? Sedih ya ibu pergi? Kan ibu cuma pergi sebentar ke kamar mandi, nak. Dan ada ayah yang nemenin Faza"

Gitu aja terus berulang-kali, sampai bosen. Haha. Mungkin saat ini dia belum paham betul. Tapi saya percaya banget lah apa yang saya bilang lama-lama akan terekam dan mampu ia pahami.

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Memberinya ide kegiatan sebelum pergi

Seringnya, sebelum pergi saya akan beri dia ide tentang kegiatan apa yang akan bikin dia asyik, hingga gak fokus sama saya. Misal, sebelum pergi saya beri dia buku, karna kebetulan Faza paling mudah dibikin asyik kalo sudah ngadepin buku.

Jadi saya ambilkan buku, lalu menyerahkannya pada si ayah. Ayahnya akan bilang, "sini Nak, ayah bacain buku". Nah, kalo mereka berdua udah asyik, baru deh saya mlipir bentar -- setelah pamitan sebelum mereka asyik baca buku sebelumnya.

Dari hasil baca-baca, katanya fase separation anxiety ini bisa bertahan sampai anak berusia 2 tahun. Gak tentu sih, tergantung masing-masing anak. Tapi saya berharap Faza gak sampai dua tahun melalui fase ini.

Yang saya heran, kenapa dia gitu cuma sama ibu? Sedangkan sama ayahnya sama sekali enggak. Padahal mereka juga deket. Kalo mainan dan ngobrol asyik banget. Bahkan Faza lebih mudah tidur jika ayahnya yang menidurkan.

Kalo ada buibu yang telah sukses yang melewati fase ini, boleh dibagi doong cerita pengalamannya untuk ibu baru seperti saya ini 😊 

Kamis, 10 Mei 2018

Review Botanina Immune Guard Baby Oil


Beberapa kali berkunjung ke baby shop, beberapa kali pula saya dan mas suami dihadang oleh mbak-mbak SPG dari beberapa merk Essential Oil. Dengan senyum tanggung kami memutuskan untuk mendengarkan penjelasan panjang lebar mbak SPG tersebut. Bagaimanapun, beliau sedang berusaha meyakinkan kami. Kami harus menghargai.

Meski jujur saja kami gak ada niatan beli ketika tau harganya ampuh sekali. Bayangin aja, untuk seukuran botol kecil dengan netto hanya beberapa mili, harganya hampir seratus ribu. Untuk sebuah barang yang manfaatnya masih absurd bagi kami, itu mahal sekali.

Iya, dalam benak kami Essential Oil itu masih absurd. Seperti hanya minyak, tapi bisa memperkuat daya tahan tubuh, memperbaiki pola tidur, nafsu makan, dll. Kok bisa? Gimana ceritanya? Kecuali kalo bilang bisa menyembuhkan ruam atau biang keringat. Nah itu masuk akal sekali.

Tapi suatu hari Mbak Annisast si blogger idola itu cerita tentang salah satu merk essential oil lokal di IG stories-nya, langsunglah klepek-klepek dan kebelet beli. Saya mudah terpengaruh memang 😁

Gak pake lama saya kepo-in akun IG Botanina. Dan gak pake lama juga, langsung memutuskan order.

Botanina terdiri dari banyak varian essential oil, di antaranya ada Immune guard yang konon salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga daya tahan tubuh, cold and flu untuk menyembuhkan atau menghindarkan dari flu, bugs repelent spray yang berfungsi untuk menghindarkan dari gigitan serangga, dll. Essential Oil Botanina dibagi menjadi 3 kelompok usia, yaitu bayi, anak-anak dan dewasa.

Karna baru pertama kali dan masih belum yakin banget sama manfaatnya -- demi memuaskan rasa penasaran saya -- akhirnya saya order satu buat Faza, yang varian Immune Guard Baby Oil (untuk anak usia 6 bulan - 2 tahun) ukuran 30 ml. Harganya 55.000, dengan ongkir dari Bandung ke Semarang sebesar 17.000. Jadi total 72.000.

Ohya, saya ordernya dengan cara wapri ke nomor yang tertera di Bio akun IG-nya. Fast respon, dan mbaknya ramah.

Saya lupa barang sampai dalam waktu berapa hari. Yang jelas gak sampai seminggu deh kayaknya. Packingnya rapi 💙

Klaim yang tertera pada botolnya:

Mendukung sistem imun, melembabkan, mengatasi masalah kulit, meredakan sakit, meningkatkan nafsu makan, menenangkan.

Aromanya soft. Sedep. Mirip Bio Oil menurut saya. Hihi.

Teksturnya kayak minyak. Eh gimana, kan emang minyak ya 😅 Tapi gak bikin berminyak dan lengket ketika dioleskan. Cepat meresap gitu.

Tentang manfaatnya, apakah terbukti?

Antara terbukti dan tidak.

Kalau untuk klaim mengatasi permasalahan kulit, saya YES. Pernah suatu pagi pan*atnya Faza ruam. Merah-merah tebal menyedihkan. Saya oles sedikit Botanina Immune Guard Baby Oil ini. Sorenya, pan*atnya udah mulus lagi, WOW saya terharu 😍

Tapi untuk klaim soal menenangkan (saat tidur -- tambahan 'saat tidur' ini disampaikan oleh mbak admin yang balas wapri saya), saya masih ragu. Ohya, FYI, salah satu klaim yang paling saya harap akan beneran terbukti jujur aja adalah point ini. Karna Faza itu kalo di atas jam 10 malam, boboknya entah kenapa gak tenang banget, sering terbangun. Huhu, Ibu ngantuk, Za 😴

Masalahnya, pernah suatu hari saya pijitin dia pakai botanina immune guard ini menjelang tidur. EH beneran malemnya boboknya pules. Seneng banget dong 😍 Saya mendadak jatuh cinta pada Botanina.

Tapi malam berikutnya, saya pijitin lagi pakai Botanina seperti malam sebelumnya, dan FAILED. Boboknya gak tenang lagi kayak kemarin-kemarin. Patah hati 💔

Jadi soal bisa menenangkan (saat tidur), entahlah saya belum benar-benar membuktikannya.

Tentang Klaim bisa menjaga daya tahan tubuh, saya cukup membuktikan.

Tiga mingguan yang lalu ayahnya flu. Disuruh jaga jarak sama anaknya mana bisa. Nempel terus tetep. Sempet khawatir Faza ketularan kan, soalnya biasanya gitu. Eh Alhamdulillah kali itu enggak 😍

Tapi ini malah anaknya lagi flu. Saya udah semingguan libur mijitin dia pake Botanina sih 😅

Kesimpulan. Kalau disuruh ngasih nilai, saya akan kasih 3,5 dari 5 bintang.

Re-purchase? Yes, Insya Allah. Next pengen nyobain yang cold and flu. Karna lihat anak flu itu ga tega banget yaaa 😭

Kalian gimana, udah pernah nyoba pake essential oil?

Rabu, 09 Mei 2018

#BincangKeluarga: Tantangan Menjadi Ibu Bekerja

Kalau ngobrolin tentang tantangan, hampir seluruh peran pasti ada tantangannya ya. Gak mungkin ada yang benar-benar mulus lancar-jaya tanpa ada tantangan.

Termasuk menjadi ibu. Saya sering heran kalau baca mom-war tentang ibu rumah tangga VS ibu bekerja. Masing-masing ngotot perannya lebih WOW, lalu mengecilkan peran lainnya. Padahal, masing-masing pasti ada tantangannya.

Saya dulu termasuk yang sering mikir, jadi ibu bekerja itu jauh lebih capek. Ibu rumah tangga sih enak, pengen tidur yaudah tidur aja. Bebas. Ternyata kenyataannya gak gitu, ya. Beberapa ibu rumah tangga mengaku, tiap mau tidur rasanya sayang, mending buat menyelesaikan pekerjaan rumah.

Nah, pada #BincangKeluarga kali ini saya yang ibu bekerja pengen cerita, apa saja sih tantangan menjadi ibu bekerja versi saya. Sementara Ade akan bercerita tentang tantangan menjadi ibu rumah tangga versi dia. Biar kita makin ngerti dan gak saling meremehkan peran orang lain 😊


Baca punya Ade:

Manajemen Waktu

Jujur aja ini yang paling bikin ngos-ngosan. Jam kantor saya dimulai jam 8 pagi, dan berakhir jam 4 sore. Jadi, tiap pagi saya harus gedabrukan gimana caranya supaya bisa menyiapkan makannya Faza dan segala keperluannya selama saya tinggal kerja, nyiapin bekal makan siang untuk saya dan suami di kantor (kalo lagi pengen mbekal aja sih), dll. Dan semuanya harus selesai maksimal jam 7 pagi.

Jujur aja saya lumayan sering telat sampai kantor. Sepertinya masih ada yang salah sih sama manajemen waktu saya. Karna entah kenapa meski sudah bangun lebih pagi dari biasanya pun tetep aja selesainya sama aja kayak kalau saya bangun jam 5 pagi. Zzzz 😴

Baca juga: Menu Praktis Untuk Bekal Makan Siang

Ada yang mau sharing ke saya tentang ini? Siapa tau ada yang senasib sepenanggungan.

Makanya saya sering salut banget ih sama workingmom di kota besar macam Jakarta. Sebagian udah harus sudah berangkat jam 5 pagi, demi menghindari macet. Trus bangunnya jam berapa cobaaa? KALIAN KEREN lah pokoknya!

Malemnya, saya dan suami juga masih harus gedabrukan mengerjakan segala macam pekerjaan rumah tangga. Lipetin baju lah, nyetrika bajunya Faza, nyuci botol ASIP, dll.

Tentang Keseimbangan

Ini juga gak kalah menantang sih. Tentang gimana caranya saya harus menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, pegawai sebuah Yayasan (dan Blogger), sekaligus sebagai diri pribadi yang (katanya) butuh me time.

Jadi saya harus memastikan bahwa ketika sudah di rumah, gak ada cerita saya pusing mikirin/ngurusin kerjaan. Ini gampang sih menurut saya yang levelnya cuma staff. Gak tau deh kalo levelnya udah kepala bagian.

Yang paling menantang justru menyeimbangkan antara peran sebagai ibu dan istri ketika di rumah. Karna seharian udah gak sama faza, begitu sampai rumah kadang fokus saya sepenuhnya ke Faza. Nah, gak jarang speran saya sebagai istri kadang agak terlupakan. Contoh kecilnya, ketika masih menemani Faza bermain, saya jadi kelupaan ambilin mas suami minum.

Huhu, Alhamdulillahnya mas suami ngerti dan gak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele gini sih. Cuma sayanya masih sering merasa bersalah di bagian ini 😭

Saat Budhe Minta Libur

Ini tantangan seluruh ibu bekerja ya kayaknya. Eh, kecuali yang memilih daycare sih.

Beberapa minggu lalu, saya sempat dibuat galau gara-gara masalah ini. Budhenya Faza tiba-tiba sakit agak lumayan yang butuh waktu sekitar seminggu untuk pulih. Sedangkan saat itu saya sedang dikejar beberapa pekerjaan yang tenggat waktunya sudah mepet 😭

Tau gak, saya akhirnya sampai mendatangkan ibu saya dari Jepara untuk menemani Faza, biar saya bisa berangkat kerja.

Tantangan yang satu ini bikin saya beberapa kali mempertimbangkan daycare sebagai pilihan. Saya gak anti daycare kok. Cuma, saya sudah terlanjur cinta sama Budhenya Faza ini. Kalau suatu hari (naudzubillah) Budhenya Faza tiba-tiba memutuskan berhenti, saya pastikan saya akan memilih daycare aja.

Sebenarnya masih banyak sih tantangan menjadi ibu bekerja. Tapi cukup 3 saja yang saya ceritakan di sini.

Yang jelas, peran apapun yang kita pilih PASTI ada tantangannya masing-masing. Jadi jangan terburu-buru memandang rumput tetangga lebih hijau.

Jadi jangan gegabah memutuskan resign, karna merasa jadi ibu rumah tangga gak ada tantangannya. Ah, siapa bilang?

Pun jangan buru-buru menyebar lamaran pekerjaan karna melihat teman yang ibu bekerja kayaknya enjoy banget, bisa dandan rapi pake sepatu hak tinggi bla bla bla, karna merasa jadi ibu rumah tangga sangat melelahkan.

Percayalah, ada kebaikan di balik setiap keputusan yang kita ambil, asal kita menjalaninya dengan tulus 😊

Kamis, 03 Mei 2018

Yang Harus Dibawa Saat Bepergian Bersama Bayi



Yang harus dibawa saat bepergian  bersama bayi. Dulu, hal semacam ini saya anggap remeh. Gak pernah sama sekali ada niatan mencari tau -- minimal browsing -- soal ini. Ah udah, beginian doang sih gampang lah yaa.

Sama ya kasusnya dengan urusan pumping. Menggampangkan dan sok tau, akhirnya ZONK. Hahaha.


Eh ternyata, gagap juga lho pas awal-awal harus bepergian bawa Faza. Adaaa aja yang ketinggalan. Adaaa aja yang kurang, terus akhirnya senewen sendiri. Sampai-sampai saya sempat malas ikut bepergian. Ribet 😑

Alhamdulillah, lama-lama mulai terbiasa dan jadi makin tau kebutuhan apa saja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi. Dan biar gak ribet, barang-barang wajib bawa ini biasanya saya sediakan khusus di tas yang biasanya dipakai saat bepergian. Jadi gak perlu keluar-masuk, untuk meminimalisir resiko ketinggalan. Maklum ya, saya ibu anak satu yang agak pikun 😭

Yaudah yok mari dilist apa saja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi, agar stabilitas nasional terjaga.

1. Toiletries

Ini terdiri dari beberapa item yah. Apa aja?

  • Tissue kering
  • Tissue basah
  • Diaper rash cream
  • Diapers
Untuk diapers, saya selalu bawa lebih dari satu. Kita gak akan pernah tau apa yang akan terjadi, kan? *halah. Jadi buat jaga-jaga ya cari aman, jangan cuma bawa satu.

2. Baju, dll.

Setiap bepergian bersama Faza, meski gak jauh dari rumah, saya selalu bawa baju ganti untuk dia. Minimal satu kaos dan satu celana. Kan bayi, apalagi yang lagi aktif-aktifnya, rawan banget bajunya kotor atau gak sengaja ketumpahan sesuatu gitu ya.

Nah, kalau gak bawa baju ganti kan sedih. Masa berangkatnya rapi jali, pulang-pulang kucel dan dekil?

3. Selimut atau kain untuk alas

Item ini sebenernya sudah mulai saya eliminasi demi berkurangnya isi tas. Tapi kadang juga masih bawa jika bepergiannya agak jauh atau lama.

Kalau saat bayi, ini wajib banget bawa. Untuk apa? Biar kalau Faza tidur, dan harus diletakkan (misal pas makan di warung lesehan), kain atau selimut ini bisa untuk alas, karna kebersihan lantainya kan gak terjamin ya kalau di tempat umum. Apalagi ini bayi, daya tahan tubuhnya belum bener-bener kuat. Kalau kita mah gegoleran di tanah juga oke aja 😂

Paling enak sih kalau pakai geos alias gendongan kaos yah. Jadi 2 in 1. Bisa buat gendong, sekaligus buat kain alas. Empuk dan lembut pula.

4. Makanan dan Minuman

Ini harus, gak boleh lupa. Apalagi untuk orangtua yang berprinsip gak boleh memberi sembarangan makanan ke anak.

Kalau saya, minimal bawa biskuit. Atau kalau memungkinkan ya bawa buah. Jadi jika selama bepergian gak ketemu sama makanan yang ramah anak, kita gak perlu panik. Udah ada persediaan.

Kalau minuman, saya cuma bawa air putih di straw cup-nya Faza. Iya sih air putih gak bawa pun gampang dapetnya. Tapi kalau saya tetep lebih milih sedia sendiri aja. Kenapa bawanya air putih doang? Ya soalnya kalau ASI mah ya otomatis saya bawa lah pabriknya 😂

Udah sih, bagi saya 4 point ini sudah memadahi sekali. Dengan catatan bepergiannya gak jauh-jauh banget, dan gak yang sampai nginep. Kalau sampai nginep sih beda urusan yaa. Daftarnya jauh lebih panjang.

Nah, kalau kalian apa aja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi, moms? Share, yaa... siapa tau masih ada yang kurang di list-ku. Biar makin lengkap 😊