Jumat, 11 Oktober 2019

Mengajarkan Pada Anak Tentang 4 Area Sensitif Tubuhnya

Akhir-akhir ini, kita sering sekali dibuat miris oleh banyaknya berita tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Untuk kita yang punya anak balita di rumah, pasti selain miris juga akan dibikin semakin was-was. Iya kan, Bu?

Maka, selain menjaga anak kita sebaik-baiknya dari ancaman-ancaman bahaya tersebut, kita juga rasanya wajib mebekali mereka dengan bekal pengetahuan dan cara untuk melindungi diri. Rasa waspada mereka harus ditumbuhkan sedini mungkin.


Hal pertama yang harus kita ajarkan pada mereka dalam rangka melindungi mereka dari kejahatan seksual adalah tentang mengajarkan 4 area sensitif tubuhnya.

Tanamkan pada mereka bahwa 4 area sensitif di tubuhnya itu harus dijaga. Katakan pada mereka bahwa hanya keluarga dekatlah yang boleh menyentuhnya. Jika ada orang asing yang mencoba menyentuhnya, ajarkan mereka untuk berteriak, marah dan menghindar.

Apa saja sih 4 area sensitif di tubuh anak yang harus dijaga itu?

Yang pertama tentu saja alat kelamin.

Yang kedua adalah dubur.

Yang ketiga mulut.

Dan yang keempat adalah dada.

Dengan terus menerus sounding, semoga anak kita jadi punya sikap waspada dan bisa melindungi dirinya sendiri sebagai 'pertolongan pertama' saat ada bahaya mengancamnya.

Gimana lagi yaa, Bu... jaman kayak gini, memang harus serba waspada. Terutama waspada pada segala jenis ancaman kejahatan seksual yang menyasar anak-anak.


Rabu, 25 September 2019

Review Balance Bike Maynine

Pertama kali tau tentang balance bike itu saat masih hamil Faza. Taunya kalo gak salah dari artikel di the asian parent dan dari blognya Mbak Annisast tentu saja.

Reaksi saya pertama saat tau balance bike -- gak jauh berbeda -- dari reaksi pertamanya kebanyakan orang sih. Idih, sepeda kok nggak ada pedalnya? Kok aneh? Biar apa coba?


Tapi Alhamdulillahnya, saya enggak lantas berhenti mencari tau lebih lanjut meski kesan pertamanya terasa agak aneh. Saya baca beberapa artikel tentang balance bike. Setelah tau manfaatnya, saya langsung pengen banget beliin Faza balance bike.

Sejak Faza bisa jalan, saya beberapa kali survey harga balance bike secara online. Pas tau gambaran harganya, jujur aja saya agak pesimis bisa beliin Faza, karna belum ada gambaran anggarannya. Jadi sempet yang, udahlah kayaknya gak bakal beliin balance bike Faza.

Tapi Qodarullah, menjelang Ramadhan tahun ini, ada teman di grup kuliah WA Bengkel Diri yang saya ikuti, yang menawarkan PO balance bike Maynine, dengan harga enam ratus ribu rupiah saja. WOW!

Langsung deh gerak cepat diskusi sama paksu. Dan akhirnya kami mengambil keputusan untuk ikut PO-nya. Pas banget momentnya kami terima THR soalnya. Hihi.

Balance bike dikirim langsung dari Maynine Jakarta, dan kami terima kayaknya pas bulan Ramadhan, menjelang libur lebaran.

Sampai saat ini, balance bike merupakan mainan termahalnya Faza yang kedua setelah Hafidz Doll. Kenapa akhirnya memutuskan beli? Ya karna menurut saya sebanding dengan manfaatnya.

Baca: Kriteria Mainan yang Saya Belikan Untuk Faza

Review Balance Bike Maynine

Foto detail Maynine Insya Allah menyusul
Setahu saya, balance bike merk lokal masih sangat terbatas pilihannya. Dan Maynine merupakan satu dari yang sedikit itu. Itu alasan utama kenapa Maynine tergolong murah meriah. Karna dia produk lokal.
Saat barang datang, ayahnya Faza sempet agak bingung ngrakitnya. Karna di dalam kardus, nggak ada manual perakitannya. Tapi setelah otak-atik ya akhirnya bisa sih.

Dalam waktu seminggu kalo nggak salah, sadel bagian belakangnya  udah ngelupas. Haha.

Gara-garanya, karna Faza masih agak takut (karna masih awal-awal), jadi sadelnya sengaja dibikin ayahnya di posisi paling rendah, Eh ternyata saat dipake jalan, sadel bagian belakangnya tuh bergesekan sama roda sepeda. Padahal itu cuma beberapa kali pake lho. Artinya, bahan sadelnya kurang kuat sepertinya.

Rodanya sendiri merupakan tipe roda tubeless, alias roda tanpa ban dalam. Konon roda ini anti kempes ya kalo gak salah. Tapi ya kalo udah licin gak ada geriginya itu, ya artinya harus beli baru rodanya.

Bahan kerangka sepeda maynine ini terbuat dari besi. Kuat sih, tapi bukan yang besi anti karat. Jadi sepedanya Faza, sudah berkarat di beberapa bagian.

TAPI, semua kekurangan di atas bagi saya sangat bisa dimaafkan, mengingat harganya yang sangat ramah di kantong saya pribadi. Yang penting gak mengurangi manfaat utama dari balance bike. Itu prinsip saya. Nanti kalo pas Faza punya adek, terus balance bike-nya ternyata udah rusak, ya udah beli lagi aja. Hehehe.

Bagi kalian yang punya budget lebih dan berprinsip mahal gak papa asal awet sih sepertinya mending pilih merk lain seperti london taxi atau strider.

Manfaat Balance Bike 


Meski di atas saya sudah sedikit menyinggung tentang manfaat balance bike, yaitu untuk melatih keseimbangan, saya pengen memaparkan lagi manfaat yang saya lihat sendiri dari Faza sejak dia sering pakai balance bike.

Di daerah tempat tinggal saya, kayaknya Faza anak pertama yang pakai balance bike. Jadi gak heran banyak banget yang komentar dan tanya soal balance bike ke saya. Dari pertanyaan yang paling awam seperti; kok sepeda gak ada genjotannya?, sampai pertanyaan yang lebih spesifik; apa manfaatnya?

Oh, satu lagi. Banyak juga yang ngira, balance bike ini dikhususkan untuk anak dengan kondisi khusus seperti Faza yang flat foot. Jadi sekalian di sini saya tegaskan, TIDAK ya. Balance bike itu sama seperti sepeda pada umumnya, yang bisa dipake dan bermanfaat untuk semua anak -- tanpa kondisi tertentu sekalipun.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Setelah Faza intens pake balance bike, beberapa manfaat yang saya lihat adalah:

1. Keseimbangannya jadi jauh lebih terlatih. Dia udah sampe pada fase ngebut, lalu dua kakinya diangkat gitu. Duh, susah jelasinnya. Pokoknya kayak naik sepeda biasa gitu, cuma nggak genjot aja.

2. Lebih mandiri. Balance bike tuh ringan. Jadi kalau mau sepedaan, dia bisa ambil sepedanya sendiri, parkir sendiri. Terus kalo ikut saya belanja, saya suruh dia naik sepeda. Ini bikin dia gak bergantung sama saya. Karna saya jalan kaki, terus dia pengen ngebut, dia gak merasa harus nungguin saya.

3. Membangun kepercayaan diri. Yang saya lihat, Faza terlihat jadi jauh lebih percaya diri sejak pake balance bike. Teman-temannya kebanyakan kan pake sepeda roda 3. Itu kan susah banget ya kalo digenjot. Gak bisa ngebut. Nah, Fazanya jadi terlihat pede gitu, 'kok aku bisa lebih cepet ya', gitu. Karna balance bike mudah banget di-handle anak. Itu bikin dia makin percaya diri.

Semoga review dan cerita saya soal balance bike bermanfaat yaaa, Bu. Semoga bisa jadi lebih yakin bagi yang sedang mempertimbangkan mau beli atau enggak :)

Kamis, 29 Agustus 2019

#BincangKeluarga: Rekomendasi Buku Anak (Favorit Faza)

Orangtua mana di era ini yang nggak merasa membaca buku sebagai suatu hal yang harus ditanamkan pada anak-anak mereka sedini mungkin?

Bahkan bayinya baru brojol aja udah semangat banget beliin buku 😂 Ini lagi ngomongin diri sendiri sih sebenernya. Hihi.

Iya, saya pengen banget Faza punya minat baca yang jauh lebih baik dari kami orangtuanya. Dan kayaknya gak ada cara lain untuk mewujudkan itu selain dengan mengenalkan buku ke dia sedini mungkin.

Bahkan dari sebuah kulwa saya tau, ada sebuah challenge yang hits akhir-akhir ini untuk para orangtua, yaitu 1000 buku dalam 3 tahun buat anak. Artinya, saat anak usia3 tahun, dia telah membaca minimal 1000 buku.

WOW, banyak bangettt?? Tekor dong beli 1000 buku??

Tenang, Bu. Ternyata, 1000 buku itu tidak berarti harus 1000 buku yang berbeda. Satu buku yang sama, yang di baca(kan) 10 kali, ya artinya anak telah membaca 10 buku. Gitu.

Kayaknya berat dan gak mungkin banget yaa kalo lihat angka 1000? Padahal, 1000 buku sebelum 3 tahun itu artinya, cukup membacakan sehari 1 buku untuk anak. Kan bisa yaaa harusnya?

Baca punya Ade:



Yang berat istiqomahnya sih. Zzzzz -___-

Sayangnya, saya juga bukan termasuk ibu yang berhasil memenuhi challenge tersebut. Tapi ya gak boleh nyerah dong!

Sejauh ini, ketertarikan Faza sama buku cukup baik. Dan di usia 2,5 tahun ini, saya mencatat beberapa buku favoritnya Faza. Siapa tau bisa jadi rekomendasi untuk para ibu yang sedang ingin membelikan buku untuk ananda tercinta 😊



1. Cilukba!, Rabbit Hole (Devi Raisusa & Guntur G.)

Rabbit Hole merupakan salah satu produsen buku anak lokal yang sangat berkualitas. Sayangnya, mereka sempat memutuskan untuk vakum dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.



Sebelum mereka vakum, Alhamdulillah saya sempat membelikan beberapa buku dari Rabbit Hole untuk Faza. Salah satunya adalah Cilukba!

Saya belinya sebelum Faza usia setahun kalo gak salah. Dan dari awal dia antusias banget tiap dibacain buku ini. Apalagi bentuknya kecil, jadi bersahabat buat tangan mungilnya bayi.

Buku Cilukba! ini teksnya dikit banget, sehingga membuat kita yang membacakan lebih bebas berekspresi.

2. Hijaiyah Animal Series (Trisa Dini Daswan & Evieriel N. Primadani)



Buku ini saya beli melalui sistem PO di sebuah online bookstore di IG. Isinya adalah huruf hijaiyah yang di cetak dalam ukuran besar per lembarnya, di sertai dengan nama hewan dalam bahasa arab yang diawali oleh masing-masing huruf hijaiyah tersebut.

Untuk seumur Faza, dia belum fokus sama huruf hijaiyahnya sih. Masih lebih tertarik dengan gambarnya. Gak masalah buat saya.

3. Saatnya Pup! (Irmalia Sutanto)

Faza itu sempat mengalami trauma pup yang cukup lama dan cukup menguras perasaan saya dan ayahnya. Oh iya, satu lagi, cukup menguras dompet.



Jadi, dia pernah sembelit sekali, sampe berdarah gitu. Setelah itu, dia selalu ketakutan tiap mau pup. Dia selalu berusaha menahan sekuat tenaga, hingga sensasi pengen pupnya hilang. Setelah itu, pupnya akan tertunda, dan akibatnya jadi keras.

Kalo dipaksa ke kamar mandi, beuh nangisnya kayak lagi disiksa 😭 Dipriksain ke dokter pun sama sekali gak ngaruh, karna yang utama ada di mindsetnya yang udah buruk banget soal pup.

Jadi jalan satu-satunya adalah dengan terus-menerus sounding. Salah satunya lewat buku.

Saya seneng banget waktu nemuin buku Saatnya Pup! ini di Gramedia. Karna bener-bener paaassss banget dengan apa yang saya inginkan.

Dan Alhamdulillahnya lagi, Faza suka sama buku ini. Tiap mau pup tapi dia gak mau ke kamar mandi, saya akan bilang, "Eh, Tito (tokoh dalam buku ini) tu kalau mau pup ke mana ya, Za?", terus dia akan jawab, "kamar mandi". Terus saya nyaut deh, "Naaahh, Faza juga berarti harus ke kamar mandi yaaa?". Hehehehe.

4. The Farm (Tanah Pertanian), Tony Wolf

Kalo ini belinya belum lama sih. Setelah dia usia 2 tahun, gara-gara rekomendasi teman.


Bukunya full gambar banget, yang menggambarkan suasana di daerah pertanian. Ada ceritanya sih, tapi Faza bener-bener gak tertarik dibacain ceritanya, karna sibuk mengamati gambar-gambarnya dan terus-menerus bertanya ini apa, itu apa. Hihi.

5. Adab Makan & Minum (Oky E. Noorsari & Ahmad Saba)

Yang ini saya beli sekitar 3 minggu lalu. Sebenernya belinya asal comot aja waktu itu. Tapi ternyata bagus! Dan yang penting, Faza suka banget.


Jujur aja saya masih struggling untuk menanamkan adab makan pada Faza, khususnya soal makan sambil duduk. Salah saya sih karna agak cuek awalnya kalo Faza makan sambil mainan atau jalan-jalan, yang penting dia mau makan. Huhu.

Nah, buku ini cukup membantu saya saat mengingatkan dia tentang adab makan. Cerita dalam buku ini singkat, padat dan mudah dipahami anak. Jadi kayak langsung masuk gitu di memori Faza, meski pengamalannya mah masih angin-anginan. Hiks.

Oke. 5 dulu aja kali yaaa biar gak kepanjangan 😊 Sebenarnya sih masih banyak buku favorit Faza, karna kebanyakan buku yang saya beliin, dia pasti suka. KECUALI, buku-buku bertajuk ensiklopedia. Dia kayak belum ada tertarik-tertariknya sama sekali. Mungkin belum masuk fase sensitifnya kali yaa.
Tapi pada dasarnya, menarik-enggaknya sebuah buku bagi anak tu salah satu faktor terbesarnya adalah gimana cara kita orangtuanya saat membacakannya. Semenarik apa kita membacakannya, seantusias itu pula anak akan menyimaknya. Iya gak, Bu?

Nah, kalo buibu ada yang mau share buku favorit anak-anaknya di rumah boleh bangeettt lho. Siapa tau bisa jadi rekomendasi juga buat saya 😊

Kamis, 22 Agustus 2019

Tentang Flat Foot-nya Faza

Mau nulis ini kok, Ya Allah, gak kesampain teruusss.

Sebenernya sudah pernah cerita lumayan panjang di IG Story. Tapi kayaknya tetap harus ditulis di blog, sebagai arsip pribadi. Dan semoga bermanfaat jika ada yang baca.

Waktu cerita tentang flat foot-nya Faza di IG Story, saya baru tau, ternyata banyak banget yang belum pernah tau tentang apa sih itu flat foot?

Kaki rata atau flat foot adalah kondisi di mana lengkungan yang seharusnya terdapat di telapak kaki, menjadi rata. Pada bayi atau balita, kondisi ini tergolong normal karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Namun pada anak-anak yang sudah lebih besar dan orang dewasa, kaki rata dapat menjadi tanda adanya kelainan pada tulang atau jaringan tendon kaki, jaringan yang menempelkan otot ke tulang. (dikutip dari alodokter)

Kapan saya sadar Faza flat foot?

Ini nih bentuk telapak kaki Faza
Sejak dia bisa jalan, sebenernya. Saya langsung ngeh, kayaknya dia 'istimewa' nih. Tapi, seperti kebanyakan orangtua lainnya ketika melihat kekurangan pada diri anak, saya sempat mengalami masa denial. Ah, nggak pa-pa ah, kakinya Faza pasti nggak pa-pa, nanti pasti bagus sendiri, dan lain-lain, dan seterusnya.

Di masa-masa denial itu, saya terus mencari penjelasan. Saya baca artikel-artikel tentang flat foot, sampai suatu hari, saya membaca IG Story Mbak Brenda (penggiat #ReadAloud), tentang anak-anaknya yang juga punya flat foot.

Memangnya apa sih dampak buruk flat foot sehingga butuh perhatian khusus? Ternyata, soal ini masih banyaakk yang belum tau ya (dilihat dari respon teman-teman pada IG story saya).

Jadi, flat foot itu punya beberapa dampak kurang baik buat seseorang. Di antaranya:

1. Akan cepat capek, alias gak kuat jalan jauh. Faza tu kalo saya ajak jalan agak jauh, pasti malamnya ngeluh, 'ibu, kakinya sakit', gitu.

2. Pergerakan terganggu. Pada Faza, point ini terlihat dari dia yang jadi 'kurang lincah' untuk aktivitas-aktivitas semacam memanjat, berlari, dll. Keseimbangannya kurang bagus gitu. Agak mudah 'goyah', karna pondasinya gak kokoh.

3. Dll. Dampak jangka panjangnya banyak sih.

Dari situ, saya akhirnya bertekad, oke, kayaknya kaki flat foot-nya Faza butuh dikonsultasikan dengan dokter. Sayangnya, mungkin karna tekad kami (saya dan mas suami) yang kurang kuat, rencana konsultasi ke dokter terus tertunda, hingga akhirnya terealisasi di sekitar bulan April 2019.

Langkah pertama, saya dan mas suami datang ke dokter Faskes 1 kami. Ya, kami memakai fasilitas BPJS. Setelah menjelaskan dan menunjukkan kondisi kaki Faza pada dokter, akhirnya kami diberi rujukan ke dokter spesialis anak di RS. Hermina Banyumanik Semarang.

Ohya, ternyata, gak semua dokter 'ngeh' bahwa flat foot itu sebuah kondisi yang harus mendapat penanganan. Soalnya anak teman saya yang juga flat foot, ketika dibawa ke dokter (umum), dokternya bilang, itu bukan masalah, dan menolak memberikan rujukan.

Lanjut ya. Setelah mendapat rujukan, kami datang ke RS Hermina Banyumanik Semarang untuk bertemu dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak, kami kemudian dirujuk ke dokter rehabilitasi medik.

Oleh dokter rehabilitasi medik, Faza diberi rekomendasi untuk mendapatkan terapi, dan harus dibuatkan sepatu koreksi. Sayangnya, di RS. Hermina Banyumanik Semarang sendiri, tidak bisa memfasilitasi pemesanan sepatu koreksi tersebut, sehingga kami minta pindah rujukan ke RS Nasional Diponegoro (RSND) Tembalang Semarang.

Oleh dokter rehabilitasi medik RSND, Faza mendapat rekomendasi yang sama dengan saat di Hermina, yaitu dibuatkan sepatu koreksi, dan terapi rutin seminggu sekali.

Terapinya sendiri terdiri dari 2 macam terapi. Yaitu terapi okupasi (melatih keseimbangannya dengan macam-macam stimulus permainan), dan fisioterapi (dipijat).

Ini ruang terapinya

Ini waktu Fisioterapi. Terapi okupasinya kebanyakan video, upload di IG aja deh nanti.

Alhamdulillah sejauh ini Faza enjoy menjalani setiap sesi terapinya. Ini sudah masuk bulan kedua, dan kemarin dokter rehabilitasi medik menyarankan agar terapi dilanjutkan lagi hingga 1 paket (5x pertemuan) lagi.

Apakah sudah kelihatan hasilnya?

Ya enggak secepat kilat itu sih. Ada hasilnya, meski belum benar-benar signifikan. Keseimbangannya sudah cukup bagus. Naik turun tangga sudah lebih lincah. Tapi bentuk kakinya belum terkoreksi. Karna pakai sepatunya juga belum disiplin :(

Ini sepatu koreksinya Faza. Fokus yaa, fokus! =D


Kalo berdasarkan rekomendasi, sepatu koreksi dipake full-time kecuali saat tidur. Sedangkan Faza, kalo di dalam rumah masih belum mau pakai sepatu. Karna dia kan mindsetnya selama ini di dalam rumah ya nggak pakai alas kaki. Lagian sepatunya kan kotor yaa karna sering dipakai di luar rumah, saya galau kalau dipakai di dalam rumah, nanti takut banyak najis yang tersebar :(

Emm, apa lagi yaa yang mau diceritain? Segitu dulu sih.

Yang jelas, dari ujian keistimewaan Faza ini, saya belajar banyaaakk banget. Belajar lebih sabar lagi, belajar berlapang dada menerima kondisi apapun, belajar macem-macem deh pokoknya.

Baca juga: Menjadi Ibu, Menjadi Orangtua

Saya juga makin saluuttt sama para orangtua di luar sana yang juga dikasih ujian anak yang jauh lebih istimewa dari Faza, dan mau berjuang untuk putra-putrinya. Masyaa Allah tabarakallah :)

Jumat, 02 Agustus 2019

#BincangKeluarga: Yang Membuat Istri Terlihat Cantik di Mata Suami

Kemarin siang, saya nggak sengaja baca postingan IG Fahd Pahdepie. Isinya, sebuah screenshoot sebuah pertanyaan dari seorang netizen untuk Fahd yang bertanya apakah ia akan tetap mencintai istrinya, jika istrinya tidak cantik?

Ini nih SS-nya. Hihi.

Saya auto-like sih pas baca. Eehh terus ternyata Ade juga lihat postingan tersebut, dan tertarik. Lalu, dia nyolek saya untuk menjadikan itu sebagai bahan #BincangKeluarga kali ini, yang sudah entah sejak kapan gak jalan. Huhu.

Jadi, baiklah. Mari kita berbincang tentang 'apa sih yang membuat istri terlihat cantik di mata suami?'

Baca punya Ade:



Apa sih sebenarnya yang membuat istri terlihat cantik di mata suami? Apakah karna istrinya rajin nonton tutorial make up di Youtube lalu mempraktekkannya? Atau karna si istri rajin pake berlayer-layer skincare a la Korea, yang bikin wajahnya tampak glowing?

Kalau saya masih single, mungkin saya akan nge-like postingan Fahd di atas semata-mata karna saya menyukai hal-hal yang bersifat romantis. Mungkin juga, saya akan menganggap bahwa jawaban Fahd dan pantun seorang netizen di atas sebagai gombalan semata.

Tapi enggak. Saya nge-like postingan di atas benar-benar karna saya setuju. Karna saya mengaminkan.

Tau nggak? Saya pernah ada dalam kondisi di mana wajah saya super-duper semrawut nggak karuan. Jerawat buanyak. Wajah bengkak semua. Pokoknya nggak ada enak-enaknya dipandang mata. Yah gimana coba, nggak jerawatan dan nggak bengkak aja emang aslinya nggak cantik-cantik amat -__-

Jangan tanya tentang berapa banyak body shaming yang saya alami. Hhhh, ribuan kali mungkin! *biarin lebay*

Tapi saat itu, ada satu orang yang terus-menerus meyakinkan saya, bahwa saya cantik. Nggak terhitung berapa ratus kali dia bilang, saya tetap cantik. Saya tetap menawan. Siapa lagi kalo bukan Mas Suami?!

Apakah saya tersanjung?

Awalnya sama sekali enggak. Saya menganggap itu hanya omong kosong, karna dia pengen nenangin saya yang saat itu sedang hamil. Saya saat itu yakin dia juga nganggap saya jelek dalam hati, tapi nggak tega untuk ikutan bilang.

Tapi lama-lama saya ragu sendiri dengan pikiran saya. Kalau iya Mas Suami bohong, apa iya beliau akan 'se-istiqomah' itu bilang saya cantik? Bahkan hingga hari ini, ketika kami mengenang masa-masa saya hamil Faza, dan saya mengutuk wajah saya sendiri, Mas Suami masih selalu bilang, "kata siapa sih jelek? kok di mata ayah tetep cantik ya? apa ayah yang nggak normal?"

Akhirnya, saya mengakui. Selalu ada ketulusan yang membesamai kalimatnya.

Pernah nggak ketemu pasangan yang menurut istilah banyak orang 'njomplang' banget? Si suami tampan dan gagah, si istri B ajah. Beberapa orang akan berkomentar dalam hati, "dunia tidak adil" ketika melihatnya. Nahh, mungkin mereka lupa. Ada cinta yang membuat si suami, memandang wajah istrinya dengan cara yang berbeda.

Nah, kalo gitu, apakah istri nggak perlu usaha apapun biar terlihat cantik di hadapan suami? Toh kalo memang cinta, mau jelek kayak apa juga akan tetap terlihat cantik di mata suami?

Ya enggak gitu sih. Sebenernya, tanpa embel-embel ingin terlihat cantik di hadapan suami pun, sebenernya fitrahnya wanita itu pasti ingin merawat diri kok. Jadi, merawat diri itu lebih ke demi diri sendiri, yang akan membawa dampak baik ke yang lainnya -- termasuk, jadi makin disayang suami.

Yakin deh, yang pada pake skincare berlayer-layer itu, pasti kebanyakan bukan karna disuruh sama suami kan? Tapi karna keinginan dari diri sendiri untuk merawat diri.

Karna selama ada cinta, maka suami pasti akan melihat istrinya dengan cara yang berbeda dari semua orang. Yang perlu diingat: cinta butuh dirawat.

Jadi jangan sampai, kita para istri sibuk merawat diri, tapi lupa merawat cinta. Karna secantik apapun wajah kita, jika cintanya tidak terawat, maka akan ada lagi yang membuat suami kita memandang kita dengan 'cara berbeda'.

Jumat, 28 Juni 2019

Anak Laki-Laki Tidak Boleh Menangis, Kata Siapa?

"Ih, anak laki-laki kok nangis?"

"Sudah, cup cup, anak laki-laki nggak boleh nangis!"

Familiar dengan kalimat-kalimat kayak gitu? Kalo bagi saya pribadi yang punya anak laki-laki, ya. Saya sering sekali mendengar ungkapan semacam itu yang ditujukan pada Faza.




Kalo lagi baperan, rasanya pengen banget teriak, ANAK LAKI-LAKI NGGAK BOLEH NANGIS? ITU KATA SIAPA SIH? Ayo coba tunjukkan ke saya dasar ilmunya!

Huhu, maaf yaa emak emosi.

Sedih banget soalnya kalo Faza diomongin kayak gitu.

Gini ya. Sepanjang saya belajar ilmu parenting, meski mungkin ilmu saya masih sangat-sangat-sangat minim, menangis adalah cara anak berkomunikasi. Menangis adalah salah satu cara anak menyalurkan emosi. 

Nah, kalo anak mau menyalurkan emosi aja dilarang-larang sejak kecil, jangan kaget kalo dia tumbuh jadi orang yang sering memendam emosi. Dan memendam emosi, gak pernah berdampak baik. Dia akan jadi bom waktu. Sering memendam emosi akan membuat kita menjadi orang yang bermental 'sakit'.

Tolong ya, bedain antara memendam emosi dan mengendalikan marah. Jangan dikira sama. Itu beda banget!

Justru kemampuan mengendalikan amarah akan dimiliki oleh orang yang terlatih menyalurkan emosi dengan benar sejak dini.

Jadi, kalo anak nangis, kita tu cuma harus tau apa sih sebabnya dia nangis? Lalu membimbingnya untuk menemukan solusi. Pun termasuk kalo dia nangis dalam rangka tricky. Kita hanya perlu ngasih tau dia cara yang lebih benar untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kita cuma harus ngasih tau, bahwa nangis bukan satu-satunya cara buat dia untuk mendapatkan apapun yang dia mau.

Apalagi kalo kasusnya anak jatuh, misalnya.

Lalu dia nangis karna sakit. Ya kan WAJAR kalo dia nangis, lha wong sakit. gimana sih?! Masa iya gak boleh nangis? Meskipun kenyataannya dia larinya kurang hati-hati.

Apakah tepat kalo kita bilang ke dia, "Sudah gak usah nangis. Kan anak laki-laki. Makanya lain kali hati-hati!"

Saya sedih banget denger kalimat semacam itu 😭

Anak berpribadi macam apa yang dibesarkan dengan kalimat seperti itu? Kalimat minim empati, judgemental.

Coba dibayangin kalo kita naik motor terus jatuh, lalu malah dibilang, "Ya udah gak usah nangis. Makanya naik motor tu hati-hati!", marah gak?

Lho, nasehatin supaya lain kali hati-hati masa salah?

Gak salah, mak. Cuma gak tepat caranya. Tunjukkan dulu bahwa kita berempati atas sakitnya. "Oh, Adek jatuh? Sakit ya, nak? Mana coba yang sakit ibu lihat".

Baruuu setelah itu katakan, "Lain kali lebih hati-hati lagi ya"

Biar dia sekalian belajar tentang bagaimana caranya berempati atas kesakitan orang lain. Agar dia tumbuh jadi anak yang gak apatis melihat orang yang sedang kesusahan, dan dengan enteg menganggap, 'ah dia susah kan karna salahnya sendiri'.

Nangis itu boleh. Nangis itu manusiawi.

Kalo anak dilarang menyalurkan emosi dengan menangis, tanpa dibimbing untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih baik, jangan salahkan kalo dia menyalurkan emosi dengan cara yang salah kaprah.

Kamis, 02 Mei 2019

#BincangKeluarga: Kriteria Mainan yang Saya Beli Untuk Faza

 Saya tu sering merasa menjadi orangtua yang pelit banget sama anak gara-gara jarang membelikan dia mainan. Kadang nelangsa sendiri. Tiap hari ditinggal kerja, tapi mainan jarang dibelikan.

Tapi itu pikiran kalo lagi emosional aja. Kalo lagi rasional sih, yah Faza mah butuhnya happy ya. Mainan itu cuma salah satu sarana bikin dia happy. Kalo saya bisa bikin dia happy tanpa sering-sering membelikan mainan, ya berarti bukan masalah besar kan?

Anak kecil kan bukan kita , yang seringkali harus selalu punya barang baru hanya demi bisa merasakan bahagia. Anak kecil gak kayak gitu. Diajak nyobek-nyobek kertas aja dia happy bukan main.

Tapi ya tetep aja sih. Gak mungkin saya jadi gak beliin mainan sama sekali buat Faza. Meski jarang banget. Hehe. saya punya beberapa kriteria saat akan membelikan mainan buat Faza. Agar tepat guna dan tepat sasaran. Halah. Haha.

Baca punya Ade:


Apa aja sih kriteria mainan yang akan saya beli untuk Faza? Ini nih:

1. Harga Terjangkau

Iyap, harga terjangkau. Dalam artian, masih sesuai kemampuan budget keluarga kami. Enggak yang sampe hutang gitu. Eh btw, emang ada yang beli mainan sampai hutang? *nanya serius*

Faza punya Hafidz Doll yang harganya bagi saya lumayan mihil. Tapi saya belinya sebelum nikah. Haha. Sebelum nikah, bagi saya hafidz doll masih terjangkau. Karna belum banyak kebutuhan yang harus dibiayai.

Misal saya belum beli sebelum nikah, kayaknya saya gak akan beliin Faza Hafidz Doll setelah dia lahir. Karna menurut kami harganya sudah gak lagi terjangkau.

2. Fokus Manfaatnya

Fokus manfaatnya. Bukan kualitasnya. Wakakaka.

Iya, saya termasuk yang kayak gitu. Contohnya mobil-mobilan. Saya biasa membelikan yang harganya semurah mungkin. Karna, yah mau semahal apapun, ya akan tetep jadi 'sekedar' mobil-mobilan, kan? Bedanya, kalo yang mahal mungkin bisa sekalian dijadikan koleksi.

Untuk mainan yang memang punya manfaat khusus, dan Faza butuh bantuan mainan itu untuk mendapat manfaatnya, ya meski mahal akan saya perjuangkan. Aseekk 😅

Contohnya balance bike. Saya lagi nabung untuk bisa membelikan Faza balance bike, karna dari beberapa artikel tentang balance bike, saya merasa Faza butuh itu.

3. Bikin Faza Happy

Ini sih pasti dong. Lah ngapain juga beli mainan tapi bikin anak gak happy?

Tadinya saya mau saklek hanya mau beliin mainan yang ada manfaat khususnya ya. Tapi lama-lama berubah pikiran. Kata Bu Elly Risman, anak usia dini tu yang penting happy dulu.

Nah, berhubung Faza suka banget mobil-mobilan, ya saya beliin. Tapi yang se-terjangkau mungkin, hehe. Yang penting mah Faza happy punya mobil dengan berbagai model. Gak masalah mau bahan plastiknya setipis apa, dan secepat apa rusaknya. Alhamdulillahnya Faza bukan anak yang suka memasukkan apapun ke mulutnya.

Kalau macam robot-robotan gitu, saya belum pernah membelikan sama sekali. Karna Faza gak happy lihat robot. Dia masih cenderung takut lihat  robot yang wajahnya menurut dia serem. Dipakein baju gambar spiderman aja dia gak suka 😂

Udah sih, syaratnya cuma 3 itu. Dan udah kelihatan banget ya, saya bukan termasuk orantua yang loyal soal mainan. Hihi.

Ekspektasinya dulu sih pengen bisa bikinin mainan-mainan DIY gitu yaa buat Faza. Biar bisa sekalian ngajarin dia kreatif. Tapi apalah daya, sering lebih menang ngantuknya saya mah 😂

Jadi yaudahlah, beliin mainan aja, tapi dengan batasan, biar gak lepas kendali.

Kalo buibu yang lain, kriterianya apa sih kalau mau membelikan mainan untuk anak?

Kamis, 25 April 2019

Inkonsistensi Dalam Mendidik Anak

Nasehat paling efektif, adalah nasehat yang disertai contoh nyata.

Iya apa iya?



Masalahnya, kita-kita para orangtua ini, seringkali hanya sibuk beretorika di hadapan anak, tapi sering lupa memberi teladan. Contoh paling simpel deh, kalo kitanya lagi ribet banget, terus anak rewel, kadang kita bilang, "Adek sabar dong!" -- tapi dengan nada nge-gas maksimal 😂

Lha gimana, jangan heran kalo kemudian anak kita nangkepnya sabar itu ya dengan nge-gas kayak emaknya 😅

Rumit beneran deh jadi orangtua tuh. Ahihihi.


Jujur aja saya sering merasa jadi orang yang paling inkonsisten sejak jadi orangtua. Malu sama diri sendiri 🙈

Dan, eh kok kebetulan Mbak Puty dan Mamamolilo ngajak nulis tentang inkonsistensi dalam mendidik anak lewat project #Modyarhood nya mereka. Karna topiknya menarik, cuss deh nulis ngebut meski udah hari terakhir deadline. Hihi. Seniat ituh!

Jadiii, berikut ini adalah daftar inkonsistensi saya dalam mendidik Faza. Sukses beneran deh bikin saya merenung gara-gara mau nulis ini. Muhasabah gitu loh mak ceritanya 😂

1. Membiasakan Berdoa

Sebagai orangtua yang ingin anaknya jadi anak sholih, tentu saja saya sudah membiasakan Faza berdoa di segala aktivitas.

Mau nenen, doa dulu. Mau makan, doa dulu. Mau pergi, doa dulu. Mau tidur, doa. Naik kendaraan doa dulu. Keluar masuk kamar mandi, tidak lupa berdoa juga. Dan lain lain, dan sebagainya.

Tapiii, kadang (atau malah sering 😭) pas gak lagi sama Faza, sayanya sendiri malah lupa berdoa. Makan, kadang langsung lhep. Baru inget di suapan ke dua -___-. Masuk kamar mandi, asal masuk. Sampai dalem baru inget.

Pernah nih pas kami mau pergi, sudah di mobil, saya-nya asyik buka chatt WA. Eh ditegur sama Faza. "Ibuuukk, doa!" katanya. Huaaaa, maluuuuu maksimal 😂


2. Rajin Baca Buku

Orangtua milenial mana yang gak hobi beliin anaknya buku demi cita-cita agar si anak jadi generasi yang rajin baca buku?

Otentu saja saya gak mau ketinggalan 😀

Demi beliin Faza buku, saya rela gak gak beli novel lagi. Pinjem temen dan langganan Gramedia Digital menjadi pilihan.

Tapi -- sekali lagi -- anak butuh contoh nyata. Teladan. Lha masalahnya, kalo saya sekarang jadi lebih sering baca buku digital pake gadget, ya mana tau Faza kalo ibu sedang baca buku. Di mata dia, ibu mainan HP terus kan. Inkonsisten -___-.

Dan lagi, pengen anak rajin baca buku gak akan cukup hanya dengan beliin dia buku tiap bulan. Sayanya harus banget dampingi dia, membacakan buku-buku itu untuk dia.

Masalahnyaaa, kadang kalo dia minta dibacain buku tuh sering gak mau udahan. Lagi, lagi dan lagi. Sayanya sampai bosan dan kehabisan kalimat untuk mendeskripsikan gambar yang itu-itu aja 😂

Akhirnya? Ya saya paksa udahan lah. Gimana sih ya, katanya pengen punya anak rajin baca buku, giliran anaknya masih ngotot pengen baca, malah dipaksa udahan. Lagi-lagi, inkonsisten 🙈

3. Tentang "Tidak Perlu Takut"

Saya itu penakut. Takut cicak. Takut ular (meski hanya gambar). Takut tikus. Takut kecoa. Dll.

Tapi ya saya gak pengen dong Faza jadi anak penakut. Apalagi dia cowok.

Jadi saya sering sok-sokan bilang, "tidak perlu takut, nak, kan dia gak ganggu, bla bla bla"

Masalahnya, saya ini tipe yang kalo takut pasti teriak heboh. Pernah nih, saya habis nasehatin Faza tidak perlu takut sama kecoa, eh habis itu pas saya nyuci piring, tiba-tiba ada kecoa. Saya reflek teriak histeris.

Faza melongo dong. Kalo bisa, mungkin dia akan bilang, "Katanya tidak perlu takut? Ibu gimana sih!"

😂😂😂

Sudahlah, akhiri saja sampai di sini. Kalo daftar ini saya teruskan, niscaya akan jadi sepanjang jalan kenangan. Ahahaha.

Beneran deh, nulis ini tu bikin perasaan saya gado-gado. Ada geli, sedih, miris dan malu. Huhu.

Yah, kita mungkin memang gak akan bisa jadi orangtua sempurna kok. Karna kesempurnaan memang bukan buat manusia. Tapi setidaknya, kita bisa menjadi orangtua yang gak malu mengakui kekurangan kita sebagai orangtua, dan selalu berusaha menjadi lebih baik setelahnya 😊

Hayooo, berani gak bikin daftar inkonsistensi emak-emak sekalian dalam mendidik anak? 😃

Kamis, 11 April 2019

Menjadi Ibu, Menjadi Orangtua



Tahun ini, saya dan mas suami Insya Allah berencana program anak kedua.

Yakin sudah siap?

Jujur saja tingkat keyakinannya belum sampe 100% sih. Saya sedang banyak-banyak merenung dan bertanya pada diri sendiri. Apakah saya beneran sudah siap menjadi ibu dari 2 orang anak?

Karna menjadi ibu, nyatanya memang sama sekali gak sederhana.

Baca juga: Tentang Keputusan Nambah Anak

Saya jadi ingat prolog dari buku 5 Madrasah Kecilku karya Mbak Kiki Barkiah.

Apa sih motivasi kita punya anak? Biar ada yang rawat saat kita tua kah?

Kenyataannya, banyak tuh orangtua yang harus sebatang kara bahkan akhirnya tinggal di panti jompo padahal anaknya banyak.

Biar bahagia kah? Kenyataannya, banyak sekali kasus tentang anak yang menjadi sumber stress orangtuanya.

Jadi kalo dipikir-pikir, motivasi punya anak harusnya melampaui hal-hal keduniawian semacam di atas ya?

Sayangnya, banyak juga (atau kebanyakan?) yang punya anak ya sekedar punya anak aja. Karna memang umumnya orang ya gitu. Anak-anak, dewasa, menikah, lalu punya anak. Gak ada yang perlu dipikir dan direncanakan dengan baik.

Akibatnya, anak-anak yang lahir dan tumbuh dari orang tua yang motivasinya cuma 'umumnya-manusia-ya-habis-nikah-punya-anak', akhirnya tumbuh setumbuh-tumbuhnya. Terpaksa kehilangan kesempatan memupuk potensi luar biasanya, karna orangtua mereka sama sekali gak ngeh tentang potensi tersebut.

Jadi, harusnya keputusan untuk punya anak gak pernah boleh sesederhana itu. Menjadi ibu gak boleh seremeh itu.

Bayangin ya. Kita, ketika menjadi orangtua, adalah sebab atas terlahirnya seorang manusia baru ke dunia. Manusia yang kecil, lemah, belum bisa apa-apa. Maka, ia adalah sepenuhnya tanggungjawab kita.

Kalo diibaratkan, anak adalah kaset kosong. Dan orangtuanya lah yang bertanggungjawab atas apa saja yang terekam dalam kaset kosong tersebut kelak. Karna kita orangtuanya lah yang merekamkannya.

Fiuuhh.

Bahkan, gak usah jauh-jauh ke soal mendidik, dll dulu deh.

Baru pas proses hamilnya aja udah gak sederhana kan tanggungjawabnya?

Tentang menjaga asupan makan, gak peduli seberapa gak nafsunya kita. Menghindari makanan tertentu yang sekiranya kurang baik bagi janin, gak peduli seberapa suka dan pengennya kita. Minum macem-macem vitamin. Menjaga emosi. Dll.

Ada juga yang protes. Kenapa perempuan kalo punya anak jadi kayak kehilangan dirinya sendiri sih? Jadi seolah semua-mua tentang anak. Gak boleh egois. Kenapa harus begitu?

Ya memang harus begitu. Itu si jabang bayi gak minta loh dikandung dan dilahirkan sama kita. Kita lah yang bertanggungjawab penuh atas hadirnya dia di dunia.

Contohnya soal menjaga makan saat hamil. Sebenernya ada beberapa dokter yang bilang, gak usah ada yang dipantang. Makan apa aja boleh. Mie instan juga gak masalah.

Baca juga: Problematika Menjadi Ibu Baru

Tapi kalo saya pribadi ya. Buat orang dewasa yang gak lagi hamis aja sebenernya mie instan gak sehat kan? Apalagi buat janin kecil yang pertahanannya masih sangat lemah? Daripada kenapa-napa dan saya nyesel cuma gara-gara makanan, saya lebih milih sekuat tenaga menahan diri.

Itu satu dari sekian banyak bentuk ketidakegoisan saya ketika menjadi ibu.

Makanya ketika berencana hamil lagi, bener-bener saya harus menyiapkan diri. Agar saya mampu menekan egoisme saya semaksimal mungkin. Dan itu gak mudah. Makanya harus dipersiapkan. Hehe.

Jadi, kalo ada yang bilang, menjadi ibu itu harus siap melakukan apapun demi anak, rasanya gak berlebihan. Asal, 'apapun'-nya dalam konteks yang mendidik.

Yah, begitulah. Menjadi ibu gak pernah sederhana. Karna kalo sederhana, gak mungkin imbalannya surga 😊

Kamis, 04 April 2019

#BincangKeluarga: Tentang Istri yang Taat pada Suami

Dulu, saya termasuk orang yang bisa dibilang kurang berpikiran terbukan. Saya cenderung hanya mau baca-baca tulisan atau membuka diri pada informasi yang saya tau pasti sesuai dengan nilai-nilai yang saya pegang.

Lingkungan hidup saya jujur saja homogen sejak kecil. Punya teman yang non-muslim pun gak kayaknya gak lebih dari 3 orang. Iya. Sehomogen itu. Mungkin itu sebabnya saya cenderung gak siap terpapar dengan 'perbedaan pandangan'.

Lama-lama saya merasa kuper, dan merasa perlu membuka diri. Saya mulai membaca artikel-artikel yang gak sejalan dengan value yang saya percayai. Meskipun belum berani yang banget-banget bertolak belakangnya sih. Hehe.

Tapi tetep aja. Namanya baru awal-awal yaa mulai baca di luar zoman nyaman saya, kadang di hati tu rasanya nano-nano. Salah satunya tentang tulisan-tulisan tentang perempuan. Akhir-akhir ini (atau dari dulu ya jangan-jangan?) banyak seolah mendengungkan: perempuan harus mandiri, harus punya power, dll. Itu bener sih, saya setuju.

Tapi saya sedih. Karna juga menemui beberapa tulisan yang seolah pesannya, 'gak usah nurut-nurut banget lah sama suami. Kita kan tetap berhak punya keputusan sendiri, punya mau sendiri, dll'.

Baca punya Ade:




Dari tulisan-tulisan semacam itu, kesannya kok jadi taat sama suami itu sesuatu yang membuat kita jadi 'wanita lemah dan terjajah'.

Yah, namanya juga era digital. Semua orang berhak menyuarakan pendapatnya lewat media digital. Yang bisa kita lakukan kalo gak setuju apa? Cara paling elegan menurut saya ya dengan bikin tulisan balik yang gantian menyuarakan pendapat kita.

Lalu gimana pendapat saya tentang istri yang harus taat pada suami?

Ya karna saya muslim, dan saya tau taat pada suami adalah perintah dari Yang Maha Menghidupkan saya, ya saya harus taat.

Sebenernya emang gak akan ketemu sih, karna di sisi sana, landasannya murni hal-hal duniawi. Sedangkan tentang perintah taat pada suami -- seperti halnya taat pada segala aturan Allah -- adalah perkara yang lebih kental urusan ukhrowi (akhirat)-nya.

Taat sama suami karna inget akhirat aja kadang masih suka berat. Apalagi yang gak sedikitpun sambil mikir akhirat kan?

Tapi gini lho. Perintah agar istri taat pada suami itu mbok jangan dikesankan membuat wanita jadi seolah makhluk terjajah.

Ada batasannya kok. Yaitu jika yang diperintahkan suami adalah kebaikan. Ya wajib ditaati. Kalo suami -- misal nih, naudzubillah -- nyuruh melacur, ya malah wajib gak ditaati lah!

Lagipula, perintah agar istri taat pada suami, juga dibarengi perintah-perintah lain kok. Perintah agar suami memperlakukan istri dengan baik, lemah lembut, dll. Suami yang baik pastilah mau mendengarkan pendapat istrinya.

Jadi terutama untuk kalian yang belum menikah, gak usah takut lah sama perintah taat pada suami setelah jadi istri nanti. Pastikan saja calon suamimu adalah laki-laki yang mau menghargai pendapat istrinya kelak.

Yakin deh, taat sama suami itu gak akan menurunkan derajat kita sebagai seorang wanita.