Sabtu, 09 Februari 2019

Menyapih Faza dengan Cinta

menyapih dengan cinta


Hari ini usia Faza tepat 2 tahun. Kurang sbulan tapi. Hehehe.

Dan surprisely, Faza udah berhenti nenen!

Sejujurnya ini jauuhhh dari ekspektasi dan rencana yang saya punya.

Saat memasuki tahun 2019, bisa dibilang fokus utama saya untuk Faza memang adalah menyapihnya dengan cinta. Pokoknya gak pengen pake kebohongan-kebohongan semacam mengoles sesuatu ke niple biar dia ogah nenen. Atau yang lebih parah, pake cara yang umum digunakan orang kampung saya: datang ke 'orang tua' terus dikasih 'doa aneh-aneh' biar si anak 'lupa' sama nenen.

Gak mau, pokoknya gak mau! Kalau disuruh milih, saya jauh lebih milih Faza nenennya molor sampai 3 tahun aja daripada harus pake cara semacam itu.

Menyusui adalah hal yang pernah sangat saya inginkan. Hal yang saya mulai dengan derai air mata. Hal yang saya usahakan sepenuh jiwa sepenuh raga. Betapa gak relanya saya mengakhiri moment menyusui itu dengan cara kurang baik semacam itu. Maaf jika ada yang gak sependapat. Dunia memang terlalu luas untuk dibuat sepakat, kan?


Saya yakin dan percaya bahwa menyapih dengan cinta bukan hal mustahil. Pasti bisa!

Jadi, sejak Januari, saya mulai gencar sounding Faza tentang berhenti nenen. Saya bilang dia sudah besar, nenennya sudah mau habis (saya gak bohong, produksi ASI saya emang udah dikit banget). Maka, sebentar lagi dia sudah gak perlu nenen. Tapi ibu akan tetap sayang, tetap akan peluk dia meski udah gak nenen lagi.

Kalimat-kalimat itu saya ulang-ulang terus, sampai saya hampir bosen ngucapinnya. Hehe.

Emm, Sebenernya dari usia Faza 1,5 tahun saya sudah sounding dia hanya boleh nenen sampai usia 2 tahun. Tapi belum intens banget. Intensnya ya mulai Januari itu.

Lalu apakah langsung ngaruh?

Oh tentu tidak. Tiap saya sounding, dia sih selalu tampak mendengarkan dengan seksama dan jawab iya-iya. Tapi begitu waktunya dia minta nenen dan saya nge-test dengan bilang, 'Lho, kan sudah besar, harusnya sudah gak nenen, kan?', tetep aja dia masih cranky 😂 

FYI, meski kalo saya tinggal kerja Faza minum ASIP-nya pakai dot sejak bayi, Alhamdulillah dia gak bingung puting. Bahkan dia gak mau sama sekali minum pakai dot kalo ada saya. Sejak bayi. Dan itu sesuai sama yang saya sounding-kan ke dia sejak bayi.


Dan sampai awal Januari, frekuensi dia nenen terhitung masih tinggi tiap lagi sama saya. Terutama malam. Dia minimal nenen 4x. Meski nenennya kadang cuma buat 'nenangin diri' aja.

Memasuki minggu ke-3 sejak saya intens sounding tentang berhenti nenen, secara tiba-tiba frekuensi dia nenen berkurang sekali. Malam paling cuma 2 x. Lalu tiba-tiba jadi sekali.

Tiap bangun dia masih selalu latah bilang, 'Ibuuukk, nenen'.

Lalu seringnya saya jawab, 'nenen? kan nenennya kosong?'

Dia balik tanya, 'Ocong?' -- kayak sambil mikir. Lalu dia berubah pikiran minta susu pakai gelas.

Rencana awal saya, mulai masuk bulan Februari, saya akan bener-bener gak akan kasih dia nenen untuk melatih dan membiasakan. Karna kata teman-teman kantor, butuh waktu minimal sebulan untuk bikin anak bener-bener terbiasa tanpa nenen.

Bayangan saya, prosesnya akan penuh drama. Semacam dia minta nenen, gak saya kasih, lalu dia nangis jejeritan malam-malam.

Ternyata sama sekali enggak kayak gitu, Masyaa Allah 😭😭😭

Dia tiba-tiba seperti dewasa sekali. Tiap keceplosan minta nenen, sebelum saya bilang apa-apa, dia seolah inget sendiri dan menggumam, 'nenen ocong?' -- dan lalu minta susu.

Terharuuuu 😭😭😭 Masyaa Allah, Alhamdulillah.

Sampai sekarang dia kadang masih latah minta nenen, tapi frekuensinya sudah sangat berkurang. Kalo dia keceplosan minta, tetep akan saya sodorin sambil bilang, 'lho, lupa ya? nenennya kan kosong ya? Mau dicoba?'

Lalu sama seperti biasanya, dia menolak sendiri dan beralih minta susu.

Saya gak ingin membanggakan anak saya berlebihan. Saya tau ini karna Allah memberi kemudahan. Dan mungkin juga karna Faza memang tipe anak yang bertemperamen 'slow to warm up', jadi cenderung mudah beradaptasi dengan situasi baru setelah berkali-kali dikenalkan.

Tapi saya cuma ingin bilang ke semua ibu yang sedang akan menyapih anaknya.

Saya mau bilang: menyapih dengan cinta itu bukan hal mustahil. Kita pasti bisa. Kuncinya percaya. Percaya bahwa kita bisa, dan percaya bahwa anak kita juga bisa. Karna menyapih bukan hanya tentang anak kita, tapi juga diri kita sendiri.

Jangan menyerah dan sedih kalo ternyata prosesnya gak mudah. Berdoa dan jangan bosan-bosan sounding. Kita pasti bisa 😊

Selamat meng-ASI-hi dengan penuh kasih, dan menyapih dengan penuh cinta 💕

Minggu, 27 Januari 2019

Review Murottal Box Bubby

Sebenernya saya janji mau posting review murottal box bubby ini minggu lalu sama teman. Tapi apa daya, gimana mau posting kalo nyicil nulis pun belum. Hihi.

Baiqlah, mari kita mulai cerita tentang murottal box Bubby ini.



Saya membeli murottal box Bubby ini melalui sistem menabung, yang ditawarkan sama ownernya. Jadi bukan arisan ya. Kalo arisan kan setelah daftar, akan ditentukan bulan apa kita dapet barang. Bergilir.

Kalo menabung, kapanpun kita lunas, ya barang akan dikirim.

Nabungnya dengan cara transfer ke rekening yang ditentukan toko bubby. Harga barangnya pun sama dengan jika kita membeli cash.

Kenapa gak nabung sendiri aja di rumah? Yeahh, tau sendiri lah kalo nabung di rumah itu banyak godaannya.

Pertama tau Murottal Box Bubby ini karna saya follow ibunya, atau sering disapa dengan Umami @damayantiku. Awalnya beliau ini sering sharing tentang segalaaaaa macem soal dunia parenting. Dan sharingnya pun mayan anti-mainstream. Jadi dulu hampir tiap hari saya mantengin IGS beliau. Sekarang mah enggak, lelaaahhh aku lelaaaah. Haha.

Nah, berawal dari sharing soal dunia parenting itu, lama-lama si Umami menjual juga segala perlengkapan pendukung dalam pengasuhannya. Mulai buku, baju, mainan, flash card, sampai Murottal Box ini.

Sebenarnya, mas suami agak keberatan waktu tau saya mau beli murottal box ini. Karna Faza sudah punya Hafidz Doll. Kan ya sama aja, katanya. Iya sih, secara garis besar memang sama. Tapi tetep ada bedanya.

Langsung aja yuk ah bahas fitur-fitur yang ada di Murottal Box Bubby ini.

Murottal dari Banyak sekali Qori' yang berbeda-beda

Jadii, qori'-nya gak cuma satu. Sepuluh aja lebih. Jadi kita akan dengar beragam cengkok ngaji yang semuanya indah dari bermacam-macam qori' tersebut.

Murottalnya Gak Hanya dari 1-30 Juz

Lhaahh... kan Al Qur'an memang hanya terdiri dari 1-30 Juz?

Hihi. Maksudnyaaa... Selain murottal yang urut dari Al Fatihah sampai An-Naas, di Murottal Box Bubby ini juga ada Murottal per surat yang dibacakan oleh beberapa qori berbeda, murottal per halaman dan murottal anak juz 'amma.

Ada juga murottal surah-surah pilihan semacam Al Khafi, Al Waqi'ah, dll. Qori'-nya juga qori-qori pilihan semacam Fatih Seferagic, Muzammil Hasbalah, dll. Untuk yang sedang menghafal Qur'an, disediakan juga murottal per ayat yang dibacakan oleh Misyari Rasyid Al-Afasy.

Ada Dzikir Pagi-Petang dan Ayat-ayat Ruqyah

Nah, ini nih justru yang jadi motivasi utama saya pengen banget beli Murottal Box Bubby ini.

Kan bisa download?

Iya sih bisa banget. Tapi sini anaknya emang kebangetan malesnya kalo suruh download-mendownload gitu.

Ada 12 Kompilasi Adzan

Ini suka bikin kaget sih 😂 Jadi kan kalo malem biasanya saya hidupin, terus stel di bagian ayat-ayat ruqyah. Nahh, kompilasi adzan ini letaknya beberapa sesion setelah ayat ruqyah ini.

Pernah nih, saya buru-buru bangun gara-gara kaget denger adzan. Kirain adzan subuh. Ehhh ternyata masih jam dua malem. Adzannya dari Murottal Box itu. Haha.

Ada Hadist Arba'in

Ada Kompilasi Doa Sehari-hari

Ada Ratusan Kajian Islami dan Tanya-Jawabnya

Ini sih yang paling WOW. Daripada dengerin kajian selalu pakai youtube kan?

Atau mau download sendiri segitu banyak? Saya sih NO ya. Hihi.

Yang paling penting, Ada Daftar Isi-nya LENGKAP

Jadi, gak bakal bingung kalo mau milih pengen dengerin apa.


--------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari ulasan fitur apa saja yang ada di Murottal Box Bubby, yang udah tau fitrunya Hafdiz Doll pasti langsung tau yaa apa bedanya.

Kalo disingkat, kelebihan hafidz doll selain murottal adalah kisah-kisah nabi dan lagu anak-anaknya. Sedangkan murottal box punya kelebihan di dzikir pagi-petang, ayat-ayat ruqyah syar'iyah dan ratusan kajian dengan berbagai tema.

Padahal mereka punya harga yang jauuuhhhh banget selisihnya. Murottal Box Bubby ini saya beli dengan harga 350.000 belum ongkirnya.

Tapi ya gak adil juga sih kalo bandingin sama Hafidz Doll. Hafidz Doll kan produk eksklusif ya. Kalo Murottal Box Bubby ini sebenernya produk speaker partablenya Advance. Terus dikasih sticker sama pihak Bubby yang jadi terkesan eksklusif.

Lalu untuk isi-isinya ditaruh di sebuah Memory Card. Dan itupun hasil download-download di internet. Tau sendiri lah ya yang namanya hasil download kan kualitasnya kadang beda-beda. Terutama di bagian kajiannya.

Kalo untuk kualitas suara yang dihasilkan speakernya sih oke banget menurut saya.

Gimana caranya beli murottal box Bubby ini?

Pantengin IG @inibubby aja yaaa.

Jadi pilih mana murottal box atau hafidz doll?

Kalo saya sih pilih dua-duanya. Haha.

Sekian.

Jumat, 18 Januari 2019

Perhatikan Ini Saat Bepergian Bersama Anak dengan Transportasi Umum

Meskipun gak hobi traveling, bukan berarti saya sama sekali gak mau traveling. Tetep pengen lah sesekali.

Apalagi sejak punya anak lelaki. Motivasi utama keinginan traveling saya gak hanya soal ingin refreshing, melainkan karna ingin memberikan pengalaman masa kecil sebanyak-banyaknya pada Faza. Apalagi dia anak lelaki.

Faza itu bisa dibilang agak lembek untuk ukuran anak lelaki. Nurun dari saya. Hehe. Lembek maksudnya bukan kecewek-cewekan ya. Tapi cenderung takut kalo di lingkungan baru. Butuh waktu adaptasi yang lumayan lama sama kondisi dan suasana baru. Dan menurut saya, hal itu bisa diubah pelan-pelan. Contohnya dengan sering-sering mengajak diaa bertemu orang baru atau ke pusat-pusat keramaian. Terbukti cara itu lumayan efektif lho. Kemampuan adaptasi Faza berkembang pesat sekarang ini.

Nah, traveling juga menurut saya bisa jadi sarana pembentukan mental buat dia. Karna kondisi yang serba tidak terduga saat traveling konon bisa membentuk seseorang mempunyai mental dan pribadi yang lebih kuat dan stabil. Dan jujur saja, kondisi serba tidak terduga itu juga yang bikin saya gak terlalu hobi traveling. Hehe.

Jadi, selain untuk mendidik Faza, saya juga bisa sekalian mendidik diri saya sendiri 😂

Tapi, pengertian traveling dalam kamus saya gak selalu mengunjungi tempat wisata tertentu. Sekedar berkunjung ke rumah saudara di luar kota pun sudah termasuk traveling bagi saya.

Dan karna tujuan utama travelingnya adalah untuk memberikan sebanyak mungkin pengalam seru untuk masa kecil Faza, saya lebih suka mengajaknya bepergian dengan transportasi umum.


Sejauh ini, saya sudah pernah mengajak Faza berkunjung ke rumah mbah buyutnya di Cirebon dengan Kereta Api. Lalu jalan-jalan ke Bandung naik Bus. Kapan-kapan saya ingin sekali mengajaknya naik travel atau Bus ke Purworejo - rumah Pakdhenya Faza, lanjut naik kereta api ke Jogja. Lebih seru lagi jika dilanjut naik travel Jogja Jakarta kali yaaaa untuk menguji ketahanan mental dan fisik saya 😂 

Yang jelas, mau pergi ke manapun bersama anak, apalagi naik transportasi umum, harus benar-benar memperhatikan beberapa hal. Agar selama perjalanan di samping mendapatkan pengalaman seru, anak juga tetap merasa nyaman.

Apa aja yang harus diperhatikan?

  • Pastikan transportasi umum yang akan kita  tumpangi adalah jenis transportasi umum yang aman dan nyaman. Jadi misal naik bus, yang jangan bus ekonomi lah untuk ke luar kota dengan jarak yang lumayan jauh. Gak perlu sampai kelas bisnis sih. Pokoknya minimal ber-AC dan busnya nyaman.
  • Pastikan kebutuhan anak tersedia sewaktu-waktu saat dibutuhkan. Macam susu, diapers, tisu basah dan kering, cemilan, dll harus sudah disiapkan. Gak ada istilah lupa. Bayangkan apa yang terjadi jika anak minta susu lalu kita gak bawa?!
 Baca juga: Yang Harus dibawa Saat Bepergian Bersama Bayi
  • Sounding dari jauh-jauh hari. Selalu bilang minimal sebulan sebelumnya ke anak jika akan mengajaknya perjalanan menggunakan transportasi umum. Saya selalu melakukan ini karna sangat percaya manfaat sounding. Biasanya saya akan bilang gini, "Za, besok kita mau ke bla bla bla naik bus loooh. Seruu, Faza pasti suka! Nanti Faza harus kooperatif dan gak boleh rewel ya. Kalo rewel nanti ganggu penumpang yang lain. Soalnya kan yang naik bus orang banyak, bukan cuma kita!". Diulang-ulang terus ngomong seperti itu sampai hari H keberangkatan.
  •  Pastikan kesehatan anak dalam kondisi yang baik. Iya lah tentu saja. Kalo lagi kurang sehat ya gak usah cari penyakit tambahan. Di rumah aja udah. Hehe.

4 hal di atas selalu saya perhatikan saat hendak bepergian bersama anak dengan transportasi umum. Dan Alhamdulillah sejauh ini 4 hal tersebut membuat perjalanan kami nyaman. Yang paling jauh saat perjalanan ke Bandung naik bus, Faza ceria sekali selama di jalan. 
 
Kalau buibu yang lain, apa saja sih yang diperhatikan saat akan bepergian bersama anak dengan transportasi umum selain 4 hal di atas? Share yaaa, siapa tau masih ada yang saya lupa 😊

Jumat, 11 Januari 2019

#BincangKeluarga: Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)?

Mana versi pertamanya kok tiba-tiba udah yang ke-2?

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuan (1) ada di blog rosasusan.com. Tulisan itu saya tulis di awal-awal ngeblog. Saat saya belum menikah dan otomatis belum punya mertua lah. Haha.

Bisa dibilang itu tulisan pertama yang mengundang pembaca. Dan herannya, tulisan itu mengundang banyaaaakkk sekali curhatan dari para pembaca.

Ini salah satu curhatan ini tulisan tentang ibu mertua vs menantu perempuan (1)

Se-complicated itu kah hubungan ibu mertua dan menantu perempuan? Hahaha. Minggu lalu saya di Wa sama Ade. Dia ngajak nulis bareng soal tema mertua ini. Buru-buru saya iya-kan karna kayaknya seru aja ngobrolin soal ini lagi, setelah saya ngalami sendiri lika-liku hubungan dengan ibu mertua.

Sayangnya, minggu ini saya sibuk bangettt di kantor 😭 Jadi baru bisa posting hari ini, sementara Ade udah posting kemarin.



Baca punya Ade:


Salah satu sahabat saya bilang, dia salu banget karna saya masih bisa bertahan sampai sekarang tinggal seatap dengan mertua. Gak bisa bayangin kayak apa rasanya, dia bilang. Ya gak usah dibayangin lah, dijalanin aja! 😂

Baca juga: Tinggal Sama Mertua

Ya gimana, saya gak setega itu memaksa suami untuk meninggalkan orangtuanya hanya berdua di rumah, dengan usia yang sudah memasuki senja.

Lagipula, rasanya tinggal seatap dengan mertua rasanya ternyata gak semenyeramkan itu. Gak semenyiksa itu. Setidaknya bagi saya.

Saya kadang mikir. Kok saya ngerasa fine-fine aja ya tinggal sama mertua (meski ya gak berharap selamanya juga lah), sementara di luaran sana, banyaaakkk sekali yang bilang tinggal sma mertua itu bak neraka?! Karna mertua saya memang baik, atau sayanya aja yang kelewat cuek dan kalem? Ahaha. Entahlah.

Pernah gak ada konflik sama mertua? Tentu saja pernah. Meski Alhamdulillah, bukan konflik besar dan bukan konflik terbuka.

Setelah hampir tiga tahun tinggal seatap dengan mertua, saya mulai bisa memetakan beberapa penyebab yang biasanya bikin hubungan ibu mertua VS menantu perempuannya jadi memanas.

Mencintai dan Dicintai oleh Lelaki yang Sama

Ini niiihh! 😅

Sumber konflik utama dengan ibu mertua seringkali karna ini. Karna kita mencintai dan dicintai oleh satu lelaki yang sama. Yaitu suami kita, yang sekaligus adalah anak lelakinya.

Adakalanya kita men-treatment suami kita dengan cara A -- yang menurut kita udah paling baik. Kan kita istrinya ya. Pasti merasa tau apa yang baik untuk suami kita.

Eh ternyata menurut ibu mertua cara itu kurang oke. Dia lebih suka cara B. Tentu saja ibu mertua pun merasa jauh lebih tau anak lelakunya dibanding kita yang kenalnya baru beberapa tahun belakangan.

Dueerrr! Pecahlah konflik 😂

Apalagi kalau kita dan mertua punya kepentingan yang berbeda di waktu yang sama. Dua-duanya pengen dianter oleh suami/anak lelakinya. Siapapun yang 'dinomorduakan' biasanya akan termehek-mehek cemburu.

Saling Memendam Perasaan

Udah macam anak ABG aja yaa -- memendam perasaan 😂

Yah gimana lagi. Ibu mertua VS menantu perempuan itu makin rumit urusannya karna mereka sama-sama perempuan yang kebanyakan hobi kode-kodean, main ilmu kebatinan dan seringkali merasa 'dia harusnya tau tanpa aku harus ngomong'.

Sebenernya, gak cuma sama ibu mertua kita sering berkonflik. Sama ibu kandung sendiri juga pasti pernah ada konflik-konflik kecil atau perbedaan pendapat kan?

Bedanya, kalo sama ibu kandung sendiri mah ya gak cocok dikit langsung bantah.

Kalo sama mertua? Kebanyakan pada dipendem, grundel dalam hati,, nangis, atau marah-marah ke anak laki-lakinya a.k.a suami kita kan? 😅

Nah, makin sering mendem, biasanya akan jadi akumulasi perasaan negatif biasanya. Jadi merasa gak nyaman sama mertua, atau bahkan antipati. Huhu. Jangan yaa, nak.

Perbedaan Sudut Pandang dan Latar Belakang

Salah satu image negatif tentang ibu mertua yang banyak diperbincangkan adalah 'suka ikut campur urusan rumah tangga kita'. Itu sudut pandang kita.

Sudut pandang mertua kita bisa jadi beda. Bisa jadi maksud beliau baik. Ingin rumah tangga anaknya jauh lebih baik, misalnya.

Belum lagi soal perbedaan latar belakang keluarga. Kita dididik oleh orangtua kita dengan cara A. Sedangkan ibu mertua mendidik anak-anaknya dengan cara B.

Kalo disatukan, jelas akan butuh banyaaakkk sekali proses adaptasi.

Baca juga: Keluargaku, Keluargamu

Contohnya. Ibu mertua saya tipe orang idealis. Bahkan untuk hal sesepele menjemur baju. Jadi, suami saya pun terbiasa menjemur baju dengan sangat sistematis, ada pakem-pakem tertentu yang harus dipatuhi.

Sedangkan saya dibesarkan oleh ibu yang santaiii kayak di pantai. Pokoknya yang penting udah dijemur aja pokoknya 😂

Nah, saat suatu hari (saat masih pengantin baru) yang kebagian tugas menjemur baju adalah saya. Dan akhirnya kami sama-sama shock. Ibu mertua saya shock karna... OMG, kenapa jemur bajunya seberantakan ituuuu! Sedangkan saya shock karna gak habis pikir jemur baju aja ada SOP-nya 😂

Lucu juga masa awal-awal adaptasi kalo diinget sekarang 😆

Tapi dear... para menantu perempuan. Jangan pernah lupa ini!

Bagaimanapun juga, beliau tetaplah ibu mertua kita. Ibu yang melahirkan seorang lelaki yang kini menjadi orang terdepan yang menanggung hidup kita.

Kalau kita bilang kita mencintai suami kita karna bla bla bla segala sifat baiknya, jangan lupa, itu semua adalah HASIL DIDIKAN ibu mertua kita.

Jadi, ayolah... konflik apapun sama mertua, selesaikan baik-baik.

Iya sih, mungkin memang ada jenis konflik yang gak mudah diselesaikan. Saya gak mau sok-sokan menasehati karna -- Alhamdulillah -- saya dikaruniai ibu mertua yang baik. Tapi yang jelas, tetep aja, please... jangan pernah menyuruh anak lelaki mereka (suami kita) -- dengan sengaja ataupun gak sengaja -- untuk berhenti berbakti sama mereka.

Please, JANGAN 😭

Menempatkan Diri Sebagai Ibu Mertua


Kalian mungkin gak percaya, saya nulis bagian ini sambil menahan tangis.

Sejak saya punya Faza, saya bisa dibilang jadi sering membayangkan perasaan ibu mertua saya.

Saat dia lagi tidur, saya bayangin. Anak yang saat ini saya belai-belai sepenuh hati, saya sayang sepenuh jiwa, yang selalu berusaha saya prioritaskan di atas segala kepentingan, suatu hari nanti akan punya orang lain di sisinya. Yang bisa jadi akan lebih ia prioritaskan dibanding saya -- seperti halnya adakalnya suami saya pun begitu.

Saya membayangkan, suatu hari saya meminta padanya, "Nak, antarkan ibu ke pasar", lalu ia menjawab, "Duh, Bu... gak bisa. Aku mau anter istriku".

Dan rasanya, hal-hal semacam itu pasti gak mudah bagi ibu mertua kita.

Maka, ayooo bantu suami kita untuk lebih berbakti pada ibunya. Buktikan bahwa adanya kita di sisi anak lelakinya, gak akan mengurangi apapun dari beliau -- terutama kasih sayang anaknya 😊

Jumat, 04 Januari 2019

Review Macam-Macam Tipe Gendongan

Jaman sekarang yaa, apa aja ada teorinya. Tidak terkecuali soal cara menggendong anak. Jaman orangtua kita, mana ada sih. Gendong ya gendong aja. Model gendongannyapun ya itu-itu aja. Paling populer tentu saja kain panjang alias jarik itu.

Sekarang?

Wuih, model gendongan banyak bangetttt! Ada hipseat, carrier, wrap, geos, sling, dll. Apalagi merk gendongan, jauuhh lebih banyak lagi. Yang harganya sampai jutaan pun ada.

Berbagai model gendongan itu kemudian diiringi dengan menyebarnya ilmu menggendong baru yang membuat beberapa orang terperangah. Karna cara menggendong yang katanya paling sesuai dengan teori kesehatan ternyata beda jauh dengan yang selama ini hampir semua orang tua kita praktekkan dulu. Bahkan, cara menggendong seperti itu justru dikecam oleh mereka selama ini.

Yup, jangan salah, menggendong ternyata juga ada ilmunya. Sesuatu yang gak pernah sekalipun terlintas di benak saya sebelum menikah dulu.

Sebagai mamak milenial, jelas dong saya merasa harus belajar tentang ilmu menggendong. Jadi, menurut teori, menggendong yang benar itu kaki anak harus berposisi M-Shape. Biar jelas, lihat gambar di bawah ini aja ya:



Nah, dari teori M-Shape itu, maka berlomba-lombalah para produsen gendongan untuk menciptakan gendongan-gendongan dengan embel-embel M-Shape. Padahal, sebenernya sih pake kain jarik panjang itu aja juga bisa bangettt gendong dengan posisi M-Shape. Kalau mau belajar lebih detail soal menggendong, silakan kepoin tentang komunitas Indonesia Babywears yang udah terkenal banget.

Tapi lagi-lagi, karna mamak impulsif, ya terpancinglah untuk membeli beberapa model gendongan. Sebenarnya, fokus utama saya saat membeli gendongan justru bukan tentang M-Shape atau enggak sih -- karna sejujurnya, saya kurang punya nyali untuk menggendong Faza (sebelum usia setahun) dengan posisi seperti itu. Takut disambit mbah-mbahnya 😂

Fokus utama saya adalah pada gendongan yang ngasih iming-iming gak bikin capek! *mamak lemah* 😅

Nah, langsung aja yaa review macam-macam tipe gendongan yang dulu saya beli. Semoga bermanfaat untuk yang lagi galau milih tipe gendongan 😊

1. Gendongan Tipe Jarik

Ini saya gak beli sih. Melainkan sudah dipersiapkan oleh Mbahnya Faza tentu saja. Bagi orang kampung saya, hukumnya seolah wajib punya gendongan jarik 😂

Jujur ya, saya paling gak bisa pake gendongan jarik ini. Baik pakai cara konvensional seperti yang selama ini dipraktekkan sesepuh-sesepuhku, maupun pakai cara seperti yang diajarkan para emak-emak Indonesia Babywear.

Entah ya, mlorot-mlorot gak jelas gitu. Yang paling bikin grogi, kalau pergi-pergi sama bocah dengan gendongan ini, terus sempet nglepas gendongannya, grogi bangetttt pas mau pakai ulang. Apalagi kalau gak ada yang bantuin.

Seingat saya, keberhasilan saya makai gendongan jarik ini tanpa bantuan dari orang lain, angkanya gak lebih dari jumlah jari sebelah tangan.😂

Kelebihan gendongan tiper jarik:

Bisa sekalian buat selimut untuk anak, terutama kalau pas bepergian. Bisa M-Shape

Kekurangan gendongan tiper jarik:

Ribet, ofkors.

2. Gendongan Tipe Ring Sling

Ini gendongan yang paling sering saya pakai untuk menggendong Faza. Karena paling simpel, dan saya bisa makai sendiri tanpa bantuan. Itupun setelah usia Faza 6 bulanan. Sebelumnya tetep aja butuh bantuan. Betapa dodolnya hamba 😂

Cumaaa, kalo gendongnya dalam jangka waktu lumayan lama, misa pas jalan-jalan di mall gitu, dijamin, pundak kayak mau patah. Dan yang bikin gak enak banget, cuma pundak sebelah. Apalagi kalo nempatin ring-nya gak pas, wuih, bikin sakit banget itu.

Kelebihan gendongan tipe ring sling:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe ring sling:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit.

3. Gendongan Tipe Wrap (Hanaro Baby Wrap)

Hanaroo Baby Wrap ini merupakan gendongan impian saya, sejak sebelum nikah 😂

Jadi ceritanya, suatu hari saya melihat foto teman kuliah saya yang udah lebih dulu nikah dan punya anak di medsos. Di foto itu, dia lagi gendong anaknya pakai baby wrap. Saya langsung searching dengan keyword "gendongan kaos yang seperti kangguru" 😁 Mana tau saya saat itu kalau namanya ternyata wrap.

Sejak saat itu saya bertekad, besok kalau punya anak, saya harus punya gendongan tipe wrap. Kayaknya nyaman banget gitu.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saya dibeliin ibu mertua saya 😍

Tapi baru berani makainya saat Faza sudah usia 7 bulanan kalau gak salah. Karna kalau dipakai sesuai aturan, para sesepuh pada mencak-mencak. Huft.

nyari foto saya gak nemu, akhirnya pasang foto paksu aja deh 😂

Beneran enak sih gendong pakai gendongan tipe wrap ini. Nyaman dan gak terlalu capek karna bebannya dibagi di tiga titik, yaitu dua pundak dan pinggang. Cuma kalau gendongnya lama ya tetep aja capek sih 😅

Cuma, ribetnya gak nahaaan. Harus diubet-ubet gitu kan. Dan kalau pas ngubet-ubetnya gak pas juga akan gak nyaman seterusnya selama gendong.

Tapi sekarang udah ada gendongan tipe wrap yang instan yaa. Ntar deh kalo anak kedua, Insya Allah 😊
Kelebihan gendongan tipe wrap:

Beban dibagi di tiga titik, jadi gak capek. Bisa M-Shape.

Kekurangan gendongan tipe wrap:

Ribet banget pakainya. Dan bikin bentuk badan bagian belakang terekspos banget.

4. Gendongan Tipe Geos/Gendongan Kaos (My Baby Pouch)

Ini gendongan terakhir yang saya beli di era Faza. Laper mata dan impulsif, gara-gara beberapa teman posting foto dan mention akunnya My Baby Pouch. Langsung deh, kepo berujung khilaf 😂

Lagi-lagi saya kepincut karna kesan 'mudah' yang ditawarkan. Ini kan mirip ring sling ya, cuma dari kaos. Jadi bayangan saya akan nyaman sekali, karna gak ada ring yang akan bikin sakit.

Ternyata memang enak sih. Jauh lebih nyaman untuk pundah. Tapi ya lagi-lagi, bebannya hanya tertumpu pada pundak sebelah. Dan karna Faza gendut, jadi agak sesak gitu sih rasanya.

Itu Fazanya lagi tidur. Tuu kan saya gak berani M-Shape makainya 😅

Gendongan Tipe geos ini merupakan gendongan kedua yang paling sering saya pakai setelah ring sling.

Kelebihan gendongan tipe geos:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe geos:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit. Bisa sekalian buat selimut.

Sebenernya, saya ngebet satu tipe gendongan lagi. Yaitu tipe Carrier. Tapi gak dibolehin sama pak suami dengan beberapa alasan. Pertama, saya jarang banget gendong Faza, karna lebih milih stroller. Kedua, saat itu Faza udah hampir jalan. Jadi menurut beliau gak perlu deh beli gendongan lagi karna pasti akan jarang terpakai.

Yasudah sebagai istri sholihah tentu saja saya nurut 😂

Tapi tetep menyimpan impian untuk beli carrier kalau anak kedua nanti sih. Hehehe.

Kesimpulan saya soal berbagai tipe gendongan yang saya beli adalah: gak ada gendongan yang bener-bener gak bikin capek. Mau semahal apa, sebagus apa, kalau gendongnya dua jam ya tetep aja bakal capek lah. Apalagi kalau anaknya montok kayak Faza 😂

Kalau kalian paling suka gendongan tipe apa buibuuu??

Jumat, 21 Desember 2018

Stimulus yang Tepat Untuk Perkembangan Motorik yang Optimal

Ah, membesarkan anak sih gak perlu teori. Nanti malah pusing sendiri. Pake feeling aja.

Pernah dengar pernyataan semacam ini? Saya pernah.

Yang saya pengen tanya, yakin feeling-nya akan selalu benar?

Yaiya sih, membesarkan dan mendidik anak kalau harus selalu sama plek sama teori pasti bakal pusing banget. Tapi bukan berarti kita gak perlu belajar tentang teori-teori pengasuhan.

Apalagi anak-anak kita akan hidup di dunia yang serba cepat, canggih dan persaingan semakin ketat. Gak aa pilihan lain selain membesarkan dan mendidik mereka sesuai jamannya agar mereka bisa survive menghadapi dunia kelak.

Termasuk salah satunya dengan memberikan berbagai stimulus yang tepat, agar motoriknya berkembang dengan optimal. Terutama di masa-masa periode emasnya, yang tidak akan bisa diulang.

Orangtua jaman dulu gak pake teori macam-macam juga baik-baik aja, tetap bisa membesarkan dan mendidik kita dengan baik?!

Ya karna mereka belum punya kemudahan akses informasi seperti yang hari ini kita nikmati 😊 Lagipula, pastilah kita tidak ingin anak-anak kita memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari kita hari ini kan?!



Menggunakan KPSP sebagai Acuan

Dulu, saya juga termasuk cenderung cuek dan gak peduli dengan berbagai teori tentang tumbuh kembang anak. Akibatnya, saat ada masalah pada tumbuh kembang Faza, saya blank. Bahkan sedihnya, saya terlambat menyadari, sampai masalahnya cenderung sudah agak telat tertangani. Soal ini, nanti saya ceritakan di bawah ya.

Sejak saat itu, saya mengubah pola pikir. Jika ada teori yang bisa saya gunakan sebagai guide saya dalam mengawal tumbuh kembang Faza, kenapa gak saya manfaatkan sebaik mungkin?

Selama ini, saya menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) sebagai pedoman dalam memantau perkembangan berbagai motorik Faza, baik motorik kasar maupun motorik halus.

KPSP memberikan panduan tentang indikator-indokator perkembangan sesuai usia anak, yang disajikan melalui sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua secara jujur sesuai kondisi anak. Dari situ, kita akan bisa melihat indikator perkembangan mana yang belum sesuai/dicapai oleh anak.

Setelah tau indikator perkembangan apa yang belum dicapai anak, otomatis kita jadi bisa mencari tau stimulus apa yang tepat untuk diberikan, agar anak bisa mengejar indikator tersebut.

Melalui KPSP, saya juga jadi tau ada beberapa kemampuan yang tadinya saya pikir kecil dan gak penting, ternyata menjadi salah satu indikator perkembangan anak. Contohnya, kemampuan anak mengambil benda berukuran kecil (misal kismis) dengan dua jarinya (telunjuk dan ibu jari). Kemampuan itu menjadi indikator perkembangan di usia 9-21 bulan.

dari tumbuhkembang.info


Kurangnya Stimulus yang Berujung Keterlambatan Perkembangan Motorik Pada Faza




Sekali lagi, sebenarnya saya merasa menjadi salah satu orangtua yang agak terlambat menyadari tentang pentingnya memperhatikan teori tumbuh kembang pada anak. Dari dulu saya baca sih sebenernya, tapi hanya sambil lalu gitu. Tidak merasa harus menerapkan.

Sampai akhirnya, saya seperti merasa tertampar, ketika mendapati kenyataan bahwa Faza mengalami beberapa keterlambatan perkembangan motorik.

Pertama, yang sempat bikin saya sedih sekali, adalah Faza yang terlambat merangkak. Faza baru bisa memajukan tubuh dengan dada saat posisi tengkurap (apa ya istilahnya?) baru di usia 11 bulan. Dan bisa merangkak di usia satu tahun. Terlambat sekali kan?

Penyebabnya karna saya kurang memberi stimulus yang tepat. Faza bayi jarang sekali saya kasih waktu untuk tummy time.

Yang kedua adalah keterlambatan yang hingga saat ini saya masih berusaha untuk menanggulanginya. Faza belum pandai mengunyah.

Penyebabnya cukup complicated. Awalnya, karna sejak bayi Faza termasuk sering muntah. Kedua, yangti dan budhe yang menemani dia saat saya kerja kompak berpemahaman bahwa hingga satu tahun, anak masih harus diberi bubur yang teksturnya lembut. Ketiga, kesalahan teknik menyuapi -- dengan cara memberi minum tiap satu suapan.

Tapi saya tidak hendak menyalahkan siapapun. Gimanapun, saya ibunya. Jika ada yang gak beres dari anak saya, maka artinya saya lah yang lalai.

Lagipula gak ada gunanya kan menyalahkan. Yang lebih penting adalah mengambil langkah-langkah koreksi untuk mengatasi masalah tersebut.

Membiasakan Faza Makan Makanan Padat

Salah satu efek dari kemampuan mengunyah Faza yang masih lemah adalah dia jadi malas makan makanan padat. Sekalinya dikasih makanan padat, seringnya dia telan padahal belum dikunyah dengan benar. Akibatnya ya tersedak, lalu muntah 😭

Lama-lama, dia makin malas makan makanan padat. Maunya tiap lapar minta minum susu. Dan gara-gara itu, berat badannya sempat mendekati obesitas. Untungnya belum.

Huhu, jangan ditanya kayak apa saya galaunya mikirin masalah ini 😕

Akhirnya saya konsultasi ke dokter anak. Oleh dokter, kami dijelaskan panjang lebar tentang kebutuhan gizi anak dan pemenuhannya. Untuk anak seusia Faza, seharusnya presentasenya adalah 70% makanan padat, 30% makanan cair. Artinya, susunya gak boleh lebih dari 400 ml sehari.

Padahal selama ini dalam sehari, Faza bisa minum susu hampir 800 ml -___-

Dokter menekankan, Faza harus dilatih makan makanan padat. Meski tetap harus bertahap.

Gak boleh lagi makan bubur. Makan buah gak boleh terus-terusan dalam bentuk jus. Dokter juga meminta saya sering melatih dia makan dengan memberi cemilan yang bisa merangsang Faza untuk mengunyah, tapi harus memilih cemilan mudah hancur/lumer sebagai awal latihan. Agar Faza gak putus asa dan malas duluan.

Akhirnya, saya mencari-cari cemilan yang tepat untuk Faza. Semesta sepertinya mendukung, ketika akhirnya saya menemukan Monde Boromon Cookies.



Monde Boromon Cookies menjadi pilihan yang tepat untuk Faza karna beberapa alasan:

  • Monde Boromon Cookies merupakan makanan padat yang akan merangsang Faza untuk belajar mengunyah, tapi memiliki teksturnya yang mudah meleleh saat terkena air liur. Jadi aman untuk Faza yang belum terlalu pintar mengunyah dan gampang tersedak.
  • Bentuk Monde Boromon Cookies kecil-kecil, sehingga cocok juga untuk melatih motorik halusnya. Terutama kemampuan mengambil benda kecil dengan dua jari yang menjadi salah satu indikator di KPSP seperti yang saya tulis di atas. Selain itu, karna bentuknya kecil, jadi gak perlu khawatir Faza gak habis. Kalau biskuit, baru dua gigit Faza udah mogok, ya terpaksa ibunya yang menghabiskan. Nah, kalau Monde Boromon Cookies gak ada cerita kayak gitu.
  • Gluten Free. Ini menurut saya istimewa sekali. Monde Boromon Cookies gluten free karna terbuat dari sari pati kentang. Masih jarang banget kan cemilan bayi yang gluten free dengan harga bersahabat?!
  • Memiliki kandungan-kandungan yang baik untuk anak, seperti madu dan DHA.

Sejauh ini, sudah tampak sedikit kemajuan, Alhamdulillah. Faza sudah jarang sekali tersedak dan muntah. Mengunyah makanan padat sudah semakin lancar.


Ngemil juga sudah mulai mau. Meski saya harus cari moment yang tepat. Biasanya saya kasih dia Monde Boromon Cookies saat sedang enjoy. Contohnya saat sedang happy main di taman, biasanya dia akan senang hati disuruh ngemil. Karna kalau momentnya gak tepat, disuruh ngemil pasti kayak ngajak berantem 😂


Semoga dari cerita saya soal beberapa keterlambatan perkembangan motorik yang dialami Faza di atas, ibu-ibu lain bisa mengambil pelajaran. Bahwa stimulus yang tepat sangat dibutuhkan oleh anak, agar perkembangan motoriknya optimal.

Gak ada males-malesan lagi mulai sekarang. Golden moment-nya dalam bertumbuh dan berkembang gak akan terulang seumur hidup. Jangan sampai kita menyesal setelah menyadari semuanya sudah terlambat.

Senin, 17 Desember 2018

#CeritaFaza: Faza 22 Bulan, Menjelang Berakhirnya Periode Emas



Faza sudah 22 bulan. Artinya, periode emas 1000 hari pertamanya akan segera berakhir. Huhu, kok sedih yaa.

Sedih karna mungkin periode super berharga itu banyaaakkkk sekali saya sia-siakan. Banyak stimulus yang harusnya saya kasih, tapi saya lewatkan begitu saja. Banyak gizi yang harusnya Faza dapat, tapi gak saya usahakan dengan maksimal. Belum lagi kuantitas ASI yang harusnya ia dapat, jauh lebih sedikit dari yang seharusnya.

Tapi yasudahlah. Yang jelas, saya sudah berusaha. Meski usaha saya tentu saja belum maksimal. Semoga apa yang didapat Faza di 1000 hari pertamanya, cukup mumpuni sebagai bekalnya tumbuh di ribuan hari berikutnya. Aamiin.

22 bulan, Faza udah bisa apa aja?

Baca juga: Faza 18 bulan

Banyak tentu saja, Alhamdulillah.

Jalan udah bisa sejak umur 15 bulan, dan sekarang makin lancar. Meski setelah sekian lama mengamati cara jalan Faza yang agak 'beda', akhirnya kami tau ternyata Faza flat feet 😭 Saya udah curiga sejak lama, tapi selama saya selalu berusaha denial.

Sedih sih. Tapi saya yakin, sedikit kekurangan fisik Faza ini gak akan berdampak banyak untuk masa depannya, dan semoga tertutupi dengan kelebihan-kelebihan Faza yang lain. Aamiin.

Kemampuan komunikasi Faza juga makin bagus. Meski kemampuan merangkai kalimatnya mentok baru 3 kata, itupun masih jarang. Kosakata sih udah banyak.

Diajak komunikasi dua arah juga udah bisa banget. Yang paling bikin saya seneng, Faza berani jawab ketika diajak ngobrol sama orang asing.

Pernah suatu hari saat sedang di apotik nunggu ayahnya beli sesuatu, tiba-tiba ada seorang laki-laki menyapa.

Pak X: "Namanya siapa?"

Faza: "Adja" (Faza)

Pak X: "Sudah sekolah belum?"

Faza: "Elum..."

Pak X: "Pinternya... gendhong yuk..."

Faza: "Angan... Elhad!" (Jangan, berat) 😂😂

Saya ketawa-ketiwi di sebelahnya, sekaligus senang. Tau gak, ini salah satu goals saya loh. Saya pengen Faza supel dan berani ngomong. Gak kayak saya yang dulu tiap diajak ngomong sama orang asing, langsung mendadak gagu -___-

Perkembangan emosi juga Alhamdulillah terus berkembang. Sudah bisa nungkapin keinginan tanpa menangis, meski dengan kosakata yang masih terbatas. Sudah bisa ngambek kayak ABG 😂 Dan... sudah bisa mengalihkan perhatian kalo ayah-ibu lagi ngomelin dia 😅

Faza udah bisa berhitung dari 1-10 tanpa dibantu. Meskipun tiap ditanya ini berapa, itu berapa, jawabannya pasti selalu DUA. Sama seperti warna. Semua-mua dia sebut HIJO alias hijau. Kalo diajarin huruf hijaiyah, sukanya nerusin. Misal saya bilang ALIF, dia bukannya niruin bilang ALIF, eh malah langsung bilang BA' dengan semangat 45. Zzzzz.

Persiapan Menyapih

Menyapih akan jadi goals terdekat saya. Ini sih masih tahap sounding terus-menerus. Tapi yagitudehhh, belum keliatan dampaknya, karna tiap lihat muka saya dia pasti langsung inget nenen.
Kalau saya bilang, "Faza sudah besar. Sebentar lagi sudah enggak perlu nenen", dia sih dengan meyakinkan bilang, "iyah". Tapi kalo mau bobok ya tetep aja ngamuk kalo gak dikasih.

Tapi sudah mulai disiplin. Nenen hanya kalau di kamar. Ini strategi awal menyapih yang saya susun. Pengennya ini udah masuk fase berikutnya, yaitu hanya saat di kamar, dan hanya saat malam. Tapi kalo weekend masih belum bisa. Mau tidur siang, masih minta 😑

Yang jelas, saya pengen banget Faza berhenti nenen tanpa tipuan apapun. Saya gak pengen bohongin dia dengan cara oles-oles puting pakai lipstik, atau apapun.

Satu lagi, saya gak pengen dia berhenti nenen, tapi beralih ke dot. Ya sami mawon. Nyapih dot jauh lebih susah setau saya. Saat ini kalau di rumah sih emang gak pernah pakai dot sama sekali ya. Minum susu pakai gelas, udah lancar. Sambil setengah tidur pun tetep mau duduk dan minum pakai gelas.

Cuma budhe yang momong belum disiplin soal ini. Kalau mau tidur siang, masih dikasih dot sama beliaunya 😕

PR Besarnya: Faza masih sering banget sembelit. Saya bingung harus gimana. Tapi saya lagi males cerita soal ini, karna bakal panjang banget 😣

Ohya, satu lagi. Saya dan mas suami sudah sempat rasan-rasan tentang rencana anak kedua. hihi. Tapiii, kok Faza kayak belum ada suka-sukanya sama sekali kalau lihat bayi ya. Dia malah kayak males gitu. Huhu. Yaudah deh, nunggu beberapa bulan lagi, Insya Allah 😊

Senin, 10 Desember 2018

Pengalaman Pertama Pap Smear, Gimana Rasanya?



Saya adalah salah satu orang yang cukup parno tiap baca artikel tentang macem-macem penyakit berbahaya. Rasanya kok makin hari makin macem-macem banget jenisnya 😖

Apalagi ada beberapa penyakit ganas yang kebanyakan penderitanya adalah perempuan. Sebuat saja kanker payudara (walaupun konon laki-laki juga bisa kena) dan kanker serviks. Makin menjadi-jadi deh parnonya.

Semakin banyaknya perempuan yang terserang kanker payudara dan kanker serviks, semakin banyak pula yang gencar berkampanye untuk mewanti-wanti para perempuan agar lebih waspada dan peduli pada diri sendiri.

Karna pada dasarnya, dua penyakit ini sebenernya bisa banget dideteksi dini. Dan dengan dideteksi sedini mungkin, Insya Allah kesempatan sembuhnya pun akan jauh lebih besar. Jadi salah satu yang harus sangat diperhatikan oleh para perempuan adalah mari kita peduli dan aware pada tubuh kita sendiri.

Untuk kanker payudara, kita bisa melakukan SADARI alias perikSA payuDAra sendiRI sebulan sekali, setelah kira-kira seminggu masa menstruasi lewat.

Sedangkan untuk kanker serviks kita bisa melakukan deteksi dini dengan cara melakukan Pap Smear secara rutin, minimal setahun sekali, terutama untuk perempuan yang sudah aktif secara seksual -- alias sudah menikah.
Pemeriksaan pap smear adalah prosedur pengambilan sampel sel dari leher rahim untuk memastikan ada atau tidak adanya ketidaknormalan yang dapat mengarah kepada kanker serviks pada wanita. (dikutip dari alodokter.com)
Pengalaman pertama Pap Smear, gimana rasanya?

Bulan lalu, untuk pertama kalinya akhirnya saya memberanikan diri untuk melakukan Pap Smear. Setelah sekian lama hanya pengen, pengen, pengen, tapi gak kunjung direalisasi.

Akhirnya Pap Smear, karna pertama, saya sempat merasakan sebuah keluhan yang membuat dokter faskes saya menganjurkan saya untuk melakukan Pap Smear. Kedua, saya dapat info dari seorang tetangga yang kerja di Lab Cito, bahwa BPJS sedang mengadakan program Pap Smear gratis bekerjasama dengan Lab Cito.

Alhamdulillah, sepertinya alam berkonspirasi mendukung saya untuk Pap Smear 😊

Sepulang kerja, saya mampir Lab Cito. Alhamdulillah kuota Pap Smear gratis masih ada, dan semua pra syarat untuk Pap Smear sudah terpenuhi.

Jadi, kalau mau Pap Smear, pastikan pra syarat berikut terpenuhi ya:

1. Minimal seminggu setelah menstruasi
2. Tidak melakukan hubungan minimal 2x24 jam
3. Tidak menggunakan pembersih kewanitaan apapun selama sebulan ke belakang

Di Lab Cito, saya hanya diminta untuk menyerahkan fotocopy kartu BPJS dan fotocopy KTP. Setelah menunggu beberapa saat, nama saya dipanggil dan dipersilakan masuk ke ruang tindakan.

Gimana rasanya Pap Smear?

Gak gimana-gimana 😂

Serius. Ternyata sama sekali gak sakit. Seluruh bayangan saya tentang seramnya proses Pap Smear ternyata sama sekali gak terbukti.

Saya pengen ketawa sendiri setelah Pap Smear. Prosesnya bentaarrr banget, gak ada 5 menit. Sama sekali gak imbang sama betapa deg-degannya saya selama berhari-hari menjelang Pap Smear 😂

Prosesnya: Kita disuruh duduk di kursi khusus (gak tau nama kursinya apa), dua kaki di angkat ke atas diletakkan ke tempat kaki yang tersedia, vagina kita dibuka dengan alat (nama laatnyacocor bebek kalo gak salah), lalu petugas akan mengambil sampel cairan dari mulut rahim kita.

Idiiihh, apa gak malu? Apa gak risih? -- banyak yang tanya seperti itu ke saya.

Saya jawab, ya malu sih, dikiiittt tapi. Soalnya saya sudah pernah ngalami kondisi yang menurut jauh lebih memalukan. Yaitu waktu melahirkan. Sampai sekarang kadang malu sendiri. Padahal semua petugas medis yang nolong saya perempuan 😅

Jadi buibuuu yang belum pernah Pap Smear dan pengen Pap Smear tapi masih takut, ayoooo jangan ragu untuk Pap Smear.

Ohya, kata mbak petugas medisnya sih kalo sudah pernah melahirkan dengan pervaginam, biasanya gak sakit. Dan jika belum pernah melahirkan pervaginam, cenderung agak sakit. Tapi saya percaya deh sakitnya tetep gak seberapa.

Gak perlu nunggu ada keluhan untuk melakukan pemeriksaan 😊

Rabu, 21 November 2018

Review Baju Menyusui dari Mooimom

Hamil dan menyusui konon merupakan fase yang akan mengubah perempuan secara besar-besaran. Sikap, kedewasaan, prioritas, atau bahkan penampilan.


Yah, kasarnya sih, hamil dan menyusui seringkali bikin perempuan jadi lebih menurun tingkat kemodisannya. Jika saat masih single yang jadi prioritas adalah warna yang matching, enak di lihat, bla bla bla, setelah punya anak sih itu semua jadi nomor sekian.

Yang penting apa? Tentu saja yang penting nyaman dan ada bukaan depannya alias akses untuk menyusuinya. Yaiyalah, mau semodis apapun, lalu tiba-tiba anak crancky, emak bisa kelimpungan kalau gak bisa ngeluarin jimat alias nenen 😂 Bisa-bisa emaknya bisa ikutan cranky.

Yup, bagi saya pribadi, hal utama yang harus ada di semua baju yang saya pakai adalah ada akses menyusuinya. Pun baju yang saya pakai ketika lagi gak sama Faza (saat kerja, misalnya), karna saya harus tetap pumping, dan ini susah banget kalau bajunya gak ada akses menyusuinya.

Bahkan kebiasaan untuk menyiapkan akses menyusui di baju-baju saya ini sudah saya lakukan sejak sebelum nikah lho. Haha. Waktu itu mikirnya untuk persiapan, dan jika nanti punya anak biar bajunya tetap bisa dipakai 😀 Sungguh visioner ya saya ternyata.

Tapi, adakalanya saya bosan dengan model baju yang gitu-gitu saja. Kalo gak kancing depan, ya resleting depan. Lagipula jika bajunya berkancing depan, saya kadang merasa kerepotan saat Faza sedang gak sabaran minta nenennya. Bukanya kan satu-satu dan kadang susah ya. Suka gemes sendiri.

Sedangkan jika pakainya resleting depan, dan bajunya saya pakai ketika bepergian, saya sering kasihan mendapati bekas tonjolan resleting yang lumayan runcing di dahi Faza setelah dia tidur dengan bersandar di dada saya. Kasihan, pasti dia gak nyaman.

Saya bukan tipe orang yang modis soal berpakaian. Jadi sama sekali gak pernah ngikuti macam-macam model baju. Makanya sesempit itu pengetahuan saya soal model pakaian. Yang saya tau, baju untuk ibu menyusui ya kalau gak kancing depan, berarti resleting depan.

Eh ternyata enggak ya 😂 Mooimom ternyata punya baju menyusui yang gak pakai kancing maupun resleting.

Review Baju Menyusui dari Mooimom



 
Saya takjub (dan agak norak) ketika pertama kali memiliki Navy Striped Long Sleeves Nursing Shirt Baju Hamil Menyusui dari Mooimom. Takjub karna menurut saya modelnya brilian banget. Simpel sih, tapi kok saya gak pernah kepikiran yaa baju menyusui bisa kayak gitu modelnya. Haha. Jadi ketika Faza minta nenen, langsung aja deh singkap, tanpa ribet buka kancing atau resleting.


Akses menyusui
 
Dan bahan kaosnya itu lhooo, nyaman sekali Masyaa Allah. Adem, lembut dan menyerap keringat.

Bahan yang nyaman juga salah satu kunci untuk sebuah baju menyusui. Karna masa menyusui, artinya sama dengan masa ke mana-mana riweuh gendhong anak. Jadi pastilah rawan keringetan banget. Apa kabar kalau baju menyusui yang kita pakai gak menyerap keringat dan bahannya gak nyaman dipakai? Yah kecuali kalo satu anak satu nanny mungkin beda cerita ya 😆

Kualitas jahitan, jangan ditanya deh. Rapi jali. Setelah dicuci, bahannya juga gak jadi melar. Tapi saya nyucinya gak pakai mesin cuci sih kalo yang tipe bahan seperti mooimom ini. Baju bagus mah disayang-sayang. Hehe.

Kayaknya baju ini akan jadi baju CKP sih, alias Cuci-Kering-Pakai. Habis baju menyusui saya yang lain belum ada yang senyaman ini. Semoga kapan-kapan ada rejeki lagi biar koleksi baju menyusui dari Mooimom bisa nambah 😍

Duh, maapin yaaa siang-siang tebar racun. Hahaha.

Kalau buibu mau ngintipin juga koleksi baju menyusui Mooimom yang lain, langsung aja deh cuuss meluncur ke website-nya Mooimom, atau akun FB dan akun IG-nya mereka. Gak cuma baju menyusui sih, segala perlengkapan perang untuk ibu-ibu lengkap di sana. Tinggal siapain M-Banking aja 😂

Kamis, 08 November 2018

Demam Naik Turun Selama 10 Hari, Faza Sakit Apa?



Demam naik turun terus selama sepuluh hari, Faza sakit apa?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya sepulu hari ke belakang kemarin. Pertanyaan yang bikin saya galau maksimal, gak tenang sepanjang hari, dan gak bisa kerja selama di kantor. Bener-bener blank. Huhu.

Jadi ceritanya, sehari setelah pulang berkunjung dari rumah Pakdhenya Faza alias kakak saya di Purworejo, Faza badannya anget. Tapi kami masih santai. Oh, paling karna kecapekan. Kami pantau demamnya dengan termometer. Dan karna panasnya sempat nyentuh angka 39 derajat, akhirnya kami memberinya parasetamol.

Demamnya sempet turun sebentar, tapi kemudian naik lagi. Sampai pagi Faza gak membaik. Sampai akhirnya saya memutuskan gak masuk kantor, dan memeriksakan Faza ke dokter keluarga (Faskes 1 BPJS).

Hasilnya standar aja sih. Batuk pilek. Saya juga nganggepnya juga gitu. Masih santai. Dikasih parasetamol dan antibiotik aja.

Tapi sampai obat habis, masih gak menunjukkan tanda-tanda Faza sehat. Panasnya naik-turun terus. Saya pun mulai was-was.

Yang perlu diingat, demam bukanlah penyakit, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang gak beres di dalam tubuh. Demam merupakan respon alami tubuh untuk melawan virus/bakteri yang sedang menyerang tubuh.  Makanya saya was-was memikirkan, ini virus/bakteri apaaa yang sedang bercokol di dalam tubuh Faza.

Hari Senin saya minta tolong ke akungnya untuk membawa Faza lagi ke dokter keluarga. Saya gak bisa ijin karna ada deadline kerjaan 😭

Oleh dokter, akhirnya Faza diminta untuk cek lab. Saya dikabari akungnya siang hari, langsung deh seketika nangis sesenggukan. Pertama bayangin Faza diambil darahnya, kedua parno bayangin hasil lab-nya. Saya takut banget Faza positif DB atau typhus 😭

Sepulang kerja, saya melihat hasil labnya, dan keparnoan saya makin menjadi-jadi. Karna beberapa angka menunjukkan ketidaknormalan. Contohnya, trombosit yang ada di bawah angka normal. Hemoglobin yang justru lebih tinggi dari angka normal, dll.

Sebagai emak milenial, tentu saja saya langsung googling cari tau itu kenapaaa bisa gitu angkanya. Dan seperti biasa, bukannya dapat pencerahan, saya malah makin parno. Hasil googlingnya serem-serem amat 😭

Ditambah lagi, paginya kami bawa Faza ke DSA di Hermina Banyumanik untuk mengonsultasikan hasil lab tersebut. Kebetulan, DSA yang biasa kami kunjungi kebetulan lagi gak praktek. Dengan pertimbangan biar Faza dapet penanganan secepat mungkin, akhirnya kami pindah ke DSA lain, yang belum kami tau sama sekali seperti apa track recordnya.

Dan bener aja. Kami keluar dari ruang praktek DSA dengan sangat tidak puas dan tanda tanya yang makin memenuhi kepala. Ya gimana enggak, dokternya ga jelasin apa-apa soal hasil lab-nya Faza. Waktu saya tanya, beliau malah menunjukkan raut bingung seolah berkata, "Iya ya, kok gini ya hasilnya, ini kenapa ya?" 😭

Sebelum keluar saya tanya lagi, "Terus ini diagnosanya apa ya, dok?"

Jawabnya, "Kayaknya radang sih". KAYAKNYA loh! *mulai emosi*

Beliaunya bilang, kalo 3 hari masih demam naik-turun, maka harus cek lab ulang. Huaaa, makin gak karuan rasanya hati ini.

Dan beneran aja, 3 hari berikutnya, demamnya Faza masih aweetttt banget. Batuknya aja yang lumayan berkurang.

Akhirnya ya lab lagi. Alhamdulillah kali ini angkanya sudah normal semua 😭😭😭

Malemnya kami konsultasi ke Hermina. Puji syukur sebanyak-banyaknya, karna saat itu dokter anak yang sebelumnya gak praktek, jadi kami diijinin ganti dokter. Akhirnya kami kembali ke DSA awal-nya Faza. Huhu, terharuu... ini namanya rejeki.

Kali ini kami mendapatkan penjelasan panjang lebar. Dokter bilang, diagnosa sementara memang radang. Tapi kalo seminggu ke depan masih demam, maka harus observasi lebih lanjut.

Faza diperiksa penisnya, takutnya ada kotoran yang bikin infeksi. Tenggorokan juga dilihat. Lalu dokter juga memeriksa perutnya Faza yang saat itu kencang sekali dan kembung. Setelah melihat resep obat sebelumnya, beliau bilang ada obat yang salah satu efek sampingnya bikin perut melilit dan kembung.

Pantesan beberapa kali Faza ngeluh perutnya sakit 😢

Gak cuma itu, kami juga dijelasin panjang lebar soal kebutuhan kalori anak seusia Faza. Berapa persen yang harusnya terdiri dari makanan padat, dan berapa persen cair, Yang kesimpulannya, konsumsi susu Faza harus dikurangi.

Diet yaaa, Nak 😁

Setelah itu kami dikasih rujukan agar Faza di nebul karna dahaknya Faza banyaakk banget dan bikin grok-grok. Nebul beres, kami ke apotek rumah sakit. Eh ternyata resep kali ini obatnya gak ada yang bisa dicover BPJS 😂

Gakpapa yang penting Faza sembuh Ya Allah.

Dan ALHAMDULILLAH, setelah dua hari minum obat, demamnya Faza pergiiii 😭

Ini bener-bener pengalaman Faza demam pertama kali. Udah pernah demam sih sebelumnya, tapi karna imunisasi yang paling lama 2 hari udah sehat lagi.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, kalo anak sakit gak usah kebanyakan googling buibuuu. Bikin stress 😅

Udah sih gitu aja ceritanya. Maaf yaaa kalo kurang berfaedah 😅