Kamis, 10 Mei 2018

Review Botanina Immune Guard Baby Oil


Beberapa kali berkunjung ke baby shop, beberapa kali pula saya dan mas suami dihadang oleh mbak-mbak SPG dari beberapa merk Essential Oil. Dengan senyum tanggung kami memutuskan untuk mendengarkan penjelasan panjang lebar mbak SPG tersebut. Bagaimanapun, beliau sedang berusaha meyakinkan kami. Kami harus menghargai.

Meski jujur saja kami gak ada niatan beli ketika tau harganya ampuh sekali. Bayangin aja, untuk seukuran botol kecil dengan netto hanya beberapa mili, harganya hampir seratus ribu. Untuk sebuah barang yang manfaatnya masih absurd bagi kami, itu mahal sekali.

Iya, dalam benak kami Essential Oil itu masih absurd. Seperti hanya minyak, tapi bisa memperkuat daya tahan tubuh, memperbaiki pola tidur, nafsu makan, dll. Kok bisa? Gimana ceritanya? Kecuali kalo bilang bisa menyembuhkan ruam atau biang keringat. Nah itu masuk akal sekali.

Tapi suatu hari Mbak Annisast si blogger idola itu cerita tentang salah satu merk essential oil lokal di IG stories-nya, langsunglah klepek-klepek dan kebelet beli. Saya mudah terpengaruh memang 😁

Gak pake lama saya kepo-in akun IG Botanina. Dan gak pake lama juga, langsung memutuskan order.

Botanina terdiri dari banyak varian essential oil, di antaranya ada Immune guard yang konon salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga daya tahan tubuh, cold and flu untuk menyembuhkan atau menghindarkan dari flu, bugs repelent spray yang berfungsi untuk menghindarkan dari gigitan serangga, dll. Essential Oil Botanina dibagi menjadi 3 kelompok usia, yaitu bayi, anak-anak dan dewasa.

Karna baru pertama kali dan masih belum yakin banget sama manfaatnya -- demi memuaskan rasa penasaran saya -- akhirnya saya order satu buat Faza, yang varian Immune Guard Baby Oil (untuk anak usia 6 bulan - 2 tahun) ukuran 30 ml. Harganya 55.000, dengan ongkir dari Bandung ke Semarang sebesar 17.000. Jadi total 72.000.

Ohya, saya ordernya dengan cara wapri ke nomor yang tertera di Bio akun IG-nya. Fast respon, dan mbaknya ramah.

Saya lupa barang sampai dalam waktu berapa hari. Yang jelas gak sampai seminggu deh kayaknya. Packingnya rapi 💙

Klaim yang tertera pada botolnya:

Mendukung sistem imun, melembabkan, mengatasi masalah kulit, meredakan sakit, meningkatkan nafsu makan, menenangkan.

Aromanya soft. Sedep. Mirip Bio Oil menurut saya. Hihi.

Teksturnya kayak minyak. Eh gimana, kan emang minyak ya 😅 Tapi gak bikin berminyak dan lengket ketika dioleskan. Cepat meresap gitu.

Tentang manfaatnya, apakah terbukti?

Antara terbukti dan tidak.

Kalau untuk klaim mengatasi permasalahan kulit, saya YES. Pernah suatu pagi pan*atnya Faza ruam. Merah-merah tebal menyedihkan. Saya oles sedikit Botanina Immune Guard Baby Oil ini. Sorenya, pan*atnya udah mulus lagi, WOW saya terharu 😍

Tapi untuk klaim soal menenangkan (saat tidur -- tambahan 'saat tidur' ini disampaikan oleh mbak admin yang balas wapri saya), saya masih ragu. Ohya, FYI, salah satu klaim yang paling saya harap akan beneran terbukti jujur aja adalah point ini. Karna Faza itu kalo di atas jam 10 malam, boboknya entah kenapa gak tenang banget, sering terbangun. Huhu, Ibu ngantuk, Za 😴

Masalahnya, pernah suatu hari saya pijitin dia pakai botanina immune guard ini menjelang tidur. EH beneran malemnya boboknya pules. Seneng banget dong 😍 Saya mendadak jatuh cinta pada Botanina.

Tapi malam berikutnya, saya pijitin lagi pakai Botanina seperti malam sebelumnya, dan FAILED. Boboknya gak tenang lagi kayak kemarin-kemarin. Patah hati 💔

Jadi soal bisa menenangkan (saat tidur), entahlah saya belum benar-benar membuktikannya.

Tentang Klaim bisa menjaga daya tahan tubuh, saya cukup membuktikan.

Tiga mingguan yang lalu ayahnya flu. Disuruh jaga jarak sama anaknya mana bisa. Nempel terus tetep. Sempet khawatir Faza ketularan kan, soalnya biasanya gitu. Eh Alhamdulillah kali itu enggak 😍

Tapi ini malah anaknya lagi flu. Saya udah semingguan libur mijitin dia pake Botanina sih 😅

Kesimpulan. Kalau disuruh ngasih nilai, saya akan kasih 3,5 dari 5 bintang.

Re-purchase? Yes, Insya Allah. Next pengen nyobain yang cold and flu. Karna lihat anak flu itu ga tega banget yaaa 😭

Kalian gimana, udah pernah nyoba pake essential oil?

Rabu, 09 Mei 2018

#BincangKeluarga: Tantangan Menjadi Ibu Bekerja

Kalau ngobrolin tentang tantangan, hampir seluruh peran pasti ada tantangannya ya. Gak mungkin ada yang benar-benar mulus lancar-jaya tanpa ada tantangan.

Termasuk menjadi ibu. Saya sering heran kalau baca mom-war tentang ibu rumah tangga VS ibu bekerja. Masing-masing ngotot perannya lebih WOW, lalu mengecilkan peran lainnya. Padahal, masing-masing pasti ada tantangannya.

Saya dulu termasuk yang sering mikir, jadi ibu bekerja itu jauh lebih capek. Ibu rumah tangga sih enak, pengen tidur yaudah tidur aja. Bebas. Ternyata kenyataannya gak gitu, ya. Beberapa ibu rumah tangga mengaku, tiap mau tidur rasanya sayang, mending buat menyelesaikan pekerjaan rumah.

Nah, pada #BincangKeluarga kali ini saya yang ibu bekerja pengen cerita, apa saja sih tantangan menjadi ibu bekerja versi saya. Sementara Ade akan bercerita tentang tantangan menjadi ibu rumah tangga versi dia. Biar kita makin ngerti dan gak saling meremehkan peran orang lain 😊


Baca punya Ade:

Manajemen Waktu

Jujur aja ini yang paling bikin ngos-ngosan. Jam kantor saya dimulai jam 8 pagi, dan berakhir jam 4 sore. Jadi, tiap pagi saya harus gedabrukan gimana caranya supaya bisa menyiapkan makannya Faza dan segala keperluannya selama saya tinggal kerja, nyiapin bekal makan siang untuk saya dan suami di kantor (kalo lagi pengen mbekal aja sih), dll. Dan semuanya harus selesai maksimal jam 7 pagi.

Jujur aja saya lumayan sering telat sampai kantor. Sepertinya masih ada yang salah sih sama manajemen waktu saya. Karna entah kenapa meski sudah bangun lebih pagi dari biasanya pun tetep aja selesainya sama aja kayak kalau saya bangun jam 5 pagi. Zzzz 😴

Baca juga: Menu Praktis Untuk Bekal Makan Siang

Ada yang mau sharing ke saya tentang ini? Siapa tau ada yang senasib sepenanggungan.

Makanya saya sering salut banget ih sama workingmom di kota besar macam Jakarta. Sebagian udah harus sudah berangkat jam 5 pagi, demi menghindari macet. Trus bangunnya jam berapa cobaaa? KALIAN KEREN lah pokoknya!

Malemnya, saya dan suami juga masih harus gedabrukan mengerjakan segala macam pekerjaan rumah tangga. Lipetin baju lah, nyetrika bajunya Faza, nyuci botol ASIP, dll.

Tentang Keseimbangan

Ini juga gak kalah menantang sih. Tentang gimana caranya saya harus menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, pegawai sebuah Yayasan (dan Blogger), sekaligus sebagai diri pribadi yang (katanya) butuh me time.

Jadi saya harus memastikan bahwa ketika sudah di rumah, gak ada cerita saya pusing mikirin/ngurusin kerjaan. Ini gampang sih menurut saya yang levelnya cuma staff. Gak tau deh kalo levelnya udah kepala bagian.

Yang paling menantang justru menyeimbangkan antara peran sebagai ibu dan istri ketika di rumah. Karna seharian udah gak sama faza, begitu sampai rumah kadang fokus saya sepenuhnya ke Faza. Nah, gak jarang speran saya sebagai istri kadang agak terlupakan. Contoh kecilnya, ketika masih menemani Faza bermain, saya jadi kelupaan ambilin mas suami minum.

Huhu, Alhamdulillahnya mas suami ngerti dan gak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele gini sih. Cuma sayanya masih sering merasa bersalah di bagian ini 😭

Saat Budhe Minta Libur

Ini tantangan seluruh ibu bekerja ya kayaknya. Eh, kecuali yang memilih daycare sih.

Beberapa minggu lalu, saya sempat dibuat galau gara-gara masalah ini. Budhenya Faza tiba-tiba sakit agak lumayan yang butuh waktu sekitar seminggu untuk pulih. Sedangkan saat itu saya sedang dikejar beberapa pekerjaan yang tenggat waktunya sudah mepet 😭

Tau gak, saya akhirnya sampai mendatangkan ibu saya dari Jepara untuk menemani Faza, biar saya bisa berangkat kerja.

Tantangan yang satu ini bikin saya beberapa kali mempertimbangkan daycare sebagai pilihan. Saya gak anti daycare kok. Cuma, saya sudah terlanjur cinta sama Budhenya Faza ini. Kalau suatu hari (naudzubillah) Budhenya Faza tiba-tiba memutuskan berhenti, saya pastikan saya akan memilih daycare aja.

Sebenarnya masih banyak sih tantangan menjadi ibu bekerja. Tapi cukup 3 saja yang saya ceritakan di sini.

Yang jelas, peran apapun yang kita pilih PASTI ada tantangannya masing-masing. Jadi jangan terburu-buru memandang rumput tetangga lebih hijau.

Jadi jangan gegabah memutuskan resign, karna merasa jadi ibu rumah tangga gak ada tantangannya. Ah, siapa bilang?

Pun jangan buru-buru menyebar lamaran pekerjaan karna melihat teman yang ibu bekerja kayaknya enjoy banget, bisa dandan rapi pake sepatu hak tinggi bla bla bla, karna merasa jadi ibu rumah tangga sangat melelahkan.

Percayalah, ada kebaikan di balik setiap keputusan yang kita ambil, asal kita menjalaninya dengan tulus 😊

Kamis, 03 Mei 2018

Yang Harus Dibawa Saat Bepergian Bersama Bayi



Yang harus dibawa saat bepergian  bersama bayi. Dulu, hal semacam ini saya anggap remeh. Gak pernah sama sekali ada niatan mencari tau -- minimal browsing -- soal ini. Ah udah, beginian doang sih gampang lah yaa.

Sama ya kasusnya dengan urusan pumping. Menggampangkan dan sok tau, akhirnya ZONK. Hahaha.


Eh ternyata, gagap juga lho pas awal-awal harus bepergian bawa Faza. Adaaa aja yang ketinggalan. Adaaa aja yang kurang, terus akhirnya senewen sendiri. Sampai-sampai saya sempat malas ikut bepergian. Ribet 😑

Alhamdulillah, lama-lama mulai terbiasa dan jadi makin tau kebutuhan apa saja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi. Dan biar gak ribet, barang-barang wajib bawa ini biasanya saya sediakan khusus di tas yang biasanya dipakai saat bepergian. Jadi gak perlu keluar-masuk, untuk meminimalisir resiko ketinggalan. Maklum ya, saya ibu anak satu yang agak pikun 😭

Yaudah yok mari dilist apa saja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi, agar stabilitas nasional terjaga.

1. Toiletries

Ini terdiri dari beberapa item yah. Apa aja?

  • Tissue kering
  • Tissue basah
  • Diaper rash cream
  • Diapers
Untuk diapers, saya selalu bawa lebih dari satu. Kita gak akan pernah tau apa yang akan terjadi, kan? *halah. Jadi buat jaga-jaga ya cari aman, jangan cuma bawa satu.

2. Baju, dll.

Setiap bepergian bersama Faza, meski gak jauh dari rumah, saya selalu bawa baju ganti untuk dia. Minimal satu kaos dan satu celana. Kan bayi, apalagi yang lagi aktif-aktifnya, rawan banget bajunya kotor atau gak sengaja ketumpahan sesuatu gitu ya.

Nah, kalau gak bawa baju ganti kan sedih. Masa berangkatnya rapi jali, pulang-pulang kucel dan dekil?

3. Selimut atau kain untuk alas

Item ini sebenernya sudah mulai saya eliminasi demi berkurangnya isi tas. Tapi kadang juga masih bawa jika bepergiannya agak jauh atau lama.

Kalau saat bayi, ini wajib banget bawa. Untuk apa? Biar kalau Faza tidur, dan harus diletakkan (misal pas makan di warung lesehan), kain atau selimut ini bisa untuk alas, karna kebersihan lantainya kan gak terjamin ya kalau di tempat umum. Apalagi ini bayi, daya tahan tubuhnya belum bener-bener kuat. Kalau kita mah gegoleran di tanah juga oke aja 😂

Paling enak sih kalau pakai geos alias gendongan kaos yah. Jadi 2 in 1. Bisa buat gendong, sekaligus buat kain alas. Empuk dan lembut pula.

4. Makanan dan Minuman

Ini harus, gak boleh lupa. Apalagi untuk orangtua yang berprinsip gak boleh memberi sembarangan makanan ke anak.

Kalau saya, minimal bawa biskuit. Atau kalau memungkinkan ya bawa buah. Jadi jika selama bepergian gak ketemu sama makanan yang ramah anak, kita gak perlu panik. Udah ada persediaan.

Kalau minuman, saya cuma bawa air putih di straw cup-nya Faza. Iya sih air putih gak bawa pun gampang dapetnya. Tapi kalau saya tetep lebih milih sedia sendiri aja. Kenapa bawanya air putih doang? Ya soalnya kalau ASI mah ya otomatis saya bawa lah pabriknya 😂

Udah sih, bagi saya 4 point ini sudah memadahi sekali. Dengan catatan bepergiannya gak jauh-jauh banget, dan gak yang sampai nginep. Kalau sampai nginep sih beda urusan yaa. Daftarnya jauh lebih panjang.

Nah, kalau kalian apa aja yang harus dibawa saat bepergian bersama bayi, moms? Share, yaa... siapa tau masih ada yang kurang di list-ku. Biar makin lengkap 😊


Selasa, 01 Mei 2018

Ketika Faza Mengingatkan


Tadinya saya bingung mau ngasih judul apa untuk postingan kali ini. Karna sejujurnya, di postingan kali ini saya mau cerita setengah-setengah halu khas orangtua baru, sekaligus nulis milestone-nya Faza di usia setahun yang kelewatan saya tulis di sini dan di sini.

Sebagai orangtua, tentu saja saya (dan suami) sangat ingin menanamkan berbagai kebiasaan baik pada anak kami. Iya lah, kayaknya semua orangtua juga ingin melakukan hal yang sama kan?!

Kebiasaan baik yang ingin kami tanam paling dini pada Faza adalah kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan penanaman aqidah, karena kami muslim.

Nah, sejak Faza bayi, saya selalu membiasakannya untuk berdoa. Mau nenen, doa dulu. Mau tidur, doa dulu. Bangun tidur, doa juga. Mau keluar rumah, doa dulu. Naik kendaraan, doa juga. Dan seterusnya. Doanya tentu saja yang yang ngucapin, sembari tangannya Faza saya angkat ke posisi berdoa. Setelah selesai berdoa, tangannya saya usapin ke muka. Meski suami bilang, gerakan mengusapkan tangan ke muka setelah berdoa itu gak ada tuntunannya ya. Hehe.

Saat Faza masuk ke fase meniru -- lupa tepatnya umur berapa, hiks -- tiap ditanyain, "Faza kalo berdoa gimana?", pasti tangannya langsung diangkat, dilanjut dengan mengusapkan tangannya ke muka. Huhu, sumpah lucu sekalii. *biarin muji anak sendiri* 😋

Yang bikin kamu trenyuh, adakalanya saat kami lupa berdoa, sekarang justru Faza yang mengingatkan kami.

Misalnya saat mau pergi naik mobil. Saya asyik ngobrol sama ayahnya. Eh Fazanya angkat tangan ke posisi berdoa, sembari menggumam, "eh eh eh", seolah berdoa. Saya dan mas suami saling berpandangan. Malu sekaligus terharu. Malu karna lupa berdoa. Terharu karna Faza sudah bisa mengingatkan kami.

Selain berdoa, Faza juga sudah fasih menirukan gerakan takbiratul ihram. Yang ini kami gak mengajarkan secara langsung. Dia belajar sendiri karna sering melihat kami sholat.

Yang lumayan bikin jleb, setiap dengar suara adzan, pasti Faza langsung takbiratul ihram -- menandakan dia sudah paham bahwa adzan adalah tanda datangnya waktu sholat. Ini bikin saya dan ayahnya malu banget. Seasyik apapun Faza bermain, begitu dengar suara adzan pasti langsung takbiratul ihram. Seolah ngingetin ayah-ibunya untuk segera sholat. Huhu.

Kejadian kayak gitu terjadi berulangkali. Dan saya masih selalu terharu dibuatnya. Lalu saya mikir. Padahal baru berdoa yang kami ajarkan dan tanamkan. Kalau kami (saya dan ayahnya) bersungguh-sungguh menanamkan lebiiihhhh banyak lagi kebaikan pada diri Faza, maka secara gak langsung menyiapkan benteng untuk diri kami sendiri.

Sayangnya, orangtua kadang punya ego. Gak selamanya diingatkan oleh anak itu bisa diterima dengan hati lapang. Hari ini mungkin saya terharu ketika Faza mengingatkan kami untuk berdoa atau sholat, karna dia masih lucu

Tapi gimana dengan nanti? Ketika Faza mengingatkan kami saat usianya sudah remaja atau dewasa? Masihkah kami menerimanya dengan sukacita, atau justru tersinggung merasa ego kami diusik? 😔

Harusnya kita orangtua gak perlu tersinggung ya ketika anak mengingatkan, karna status sebagai orangtua gak menjadikan kita serta-merta gak mungkin salah, kan? Orangtua gak selamanya benar, begitu juga anak yang gak selalu salah.

Semoga saya selalu ingat tentang ini 😌






Rabu, 25 April 2018

Virgin Island: Keindahan Pulau yang Masih Perawan di Thailand

sumber: skyscrapercity.com

Seandainya sekarang punya tiket pesawat promo ke luar negeri, bakal ke negara mana kakimu akan melangkah? Dengan semakin gencarnya pariwisata dari berbagai daerah, sudah mulai mustahil untuk menemukan keindahan tanpa khawatir terganggu privasi. Hampir semua tempat selalu dipenuhi oleh wisatawan, bahkan sampai yang berada di daerah pelosok sekalipun.

Tapi kalau kamu masih tetap ngotot mau berangkat dengan tiket pesawat promo dari Traveloka, ada satu tempat yang wajib dikunjungi, Virgin Island. Sebuah pulau di Thailand yang dikenal dengan pantai, pasir putih, hingga laut biru yang sangat indah. Semuanya dinikmati dengan tenang, tanpa khawatir terganggu oleh pengunjung lain.

Yuk, berkenalan lebih dekat dengan alam Virgin Island dengan mengetahui beberapa fakta uniknya di bawah ini.

sumber:mashable.com

Cuma Untuk yang Menginginkan Privasi

Kalau kamu pengen pergi ke pantai untuk mejeng, sebaiknya jangan ke Virgin Island. Ini adalah pantai untuk yang mendambakan ketenteraman. Bahkan saking terjaga privasinya, katanya masyarakat Thailand pun juga jarang yang tahu tentang pantai indah ini. Nah loh?!

Berada di Taman Nasional

Salah satu alasan mengapa Virgin Island, atau juga dikenal dengan sebutan Koh Tachai – tetap terjaga kelestariaannya adalah karena merupakan kawasan Taman Nasional Thailand. Bahkan pantai ini nggak terus-terusan terbuka untuk publik. Berdasarkan kebijakan konservasi Thailand dan agar kelestariannya tetap terjaga, pulau ini hanya dibuka selama setengah tahun saja.

Pulau Kecil yang Bikin Jatuh Cinta Sejak Pandangan Pertama

Keindahan Virgin Island memang sangat memesona. Saking cantiknya, kamu bakal jatuh cinta sejak pandangan pertama. Sebuah pantai dengan pasir putih dan laut yang jerih, yang akan membuatmu terpana saat menginjakkan kaki pertama kalinya di tempat ini. Panjang pantainya juga hanya 800 meter, bisa kamu jelajahi seharian sambil berjalan kaki. Datanglah di musim panas agar petualanganmu betul-betul sempurna, ditemani langit yang biru cerah.

dumber:mashable.com

Berpetualang dan Belajar di Virgin Island

Bukan hanya menawarkan bersantai di pantai, bareng seorang guide, kamu bisa memelajari ekologi yang ada di Virgin Island. Jelajahi hutan yang ada di pulau ini dan temukan berbagai satwa menarik yang, mungkin, hanya bisa kamu temukan di tempat ini. Beberapa di antaranya adalah Siput Jamrud, dengan warna kehijauannya yang bikin gemas, sayang nggak boleh dibawa pulang. Selain itu ada juga kepiting pengembara, atau Umang-Umang, yang konon memang suka ‘traveling’ ke mana-mana sambil membawa rumah cangkangnya yang besar.

Snorkeling di Virgin Island

sumber:similandivingclub.com
 
Jauh-jauh menemukan Virgin Island sampai ke Thailand dengan tiket pesawat promo, jangan hanya jalan-jalan di tepi pantainya saja. Kamu harus nikmati panorama bawah lautnya yang memesona. Pasang perlengkapan snorkeling dan nikmati suasana kehidupan dalam air Virgin Island. Selain karang dan ikan dengan warna-warni menarik, bersiaplah bertemu dengan ikan pari, kepiting, siput laut yang cantik, dan masih banyak lagi lainnya.

Itulah cara terbaik untuk memanfaatkan tiket pesawat promo, yaitu dengan memilih Thailand dan menikmati indahnya Virgin Island di musim panas nan ceria. Segera rencanakan petualanganmu ke sana. Booking semua akomodasi jauh-jauh hari biar dapat harga yang lebih murah dan nyaman di kantong.

Senin, 09 April 2018

#CeitaFaza: 13 Bulan, Cerita Tantrum Pertama

Credit: Pixabay.com
Kemarin pagi, saya dan mas suami melongo dan tercengang. Gimana enggak? Tanpa aba-aba dan pemanasan, Faza tiba-tiba TANTRUM.

Tantrum untuk pertama kalinya, di usia tepat 13 bulan. Oh, sungguh kebetulan yang sangat manis =D

Apa pemicunya?

Dia pengen mainan air di bawah kran air tempat wudhu subuh-subuh, gengs. Ya saya gak bolehin lah! Ohya, FYI, Faza ini anak rajin sejak lahir. Dia selalu bangun sebelum subuh.Errrr -_-

Jadi ceritanya, dia tadinya mainan mobil-mobilan di dekat saya yang lagi nyetrika bajunya. Ehh tiba-tiba dia ngesot ke belakang. Feeling saya langsung tau sih, dia pasti mau mainan air. Karna akhir-akhir ini dia emang lagi seneng banget main air di situ.

Terus saya angkat. Dan, jedeerrr tangisnya pecah! Nangis yang gak kayak biasanya dia nangis. Tangisa marah dan penuh kekecewaan. Halah. Bener-bener baru pertama dia nangis seheboh itu. Biasanya selalu kalem seperti ibunya 😂

Saya dan ayahnya beneran sempet melongo saling berpandangan. Kayaknya kami sama-sama sadar. Fase itu telah datang. Fase yang sudah berulang-kali kami diskusikan, karna merasa butuh banget mempersiapkan diri untuk itu. Dan sekarang sudah waktunya praktek! Omaigad.

Kami bisa dibilang kaget sekali karna gak nyangka fase ini akan datang secepat ini. Saya kira tantrum itu akan terjadi ketika usia anak sekitaran 2 tahun. Setelah baca-baca, katanya tantrum dimulai umur 14 bulan. Tetep kecepetan sebulan kan berarti. Huft.

Lalu apa yang kami lakukan untuk menenangkan Faza yang tantrum?

Yang pertama ayahnya berusaha mengambil alih dia dari gendongan saya, karna anaknya terus memberontak dan saya mulai kewalahan. Setelah dipegangi ayahnya, tangisnya malah makin menjadi.

Beberapa usaha yang dilakukan ayahnya mentah. Faza masih tetap menangis dan berteriak. Kami sempat saling berpandangan lagi. Beneran bingung, mak, kudu ngapain. Hahaha. Maklum, belum punya pengalaman.

Kalau yang kami pelajari selama ini kan kalo anak lagi tantrum katanya suruh dibiarin aja. Ditunggu sampe dia tenang sendiri. Tapi kayaknya kalo seumur Faza kok saya gak tega untuk membiarkan.

Saya berusaha mengalihkan perhatian Faza dengan hal-hal yang biasanya menarik buat dia.

Yang pertama, bola.

Mentah. Dilempar dengan marah sama anaknya. Hahaha.

Kedua, Hafidz Doll.

Gagal. Hampir dibanting, tapi sigap saya tangkap. Enak aja, ibu belinya aja nyicil 10 kali, naaakk!

Ketiga, kipas angin. Dia suka banget muter-muter kipas angin.

Dan, YES berhasil. Dia langsung diem, asyik muter-muter kipas angin.

Saya dan ayahnya buang napas lega. HOSH! Sambil liatin Faza asyik mainin kipas angin.

Eeehh lha kok tiba-tiba mulut saya gatel. Saya bergumam, "Nak, kok nangis teriak-teriak kayak tadi kenapa to?"

Faza noleh, melihat saya. Lalu... JEDEERRR, NANGIS HISTERIS LAGI! 😂😂😭😭

Antara nyesel, geli dan merasa bodoh bercampur jadi satu. Mas suami jelas langsung ngomelin saya. Ibaratnya, kecewanya belum bener-bener ilang, eh udah diingetin lagi. Ya nangis lagi lah. Haha.

Tapi saya langsung mikir cepet. Dialihin apa lagi, karna kipas angin udah gak gak menarik lagi sekarang.

Aha, BUKU!

Saya sodorin buku yang jarang banget saya sodorin ke dia karna bukan boardbook, takut sobek. Hehe, maklum, saya over-protektif kalo sama buku. Dan Alhamdulillah berhasil. Dia langsung semangat sekaliii bolak-balik halaman bukunya sambil bergumam entah-apa.

Alhamdulillah.

Kali ini saya mengunci mulut biar ga ngomong macem-macem. Trauma ih, nanti Faza nangis lagi 😂

Yah, sekian. Cerita 13 bulan kali ini cukup tentang tantrum pertama saja. Haha.

Kalau kalian gimana mak ngadepin anak yang lagi tantrum? Ceritain dong 😊

Rabu, 04 April 2018

#BincangKeluarga: Dia Mars, Aku Venus

Menikah itu rumit, katanya. Rumit, tapi banyak yang pengen. Wkwkwk.

Iya sih, rumit. Bayangin aja. Dua orang dengan dua kepala beserta isinya, dengan jenis kelamin berbeda, lahir dan tumbuh bersama ayah-ibu yang berbeda, lalu menjalani sekian tahun kehidupan di circle masing-masing. Lalu tiba-tiba mereka harus hidup bersama sepanjang hayat. Bayangkan seberapa banyak perbedaan yang harus mereka sepakati?! Mendeskripsikannya saja rumit sekali. Haha.

Meminjam istilahnya Pakdhe John Gray, laki-laki itu dari Mars. Sedangkan Perempuan dari Venus. Jauh sekali, kan?! Makanya gak perlu heran -- terutama bagipasangan pengantin baru -- jika menjumpai banyaakkk perbedaan antara dia dan pasangan. Bukan berarti gak jodoh kok!


Baca punya Ade

Kalau banyaknya perbedaan seketika diartikan sebagai gak jodoh, ya bubar jalan. Perbedaan -- terutama karakter -- itu sebuah keniscayaan deh kayaknya dalam sebuah rumah tangga.

Termasuk rumah tangga saya sendiri. Saya dan paksu itu bumi-langit. Ya itu tadi. Dia Mars, Aku Venus. Kadang sebel, gak jarang juga saling emosi. Tapi hanya sesaat. Selebihnya, kita tertawakan bersama saja perbedaan antara kami berdua.

Hidup udah berat, cuy! Ngapain diisi dengan uring-uringan. sudah, tertawakan sajalah. Hahaha.

Biar kalian ikut tertawa, sini saya ceritain beberapa perbedaan antara saya dan suami.

Baca juga: Perbedaan Gaya Komunikasi Antara Suami dan Istri

Rapi VS Berantakan

Saya beberapa kali membaca dan mendengar cerita tentang pasangan baru. Kebanyakan, si istri mengeluhkan kebiasaan suaminya yang kalau naruh sesuatu brak bruk, sembarangan. Terutama handuk.

Saya? Sebaliknya. Saya tipe yang kalau naruh sesuatu sembarangan. Sedangkan suami sebaliknya. Semua ada tempatnya, dan beliau konsisten. Entah berapa puluh kali beliau melihat body lotion saya tidak pada tempatnya -- belum ditutup pula! Karna tiap saya selesai pakai, yasudah tinggalkan begitu saja. Lupa.

Baca juga: Lika-Liku Adaptasi di Masa Awal Pernikahan

Search Engine

Lalu ada yang bilang bahwa istri itu bak search engine bagi suami dan anak-anaknya. Kaos kaki lupa naruhnya, tanya ke istri. Jam tangan lupa nyimpannya, tanya ke istri, dst. Lagi-lagi, beda dengan saya dan suami.

Bagi saya, suami sayalah search enginenya =D

"Yah, potongan kuku di mana, ya?"

"Aduh, daleman jilbabku di mana ya yah kemarin?"

Dst 😂

Kalau bepergian...

Kalau yang dapet jatah packing saya, bisa dipastikan akan banyaakkk barang yang tertinggal. Kata mas suami, ingatan saya itu gak pernah bisa dipercaya 😂

Sedangkan kalau yang packing mas suami, bisa dipastikan lengkap kap kap. Saking lengkapnya, bawaan jadi seabrek. Mas suami penganut prinsip, gak papa repot bawa asal apa yang dibutuhin kebawa. Daripada bawaan dikit, tapi kerepotan saat butuh sesuatu.

Terus apalagi yaa?

Kalau mau dijembreng di sini semua sih gak akan ada habisnya. Yang jelas, kami itu berbeda, se-berbeda makhluk dari dua planet yang berjauhan. Mars dan Venus.

Tapi kalau kata Mas Suami, karna saya dari Venus sedangkan beliau dari Mars, maka kami janjian di bumi, biar bisa bersatu.

Janjian di bumi itu berarti kami harus sama-sama ada usaha biar yang tadinya beda jadi ada titik temu. Saya dari Venus harus usaha sampai bumi, begitupun dia yang dari Mars. Jadi gak boleh ada pihak yang cuma diem gak melakukan apa-apa, tapi cuma nuntut pasangan kita untuk menyesuaikan kita.

Kesimpulannya, nikah itu rumit kalau masing-masing pribadi kekeuh mempertahankan egonya sendiri tanpa mau berusaha saling mengerti dan menerima.

Ceritain perbedaan lucu antara kamu dan pasangan di kolom komentar dong 😊

Kriteria Baju Lebaran Untuk Ibu


 


Ternyata gini ya kalau sudah jadi ibu. Segala sesuatu harus memakai pertimbangan. Tidak terkecuali saat memilih hendak memilih baju lebaran, ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi.

Ramadhan aja belum, eh yang diomongin udah baju lebaran 😅 Ya gapapa dong. Kalau menurut saya malah mending mikirin baju lebaran sekarang. Pilihan masih banyak, harga masih wajar, jasa ekspedisi belum overload, dan yang terpenting nanti ramadhan udah gak ribet lagi mikirin baju lebaran. Hehe.

Kenapa setelah jadi ibu milih model baju lebaran harus ada kriteria tertentu?

Tentu dong. Demi peran sebagai ibu yang tetap bisa dijalankan dengan baik saat bersilaturahim di hari nan fitri nanti. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang menurut saya harus terpenuhi.

1. Busui friendly


Ini wajib banget ya, khususnya untuk buibu yang masih menyusui. Kalo gak busui friendly terus gimanaa kalo si bocah pengen nenen kan?

Faza anak saya sebenernya udah cukup gedhe sih (setahun), jadi bisa sih sebenernya dikasih minum pakai botol. Tapi, tau sendirilah gimana bocah. Kalau nempel emaknya pasti nenen terasa jauh lebih menggoda 😅

Jadi ambil amannya, yasudah tetep kriteria busui friendly harus terpenuhi

2. Bahan yang comfy

Harga mati juga ya ini. Big no untuk baju sebagus apapun modelnya, tapi bahannya gak nyaman dan gak nyerah keringat. Bukannya jadi cantik dan anggun, bisa-bisa malah jadi cranky 😂

Ya gimana lagi. Ibu-ibu – terutama yang masih punya anak balita – kan pasti harus lari-larian ngejar si bocah yang jiwa eksplorasinya sedang membara.

Atau kalau saya, harus gendong Faza yang beratnya 10 Kg lebih. Apa kabar kalau saya pakai bahan yang gak nyerap keringat? Kecut dan kucel pastinya, sis!

3. Simple

Ini masih berhubungan erat dengan tugas mengejar atau menggendong bocah.

Dulu saat masih single atau pas anak belum lahir, model baju lebaran favorit saja adalah gamis lebaaarrr yang kalau ditiup angin melambai-lambai gitu. Halah.

Sekarang? Mikir ulang deh kayaknya kalau mau milih model gitu lagi. Gamis yang super lebar potongan bawahnya, kalau dipakai sambil gendong Faza entah kenapa sering bikin kesrimpet. Hiks. Apalagi kalau harus kesana kemari naik motor. Huaaa, ngeri bangettt nanti gamisnya masuk ke jeruji ban motor 😭

Soalnya saya udah pernah ngalami. Alhamdulillah saat itu masih diberi keselamatan.

Jadi enggak dulu deh pakai gamis lebar. Baju tunik modern sepertinya bisa jadi alternatif lain untuk dipakai di lebaran besok.

4. Anggun dan Elegan

Meskipun sudah jadi ibu – sebagian orang menyebut dengan istilah sudah laku, haha – bukan berarti kita jadi cuek bebek sama nilai estetika saat berpenampilan. Bolehlah sehari-hari cinta mati sama daster. Tapi saat momen spesial seperti lebaran, tetap harus tampil cantik dan elegan dong.

Kenapa kriteria ini juga saya masukkan?

Karna kalo gak hati-hati, kriteria bahan yang comfy di atas bisa menjebak. Bodo amat yang penting bahan comfy, terus lebaran pake gamis bahan kaos atau jersey yang lebih pas digunakan saat hendak belanja ke swalayan. Kan berabe!

Jadi memilih baju lebaran dengan bahan yang comfy juga tetap harus melihat juga modelnya kayak apa ya. Lagi-lagi, model baju tunik modern sepertinya bisa masuk ke dalam kriteria ini.

5. Syar’i

Yang ini jelas pasti dong ya. Kalau ada yang tanya syar’i itu yang seperti apa, saya akan jawab dengan sederhana, yaitu yang gak nerawang dan gak membentuk lekuk tubuh. Sekarang ini gak cuma gamis sih yang banyak menawarkan model syar’i. Baju tunik modern pun banyak yang syar’i kok.

Nah, 5 kriteria di atas merupakan garis besar yang harus terpenuhi saat memilih baju lebaran atau baju-baju untuk momen tertentu semenjak jadi ibu. Kalau buibu gimana, kriteria apa yang dipakai saat memilih baju lebaran? Share, yaa 😊

Jumat, 09 Maret 2018

#CeritaFaza: Faza Setahun!

Beberapa waktu lalu, mas suami nyeplos. "Udah lama gak baca cerita perkembangan Faza di blog".

Dan saya cuma bisa meringis sedih 😭
Jadi, daripada gak ditulis sama sekali dan akhirnya kenangan berlalu begitu saja, cerita Faza 7 bulan sampe setahun dirangkum di sini aja lah 😊

Faza udah setahun? Allahu akbar! Betapa waktu begitu cepat berlari. Don't grow too fast, naakk.

Karna rapelannya sudah terlalu lama, dan saya udah agak lupa momen-momen pertumbuhan Faza setiap bulannya, jadi saya cerita rangkuman secara umum aja.

MPASI

Salah satu hal yang sangat saya syukuri adalah Faza gampang sekali makannya. Plang plung. Gak picky eater. Semoga tetep gini seterusnya sampe gedhe. Aamiin.
Saya lebih sering masak MPASI-nya Faza sendiri. Meski bukan berarti gak pernah beli. Kalau pas bangun kesiangan, dan waktunya terlalu mepet, yaudah beli bubur bayi organik di pinggir jalan yang bertebaran itu. Yang jelas, sampe sekarang belum pernah Faza sehari full makannya bubur bayi kardusan itu. Beli bubur kardusan juga cuma sekali, dan lebih banyak yang terbuang.

Berhasil no gulgar?

Enggak! Hahahaha.

Tapi gak berhasil no gulgarnya bukan karna intervensi dari pihak eksternal sih. Murni keputusan saya sendiri. Jadi mulai usia 11 bulan, udah mulai saya kasih garam dan gula dikit-dikit.

PERTUMBUHAN

Pertumbuhan berat badan dan tinggi badan Faza Alhamdulillah optimal.
Bahkan pada umur 9 bulan, lonjakan berat badan Faza sempat banyak sekali. Sekilo lebih. Dan ini sempat bikin saya cukup khawatir Faza nanti obesitas.

Karenanya, saya sempat mengurangi secara cukup signifikan porsi lemak tambahan pada menu MPASI-nya. Akibatnya? Sembelit!

Jadi, saya salah sangka karna mengira tujuan ngasih lemak tambahan itu cuma untuk booster berat badan. Lemak tambahan penting sekali untuk bayi, karna juga punya andil besar dalam pembentukan otak dan kelancaran BAB ternyata.

Soal sembelit ini sempat bikin saya galau sekali. Faza bisa sampai 5 hari gak BAB, dan sekalinya BAB pasti nangis-nangis 😭 Padahal bisa dibilang saya udah perhatikan banget pola makan Faza biar gimana caranya gak sembelit. Mau gak mau kami bantu dengan Microlax, dan memberi suplemen Lacto-B atas saran dokter.

Sekarang Alhamdulillah sekarang sudah lancar. Ternyata Faza cuma butuh dibiasakan. Jadi tiap hari, sama budhe Faza diposisikan BAB sama budhenya. Dan ya keluar 😅 Dasar anak bayi ya. Mana mereka tau hasrat BAB itu harus segera ditunaikan. Lha wong ibunya aja kadang masih sering nahan kalo lagi males 😂

PERKEMBANGAN

Nah, ini bagian paling emosional untuk diceritakan bagi saya.

Jadi lumayan bingung juga mulainya dari mana 😄

Emm, kalau menurut KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan), perkembangan Faza masih tergolong sesuai. Hanya saja, pada beberapa aspek, ada tahap perkembangan yang bisa dibilang terlambat.

Yang utama adalah soal merangkak. Faza belum bisa merangkak sampai sekarang. Baru bisa merayap aja usia 11 bulan. Ada yang kaget?

Sayangnya, saya terlambat menyadari. Saya terlambat menyadari bahwa perkembangan motorik kasar Faza terlambat 😭 Harus saya akui, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah saya yang kurang ngasih stimulasi, dan terlena memantau perkembangan Faza.

Beberapa cerita orang cukup menenangkan saya. Bahwa memang ada anak yang gak merangkak. Langsung jalan. Dan mereka baik-baik saja. Tapi sejujurnya, saya ingin sekali Faza melewati fase merangkak 😢

Apakah saya galau? Ya, sempat pastinya. Tapi tidak dengan sekarang. Saya memilih tetap percaya bahwa Faza pasti bisa, dan dia baik-baik saja. Tentu saja sambil terus berusaha melatih dan memberi stimulasi. Meski ada beberapa kendala, yang kayaknya bakal terlalu panjang kalau saya ceritakan.

Tapi, agak terlambatnya perkembangan motorik kasarnya Faza ngasih banyak sekali hikmah buat saya. Selain saya lebih konsen dan care, saya juga merasa ini cara Allah mengajari saya dan suami untuk mencintai anak apa-adanya. Menerima dia sepenuh cinta, meski dia tak selalu bisa persis seperti yang kami harapkan.

Yah begitulah. Alhamdulillah Faza sudah satu tahun bersama kami. Doakan kami menjadi orangtua yang amanah. Doakan kami menjadi tim solid yang sholih-mensholihkan. Aamiin.

Kamis, 01 Maret 2018

Kenapa Memilih Dipanggil Ibu?


Disclaimer: Tulisan ini berisi MURNI pendapat pribadi saya, tanpa bermaksud mengejek, merendahkan atau memojokkan panggilan Bunda, Mama, Mami, Umi atau yang lain. Tentu saja boleh gak setuju, tapi gak perlu debat 😊 Please, jangan ada baper di antara kita yaa 🙏

Pertanyaan lain yang sering ditanyakan oleh para penjenguk saat Faza lahir -- selain pertanyaan k*mpr*et soal 'Asinya udah keluar belum?', adalah pertanyaan tentang '(Faza) manggil (saya)-nya apa?'

Yang anehnya, saat saya menjawab 'Ibu', beberapa dari mereka lanjut tanya, 'Kok ibu?'

Bahkan ibu saya sendiri pun tanya begitu loh. Aneh kan? Aneh lah!

'Kok ibu?'

Lha emang kenapa kalo Ibu? Ada yang salah? 😂

Padahal saya manggil ibu kandung saya sendiri ya dengan panggilan ibu. Lalu kenapa beliau heran saat saya memutuskan untuk minta dipanggil ibu oleh anak saya? 😆

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Sebenarnya saya tau sih latar belakang kenapa ada beberapa orang yang heran saya pengen dipanggil ibu, termasuk ibu saya sendiri.

Faza lahir di kampung halaman saya, yang masih bisa dikategorikan sebagai desa. Cukup jauh dari kota kabupaten. Cukup jauh apa jauh banget ya lebih tepatnya, entahlah. Haha.

Kalau duluuu, di desa kebanyakan orang memakai panggilan emak. Atau beberapa memanggil ibu -- dan ini sudah termasuk yang paling modern. Sekarang? Panggilan emak sudah hampir punah 😂 Terutama di kalangan ibu muda. Mereka memilih untuk dipanggil bunda, mama, umi, bahkan ada juga yang mami.

Nah, tetangga-tetangga saya di kampung halaman sana beranggapan, saya (yang menurut mereka) sekarang berdomisili di kota (Semarang), pastilah akan memilih dipanggil bunda, mama atau umi. Makanya, saat tau saya memilih dipanggil ibu, mereka heran. Menurut mereka panggilan ibu itu ndeso 😅

Ibu saya sendiri sampe pernah meyakinkan diri dengan bertanya, "Kenapa to kok pengen dipanggil ibu? Gak pengen dipanggil bunda seperti yang lain?"

Saya jawab enteng. "Enggak ah. Kalo dipanggil bunda nanti jadi kayak guru PAUD, yang sekarang umumnya dipanggil bunda" 😁

Jujur, duluuu saya memang gak pernah kepikiran pengen dipanggil ibu sama anak-anak saya. Pilihan saya dulu ada 2: Bunda atau Umi. Tapi setelah hamil, saya gak tau kenapa berubah pikiran. Merasa 'gak aku banget' lah pokoknya.

Lagipula, dua kakak ipar saya dipanggil dengan sebutan itu. Yang satu bunda, yang satu umi. Saya pengennya anak-anak saya panggil mereka bunda dan umi juga, bukan budhe 😊 Makanya saya jadi cari panggilan lain.

Jadi, kenapa saya memilih dipanggil ibu?

Karna saya juga memanggil ibu saya dengan panggilan ibu. Karna setiap saya menyebut kata ibu, hati saya hangat. Karna bagi saya, sebutan 'ibu' selalu menggambarkan banyaaakkk kebaikan, kedamaian, kesederhanaan, kebersahajaan. Karna saya ingin saat kelak Faza sudah dewasa dan hidup jauh dari saya, Faza merasakan hal yang sama rasakan saat menyebut kata 'ibu' 😭 *kenapa jadi drama gini* 😂😂

Intinya, menurut saya panggilan ibu itu 'saya banget'. Simpel, sederhana dan romantis. *uhuk* 😂

Eniwei, jaman sekarang panggilan untuk ibu variatif bangettt ya. Kreatifnya orang sekarang superrrr banget lah pokoknya. Saking kreatif dan anti-mainstreamnya, banyak banget yang punya 'plesetan' untuk panggilan ibu ini.

Jadi gak cuma ibu yang umum sekarang. Umi, bunda, mama dan mami pun udah mulai dianggap terlalu umum. Berganti: Bubu, Ibun, Embun, Ami, Umami, dll embuh apa lagi 😂

Nah, kalau teman-teman, dipanggil apa sama ananda-ananda tercintanya? Share alasan kenapa memilih panggilan itu di kolom komentar yaa 😊