Minggu, 10 Maret 2019

Yo! Yogurt Untuk Kesehatan Pencernaan Anak

Katanya, setiap anak membawa tantangannya masing-masing untuk orangtuanya.

Ada yang makannya susaaaaah banget, tapi anaknya kalem dan gak sering tantrum.

Ada yang makannya gampang banget lhap lhep apa aja masuk, tapi susah banget adaptasi di tempat baru dan jadi susah tiap mau diajak ke mana-mana.

Dll.

Tidak terkecuali anak saya, Faza. Saya bersyukur sekali sejak bayi, dia termasuk jaraang banget sakit. Gak gampang kena batuk pilek. Makannya meski gak lahap banget, tapi gak pernah GTM berkepanjangan. Berat badan selalu naik sesuai harapan.

Tapi Faza memberi kami satu tantangan, yaitu tentang BAB-nya yang susah banget.

Ya, sejak bayi Faza punya siklus BAB yang kurang teratur. Kalau pas masih Full ASi sih gak masalah ya. Katanya gak BAB seminggu pun tidak perlu khawatir.

Tapi pas sudah mulai MP-ASI, kekhawatiran saya makin menjadi-jadi. Ditambah, saya pernah salah ngasih menu MP-ASI yang bikin Faza jadi sembelit. Akibat dari sembelit itu, Faza jadi ketakutan tiap mau BAB karna taku sakit. Huhu, sedih banget 😭

Saya harus selalu memastikan agar apa yang dia makan akan mendukung kelancaran BAB-nya dan memenuhi kebutuhan serat anak. Jujur saja ini tantangan banget untuk saya. Karna efek trauma pernah sembelit tadi, Faza jadi hobi nahan keinginan BAB, yang mana pastilah bikin pupnya jadi keras dan susah keluar.

Jadi, bagi Faza gak cukup hanya dengan dikasih makan sayur dan buah tiap hari agar BAB-nya lancar. Karna namanya anak ya, seberapa sih makan sayur dan buahnya? Apalagi Faza tipe anak yang jauh lebih suka minum dibanding makan.

Dari hasil baca berbagai artikel, konon Yogurt sangat baik untuk pencernaan anak. Ya sudah, cusss saya coba kasih Yogurt. Sedihnya, bebeberapa merk Yogurt saya cobakan ke Faza, dia gak doyan, karna asem. faza gak doyan asem 😭

Dari hellosehat.com dijelaskan, beberapa manfaat Yogurt untuk anak di antaranya adalah:
  • Membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh
  • Membantu mencegah masalah pencernaan
  • Membantu meningkatkan kesehatan tulang
  • Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi
Kalau baca manfaat di atas, sayang banget kan rasanya kalau Faza gak doyan Yogurt dan jadi gak bisa dapat manfaat tersebut 😢

Nah, waktu jalan-jalan ke supermarket dan lewat di deretan berbagai macam merk Yogurt, saya melihat Yo! Yogurt dari Heavenly Blush ternyata punya varian Yogurt  anak yang namanya Yo! Yogurt for kids. Langsung deh gak pake mikir panjang, masukin beberapa ke keranjang.


Logika sederhana saya sih, kalau memang varian ini khusus dibuat untuk anak, pasti rasanya juga disesuaikan dengan lidah anak. Apalagi ini dari heavenly blush gitu lho! Saya sudah sering minum, dan sukaaa banget.

Yang lebih menarik lagi, Yo! Yogurt for kids ini gak cuma 'yogurt doang', tapi juga mengandung serat sayur buah. Ada berbagai mcam pilihan varian. Yang kemarin saya beli adalah varian Banana-Berries-Broccoli dan varian Lyches-Spinach. Wow, menarik ya! Jadi gak cuma dapat manfaat baik Yogurt, tapi juga dapat manfaat serat sayur dan buah.

Lalu, Faza doyan gak?

Sempet deg-degan pas mau kasih ke dia, karna takut patah hati lagi kalo dia sampai gak doyan 😭

Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Dia doyan, YEAY! 😍

Bangun tidur langsung minta minum Yo! Yogurt 😂

Setelah minum Yo! Yogurt for Kids, paginya Faza ngeluh pengen BAB. Padahal baru sehari lalu lho dia BAB. itu cepet banget termasuknya, karna biasanya kalo belum tiga hari, dia gak akan mau ngaku pengen BAB -___-

Yah, walaupun bilang BAB-nya masih sambil merengek, karna efek trauma tadi. Setidaknya, kesehatan pencernaannya saya pastikan terjaga dulu dengan memenuhi kebutuhan seratnya. Tinggal yang selanjutnya saya harus mencari jalan keluar untuk menghilangkan trauma sembelitnya.

Jumat, 08 Maret 2019

#BincangKeluarga: Ajaibnya Fase Terrible Two

Dulu waktu Faza masih umur setahunan, lalu liat anak dua tahunan gampang banget cranky, saya 'tinggi hati'.

"Alhamdulillah ya, Faza kayaknya tipe anteng deh. Gak bakal cranky-cranky kayak gitu"

Begitu Faza menjelang usia dua tahun, saya seperti tertampar. ternyata Faza bukannya kalem, tapi kemarin-kemarin belum fasenya aja dia cranky heboh 😂
Saya harus terbangun dari ke-halu-an, dan menerima kenyataan bahwa ternyata ajaibnya fase terrible two itu memang ada 😃

Saya sih mending ya, cuma punya satu toddler. Satu aja kadang mumet. Gimana Ade yang 2 coba? Haha. Monggo baca sendiri kisah blionya.

Baca punya Ade:



"Terrible Two adalah suatu istilah yang diberikan untuk anak yang menginjak usia 2 tahun. Biasanya diberi istilah demikian karena pada usia ini anak memiliki karakteristik umum, seperti sering berkata 'tidak' karena dia nggak mau menuruti orang tua. Lebih sering marah terkadang sampai temper tantrum, memaksakan keinginannya, dan sebagainya," kata psikolog anak, Wikan Putri Larasati MPsi." (sumber: haibunda.com)

Emang se-ajaib apa sih masa terrible two?

Sini saya ceritain beberapa.

Suatu hari, Faza tiduran (belum tidur beneran) dengan posisi bantal yang menurut saya kurang nyaman buat lehernya dia. Ya naluri keibuan saya pasti akan membantu dia membenahi posisi bantalnya kan?!

Eh, dia ngamuk lho. Ngamuknya yang model nangis teriak-teriak gak terima gitu!

Saya dan ayahnya cuma bisa melongo dan heran. Ni bocah ngapa yak? 😂

Ajaibnya lagi, di fase ini anak udah punya mau, dan udah tau caranya memperjuangkan kemauannya dan menolak kemauan orangtuanya yang gak sesuai sama kemauannya sendiri.

Ya kalo kemauannya gak bahaya sih oke aja ya. Lha kalo bahaya dan dia ngotot?

Nah di bagian ini, kami orangtuanya diuji banget konsistensinya. Diuji juga kemampuan negosiasinya.

Gak jarang negosiasi berjalan alot dan berakhir dia tantrum. Tapi adakalanya pula kami menemukan titik temu alias win-win solution. Hehe.

Diuji konsistensinya karna, beneran deh, emosi anak di fase terrible two ini tuh terasa meledak-ledak banget. Dan menghadapi anak yang emosi, kalo kitanya juga lagi gak 'stabil' kondisi emosinya, yakin bakal nyerah.

Nyerah antara 'yaudah deh turuti aja apa kemauannya! Peduli amat sama peraturan awal', ATAU menyerah dengan cara emosi balik ke anak yang mana pasti akan bikin kondisi makin runyam.

Contohnya soal nonton youtube. Kami sepakat Faza dikasih nonton Youtube hanya hari sabtu dan ahad, itupun ada batasan waktunya.

Pernah suatu hari, klise lah, Faza minta nonton Youtube di luar waktu yang telah ditentukan. Ya kami bilang enggak. Dia nangis lah pasti. Tantrum. Yang kayak gini udah terjadi sekitar tiga kali.

Dan sekali di antaranya, kami menyerah dengan menuruti kemauan dia, karna kaminya lagi capek banget secara emosi. Selebihnya, kami bertahan untuk tidak mengijinkan.

Tapi itu sih masih mending ya, kalo dia punya keinginan dan keinginannya jelas. Lah, gak jarang juga tuh dia punya keinginan tapi tak tentu arah. Diajak mandi, bilang mau pake air hangat. Udah disiapin air hangatnya, eh ganti minta air dingin. Oke fine pake air dingin, ganti lagi mau mandi di kamar mandi atas. Udah diajak ke kamar mandi atas, eh bilang mau mandi bareng ikan yang mana ikannya ada di bak kamar mandi bawah. Kan semprul! 😂

Fiuuhh.

Intinya ya, punya anak yang ada di fase terrible two amat sangat butuh nafas yang panjang dan dada yang lapang. Dan satu lagi, ilmu penting banget sih untuk menghadapi fase ini. Karna kalo enggak kita pasti kelimpungan dan gak tentu arah harus gimana ngadepin si anak dan bisa jadi salah kaprah.

Maka pesan saya untuk kalian yang masih punya anak umur satu tahunan dan kalem, jangan pede dulu ngira selamanya mereka bakal sekalem itu 😄 Nikmati masa-masa manis itu, sebelum datang masa kalian harus sering-sering istighfar dan menghela nafas panjang 😅

Bagi buibu yang juga sedang menghapi fase terrible two-nya anak, yuk pelukan. Kita pasti bisa! 😃


Rabu, 06 Maret 2019

Perhatikan Hal Ini Saat Marah Pada Suami



Boleh yaa marah sama suami?

Boleh doooong. Namanya juga manusia.

Marah itu kan salah satu jenis emosi. Yang jika tidak disalurkan dengan baik, atau hanya dipendam, malah bahaya. Bisa jadi api dalam sekam.

Tapi catatannya, harus disikapi dengan cara yang tepat. Apalagi marah pada suami.

Karna gak jarang, masalah sepele bisa jadi sangat rumit dan besar, jika disertai amarah yang tidak disikapi dengan tepat.

Pernah gak, marah karna hal sepele ke suami, tapi karna kitanya langsung marah meledak-ledak, bukannya suami jadi sadar akan kesalahannya dan minta maaf, eh malah balik marah ke kita?

Maka dari itu, ada hal-hal yang harus diperhatikan saat kita sedang marah pada suami. Apa aja sih?

Yuk simak hal-hal di bawah ini yaa :)

1. Tenangkan Diri Dulu

Kalau lagi marah, hawa-hawanya udah mendidih di ubun-ubun dan siap meledak kan ya?

Eits, tapi tunggu dulu. Tunda dulu marahnya. Jangan langsung diledakkan.

Tunggu sampai kitanya agak tenang. Karna kalau masih mendidih gitu, pasti nanti marahnya luber ke mana-mana, jauh melenceng dari point utamanya. Dan ini fatal banget.

Kalau saya pribadi, kalau lagi marah sama suami, mending diam dulu aja deh. Menyingkir dari dia dulu sementara.

Bagi yang muslim, bisa menenangkan diri dengan baca ta'awudz dan istighfar, lalu duduk atau berbaring. Kalau masih gak tenang, coba wudhu.

2. Jangan Meluapkan Kemarahan Saat Suami Lelah

Kalau suami pulang kerja, lalu kita langsung nyerocos ngomel, yakin deh bukannya paham kenapa kita marah, dia pasti malah ikut tersulut kemarahan juga.

Marah itu gampang banget nular, terutama kalo sedang capek.

Jadi kalau maumarah sama suami, sedangkan suami lagi capek (misal, baru pulang kerja), ya biarin dia istirahat dulu sejenak. Duduk dan minum dulu.

Sedangkan kitanya, kalau sanggup ya bikinin teh anget. Kalau gak sanggup karna gondhok banget, ya menyingkir aja seperti di point satu. Hehe.

Biar apa? Lagi-lagi biar efek kemarahan kita enggak meluber ke mana-mana 😊

3. Jangan Marah di depan Anak

Ini pasri semua orangtua tau ya. Anak itu ibarat spons, yang menyerap segala sesuatu ke dalam ingatannya dengan baik. Apalagi kalo balita. Ingatan-ingatan itu akan punya andil besar untuk membentuk karakter, mental dan psikologisnya.

Apa gak sedih bayangin anak-anak kita punya endapan memori tentang ibunya yang marah-marah sama ayahnya?

Pasti gak pengen ya, Bu 😊

4. Jangan Marah di depan Orang Lain

Kita dan suami kita itu ibarat pakaian yang saling menutupi. Termasuk menutupi aib dan kesalahannya.

Kalau kita marah-marah di depan orang lain, itu sama saja kita sedang menelanjangi diri kita sendiri dengan cara mengoyak baju yang menempel di badan kita.

Iya. Gak cuma suami yang bakal kelihatan jeleknya di hadapan orang lain. Kita pun juga.

Jadi kalau lagi mau marah, pas hanya cuma berdua aja 😊

5. Ingat Kebaikan Suami

Ini pamungkas banget sih menurut saya.

Tiap lagi marah banget nget nget sama suami, pas lagi fase diem seperti di point 1 tadi, saya biasanya mengingat-ingat kebaikan-kebaikan suami.

Dan, voilaaa... bukannya pengen ngomel-ngomel, saya malah jadi senyum-senyum sendiri.

Misal pun marahnya belum benar-benar hilang, pasti kita akan marah dengan cara yang berbeda.


Yaaahhh, ngomong mah gampang1 Orang kalau pengen marah sih marah aja, yaaa. Mana inget macem-macem kayak gitu!

Bisa, Bu... pasti bisa! Tinggal kita mau berusaha dan berlatih nggak.

Iya sih, perkara memanajemen marah ini memang butuh latihan yang gak sebentar. Tapi pasti bisa kalau kita terus mencoba 😊

Apalagi kalau kita punya cita-cita besar untuk terus menjaga bahtera rumah tangga kita langgeng 😉

Point-point di atas adalah hal-hal yang memang selalu saya ingat, dan sudah pernah praktekkan. Dan, Alhamdulillah kemarahan saya jadi tersampaikan secara efektif. Suami jadi paham apa yang membuat saya marah, dan kita gak perlu jadi berantem gara-gara hal itu 😊

Yah, meskipun masih sering juga saya lepas kontrol. Yang penting gak berhenti untuk berlatih 😊

Kalian biasanya gimana saat sedang marah pada suami, Bu? Cerita dong 😃

Sabtu, 09 Februari 2019

Menyapih Faza dengan Cinta

menyapih dengan cinta


Hari ini usia Faza tepat 2 tahun. Kurang sbulan tapi. Hehehe.

Dan surprisely, Faza udah berhenti nenen!

Sejujurnya ini jauuhhh dari ekspektasi dan rencana yang saya punya.

Saat memasuki tahun 2019, bisa dibilang fokus utama saya untuk Faza memang adalah menyapihnya dengan cinta. Pokoknya gak pengen pake kebohongan-kebohongan semacam mengoles sesuatu ke niple biar dia ogah nenen. Atau yang lebih parah, pake cara yang umum digunakan orang kampung saya: datang ke 'orang tua' terus dikasih 'doa aneh-aneh' biar si anak 'lupa' sama nenen.

Gak mau, pokoknya gak mau! Kalau disuruh milih, saya jauh lebih milih Faza nenennya molor sampai 3 tahun aja daripada harus pake cara semacam itu.

Menyusui adalah hal yang pernah sangat saya inginkan. Hal yang saya mulai dengan derai air mata. Hal yang saya usahakan sepenuh jiwa sepenuh raga. Betapa gak relanya saya mengakhiri moment menyusui itu dengan cara kurang baik semacam itu. Maaf jika ada yang gak sependapat. Dunia memang terlalu luas untuk dibuat sepakat, kan?


Saya yakin dan percaya bahwa menyapih dengan cinta bukan hal mustahil. Pasti bisa!

Jadi, sejak Januari, saya mulai gencar sounding Faza tentang berhenti nenen. Saya bilang dia sudah besar, nenennya sudah mau habis (saya gak bohong, produksi ASI saya emang udah dikit banget). Maka, sebentar lagi dia sudah gak perlu nenen. Tapi ibu akan tetap sayang, tetap akan peluk dia meski udah gak nenen lagi.

Kalimat-kalimat itu saya ulang-ulang terus, sampai saya hampir bosen ngucapinnya. Hehe.

Emm, Sebenernya dari usia Faza 1,5 tahun saya sudah sounding dia hanya boleh nenen sampai usia 2 tahun. Tapi belum intens banget. Intensnya ya mulai Januari itu.

Lalu apakah langsung ngaruh?

Oh tentu tidak. Tiap saya sounding, dia sih selalu tampak mendengarkan dengan seksama dan jawab iya-iya. Tapi begitu waktunya dia minta nenen dan saya nge-test dengan bilang, 'Lho, kan sudah besar, harusnya sudah gak nenen, kan?', tetep aja dia masih cranky 😂 

FYI, meski kalo saya tinggal kerja Faza minum ASIP-nya pakai dot sejak bayi, Alhamdulillah dia gak bingung puting. Bahkan dia gak mau sama sekali minum pakai dot kalo ada saya. Sejak bayi. Dan itu sesuai sama yang saya sounding-kan ke dia sejak bayi.


Dan sampai awal Januari, frekuensi dia nenen terhitung masih tinggi tiap lagi sama saya. Terutama malam. Dia minimal nenen 4x. Meski nenennya kadang cuma buat 'nenangin diri' aja.

Memasuki minggu ke-3 sejak saya intens sounding tentang berhenti nenen, secara tiba-tiba frekuensi dia nenen berkurang sekali. Malam paling cuma 2 x. Lalu tiba-tiba jadi sekali.

Tiap bangun dia masih selalu latah bilang, 'Ibuuukk, nenen'.

Lalu seringnya saya jawab, 'nenen? kan nenennya kosong?'

Dia balik tanya, 'Ocong?' -- kayak sambil mikir. Lalu dia berubah pikiran minta susu pakai gelas.

Rencana awal saya, mulai masuk bulan Februari, saya akan bener-bener gak akan kasih dia nenen untuk melatih dan membiasakan. Karna kata teman-teman kantor, butuh waktu minimal sebulan untuk bikin anak bener-bener terbiasa tanpa nenen.

Bayangan saya, prosesnya akan penuh drama. Semacam dia minta nenen, gak saya kasih, lalu dia nangis jejeritan malam-malam.

Ternyata sama sekali enggak kayak gitu, Masyaa Allah 😭😭😭

Dia tiba-tiba seperti dewasa sekali. Tiap keceplosan minta nenen, sebelum saya bilang apa-apa, dia seolah inget sendiri dan menggumam, 'nenen ocong?' -- dan lalu minta susu.

Terharuuuu 😭😭😭 Masyaa Allah, Alhamdulillah.

Sampai sekarang dia kadang masih latah minta nenen, tapi frekuensinya sudah sangat berkurang. Kalo dia keceplosan minta, tetep akan saya sodorin sambil bilang, 'lho, lupa ya? nenennya kan kosong ya? Mau dicoba?'

Lalu sama seperti biasanya, dia menolak sendiri dan beralih minta susu.

Saya gak ingin membanggakan anak saya berlebihan. Saya tau ini karna Allah memberi kemudahan. Dan mungkin juga karna Faza memang tipe anak yang bertemperamen 'slow to warm up', jadi cenderung mudah beradaptasi dengan situasi baru setelah berkali-kali dikenalkan.

Tapi saya cuma ingin bilang ke semua ibu yang sedang akan menyapih anaknya.

Saya mau bilang: menyapih dengan cinta itu bukan hal mustahil. Kita pasti bisa. Kuncinya percaya. Percaya bahwa kita bisa, dan percaya bahwa anak kita juga bisa. Karna menyapih bukan hanya tentang anak kita, tapi juga diri kita sendiri.

Jangan menyerah dan sedih kalo ternyata prosesnya gak mudah. Berdoa dan jangan bosan-bosan sounding. Kita pasti bisa 😊

Selamat meng-ASI-hi dengan penuh kasih, dan menyapih dengan penuh cinta 💕

Minggu, 27 Januari 2019

Review Murottal Box Bubby

Sebenernya saya janji mau posting review murottal box bubby ini minggu lalu sama teman. Tapi apa daya, gimana mau posting kalo nyicil nulis pun belum. Hihi.

Baiqlah, mari kita mulai cerita tentang murottal box Bubby ini.



Saya membeli murottal box Bubby ini melalui sistem menabung, yang ditawarkan sama ownernya. Jadi bukan arisan ya. Kalo arisan kan setelah daftar, akan ditentukan bulan apa kita dapet barang. Bergilir.

Kalo menabung, kapanpun kita lunas, ya barang akan dikirim.

Nabungnya dengan cara transfer ke rekening yang ditentukan toko bubby. Harga barangnya pun sama dengan jika kita membeli cash.

Kenapa gak nabung sendiri aja di rumah? Yeahh, tau sendiri lah kalo nabung di rumah itu banyak godaannya.

Pertama tau Murottal Box Bubby ini karna saya follow ibunya, atau sering disapa dengan Umami @damayantiku. Awalnya beliau ini sering sharing tentang segalaaaaa macem soal dunia parenting. Dan sharingnya pun mayan anti-mainstream. Jadi dulu hampir tiap hari saya mantengin IGS beliau. Sekarang mah enggak, lelaaahhh aku lelaaaah. Haha.

Nah, berawal dari sharing soal dunia parenting itu, lama-lama si Umami menjual juga segala perlengkapan pendukung dalam pengasuhannya. Mulai buku, baju, mainan, flash card, sampai Murottal Box ini.

Sebenarnya, mas suami agak keberatan waktu tau saya mau beli murottal box ini. Karna Faza sudah punya Hafidz Doll. Kan ya sama aja, katanya. Iya sih, secara garis besar memang sama. Tapi tetep ada bedanya.

Langsung aja yuk ah bahas fitur-fitur yang ada di Murottal Box Bubby ini.

Murottal dari Banyak sekali Qori' yang berbeda-beda

Jadii, qori'-nya gak cuma satu. Sepuluh aja lebih. Jadi kita akan dengar beragam cengkok ngaji yang semuanya indah dari bermacam-macam qori' tersebut.

Murottalnya Gak Hanya dari 1-30 Juz

Lhaahh... kan Al Qur'an memang hanya terdiri dari 1-30 Juz?

Hihi. Maksudnyaaa... Selain murottal yang urut dari Al Fatihah sampai An-Naas, di Murottal Box Bubby ini juga ada Murottal per surat yang dibacakan oleh beberapa qori berbeda, murottal per halaman dan murottal anak juz 'amma.

Ada juga murottal surah-surah pilihan semacam Al Khafi, Al Waqi'ah, dll. Qori'-nya juga qori-qori pilihan semacam Fatih Seferagic, Muzammil Hasbalah, dll. Untuk yang sedang menghafal Qur'an, disediakan juga murottal per ayat yang dibacakan oleh Misyari Rasyid Al-Afasy.

Ada Dzikir Pagi-Petang dan Ayat-ayat Ruqyah

Nah, ini nih justru yang jadi motivasi utama saya pengen banget beli Murottal Box Bubby ini.

Kan bisa download?

Iya sih bisa banget. Tapi sini anaknya emang kebangetan malesnya kalo suruh download-mendownload gitu.

Ada 12 Kompilasi Adzan

Ini suka bikin kaget sih 😂 Jadi kan kalo malem biasanya saya hidupin, terus stel di bagian ayat-ayat ruqyah. Nahh, kompilasi adzan ini letaknya beberapa sesion setelah ayat ruqyah ini.

Pernah nih, saya buru-buru bangun gara-gara kaget denger adzan. Kirain adzan subuh. Ehhh ternyata masih jam dua malem. Adzannya dari Murottal Box itu. Haha.

Ada Hadist Arba'in

Ada Kompilasi Doa Sehari-hari

Ada Ratusan Kajian Islami dan Tanya-Jawabnya

Ini sih yang paling WOW. Daripada dengerin kajian selalu pakai youtube kan?

Atau mau download sendiri segitu banyak? Saya sih NO ya. Hihi.

Yang paling penting, Ada Daftar Isi-nya LENGKAP

Jadi, gak bakal bingung kalo mau milih pengen dengerin apa.


--------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari ulasan fitur apa saja yang ada di Murottal Box Bubby, yang udah tau fitrunya Hafdiz Doll pasti langsung tau yaa apa bedanya.

Kalo disingkat, kelebihan hafidz doll selain murottal adalah kisah-kisah nabi dan lagu anak-anaknya. Sedangkan murottal box punya kelebihan di dzikir pagi-petang, ayat-ayat ruqyah syar'iyah dan ratusan kajian dengan berbagai tema.

Padahal mereka punya harga yang jauuuhhhh banget selisihnya. Murottal Box Bubby ini saya beli dengan harga 350.000 belum ongkirnya.

Tapi ya gak adil juga sih kalo bandingin sama Hafidz Doll. Hafidz Doll kan produk eksklusif ya. Kalo Murottal Box Bubby ini sebenernya produk speaker partablenya Advance. Terus dikasih sticker sama pihak Bubby yang jadi terkesan eksklusif.

Lalu untuk isi-isinya ditaruh di sebuah Memory Card. Dan itupun hasil download-download di internet. Tau sendiri lah ya yang namanya hasil download kan kualitasnya kadang beda-beda. Terutama di bagian kajiannya.

Kalo untuk kualitas suara yang dihasilkan speakernya sih oke banget menurut saya.

Gimana caranya beli murottal box Bubby ini?

Pantengin IG @inibubby aja yaaa.

Jadi pilih mana murottal box atau hafidz doll?

Kalo saya sih pilih dua-duanya. Haha.

Sekian.

Jumat, 18 Januari 2019

Perhatikan Ini Saat Bepergian Bersama Anak dengan Transportasi Umum

Meskipun gak hobi traveling, bukan berarti saya sama sekali gak mau traveling. Tetep pengen lah sesekali.

Apalagi sejak punya anak lelaki. Motivasi utama keinginan traveling saya gak hanya soal ingin refreshing, melainkan karna ingin memberikan pengalaman masa kecil sebanyak-banyaknya pada Faza. Apalagi dia anak lelaki.

Faza itu bisa dibilang agak lembek untuk ukuran anak lelaki. Nurun dari saya. Hehe. Lembek maksudnya bukan kecewek-cewekan ya. Tapi cenderung takut kalo di lingkungan baru. Butuh waktu adaptasi yang lumayan lama sama kondisi dan suasana baru. Dan menurut saya, hal itu bisa diubah pelan-pelan. Contohnya dengan sering-sering mengajak diaa bertemu orang baru atau ke pusat-pusat keramaian. Terbukti cara itu lumayan efektif lho. Kemampuan adaptasi Faza berkembang pesat sekarang ini.

Nah, traveling juga menurut saya bisa jadi sarana pembentukan mental buat dia. Karna kondisi yang serba tidak terduga saat traveling konon bisa membentuk seseorang mempunyai mental dan pribadi yang lebih kuat dan stabil. Dan jujur saja, kondisi serba tidak terduga itu juga yang bikin saya gak terlalu hobi traveling. Hehe.

Jadi, selain untuk mendidik Faza, saya juga bisa sekalian mendidik diri saya sendiri 😂

Tapi, pengertian traveling dalam kamus saya gak selalu mengunjungi tempat wisata tertentu. Sekedar berkunjung ke rumah saudara di luar kota pun sudah termasuk traveling bagi saya.

Dan karna tujuan utama travelingnya adalah untuk memberikan sebanyak mungkin pengalam seru untuk masa kecil Faza, saya lebih suka mengajaknya bepergian dengan transportasi umum.


Sejauh ini, saya sudah pernah mengajak Faza berkunjung ke rumah mbah buyutnya di Cirebon dengan Kereta Api. Lalu jalan-jalan ke Bandung naik Bus. Kapan-kapan saya ingin sekali mengajaknya naik travel atau Bus ke Purworejo - rumah Pakdhenya Faza, lanjut naik kereta api ke Jogja. Lebih seru lagi jika dilanjut naik travel Jogja Jakarta kali yaaaa untuk menguji ketahanan mental dan fisik saya 😂 

Yang jelas, mau pergi ke manapun bersama anak, apalagi naik transportasi umum, harus benar-benar memperhatikan beberapa hal. Agar selama perjalanan di samping mendapatkan pengalaman seru, anak juga tetap merasa nyaman.

Apa aja yang harus diperhatikan?

  • Pastikan transportasi umum yang akan kita  tumpangi adalah jenis transportasi umum yang aman dan nyaman. Jadi misal naik bus, yang jangan bus ekonomi lah untuk ke luar kota dengan jarak yang lumayan jauh. Gak perlu sampai kelas bisnis sih. Pokoknya minimal ber-AC dan busnya nyaman.
  • Pastikan kebutuhan anak tersedia sewaktu-waktu saat dibutuhkan. Macam susu, diapers, tisu basah dan kering, cemilan, dll harus sudah disiapkan. Gak ada istilah lupa. Bayangkan apa yang terjadi jika anak minta susu lalu kita gak bawa?!
 Baca juga: Yang Harus dibawa Saat Bepergian Bersama Bayi
  • Sounding dari jauh-jauh hari. Selalu bilang minimal sebulan sebelumnya ke anak jika akan mengajaknya perjalanan menggunakan transportasi umum. Saya selalu melakukan ini karna sangat percaya manfaat sounding. Biasanya saya akan bilang gini, "Za, besok kita mau ke bla bla bla naik bus loooh. Seruu, Faza pasti suka! Nanti Faza harus kooperatif dan gak boleh rewel ya. Kalo rewel nanti ganggu penumpang yang lain. Soalnya kan yang naik bus orang banyak, bukan cuma kita!". Diulang-ulang terus ngomong seperti itu sampai hari H keberangkatan.
  •  Pastikan kesehatan anak dalam kondisi yang baik. Iya lah tentu saja. Kalo lagi kurang sehat ya gak usah cari penyakit tambahan. Di rumah aja udah. Hehe.

4 hal di atas selalu saya perhatikan saat hendak bepergian bersama anak dengan transportasi umum. Dan Alhamdulillah sejauh ini 4 hal tersebut membuat perjalanan kami nyaman. Yang paling jauh saat perjalanan ke Bandung naik bus, Faza ceria sekali selama di jalan. 
 
Kalau buibu yang lain, apa saja sih yang diperhatikan saat akan bepergian bersama anak dengan transportasi umum selain 4 hal di atas? Share yaaa, siapa tau masih ada yang saya lupa 😊

Jumat, 11 Januari 2019

#BincangKeluarga: Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuannya (2)?

Mana versi pertamanya kok tiba-tiba udah yang ke-2?

Balada Ibu Mertua VS Menantu Perempuan (1) ada di blog rosasusan.com. Tulisan itu saya tulis di awal-awal ngeblog. Saat saya belum menikah dan otomatis belum punya mertua lah. Haha.

Bisa dibilang itu tulisan pertama yang mengundang pembaca. Dan herannya, tulisan itu mengundang banyaaaakkk sekali curhatan dari para pembaca.

Ini salah satu curhatan ini tulisan tentang ibu mertua vs menantu perempuan (1)

Se-complicated itu kah hubungan ibu mertua dan menantu perempuan? Hahaha. Minggu lalu saya di Wa sama Ade. Dia ngajak nulis bareng soal tema mertua ini. Buru-buru saya iya-kan karna kayaknya seru aja ngobrolin soal ini lagi, setelah saya ngalami sendiri lika-liku hubungan dengan ibu mertua.

Sayangnya, minggu ini saya sibuk bangettt di kantor 😭 Jadi baru bisa posting hari ini, sementara Ade udah posting kemarin.



Baca punya Ade:


Salah satu sahabat saya bilang, dia salu banget karna saya masih bisa bertahan sampai sekarang tinggal seatap dengan mertua. Gak bisa bayangin kayak apa rasanya, dia bilang. Ya gak usah dibayangin lah, dijalanin aja! 😂

Baca juga: Tinggal Sama Mertua

Ya gimana, saya gak setega itu memaksa suami untuk meninggalkan orangtuanya hanya berdua di rumah, dengan usia yang sudah memasuki senja.

Lagipula, rasanya tinggal seatap dengan mertua rasanya ternyata gak semenyeramkan itu. Gak semenyiksa itu. Setidaknya bagi saya.

Saya kadang mikir. Kok saya ngerasa fine-fine aja ya tinggal sama mertua (meski ya gak berharap selamanya juga lah), sementara di luaran sana, banyaaakkk sekali yang bilang tinggal sma mertua itu bak neraka?! Karna mertua saya memang baik, atau sayanya aja yang kelewat cuek dan kalem? Ahaha. Entahlah.

Pernah gak ada konflik sama mertua? Tentu saja pernah. Meski Alhamdulillah, bukan konflik besar dan bukan konflik terbuka.

Setelah hampir tiga tahun tinggal seatap dengan mertua, saya mulai bisa memetakan beberapa penyebab yang biasanya bikin hubungan ibu mertua VS menantu perempuannya jadi memanas.

Mencintai dan Dicintai oleh Lelaki yang Sama

Ini niiihh! 😅

Sumber konflik utama dengan ibu mertua seringkali karna ini. Karna kita mencintai dan dicintai oleh satu lelaki yang sama. Yaitu suami kita, yang sekaligus adalah anak lelakinya.

Adakalanya kita men-treatment suami kita dengan cara A -- yang menurut kita udah paling baik. Kan kita istrinya ya. Pasti merasa tau apa yang baik untuk suami kita.

Eh ternyata menurut ibu mertua cara itu kurang oke. Dia lebih suka cara B. Tentu saja ibu mertua pun merasa jauh lebih tau anak lelakunya dibanding kita yang kenalnya baru beberapa tahun belakangan.

Dueerrr! Pecahlah konflik 😂

Apalagi kalau kita dan mertua punya kepentingan yang berbeda di waktu yang sama. Dua-duanya pengen dianter oleh suami/anak lelakinya. Siapapun yang 'dinomorduakan' biasanya akan termehek-mehek cemburu.

Saling Memendam Perasaan

Udah macam anak ABG aja yaa -- memendam perasaan 😂

Yah gimana lagi. Ibu mertua VS menantu perempuan itu makin rumit urusannya karna mereka sama-sama perempuan yang kebanyakan hobi kode-kodean, main ilmu kebatinan dan seringkali merasa 'dia harusnya tau tanpa aku harus ngomong'.

Sebenernya, gak cuma sama ibu mertua kita sering berkonflik. Sama ibu kandung sendiri juga pasti pernah ada konflik-konflik kecil atau perbedaan pendapat kan?

Bedanya, kalo sama ibu kandung sendiri mah ya gak cocok dikit langsung bantah.

Kalo sama mertua? Kebanyakan pada dipendem, grundel dalam hati,, nangis, atau marah-marah ke anak laki-lakinya a.k.a suami kita kan? 😅

Nah, makin sering mendem, biasanya akan jadi akumulasi perasaan negatif biasanya. Jadi merasa gak nyaman sama mertua, atau bahkan antipati. Huhu. Jangan yaa, nak.

Perbedaan Sudut Pandang dan Latar Belakang

Salah satu image negatif tentang ibu mertua yang banyak diperbincangkan adalah 'suka ikut campur urusan rumah tangga kita'. Itu sudut pandang kita.

Sudut pandang mertua kita bisa jadi beda. Bisa jadi maksud beliau baik. Ingin rumah tangga anaknya jauh lebih baik, misalnya.

Belum lagi soal perbedaan latar belakang keluarga. Kita dididik oleh orangtua kita dengan cara A. Sedangkan ibu mertua mendidik anak-anaknya dengan cara B.

Kalo disatukan, jelas akan butuh banyaaakkk sekali proses adaptasi.

Baca juga: Keluargaku, Keluargamu

Contohnya. Ibu mertua saya tipe orang idealis. Bahkan untuk hal sesepele menjemur baju. Jadi, suami saya pun terbiasa menjemur baju dengan sangat sistematis, ada pakem-pakem tertentu yang harus dipatuhi.

Sedangkan saya dibesarkan oleh ibu yang santaiii kayak di pantai. Pokoknya yang penting udah dijemur aja pokoknya 😂

Nah, saat suatu hari (saat masih pengantin baru) yang kebagian tugas menjemur baju adalah saya. Dan akhirnya kami sama-sama shock. Ibu mertua saya shock karna... OMG, kenapa jemur bajunya seberantakan ituuuu! Sedangkan saya shock karna gak habis pikir jemur baju aja ada SOP-nya 😂

Lucu juga masa awal-awal adaptasi kalo diinget sekarang 😆

Tapi dear... para menantu perempuan. Jangan pernah lupa ini!

Bagaimanapun juga, beliau tetaplah ibu mertua kita. Ibu yang melahirkan seorang lelaki yang kini menjadi orang terdepan yang menanggung hidup kita.

Kalau kita bilang kita mencintai suami kita karna bla bla bla segala sifat baiknya, jangan lupa, itu semua adalah HASIL DIDIKAN ibu mertua kita.

Jadi, ayolah... konflik apapun sama mertua, selesaikan baik-baik.

Iya sih, mungkin memang ada jenis konflik yang gak mudah diselesaikan. Saya gak mau sok-sokan menasehati karna -- Alhamdulillah -- saya dikaruniai ibu mertua yang baik. Tapi yang jelas, tetep aja, please... jangan pernah menyuruh anak lelaki mereka (suami kita) -- dengan sengaja ataupun gak sengaja -- untuk berhenti berbakti sama mereka.

Please, JANGAN 😭

Menempatkan Diri Sebagai Ibu Mertua


Kalian mungkin gak percaya, saya nulis bagian ini sambil menahan tangis.

Sejak saya punya Faza, saya bisa dibilang jadi sering membayangkan perasaan ibu mertua saya.

Saat dia lagi tidur, saya bayangin. Anak yang saat ini saya belai-belai sepenuh hati, saya sayang sepenuh jiwa, yang selalu berusaha saya prioritaskan di atas segala kepentingan, suatu hari nanti akan punya orang lain di sisinya. Yang bisa jadi akan lebih ia prioritaskan dibanding saya -- seperti halnya adakalnya suami saya pun begitu.

Saya membayangkan, suatu hari saya meminta padanya, "Nak, antarkan ibu ke pasar", lalu ia menjawab, "Duh, Bu... gak bisa. Aku mau anter istriku".

Dan rasanya, hal-hal semacam itu pasti gak mudah bagi ibu mertua kita.

Maka, ayooo bantu suami kita untuk lebih berbakti pada ibunya. Buktikan bahwa adanya kita di sisi anak lelakinya, gak akan mengurangi apapun dari beliau -- terutama kasih sayang anaknya 😊

Jumat, 04 Januari 2019

Review Macam-Macam Tipe Gendongan

Jaman sekarang yaa, apa aja ada teorinya. Tidak terkecuali soal cara menggendong anak. Jaman orangtua kita, mana ada sih. Gendong ya gendong aja. Model gendongannyapun ya itu-itu aja. Paling populer tentu saja kain panjang alias jarik itu.

Sekarang?

Wuih, model gendongan banyak bangetttt! Ada hipseat, carrier, wrap, geos, sling, dll. Apalagi merk gendongan, jauuhh lebih banyak lagi. Yang harganya sampai jutaan pun ada.

Berbagai model gendongan itu kemudian diiringi dengan menyebarnya ilmu menggendong baru yang membuat beberapa orang terperangah. Karna cara menggendong yang katanya paling sesuai dengan teori kesehatan ternyata beda jauh dengan yang selama ini hampir semua orang tua kita praktekkan dulu. Bahkan, cara menggendong seperti itu justru dikecam oleh mereka selama ini.

Yup, jangan salah, menggendong ternyata juga ada ilmunya. Sesuatu yang gak pernah sekalipun terlintas di benak saya sebelum menikah dulu.

Sebagai mamak milenial, jelas dong saya merasa harus belajar tentang ilmu menggendong. Jadi, menurut teori, menggendong yang benar itu kaki anak harus berposisi M-Shape. Biar jelas, lihat gambar di bawah ini aja ya:



Nah, dari teori M-Shape itu, maka berlomba-lombalah para produsen gendongan untuk menciptakan gendongan-gendongan dengan embel-embel M-Shape. Padahal, sebenernya sih pake kain jarik panjang itu aja juga bisa bangettt gendong dengan posisi M-Shape. Kalau mau belajar lebih detail soal menggendong, silakan kepoin tentang komunitas Indonesia Babywears yang udah terkenal banget.

Tapi lagi-lagi, karna mamak impulsif, ya terpancinglah untuk membeli beberapa model gendongan. Sebenarnya, fokus utama saya saat membeli gendongan justru bukan tentang M-Shape atau enggak sih -- karna sejujurnya, saya kurang punya nyali untuk menggendong Faza (sebelum usia setahun) dengan posisi seperti itu. Takut disambit mbah-mbahnya 😂

Fokus utama saya adalah pada gendongan yang ngasih iming-iming gak bikin capek! *mamak lemah* 😅

Nah, langsung aja yaa review macam-macam tipe gendongan yang dulu saya beli. Semoga bermanfaat untuk yang lagi galau milih tipe gendongan 😊

1. Gendongan Tipe Jarik

Ini saya gak beli sih. Melainkan sudah dipersiapkan oleh Mbahnya Faza tentu saja. Bagi orang kampung saya, hukumnya seolah wajib punya gendongan jarik 😂

Jujur ya, saya paling gak bisa pake gendongan jarik ini. Baik pakai cara konvensional seperti yang selama ini dipraktekkan sesepuh-sesepuhku, maupun pakai cara seperti yang diajarkan para emak-emak Indonesia Babywear.

Entah ya, mlorot-mlorot gak jelas gitu. Yang paling bikin grogi, kalau pergi-pergi sama bocah dengan gendongan ini, terus sempet nglepas gendongannya, grogi bangetttt pas mau pakai ulang. Apalagi kalau gak ada yang bantuin.

Seingat saya, keberhasilan saya makai gendongan jarik ini tanpa bantuan dari orang lain, angkanya gak lebih dari jumlah jari sebelah tangan.😂

Kelebihan gendongan tiper jarik:

Bisa sekalian buat selimut untuk anak, terutama kalau pas bepergian. Bisa M-Shape

Kekurangan gendongan tiper jarik:

Ribet, ofkors.

2. Gendongan Tipe Ring Sling

Ini gendongan yang paling sering saya pakai untuk menggendong Faza. Karena paling simpel, dan saya bisa makai sendiri tanpa bantuan. Itupun setelah usia Faza 6 bulanan. Sebelumnya tetep aja butuh bantuan. Betapa dodolnya hamba 😂

Cumaaa, kalo gendongnya dalam jangka waktu lumayan lama, misa pas jalan-jalan di mall gitu, dijamin, pundak kayak mau patah. Dan yang bikin gak enak banget, cuma pundak sebelah. Apalagi kalo nempatin ring-nya gak pas, wuih, bikin sakit banget itu.

Kelebihan gendongan tipe ring sling:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe ring sling:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit.

3. Gendongan Tipe Wrap (Hanaro Baby Wrap)

Hanaroo Baby Wrap ini merupakan gendongan impian saya, sejak sebelum nikah 😂

Jadi ceritanya, suatu hari saya melihat foto teman kuliah saya yang udah lebih dulu nikah dan punya anak di medsos. Di foto itu, dia lagi gendong anaknya pakai baby wrap. Saya langsung searching dengan keyword "gendongan kaos yang seperti kangguru" 😁 Mana tau saya saat itu kalau namanya ternyata wrap.

Sejak saat itu saya bertekad, besok kalau punya anak, saya harus punya gendongan tipe wrap. Kayaknya nyaman banget gitu.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saya dibeliin ibu mertua saya 😍

Tapi baru berani makainya saat Faza sudah usia 7 bulanan kalau gak salah. Karna kalau dipakai sesuai aturan, para sesepuh pada mencak-mencak. Huft.

nyari foto saya gak nemu, akhirnya pasang foto paksu aja deh 😂

Beneran enak sih gendong pakai gendongan tipe wrap ini. Nyaman dan gak terlalu capek karna bebannya dibagi di tiga titik, yaitu dua pundak dan pinggang. Cuma kalau gendongnya lama ya tetep aja capek sih 😅

Cuma, ribetnya gak nahaaan. Harus diubet-ubet gitu kan. Dan kalau pas ngubet-ubetnya gak pas juga akan gak nyaman seterusnya selama gendong.

Tapi sekarang udah ada gendongan tipe wrap yang instan yaa. Ntar deh kalo anak kedua, Insya Allah 😊
Kelebihan gendongan tipe wrap:

Beban dibagi di tiga titik, jadi gak capek. Bisa M-Shape.

Kekurangan gendongan tipe wrap:

Ribet banget pakainya. Dan bikin bentuk badan bagian belakang terekspos banget.

4. Gendongan Tipe Geos/Gendongan Kaos (My Baby Pouch)

Ini gendongan terakhir yang saya beli di era Faza. Laper mata dan impulsif, gara-gara beberapa teman posting foto dan mention akunnya My Baby Pouch. Langsung deh, kepo berujung khilaf 😂

Lagi-lagi saya kepincut karna kesan 'mudah' yang ditawarkan. Ini kan mirip ring sling ya, cuma dari kaos. Jadi bayangan saya akan nyaman sekali, karna gak ada ring yang akan bikin sakit.

Ternyata memang enak sih. Jauh lebih nyaman untuk pundah. Tapi ya lagi-lagi, bebannya hanya tertumpu pada pundak sebelah. Dan karna Faza gendut, jadi agak sesak gitu sih rasanya.

Itu Fazanya lagi tidur. Tuu kan saya gak berani M-Shape makainya 😅

Gendongan Tipe geos ini merupakan gendongan kedua yang paling sering saya pakai setelah ring sling.

Kelebihan gendongan tipe geos:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe geos:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit. Bisa sekalian buat selimut.

Sebenernya, saya ngebet satu tipe gendongan lagi. Yaitu tipe Carrier. Tapi gak dibolehin sama pak suami dengan beberapa alasan. Pertama, saya jarang banget gendong Faza, karna lebih milih stroller. Kedua, saat itu Faza udah hampir jalan. Jadi menurut beliau gak perlu deh beli gendongan lagi karna pasti akan jarang terpakai.

Yasudah sebagai istri sholihah tentu saja saya nurut 😂

Tapi tetep menyimpan impian untuk beli carrier kalau anak kedua nanti sih. Hehehe.

Kesimpulan saya soal berbagai tipe gendongan yang saya beli adalah: gak ada gendongan yang bener-bener gak bikin capek. Mau semahal apa, sebagus apa, kalau gendongnya dua jam ya tetep aja bakal capek lah. Apalagi kalau anaknya montok kayak Faza 😂

Kalau kalian paling suka gendongan tipe apa buibuuu??

Jumat, 21 Desember 2018

Stimulus yang Tepat Untuk Perkembangan Motorik yang Optimal

Ah, membesarkan anak sih gak perlu teori. Nanti malah pusing sendiri. Pake feeling aja.

Pernah dengar pernyataan semacam ini? Saya pernah.

Yang saya pengen tanya, yakin feeling-nya akan selalu benar?

Yaiya sih, membesarkan dan mendidik anak kalau harus selalu sama plek sama teori pasti bakal pusing banget. Tapi bukan berarti kita gak perlu belajar tentang teori-teori pengasuhan.

Apalagi anak-anak kita akan hidup di dunia yang serba cepat, canggih dan persaingan semakin ketat. Gak aa pilihan lain selain membesarkan dan mendidik mereka sesuai jamannya agar mereka bisa survive menghadapi dunia kelak.

Termasuk salah satunya dengan memberikan berbagai stimulus yang tepat, agar motoriknya berkembang dengan optimal. Terutama di masa-masa periode emasnya, yang tidak akan bisa diulang.

Orangtua jaman dulu gak pake teori macam-macam juga baik-baik aja, tetap bisa membesarkan dan mendidik kita dengan baik?!

Ya karna mereka belum punya kemudahan akses informasi seperti yang hari ini kita nikmati 😊 Lagipula, pastilah kita tidak ingin anak-anak kita memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari kita hari ini kan?!



Menggunakan KPSP sebagai Acuan

Dulu, saya juga termasuk cenderung cuek dan gak peduli dengan berbagai teori tentang tumbuh kembang anak. Akibatnya, saat ada masalah pada tumbuh kembang Faza, saya blank. Bahkan sedihnya, saya terlambat menyadari, sampai masalahnya cenderung sudah agak telat tertangani. Soal ini, nanti saya ceritakan di bawah ya.

Sejak saat itu, saya mengubah pola pikir. Jika ada teori yang bisa saya gunakan sebagai guide saya dalam mengawal tumbuh kembang Faza, kenapa gak saya manfaatkan sebaik mungkin?

Selama ini, saya menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) sebagai pedoman dalam memantau perkembangan berbagai motorik Faza, baik motorik kasar maupun motorik halus.

KPSP memberikan panduan tentang indikator-indokator perkembangan sesuai usia anak, yang disajikan melalui sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua secara jujur sesuai kondisi anak. Dari situ, kita akan bisa melihat indikator perkembangan mana yang belum sesuai/dicapai oleh anak.

Setelah tau indikator perkembangan apa yang belum dicapai anak, otomatis kita jadi bisa mencari tau stimulus apa yang tepat untuk diberikan, agar anak bisa mengejar indikator tersebut.

Melalui KPSP, saya juga jadi tau ada beberapa kemampuan yang tadinya saya pikir kecil dan gak penting, ternyata menjadi salah satu indikator perkembangan anak. Contohnya, kemampuan anak mengambil benda berukuran kecil (misal kismis) dengan dua jarinya (telunjuk dan ibu jari). Kemampuan itu menjadi indikator perkembangan di usia 9-21 bulan.

dari tumbuhkembang.info


Kurangnya Stimulus yang Berujung Keterlambatan Perkembangan Motorik Pada Faza




Sekali lagi, sebenarnya saya merasa menjadi salah satu orangtua yang agak terlambat menyadari tentang pentingnya memperhatikan teori tumbuh kembang pada anak. Dari dulu saya baca sih sebenernya, tapi hanya sambil lalu gitu. Tidak merasa harus menerapkan.

Sampai akhirnya, saya seperti merasa tertampar, ketika mendapati kenyataan bahwa Faza mengalami beberapa keterlambatan perkembangan motorik.

Pertama, yang sempat bikin saya sedih sekali, adalah Faza yang terlambat merangkak. Faza baru bisa memajukan tubuh dengan dada saat posisi tengkurap (apa ya istilahnya?) baru di usia 11 bulan. Dan bisa merangkak di usia satu tahun. Terlambat sekali kan?

Penyebabnya karna saya kurang memberi stimulus yang tepat. Faza bayi jarang sekali saya kasih waktu untuk tummy time.

Yang kedua adalah keterlambatan yang hingga saat ini saya masih berusaha untuk menanggulanginya. Faza belum pandai mengunyah.

Penyebabnya cukup complicated. Awalnya, karna sejak bayi Faza termasuk sering muntah. Kedua, yangti dan budhe yang menemani dia saat saya kerja kompak berpemahaman bahwa hingga satu tahun, anak masih harus diberi bubur yang teksturnya lembut. Ketiga, kesalahan teknik menyuapi -- dengan cara memberi minum tiap satu suapan.

Tapi saya tidak hendak menyalahkan siapapun. Gimanapun, saya ibunya. Jika ada yang gak beres dari anak saya, maka artinya saya lah yang lalai.

Lagipula gak ada gunanya kan menyalahkan. Yang lebih penting adalah mengambil langkah-langkah koreksi untuk mengatasi masalah tersebut.

Membiasakan Faza Makan Makanan Padat

Salah satu efek dari kemampuan mengunyah Faza yang masih lemah adalah dia jadi malas makan makanan padat. Sekalinya dikasih makanan padat, seringnya dia telan padahal belum dikunyah dengan benar. Akibatnya ya tersedak, lalu muntah 😭

Lama-lama, dia makin malas makan makanan padat. Maunya tiap lapar minta minum susu. Dan gara-gara itu, berat badannya sempat mendekati obesitas. Untungnya belum.

Huhu, jangan ditanya kayak apa saya galaunya mikirin masalah ini 😕

Akhirnya saya konsultasi ke dokter anak. Oleh dokter, kami dijelaskan panjang lebar tentang kebutuhan gizi anak dan pemenuhannya. Untuk anak seusia Faza, seharusnya presentasenya adalah 70% makanan padat, 30% makanan cair. Artinya, susunya gak boleh lebih dari 400 ml sehari.

Padahal selama ini dalam sehari, Faza bisa minum susu hampir 800 ml -___-

Dokter menekankan, Faza harus dilatih makan makanan padat. Meski tetap harus bertahap.

Gak boleh lagi makan bubur. Makan buah gak boleh terus-terusan dalam bentuk jus. Dokter juga meminta saya sering melatih dia makan dengan memberi cemilan yang bisa merangsang Faza untuk mengunyah, tapi harus memilih cemilan mudah hancur/lumer sebagai awal latihan. Agar Faza gak putus asa dan malas duluan.

Akhirnya, saya mencari-cari cemilan yang tepat untuk Faza. Semesta sepertinya mendukung, ketika akhirnya saya menemukan Monde Boromon Cookies.



Monde Boromon Cookies menjadi pilihan yang tepat untuk Faza karna beberapa alasan:

  • Monde Boromon Cookies merupakan makanan padat yang akan merangsang Faza untuk belajar mengunyah, tapi memiliki teksturnya yang mudah meleleh saat terkena air liur. Jadi aman untuk Faza yang belum terlalu pintar mengunyah dan gampang tersedak.
  • Bentuk Monde Boromon Cookies kecil-kecil, sehingga cocok juga untuk melatih motorik halusnya. Terutama kemampuan mengambil benda kecil dengan dua jari yang menjadi salah satu indikator di KPSP seperti yang saya tulis di atas. Selain itu, karna bentuknya kecil, jadi gak perlu khawatir Faza gak habis. Kalau biskuit, baru dua gigit Faza udah mogok, ya terpaksa ibunya yang menghabiskan. Nah, kalau Monde Boromon Cookies gak ada cerita kayak gitu.
  • Gluten Free. Ini menurut saya istimewa sekali. Monde Boromon Cookies gluten free karna terbuat dari sari pati kentang. Masih jarang banget kan cemilan bayi yang gluten free dengan harga bersahabat?!
  • Memiliki kandungan-kandungan yang baik untuk anak, seperti madu dan DHA.

Sejauh ini, sudah tampak sedikit kemajuan, Alhamdulillah. Faza sudah jarang sekali tersedak dan muntah. Mengunyah makanan padat sudah semakin lancar.


Ngemil juga sudah mulai mau. Meski saya harus cari moment yang tepat. Biasanya saya kasih dia Monde Boromon Cookies saat sedang enjoy. Contohnya saat sedang happy main di taman, biasanya dia akan senang hati disuruh ngemil. Karna kalau momentnya gak tepat, disuruh ngemil pasti kayak ngajak berantem 😂


Semoga dari cerita saya soal beberapa keterlambatan perkembangan motorik yang dialami Faza di atas, ibu-ibu lain bisa mengambil pelajaran. Bahwa stimulus yang tepat sangat dibutuhkan oleh anak, agar perkembangan motoriknya optimal.

Gak ada males-malesan lagi mulai sekarang. Golden moment-nya dalam bertumbuh dan berkembang gak akan terulang seumur hidup. Jangan sampai kita menyesal setelah menyadari semuanya sudah terlambat.

Senin, 17 Desember 2018

#CeritaFaza: Faza 22 Bulan, Menjelang Berakhirnya Periode Emas



Faza sudah 22 bulan. Artinya, periode emas 1000 hari pertamanya akan segera berakhir. Huhu, kok sedih yaa.

Sedih karna mungkin periode super berharga itu banyaaakkkk sekali saya sia-siakan. Banyak stimulus yang harusnya saya kasih, tapi saya lewatkan begitu saja. Banyak gizi yang harusnya Faza dapat, tapi gak saya usahakan dengan maksimal. Belum lagi kuantitas ASI yang harusnya ia dapat, jauh lebih sedikit dari yang seharusnya.

Tapi yasudahlah. Yang jelas, saya sudah berusaha. Meski usaha saya tentu saja belum maksimal. Semoga apa yang didapat Faza di 1000 hari pertamanya, cukup mumpuni sebagai bekalnya tumbuh di ribuan hari berikutnya. Aamiin.

22 bulan, Faza udah bisa apa aja?

Baca juga: Faza 18 bulan

Banyak tentu saja, Alhamdulillah.

Jalan udah bisa sejak umur 15 bulan, dan sekarang makin lancar. Meski setelah sekian lama mengamati cara jalan Faza yang agak 'beda', akhirnya kami tau ternyata Faza flat feet 😭 Saya udah curiga sejak lama, tapi selama saya selalu berusaha denial.

Sedih sih. Tapi saya yakin, sedikit kekurangan fisik Faza ini gak akan berdampak banyak untuk masa depannya, dan semoga tertutupi dengan kelebihan-kelebihan Faza yang lain. Aamiin.

Kemampuan komunikasi Faza juga makin bagus. Meski kemampuan merangkai kalimatnya mentok baru 3 kata, itupun masih jarang. Kosakata sih udah banyak.

Diajak komunikasi dua arah juga udah bisa banget. Yang paling bikin saya seneng, Faza berani jawab ketika diajak ngobrol sama orang asing.

Pernah suatu hari saat sedang di apotik nunggu ayahnya beli sesuatu, tiba-tiba ada seorang laki-laki menyapa.

Pak X: "Namanya siapa?"

Faza: "Adja" (Faza)

Pak X: "Sudah sekolah belum?"

Faza: "Elum..."

Pak X: "Pinternya... gendhong yuk..."

Faza: "Angan... Elhad!" (Jangan, berat) 😂😂

Saya ketawa-ketiwi di sebelahnya, sekaligus senang. Tau gak, ini salah satu goals saya loh. Saya pengen Faza supel dan berani ngomong. Gak kayak saya yang dulu tiap diajak ngomong sama orang asing, langsung mendadak gagu -___-

Perkembangan emosi juga Alhamdulillah terus berkembang. Sudah bisa nungkapin keinginan tanpa menangis, meski dengan kosakata yang masih terbatas. Sudah bisa ngambek kayak ABG 😂 Dan... sudah bisa mengalihkan perhatian kalo ayah-ibu lagi ngomelin dia 😅

Faza udah bisa berhitung dari 1-10 tanpa dibantu. Meskipun tiap ditanya ini berapa, itu berapa, jawabannya pasti selalu DUA. Sama seperti warna. Semua-mua dia sebut HIJO alias hijau. Kalo diajarin huruf hijaiyah, sukanya nerusin. Misal saya bilang ALIF, dia bukannya niruin bilang ALIF, eh malah langsung bilang BA' dengan semangat 45. Zzzzz.

Persiapan Menyapih

Menyapih akan jadi goals terdekat saya. Ini sih masih tahap sounding terus-menerus. Tapi yagitudehhh, belum keliatan dampaknya, karna tiap lihat muka saya dia pasti langsung inget nenen.
Kalau saya bilang, "Faza sudah besar. Sebentar lagi sudah enggak perlu nenen", dia sih dengan meyakinkan bilang, "iyah". Tapi kalo mau bobok ya tetep aja ngamuk kalo gak dikasih.

Tapi sudah mulai disiplin. Nenen hanya kalau di kamar. Ini strategi awal menyapih yang saya susun. Pengennya ini udah masuk fase berikutnya, yaitu hanya saat di kamar, dan hanya saat malam. Tapi kalo weekend masih belum bisa. Mau tidur siang, masih minta 😑

Yang jelas, saya pengen banget Faza berhenti nenen tanpa tipuan apapun. Saya gak pengen bohongin dia dengan cara oles-oles puting pakai lipstik, atau apapun.

Satu lagi, saya gak pengen dia berhenti nenen, tapi beralih ke dot. Ya sami mawon. Nyapih dot jauh lebih susah setau saya. Saat ini kalau di rumah sih emang gak pernah pakai dot sama sekali ya. Minum susu pakai gelas, udah lancar. Sambil setengah tidur pun tetep mau duduk dan minum pakai gelas.

Cuma budhe yang momong belum disiplin soal ini. Kalau mau tidur siang, masih dikasih dot sama beliaunya 😕

PR Besarnya: Faza masih sering banget sembelit. Saya bingung harus gimana. Tapi saya lagi males cerita soal ini, karna bakal panjang banget 😣

Ohya, satu lagi. Saya dan mas suami sudah sempat rasan-rasan tentang rencana anak kedua. hihi. Tapiii, kok Faza kayak belum ada suka-sukanya sama sekali kalau lihat bayi ya. Dia malah kayak males gitu. Huhu. Yaudah deh, nunggu beberapa bulan lagi, Insya Allah 😊