Jumat, 19 Januari 2018

Babak Baru Pernikahan

Rasanya baru kemarin tangan saya dihenna menjelang acara pernikahan. Ehh, tau-tau udah memasuki tahun kedua pernikahan aja. *klise* 😂

Adik ipar saya bulan lalu nikah. Lihat pasangan pengantin baru, saya jadi kepikiran nulis ini.

Baca ini juga ya: Lika-Liku Adaptasi di Awal Pernikahan (Part 1)

Pengantin baru sih isinya manis doang yah. Iya sih tetep ada lah betenya, kadang malah terasa berat karna kan masa adaptasi dari lajang ke menikah. Tapi tetep aja kalo diinget sekarang, marahan pada masa-masa pengantin baru kok rasanya marah yang unyu dan menggemaskan ya 😂

Beda lah levelnya sama marahan setelah memasuki tahun kedua pernikahan. Tahun pertama menurut saya adalah tahun dimana gelora cinta sedang ada di puncak gelora. Iya lah, tahun pertama punya seseorang yang halal dipeluk kapanpun, selalu ada buat kita, mau ngapa-ngapain bebaaasss dan sah, baru tau rasanya yang 'enak-enak' *ups*, jelaasss dong masih sangat bergelora.

Baca juga yang ini:  Lika-Liku Adaptasi di Awal Pernikahan (Part 2)

Sementara memasuki tahun kedua pernikahan, pelan-pelan ada beberapa pergeseran. Saat berpegangan tangan sudah gak lagi semenggairahkan dulu karna... kan udah biasa ya, wong sudah setahun lebih. Lalu obrolan-obrolan soal: anggaran belanja, kebutuhan bulanan, biaya listrik, nabung buat beli rumah, dll mulai mendominasi. Saat inilah komitmen mulai diuji. Dan...

Selamat datang di babak baru pernikahan 😍

Yup, saya merasakan sekali momen babak baru pernikahan menginjak tahun kedua menjalani bahtera ini. Apalagi saya dan suami -- yang Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah -- memasuki tahun kedua pernikahan sudah punya Faza. Jadi sudah bukan tentang aku dan kamu lagi. Tapi berubah jadi ada Faza diantara kita 😂😂😂

Yang paling terasa perbedaannya di babak baru ini adalah soal komunikasi. Hadirnya Faza -- tanpa sedikitpun bermaksud mendustakannya sebagai sebuah anugrah terindah -- gak bisa dipungkiri bikin kami jauh lebih capek dari tahun pertama pernikahan.

Sudah gak ada cerita pulang kerja leyeh-leyeh. Ada Faza yang harus ditemenin main karna sudah seharian kami tinggal. Setelah Faza tidur, saya dan mas suami mulai berjibaku dengan 'tugas' kami masing-masing. Nyuci baju, jemur, cuci botol ASIP, dot, breastpump, setrika baju Faza (yang gak tega kami laundry-kan), dll.

Gara-gara lebih capek banget itu, kami jadi lebih sering sensi di tahun kedua pernikahan ini. Yang satu ngomong apa, yang satu nangkepnya apa. Salah paham, lalu sensi-sensian. Capek kan bikin kita lebih bernafsu makan orang ya 😂 Apa-apa teraa ngeselin, semua jadi terlihat salah 😢

Tapi bukan berhati kami jadi pesimis, lantas merasa 'apakah sudah tak ada cinta di antara kita?'. BIG NO!

Justru di babak ini kami sadar, artinya kami bertumbuh, tidak stagnan. Pernikahan kami memasuki babak baru, yaitu pernikahan yang dewasa. Bukan lagi sekedar romantis-romantisan dan pamer ke media sosial. Tapi gimana caranya tetap bisa sesekali romantis di tengah berbagai kewajiban yang menumpuk di depan mata.

Baca juga: Memperbarui Cinta

Di babak baru pernikahan ini, Alhamdulillah saya merasa bahagia saya menjadi jauh lebih sederhana. Dulu, sering ngrengek ke suami diajak makan di resto-resto hits, baru saya merasa senang dan menganggap suami romantis.

Sekarang? Saya lagi nyetrika, lalu suami -- yang baru selesai jemur baju -- mengelus kepala sambil bilang, "kalo capek istirahat, yaa" itu aja sudah berbunga-bunga hati ini 💕💕💕

Yah, tapi kami tau jalan masih panjang. Baru memasuki tahun kedua. Semoga kami diberi kesempatan oleh Allah untuk terus menghitung tahun bersama, dan itu artinya akan masih ada banyaaakkk sekali babak baru dalam pernikahan kami.

Sharing dong manteman tentang suka-duka babak baru pernikahan kalian, biar saya bisa belajar 😉 Saya tunggu ceritanya di kolom komentar yah 😘

Kamis, 11 Januari 2018

Faza Kena Impetigo

Seminggu lalu, pagi-pagi bangun tidur di dengkul Faza ada luka lecet keciill. Saya cuek aja, mengira itu lecet karna digaruk Faza yang kukunya superrr tajam. Sore hari sepulang kerja, luka lecetnya makin lebar. Tapi saya masih cuek, mengira itu gara-gara kena gesekan lantai saat Faza tengkurep.

Pagi berikutnya, perasaan saya mulai gak enak. Lecetnya lama-lama mirip luka melepuh. Tapi mas suami yang soal positif thinkingnya superrrr, menenangkan saya. Insya Allah gak papa, kata dia.

Sore sepulang kerja, lukanya makin bikin hati saya jerih. Persis luka melepuh, dan keluar air di lukanya 😭 Mas suami mulai ikutan resah, lalu kami sepakat bawa Faza ke dokter.

Sayangnya, dokter anak rekomendasi teman saya malam itu gak datang ke klinik. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami bawa Faza ke Dokter Keluarga (Faskes 1 BPJS).

Dokternya -- yang notabene dokter umum -- mendiagnosa lukanya Faza itu karna kena serangga. Lalu Faza dikasih salep dan antibiotik minum yang mana DISURUH GERUS SENDIRI DAN NAKAR SENDIRI! *maaf capslock jebol*

Ya habis, heran soalnyaaa... baru tau ada klinik plus dokter yang nyuruh orangtua pasien gerus obat sendiri. Saya harus gerus pake apaaa? Pake ulekan sambel?? 😑😑

Sampe rumah, tanpa diskusi panjang saya dan mas suami sepakat lah gak kasih obatnya buat Faza. Ngeri ah. Salep pun enggak, karna salepnya ada simbol huruf K merah, yang kalo gak salah artinya itu merupakan obat keras, Zzzzzz 😪

Hari berikutnya, luka di dengkul kiri Faza makin menjadi-jadi. Di sekitar lukanya juga muncul bintik-bintik mirip sama cacar air -- yang mana saat pecah, dan airnya mengenaik bagian kulit lain, langsung bikin nular ke bagian tersebut.

Pengen nangis lihat bintik-bintiknya makin banyak, bahkan udah mulai merambat ke tangan 😭😭 Alhamdulillah, malamnya bisa ketemu sama dokter anak rekomendasi teman. Dan Alhamdulillahnya lagi, meski nunggu lumayan lama, gak sia-sia karna dokternya baik dan ramah 💗💗 Bhayy deh pokoknya sama dokter galak 😒

Pas lihat lukanya Faza, dokternya langsung bilang: Oh, ini sih IMPETIGO! Lebih tepatnya Impetigo Bulosa.

Ini setelah malemnya ke dokter, udah minum obat dan dikasih salep 1x

Saya gak kaget sama sekali, karna sebelumnya udah browsing dengan kata kunci "luka melepuh pada bayi", dan ketemunya sama, yaitu impetigo. Hehe, ibu jaman now banget yaaa 😁
Kata dokter, Impetigo ini disebabkan oleh bakteri -- yang mana memang tumbuh subur saat cuaca sedang labil gini. hujan-panas-hujan-panas. Untuk penjelasan lebih lengkap soal Impetigo, baca disini aja ya.

Sama dokter dikasih salep namanya sagestam, plus antibiotik minum (puyer). Satu lagi, disaranin mandinya pakai detol cair.

Alhamdulillah, selang dua hari luka Faza sudah mulai kering dan gak merembet ke mana-mana lagi. Sekarang lukanya udah tinggal bekas, dan bikin paha Faza gak mulus lagiii 😂

Buat teman-teman yang punya baby atau toodler, selalu jaga kebersihan dan jaga stamina yaaa kalau lagi musim kayak gini. Semoga sehat-sehat selalu semuanya. Aamiin.

Senin, 08 Januari 2018

Memperbarui Cinta

Dulu sebelum nikah, saya sering mikir tentang pernikahan. Menikah, lalu melewati seumur hidup dengannya, apa gak bosen ya?

Hidup bareng se-atap (kecuali yang long distance marriage yah) sepanjang sisa hidup dengan orang yang sama, apa iya gelora cinta bisa terus menggelora?

Kalau sebelum nikah, ingat wajahnya aja sudah bisa bikin hati bergetar-getar, jangan-jangan setelah sekian tahun menikah jangan-jangan dirayu saja blas gak ada setrumnya?

Beneran loh, dulu mikirin itu kadang bikin hati goyah dan takut nikah. Tapi nikah kan perintah agama. Lagian banyak pake banget kan buktinya pasangan yang sampe jadi nenek-kakek aja tetep mesra? Yang tetep gak pengen pisah barang sebentar. Ada kok. Jadi ya buat apa takut.

Terus setelah nikah gimana?
Saya baru nikah dua tahun sih. Naudzubillah semoga gak bakal ada kata bosen. Tapi diakui atau tidak, adakalanya merasa, kok gini-gini aja ya. Datar. Gak ada lagi kemesraan-kemesraan kecil dan rutin seperti saat masa awal pernikahan yang bikin hari selalu terasa menggairahkan.

Sekarang sih focus utamanya udah berubah. Anak. Tapi justru itu yang bikin kita jadi sering lupa untuk merawat kualitas hubungan dengan pasangan.

Memperbarui Cinta
credit: wikipedia.org
Nah, saya jadi mikir. Mungkin perlu banget untuk pasangan-pasangan seperti kami ini untuk meluangkan waktu khusus untuk quality time hanya dengan pasangan. Misalnya dengan liburan berdua saja ke Bali.

Bali mah gak perlu lagi diragukan soal keindahan berbagai tempat wisatanya. Gak terkecuali tempat wisata romantis yang cocok untuk quality time bersama pasangan dalam rangka memperbarui cinta.

Kalau saya pribadi, tempat wisata romantis di Bali yang ingin saya kunjungi jika suatu saat nanti (saat Faza sudah cukup mandiri dan bisa ditinggal beberapa hari) ke sana bareng mas suami adalah Pantai Jimbaran.

Impian saya sederhana saja. Duduk berdua di tepi pantai sambil berbincang ringan hingga matahari terbenam, sambil makan jagung bakar atau seafood. Ah, baru bayangin aja pipi saya sudah bersemu merah 😂

Apakah impian saya terlalu sederhana? Gak masalah. Intinya ada pada quality time-nya, buka pada seberapa WAH segala fasilitasnya. Lagian, saya harus tetap sadar diri lah seberapa tebal dompet kami 😅

Tempat menginap pun gak perlu lah rasanya di hotel mewah atau resort mahal dan berkelas. Yang murah tapi tetap nyaman dan fasilitasnya oke pun pasti ada.

Hotel Yang Murah di Bali

Untuk sekelas Bali yang sudah terkenal seantero jagad sebagai destinasi wisata, pilihan hotel pasti sangat buanyaakk. Dari yang fasilitas biasa, hingga super mewah. Dari yang murah sampai super mahal.


Kalangan menengah seperti kita-kita ini, pasti pilih yang murah dong yaa. Tenang aja, tinggal booking saja melalui Airy Rooms. Airy Rooms yang merupakan jaringan hotel dan guest house terbesar di Indonesia, pastilah punya banyak sekali pilihan dengan berbagai variasi budget. Soal fasilitas pun gak perlu khawatir. Meski murah, hotel Airy Rooms memiliki 7 jaminan fasilitas. Pesennya pun mudah, bisa lewat Android, website maupun iOS. Bayar? Lewat Indomaret pun bisaa. Gampang bangett ya.


Fix lah, kalau beneran jadi liburan berdua, pesan lewat Airy Rooms aja 😊

Yakin deh, Insya Allah selepas liburan berdua saja dengan pasangan, hubungan akan terasa fresh dan hangat kembali.

Nah, adakah diantara teman-teman yang hubungannya dengan pasangan sedang terasa datar atau hampa? Ayo, rencanakan quality time berdua, agar gak semakin berlarut-larut dan membawa efek negatif lainnya.

Kamis, 16 November 2017

Perjalanan Delapan Bulan Menyusui

Menyusui ternyata benar-benar moment yang WOW, amazing sekali yaaa. Saya gak nyangka menyusui itu seindah dan seromantis ini 😍

Meski dulu awal-awal ngeluh terus sih. Ya gimana gak ngeluh, nenen kok seperti tak berkesudahan, sampe lecet rasanya pantat karna waktu itu belum bisa neneni sambil tiduran.

ini jaman Faza masih nenen tak berkesudahan 😊

Ohya, ngomong-ngomong, awalnya saya ingin memberi judul postingan ini dengan "Manajemen ASIP Untuk Faza". Tapi malu ah. Biasanya yang nulis soal manajemen ASIP kan yang tabungan ASIP-nya banyakkk banget selemari gitu kan. Nah, tulisan ini justru mau cerita sebaliknya. Hehe.

Terus akhirnya saya memutuskan untuk gak jadi menulis postingan dengan judul "Manajemen ASIP", dan berubah pikiran memberi judul "Perjalanan Enam Bulan Menyusui" untuk menandai masuknya Faza ke tahap berikutnya, yaitu MPASI.

Baca juga: Cerita soal MPASI

Tapiii, bisa ditebaklah, ide tinggallah ide. Penundaan demi penundaan pun terjadi hingga hari ini. Dan Faza sudah usia delapan bulan sekarang. Yang berarti saya telah melewati delapan bulan perjalanan menyusui 😍

Halah, prolog aja panjang banget yak 😅 Hayuk lah saya mulai ceritanya.

Tentang kuantitas ASI

ASI saya tergolong gak banyak sepertinya. Terserah deh orang mau bilang pola pikir saya aja yang salah lah, pelekatannya mungkin belum bener lah, ASI itu supply by demand lah. Terserah.

Yang jelas, rasanya ASI saya ya segitu-segitu aja. Hasil sekali pumping selama delapan bulan menyusui adalah 200 ml. Itu udah dua PD ya. Padahal ada beberapa teman yang posting hasil menyusui, satu PD aja bisa 150 ml lebih. Saya gak pernah.

Baca juga: Lika-Liku Belajar Pumping

Tapi saya bersyukur sekali. ASI saya mungkin gak sebanyak orang lain yang sampe bisa bikin freezer penuh (Well, akhirnya saya mengakui bahwa adakalanya ketika melihat ada yang menunjukkan freezer yang penuh ASIP, hati saya dirundung gundah gulana, bertanya kenapa saya gak seberuntung mereka), tapi Alhamdulillah seenggaknya keinginan saya untuk memberi ASI saja hingga ia berusia enam bulan akhirnya tercapai.

Yup, meski di 10 hari pertamanya Faza sudah merasakan sufor, dan bikin dia gak berhak menyandang gelar bayi ASIX, Alhamdulillah sejak umur 11 hari hingga umur enam bulan Faza hanya minum ASI dari saya.

Meski akhirnya saya harus menyerah dan kembali memberikan sufor lagi untuk Faza sejak umur enam bulan lebih dua minggu.

Kenapa harus sufor lagi?

Karna saya capek *lalu dihujat para pejuang ASI* 😂😂

Silahkan hujat, yang jelas beneran, saya capek banget karna tepat Faza umur 6 bulan, saya harus full kejar tayang. Gara-garanya, sebulan sebelumnya saya opname di RS dua hari satu malam, dan itu bikin persedian ASIP menipis banget. Cuma tersisa 4 atau 5 botol di freezer.

Baca juga: Bicara ASI, Bicara Rizki

Setelah opname, ASI saya menurun banget, mungkin karna kondisi kesehatan juga belum stabil waktu itu. Ya udah deh lengkap, fix persediaan ASIP habis sudah tak tersisa.

Tadinya saya masih semangat 45 banget untuk kejar tayang. Gak papa ibu capek, ngantuk, kayak zombie, yang penting Faza minum ASI ibu. Tapi akhirnya saya harus jujur pada diri sendiri, bahwa saya gak sanggup.

Di kantor saya pumping 3x sehari. Hasil maksimal rata-rata 400 ml. Kadang cuma 350 ml 😭 Padahal Faza butuh 700 ml selama saya tinggal kerja. Udah MPASI pun tetep segitu habisnya 😪

Nah, kalo pengen cukup, maka saya harus pumping lagi di rumah minimal 3x (pulang kerja sebelum jemput Faza, malem sebelum tidur, pagi pas bangun tidur). Padahal masih mikir masak buat MPASI-nya Faza juga kan. Fix, kutaksanggup. Kalo saya ngotot, maka yang terancam adalah kesehatan jiwa saya. Halah.

Terus saya berhenti pumping? Enggak dong, saya tetep pumping di kantor.

Pumping di Kantor 

Ini merupakan salah satu aspek yang sangat saya syukuri selama delapan bulan perjalanan menyusui.

Bersyukur, karna saya bekerja di sebuah instansi yang sangat toleran. Gak ada cerita saya dibatasi saat mau pumping. Kapanpun, berapa kalipun, silahkan.

Meski saya sedih karna harus cerita bahwa di sini belum ada ruang laktasi 😭 Terus saya pumping di mana? Di ruang arsip. Di antara rak-rak dan tumpukan arsip 😂

Tapi gak masalah sih. Kalo fokus ke kurangnya terus nanti gak jadi bersyukur 😇

Delapan bulan yang luar biasa

Intinya, saya bersyukuuurrr sekali diberi kesempatan untuk bisa menyusui selama delapan bulan ini. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. Semoga Allah ijinkan saya terus menyusui hingga Faza berusia 2 tahun.

Gak kebayang kalo Faza bingung puting terus gak mau nenen saya langsung, seperti yang dulu selalu saya takutkan 😭 Mungkin saya gak bakal bisa peluk-peluk Faza tiap malem. Karna kalo gak gara-gara nenen kan bocah sering males dipeluk kenceng gitu. Dipeluk ayahnya aja sering teriak-teriak heboh 😂 Beda banget kalo saya peluk pas sambil nenen. Tangannya pasti langsung balas memeluk saya 😍

Ohya, kapan-kapan saya cerita soal ketakutan bingung puting ya. Fyi, Faza pake dot, tapi Alhamdulillah gak bingung puting, Alhamdulillah 😇

Kamis, 09 November 2017

#BincangKeluarga: Hal-Hal Yang Berubah Setelah Menikah dan Punya Anak

Hal-hal yang berubah setelah menikah dan punya anak. Ada berapa hal? Banyak lah pastinya! 

Saya sepertinya sudah sering cerita tentang masa muda yang terlalu banyak saya habiskan dalam kesia-siaan *tsah. Dan mungkin, itu jadi salah satu sebab yang bikin saya merasa kurang lihai melakukan penyesuaian terhadap segala perubahan yang terjadi setelah menikah dan punya anak. Kadang nyesel juga. Coba kalo dari dulu saya rajin dan gak hobi berleha-leha, pasti sekarang saya gak kaget-kaget banget.

Tapi ya gak jaminan juga kali ya. Ah, lagian penyesalan gak bakal bawa kita ke mana-mana kok. Mending usaha lah, biar hari ini dan seterusnya bisa tetap survive menghadapi segala perubahan.

Jadi, mending sekarang saya cerita aja ya, tentang hal-hal yang berubah setelah menikah dan punya anak. Siapa tau ada yang mau nikah, semoga nanti jadi lebih siap dan gak kaget setelah baca tulisan ini 😚

Baca punya Ade:


Pulang Kerja

Dulu sebelum nikah, pulang kerja ya leyeh-leyeh dong. Kan capek. Apalagi pas masih kerja di Jepara alias tinggal di rumah. Gak ada cerita deh pulang kerja bantu ibu *anak durjana* 😂. Habis leyeh-leyeh bentar, terus makan. Surgaaa!

Waktu mulai kerja di Semarang dan tinggal di kost, masih gak jauh beda. Leyeh-leyeh sambil ngrumpi sama teman kost. Cuma bedanya waktunya makan saya harus cari dulu mau makan apa.

Setelah menikah masih belum banyak berubah sih. Hahaha. Kelewat pemales anaknya 😂

Nah, setelah punya anak baru deh berubah. TOTAL berubahnya! Gak ada lagi cerita leyeh-leyeh mau secapek apa juga 😭 . Pernah waktu lagi bayar utang puasa, pulang kerja lemes banget. Lemes sampe level keluar keringat dingin. Suami nyuruh tiduran aja. Tapi denger anak merengek minta sama ibunya kok sungguh kutaktega 😭😭😭

Bangun Tidur

Gak jauh beda sih. Bangun tidur dulu sebelum nikah biasanya ngaji *kibas jilbab*, terus baca novel

Setelah menikah dan punya anak (terutama setelah punya anak sih), bangun tidur langsung main kejar-kejaran!

Kejar-kejaran sama siapa?

Sama waktu, biar gak telat berangkat kerja, dan semua kerjaan beres. Hu ha hu ha 😫

Soalnya dari bangun tidur sampai tidur lagi berangkat kerja, maksimal saya cuma punya waktu 3 jam. Dan kerjaan yang harus dibereskan diantaranya adalah masak maemnya Faza, siapin segala bekal Faza ke sekolah, mandiin Faza, nenenin, dll.

Bagian dll-nya banyak banget dibantuin sama suami, Alhamdulillah. Kalo gak dibantuin mungkin saya baru bisa berangkat kantor jam 10 😪

Urusan Baju

Dulu sebelum nikah ya nyuci sendiri dong. Pake tangan pula (pas tinggal di kost tapi). Nyetrikanya dadakan kalo pas mau dipake. Jadi sebelum mandi nyetrika dulu pasti. Nah, kalo pagi-pagi mau berangkat kerja, belum nyetrika terus tiba-tiba mati lampu, ya NASIB! Haha. Pernah kejadian kayak gitu, akhirnya pinjem baju teman yang rajin nyetrika 😂

Setelah menikah jadi rajin. Kan ceritanya mau berusaha jadi istri sholihah. Haha. Jadi tiap habis nurunin jemuran, langsung  saya setrika.

Walaupun, pernah tuh malem-malem udah capek banget, saya maksain nyetrika. Alhasil, saya nyetrika sambil nangis. Merasa tugas istri sungguhlah berat. Padahal yang bikin berat ya pikiran saya sendiri 😅

Setelah punya anak? Diserahin ke jasa penyetrika baju udahlah. Gak sanggup! Hehehe.

Urusan Makan

Sebelum nikah urusan makan riwil banget. Harus yang gini lah, gak doyan itu lah, pengen ini lah. Kalo yang dipengen gak ada, ya kesampaian gak makan.

Setelah nikah (hamil), lalu punya anak, yang penting kenyang pokoknya!

Tentang Hati

Wkwkwk, sub-judulnya gitu banget ya 😅 Tentang hati 😂

Ini sih jelas lah. Sebelum nikah hatinya kebat-kebit, banyak galaunya.

Iya sih pulang kerja bisa leyeh-leyeh. Tapi leyeh-leyehnya sambil galau. Bangun tidur baca novel genre romance. Ya  tambah galau dong pasti.

Setelah menikah dan punya anak, meski pulang kerja gak bisa leyeh-leyeh, bangun tidur kejar-kejaran, tapi hati bahagia tiada taraaa 💕💕💕

Bahagia karna secapek apapun, kalo udah kruntelan bercanda bertiga sama suami dan anak, rasanya capeknya terbayar lunas sudah. Tetep kerasa sih capeknya, bohong kalau bilang langsung ilang, tapi beneran ternyata, bahwa hati yang bahagia mampu mengalahkan fisik yang kepayahan. Yeay!

Kalau kalian gimana, apa aja yang berubah setelah menikah dan punya anak? Share di komen yaaa 😊

Rabu, 01 November 2017

#CeritaFaza: Rapelan Faza 5-7 Bulan


Ternyata berkomitmen nulis #CeritaFaza sebulan sekali bukan hal yang ringan, gengs 😂 Padahal dulu sih sok-sokan, ah gampil laahh, pasti bisaaa. Sebulan sekali doang kan. Ternyataaa 😅

Yasudahlah, dirapel lagi ajaa. Semoga gajinya ibu gak ikut-ikutan dirapel. Aamiin. Haha.

Faza 5 Bulan

Sejujurnya saya sudah agak lupa apa yang bisa diceritain tentang Faza saat umur 5 bulan. Dan saya sedih 😭
Yang pasti di umur 5 bulan Faza makin pinter, makin lucu, makin ganteng. Haha, abaikan. Ini sih penilaian klise bin super subjektifnya emak-emak kan.

Yang paling saya inget, umur 5 bulan Faza mulai lancar kembali ke posisi terlentang. Tadinya kan baru bisa tengkurap, tapi belum bisa kembali.

Ohiya, saat Faza umur 5 bulan, saya memasuki fase baru sebagai seorang ibu. Ini justru yang menarik untuk diceritakan.

Dulu, kalo baca tentang curhatan para ibu yang sedih atau baper anaknya dikomen kok belum bisa ini belum bisa itu, saya pikir saya gak akan kayak gitu. Masa' gitu aja baper sih, pikir saya.

Ternyata lagi-lagi saya kemakan omongan sendiri. Saat pulang kampung ke rumah mbah, mbahbuknya Faza menampakkan kecemasan ketika tau Faza kakinya belum kuat diberdirikan. Kata beliau, harusnya umur 5 bulan udah berdiri, udah minta lonjak-lonjak ketika dipangku.

Saya yang dari sononya parnoan, yawis langsung kebakaran bulumata lah. Sibuk browsing soal milestone anak umur 5 bulan. Dan gak satu pun sumber mengatakan bahwa anak umur 5 bulan harus sudah bisa berdiri. Terus saya jadi tenang? Enggak!

Soale saya scroll feed IG, dan nemu foto Iyas (ponakan saya) saat umur 5 bulan lagi pose berdiri dipangkuan kakaknya yang dulu saya post. Iyas umur 5 bulan udah berdiri, dan Faza belum. Kenapaaa bisa begituu 😭😭

Beneran lho, saya sempat galau parah waktu itu. Galau sampe level bangun tidur kepikiran, mau tidur kepikiran, di kantor kepikiran. Kepikiran terus pokoknya. Hiks. Apalagi saat telfonan sama ibu, lagi-lagi beliau mewanti-wanti saya untuk melatih Faza berdiri.

Tapi kemudian mas suami menenangkan. Ibu mertua juga menenangkan. Budhe Hana pun begitu (Soal Budhe Hana di postingan lain ya). Akhirnya lama-lama saya tenang. Dan Alhamdulillahnya, selang beberapa minggu, Faza sudah mulai mau dan kuat diberdirikan.

Gak cuma soal berdiri, saya juga sempat baper ketika melihat stories IG teman yang anaknya seumuran Faza udah bisa sesuatu yang Faza belum bisa. Lalu dijitaklah saya sama suami. Kayak gak ada syukur-syukurnya, kata beliau. Iya juga sih 😞

Jadi, menandai umur 5 bulannya Faza, saya masuk ke fase baru galaunya seorang ibu. Karna sepertinya baper dan galau model gini masih akan terulang lagi ya.

Faza 6 Bulan

Yeayy, Faza sudah 6 bulan!


Yang paling seru dari usia 6 bulan tentu saja fase mulai MPASI dong. Soal MPASI udah cerita panjang lebar lah di postingan ini: MPASI, Antara Teori VS Praktek.

Alhamdulillah Faza maemnya pinter. Doyan semua yang saya masak. Jadi saya suka bingung kalo ditanya apa menu favorit Faza. Lha soalnya semua dimakan dengan lahap. Hehe.

Ohiya, lalu ASI-nya apa kabar? Alhamdulillah cita-cita saya untuk memberi Faza full ASI minimal hingga 6 bulan (meski sudah gak berhak dapet gelar bayi ASIX), tercapai! 👏👏

Meski sempat ngos-ngosan bangettt. Karna H-3 minggu Faza 6 bulan, saya masuk Rumah Sakit gara-gara infeksi lambung, hiks. Selama di Rumah Sakit Faza full minum simpenan ASIP. Saya tetap pumping, tapi hasilnya jelas gak nutup dengan yang sudah dihabiskan Faza. Alhasil, stok ASIP menurun drastis tis tis. Soal ASI cerita di post terpisah aja ah, nanti kepanjangan.

Umur 6 bulan, Faza juga sempat jatuh dari tempat tidur yang tingginya kurleb 40cm 😭😭 Dia kalo tidur parah emang, gak bisa anteng. Padahal udah dipageri segala macem bantal guling loh. Tapi Alhamdulillah gak kenapa-napa sih. Sempat kami pijetin aja ke tukang pijet bayi.

Alhamdulillah dia juga udah mulai bisa duduk tanpa sandaran di usia ini. Tapi kalo tengkurep belum bisa maju. Bisanya baru muter doang.

Faza 7 Bulan

Masuk umur 7 bulan, saya tiba-tiba sadar Faza udah makin gedhe, dan cepat sekali rasanya. Antara seneng dan sedih. Sedih karna kalo cepat gedhe nanti saya pasti akan kangen sekali masa-masa dia lucu dan gemesin seperti saat ini.

Kenapa tiba-tiba saya sadar Faza udah makin gedhe? Karna dia makin pinter. Udah bisa menunjukkan ekspresi protes saat di tidurkan padahal dia pengen digendhong. Kadang nangis kalo ayah-ibu pamit berangkat kerja.

Ohya, giginya juga sudah tumbuh, yeayy. Pertama tumbuh langsung 2, gigi bawah. Tapi Faza sempat batuk pilek saat umur 7 bulan. Sampe harus beberapa kali dinebul. Hiks.

Udah panjang yaaa ceritanya. Maklumlah, kan rapelan. Haha. Segini dulu ah #CeritaFaza kali ini 😊

Kamis, 05 Oktober 2017

#BincangKeluarga: MPASI, Antara Teori VS Praktek

Setiap melihat buibu yang ngepost menu MPASI anak-anaknya lengkap dengan resep, saya sering mikir, makanan bayi sekarang kenapa sih ribet-ribet amat. Dulu mah setau saya bayi ya makannya bubur sun, milna, dll itu. Atau paling cuma pisang kerok.

Mikir gitu terutama sebelum punya anak sih.

Saat hamil, otomatis baca banyak hal tentang serba-serbi dunia ibu. Tema MPASI tentunya gak kelewatan. Tapi lagi-lagi masih mikir, kok ribet amat yaaa. Apalagi kalo ngintip grup FB yang isinya khusus bahas MPASI.

Banyak buibu yang posting susunan menu dan minta dikoreksi oleh admin. Dan banyaaakkk banget susunan menu yang masih salah menurut admin. Allahu akbar! Nyusun menu makan bayi aja udah ngalah-ngalahin nyusun skripsi, wew 😑

Waktu itu saya akhirnya saya memutuskan untuk menunda belajar teori MPASI terlalu jauh sih. Takut stress duluan 😂


Baca punya Ade:


Memasuki usia Faza yang ke 4 bulan, akhirnya saya meniatkan diri mulai belajar tentang MPASI. Kebetulan saya dapet kado ultah buku ensiklopedia mini MPASI dari HHBF (Homemade Healthy Baby Food) dari teman-teman blogger buku. Jadi yawis, belajar dari buku itu, sekaligus sesekali belajar dari grup FB-nya HHBF.

Ternyata kalo udah diniatin, gak pusing-pusing amat sih. Haha.

Saya sempat pengen kasih MPASI si Faza secara serampangan tanpa teori. Toh dulu orangtua saya tanpa teori macem-macem juga sayanya baik-baik aja.

Tapi mikir lagi. Yakin pengen Faza tumbuh 'setara' dengan tumbuhnya saya? Apa gak pengen mengusahakan agar pertumbuhan Faza jauh lebih baik dari saat dulu saya tumbuh?

Dan lagi, saat ini kan para orangtua milenials udah semangat bangett memberikan MPASI terbaik untuk anak-anaknya. Yang mana anak-anak itu nantinya adalah teman-teman sepermainan Faza. Kalau Faza saya kasih MPASI secara serampangan sedangkan teman-teman sepermainannya saat ini sedang diberi MPASI berdasarkan teori dari WHO oleh orangtuanya, jangan-jangan dia akan ketinggalan banyak hal dari teman-temannya 😓 Saya gak mau itu terjadi 😭

Berdasarkan pemikiran di atas, akhirnya saya memutuskan untuk berusaha menaati teori MPASI versi WHO. Semata-mata sebagai bentuk ikhtiar terbaik. Soal hasil, tetap saja jadi hak prerogatifnya Allah.

MPASI, Antara Teori VS Praktek

Lalu gimana Teori VS Praktek setelah Faza mulai MPASI?

Awalnya saya memutuskan untuk taat pada teori, yaitu dengan mengawali MPASI dengan 2 minggu menu tunggal. Sudah nyusun menu tunggal untuk 2 minggu juga dong tentunya. Susuan menunya udah dibuat seideal mungkin.

Jangan ada makanan tinggi serat berurutan karna akan memicu sembelit.

Jangan ada pengulangan menu selama 2 minggu, agar bisa mengenalkan sebanyak mungkin rasa makanan ke anak di 2 minggu pertama.

Prakteknya?

TET TOOTTT, saya menyerah di hari ke tiga apa ya, lupa.

Lha gimanaa, gak boleh ngulang menu. Padahal makannya si bocah kan baru dikittt banget ya, maksimal 2 sendok makan orang dewasa, sedangkan beli labu kuning (misalnya) kan gak bisa secuil lah. Lah, masih sisa banyak, masa iya gak dipake lagi? Mubadzir dong 😑

Yang paling utama sih, harus ganti menu tiap hari itu ternyata boros banget sist. Kalo tiap hari biasa masak sih sisanya bisa dimasak untuk menu keluarga. Sedangkan saya hampir gak pernah masak selain untuk Faza 😆

Jadi dengan sukarela, akhirnya saya mengibarkan bendera putih pada teori harus ganti menu tiap hari itu.

Lalu soal teori menu tunggal selama 2 minggu pertama pun akhirnya saya mengkhianatinya. Hehe. Di hari ke 10 kalo gak salah, saya udah coba-coba kasih Faza menu 4 bintang. Dan Alhamdulillah so far oke-oke aja. Emm, sempet sembelit sih sekali. Tapi saya langsung tau apa pemicunya.

Intinya, MPASI itu menurut saya gak perlu saklek sama teori sih. Sesuaikan saja dengan kondisi anak dan orangtua. Termasuk kondisi finansial kita. Gak perlulah ngotot memberikan MPASI hingga membuat pengeluaran lebih besar pasak dari pada tiang.

Jangan lupa perhatikan juga kondisi psikologis kita. Kan gak lucu kalo gara-gara pengen memberi MPASI terbaik, kitanya sampe stress. Ingat, anak kita gak cuma butuh makan, tapi juga butuh diasuh oleh ibu yang bahagia 😇

Senin, 18 September 2017

Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri


Sebagai orangtua baru, belajar parenting sepertinya merupakan hal yang mutlak untuk saya lakukan. Soalnya materi di sekolah, gak sekalipun ngajarin saya tentang ini. Soal gimana caranya nenangin bayi ketika rewel, atau soal gimana pelekatan yang baik biar puting gak lecet. Iya, kan?

Belajar parenting bisa dibilang sudah saya lakukan sejak sebelum menikah. Yah meskipun gak maksimal. Saya belajar melalui buku-buku bertema parenting, salah satunya adalah seri buku 5 Guru Kecilku karya Kiki Barkiah. Sewaktu kuliah, saya juga pernah beberapa kali ikut kajian yang membahas tentang peran ibu sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya.

Tapi yang paling intens, tentu saja saya belajar melalui orang-orang di sekitar saya. Belajar dari keteladanan ibu saya pada saya dan kakak-kakak, dari sikap kakak-kakak saya pada ponaka-ponakan saya, atau bahkan dari sikap tetangga pada anak-anaknya.

Ya, sumber untuk belajar parenting luas dan banyaaakk sekali. Seperti yang dipaparkan Mbak Inna Riana dalam tulisannya yang berjudul Belajar Parenting dari Sekitar Kita dalam #KEBloggingCollab.


Lalu, kalo sudah belajar parenting banyaaakkk sekali melalui berbagai sumber, apakah menjamin kita akan menjadi orangtua yang berhasil mencetak anak-anak hebat dan cemerlang dalam segala hal?

Saya rasa gak ada jaminan soal ini.

Sebagai orang tua baru, jujur kadang terlalu banyak membaca teori malah bikin saya bingung menghadapi suatu kondisi. Aduh, kok gini ya, berarti saya harus gini. Eh tapi kemarin teori di buku A kan seharusnya gini. Lalu mabok sendiri 😂

Mas suami juga kadang gemes sama saya. Misal ada kondisi tertentu, beliau bersikap A. Lalu saya akan nyerocos, "Yah, enggak kayak gitu seharusnya! Kalau kata artikel yang kemarin aku baca, seharusnya itu bla bla bla" -- yang mana kadang bla bla bla itu juga gak pas untuk diterapin secara saklek saat itu.

Lalu saya merenung. Apa iya jadi orang tua itu sesulit ini? Bisa jadi iya. Karna kalo jadi orang tua itu gampang, gak mungkin hadiahnya adalah surga. Mungkin cuma kipas angin 😂

Tapi ketika Allah mempercayai seseorang untuk menjadi orang tua, pastilah Allah telah membekali kita dengan sesuatu yang bikin kita pasti bisa jadi orang tua.

Apa itu? Insting sebagai orang tua.

Contohnya, gak usah deh kita baca tentang macam-macam arti tangisan bayi. Pasti lama-lama kita akan paham. Ooh si dedek nangis karna lapar. Ooh si dedek nangis karna bosen. Dan seterusnya.

Lalu, apakah itu artinya belajar parenting itu gak perlu?

Oh, tentu bukan seperti itu. Maksud saya, mari tetap belajar tentang ilmu parenting sebanyak mungkin. Tapi tetap sandingkan dengan insting kita sebagai orang tua. Jadi biar gak kaku banget harus selalu sesuai teori. Kan mengasuh anak gak sama seperti praktikum jaman sekolah yang harus plek dengan buku, kan?

Ada satu lagi yang gak boleh kita lupakan ketika belajar parenting.

Yaitu, keteladanan. Ini sering sekali kita (atau cuma saya?) lupa, ya 😑

Kita sibuk belajar mendidik anak agar menjadi pribadi yang jujur, eh kitanya justru mengajarkan kebohongan dengan bilang kalau gak mau makan nanti disuntik dokter. Kita belajar keras tentang tips dan trik agar anak gak terdistraksi gadget, eh kitanya nemenin anak bermain sambil selalu sibuk dengan gadget.

Kan jadi lucu 😭

Artinya, semakin banyak kita belajar ilmu parenting, harusnya semakin banyak juga usaha kita untuk terlebih dahulu mempraktekkan dan menerapkannya pada diri kita. Gitu, kan? Belajar parenting sejatinya adalah belajar mendidik diri sendiri untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik 👸

Hayolohhh, jangan jadi hopeless terus ngambek gak mau belajar lagi yaaa 😂 Yuk ah, semangaatttt! 😇

Diclaimer: tulisan ini hanyalah opini dari seorang ibu baru yang masih belajar jadi orang tua. Feel free kalo mau diskusi atau mengoreksi opini saya yaaa 😉

Jumat, 15 September 2017

Pengalaman Memakai Breastpump Medela Harmony Manual

Dulu kala saat masih hamil, salah satu printilan yang bikin saya semangat banget pengen segera beli itu adalah breastpump. Dan yep, breastpump akhirnya benar-benar menjadi barang pertama yang saya beli. Bahkan kalo gak salah ingat saat usia kehamilan saya baru menjelang tujuh bulan.

Dan breastpump yang saya beli adalah Medela Harmony Manual.


Sebelum memutuskan memilih Medela Harmony, saya baca beberapa review para blogger yang udah makai ini breastpump. Sejak malang-melintang di dunia perbloggeran, entah kenapa saya gak mantep kalo mau beli apa-apa tanpa baca review para blogger dulu. Suka latah sih. Hahaha.

First impression saya sama Medela Harmony ini jujur saya kurang manis. Huhu, sempat agak kecewa gitu. Semacam... hah, gini doang?

 

Pertama yang bikin saya dan mas suami agak kecewa adalah, packagingnya kurang oke di mata kami. Harga mahal, cuma dibungkus plastik trus dimasukin kardus doang gitu. Harapan kami, mbok ya ditata dengan lebih manis, kayak kalo beli HP baru gitu. Ada tempat-tempatnya , apasih itu saya gak tau namanya. Hehe. Jadi biar terkesan sepadan lah antara tampilan dan harga. Hehe.

Kedua yang bikin mas suami kecewa adalah gak ada tutup untuk corong breastpumpnya 😑 Saya udah tau sih dari review. Tapi mungkin saya lupa menginformasikan itu ke mas suami. Mas suami sampe sempet mikir pengen jual lagi si Medela ini dan beli breastpump lain yang kasih tutup corong. Gak higienis banget di mata beliau. Hihi.

jadi pas masih baru, breastpum dalam kondisi dipreteli gini, terus dibungkus plastik yg ada di foto ituu, udah gitu doang!
Saya yang agak serampangan soal kebersihan ini sih santai aja. Bismillah, pokoknya kekeuh pengen pakai breastpump Medela harmony manual ini.

Dua minggu setelah Faza lahir, saya mulai pumping. Ceritanya kan mau pumping sedini mungkin biar nanti pas cuti habis udah punya stok buanyaaakkk #goals. Ternyata ZONK pemirsa. Gimana mau punya stok banyak kalo tiap pumping keluarnya tetesan-tetesan yang cuma bikin pantat botolnya basah 😭

Saat itulah saya menuduh Medela sebagai penyebabnya. Pasti gara-gara Medela nih yang payah, jadi ASI-nya gak bisa terpompa keluar! Haha, padahal karna sayanya aja yang kurang belajar.

Baca yuk: Lika-Liku Belajar Pumping

Setelah lancar pumping, kini hubungan saya dengan Medela sudah bak soulmate yang tak terpisahkan. Dulu kalo kerja HP ketinggalan pasti kelimpungan banget. Sekarang jauh lebih ketinggalan kalo Medela yang ketinggalan.

Lalu apa kelebihan Medela Harmony Manual?

Jujur dulu saya bingung karna belum pernah nyoba breastpump lain selain Medela. Jadi ya gimana, susah untuk mengidentifikasikan kelebihan Medela dibanding breastpump merk lain.

Tapi suatu hari, breastpump saya pernah ketinggalan, huhu. Gak mungkin lah saya gak pumping. Alhamdulillahnya, ada teman kantor yang juga bawa breastpump dan kebetulan gak dipakai karna beliaunya males pumping (anaknya udah hampir satu tahun). Yasudah daripada PD bengkak nyut-nyutan akhirnya saya pinjem breastpump beliaunya aja.

Nah, saat itulah saya langsung tau apa kelebihan Medela!
Medela itu jauh lebih enteng tuasnya daripada merk tetangga. Gak bikin capek. Bentuk tuasnya juga ergonomis sekali. Breastpump Medela uga bisa dipreteli, dan ketika dipreteli bisa jadi ringkas sekali. Merakitnya juga simpel bangettt.

Corong breastpump Medela itu kan gak ada silikonnya, ya. Dulu saya mikir, apa gak sakit. Eh ternyata enggak sama sekali! Nah, karna udah terbiasa pakai corong Medela yang tanpa silikon, saya jadi merasa gak nyaman ketika memakai corong breastpump lain yang ada silikonnya. ASI-nya jadi mbleber semua ke silikonnya gitu, huft.

Kalau kekurangannya Medela yang sering bikin saya sedih adalah, sambungan antara corong dan botol itu entah kenapa rawan banget bocor. Botol dimiringin dikit aja ASIP udah langsung netes-netes, hiks. Makin sedih kalo pas ASI lagi rada seret. Huhu, tiap tetesnya berarti banget buat saya 😭

Tapi over all, saya gak nyesel sama sekali memutuskan untuk memilih Medela. Cinta bangettt lah pokoknya! Medela telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri saya enam bulan ini *halah*.

Teman-teman busui, kalian pakai breastpump apa? Bagi ceritanya dong 😊

Kamis, 07 September 2017

#BincangKeluarga: Jangan Cintai Aku Apa Adanya

"Jangan cintai aku apa adanya, jangan...
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan"

Pertama tau lagunya Tulus yang judulnya Jangan Cintai Aku Apa Adanya itu, saya langsung suka! Apalagi video klipnya manis banget kan. Tapi sempat agak heran sih sama liriknya. Jangan cintai aku apa adanya? Bukannya selama ini yang umum malah minta dicintai apa adanya?

Baca punya Ade:

Tapi setelah diresapi (cieh 😂), saya mengamini lirik lagu tersebut sih. Jangan cintai aku apa adanya. Karna kalau terus-terusan dicintai apa-adanya, ya saya gak bakal ke mana-mana. Gini-gini aja alias stuck!

Lhah, emang pernah merasa dicintai apa adanya?

Ya pernah doooong 😜 Kalo gak pernah merasa dicintai apa adanya, pastilah gak akan minta untuk jangan dicintai apa adanya. Btw, rasa-rasanya (menurut saya), dua fase tersebut hanya bisa benar-benar dirasakan setelah menikah. Kalo belum menikah tu masih abu-abu antara benar-benar mencintai apa adanya, atau masih jaim aja mau kritik macem-macem. Hahaha.

Saya jadi pengen cerita tentang sebuah momen lucu yang bikin saya merasa dicintai apa adanya oleh mas suami.

Waktu itu kami masih tinggal di rumah kontrakan. Masih tergolong pengantin baru sih, tapi gak baru-baru banget. Hari itu mas suami puasa sunnah -- kalo gak senin ya kamis, lupa. Sebagai istri baru, saya pengen masak untuk buka puasa si mamas.

Sampai kontrakan sekitar jam 5 sore, langsung buru-buru mulai masak. Jam 5 sore ke maghrib itu kan waktunya pendek ya. Ditambah saya yang masih amatiran di dunia dapur, plus memang sifat lelet bawaan 😂 Bisa ditebak banget lah sampai waktu buka tiba, masakan saya belum kelar 😪

Mas suami yang sudah terlihat kelaparan, membatalkan puasa dengan segelas teh hangat dan beberapa iris buah semangka. Wajahnya tetap teduh, gak kelihatan marah sama sekali. Tapi tetap saja saya merasa bersalah dan meminta maaf.

Setelah masakan hampir jadi, semangat 45 mau segera menghidangkan untuk suami tercinta, eeehhh ternyata saya lupa BELUM MASAK NASI 😭😭

Saya beneran hampir nangis saking merasa bersalahnya dan takut mas suami marah. Nyatanya? Sama sekali enggak! Beliau hanya dengan kalemnya mengobati rasa lapar dengan terus-menerus makan semangka hingga habis satu buah, yang akhirnya bikin beliau diare paginya 😂😢 Inget kejadian itu bikin saya terharu, sekaligus pengen ngakak.

Saat itu, saya benar-benar merasa mas suami mencintai saya apa adanya.

Ah, karna masih pengantin baru aja tuh! Adakah yang membatin seperti itu? Kalo ada, saya kasih tau bahwa belum lama ini saya kembali melakukan kekhilafan yang hampir sama.

Beberapa minggu lalu, saat beliau sedang puasa sunnah, beliau melongo ketika pulang kerja tepat saat maghrib tanpa ada satu pun hidangan di meja -- termasuk teh hangat. Saya malah kayak gak punya dosa asyik main sama Faza di kamar. Ya Allah, pelupa kok parah banget yah 😭😭

Beliau tetap gak marah. Tapi bedanya, saat ini beliau sudah masuk ke tahap gak lagi mencintai saya apa adanya. Jadi, meskipun gak marah, beliau tetap mengoreksi dan menasihati saya. Gak cuma dalam hal ini tentunya. Dalam banyak hal yang saya memang payah banget dan butuh bimbingan, ya beliau terus berusaha membimbing.

Satu yang saya sadari. Ternyata tidak dicintai apa adanya itu gak kalah manis dengan ketika dicintai apa adanya. Malah kalo dipikir-pikir, kalau terus-terusan dicintai apa adanya malah jadi gak manis lagi. Ya masa' lihat orang yang dicintai payah dalam banyak hal eh dibiarin aja?

Kan lebih manis kalo pelan-pelang dibimbing dengan sabar. Catet, kesabaran lah yang akan membuat tidak dicintai apa adanya akan tetap terasa manis 😊

Tapi ya gak muna sih kadang ada saatnya bete kalo pas salah terus dikoreksi. Hihi. 😂