Kamis, 25 Juni 2020

Catatan Ibu Profesional: Aliras Rasa di Penghujung Matrikulasi

Tidak terasa ternyata sebentar lagi kelas matrikulasi berakhir, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke samudra yang jauh lebih dalam lagi.

Saya jadi terkenang, tentang niat saya belajar di Institut Ibu Profesional yang sudah ada sejak dua tahun lalu. Sempat maju-mundur, karna awlanya merasa inferior. Kenapa inferior? Karna saya kira, IIP lebih diperuntukkan untuk ibu rumah tangga yang fokus di ranah domestik. Saya sempat takut akan mendapatkan banyak justifikasi negatif sebagai ibu yang memilih untuk berkiprah di ranah publik. Alhamdulillah, ketakutan saya tersebut sama sekali tidak terjadi.


ibu-profesional


Di kelas matrikulasi ini, saya banyak sekali belajar. Tentang hal-hal yang sebenarnya sangat mendasar yang harus diketahui seorang ibu pembelajar. Tapi sayangnya justru banyak dilupakan. Salah satunya tentang core value: belajar, berkembang, berkarya, lalu berdampak.

Berapa banyak ibu pembelajar yang selama ini lompat dari belajar ke (berusaha) berdampak? Saya sendiri salah satunya. Tidak heran jika akhirnya dampaknya tidak akan maksimal, atau bahkan bisa jadi gagal berdampak sama sekali.

Salah satu materi yang berkesan bagi saya adalah materi yang disampaikan oleh Widyaismara Mbak Rima. Khususnya bagian tentang bahwa belajar pun butuh skala prioritas. Kenapa sangat berkesan bagi saya? Karna selama ini saya tidak punya skala prioritas dalam belajar. Saya ingin belajar banyak hal, tapi lupa bahwa tenaga, pikiran dan waktu saya terbatas. Saya nggak mungkin bisa belajar semua hal yang saya inginkan dalam satu waktu, tanpa membuat skala prioritas.

Misi Connecting The Dots kemarin juga bagi saya cukup berkesan. Kami diminta untuk melihat lebih jauh ke dalam diri kita sendiri. Tentang seperti apa diri kita ini, apa yang membuat kita unik, nilai apa yang selalu kita pegang, dan apa yang sedang kita perjuangkan.

Dalam misi Connecting The Dots tersebut, banyak teman matrikan di regional Semarang yang merasa misi ini sangat menantang dan membuat kitaharus merenung cukup lama. Ya, saya pun merasakannya. Dari situ saya jadi bisa melihat. Betapa kita sebenarnya sering lalai melihat diri kita sendiri. Betapa kita sering lalai mengenali diri sendiri, sehingga merasa cukup kesulitan saat diminta untuk menjabarkan hal-hal yang diminta dalam misi tersebut.

Tapi yang paling berkesan bagi saya sejujurnya adalah bertemu banyak sekali para ibu pembelajar di kelas matrikan, khususnya dari regional Semarang. Saya senang sekali punya banyak teman baru yang hebat-hebat, yang tidak berhenti belajar dan yang selalu membawa aura positif.

Semoga pertemanan kami tidak turut selesai bersamaan dengan selesainya kelas matrikulasi batch 8 ini. Aamiin.

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kelas matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional.

Jumat, 19 Juni 2020

Catatan Ibu Profesional: Mencari Makna Diri

Dulu saya pikir, pencarian makna diri itu sudah selesai di masa-masa remaja hingga menginjak dewasa. Saya pikir, setelah menikah dan punya anak, saya tidak perlu lagi mencari makna diri karna saya akan dengan serta-merta menjadi 'utuh' ketika sudah berumah tangga dan melahirkan seorang anak.

Bukankah penanaman keliru seperti itu masih banyak terjadi di masyarakat kita? Seolah menikah dan punya anak adalah titik akhir bagi seorang wanita. Seolah setelah itu, kita tidak lagi bisa dan perlu mengembangkan diri.

Beruntungnya, kita ada di sebuah era di mana informasi berkembang amat cepat. Termasuk ilmu pengetahuan dan kesempatan belajar yang juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi tersebut. Dengan banyaknya informasi yang saya dapat, saya jadi 'ngeh', ternyata saya belum boleh berhenti mencari makna diri. Saya harus terus berproses untuk membuat diri saya utuh sebagai pribadi, istri maupun ibu.

Maka, berikut adalah catatan saya dalam proses mencari makna diri.



Seperti Apa Aku Ini

Seperti apa saya ini?

Saya adalah seorang berkepribadian 75% introvert, 25% ekstrovert. Seperti umumnya orang introvert, saya kurang suka bertemu banyak orang. Bertemu dan mengobrol dengan banyak orang bagi saya cukup menguras tenaga.

Sejalan dengan itu, kemampuan komunikasi lisan saya tidak begitu baik. Saya bukan orang yang pintar memaparkan apa yang ada di kepala saya dnegan baik melalui lisan. Sebaliknya, saya lebih suka memaparkan isi pikiran saya melalui tulisan.

Meski begitu, Alhamdulillah saya punya sedikit jiwa ekstrovert yang membuat saya adakalanya merasa butuh bersosialisasi dan berkomunitas, meski tidak pernah bias maksimal dan sering membuat saya merasa kelelahan di tengah perjalanan, karena introvert saya jauh lebih mendominasi.

Saya juga seorang plegmatis yang cinta damai. Saya paling tidak suka dan tidak tahan dengan konflik. Hal itu membuat saya sering sekali menjadi ‘juru damai’ bagi orang-orang di sekitar saya yang sedang berkonflik. Saya senang menjadi penengah, dan punya kemampuan untuk ‘mendinginkan’ mereka.

Selain itu, saya adalah seseorang yang sangat mudah tertarik pada hal baru, dan ingin mempelajarinya. Terutama sejak jadi ibu. Saya ingin mempelajari banyak hal, hingga seringkali membuat saya merasa kewalahan dan kehilangan focus.

Alhamdulillah, sejak belajar di kelas matrikulasi IIP, saya jadi tau, bahwa belajar pun butuh skala prioritas. Kapasitas otak saya terbatas. Saya tidak mungkin bisa. Kalua dipaksakan, pasti tidak akan maksimal.

Nilai Apa yang Saya Miliki?

Saya senantiasa berusaha memegang nilai-nilai yang ada dalam Al Qur'an dan Hadist, meski masih jauuuuhh dari sempurna.

Saya juga punya beberapa nilai yang saya pegang dengan cukup teguh, di antaranya adalah: "Kita diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan". Nilai tersebut sebagai pengingat bagi diri saya, bahwa jika kita ingin diperlakukan dengan baik, maka kita harus memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Apa yang Membuat Saya Unik?

Yang membuat saya unik adalah, saya seorang introvert tapi punya cukup banyak teman dan tergolong cukup mudah akrab dengan orang baru. Selain itu, saya adalah pendengar yang cukup baik, sehingga banyak sekali teman yang memilih saya sebagai tempat curhat mereka. Termasuk bagi suami saya sendiri.

Selain itu, saya juga orang yang cukup peka terhadap perasaan orang lain, tapi di sisi lain sering 'tidak peduli; dengan sekitar, saat sedang melakukan sesuatu. Saya sering tenggelam dan asyik dengan dunia saya sendiri.

Apa yang Saya Perjuangkan?

Yang saya perjuangkan sebagai pribadi adalah saya ingin jadi seseorang yang punya energi positif dan bisa membagikan energi tersebut ke orang lain. Saya ingin menjadi orang yang punya kesehatan mental yang baik, sehingga saya bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya tanpa menjadi toxic. Selain itu, saya juga berjuang untuk bisa terus menghasilkan karya yang membuat saya bisa mengapresiasi diri saya sendiri, dan pada akhirnya membuat saya semakin percaya diri.

Sebagai istri, saya sedang berjuang untuk menjadi istri sholihah bagi suami saya. Yang qona'ah, dan taat pada apapun perintahnya, sehingga kami bisa terus bersama tidak hanya di dunia, melainkan hingga surga.

Sebagai seorang ibu, saya berjuang untuk menjadi fasilitator terbaik bagi anak saya, dan mengantarkannya menjadi orang sholih yang mensholihkan orang lain, tapi tidak menjadikan kesholihannya untuk mengukur kesholihah orang lain.. Saya ingin membersamai tumbuh kembang anak saya, meski waktu yang saya miliki untuk mendampinginya tidak banyak, saya percaya kualitas jauh lebih penting dibanding kuantitas. Saya ingin menjadi ibu yang bisa sekaligus menjadi sahabat bagi anak saya hingga ia dewasa.

Apa Kesamaan Saya dengan IIP?

Kesamaan saya dengan IIP adalah sama-sama ingin selalu mengembangkan diri dan memberikan dampak baik bagi orang lain.

IIP juga menjadi wadah bagi banyak ibu untuk mengembangkan diri, seperti saya yang menjadi wadah bagi keluarga saya untuk mengembangkan diri.

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Batch 8 regional Semarang IIP.

Jumat, 12 Juni 2020

Melayani dengan Hati

Saya bungsu dari 3 bersaudara. Ibu saya seorang ibu rumah tangga yang keinginan melayaninya luar biasa besar. Kebahagiannya adalah ketika bisa memastikan suami dan anak-anaknya terpenuhi segala keinginan dan kebutuhannya di dalam rumah. Tidak jadi soal meski itu membuat tubuhnya letih kepayahan.

Sebagai anak bungsu, saya seolah selalu ditempatkan di zona nyaman. Tidak peduli sedang ada badai dalam keluarga kami, semua orang seperti selalu memastikan saya aman, dan tidak perlu tau semua itu. Pun dengan dua kakak saya yang luar biasa sayangnya pada saya.

Bersyukur? Jelas!

Tapi apakah ini ada sisi negatifnya? Sayangnya, ada.

Karena terlalu lama ada di zona nyaman, saya limbung begitu 'dilepaskan' oleh keluarga saya untuk mengarungi pelayaran panjang di bahtera bernama rumah tangga. Saya seperti tidak punya cukup bekal untuk menjadi seorang istri dan ibu dengan segala peran dan tanggung jawabnya.

Maka, tiga tahun awal pernikahan saya, diisi dengan saya yang terombang-ambil di tengah pelayaran. Saya yang sarjana akuntansi, menjadi akuntan yang sangat handal untuk menghitung apa saja tugas yang sudah saya lakukan, dan apa saja yang sudah suami saya lakukan. Ya, saya hitung-hitungan tiap hari. Kalau saya sudah nyetrika, artinya suami saya harus nyuci piring. Kalau saya masih belum bisa tidur karna ngurusin rumah di malam hari, maka suami saya pun nggak boleh tidur. Semua saya hitung dengan detail.

Pun dengan kemampuan melayani saya yang nol besar. Saya nggak merasa harus menyuguhkan minuman untuk suami jika dia belum minta. Pun saat waktunya makan, saya nggak merasa harus melayani dengan mengambilkan nasi dan lain-lain untuk suami saya, kecuali jika dia minta tolong. Dulu saya selalu berpikir, kenapa pula harus diambilkan? Kan ambil sendiri pun bisa.

Hari-hari di awal pernikahan saya diwarnai dengan banyaknya protes di dalam hati. Kok gini sih ternyata jadi istri dan ibu? Kok apa-apa harus selalu saya? Udah capek masak, nyetrika, dan lain-lain, eh waktunya anak mandi maunya sama saya lagi!



Melayani dengan Hati

Hingga suatu hari saat merenung, saya merasa ada yang salah dengan semua ini. Ada yang perlu dibenahi dari diri saya sendiri.

Saya kemudian belajar. Dari banyak buku, banyak tulisan dan sharing orang-orang yang bisa dijadikan panutan, tidak terkecuali ibu saya sendiri.

Saya belajar tentang fitrah apa saja yang Allah sematkan dalam diri seorang wanita yang telah berstatus sebagai istri sekaligus ibu. Saya membuka mata hati agar bisa melihat dan menemukan kunci atas keikhlasan para istri-istri luar biasa yang saya kenal, dalam mempersembahkan pelayanan terbaik bagi keluarganya.

Dan belum lama ini saya menemukannya!

Kuncinya adalah: sertakan hati. Gunakan hati untuk merasai bagaimana bahagianya bisa melayani. Gunakan hati untuk menghayati peran yang melekat pada diri. Agar tak terus-terusan membandingkan zona nyaman di masa lalu, saat belum memiliki peran seperti yang hari ini diemban.

Yang jauh lebih menguatkan lagi adalah nasehat sederhana ibu, yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya di bawah ini. Tentang sebuah motto sederhana agar selalu ringan bergerak.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"


Kesadaran diri itu tidak dibiarkan oleh Allah saya temukan begitu saja tanpa mengujinya, apakah saya benar-benar bisa mengaplikasikan kesadaran diri tersebut?

Yaitu melalui moment Work From Home selama kurang lebih dua bulan, tepatnya pada bulan April dan Mei. Saat itu, saya benar-benar berusaha menanamkan sekuat mungkin kesadaran diri tentang peran dan fitrah saya sebagai istri dan ibu. Saya menyertakan hati di setiap tugas dan tanggung jawab yang saya jalani.

24 jam bersama di rumah, sesuatu yang dulu sangat saya impikan, dan Alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk mencecap rasanya meski hanya sementara.

Lelah? Sekali! Berkali lipat lelahnya dibandingkan saat saya harus bekerja di kantor seperti biasanya. Masak sehari tiga kali. untuk makanan inti. Ditambah masak berbagai jajanan, mencoba berbagai resep. Mencuci piring entah berapa kali sehari. Menyetrika, dan banyak lagi tugas yang lain.

Tapi amazing-nya, saya nggak sedikitpun marah dan memprotes keadaan seperti sebelum-sebelumnya. Saya merasakan kenikmatan yang belum pernah saya rasakan. Ketika melihat anak dan suami melahap dengan nikmat apa yang saya sajikan. Memuji, lalu tersenyum dan memeluk saya dengan penuh cinta. Lelah, tapi nikmat. Yang seperti itu ternyata memang ada.

Melayani dengan hati, ternyata membuat beratnya tugas melayani bertransformasi menjadi salah satu hal yang terasa membahagiakan serta melegakan.

NB: Tulisan ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 8.

Rabu, 08 April 2020

Nasehat Ibu: Sebuah Motto Hidup Sederhana Seorang Istri

Saya itu bisa dibilang sama sekali bukan perempuan yang #wifematerial. Lhah, kalimat pembukanya udah buka aib duluan, hehe.

Tapi beneran. Istri itu kan salah satu fitrahnya melayani ya. Sedangkan saya dibesarkan hampir tanpa dididik untuk melayani. Beda banget sama ibu saya.

Yep, ibu saya adalah perempuan dengan jiwa melayani yang totalitas banget. Logikanya, harusnya anaknya ngikuti jejak ya. Sayangnya enggak. Saking totalitasnya ibu saya dalam melayani, nggak terkecuali anak-anaknya pun jadi terbiasa untuk dilayani. Please, jangan diartikan saya dan kakak-kakak saya memperlakukan ibu kami seperti pembantu ya. Bukan. Bukan melayani yang seperti itu. Melayani yang semacam: anaknya pengen makan apa, beliau akan berusaha memasakkan meski anaknya bilang nggak usah pun nggak apa-apa. Gitu lah pokoknya.

nasehat-ibu
gemes banget! Pengen yg kayak gini Ya Allah :')
(sumber: pixabay.com)


Nah, ketidakbiasaan saya untuk melayani itu, menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan saya berproses menjadi istri dan ibu.

Sejak awal menikah, saya langsung ngerasa, WOW, gini ya ternyata jadi istri? Waktunya makan harus inget suami, mikirin dia harus makan apa, siapin, dll. Sedangkan sebelumnya, saya tipe yang lebih rela laper daripada harus gerak. Beneran. Karna ada ibu saya yang akan dengan segala cinta-kasihnya, akan nyodorin saya makan. Itu sebabnya waktu kost, magh adalah oenyakit langganan. Saking seringnya melewatkan makan gara-gara males banget harus nyari dulu. Haha. Kebangetan!

Nah, long story short, pada kepulangan saya ke kampung halaman bulan lalu, saya sempat ketangkap sama ibu nggak memerankan fungsi istri yang seharusnya. Halah. Biasanya kan saya pencitraan dong, biar beliau bahagia. Hehe.

Ceritanya, waktu habis makan. Beliau bilang, sekalian dicuci ya piringnya. Saya bilang, nanti deh biar dicuci sama Mas Sani. Ups, keceplosan! Hihi.

Langsung deh, tausiyah dimulai. Tapi dari sekian banyak tausiyah beliau, ada satu kalimat dari beliau yang ngena banget di saya. Kayaknya itu motto hidup beliau selama berperan sebagai istri dan ibu deh. Motto hidup yang amat sederhana, tapi beneran powerfull sekali untuk membuat beliau senantiasa memberikan pelayanan terbaiknya.

Apa motto hidup sederhana itu?

Kata beliau, "jadi istri itu, tanamkan kuat-kuat dalam hati: 'kalau bukan aku siapa lagi?' - saat akan melakukan apapun. Nggak usah pikirkan dibantu atau enggak. Biar saat dibantu, kita senang dan bersyukur. Kalau udah menuntut dibantu sejak awal, dan ujungnya nggak dibantu, pasti kita akan kecewa."

Aaaaakk, JLEB JLEB JLEB!

Gimana enggak JLEB coba? Saya ini kan dari dulu hobi banget itung-itungan sama mas suami. Kalau saya udah masak, artinya dia yang harus nyuci piring. Kalau saya nyetrika, dia harus yang nyuci dan jemur. Pokoknya saya paling nggak terima kalau saya ngerjain sesuatu terus beliaunya leyeh-leyeh.

Ibu saya memang bukan perempuan yang punya konsep berpikir tentang kesetaraan gender bla bla bla gitu ya. Di otak beliau hampir nggak ada ide bahwa suami harus mau bantuin ngerjain kerjaan rumah tangga, seperti yang ada di otak saya ini. Hehe. Bagi beliau, sudah fitrahnya perempuan ngurusin rumah, dan selama mampu ya akan sekuat tenaga beliau kerjakan sendiri. Kalau Bapak punya inisiatif bantu ya Alhamdulillah, kalau enggak ya enggak apa-apa.

Qodarullah, sepulang dari kampung halaman dan mendapatkan nasehat itu, ternyata bersamaan dengan seruan pemerintah untuk di rumah saja sementara waktu, dan work from home. Bagi saya pribadi, ini seperti ujian dari Allah, apakah saya bisa mengaplikasikan nasehat ibu dengan baik atau enggak.

Buibu pasti tau ya, di rumah saja itu malah jauh lebih capek dan lebih banyak kerjaan dibanding dengan saat harus kerja di kantor. Begitupun yang saya rasakan. masak sehari tiga kali. Nyuci piring sehari entah berapa kali. Nyetrika. Dll.

Setiap malas hendak menghinggapi, atau mau mulai itung-itungan, suara ibu seperti bergaung di telinga saya, "kalau bukan aku, siapa lagi?"

Dan, magic! Kalimat itu seperti punya kekuatan yang membuat hati saya lebih legowo mengerjakan aneka macam pekerjaan, dan seperti menyuntikkan semangat meski badan rasanya udah capek banget.

Wow, betapa kita sebenernya hanya butuh prinsip-prinsip sederhana tapi powerfull ya untuk bisa terus bergerak.

Yang masih work from home, atau menemani anakknya belajar dari rumah mana suaranya? Semangat yaaa :) Semoga sepenggal nasehat sederhana ibu saya bermanfaat.

Senin, 02 Maret 2020

Rangkuman Usia 2 Tahun Faza

Beberapa saat lalu, saya tiba-tiba sadar. Saya minim sekali nulis satu tahun terakhir ini. Banyak sekali yang saya lewatkan untuk ditulis, tidak terkecuali cerita-cerita tentang tumbuh kembang Faza.

Saya hampir nggak nulis cerita tumbuh kembang faza di masa usia 2 tahunnya sama sekali. Sedih :(

Karna suatu saat, pasti adakalanya saya ingin memanggil ingatan saya tentang masa-masa Faza berusia 2 tahun.

Tapi karna sudah terlanjur lewat, yang bisa saya lakukan adalah melakukan perbaikan. Dalam hal ini, saya akan mencoba menulis rangkuman masa 2 tahun Faza. Berdasarkan beberapa ingatan, dan dokumen-dokumen pendukung. Halah.

Dokumen pendukungnya cuma data di Primaku, foto dan video, serta ingatan-ingatan yang masih berhasil tersimpan kuat di memori sih.



Oke deh, Bismillah, saya mulai.

Biar gampang, saya akan pake 5 aspek tumbuh kembang balita:

1. Aspek Fisik

Dari segi aspek fisik, Alhamdulillah Faza bisa dibilang tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan di usia 2 tahun ini. Berat  badannya naik kurang lebih 2 Kg dalam setahun terakhir, sesuai dengan kriteria. Begitu juga tinggi badannya yang Alhamdulillah masuk kategori ideal menurut aplikasi Primaku.


Bersyukur sekali meskipun saya alpa mencatat detail tumbuh kembang Faza di blog ini, seenggaknya di Primaku saya nggak lupa meng-update data tiap beberapa bulan sekali. Jadi saya bisa tracking pertumbuhannya.

2. Aspek Kognitif

Saya jujur agak bingung sih menjabarkan bagian aspek kognitif ini.

Ini aspek yang mungkin saya banyak alpa dalam menstimulus dan memantau perkembangannya secara serius. Tapi saya merasa perkembangannya sudah sesuai usia.

Dia sudah bisa memahami cerita dengan baik, sudah mulai paham tentang konsep sebab-akibat. Bahkan dia sudah bisa diminta untuk me-retelling sebuah gambar di buku ceritanya. Faza sudah hafal warna di usia 2 tahunnya, sudah paham konsep besar-kecil, atas-bawah, sekarang-nanti.

3. Aspek Bahasa

Ini sih udahlah... Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Faza dapet turunan gen dari ayah ibunya yang suka ngomong (meski kalo lagi mode diem ibunya suka males ngomong hehehe).

Aspek bahasanya Faza berkembang sangat pesat di rentang usia 2 tahunnya. Di awal-awal usia dua tahun, dia mulai bisa bicara satu kalimat utuh yang terdiri dari 3 kata. Contoh, "Adek mau maem" -- tadinya cuma "Maem... maem".

Kalau sekarang sih, hmmm... udah nyaingin ibunya. Udah bisa cerita panjang kali lebar. Kayaknya bisa cerita panjang itu baru beberapa bulan terakhir ini, alias 2,5 tahunan kurang lebih.

Sekarang Faza udah mulai bisa protes, udah mulai bisa berpendapat dan bernegosiasi.

Ohya, perkembangan yang kelihatan sekali adalah pelafalan per katanya yang makin sempurna. Tadinya, Faza cenderung 'males' melafalkan kata dengan pelafalan yang sempurna -- cenderung sering menghilangkan huruf konsonan. Misal, kata "dimana', dia akan melafalkannya dengan "diana". "Kuda, jadi "Uda". Dll. Sekarang (baru dua mingguan terakhir ini), dia udah mulai terbiasa melafalkannya kata per kata dengan lebih sempurna.

Thanks to Uwak Onang yang bikin kami aware soal ini. Tadinya saya nggak merasa harus mengoreksi, karna merasa 'sudah paham' meskipun dia nggak bener ngomongnya, dan merasa nanti juga lama-lama bener sendiri. Ternyata memang harus dikoreksi.

4. Aspek Sosial

Di awal usia 2 tahun, beuh Faza egosentrisnya luar biasa -- yang mana memang sangat wajar. Keakuannya sangat tinggi. Termasuk soal kepemilikan.

Saya sempet dibikin nggak enak kalo Faza nggak bersedia meminjamkan mainan ke teman seumurannya. Padahal si teman seumuran itu nggak pernah segan meminjamkan mainannya atau berbagi makanan dengan Faza. Mungkin karna si teman sepermainan itu punya kakak yang jeda umurnya sedikit sekali, jadi sudah terbiasa berbagi di rumah.

Kalau sama orang yang lebih tua, Faza dari dulu terkenal ramah. Makanya dia punya beberapa fans fanatik orang sepuh. Hihi. Tiap lewat, Faza sering nyapa. "Eyaaang...", atau "Budheee...", gitu. Hihi, Alhamdulillah sifat ibunya yang kadang suka males nyapa gak kebawa sama Faza. Kalau disapa atau diajak bicara juga Faza sering menjawab dengan baik. Alhamdulillah.

Kemampuannya beradaptasi di lingkungan baru juga Alhamdulillah gak sesusah yang saya kira dulu. Dia ternyata cenderung mudah akrab dan adaptasi. Pernah suatu hari saya ajak dia ke kantor, dan dia enjoy aja. Sama temen-temen kantor pun nggak segan salim, ngobrol, dll.

5. Aspek Emosional

Ini nih yang paling kerasa bangettt di usia 2 tahunnya Faza. Soalnya aspek ini menguji kesabaran saya dan mas suami sekali. Haha.

Kalau usia 2 tahun sering dibilang sebagai terrible two, saya setuju banget. Karna begitu yang terjadi di Faza. Sering tantrum? Beuh, sering banget. Terutama di setengah tahun pertama usia 2 tahunnya dia. Emosinya meledak-ledak sekali. Mulai agak kalem kayaknya 3 bulanan terakhir ini deh.

Saya sampe kadang mikir, ini kenapa masa tantrumnya awet banget, apa karna saya sering kalah? Apa karna ada yang nggak bener dari cara kami mengatasi tantrumnya dia?

Tapi setelah direnungi lagi, rasanya kami hampri nggak pernah kalah -- dalam artian akhirnya ngasih apa yang dia mau (yang tadinya nggak dibolehin) hanya gara-gara dia tantrum. Kami cenderung konsisten. Yang kami belepotan banget itu soal mengatasi emosi kami.

Jujur aja nggak jarang kalo Faza tantrum, saya atau ayahnya kadang suka ikut tantrum. Huhu, Padahal harusnya nggak boleh. Kalo dia tantrum, kitanya ikut tantrum, yang ada tantrumnya nggak bakal selesai-selesai. Kalo kita tantrum, harusnya kitanya stay cool. Tapi percayalah, menghadapi anak tantrum saat lelah raga dan pikiran itu sungguh ujian hidup.

Di luar ke-5 aspek di atas, ada beberapa point juga yang rasanya harus saya tulis dalam rangkuman ini.

  • Konsisten No Gadget

Ini salah satu hal yang saya syukuri dan apresiasi dari diri saya sendiri sebagai orangtua. Alhamdulillah di antara banyaknya wacana yang akhirnya nggak mampu saya realisasikan, konsisten no gadget menjadi satu dari sedikit hal yang bisa saya lakukan.

Enggak 100% no gadget sih. Karna memang bukan itu goal saya. Faza sesekali (jarang sekali) saya pinjami ponsel saya, tapi hanya untuk lihat video-videonya sejak bayi.

Sedangkan di ponsel ayahnya, memang sengaja kami menyiapkan video kesukaannya yang tersimpan di gallery, untuk pertolongan di kondisi-kondisi darurat. Misalnya sedang di luar rumah, dan dia bosan atau rewel. Kenapa harus disimpan di gallery? Biar pilihannya terbatas, jadi lama-lama dia akan bosan juga. Kalau di youtube kan pilihannya tak terbatas. Adaaaa terus video lain yang akan bikin pengen lagi, pengen lagi sampai akhirnya kecanduan.

Dia dikasih nonton youtube nggak? Dikasih kok. Tapi lewat komputer, dan hanya di hari sabtu/ahad. Lewat ponsel pernah nggak? Pernah, tapi bisa dihitung jari satu tangan.

  • Toilet Training

Faza mulai toilet training kalo nggak salah bulan Ramadhan 2019 lalu. Sudah berhasil? 50:50 sih.

Kalau soal pipis, selama dia nggak dalam kondisi tidur, dia pasti akan minta pipis ke kamar mandi. Bahkan misal saat pergi dan saya pakaikan diapers pun, dia sering merengek minta pipis di kamar mandi. Cumaaa, kalau pas tidur dia masih belum bisa. Jadi ya kalau tidur masih selalu pakai diapers.

Sebenernya ini salah saya sih. Dulu dia udah sempet lho minta ke kemar mandi saat malam tiap pengen pipis. Tapi dalam satu malam dia bisa sampe 3-4 kali pipisnya. Paginya, saya pusing banget mirip pas dia masih nenen dulu hiks. Akhirnya saya nyerah. Biarin deh kalo malem pake diapers aja. Haha. Dasar emak lemah.

Poopnya gimana?

Oh, kalo poop mah dari sebelum usia 2 tahun juga udah selalu ke toilet. Karna apa? Lha poopnya aja harus dirayu setengah mati dulu -___-

Iyap, trauma BAB-nya Faza masih berjalan sampai sekarang. Dan ini salah satu yang bikin saya sediiiih banget. Sedih tiap dia mau BAB nangis-nangis seolah kesakitan sekali. Padahal mah poopnya enggak keras dan saya yakin enggak sakit. Dia cuma trauma.

  • Terapi Flat Feet

Ohiya, di usia 2 tahun, Faza juga sempat menjalani terapi okupasi dan fisioterapi di RS Nasional Diponegoro Semarang.

Terapinya ngaruh nggak?

Kalau ke struktur tulang sih hampir nggak ada pengaruh sama sekali ya. Karna selain terapi, Faza kan harus pakai sepatu koreksi yang mana dia nggak konsisten pakai. Sekarang malah udah nggak dipakai sama sekali. Saya pun sebagai orangtua emang nggak terlalu serius maksa dia sih.

Tapi kalau ke keseimbangannya, terapinya membantu sekali sih. Terutama karna kami juga mendukungnya dengan ngasih dia balance bike.



Selengkapnya sudah saya ceritakan di postingan ini.

  • Kesukaan

Faza udah mulai punya idola. Siapa? Upin-Ipin. Haha.

Kayak nggak bosen-bosen. Tiba juga masanya saya hafal cerita Upin-Ipin karna tiap hari nemenin dia nonton. Haha.

Selain itu dia juga mulai tertarik sama beberapa tokoh Action Figure. Terutama Ultraman. Dulu saya punya keinginan agar anak-anak saya nggak kenal tokoh-tokoh Action Figure sih sebenernya. Yah, tapi apa daya. Saya kan enggak 24 jam sama dia.

Dia juga sekali mobil-mobilan. Terutama mobil pemadam kebakaran. Hihi.

  • Soal makan gimana?

Masyaa Allah, ini hal yang amat sangat saya syukuri. Faza tipe anak yang gampaaaaang sekali makannya. Sama sekali bukan picky eater. Makannya banyak. Bahkan seringkali saya yang harus memaksa dia berhenti. Tapi, makanan yang akan bikin dia makan dengan sangat lahap adalah: nasi, plus ayam goreng atau lele goreng dan sambal. Yup, Faza doyan makan sambal sejak usia 1 tahun. Hihi.

Udah sih, kayaknya hampir semua point masa 2 tahun Faza sudah terangkum di atas. Meski tetap saja saya kehilangan banyak detail kejadian atau perasaan yang alpa terabadikan lewat tulisan. Tapi nggak papa-lah. Seenggaknya tulisan ini nggak akan bikin saya clueless-clueless amat saat suatu hari nanti ingin mengingat masa 2 tahun Faza.

Mohon doa ya teman-teman, agar Faza selalu sehat dan selau dalam lindungan Allah yang terbatas perlindungannya :)

Selasa, 04 Februari 2020

Melakukan Kebaikan

Notes: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Pengikat Makna 1 kelas Habituasi Sejuta Cinta Institut Ibu Profesional.

Katanya, kebaikan itu menular. Satu kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, bisa jadi akan terkenang oleh si penerima kebaikan. Dan suatu saat, membuat dia termotivasi untuk melakukan kebaikan serupa pada orang lain lagi.

Bayangkan jika setiap orang punya keinginan untuk melakukan kebaikan. Niscaya dunia akan diisi oleh kebaikan demi kebaikan yang saling bersambungan.

Jangan mengeluh tentang wajah dunia hari ini yang penuh dengan ketidakbaikan. Terkikisnya rasa simpati dan empati ketika melihat kesulitan orang lain. Coba tanya pada diri sendiri, di mana posisi kita?

Jangan-jangan, kita punya andil yang membuat wajah dunia semakin suram nan kelabu.

Kebaikan itu tidak berarti harus mengumrohkan semua sanak saudara. Bukan tentang memberi makan beratus-ratusan fakir miskin. Bukan hanya tentang hal-hal sebesar itu.

Kebaikan bisa kita mulai dari hal terkecil yang kita mampu.

Apa contohnya?

Berikut adalah kebaikan yang saya kerjakan di hari kemarin:

1. Menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesah seorang teman melalui chatt Whatsapp

Sepele? Ya, sangat sepele. Apa sih, sekedar nyimak chatt dan bales.

Tapi mungkin enggak untuk teman saya. Dia yang saat ini sedang meniti kehidupan baru dan harus tinggal seatap dengan mertua karna suatu hal, ada orang yang bersedia menyimak unek-unek dan perasaannya mungkin bukan hal sepele. Apalagi dia bercerita pada saya yang sudah 3  tahun seatap dengan mertua.

Selain menyimak chattnya dengan baik, saya juga berusaha menyempurnakan kebaikan yang saya lakukan untuknya dengan tidak men-judge apapun yang ia katakan. Saya berusaha untuk menjadi sebaik-baik pendengar untuknya.

Dengan kebaikan yang sepele itu, Alhamdulillah di akhir obrolan kami, dia bilang merasa sudah plong dan bisa kembali bercanda lagi.

2. Memasak Untuk Anak

Saya adalah seorang ibu bekerja. Yang artinya, saya punya banyak sekali keterbatasan untuk mencurahkan cinta saya pada anak. Tidak seperti ibu-ibu lain yang bisa senantiasa menemani anaknya bermain, saya hanya punya sedikit sekali waktu yang saya khususkan untuk anak.

Tapi apakah artinya saya jadi nggak bisa mengungkapkan cinta saya padanya lewat kebaikan-kebaikan kecil untuknya?

Bisa, tentu saja bisa.

Di antaranya, saya selalu berusaha memasakkan makan pagi dan siang untuknya, sebagai bekal selama saya di kantor. Adakalanya saya malas. Masak itu capek kan? Beli aja gampang.

Tapi saya ingin kebaikan kecil yang saya kasih ke dia ini akan membekas di hatinya. Saya ingin, tubuhnya tumbuh dan berkembang sebagian besarnya adalah dari apa yang dihasilkan tangan saya.

3. Membuatkan Teh untuk Suami

Seperti waktu saya yang terbatas untuk mencurahkan cinta pada anak, begitu pula kondisi saya pada suami. Karna kami sama-sama bekerja dari pagi sampai sore, waktu kami bersama sangat terbatas.

Tapi sekali lagi, hal itu sama sekali tidak menghalangi kita untuk saling mencurahkan cinta.

Saya dengan segala keterbatasan, berusaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil untuknya.

Di antaranya, membuatkannya teh sepulang dari kerja. Bagi saya, itu kebaikan yang sangat sepele. Tapi ternyata enggak bagi suami saya. Bagi beliau, meminum teh hasil adukan istri itu nikmatnya mampu meluruhkan segala lelah setelah seharian beraktivitas.

See?

Ternyata melakukan kebaikan bisa dilakukan dengan semudah itu. Sesepele itu.

Yuk, jangan berhenti melakukan kebaikan.

Jumat, 10 Januari 2020

Pelajaran Tentang Keluarga Dari Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Akhirnya nulis lagi di sini!

Saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Tapi adakalanya ada film-film tertentu yang saya merasa 'wah, kayaknya harus nonton nih!'. Dan entah kenapa, seringnya yang saya pengen banget nonton adalah film-film bertema keluarga.

Kemarin akhirnya nonton lagi, setelah setahun lalu (di bulan Januari juga) nonton Film Keluarga Cemara. Yang saya tonton, apalagi kalau bukan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Tadinya bingung sih mau nulis tentang film ini di blog ini, atau di rosasusan.com. Tapi karna yang pengen saya tulis adalah pelajaran tentang keluarga yang bisa diambil dari film ini, kayaknya lebih cocok saya tulis di blog ini :)

Ohya, mungkin sedikit banyak tulisan ini akan mengandung spoiler. Mohon maaf. Kalau yang nggak berkenan, jangan lanjut baca ya. Sampai sini aja :)



Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini bercerita tentang sebuah keluarga. Terdiri dari ayah ibu dan tiga anaknya. Konflik yang disajikan adalah seputar hubungan antar anggota keluarga. Terutama hubungan ayah dan anak-anaknya.

Sepanjang nonton, benak saya penuh dengan kilasan-kilasan wajah keluarga saya. Karna kebetulan, semua tokoh utama di film NKCTHI ada semua cerminannya dalam diri orang-orang terdekat saya. Lihat ayahnya ingat bapak dan mertua. Lihat Angkasa ingat kakak sulung dan anak sulung saya. Lihat Aurora ingat kakak laki-laki dan suami saya. Lihat Awan, ingat diri saya sendiri. Hehehe.

Maka, nggak bisa dipungkiri, selama nonton, otak saya juga sambil terus berpikir. Apa yaa pelajaran yang bisa saya ambil dari film ini? Dan berikut ini, adalah beberapa pelajaran yang akhirnya berhasil saya dapatkan, setelah merenung dan meresapi cerita film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok orangtua

Saya percaya, (hampir) gak ada orangtua dengan anak lebih dari satu yang dengan sengaja ingin membeda-bedakan kasih sayangnya ke masing-masing anak. Pengennya mah pokoknya sayang ke semua anak.

Tapi bagaimanapun, orangtua kan tetap manusia biasa. Saat lihat ada satu anak yang jauh lebih menonjol dari anak lain, secara manusiawi biasanya akan jadi lebih condong ke si anak tersebut. Dan saya pernah baca soal ini, katanya itu wajar

Begitulah yang terjadi pada sosok Ayah dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini, dalam memperlakukan 3 anaknya. Angkasa, Aurora dan Awan. Sosok ayah dalam film ini digambarkan punya kecenderungan hati yang jauh lebih besar pada salah satu anaknya.

Intinya, kecenderungan hati ke salah satu anak itu wajar dan manusiawi. Tapi tetap usahakan nggak terlalu mencolok agar anak yang lain tidak jadi merasa dibedakan atau diabaikan. Apalagi jika 'lebih sayang'nya hanya karna urutan lahir. Jauh lebih sayang dan perhatian ke anak bungsu, misalnya. Rasanya itu jauh lebih nggak adil untuk anak dibanding jika lebih sayangnya karna prestasi yang lebih menonjol.

Salah satu dampak buruk dari 'perbedaan' sayang ke masing-masing anak ini adalah hubungan antara kakak beradik yang kadang jadi tidak harmonis. Karna dipicu perasaan cemburu. Kan pasti sedih ya kalau lihat anak-anak kita nggak akur. Apalagi kalau penyebabnya adalah kita sendiri :(

Pelajaran kedua yang saya ambil adalah tentang cara kita sebagai orangtua untuk menunjukkan rasa sayang. Kadang kita sebagai orangtua tuh maunya cuma menunjukkan rasa sayang, tanpa mau tau apakah cara sayang kita itu berkenan atau enggak ke anak.

Seperti si ayah dalam film NKCTHI, yang selalu menjawab segala keluhan anaknya tentang sikap si ayah dengan kalimat, "Ayah kayak gini kan karna sayang sama kamu!"

Sounds familiar?

Ego sebagai orangtua yang merasa lebih tau kadang bikin orangtua jadi enggan mendengarkan keluh kesah anak tentang cara kita memperlakukan mereka. Karna bisa jadi, cara kita menyayangi anak justru diartikan lain dan negatif oleh anak. Jadi, jangan segan mendengarkan mereka.
 
Pelajaran ketiga tentang zona nyaman. Saking sayangnya sama anak-anaknya, sosok Ayah dalam film NKCTHI berusaha sekuat tenaga untuk membuat anaknya ada di kondisi nyaman. Ia berusaha keras agar istri dan anak-anaknya tidak perlu merasakan perasaan sedih. Bahkan pada salah satu anaknya, ia selalu turut campur di segala sisi kehidupan si anak. Termasuk, selalu mencarikan solusi untuk segala permasalahannya.

Akhirnya, anaknya tumbuh jadi anak yang merasa tidak utuh. Karena tidak pernah merasakan mengambil keputusan. Tidak pernah merasakan gimana caranya mencari solusi untuk masalahnya sendiri, dll.

Pelajaran yang saya ambil sebagai orangtua, sayang boleh. Tapi bukan berarti kita harus selalu menempatkan anak di zona nyaman terus-terusan. Adakalanya dia perlu merasakan sedih. Merasakan gagal. Merasakan kecewa. Karna semua itulah yang justru akan membuat mereka tumbuh menjadi sosok tangguh.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok anak

Dari sisi sebagai seorang anak, pelajaran yang diambil cuma dikit sih, cuma satu. Tapi dalem. Dan bikin saya jadi lebih paham perasaan Bapak saya.

Ayahnya Angkasa, Aurora dan Awan mungkin awalnya punya kesan buruk di mata anak-anaknya. Tapi satu yang mereka akhirnya tau. Alasan dari semua sikap ayah mereka adalah karna rasa sayang yang terlampau besar pada mereka.

Pelajaran yang saya ambil, orangtua - terutama ayah - seringkali menjadi orang yang sebenarnya paling keras berusaha untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya, tapi sekaligus sering tidak bisa menginterpretasikan rasa sayang tersebut dengan cara yang benar. Salah satu sebabnya mungkin karna kurang mendengarkan istri dan anak-anaknya.

Saya jadi inget Bapak. Kasihan ya mereka itu. Berusaha keras, tapi malah diartikan negatif sama anak-anaknya. Huhu.

Ada yang sudah nonton Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga? Cerita dong, pelajaran apa yang kalian ambil dari film ini?

Kamis, 12 Desember 2019

5 Wisata Kuliner di Bogor Utara yang Wajib Untuk Kalian Coba

Hallo gaes kembali lagi bersama aku nih. Jika sebelumnya aku udah jelain tentang beberapa wisata kuliner yang ada di bogor kota, nah kali ini aku akan jelasin tentang wisata kuliner yang ada di bogor utara ya. Sebenarnya baik bogor kota maupun bogor utara, wisata kulinernya tak jauh berbeda dan sama-sama lezat untuk kalian coba. Namun ada beberapa kuliner khas bogor utara yang populer sebagai cinderamata daerah puncak nih gaes.

Wisata Kuliner di Bogor Utara Enak Tapi Murah


Tak perlu khawatir menghabiskan banyak uang ya gaes jika kalian berwisata kuliner yang ada di bogor utara ini, karena kuliner yang ada di bogor utara ini umumnya memiliki harga yang murah tetapi rasanya tetap enak. Jadi walaupun murah kalian akan tetap mendapatkan kuliner yang enak dan juga nikmat tentunya. Oke langsung aja nih biar kalian ngga penasaran, dibawah ini merupakan 5 wisata kuliner di bogor utara paling rekomended untuk dicobain.

1.    Restoran Bumi Aki

Wisata kuliner di bogor utara pertama yang wajib kalian kunjungi saat kalian pergi ke puncak adalah restoran bumi aki. Buat kalian yang suka dengan cita rasa masakan sunda bisa banget nih gaes restoran bumi aki menjadi destinasi wisata kuliner kalian di bogor utara. Salah satu menu andalan disini adalah gulai kambing gaes, emmm siapi sih yang tak suka jenis kuliner yang satu ini. Gulai kambing restoran bumi aki terkenal akan gulainya yang gurih dan daging kambingnya yang empuk serta porsi yang banyak. Dijamin puas deh kalau kalian mengujungi restoran bumi aki ini.

2.    Restoran Rindu Alam Puncak

Kalau ngomongin tentang salah satu restoran terbaik yang ada di puncak, tentu saja nama restoran rindu alam puncak ini ngga boleh kalian lewatkan dari list wisata kuliner kalian ya gaes. Soalnya disini terdapat sekali banyak menu kuliner yang sangat cocok untuk kalian santap di hawa dingin puncak bogor ini. Salah satu menu andalan yang ngga boleh kalian lewatin nih gaes yaitu sate ayam puncaknya. Daging sate ayam khas restoran alam puncak ini memiliki daging yang empuk, dan bumbu yang sangat khas, pokoknya ngga bakalan nyesel deh kalau kalian pergi ke restoran yang satu ini.

3.    Sate Kambing Hanjawar

Jika sebelumnya ada menu sate ayam terbaik di puncak, nah ada satu lagi jeis sate terbaik yang ada di puncak nih gaes namanya sate kambing hanjawar. Sate kambing hanjawar merupakan salah satu kuliner yang selalu ramai di kunjungi wisatawan seharinya loh gaes. Hal ini tak lain dan tak bukan karena sate kambing hanjawar ini memiliki kualitas daging kambing terbaik memiliki potongan daging kambing yang pastinya akan memuaskan kalian saat mencicipinya. Untuk itu jika kalian pergi ke puncak, sate kambing hanjawar ini ngga boleh kalian lewatkan ya gaes.

4.    Sate Shinta

Buat kalian yang sama-sama menyukai sate ayam maupun sate kambing, kalian bisa cobain nih makan sate di restoran sate shinta. Disini kalian akan mendapati beragam jenis sate ayam dan sate kambing yang angat populer di bogor. Salah satu penyebab tempat makan ini sangat laris setiap harinya adalah karena tekstur dgingnya yang empuk dan tidak alot saat di makan. Jadi sate shinta ini merupakan salah satu destinasi wisata kuliner yang patut kalian coba gaes saat berlibur ke puncak.

5.    Foresthree

Destinasi wisata kuliner terakhir yang bisa kalian coba saat kalian ada di bogor utara adalah foresthree. Resto yang satu ini sangat cocok sekali untuk kalian yang menyukai makanan modern dengan harga yang terjangkau. Konsep restonya juga sangat unik loh gaes, didalam resto ini terdapat sebuah pohon buatan yang tentunya instagramable banget nih buat kalian yang suka sekali foto selfie. Pemandangan luarnya pun sangat menarik karena langsung menghadap pegunungan yang menimbulkan hawa sejuk tentunya. Pokoknya ngga bakalan nyesel deh kalau kalian pergi ke resto yang satu ini.

Itu tadi gaes 5 wisata kuliner di bogor utara paling recomended yang bisa kalian cobain dan beberapa wisata lainnya bias cek di artikel ini https://www.cekaja.com/info/daftar-tempat-wisata-kuliner-enak-di-bogor-dengan-harga-murah/. Tentu saja sebenarnya masih banyak lagi si beberapa wisata kuliner yang ada di bogor utara tetapi ngga bisa aku sebutin satu persatu. Semoga bermanfaat.

Rabu, 11 Desember 2019

Kuliner di Banda Aceh yang Murah

Menikmati wisata kuliner di Banda Aceh tentunya akan menjadi hal yang tak terlupkan. Berikut ini kami sajikan informasi mengenai Kuliner di Banda Aceh yang Murah.

Yuk Lirik Kuliner di Banda Aceh yang Murah

credit: pixabay
 
Sie reuboh

Makanan Aceh yang satu ini berupa olahan daging sapi yang direbus beserta bumbu khas Aceh yang legendaris. Rasa dagingnya yang empuk berpadu dengan aroma bumbunya akan semakin menggugah selera makan Anda. Sie Reuboh diolah bersama gapah yang diberi bumbu cabai rawit, cabe kering, cabai merah, garam, dan kunyait. Ketiga jenis cabai tersebut digiling namun sengaja masih dalam keadaan kasar agar dapat lengket di permukaan dagingnya. Setelah air rebusannya matang dan gapahnya kering, daging ini akan dibiarkan dalam belanga selama kurang lebih satu malam. 

Saat esok hari telah tiba, daging kembali dipanaskan sehingga gapah yang membalut daging akan ikut meleleh, setelah itu cuka enau dan air disiramkan dan dibiarkan meresap ke daging hingga kering dan didapat daging yang empuk. Makanan ini dapat bertahan selama berbulan-bulan . sie reubah masih dapat diolah lagi menjadi aneka makanan lain seperti dibuat kuah asam keung, dijadikan rendang, abon, dan dimasak lemak. Anda dapat membelinya dengan harga mulai 30 ribu rupiah per porsinya.
Kuliner ini juga mudah Anda jumpai, salah satunya di rumah Makan Delima Baru yang terletak di jalan lintas Medan-Banda Aceh, Aceh Besar yang buka setiap pukul 10.00 hingga 16.00 

Cocomix Ice Cream desert

Berkumpul bersama orang terdekat tentunya merupakan hal yang sangat menyenangkan. Kuliner di Banda Aceh yang murah ini adalah pilihan yang pas jika Anda berkunjung ke Banda Aceh. Disini dijual es krim yang sangat lezat yang akan sangat disayangkan jika Anda lewatkan. Selain es krim, Anda juga harus mencoba mie terbang yang tak kalah lezatnya. Tekstur mie yang kenyal berpadu dengan bumbu yang kuat akan membuat lidah Anda ingin terus untuk  mencicipinya. 

Canai Mamak Kuala Lumpur

Tempat makan yang satu ini menyediakan aneka kuliner malaysia. Diantaranya Anda dapat menikmati roti canai yang sangat lezat saat disajikan bersama kuah kari ayam ataupun kari daging yang kental. Anda dapat mencoba canai dengan beberapa varian yaitu boom keju, kosong kari, coklat, srikaya, telor bawang kari, dan juga varian lainnya. Selain roti terdapat juga menu nasi diantaranya nasi lemak, nasi goreng, dan juga aneka olahan mie. Anda juga dapat menikmati aneka minuman seperti juice tomat, teh tarik, es millo tarik, dan lainnya dengan harga yang bersahabat yaitu sekitar 10 ribu hingga 35 ribu rupiah. Restoran ini dapat Anda jumpai di jalan Teuku Umar, no. 51 Setui, Banda Aceh.

Sate Matang dek Wan

Makanan ini disajikan dengan kuah kaldu yang sangat memanjakan lidah. Tidak seperti umumnya, sate khas yang satu ini  dihidangkan bersama nasi hangat. Dalam Kuah pelengkap terdapat daging dan juga tulang yang semakin melengkapi kelezatan sate matang. 

Mie Ayah

Tempat ini terletak di jalan Wendana, Lhong Raya, Banda Raya, Kota Banda Aceh, 23231. Tempat ini sudah ada sejak 25 tahun silam dan masih eksis sampai sekarang. Berbagai menu dapat Anda coba disini seperti kepiting dan juga martabak yang diberi bumbu rahasia yang diolah secara turun temurun. Tempat makan yang satu ini belum memiliki cabang dan masih murni dikelola oleh pemiliknya sendiri. Pada bagian depan tempat ini, Anda akan menjumpai kepiting hidup dan es batu yang berada pada sebuah kotak alumunium. 

Selanjutntya Anda juga Akan menjumpai tempat penggorengan yang sudah biasa digunakan untuk mengolah martabak aceh. Anda dapat memilih kepiting sendiri.  Setelah itu Anda akan menikmati mie Ayah yang disajikan bersama daging kepiting dan juga potongan daun bawang. Sensai gurih pedas dan juga perpaduan daging kepiting yang sedikit manis semakin melengkapi kelezatan kuahnya. Anda dapat membayar senilai 60 ribu rupiah untuk dapat menikmati hidangan yang satu ini. Masih tergolong dalam harga standar untuk makanan dengan cita rasa yang lezat.

Itulah beberapa informasi mengenai kuliner murah di Banda Aceh yang dapat Anda coba. Dapatkan informasi lainnya di https://www.cekaja.com/info/rekomendasi-wisata-kuliner-di-banda-aceh-dengan-harga-murah-mangat-taht/, semoga bermanfaat.


Selasa, 10 Desember 2019

Ngobrol dengan Pasangan Tentang Seks, Kenapa Harus Malu?

Lagi-lagi, saya mau cerita soal Vlognya Ussy dan Andhika. Hihi, dimaklumin yaaa, lagi suka sama vlognya mereka emang.

Beberapa hari lalu, mereka baru saja mendatangkan Mbak Zoya Amirin ke konten Basa-Basi mereka. Mbak Zoya Amirin adalah seorang seksolog. DI Vlog tersebut, beliau banyak membagikan pengetahuan tentang seksologi, khususnya dalam kehidupan rumah tangga.

credit: pixabay
Menurut Mbak Zoya, seks memegang peranan yang sangat penting dalam rumah tangga. Ketika kehidupan seks dalam sebuah rumah tangga berjalan baik, maka kemungkinan terjadinya konflik hanya berkisar 30%. Tapi ketika kehidupan seks dalam rumah tangga berjalan kurang baik, prosentase konfliknya berubah menjadi 70%.

Wow. Signifikan sekali kan berarti.

Saya jadi kepikiran sama beberapa hal, yang terkait tema ini.

Kalau seks dalam rumah tangga memegang peranan sepenting itu, artinya hal ini harusnya menjadi sesuatu yang dikomunikasikan dengan sangat baik bersama pasangan. Iya, kan?

Sayangnya, saya masih sering ketemu orang yang berstatus istri, masih merasa ngobrol tentang seks dengan pasangan merupakan hal yang tabu. Mereka masih sangat terikat budaya patriarki, yang merasa bahwa dia adalah semata objek penyaluran hasrat seksual suami. Akhirnya, mereka pasrah aja ketika merasakan ketidaknyamanan. Telan aja lah, ibaratnya.

Baca juga: Pentingnya Kencan dengan Suami

Akibatnya, banyak istri yang nggak enjoy ketika melakukan aktivitas biologis tersebut. Menganggap bahwa kegiatan tersebut semata-mata hanya untuk menggugurkan kewajiban. Dan yang kayak gini, yakin deh pasti nggak nyaman banget rasanya. Huhu.

Jujur saya beberapa kali bertemu dan ngobrol dengan istri yang mainsetnya seperti itu. Menganggap kegiatan seks adalah kegiatan super menjengkelkan, yang mereka lakukan semata-mata untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang istri yang wajib melayani suami.

Padahal harusnya kan enggak gitu. Seks dalam rumah tangga itu bukan hanya untuk suami, tapi juga untuk istri. Dua-duanya harus bahagia ketika melakukannya. 

Nah, gimana caranya biar dua-duanya -- baik suami maupun istri -- enjoy dan mendapatkan kebahagiaan melalui kegiatan tersebut? Lagi-lagi, kuncinya komunikasi. Nggak perlu malu, apalagi merasa tabu. Kan sama suami/istri sendiri. Bukankan suami/istri adalah pakaian bagimu? Kalau sama orang lain, itu baru wajib malu.

Nggak perlu ragu ngobrol tentang waktu, tempat, gaya, dll yang bikin nyaman atau bikin nggak nyaman dari masing-masing sudut pandang. Kalau ada yang kurang cocok, diskusikan dan cari jalan tengahnya.

Tapi tentu nggak bisa cuma salah satu yang membuka diri soal pentingnya komunikasi ini. Kalau istri, misalnya, mengungkapkan ketidaknyamanannya, lalu suami bersikap defensif dan langsung tersinggung, ya nggak akan ketemu titik tengahnya. Begitu juga sebaliknya.

Budaya patriarki memang membuat PR tentang tema ini lumayan berat sih. Masih banyak yang dengan saklek menganggap istri wajib melayani suami apapun kondisinya. Alhasil, banyak laki-laki yang memaksa istrinya, meskipun dalam kondisi lelah atau bahkan sakit. Padahal, kalau dalam Islam, selain istri punya kewajiban melayani suami, suami juga punya kewajiban untuk memperlakukan istri dengan cara yang ma'ruf (baik). Makanya, memang harus dua-duanya yang membuka hati dan pikiran. Nggak bisa salah satu saja.

Jika ternyata kalian adalah pasangan yang belum pernah diskusi dan ngobrol tentang tema ini, jangan  ragu untuk memulai. Siapa tau pasangan kalian bukannya nggak mau ngobrolin ini, tapi nggak tau gimana cara memulainya. Pastikan saja situasi dan kondisinya mendukung, dan jangan lupa cari cara ngajak ngobrol yang enak.

Karna dalam konteks rumah tangga, seks seharusnya bukan lagi hal yang dianggap tabu. Nggak perlu malu, selama obrolan yang diangkat memang bertujuan untuk menjadikan rumah tangga berjalan dengan lebih harmonis. Bahkan dalam Islam, ini merupakan bagian dari ibadah. Gimana mau melakukkannya dalam rangka beribadah, kalau kita terus-terusan dihantui rasa nggak nyaman dan keterpaksaan. Bukannya ibadah itu harus ikhlas? 😊