Rabu, 09 Juni 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 3)

Halohaaa

Bismillah, mau lanjutin cerita lagi yaaa. Tiap nulis, aku berharap semoga ada manfaat yang dibawa dan sampai ke pembaca dari tulisanku ini. Aamiin.

Jadi bertepatan dengan bulan Ramadan 1142 H alias bulan April 2021 Masehi, aku kembali mengalami apa yang aku alami di bulan Desember 2020 lalu. Yup, keluar flek beberapa hari setelah mens (kalo kali ini tepatnya 2 hari setelah mens), dan berkelanjutan sampe lebih dari hari ke 15 menstruasi.

Sedih bangeeettt, karena bertepatan dengan bulan Ramadan, hiks. Utang puasanya jadi banyak, huhu.

Pada hari ke-10/11 menstruasi akhirnya memutuskan untuk datang lagi ke dokter. Gak mau nunda-nunda lagi. Dan kali ini akhirnya saya bulatkan tekad untuk datang ke dokter sub-spesialis Konsultan Fertilitas. Yang Alhamdulillahnya, di Rumah Sakit yang se-naungan dengan tempat kerja saya, ada dokter konsultan fertilitas perempuan. Tepatnya di Rumah Sakit Islam Sultan Agung, dengan dr. Rini Ariani, Sp.Og, K.Fer.

Saat ketemu dr. Rini Ariani, beliau langsung memeriksa saya melalui -- lagi-lagi -- USG Transvaginal.

Dan, taraaa... sesuatu yang sudah familiar bagi saya, tapi belum pernah saya lihat sebelumnya di hasil pemeriksaan saya sendiri akhirnya.

 


Terlihat folikel-folikel kecil dan banyak di layar. Karena kebetulan saya udah lumayan sering baca-baca artikel yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita -- terutama sejak merencanakan untuk hamil lagi -- saya sudah bisa menduga apa yang terjadi, sebelum dokter menjelaskan.

Dan sesuai perkiraan saya, dokter Rini bilang, arahnya ke PCOS. Karena saya juga mengalami tanda-tanda lain seperti munculnya flek ini, rambut rontok parah berkepanjangan, sering merasa capek, dan tumbuh rambut halus di bagian tubuh tertentu yang sebelumnya nggak ada.

Dokter Rini juga bilang, ada indikasi saya kekurangan vitamin D. Konon, itu problem yang sangat umum pada para pekerja kantoran yang jarang terpapar sinar matahari. Dan setelah cari tau apa sih tanda-tanda vitamin D, saya tercengang. Hampir semuanya ada di aku. Huhu.

Aku juga tercengang membaca dampak dari kekurangan vitamin D ini. Padahal selama ini, minum suplemen vitamin D itu sesuatu yang kurang familiar kan ya. Nggak nyangka ternyata perannya buat tubuh sebesar itu.

Meski begitu, dokter Rini tidak (belum) menganjurkan saya untuk melakukan tes darah (tes lab), mengingat biayanya yang gak bisa dibilang murah, dan menurut beliau gambarannya sudah cukup bisa dilihat dari gejala-gejala yang muncul. Huhu, terharu. Dokter yang pengertian sekali. Karena banyak kan dokter yang menganjurkan tes ini-itu, tanpa kepikiran kemampuan finansial pasiennya. Padahal untuk promil, pemeriksaan yang dilakukaan pasti butuh banyak biaya, Jadi menurut beliau, alangkah lebih baik menekan apa yang bisa ditekan. Kecuali memang kondisi mengharuskan melakukan pemeriksaan tersebut.

Tapi, dokter Rini meminta kami untuk melakukan dua tes yang WAJIB dilakukan jika ingin menjalankan promil. Yaitu, tes analisa sperma untuk suami, dan HSG untuk istri.

Saya sempat nawar. Gimana kalau kondisi yang udah kelihatan bermasalah dibereskan dulu? Dalam kasus saya, hormon kacau yang bikin sel telur saya berukuran kecil-kecil itu yang dibereskan dulu.

Dokter Rini menolak. Beliau dokter yang prosedural sekali. Kalau memang mau promil, ya selain harus tau gimana sel telurnya, juga harus tau gimana spermanya, dan gimana saluran tuba falopinya. Karena percuma jika salah satu diperbaiki, tapi ternyata ada masalah lain yang belum ketahuan.

Baiklah.

Meski jujur saya agak shock sih. Shock-nya karena, wow -- lagi-lagi -- saya nggak nyangka akan ada di fase harus menjalani pemeriksaan-pemeriksaan semacam itu, yang sebelumnya cuma saya dengar lewat cerita.

Tapi yaudahlah ya, Bismillah. Que sera sera, whatever will be will be...

Akhirnya kami pun mengatur jadwal kapan saya akan HSG dan kapan suami analisa sperma. Gimana cerita soal HSG dan analisa sperma ini, lanjut lagi di Part 4 yaaa. Biar gak kepanjangan.

Jumat, 28 Mei 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part. 2)

 Bismillah, mau melanjutkan cerita promil anak kedua.

Kemarin waktu part. 1-nya release, ada satu teman dekat yang penasaran banget dengan lanjutan ceritanya. Minta spoiler, tapi aku kekuh nyuruh nunggu cerita part 2-nya di blog ini. Haha. Maafkan, sayaaang.

Hayuk lah, kita mulai ceritanya.

Sebelumnya baca dulu: Part. 1 Cerita Promil Anak Kedua

 

cerita-promil-anak-kedua


Setelah periksa di RSIA Anugerah Semarang dan disarankan untuk mencoba promil alami dulu, kami pun nurut. Balik ke promil alami seperti sebelum-sebelumnya.

Sampai akhirnya tibalah kami di bulan Desember 2020. Pada bulan Desember 2020 ini cukup banyak moment memorable untuk kami. Dimulai dari Faza yang akhirnya dikhitan, sampai... Kami sekeluarga (kecuali ibu mertua dan Faza), dinyatakan positif Covid-19 dan harus menjalani isolasi.

Saat isolasi di Pesantren covid yang disediakan oleh tempat kerja saya, pada hari ketiga saya dibuat kaget. Karena mendapati flek darah di celana dalam. Nggak banyak sih, tapi tetap saja bikin kaget dan was-was. Karena saat itu, saya belum ada seminggu beres mens.

Fleknya pun berlanjut terus bahkan sampai saya selesai isolasi, dan kemudian ketemu siklus mens berikutnya.

Pada saat mens itu, saya lagi-lagi datang ke dokter kandungan. Kali ini saya memilih ke ke klinik praktek dokter kandungan dekat rumah saya. namanya dr. Kartika Budi P, Sp.OG. Dan lagi-lagi, sekalian saya bilang, mau promil.

Tanpa babibu, saya langsung dikasih obat penyubur oleh beliau. Dan disuruh kembali pada hari ke-10 (kalo gak salah ingat) menstruasi, untuk USG Transvaginal.

Soal flek-nya gimana? kata beliau, mungkin stress dan kecapekan. Huhu, itu jawaban klise yang susah bikin saya percaya sebenernya. Tapi jadi masuk akan ketika bulan itu emang bisa dibilang saya stress banget saat harus isolasi.

Yaudah singkat cerita saya minum obat yang diresepkan oleh beliau. Lalu, kembali ke kliniknya di hari yang sudah ditentukan. Hasilnya? Beliau sempat kaget, lho mana kok gak ada telur yang ukurannya besar, padahal udah dikasih penyubur?? Waduh??!!

Tapi setelah beliau amati lagi, beliau bilang, eh sorry-sorry, ada deng. Tapiii, kata beliau yang ada sel telurnya hanya tuba sebelah kiri. Sedangkan yang kanan nggak ada. Saya agak bertanya-tanya, kok gitu? Apakah tuba kanan saya sudah gak berfungsi dengan baik? Sayangnya, pertanyaan itu hanya saya simpan dalam hati :(

Setelah itu, kami dikasih jadwal kapan aja harus berhubungan. Wooowww, jadwalnya banyak bangettt. Bahkan saat hari perkiraan ovulasi, kami diminta berhubungan setiap hari. Padahal bukannya sperma itu butuh waktu kurang lebih dua hari ya untuk 'mematangkan diri'? Entahlah.

Apakah kami patuhi sesuai jadwal yang dikasih itu? Sadly, enggak. Bukan karena gak mau atau gak suka ya 😂 Tapi jujur, bagi kami yang dua-duanya kerja dari pago sampai sore, ditambah sudah ada Faza, jadwal itu terasa gak masuk akal. Gak bisa bayangin lah pokoknya kalo berhubungannya macam 'kejar setoran' gitu. Khawatir malah bikin trauma kalo dipaksakan, huhu. Kualitas nomor 1, oke?! Hehehe.

Yaudah, habis itu akhirnya macet lagi. Kami gak balik untuk priksa lagi, wakakaka.

Setelah itu, saya balik ke mode naik-turun emosi lagi. Adakalanya sediihhh dan bertanya-tanya, kapan yaaa aku hamil lagi? Kenapa yaa aku gak kunjung hamil padahal dulu anak pertama cepet? Dll.

Sampai akhirnya masuk ke fase: ya sudah kalau memang jalannya harus gini. Semua atas pengaturan dari Allah yang Maha sempurna Pengaturannya, kan?

Tapi yaaa, percaya gak, tiap kita mau masuk fase baru yang lebih baik, pasti adaaaa aja cobaannya. Terutama cobaan hati. Waktu saya berusaha untuk 'nyelehke ati', diuji dengan kabar kehamilan anak kedua dari beberapa orang teman yang anaknya kurang lebih seumuran faza, bahkan ada yang jauh lebih kecil dari Faza.

Rasanya? Haha, yagitudeh. Pasti sempat mellow. Iri. Dll.

Beruntungnya, saya punya teman-teman supportif yang selalu ngasih vibe positif. Intinya, tiap orang punya jalannya masing-masing, dan tidak untuk dibandingkan. Alhamdulillah meski gak semudah kelihatannya, akhirnya saya bisa melewati fase itu dengan baik.

Lalu, sampailah kita pada bulan Ramadhan, yang bertepatan dengan bulan April 2021. Lagi-lagi, saya mengalami hal yang sama dengan yang saya alami pada bulan Desember 2020 lalu. Menstruasi saya memanjang. Saya terus-terusan flek hingga 15 hari lebih. Huhu sedih banget, mana pas Ramadhan pula kaaan.

Dan bagi saya, tubuh saya udah makin jelas banget ngasih alarm ketidakberesan.

Tanpa pikir panjang, saya langsung priksa. Dan kali ini, saya milih datang ke dokter kandungan yang punya sub-spesialis sebagai konsultan fertilitas. Atau yang punya gelar K.Fer di belakang gelar Sp.OG-nya.

Sebenernya saya udah tau lamaaa, bahwa kalau merasa ada yang gak beres dengan kesuburan atau ingin program hamil itu, datangnya bukan ke yang hanya Sp.OG, tapi yang K.Fer. Tapi emang dasarnya bandel sih anaknya, harus banget nyoba sana-sini dulu. Haha.

Alhamdulillah, di Rumah Sakit Islam Sultan Agung yang kebetulan merupakan lembaga tempat saya kerja, ada dokter konsultan fertilitas PEREMPUAN. Soalnya itu syarat mutlak dari suami. Huehehe.

Udah ah, lanjutannya di Part. 3 yaaaa. Udah panjang banget soalnya.

Jumat, 21 Mei 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 1)

 Wow, sama sekali tidak pernah terbersit dalam bayanganku, akan datang masa di mana saya menulis tentang kisah perjuangan promil seperti ini di anak kedua.

Kenapa begitu? Karena saya kepedean gilak. Dulu di kehamilan pertama, bisa dibilang saya 'ujug-ujug' hamil. Hanya selang satu bulan setelah menikah. Tadinya saya ngira nanti pas saya udah pengen punya anak kedua, ya tinggal 'bikin aja', terus ujug-ujug hamil juga seperti anak pertama.

Ternyata saya salah. Tidak semudah itu, Maemunah. Huhu.

cerita-promil-anak-kedua

 

 

Ini mungkin sekaligus 'sentilan' kecil dari Allah untuk saya. Dulu setelah Faza lahir, saya selalu bilang ih jangan sampai hamil lagi dulu. Pokoknya saya kekeuh hamil harus sesuai rencana.

Tulisan ini salah satu buktinya: Tentang Keputusan Nambah Anak

Bahkan saya sampai merencanakan mau hamil lagi bulan apa, biar lahirnya di bulan yang sama dengan Faza. Saya seolah lupa, anak itu bener-bener sepenuhnya hak Prerogatif Allah. Siapa saya ini kok congkak banget merasa bisa ngatur-ngatur, ya kan?

Tapi ya udah. Tidak untuk disesali, cukup diistighfari dan ditaubati. Alhamdulillah Allah mengingatkan saya, sehingga saya gak jadi manusia yang makin congkak.

Oke deh, hayuk kita mulai cerita perjuangan promil saya untuk mendapatkan amanah anak kedua. 

Promil Anak Kedua

Tahun 2019 lalu, kakak pertama saya sedang hamil anak ketiga. Waktu itu saya bilang ke suami, oke deh nanti setelah beliau lahiran, kita mulai program anak kedua.

Pertengahan 2019, kakak saya melahirkan. Sejak saat itu, saya dan suami juga mulai ikhtiar untuk mendapatkan momongan lagi. FYI, kami gak pakai alat kontrasepsi apapun sejak Faza lahir. Hanya mengatur sendiri dengan kalender (karena jadwal mens saya selalu teratur), ditambah ikhtiar 'tembak luar'.

Sampai masuk 2020, ternyata saya belum kunjung hamil. Sempat bertanya-tanya dan agak gak nyangka, karena sekali lagi, tadinya kami optimis banget bakal secepat saat pertama hamil. Tapi juga belum terlalu panik, karena sepertinya saat itu tekad dan mental kami belum benar-benar bulat untuk punya anak lagi.

Bulan demi bulan, tekad kami makin bulat, Faza juga sudah mulai makin sering bilang bahwa dia ingin punya adik, tapi qodarullah saya masih juga belum hamil. Mulai lah saya agak panik.

Akhirnya, Bismillah, saya memutuskan untuk datang ke dokter kandungan. Berniat untuk memulai promil, sekaligus karena kebetulan saya juga mulai merasa ada yang gak beres dengan tubuh saya.

Sinyal Tidak Beres Pada Tubuh

Sinyal ketidakberesan yang langsung saya sadari sekitaran pertengah tahun 2020 adalah saat saya gak mendapati adanya lendir serviks di kisaran tanggan masa subur saya. Kenapa saya langsung sadar dan merasa aneh? Ya karena biasanya, setiap masa subur datang, selalu ditandai dengan keluarnya lendir serviks.

Sudah pada tau kan bahwa masa subur salah seorang wanita ditandai salah satunya dengan adanya lendir serviks yang mirip putih telur dan teksturnya elastis?

Nah, saat itu, sama sekali gak ada. Bener-bener kering.

Jujur saja saya langsung panik dan bertanya-tanya. Kenapa? Apa yang salah? Apakah saya tidak mengalami masa subur alias tidak terjadi ovulasi pada diri saya? Apakah ini salah satu sebab promil anak kedua kami tidak kunjung membuahkan hasil?

Tapi saya gak langsung memutuskan ke dokter saat itu juga. Saya masih ingin mengamati dulu sejauh mana alarm yang diberikan oleh tubuh saya. Siapa tau cuma karena bulan itu saya stress atau kecapekan, lalu bulan depannya sudah normal lagi.

Ternyata, saya salah. Bulan berikutnya pun saya masih tetap gak mendapati lendir serviks yang biasa muncul pada tanggal masa subur. Hingga kurang lebih tiga bulanan hal itu terjadi, baru akhirnya saya memutuskan untuk datang ke dokter.

Mencari dan Memilih Dokter Kandungan Perempuan di Semarang

Ini bagian yang paling bikin pusing. Emm, bukan pusing sih, tapi apa yaaa... yah, gitu lah pokoknya. Butuh effort tersendiri untuk mencari dan memilih dokter yang klik di hati. Yep, saya orang yang lumayan mengutamakan kenyamanan di hati saat memilih dokter. Saya butuh dokter yang mau dengan sabar mendengarkan berbagai keluhanku, lalu menanggapinya sesuai dengan kapabilitasnya.

Sejujurnya, saya ingin sekali ke dokter kandungan yang sama dengan saat saya hamil faza dulu. Sayangnya, dr. Retno sudah pindah dari Kota Semarang, dan menetap di kota lain.

Mau gak mau saya harus mencari dokter kandungan perempuan lain di Semarang ini. Setelah tanya sana-sini, cari reviewnya lewat google dll, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada dr. Hervy Purwiandari, Sp.OG di RSIA Anugerah Semarang.

Saya datang saat menstruasi hari ketiga, sesuai saran dari teman yang katanya kalau mau promil datangnya sebaiknya pas hari ketiga menstruasi.

Ternyataaa, salah. Kata dr. Hervy, datang di hari ketiga menstruasi itu benar jika kita sudah benar-benar mau start promil. Tapi sebelumnya tentu saja harus dilakukan pemeriksaan awal, agar bisa tau treatment apa saja yang harus diberikan untuk memulai promil.

Maka, hari itu gak ada pemeriksaan apapun yang dilakukan pada saya. Baru sekedar obrolan prolog tentang keluhan yang saya rasakan dan keinginan saya dan suami untuk promil anak kedua. Dr. Hervy kemudian meminta kami untuk datang lagi hari ke 10 menstruasi (kalau gak salah) agak bisa melakukan USG Transvaginal untuk melihat kondisi sel telur saya.

Pada hari yang sudah kami sepakati tersebut, saya datang lagi. Yang bikin saya takjub sama RSIA Anugerah Semarang ini adalah ketika hendak melakukan USG Transvaginal, mereka menyiapkan semacam pembungkus kaki khusus, juga selimut. Sehingga privasi alias aurat saya tetap sangat terjaga. Bahkan dokter pun gak melihat aurat saya lho. Wow, ini sebuah kemewahan sih menurut saya. Karena baru kali itu menemukan yang se-menjaga privasi itu.

Gimana hasilnya?

Dokter bilang, kondisi sel telur saya baik. Ukurannya normal. Tidak terlihat ada masalah sama sekali. Alhamdulillah.

Sejujurnya, saya antara lega dan bertanya-tanya. Gak ada masalah sama sekali? Masa sih? Tapi kok saya merasa alarm tubuh saya bunyi.

Tapi ya sudah. Lagi-lagi saya membungkam pikiran dan perasaan saya itu. Karena dokter bilang gak ada masalah, mungkin hanya stress atau kecapekan. Lalu menyarankan kami untuk mencoba lagi promil alami, dan hanya membekali kami dengan vitamin standar macam asam folat dll gitu lah.

Sampai akhirnya, Desember 2020 alarm tubuh saya kembali bunyi. Alarm apa tuh?

Udah kepanjangan. Lanjut Part 2 yaaa. Ditunggu :)

Selasa, 20 April 2021

Akhirnya Faza Sekolah!

 Awal Maret lalu, Budhe Hana (orang yang sejak bayi menjaga Faza saat saya kerja) terpapar Covid-19 dan harus dirawat di Rumah Sakit kurang lebih dua minggu. Jelas kami kalang kabut memikirkan Faza sama siapa saat saya dan ayahnya kerja? Yangtitinya masih aktif bekerja, sementara akungnya meski sudah pensiun, tapi tergolong orang yang masih aktif di beberapa lembaga pemerintah. Jadi gak setiap hari di rumah. Lagipula, saya gak tega minta tolong akungnya untuk jaga Faza sendirian dari pagi sampai sore.

Alhamdulillahnya, kantor tempat saya dan suami kerja, aturannya super duper santai. Ijin untuk gak masuk kerja sangat mudah. Jadi kami ijin gantian. Sehari saya yang ijin, besoknya suami yang ijin. Ohya, sebelumnya saya juga udah swab-in Faza dan Alhamdulillah negatif. Makanya kami masih berani beraktivitas seperti biasa.

Selama di rumah saya Faza, saya jadi sadar. Intensitas Faza nonton TV sudah mulai berlebihan. Dari mana saya tau? Lha tiap kami nonton TV bareng, dia hafal semua jingle iklan, cobaaaa *CRY*. Udahlah emang saya nya kalo malem udah mager mau belajarin dia macem-macem, mentok paling baca buku, siangnya kegiatan dia kebanyakan nonton TV. Hiks.

Tapi saya gak menyalahkan budhe Hana sama sekali ya. Sedikit pun enggak. Gimanapun, beliau itu tugasnya hanya menjaga Faza selama saya kerja. Beliau gak punya jobdesc untuk mendidik.

Setelah berpikir tentang gimana caranya Faza gak terlalu sering nonton TV lagi, akhirnya saya WA teman saya yang dulu pernah kasih info soal PAUD sekaligus daycare. Apakah bisa menerima peserta didik baru atau enggak. Alhamdulillahnya, kata teman saya bisa kalau mau daftar sekarang!

Gak pakai mikir lama, saya langsung WA miss-nya, bilang bahwa hari Senin tanggal 22 Maret lalu saya akan datang ke sekolah untuk mendaftarkan Faza. Selasanya, Faza langsung masuk hari pertama.

Ohya, FYI, saya udah pernah survey daycare ini setahun lalu. Niatnya tahun lalu saya ingin mendaftarkan Faza. Tapiii, jeng jeng... tiba-tiba pandemi. Bubar jalan semua rencana. Makanya ketika kali ini akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan, bisa dibilang saya udah punya gambaran tentang daycare tersebut.

Kan masih pandemi, emang gak khawatir?

Enggak sih, Bismillah. Saya yakin aja.

Toh pas masih di Budhe Hana juga dia gak ada jaminan terlindungi dari virus. Malah interaksinya sama jauh lebih banyak orang. Sedangkan daycarenya ini, sejak pandemi, hanya ada satu anak yang fullday. Peserta didik yang lain pada halfday, itupun yang halfday diberlakukan seperti sekolah-sekolah yang lainnya, yaitu masing-masing anak masuk sekolahnya hanya sepekan sekali. Dengan jadwal yang diatur sedemikian rupa. Jadi masuknya enggak barengan semua anak.

Sekolahnya pun punya aturan tentang protokol kesehatan. Jadi, Insyaa Allah akan jauh lebih terkontrol.

Proses Adaptasinya Gimana?

Agak menguji kesabaran sih. Padahal awalnya saya dan ayahnya agak ketinggian eskpektasi sama dia. Kirain dia akan semudah itu adaptasi, ujug-ujug enjoy di sekolah baru gitu. Haha. Jangan mimpi, Marimar!

Tentu saja tidak.

Hari pertama pas saya antar, dia kelihatan nahan nangis (tapi gak nangis). Kata missnya, mau mainan tapi belum mau gabung sama teman yang lain. Maunya sendiri. Oke, mungkin karena belum kenal.

Siangnya missnya ngabari, Faza nangis heboh minta pulang. Waduh, saya panik. Tapi lalu ingat dulu ponakan saya juga gitu awal masuk sekolah. Inhale-exhale, saya mulai tenang, lalu saya video call Faza lewat missnya. Lihat wajah saya, makin keras dia nangisnya. Haha. Saya beri semangat dan afirmasi positif secukupnya. Apakah dia langsung tenang? Ya jelas tidak. Tetap nangis. Tapi kata missnya, meski sedang menangis, Faza tetap mau diajak berkomunikasi, tetap jawab setiap ditanya.

 

ekspresi di minggu kedua sekolah, saat diantar

Hari berikutnya, drama semakin menjadi. Udah rewel sejak mau berangkat. Dirayu dengan diajak jajan ke indomaret, mau. Sampe sekolah, ya tetep aja nangis. Gitu terus sampe seminggu ke depan. Tapi Alhamdulillah nangisnya maksimal cuma sampai jam 10 sih. Haha.

Seminggu pertama sekolah, mainan barunya ada 4! Itu rekor banget. Dalam rangka untuk 'hadiah', dan biar dia semangat sekolah. Hihi. Lepas seminggu, udah mulai stabil. Tapi masih ada agak rewel-rewelnya dikit. Masuk minggu ketiga, Alhamdulillah sudah aman suraman. Alhamdulillah!

Gimana Faza setelah sekolah?

Sedihnya, dia gak mau banyak cerita tentang kegiatannya di sekolah. Cerita sih, tapi sepengennya dia. Kalau ditanyain, dia malah jadi males cerita. Hih. Saya juga awalnya tanyanya salah sih. Saya tanya, 'Faza di sekolah belajar apa atadi?', Faza jawabnya, 'Faza gak belajar kok, Faza mainan'. Ahahaha, lhaiyaaa... kan di PAUD sih isinya memang mainan, cuma mainannya lebih terarah dan ada goals-nya aja.

 


Tapi Alhamdulillah missnya kooperatif sekali. Sering ngirim foto-fotonya Faza selama berkegiatan di sekolah, dan update informasi apapun.

Yang paling bikin saya senang setelah Faza sekolah sih satu: saya gak perlu masak buat bekal makan siangnya dia, karena makan siangnya sudah disediakan oleh sekolah, YEAY!

Selasa, 09 Februari 2021

Cerita Khitan Faza: Masih Kecil kok Sunat?

Saat masih hamil Faza, saya pernah nggak sengaja membaca postingan Instagram (lupa instagram-nya siapa), yang mengatakan bahwa, dari segi medis, waktu terbaik khitan/sunat seorang anak laki-laki adalah di bawah satu tahun. Lumayan kaget, karena selama ini yang lazim di lingkungan saya, anak laki-laki dikhitan rata-rata usia di atas tujuh tahun. Ada sih beberapa yang sunah dikhitan ketika masih kecil, tapi seringnya karena ada penyebab yang memang mengharuskan di baliknya. Setiap ada anak usia di bawah 7 tahun sunat, rata-rata orang akan bertanya: masih kecil kok sunat?


Ketika Faza lahir, ingatan tentang postingan usia terbaik anak laki-laki khitan itu kembali lagi. Lalu terbersit keinginan untuk mengkhitankan Faza saat bayi. Karena selain ternyata memang direkomendasikan oleh kacamata medis, kalau dipikir-pikir khitan saat masih bayi rasanya akan jauh lebih simpel.


Kenapa simpel? Yah, kalau misal setelah khitan jadi rewel kan tinggal dinenenin. Gendong juga masih enteng. Toh enggak karena dikhitan pun, adakalanya bayi rewel semalaman kan. Jadi sekalian gitu repot dan begadangnya. Hehehe.


Tentu saja niatan itu ditolak oleh keluarga saya, terutama Ibu. Karena, ya nggak lazim di mata mereka. Jadi yawis akhirnya niatan itu saya urungkan. Tapi keinginan untuk mengkhitankan Faza sesegera mungkin masih selalu ada dalam benak saya dan mas suami.


Sejak Faza sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah -- kurang lebih usia 1,5 tahun, kami mulai intens mensounding Faza untuk dikhitan. Kami menjelaskan ke dia bahwa Faza anak laki-laki, dan anak laki-laki harus dikhitan.


Nah, karena kami sudah sounding dari jauh-jauh hari, kami jadi tinggal nunggu dia siap saja. Jadi prosesnya mirip saat menyapih. Tinggal nunggu moment 'aha'-nya dia, cepat atau lambat dia akan bilang mau dan siap.

 

Baca juga: Menyapih dengan Cinta


Dan benar ternyata. Faza menemukan moment 'aha'-nya ketika kakak sepupunya dikhitan. Dia tiba-tiba bilang, "Ibu, aku mau dikhitan juga seperti Mas Danish"


Wow, tentu saja saya dan ayahnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Kami segera mengatur rencana: kapan, mau sunat di mana, dll. Setelah berunding dengan Akung dan Yangtinya Faza, akhirnya kami sepakat mengkhitankan Faza pada tanggal 4 Desember 2020 lalu. Selang lama banget yaaa dengan saat cerita ini ditulis, hehe. 


Saat itu, kami sempat galau mau menggunakan metode sunat apa. Awalnya saya berniat memakai metode clamp. Sudah sempat menghubungi Rumah Khitan yang bersedia Home Service juga. Tapi setelah berunding lagi, kami akhirnya memutuskan agar Faza disunat oleh tetangga kami yang seorang dokter dan memang sudah terbiasa mengkhitan anak, dengan metode laser.


Saat Proses Khitan


Saat proses khitan berlangsung, tentu saja kami semua tegang. Bisa jadi kami yang mendampingi yang jauh lebih tegang dibanding Faza, Fazanya manempatkan dirinya sendiri di tempat tidur malah. Hehe.


Yang membuat lebih tegang adalah, saat dokter sudah memotong kulit ujung penisnya, dan akan melanjutkan proses selanjutnya, tiba-tiba dokter bilang, "Lho..." dengan nada agak kaget. Jangan tanya saya paniknya seperti apa, meski tentu saja harus berusaha tetap tenang.


Ternyata, kulit penis Faza yang harus dipotong agak banyak, dan pemotongan yang pertama masih kurang. Jadi harus dipotong lagi. Setelah dipotong kedua kali, baru ketauan bahwa ternyata sudah mulai ada perlengketan antara kulit dan kepala penisnya, atau bisa dibilang sudah mulai gejala fimosis. Jadi kata dokter, keputusan untuk mengkhitankan Faza sekarang adalah keputusan yang sangat tepat. Alhamdulillah.


Nah tapi, karena ada perlengketan, tentu saja hal ini membuat proses khitan jadi makin lama. Di tengah-tengah proses menjahit, efek obat bius lokalnya sepertinya sudah mulai hilang, jadi Faza bisa merasakan saat dia dijahit, Hiks. Jelas saja dia nangis teriak-teriak. Tapi Alhamdulillah masih sangat terkendali.


Setelah Khitan Rewel Nggak?


Hampir semua orang juga bertanya seperti ini.

 

Kurang Lebih 3 Jam Setelah Sunat

 

Setelah proses khitan selesai, jelas Faza sempat menangis heboh. Mungkin sekitar setengah jam. Sempat muntah juga gara-gara oleh dokter kami disuruh langsung meminumkan obat pereda nyeri, dan Faza masih sambil nangis.


Alhamdulillahnya, proses khitannya dilakukan siang hari. BErte[atan dengan jam tidur siang Faza, Jadi, setelah capek nangis dan minum obat, dia langsung bobok. Puleeeess banget.


Setelah bobok, ya udah. Nggak ada rewel-rewel lagi. Alhamdulillah. Nangisnya paling kalau mau dioles salep, karena dia parno duluan. Hehe.


Berapa Hari Proses Pemulihannya?


Tepat seminggu, Alhamdulillah Faza sudah pulih total. Meskipun dalam seminggu itu, sempat diwarnai bengkak, karena Faza nggak bisa disuruh diem.

 

Hari ke-3 udah bisa gaya, LOL

 

Saat bengkak itu, saya sempat agak panik. Karena (maaf), bentuk penisnya jadi nggak beraturan. Saya khawatir nggak bisa balik lagi bentuknya, Huhu. Alhamdulillah kekhawatiran saya nggak terjadi.


Legaaaa banget rasanya, punya anak laki-laki dan sudah mengkhitankannya. Tinggal nunggu moment dia minta ijin untuk nikah. Huehehehe.


Jadi, bagi buibu pakbapak yang berniat mengkhitankan anaknya sedini mungkin, nggak usah khawatir yaaa. Semangat :)

Senin, 21 Desember 2020

Gut-Brain Axis, Tiga Kecerdasan yang Tidak Terpisahkan

 Pernahkah kalian merasa stress, yang kemudian berimbas pada masalah pencernaan? Perut terasa tidak nyaman, atau kadang disertai diare. Kenapa ya kok pikiran bisa berimbas pada pencernaan?


Atau, pernahkah kita melihat anak kita atau bahkan kita sendiri, yang ketika lapar, mood menjadi sangat buruk? Pasti pernah kan?!


Saya sempat penasaran dan bertanya-tanya tentaang hal tersebut. Hingga akhirnya kini saya telah menemukan jawaban dan penjelasannya.


Ternyata, antara otak, pencernaan dan hati memang ada hubungannya lho. Mereka bisa saling ngobrol dan saling mempengaruhi. Atau sering disebut dengan istilah Gut-Brain Axis.


Jujur ya, hampir empat tahun menjadi ibu, saya baru tau tentang apa itu Gut-Brain Axis, melalui webinar yang diadakan oleh Bebelac pada tanggal 11 Desember 2020 lalu, yang bertajuk “Pentingnya Gut-Brain Axis Untuk Menumbuhkan Anak Hebat”.

 

gut-brain-axis

 

Gut-Brain Axis merupakan sebuah sebuah koneksi yang menghubungkan otak dengan pencernaan. Melalui gut-brain axis, saluran cerna akan memengaruhiotak untuk memproduksi neurotransmitter yang berkaitan dengan sosial emosional anak, salah satunya hormon serotonin yang menghasilkan perasaan senang dan nyaman (Wang, Y., & Kasper, L. H. (2014) Brain, Behaviour, and Immunity.)


Menurut penjelasan dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes yang merupakan seorang ahli gizi dan penulis buku tentang gizi, yang kemarin  menjadi narasumber di acara webinar yang diselenggarakan Bebelac, saluran cerna mampu mempengaruhi otak untuk emosi, perilaku dan logika. Sedangkan otak mempengaruhi saluran cerna untuk menyerap nutrisi dengan baik, atau istilahnya adalah Gut-Brain Axis.
Wow, betapa ajaib pencernaan manusia ya.

 
Saya tercengang dengan pengetahuan baru ini. Karena dari penjelasan dr. Rita saya jadi paham bahwa ternyata, nutrisi yang baik bagi anak turut mempengaruhi perilaku dan kebaikan hati anak. Selama ini saya kira, perilaku hanyaa dipengaruhi oleh pola asuh dan keteladanan orangtua dan lingkungan. Sedangkan nutrisi hanya berpengaruh pada perkembangan fisik serta kecerdasannya. Ternyata saya salah besar.


Maka dari itulah, Ibu Ye Vian Quah – head of Bebelac – yang kemarin juga sempat mengisi acara webinar mengatakan, bahwa Bebelac percaya anak yang anak yang hebat adalah anak yang memiliki happy trio, yaitu happy tummy, happy brain dan happy heart. Happy trio ini tidak bisa saling terpisahkan, karena pada dasarnya mereka saling terhubung. Happy tummy atau pencernaan yang baik akan mempengaruhi happy brain atau kemampuan berpikir yang baik. Sedangkan happy brain akan mempengaruhi happy heart atau hati yang baik.


Menurut penjelasan dr. Rita, nutrisi yang memungkinkan terjadinya Gut-Brain Axis adalah prebiotik yang berperan untuk memberi makan mikrobiota pada saluran cernaseperti bifidobacterialyang menstimulasi pertumbuhan spesies Bifidobacteriumdan lactobacillus tertentu, dan mengurangi bakteri patogen. 


Mikrobiota ini juga bertugas untuk berkomunikasi dengan otak, termasuk meminta otak untuk mengatur emosi dan perilaku anak.


Salah satu perbiotik yang memiliki fungsi tersebut adalah prebiotic yang terkandung dalam Bebelac, yaitu FOS:GOS dengan perbandingan 1:9. Selain mengandung FOS:GOS 1:9, Bebelac juga mengandung omega 3, Omega 6, vitamin dan mineral yang mendukung pencernaan dan pertumbuhan anak kita.


Menjadi ibu di era yang semakin maju seperti saat ini memang menuntut kita untuk terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kita. Agar anak kita bisa tumbuh dengan optimal, dan kelak bisa menjadi anak hebat yang mampu bersaing. Seperti yang dikatakan oleh artis Putri Titian yang kemarin turut mengisi webinar. Ia mengatakan bahwa sebagai ibu, dia sadar bahwa perkembangan dunia sangat dinamis. Apa yang menjadi tantangan buat kita sekarang, belum tentu sama dengan tantangan yang dihadapi akan dihadapi anak-anak kita di masa depan. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi anak hebat yang dapat membawa kebaikan untuk sekitarnya.


Seusai mengikuti acara webinar Bebelac tersebut, saya jadi semakin terpacu untuk memberikan nutrisi terbaik untuk Faza, agar ia tumbuh menjadi anak yang happy tummy, happy brain dan happy heart.

Senin, 02 November 2020

Cerita Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Sebahagia-bahagianya punya anak, pasti ada titik di mana kita merasa 'ini kok menguji kesabaran banget ya?'. Iya, kan?

Anak Ibu A, perkembangan motoriknya oke banget. Tapi makannya susah setengah mati.

Anak Ibu B, makannya gampang banget, sama sekali nggak picky eater, tapi sering banget tantrum.

Anak Ibu C, anaknya manis, jarang tantrum, tapi beberapa perkembangan motoriknya butuh stimulasi khusus.

Dan masih banyak sekali kombinasi lain. Yang jelas, setiap anak itu unik. Dan setiap ibu punya ujiannya masing-masing.

Dalam setiap sesi obrolan dengan teman sesama ibu saya selalu bilang, ujian terberat saya dari punya anak adalah saat menghadapi trauma BAB Faza. Bukan tentang flat foot-nya.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Yep, Faza sempat mengalami trauma BAB berkepanjangan, dan benar-benar menguras energi, air mata, kesabaran -- dan nggak ketinggalan, materi. Keinginan untuk menuliskan cerita tentang trauma BAB yang Faza alami sudah ada sejak lama. Tapi saya selalu merasa nggak siap. Karena, beneran deh, rasanya nyesek banget. Akhirnya saya memutuskan untuk bertekad menuliskannya saat Faza sudah bisa dikatakan pulih dari trauma tersebut.

 

trauma-BAB-berkepanjangan

 

Dan Bismillah, here we go!

Awal Mula Faza Trauma BAB

Sejak Faza masih hanya mengonsumsi ASI, BAB-nya memang cenderung jarang banget. Kalau banyak orang cerita bayi bisa BAB beberapa kali dalam sehari, Faza enggak. Pernah bahkan sampai seminggu lebih dia nggak BAB. Tapi karena saat itu dia hanya mengonsumsi ASI, dan dari hasil browsing sekaligus konsul dengan dokter katanya nggak masalah karna masih bayi ASI, ya sudah saya nggak merasa itu masalah.

Yang jadi masalah adalah ketika dia mulai MPASI, tentu saja. Dengan pengetahuan saya yang sangat minim saat itu tentang per-MPASI-an, tapi sok tau banget, siklus BAB Faza masih tetap nggak lancar. Tiga hari sekali itu sudah termasuk yang paling cepat. Tapi Faza nggak menunjukkan tanda-tanda dia merasa nggak nyaman dengan perutnya. Makan tetap banyak. Nggak pernah GTM sama sekali.

Sampai suatu hari, sepulang jalan-jalan dengan beberapa teman kuliah saya, Faza tiba-tiba rewel sekali. Saat itu, dia -- kalau nggak salah -- udah hampir seminggu nggak BAB. Iya, saya tau saya salah karena kok ya dibiarin aja anak seminggu nggak BAB.

Saat itu Faza usia 9 bulan. Untuk pertama kalinya dia sembelit. BAB-nya keras sekali. Nangisnya heboh dan seperti sangat kesakitan. Jelas saya ikut nangis.

Dan dari situlah trauma BAB faza bermula. Sejak hari itu, nggak pernah sekalipun Faza BAB tanpa menangis ketakutan.

Trauma BAB Berkepanjangan, bak Lingkaran Setan

Saya kira, sembelit saat itu nggak akan berkepanjangan. Sayangnya, perkiraan saya salah besar.

Tadinya, saya selalu berharap, semakin besar Faza akan semakin paham bahwa BAB itu bukan hal menakutkan. Kenyataannya, semakin besar dia justru semakin pandai menahan BAB-nya, yang akhirnya menjadi lingkaran setan.

Trauma BAB --> nahan BAB --> BAB jadi keras dan sakit --> makin trauma lagi

Muter gitu aja terus, dan bikin saya berkali-kali merasa kehilangan harapan.

Saya nggak berlebihan ketika bilang merasa seperti kehilangan harapan, padahal 'cuma' soal trauma BAB. Kalian nggak akan bilang 'cuma', jika tau seperti apa Faza setiap hendak BAB.

Nangisnya seperti anak yang sedang disiksa oleh ayah-ibunya. Meraung-raung. Setiap BAB, kamar mandi rasanya seperti neraka. Dan lagi-lagi, seperti lingkaran setan.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya -->> dan seterusnya. Bahkan beberapa kali dia sampe gloseran di lantai kamar mandi *CRY*.
Ya Allah, nyeritain ini aja rasanya bikin saya capek banget karena masih merasakan betapa terkurasnya emosi saya saat itu :(

Perjalanan Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Hampir setiap orang yang tau cerita soal Faza yang BAB-nya susah alias selalu sembelit, pasti akan bilang: dikasih sayur dan buah dong!

Padahal ya, berani taruhan, Faza makan JAUH LEBIH BANYAK sayur dan buah dibanding anak mereka-mereka semua yang bilang seperti itu!

Yang bikin saya bingung, beberapa artikel bilang bahwa anak batita justru tidak disarankan makan terlalu banyak buah dan sayur. Tapi ketika datang ke dokter spesialis anak, ada dokter yang setuju dengan isi artikel tersebut, namun ada pula yang tidak setuju dan tetap menyarankan memperbanyak sayur dan buah. Pusing!

Apa saja cara yang kami tempuh untuk menyembuhkan trauma BAB Faza?

Rasanya hampir semua cara yang kami tau, sudah pernah kami coba.

Pergi ke dokter, tentu saja. Oleh mereka dikasih resep prebiotik dan obat pengencer poop yang cukup menguras kantong. Apakah ada hasilnya? Nope. Nggak ada hasil signifikan.

Oleh tetangga yang bekerja di sebuah klinik dokter, pernah menyarankan sebuah obat pencahar. Yang konon manjur banget, karena ibunya yang sempat sembelit parah, minum obat itu sekali, poop-nya langsung lancar jaya. Bahkan kata beliau, saat minum agak kebanyakan dikit, poop-nya malah jadi 'terlalu lancar'.

Jelas saya langsung beli obat yang sama. Hasilnya? Nihil. Bahkan saya sempat nekat memberi Faza lebih banyak dari takaran sebenarnya, dan tetap nggak ngaruh sedikit pun!

Betapa sakti mandragunanya anak saya dalam hal menahan hasrat BAB-nya -_____-

Yogurt dari yang mahal sampai yang biasa saja? Sudah.

Yakult? Hampir tiap hari.

Pernah juga saya sengaja ngasih makanan pedas. Dengan harapan dia diare. Bayangkan, ibu macam apa yang bisa-bisanya pernah sangat berharap anaknya diare?! Ya itu, saking hopeless-nya. Saya pikir, kalau Faza diare, mungkin akan mengubah pola pikir dia tentang betapa susah dan sakitnya mengeluarkan poop.

Sayangnya, lagi-lagi harapan saya nggak terkabul. Faza hampir nggak pernah diare, malah sejak saat itu dia jadi doyan makan pedas. Saat itu saya bahkan bingung harus bersyukur atau nggak untuk hal ini. Haha!

Cara terakhir yang kami andalkan dalam setiap sesi per-BAB-an Faza adalah: microlax.

Pakai Microlax, hampir selalu berhasil membuat pup Faza keluar, meski pernah juga beberapa kali tetap nggak keluar, atau butuh 2 microlax sekali BAB. makanya saya bilang, nggak cuma menguras emosi, air mata, dan kesabaran. Kantong pun ikut terkuras. Bayangkan, tiap dia BAB, kami harus mengeluarkan uang minimal dua puluh lima ribu. Mewah sekali BAB anak saya. Hihi.

Sayangnya, di mata Faza, cara pakai Microlax itu menakutkan. Dia nangis makin-makin heboh tiap kami akan member dia Microlax. jadi tambah satu lagi kan lingkaran setannya.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya --> kami memberi microlax --> nangis makin-makin-makin heboh --> Faza makin-makin trauma --> dan seterusnya.
Tapi ya gimana lagi, hanya Microlax yang bisa kami andalkan agar poop Faza keluar. Meski sedih luar biasa melihat dia ketakutan saat dikasih Microlax, kami lebih nggak mau membuat dia harus masuk Rumah Sakit karena poop-nya nggak keluar :((

Sounding? Hampir setiap hari. Saya bahkan membelikan dia buku bertema ajakan untuk poop, demi mengubah persepsinya tentang poop. Saya pernah berpikir ingin membawa Faza untuk hypno-therapy. Tapi belum kesampaian karena minim info tentang ini.

Baca juga: Rekomendasi Buku Favorit Faza

Dulu, setiap habis menemani Faza BAB, saya pasti selalu kehabisan energi. Lemes. Efek dari perasaan sedih, capek, marah, bercampur menjadi satu. Dan hampir pasti, saya pasti menangis. Sibuk menyalahkan diri sendiri kenapa Faza jadi seperti itu.

Saat itu, tiap melihat poop Faza keluar, rasanya saya seperti melihat emas! Rasa leganya bahkan mirip dengan saat saya berhasil mengeluarkan dia dari perut saya.

Butuh Hampir Tiga Tahun Untuk Bisa Melihat Faza BAB Tanpa Menangis

Harapan terbesar saya saat itu, betapa inginnya saya melihat Faza BAB tanpa menangis, seperti anak-anak pada umumnya. Harapan yang patah entah berapa ratus kali, lalu dengan susah payah saya tumbuhkan lagi.

Sounding yang biasanya selalu efektif saat saya menyapih dan mengajari dia untuk tidak pipis di diapers pun rasanya tidak kunjung menuai hasil.

Doa seusai sholat pun yang utama adalah 'sembuhkan Faza dari trauma BAB-nya, Ya Rabb'. Ya, doa adalah senjata terakhir saya. Saat saya benar-benar nggak tau lagi harus gimana.

Ternyata, semua itu bukan tidak membuahkan hasil. Hanya saja, butuh waktu hampir tiga tahun untuk saya akhirnya bisa melihat Faza bisa BAB tanpa menangis heboh. Saya lupa bagaimana persisnya awal mula Faza mulai pulih.

Sepertinya memang karena dia sudah mulai bisa mencerna pengertian, bahwa setiap orang BAB, BAB itu harus, kalau BAB ditahan nanti semakin sakit karena keras, dll. Kalimat yang sudah saya ulang hampir ribuan kali.

Alhamdulillah, di usia 3,5 tahun Faza perlahan mulai pulih dari trauma BAB-nya. Meski masih harus merayu untuk BAB, setidaknya dia tidak lagi histeris mendengar kata 'ayo BAB'.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.

Trauma BAB Faza, mungkin meninggalkan luka batin pada diri Faza. Karena dalam perjalanan panjang menyembuhkan trauma BAB-nya, entah berapa kali kami -- ayah-ibunya -- membentaknya, membuatnya ketakutan. Ya Tuhan, sedih banget tiap ingat masa-masa itu. Sediiiih banget.

Mungkin, trauma ini akan membekas pada diri Faza sebagai luka pengasuhan. Mungkin akan membekas pada diri faza sebagai inner child. Saya janji pada diri saya sendiri, kelak saat Faza dewasa, saya akan meminta maaf secara khusus atas masa-masa itu. Saya menulis ini pun, salah satunya agar semoga kelak dia bisa membacanya.

Terima kasih untuk siapa saja yang telah bersedia membaca cerita saya ini :)

Sabtu, 15 Agustus 2020

#CeritaFaza: Fase Threenager

Selamat tinggal masa tantrum, selamat datang masa drama. Hihihi.

Konon, masa-masa anak usia dua tahun itu seringkali diisi dengan seringnya si anak tantrum. Hampir tiap hari. Dulu saya ingin mengingkari teori itu. Ah, enggak. Anakku pasti manis. No tantrum-tantrum club.

Ternyata? HAHAHA. Bye-bye impian, selamat datang kenyataan. Faza tantrum hampir setiap hari di masa dua tahunnya. Dan itu bikin capek. Banget.

 


Sejak saat itu, saya memilih untuk percaya sama teori selanjutnya, yaitu tentang fase tiga tahun yang sering diberi istilah threenager, dan berharap fase itu segera datang, hihihi.

Kenapa disebut threenager? Karna anak usia tiga tahun konon polah tingkahnya bakal mirip seperti anak Teenager. Suka berargumen, mau coba melakukan segala sesuatunya sendiri, suka ngambek, dll. Wow, kayaknya akan jauh lebih ringan ya dibanding fase terible two.

Dan ternyata bener!

Semua yang dikatakan teori tentang threenager itu terjadi pada Faza. Sejak masuk usia dua tahun, dia udah hampir nggak pernah tantrum. Udah lebih bisa dikasih pengertian. Di fase terible two, saat ada yang nggak sesuai keinginannya, respon yang dia tunjukkan adalah dengan nangis teriak-teriak. Kadang ditambah pukul-pukul nggak karuan.

Di fase threenager, saat ada yang nggak sesuai dengan keinginannya, dia akan berargumen saat kami memberi pengertian. Saat argumentasinya nggak bisa kami terima, dia akan ngambek. Ngambeknya beneran mirip sama anak teenager. Hihihi.

Setelah masuk usia tiga tahun, Alhamdulillah Faza tergolong sudah bisa mengelola emosi dengan sangat baik. Mungkin karna di usia 2 tahun, saya memang cenderung fokus mengenalkan beragam emosi ke dia, dan cara mengelolanya.

Jadi catatan penting yang harus saya garisbawahi adalah, jika ingin masa tantrum tidak berkepanjangan, fokus mengenalkan emosi ke anak di masa tantrumnya. Tentang senang, sedih, marah, kecewa. Beri label untuk semua emosinya, dan beri tahu dia gimana cara menyalurkan emosinya itu dengan benar.

Soalnya ada juga anak teman saya yang sudah masuk usia tiga tahun tapi masih struggling sama masalah emosi anaknya yang meledak-ledak. Yah meskipun mungkin ada faktor karakter tiap anak memang beda.

Di usia tiga tahun ini, kemampuan Faza mengolah kata semakin luar biasa, Masyaa Allah. Berbanding lurus dengan kemampuan berargumennya, eerrrrr -_-

Tidak jarang, saya dan ayahnya kadang harus terdiam lamaaa untuk mikirin harus jawab apa. Saking masuk akalnya argumentasinya dia.

Dari sisi kemandirian, sepertinya ayahnya punya perna yang jauh lebih besar dibanding saya. Gimana lagi, Faza kalo sama ibu pasti manja sekali, huhu. Disuruh belajar pakai dan lepas baju dan celana sendiri aja bisa nangis bombay kalo sama ibu. Padahal kalau sama ayah mau. Sekarang Alhamdulillah udah mulai lancar, meski masih butuh sedikit bantuan.

Ambil minum sendiri ke dispenser juga sudah pandai. Makan sendiri sudah tidak terlalu berantakan. Wow, anakku sudah besar!

Nah, tapi saya punya kegalauan di fase threenager ini. Saya bertanya-tanya, kenapa Faza belum punya ketertarikan sama kegiatan yang menggunakan alat tulis? Lalu kapan waktu yang tepat mengenalkan huruf dan angka ke dia? Karna di satu sisi, saya ingin segera mengenalkan, takut telat. Di sisi lain, saya nggak ingin maksa dan bikin dia jadi punya kesan pertama yang buruk dengan angka dan huruf.

Tadinya, saya berencana masukin dia ke PAUD kan tahun ini. Tapi apa daya, qodarullah ada pandemi Covid-19. Mau maksa didaftarin, yang ada paling ibunya yang ngerjain tugas. Sudahlah bayar, eh nggak maksimal dampaknya ke anak. Jadi ya sudah memutuskan untuk ditunda tahun depan. Semoga pandemi segera berakhir.

Huhu, galaw!

Kamis, 25 Juni 2020

Catatan Ibu Profesional: Aliran Rasa di Penghujung Matrikulasi

Tidak terasa ternyata sebentar lagi kelas matrikulasi berakhir, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke samudra yang jauh lebih dalam lagi.

Saya jadi terkenang, tentang niat saya belajar di Institut Ibu Profesional yang sudah ada sejak dua tahun lalu. Sempat maju-mundur, karna awlanya merasa inferior. Kenapa inferior? Karna saya kira, IIP lebih diperuntukkan untuk ibu rumah tangga yang fokus di ranah domestik. Saya sempat takut akan mendapatkan banyak justifikasi negatif sebagai ibu yang memilih untuk berkiprah di ranah publik. Alhamdulillah, ketakutan saya tersebut sama sekali tidak terjadi.


ibu-profesional


Di kelas matrikulasi ini, saya banyak sekali belajar. Tentang hal-hal yang sebenarnya sangat mendasar yang harus diketahui seorang ibu pembelajar. Tapi sayangnya justru banyak dilupakan. Salah satunya tentang core value: belajar, berkembang, berkarya, lalu berdampak.

Berapa banyak ibu pembelajar yang selama ini lompat dari belajar ke (berusaha) berdampak? Saya sendiri salah satunya. Tidak heran jika akhirnya dampaknya tidak akan maksimal, atau bahkan bisa jadi gagal berdampak sama sekali.

Salah satu materi yang berkesan bagi saya adalah materi yang disampaikan oleh Widyaismara Mbak Rima. Khususnya bagian tentang bahwa belajar pun butuh skala prioritas. Kenapa sangat berkesan bagi saya? Karna selama ini saya tidak punya skala prioritas dalam belajar. Saya ingin belajar banyak hal, tapi lupa bahwa tenaga, pikiran dan waktu saya terbatas. Saya nggak mungkin bisa belajar semua hal yang saya inginkan dalam satu waktu, tanpa membuat skala prioritas.

Misi Connecting The Dots kemarin juga bagi saya cukup berkesan. Kami diminta untuk melihat lebih jauh ke dalam diri kita sendiri. Tentang seperti apa diri kita ini, apa yang membuat kita unik, nilai apa yang selalu kita pegang, dan apa yang sedang kita perjuangkan.

Dalam misi Connecting The Dots tersebut, banyak teman matrikan di regional Semarang yang merasa misi ini sangat menantang dan membuat kitaharus merenung cukup lama. Ya, saya pun merasakannya. Dari situ saya jadi bisa melihat. Betapa kita sebenarnya sering lalai melihat diri kita sendiri. Betapa kita sering lalai mengenali diri sendiri, sehingga merasa cukup kesulitan saat diminta untuk menjabarkan hal-hal yang diminta dalam misi tersebut.

Tapi yang paling berkesan bagi saya sejujurnya adalah bertemu banyak sekali para ibu pembelajar di kelas matrikan, khususnya dari regional Semarang. Saya senang sekali punya banyak teman baru yang hebat-hebat, yang tidak berhenti belajar dan yang selalu membawa aura positif.

Semoga pertemanan kami tidak turut selesai bersamaan dengan selesainya kelas matrikulasi batch 8 ini. Aamiin.

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kelas matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional.

Jumat, 19 Juni 2020

Catatan Ibu Profesional: Mencari Makna Diri

Dulu saya pikir, pencarian makna diri itu sudah selesai di masa-masa remaja hingga menginjak dewasa. Saya pikir, setelah menikah dan punya anak, saya tidak perlu lagi mencari makna diri karna saya akan dengan serta-merta menjadi 'utuh' ketika sudah berumah tangga dan melahirkan seorang anak.

Bukankah penanaman keliru seperti itu masih banyak terjadi di masyarakat kita? Seolah menikah dan punya anak adalah titik akhir bagi seorang wanita. Seolah setelah itu, kita tidak lagi bisa dan perlu mengembangkan diri.

Beruntungnya, kita ada di sebuah era di mana informasi berkembang amat cepat. Termasuk ilmu pengetahuan dan kesempatan belajar yang juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi tersebut. Dengan banyaknya informasi yang saya dapat, saya jadi 'ngeh', ternyata saya belum boleh berhenti mencari makna diri. Saya harus terus berproses untuk membuat diri saya utuh sebagai pribadi, istri maupun ibu.

Maka, berikut adalah catatan saya dalam proses mencari makna diri.



Seperti Apa Aku Ini

Seperti apa saya ini?

Saya adalah seorang berkepribadian 75% introvert, 25% ekstrovert. Seperti umumnya orang introvert, saya kurang suka bertemu banyak orang. Bertemu dan mengobrol dengan banyak orang bagi saya cukup menguras tenaga.

Sejalan dengan itu, kemampuan komunikasi lisan saya tidak begitu baik. Saya bukan orang yang pintar memaparkan apa yang ada di kepala saya dnegan baik melalui lisan. Sebaliknya, saya lebih suka memaparkan isi pikiran saya melalui tulisan.

Meski begitu, Alhamdulillah saya punya sedikit jiwa ekstrovert yang membuat saya adakalanya merasa butuh bersosialisasi dan berkomunitas, meski tidak pernah bias maksimal dan sering membuat saya merasa kelelahan di tengah perjalanan, karena introvert saya jauh lebih mendominasi.

Saya juga seorang plegmatis yang cinta damai. Saya paling tidak suka dan tidak tahan dengan konflik. Hal itu membuat saya sering sekali menjadi ‘juru damai’ bagi orang-orang di sekitar saya yang sedang berkonflik. Saya senang menjadi penengah, dan punya kemampuan untuk ‘mendinginkan’ mereka.

Selain itu, saya adalah seseorang yang sangat mudah tertarik pada hal baru, dan ingin mempelajarinya. Terutama sejak jadi ibu. Saya ingin mempelajari banyak hal, hingga seringkali membuat saya merasa kewalahan dan kehilangan focus.

Alhamdulillah, sejak belajar di kelas matrikulasi IIP, saya jadi tau, bahwa belajar pun butuh skala prioritas. Kapasitas otak saya terbatas. Saya tidak mungkin bisa. Kalua dipaksakan, pasti tidak akan maksimal.

Nilai Apa yang Saya Miliki?

Saya senantiasa berusaha memegang nilai-nilai yang ada dalam Al Qur'an dan Hadist, meski masih jauuuuhh dari sempurna.

Saya juga punya beberapa nilai yang saya pegang dengan cukup teguh, di antaranya adalah: "Kita diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan". Nilai tersebut sebagai pengingat bagi diri saya, bahwa jika kita ingin diperlakukan dengan baik, maka kita harus memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Apa yang Membuat Saya Unik?

Yang membuat saya unik adalah, saya seorang introvert tapi punya cukup banyak teman dan tergolong cukup mudah akrab dengan orang baru. Selain itu, saya adalah pendengar yang cukup baik, sehingga banyak sekali teman yang memilih saya sebagai tempat curhat mereka. Termasuk bagi suami saya sendiri.

Selain itu, saya juga orang yang cukup peka terhadap perasaan orang lain, tapi di sisi lain sering 'tidak peduli; dengan sekitar, saat sedang melakukan sesuatu. Saya sering tenggelam dan asyik dengan dunia saya sendiri.

Apa yang Saya Perjuangkan?

Yang saya perjuangkan sebagai pribadi adalah saya ingin jadi seseorang yang punya energi positif dan bisa membagikan energi tersebut ke orang lain. Saya ingin menjadi orang yang punya kesehatan mental yang baik, sehingga saya bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya tanpa menjadi toxic. Selain itu, saya juga berjuang untuk bisa terus menghasilkan karya yang membuat saya bisa mengapresiasi diri saya sendiri, dan pada akhirnya membuat saya semakin percaya diri.

Sebagai istri, saya sedang berjuang untuk menjadi istri sholihah bagi suami saya. Yang qona'ah, dan taat pada apapun perintahnya, sehingga kami bisa terus bersama tidak hanya di dunia, melainkan hingga surga.

Sebagai seorang ibu, saya berjuang untuk menjadi fasilitator terbaik bagi anak saya, dan mengantarkannya menjadi orang sholih yang mensholihkan orang lain, tapi tidak menjadikan kesholihannya untuk mengukur kesholihah orang lain.. Saya ingin membersamai tumbuh kembang anak saya, meski waktu yang saya miliki untuk mendampinginya tidak banyak, saya percaya kualitas jauh lebih penting dibanding kuantitas. Saya ingin menjadi ibu yang bisa sekaligus menjadi sahabat bagi anak saya hingga ia dewasa.

Apa Kesamaan Saya dengan IIP?

Kesamaan saya dengan IIP adalah sama-sama ingin selalu mengembangkan diri dan memberikan dampak baik bagi orang lain.

IIP juga menjadi wadah bagi banyak ibu untuk mengembangkan diri, seperti saya yang menjadi wadah bagi keluarga saya untuk mengembangkan diri.

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Batch 8 regional Semarang IIP.