Jumat, 02 Agustus 2019

#BincangKeluarga: Yang Membuat Istri Terlihat Cantik di Mata Suami

Kemarin siang, saya nggak sengaja baca postingan IG Fahd Pahdepie. Isinya, sebuah screenshoot sebuah pertanyaan dari seorang netizen untuk Fahd yang bertanya apakah ia akan tetap mencintai istrinya, jika istrinya tidak cantik?

Ini nih SS-nya. Hihi.

Saya auto-like sih pas baca. Eehh terus ternyata Ade juga lihat postingan tersebut, dan tertarik. Lalu, dia nyolek saya untuk menjadikan itu sebagai bahan #BincangKeluarga kali ini, yang sudah entah sejak kapan gak jalan. Huhu.

Jadi, baiklah. Mari kita berbincang tentang 'apa sih yang membuat istri terlihat cantik di mata suami?'

Baca punya Ade:



Apa sih sebenarnya yang membuat istri terlihat cantik di mata suami? Apakah karna istrinya rajin nonton tutorial make up di Youtube lalu mempraktekkannya? Atau karna si istri rajin pake berlayer-layer skincare a la Korea, yang bikin wajahnya tampak glowing?

Kalau saya masih single, mungkin saya akan nge-like postingan Fahd di atas semata-mata karna saya menyukai hal-hal yang bersifat romantis. Mungkin juga, saya akan menganggap bahwa jawaban Fahd dan pantun seorang netizen di atas sebagai gombalan semata.

Tapi enggak. Saya nge-like postingan di atas benar-benar karna saya setuju. Karna saya mengaminkan.

Tau nggak? Saya pernah ada dalam kondisi di mana wajah saya super-duper semrawut nggak karuan. Jerawat buanyak. Wajah bengkak semua. Pokoknya nggak ada enak-enaknya dipandang mata. Yah gimana coba, nggak jerawatan dan nggak bengkak aja emang aslinya nggak cantik-cantik amat -__-

Jangan tanya tentang berapa banyak body shaming yang saya alami. Hhhh, ribuan kali mungkin! *biarin lebay*

Tapi saat itu, ada satu orang yang terus-menerus meyakinkan saya, bahwa saya cantik. Nggak terhitung berapa ratus kali dia bilang, saya tetap cantik. Saya tetap menawan. Siapa lagi kalo bukan Mas Suami?!

Apakah saya tersanjung?

Awalnya sama sekali enggak. Saya menganggap itu hanya omong kosong, karna dia pengen nenangin saya yang saat itu sedang hamil. Saya saat itu yakin dia juga nganggap saya jelek dalam hati, tapi nggak tega untuk ikutan bilang.

Tapi lama-lama saya ragu sendiri dengan pikiran saya. Kalau iya Mas Suami bohong, apa iya beliau akan 'se-istiqomah' itu bilang saya cantik? Bahkan hingga hari ini, ketika kami mengenang masa-masa saya hamil Faza, dan saya mengutuk wajah saya sendiri, Mas Suami masih selalu bilang, "kata siapa sih jelek? kok di mata ayah tetep cantik ya? apa ayah yang nggak normal?"

Akhirnya, saya mengakui. Selalu ada ketulusan yang membesamai kalimatnya.

Pernah nggak ketemu pasangan yang menurut istilah banyak orang 'njomplang' banget? Si suami tampan dan gagah, si istri B ajah. Beberapa orang akan berkomentar dalam hati, "dunia tidak adil" ketika melihatnya. Nahh, mungkin mereka lupa. Ada cinta yang membuat si suami, memandang wajah istrinya dengan cara yang berbeda.

Nah, kalo gitu, apakah istri nggak perlu usaha apapun biar terlihat cantik di hadapan suami? Toh kalo memang cinta, mau jelek kayak apa juga akan tetap terlihat cantik di mata suami?

Ya enggak gitu sih. Sebenernya, tanpa embel-embel ingin terlihat cantik di hadapan suami pun, sebenernya fitrahnya wanita itu pasti ingin merawat diri kok. Jadi, merawat diri itu lebih ke demi diri sendiri, yang akan membawa dampak baik ke yang lainnya -- termasuk, jadi makin disayang suami.

Yakin deh, yang pada pake skincare berlayer-layer itu, pasti kebanyakan bukan karna disuruh sama suami kan? Tapi karna keinginan dari diri sendiri untuk merawat diri.

Karna selama ada cinta, maka suami pasti akan melihat istrinya dengan cara yang berbeda dari semua orang. Yang perlu diingat: cinta butuh dirawat.

Jadi jangan sampai, kita para istri sibuk merawat diri, tapi lupa merawat cinta. Karna secantik apapun wajah kita, jika cintanya tidak terawat, maka akan ada lagi yang membuat suami kita memandang kita dengan 'cara berbeda'.

Jumat, 28 Juni 2019

Anak Laki-Laki Tidak Boleh Menangis, Kata Siapa?

"Ih, anak laki-laki kok nangis?"

"Sudah, cup cup, anak laki-laki nggak boleh nangis!"

Familiar dengan kalimat-kalimat kayak gitu? Kalo bagi saya pribadi yang punya anak laki-laki, ya. Saya sering sekali mendengar ungkapan semacam itu yang ditujukan pada Faza.




Kalo lagi baperan, rasanya pengen banget teriak, ANAK LAKI-LAKI NGGAK BOLEH NANGIS? ITU KATA SIAPA SIH? Ayo coba tunjukkan ke saya dasar ilmunya!

Huhu, maaf yaa emak emosi.

Sedih banget soalnya kalo Faza diomongin kayak gitu.

Gini ya. Sepanjang saya belajar ilmu parenting, meski mungkin ilmu saya masih sangat-sangat-sangat minim, menangis adalah cara anak berkomunikasi. Menangis adalah salah satu cara anak menyalurkan emosi. 

Nah, kalo anak mau menyalurkan emosi aja dilarang-larang sejak kecil, jangan kaget kalo dia tumbuh jadi orang yang sering memendam emosi. Dan memendam emosi, gak pernah berdampak baik. Dia akan jadi bom waktu. Sering memendam emosi akan membuat kita menjadi orang yang bermental 'sakit'.

Tolong ya, bedain antara memendam emosi dan mengendalikan marah. Jangan dikira sama. Itu beda banget!

Justru kemampuan mengendalikan amarah akan dimiliki oleh orang yang terlatih menyalurkan emosi dengan benar sejak dini.

Jadi, kalo anak nangis, kita tu cuma harus tau apa sih sebabnya dia nangis? Lalu membimbingnya untuk menemukan solusi. Pun termasuk kalo dia nangis dalam rangka tricky. Kita hanya perlu ngasih tau dia cara yang lebih benar untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kita cuma harus ngasih tau, bahwa nangis bukan satu-satunya cara buat dia untuk mendapatkan apapun yang dia mau.

Apalagi kalo kasusnya anak jatuh, misalnya.

Lalu dia nangis karna sakit. Ya kan WAJAR kalo dia nangis, lha wong sakit. gimana sih?! Masa iya gak boleh nangis? Meskipun kenyataannya dia larinya kurang hati-hati.

Apakah tepat kalo kita bilang ke dia, "Sudah gak usah nangis. Kan anak laki-laki. Makanya lain kali hati-hati!"

Saya sedih banget denger kalimat semacam itu 😭

Anak berpribadi macam apa yang dibesarkan dengan kalimat seperti itu? Kalimat minim empati, judgemental.

Coba dibayangin kalo kita naik motor terus jatuh, lalu malah dibilang, "Ya udah gak usah nangis. Makanya naik motor tu hati-hati!", marah gak?

Lho, nasehatin supaya lain kali hati-hati masa salah?

Gak salah, mak. Cuma gak tepat caranya. Tunjukkan dulu bahwa kita berempati atas sakitnya. "Oh, Adek jatuh? Sakit ya, nak? Mana coba yang sakit ibu lihat".

Baruuu setelah itu katakan, "Lain kali lebih hati-hati lagi ya"

Biar dia sekalian belajar tentang bagaimana caranya berempati atas kesakitan orang lain. Agar dia tumbuh jadi anak yang gak apatis melihat orang yang sedang kesusahan, dan dengan enteg menganggap, 'ah dia susah kan karna salahnya sendiri'.

Nangis itu boleh. Nangis itu manusiawi.

Kalo anak dilarang menyalurkan emosi dengan menangis, tanpa dibimbing untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih baik, jangan salahkan kalo dia menyalurkan emosi dengan cara yang salah kaprah.

Kamis, 02 Mei 2019

#BincangKeluarga: Kriteria Mainan yang Saya Beli Untuk Faza

 Saya tu sering merasa menjadi orangtua yang pelit banget sama anak gara-gara jarang membelikan dia mainan. Kadang nelangsa sendiri. Tiap hari ditinggal kerja, tapi mainan jarang dibelikan.

Tapi itu pikiran kalo lagi emosional aja. Kalo lagi rasional sih, yah Faza mah butuhnya happy ya. Mainan itu cuma salah satu sarana bikin dia happy. Kalo saya bisa bikin dia happy tanpa sering-sering membelikan mainan, ya berarti bukan masalah besar kan?

Anak kecil kan bukan kita , yang seringkali harus selalu punya barang baru hanya demi bisa merasakan bahagia. Anak kecil gak kayak gitu. Diajak nyobek-nyobek kertas aja dia happy bukan main.

Tapi ya tetep aja sih. Gak mungkin saya jadi gak beliin mainan sama sekali buat Faza. Meski jarang banget. Hehe. saya punya beberapa kriteria saat akan membelikan mainan buat Faza. Agar tepat guna dan tepat sasaran. Halah. Haha.

Baca punya Ade:


Apa aja sih kriteria mainan yang akan saya beli untuk Faza? Ini nih:

1. Harga Terjangkau

Iyap, harga terjangkau. Dalam artian, masih sesuai kemampuan budget keluarga kami. Enggak yang sampe hutang gitu. Eh btw, emang ada yang beli mainan sampai hutang? *nanya serius*

Faza punya Hafidz Doll yang harganya bagi saya lumayan mihil. Tapi saya belinya sebelum nikah. Haha. Sebelum nikah, bagi saya hafidz doll masih terjangkau. Karna belum banyak kebutuhan yang harus dibiayai.

Misal saya belum beli sebelum nikah, kayaknya saya gak akan beliin Faza Hafidz Doll setelah dia lahir. Karna menurut kami harganya sudah gak lagi terjangkau.

2. Fokus Manfaatnya

Fokus manfaatnya. Bukan kualitasnya. Wakakaka.

Iya, saya termasuk yang kayak gitu. Contohnya mobil-mobilan. Saya biasa membelikan yang harganya semurah mungkin. Karna, yah mau semahal apapun, ya akan tetep jadi 'sekedar' mobil-mobilan, kan? Bedanya, kalo yang mahal mungkin bisa sekalian dijadikan koleksi.

Untuk mainan yang memang punya manfaat khusus, dan Faza butuh bantuan mainan itu untuk mendapat manfaatnya, ya meski mahal akan saya perjuangkan. Aseekk πŸ˜…

Contohnya balance bike. Saya lagi nabung untuk bisa membelikan Faza balance bike, karna dari beberapa artikel tentang balance bike, saya merasa Faza butuh itu.

3. Bikin Faza Happy

Ini sih pasti dong. Lah ngapain juga beli mainan tapi bikin anak gak happy?

Tadinya saya mau saklek hanya mau beliin mainan yang ada manfaat khususnya ya. Tapi lama-lama berubah pikiran. Kata Bu Elly Risman, anak usia dini tu yang penting happy dulu.

Nah, berhubung Faza suka banget mobil-mobilan, ya saya beliin. Tapi yang se-terjangkau mungkin, hehe. Yang penting mah Faza happy punya mobil dengan berbagai model. Gak masalah mau bahan plastiknya setipis apa, dan secepat apa rusaknya. Alhamdulillahnya Faza bukan anak yang suka memasukkan apapun ke mulutnya.

Kalau macam robot-robotan gitu, saya belum pernah membelikan sama sekali. Karna Faza gak happy lihat robot. Dia masih cenderung takut lihat  robot yang wajahnya menurut dia serem. Dipakein baju gambar spiderman aja dia gak suka πŸ˜‚

Udah sih, syaratnya cuma 3 itu. Dan udah kelihatan banget ya, saya bukan termasuk orantua yang loyal soal mainan. Hihi.

Ekspektasinya dulu sih pengen bisa bikinin mainan-mainan DIY gitu yaa buat Faza. Biar bisa sekalian ngajarin dia kreatif. Tapi apalah daya, sering lebih menang ngantuknya saya mah πŸ˜‚

Jadi yaudahlah, beliin mainan aja, tapi dengan batasan, biar gak lepas kendali.

Kalo buibu yang lain, kriterianya apa sih kalau mau membelikan mainan untuk anak?

Kamis, 25 April 2019

Inkonsistensi Dalam Mendidik Anak

Nasehat paling efektif, adalah nasehat yang disertai contoh nyata.

Iya apa iya?



Masalahnya, kita-kita para orangtua ini, seringkali hanya sibuk beretorika di hadapan anak, tapi sering lupa memberi teladan. Contoh paling simpel deh, kalo kitanya lagi ribet banget, terus anak rewel, kadang kita bilang, "Adek sabar dong!" -- tapi dengan nada nge-gas maksimal πŸ˜‚

Lha gimana, jangan heran kalo kemudian anak kita nangkepnya sabar itu ya dengan nge-gas kayak emaknya πŸ˜…

Rumit beneran deh jadi orangtua tuh. Ahihihi.


Jujur aja saya sering merasa jadi orang yang paling inkonsisten sejak jadi orangtua. Malu sama diri sendiri πŸ™ˆ

Dan, eh kok kebetulan Mbak Puty dan Mamamolilo ngajak nulis tentang inkonsistensi dalam mendidik anak lewat project #Modyarhood nya mereka. Karna topiknya menarik, cuss deh nulis ngebut meski udah hari terakhir deadline. Hihi. Seniat ituh!

Jadiii, berikut ini adalah daftar inkonsistensi saya dalam mendidik Faza. Sukses beneran deh bikin saya merenung gara-gara mau nulis ini. Muhasabah gitu loh mak ceritanya πŸ˜‚

1. Membiasakan Berdoa

Sebagai orangtua yang ingin anaknya jadi anak sholih, tentu saja saya sudah membiasakan Faza berdoa di segala aktivitas.

Mau nenen, doa dulu. Mau makan, doa dulu. Mau pergi, doa dulu. Mau tidur, doa. Naik kendaraan doa dulu. Keluar masuk kamar mandi, tidak lupa berdoa juga. Dan lain lain, dan sebagainya.

Tapiii, kadang (atau malah sering 😭) pas gak lagi sama Faza, sayanya sendiri malah lupa berdoa. Makan, kadang langsung lhep. Baru inget di suapan ke dua -___-. Masuk kamar mandi, asal masuk. Sampai dalem baru inget.

Pernah nih pas kami mau pergi, sudah di mobil, saya-nya asyik buka chatt WA. Eh ditegur sama Faza. "Ibuuukk, doa!" katanya. Huaaaa, maluuuuu maksimal πŸ˜‚


2. Rajin Baca Buku

Orangtua milenial mana yang gak hobi beliin anaknya buku demi cita-cita agar si anak jadi generasi yang rajin baca buku?

Otentu saja saya gak mau ketinggalan πŸ˜€

Demi beliin Faza buku, saya rela gak gak beli novel lagi. Pinjem temen dan langganan Gramedia Digital menjadi pilihan.

Tapi -- sekali lagi -- anak butuh contoh nyata. Teladan. Lha masalahnya, kalo saya sekarang jadi lebih sering baca buku digital pake gadget, ya mana tau Faza kalo ibu sedang baca buku. Di mata dia, ibu mainan HP terus kan. Inkonsisten -___-.

Dan lagi, pengen anak rajin baca buku gak akan cukup hanya dengan beliin dia buku tiap bulan. Sayanya harus banget dampingi dia, membacakan buku-buku itu untuk dia.

Masalahnyaaa, kadang kalo dia minta dibacain buku tuh sering gak mau udahan. Lagi, lagi dan lagi. Sayanya sampai bosan dan kehabisan kalimat untuk mendeskripsikan gambar yang itu-itu aja πŸ˜‚

Akhirnya? Ya saya paksa udahan lah. Gimana sih ya, katanya pengen punya anak rajin baca buku, giliran anaknya masih ngotot pengen baca, malah dipaksa udahan. Lagi-lagi, inkonsisten πŸ™ˆ

3. Tentang "Tidak Perlu Takut"

Saya itu penakut. Takut cicak. Takut ular (meski hanya gambar). Takut tikus. Takut kecoa. Dll.

Tapi ya saya gak pengen dong Faza jadi anak penakut. Apalagi dia cowok.

Jadi saya sering sok-sokan bilang, "tidak perlu takut, nak, kan dia gak ganggu, bla bla bla"

Masalahnya, saya ini tipe yang kalo takut pasti teriak heboh. Pernah nih, saya habis nasehatin Faza tidak perlu takut sama kecoa, eh habis itu pas saya nyuci piring, tiba-tiba ada kecoa. Saya reflek teriak histeris.

Faza melongo dong. Kalo bisa, mungkin dia akan bilang, "Katanya tidak perlu takut? Ibu gimana sih!"

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sudahlah, akhiri saja sampai di sini. Kalo daftar ini saya teruskan, niscaya akan jadi sepanjang jalan kenangan. Ahahaha.

Beneran deh, nulis ini tu bikin perasaan saya gado-gado. Ada geli, sedih, miris dan malu. Huhu.

Yah, kita mungkin memang gak akan bisa jadi orangtua sempurna kok. Karna kesempurnaan memang bukan buat manusia. Tapi setidaknya, kita bisa menjadi orangtua yang gak malu mengakui kekurangan kita sebagai orangtua, dan selalu berusaha menjadi lebih baik setelahnya 😊

Hayooo, berani gak bikin daftar inkonsistensi emak-emak sekalian dalam mendidik anak? πŸ˜ƒ

Kamis, 11 April 2019

Menjadi Ibu, Menjadi Orangtua



Tahun ini, saya dan mas suami Insya Allah berencana program anak kedua.

Yakin sudah siap?

Jujur saja tingkat keyakinannya belum sampe 100% sih. Saya sedang banyak-banyak merenung dan bertanya pada diri sendiri. Apakah saya beneran sudah siap menjadi ibu dari 2 orang anak?

Karna menjadi ibu, nyatanya memang sama sekali gak sederhana.

Baca juga: Tentang Keputusan Nambah Anak

Saya jadi ingat prolog dari buku 5 Madrasah Kecilku karya Mbak Kiki Barkiah.

Apa sih motivasi kita punya anak? Biar ada yang rawat saat kita tua kah?

Kenyataannya, banyak tuh orangtua yang harus sebatang kara bahkan akhirnya tinggal di panti jompo padahal anaknya banyak.

Biar bahagia kah? Kenyataannya, banyak sekali kasus tentang anak yang menjadi sumber stress orangtuanya.

Jadi kalo dipikir-pikir, motivasi punya anak harusnya melampaui hal-hal keduniawian semacam di atas ya?

Sayangnya, banyak juga (atau kebanyakan?) yang punya anak ya sekedar punya anak aja. Karna memang umumnya orang ya gitu. Anak-anak, dewasa, menikah, lalu punya anak. Gak ada yang perlu dipikir dan direncanakan dengan baik.

Akibatnya, anak-anak yang lahir dan tumbuh dari orang tua yang motivasinya cuma 'umumnya-manusia-ya-habis-nikah-punya-anak', akhirnya tumbuh setumbuh-tumbuhnya. Terpaksa kehilangan kesempatan memupuk potensi luar biasanya, karna orangtua mereka sama sekali gak ngeh tentang potensi tersebut.

Jadi, harusnya keputusan untuk punya anak gak pernah boleh sesederhana itu. Menjadi ibu gak boleh seremeh itu.

Bayangin ya. Kita, ketika menjadi orangtua, adalah sebab atas terlahirnya seorang manusia baru ke dunia. Manusia yang kecil, lemah, belum bisa apa-apa. Maka, ia adalah sepenuhnya tanggungjawab kita.

Kalo diibaratkan, anak adalah kaset kosong. Dan orangtuanya lah yang bertanggungjawab atas apa saja yang terekam dalam kaset kosong tersebut kelak. Karna kita orangtuanya lah yang merekamkannya.

Fiuuhh.

Bahkan, gak usah jauh-jauh ke soal mendidik, dll dulu deh.

Baru pas proses hamilnya aja udah gak sederhana kan tanggungjawabnya?

Tentang menjaga asupan makan, gak peduli seberapa gak nafsunya kita. Menghindari makanan tertentu yang sekiranya kurang baik bagi janin, gak peduli seberapa suka dan pengennya kita. Minum macem-macem vitamin. Menjaga emosi. Dll.

Ada juga yang protes. Kenapa perempuan kalo punya anak jadi kayak kehilangan dirinya sendiri sih? Jadi seolah semua-mua tentang anak. Gak boleh egois. Kenapa harus begitu?

Ya memang harus begitu. Itu si jabang bayi gak minta loh dikandung dan dilahirkan sama kita. Kita lah yang bertanggungjawab penuh atas hadirnya dia di dunia.

Contohnya soal menjaga makan saat hamil. Sebenernya ada beberapa dokter yang bilang, gak usah ada yang dipantang. Makan apa aja boleh. Mie instan juga gak masalah.

Baca juga: Problematika Menjadi Ibu Baru

Tapi kalo saya pribadi ya. Buat orang dewasa yang gak lagi hamis aja sebenernya mie instan gak sehat kan? Apalagi buat janin kecil yang pertahanannya masih sangat lemah? Daripada kenapa-napa dan saya nyesel cuma gara-gara makanan, saya lebih milih sekuat tenaga menahan diri.

Itu satu dari sekian banyak bentuk ketidakegoisan saya ketika menjadi ibu.

Makanya ketika berencana hamil lagi, bener-bener saya harus menyiapkan diri. Agar saya mampu menekan egoisme saya semaksimal mungkin. Dan itu gak mudah. Makanya harus dipersiapkan. Hehe.

Jadi, kalo ada yang bilang, menjadi ibu itu harus siap melakukan apapun demi anak, rasanya gak berlebihan. Asal, 'apapun'-nya dalam konteks yang mendidik.

Yah, begitulah. Menjadi ibu gak pernah sederhana. Karna kalo sederhana, gak mungkin imbalannya surga 😊

Kamis, 04 April 2019

#BincangKeluarga: Tentang Istri yang Taat pada Suami

Dulu, saya termasuk orang yang bisa dibilang kurang berpikiran terbukan. Saya cenderung hanya mau baca-baca tulisan atau membuka diri pada informasi yang saya tau pasti sesuai dengan nilai-nilai yang saya pegang.

Lingkungan hidup saya jujur saja homogen sejak kecil. Punya teman yang non-muslim pun gak kayaknya gak lebih dari 3 orang. Iya. Sehomogen itu. Mungkin itu sebabnya saya cenderung gak siap terpapar dengan 'perbedaan pandangan'.

Lama-lama saya merasa kuper, dan merasa perlu membuka diri. Saya mulai membaca artikel-artikel yang gak sejalan dengan value yang saya percayai. Meskipun belum berani yang banget-banget bertolak belakangnya sih. Hehe.

Tapi tetep aja. Namanya baru awal-awal yaa mulai baca di luar zoman nyaman saya, kadang di hati tu rasanya nano-nano. Salah satunya tentang tulisan-tulisan tentang perempuan. Akhir-akhir ini (atau dari dulu ya jangan-jangan?) banyak seolah mendengungkan: perempuan harus mandiri, harus punya power, dll. Itu bener sih, saya setuju.

Tapi saya sedih. Karna juga menemui beberapa tulisan yang seolah pesannya, 'gak usah nurut-nurut banget lah sama suami. Kita kan tetap berhak punya keputusan sendiri, punya mau sendiri, dll'.

Baca punya Ade:




Dari tulisan-tulisan semacam itu, kesannya kok jadi taat sama suami itu sesuatu yang membuat kita jadi 'wanita lemah dan terjajah'.

Yah, namanya juga era digital. Semua orang berhak menyuarakan pendapatnya lewat media digital. Yang bisa kita lakukan kalo gak setuju apa? Cara paling elegan menurut saya ya dengan bikin tulisan balik yang gantian menyuarakan pendapat kita.

Lalu gimana pendapat saya tentang istri yang harus taat pada suami?

Ya karna saya muslim, dan saya tau taat pada suami adalah perintah dari Yang Maha Menghidupkan saya, ya saya harus taat.

Sebenernya emang gak akan ketemu sih, karna di sisi sana, landasannya murni hal-hal duniawi. Sedangkan tentang perintah taat pada suami -- seperti halnya taat pada segala aturan Allah -- adalah perkara yang lebih kental urusan ukhrowi (akhirat)-nya.

Taat sama suami karna inget akhirat aja kadang masih suka berat. Apalagi yang gak sedikitpun sambil mikir akhirat kan?

Tapi gini lho. Perintah agar istri taat pada suami itu mbok jangan dikesankan membuat wanita jadi seolah makhluk terjajah.

Ada batasannya kok. Yaitu jika yang diperintahkan suami adalah kebaikan. Ya wajib ditaati. Kalo suami -- misal nih, naudzubillah -- nyuruh melacur, ya malah wajib gak ditaati lah!

Lagipula, perintah agar istri taat pada suami, juga dibarengi perintah-perintah lain kok. Perintah agar suami memperlakukan istri dengan baik, lemah lembut, dll. Suami yang baik pastilah mau mendengarkan pendapat istrinya.

Jadi terutama untuk kalian yang belum menikah, gak usah takut lah sama perintah taat pada suami setelah jadi istri nanti. Pastikan saja calon suamimu adalah laki-laki yang mau menghargai pendapat istrinya kelak.

Yakin deh, taat sama suami itu gak akan menurunkan derajat kita sebagai seorang wanita.

Rabu, 20 Maret 2019

#CeritaFaza: DUA TAHUN

Merasa gagal karna nulisnya gak tepat tanggal 9 Maret 2019. Huhuhu.

Tapi yaudahlahyaa. Terlalu sayang juga kalau gak ditulis.

Dulu tu kalau ada orang yang bilang, "duh gak kerasa yaaa anakku tiba-tiba sudah besar" -- saya suka gak habis pikir. Gimana bisa sih aaknya tumbuh gak kerasa?




Setelah mengalami punya anak sendiri, ternyata iya loh. Kayak gak terasa, tiba-tiba Faza udah dua tahun aja 😭 Mungkin ini indikasi saya gak bener-bener hadir untuk Faza ya *auto-mellow😭😭*

Tapi setelah dipikir-pikir, bisa bilang gak kerasa karna sekarang udah merasa enak aja. Tidur udah bisa nyenyak hampir semalaman, pundak udah gak pegel-pegel karna miring terus untuk menyusui, udah gak harus pumping siang-malam-pagi-sore, anaknya udah bisa jalan sendiri ke mana-mana gak harus digendhong terus-terusan.

Kalau dulu saat masa-masa itu belum terlewati mah ya kerasa bangetttt lah. Gimana bisa gak kerasa sih? Wong tiap bangun pagi punggung pundak pegel minta ampun. Mata sepet luar biasa karna sebelum dua tahun tidur malamnya Faza agak kacau. Dll.

Gak nyangka aku pernah melewati itu semua. Masyaa Allah.

Sekarang?

Alhamdulillah tidurnya Faza sudah jauh lebih berkualitas sejak gak nenen lagi. Dulu waktu masih nenen tu bawannya dia resah terus gitu kalau gak nempel nenen. Seolah takut saya pergi. Jadi pengennya neneeeen terus. Kalau nenennya lepas, nangis. Gitu lah pokoknya. Faza lelah, ibu apalagi!

Sekarang paling bangun sekali atau maksimal dua kali untuk minta susu. Habis itu bobok lagi. Minum susunya pakai gelas dong, bukan dot 😍

Jadi dia barengan tuh berhenti nenen sekaligus berhenti ngedot. Laafff πŸ’•

Alhamdulillah saya merasa berhasil banget sih soal ini. Diluar kegagalan Faza untuk bisa ASIX karna harus minum sufor di 10 hari pertamanya, saya tetep bersyukur dia gak bingung puting. Dia gak ketergantungan dot. Dia bisa lepas nenen karna paham memang sudah waktunya berhenti (bukan karna dibohongi macam-macam).


Kemampuan komunikasinya juga Alhamdulillah udah lancar bangett. Ngomongnya udah mulai membentuk sebuah kalimat, meskipun seringnya baru terdiri dari dua/tiga suku kata.

Dan... OMG, ternyata toodler kalau udah bisa ngomong tu lucuuuuu bettt yaa! *biarin lah muji-muji anak sendiri*

Gak sabar untuk bikin postingan blog yang isinya kalimat-kalimat lucu atau pertanyaan-pertanyaan tak terduga Faza. Hahaha.

Faza juga sudah makin mandiri. Sudah bisa lepas sandal atau sepatu sendiri. Sudah bisa makai sandal sendiri. Lepas celana sendiri. Lepas baju belum bisa sih. Pakai apalagi.

Soal emosi, juga Alhamdulillah Faza terkendali sekali. Gak sering tantrum. Pokoknya kunci utama, jangan telat bobok siang. Kalau udah waktunya bobok, terus gak bobok sih yaudah, siapin mental, hati dan kuping -____-

Ohya, jangan lupa, satu hal yang bikin saya seneng bangettt. Faza udah kelihatan seneng dan kerasan bangettt kalau diajak ke rumah mbahnya di Jepara. Kadang aja dia tiba-tiba merengek bilang, "Buk, mah mbah" (Ibuk, ke rumah mbah). Huhu. Terharuuu.

Anak siapa sih iniii, gemaassh! *maap, halu* πŸ˜‚

Tapi ya tetep di balik segala 'keindahan' di atas, ada setumpuk PR yang harus satu per satu saya selesaikan di usia Faza yang ke-2 tahun ini. Apa saja?

1. Pola BAB-nya yang masih belum teratur. Tapi Alhamdulillah sudah mulai titik temu sejak ikut lomba Yo! Yogurt. Tadinya beli memang niatnya cuma untuk lomba. Ternyata beneran ngaruh loh!


2. Toilet training. Iya, Faza belum toilet training. Karna saya memang belum mulai untuk itu. Haha. gak tau nih mau mulai belum bulat tekadnya. Masih pengen mnikmati masa-masa bisa tidur nyenyak. kalo toilet training pasti malem-malem harus bangun anter ke kamar mandi gitu kan? Haha. Emak macam apa!

3. Ngajarin makan sendiri. Ini juga sebenernya akunya aja yang males sih. Males berantakannya 😭 berarti intinya  ini PR untuk diriku sendiri.

4. Nah ini ni PR terbesarnya. Faza Insya Allah akan mulai untuk fisioterapi flat feetnya. Ceritanya akan panjang dan cukup membutuhkan hati yang lapang. Jadi next post aja Insya Allah.

Segitu dulu ah. Doakan Faza sehat dan main pintar yaaa om, Tante, Pakdhe, Budhe 😘😘

Minggu, 10 Maret 2019

Yo! Yogurt Untuk Kesehatan Pencernaan Anak

Katanya, setiap anak membawa tantangannya masing-masing untuk orangtuanya.

Ada yang makannya susaaaaah banget, tapi anaknya kalem dan gak sering tantrum.

Ada yang makannya gampang banget lhap lhep apa aja masuk, tapi susah banget adaptasi di tempat baru dan jadi susah tiap mau diajak ke mana-mana.

Dll.

Tidak terkecuali anak saya, Faza. Saya bersyukur sekali sejak bayi, dia termasuk jaraang banget sakit. Gak gampang kena batuk pilek. Makannya meski gak lahap banget, tapi gak pernah GTM berkepanjangan. Berat badan selalu naik sesuai harapan.

Tapi Faza memberi kami satu tantangan, yaitu tentang BAB-nya yang susah banget.

Ya, sejak bayi Faza punya siklus BAB yang kurang teratur. Kalau pas masih Full ASi sih gak masalah ya. Katanya gak BAB seminggu pun tidak perlu khawatir.

Tapi pas sudah mulai MP-ASI, kekhawatiran saya makin menjadi-jadi. Ditambah, saya pernah salah ngasih menu MP-ASI yang bikin Faza jadi sembelit. Akibat dari sembelit itu, Faza jadi ketakutan tiap mau BAB karna taku sakit. Huhu, sedih banget 😭

Saya harus selalu memastikan agar apa yang dia makan akan mendukung kelancaran BAB-nya dan memenuhi kebutuhan serat anak. Jujur saja ini tantangan banget untuk saya. Karna efek trauma pernah sembelit tadi, Faza jadi hobi nahan keinginan BAB, yang mana pastilah bikin pupnya jadi keras dan susah keluar.

Jadi, bagi Faza gak cukup hanya dengan dikasih makan sayur dan buah tiap hari agar BAB-nya lancar. Karna namanya anak ya, seberapa sih makan sayur dan buahnya? Apalagi Faza tipe anak yang jauh lebih suka minum dibanding makan.

Dari hasil baca berbagai artikel, konon Yogurt sangat baik untuk pencernaan anak. Ya sudah, cusss saya coba kasih Yogurt. Sedihnya, bebeberapa merk Yogurt saya cobakan ke Faza, dia gak doyan, karna asem. faza gak doyan asem 😭

Dari hellosehat.com dijelaskan, beberapa manfaat Yogurt untuk anak di antaranya adalah:
  • Membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh
  • Membantu mencegah masalah pencernaan
  • Membantu meningkatkan kesehatan tulang
  • Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi
Kalau baca manfaat di atas, sayang banget kan rasanya kalau Faza gak doyan Yogurt dan jadi gak bisa dapat manfaat tersebut 😒

Nah, waktu jalan-jalan ke supermarket dan lewat di deretan berbagai macam merk Yogurt, saya melihat Yo! Yogurt dari Heavenly Blush ternyata punya varian Yogurt  anak yang namanya Yo! Yogurt for kids. Langsung deh gak pake mikir panjang, masukin beberapa ke keranjang.


Logika sederhana saya sih, kalau memang varian ini khusus dibuat untuk anak, pasti rasanya juga disesuaikan dengan lidah anak. Apalagi ini dari heavenly blush gitu lho! Saya sudah sering minum, dan sukaaa banget.

Yang lebih menarik lagi, Yo! Yogurt for kids ini gak cuma 'yogurt doang', tapi juga mengandung serat sayur buah. Ada berbagai mcam pilihan varian. Yang kemarin saya beli adalah varian Banana-Berries-Broccoli dan varian Lyches-Spinach. Wow, menarik ya! Jadi gak cuma dapat manfaat baik Yogurt, tapi juga dapat manfaat serat sayur dan buah.

Lalu, Faza doyan gak?

Sempet deg-degan pas mau kasih ke dia, karna takut patah hati lagi kalo dia sampai gak doyan 😭

Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Dia doyan, YEAY! 😍

Bangun tidur langsung minta minum Yo! Yogurt πŸ˜‚

Setelah minum Yo! Yogurt for Kids, paginya Faza ngeluh pengen BAB. Padahal baru sehari lalu lho dia BAB. itu cepet banget termasuknya, karna biasanya kalo belum tiga hari, dia gak akan mau ngaku pengen BAB -___-

Yah, walaupun bilang BAB-nya masih sambil merengek, karna efek trauma tadi. Setidaknya, kesehatan pencernaannya saya pastikan terjaga dulu dengan memenuhi kebutuhan seratnya. Tinggal yang selanjutnya saya harus mencari jalan keluar untuk menghilangkan trauma sembelitnya.

Jumat, 08 Maret 2019

#BincangKeluarga: Ajaibnya Fase Terrible Two

Dulu waktu Faza masih umur setahunan, lalu liat anak dua tahunan gampang banget cranky, saya 'tinggi hati'.

"Alhamdulillah ya, Faza kayaknya tipe anteng deh. Gak bakal cranky-cranky kayak gitu"

Begitu Faza menjelang usia dua tahun, saya seperti tertampar. ternyata Faza bukannya kalem, tapi kemarin-kemarin belum fasenya aja dia cranky heboh πŸ˜‚
Saya harus terbangun dari ke-halu-an, dan menerima kenyataan bahwa ternyata ajaibnya fase terrible two itu memang ada πŸ˜ƒ

Saya sih mending ya, cuma punya satu toddler. Satu aja kadang mumet. Gimana Ade yang 2 coba? Haha. Monggo baca sendiri kisah blionya.

Baca punya Ade:



"Terrible Two adalah suatu istilah yang diberikan untuk anak yang menginjak usia 2 tahun. Biasanya diberi istilah demikian karena pada usia ini anak memiliki karakteristik umum, seperti sering berkata 'tidak' karena dia nggak mau menuruti orang tua. Lebih sering marah terkadang sampai temper tantrum, memaksakan keinginannya, dan sebagainya," kata psikolog anak, Wikan Putri Larasati MPsi." (sumber: haibunda.com)

Emang se-ajaib apa sih masa terrible two?

Sini saya ceritain beberapa.

Suatu hari, Faza tiduran (belum tidur beneran) dengan posisi bantal yang menurut saya kurang nyaman buat lehernya dia. Ya naluri keibuan saya pasti akan membantu dia membenahi posisi bantalnya kan?!

Eh, dia ngamuk lho. Ngamuknya yang model nangis teriak-teriak gak terima gitu!

Saya dan ayahnya cuma bisa melongo dan heran. Ni bocah ngapa yak? πŸ˜‚

Ajaibnya lagi, di fase ini anak udah punya mau, dan udah tau caranya memperjuangkan kemauannya dan menolak kemauan orangtuanya yang gak sesuai sama kemauannya sendiri.

Ya kalo kemauannya gak bahaya sih oke aja ya. Lha kalo bahaya dan dia ngotot?

Nah di bagian ini, kami orangtuanya diuji banget konsistensinya. Diuji juga kemampuan negosiasinya.

Gak jarang negosiasi berjalan alot dan berakhir dia tantrum. Tapi adakalanya pula kami menemukan titik temu alias win-win solution. Hehe.

Diuji konsistensinya karna, beneran deh, emosi anak di fase terrible two ini tuh terasa meledak-ledak banget. Dan menghadapi anak yang emosi, kalo kitanya juga lagi gak 'stabil' kondisi emosinya, yakin bakal nyerah.

Nyerah antara 'yaudah deh turuti aja apa kemauannya! Peduli amat sama peraturan awal', ATAU menyerah dengan cara emosi balik ke anak yang mana pasti akan bikin kondisi makin runyam.

Contohnya soal nonton youtube. Kami sepakat Faza dikasih nonton Youtube hanya hari sabtu dan ahad, itupun ada batasan waktunya.

Pernah suatu hari, klise lah, Faza minta nonton Youtube di luar waktu yang telah ditentukan. Ya kami bilang enggak. Dia nangis lah pasti. Tantrum. Yang kayak gini udah terjadi sekitar tiga kali.

Dan sekali di antaranya, kami menyerah dengan menuruti kemauan dia, karna kaminya lagi capek banget secara emosi. Selebihnya, kami bertahan untuk tidak mengijinkan.

Tapi itu sih masih mending ya, kalo dia punya keinginan dan keinginannya jelas. Lah, gak jarang juga tuh dia punya keinginan tapi tak tentu arah. Diajak mandi, bilang mau pake air hangat. Udah disiapin air hangatnya, eh ganti minta air dingin. Oke fine pake air dingin, ganti lagi mau mandi di kamar mandi atas. Udah diajak ke kamar mandi atas, eh bilang mau mandi bareng ikan yang mana ikannya ada di bak kamar mandi bawah. Kan semprul! πŸ˜‚

Fiuuhh.

Intinya ya, punya anak yang ada di fase terrible two amat sangat butuh nafas yang panjang dan dada yang lapang. Dan satu lagi, ilmu penting banget sih untuk menghadapi fase ini. Karna kalo enggak kita pasti kelimpungan dan gak tentu arah harus gimana ngadepin si anak dan bisa jadi salah kaprah.

Maka pesan saya untuk kalian yang masih punya anak umur satu tahunan dan kalem, jangan pede dulu ngira selamanya mereka bakal sekalem itu πŸ˜„ Nikmati masa-masa manis itu, sebelum datang masa kalian harus sering-sering istighfar dan menghela nafas panjang πŸ˜…

Bagi buibu yang juga sedang menghapi fase terrible two-nya anak, yuk pelukan. Kita pasti bisa! πŸ˜ƒ


Rabu, 06 Maret 2019

Perhatikan Hal Ini Saat Marah Pada Suami



Boleh yaa marah sama suami?

Boleh doooong. Namanya juga manusia.

Marah itu kan salah satu jenis emosi. Yang jika tidak disalurkan dengan baik, atau hanya dipendam, malah bahaya. Bisa jadi api dalam sekam.

Tapi catatannya, harus disikapi dengan cara yang tepat. Apalagi marah pada suami.

Karna gak jarang, masalah sepele bisa jadi sangat rumit dan besar, jika disertai amarah yang tidak disikapi dengan tepat.

Pernah gak, marah karna hal sepele ke suami, tapi karna kitanya langsung marah meledak-ledak, bukannya suami jadi sadar akan kesalahannya dan minta maaf, eh malah balik marah ke kita?

Maka dari itu, ada hal-hal yang harus diperhatikan saat kita sedang marah pada suami. Apa aja sih?

Yuk simak hal-hal di bawah ini yaa :)

1. Tenangkan Diri Dulu

Kalau lagi marah, hawa-hawanya udah mendidih di ubun-ubun dan siap meledak kan ya?

Eits, tapi tunggu dulu. Tunda dulu marahnya. Jangan langsung diledakkan.

Tunggu sampai kitanya agak tenang. Karna kalau masih mendidih gitu, pasti nanti marahnya luber ke mana-mana, jauh melenceng dari point utamanya. Dan ini fatal banget.

Kalau saya pribadi, kalau lagi marah sama suami, mending diam dulu aja deh. Menyingkir dari dia dulu sementara.

Bagi yang muslim, bisa menenangkan diri dengan baca ta'awudz dan istighfar, lalu duduk atau berbaring. Kalau masih gak tenang, coba wudhu.

2. Jangan Meluapkan Kemarahan Saat Suami Lelah

Kalau suami pulang kerja, lalu kita langsung nyerocos ngomel, yakin deh bukannya paham kenapa kita marah, dia pasti malah ikut tersulut kemarahan juga.

Marah itu gampang banget nular, terutama kalo sedang capek.

Jadi kalau maumarah sama suami, sedangkan suami lagi capek (misal, baru pulang kerja), ya biarin dia istirahat dulu sejenak. Duduk dan minum dulu.

Sedangkan kitanya, kalau sanggup ya bikinin teh anget. Kalau gak sanggup karna gondhok banget, ya menyingkir aja seperti di point satu. Hehe.

Biar apa? Lagi-lagi biar efek kemarahan kita enggak meluber ke mana-mana 😊

3. Jangan Marah di depan Anak

Ini pasri semua orangtua tau ya. Anak itu ibarat spons, yang menyerap segala sesuatu ke dalam ingatannya dengan baik. Apalagi kalo balita. Ingatan-ingatan itu akan punya andil besar untuk membentuk karakter, mental dan psikologisnya.

Apa gak sedih bayangin anak-anak kita punya endapan memori tentang ibunya yang marah-marah sama ayahnya?

Pasti gak pengen ya, Bu 😊

4. Jangan Marah di depan Orang Lain

Kita dan suami kita itu ibarat pakaian yang saling menutupi. Termasuk menutupi aib dan kesalahannya.

Kalau kita marah-marah di depan orang lain, itu sama saja kita sedang menelanjangi diri kita sendiri dengan cara mengoyak baju yang menempel di badan kita.

Iya. Gak cuma suami yang bakal kelihatan jeleknya di hadapan orang lain. Kita pun juga.

Jadi kalau lagi mau marah, pas hanya cuma berdua aja 😊

5. Ingat Kebaikan Suami

Ini pamungkas banget sih menurut saya.

Tiap lagi marah banget nget nget sama suami, pas lagi fase diem seperti di point 1 tadi, saya biasanya mengingat-ingat kebaikan-kebaikan suami.

Dan, voilaaa... bukannya pengen ngomel-ngomel, saya malah jadi senyum-senyum sendiri.

Misal pun marahnya belum benar-benar hilang, pasti kita akan marah dengan cara yang berbeda.


Yaaahhh, ngomong mah gampang1 Orang kalau pengen marah sih marah aja, yaaa. Mana inget macem-macem kayak gitu!

Bisa, Bu... pasti bisa! Tinggal kita mau berusaha dan berlatih nggak.

Iya sih, perkara memanajemen marah ini memang butuh latihan yang gak sebentar. Tapi pasti bisa kalau kita terus mencoba 😊

Apalagi kalau kita punya cita-cita besar untuk terus menjaga bahtera rumah tangga kita langgeng πŸ˜‰

Point-point di atas adalah hal-hal yang memang selalu saya ingat, dan sudah pernah praktekkan. Dan, Alhamdulillah kemarahan saya jadi tersampaikan secara efektif. Suami jadi paham apa yang membuat saya marah, dan kita gak perlu jadi berantem gara-gara hal itu 😊

Yah, meskipun masih sering juga saya lepas kontrol. Yang penting gak berhenti untuk berlatih 😊

Kalian biasanya gimana saat sedang marah pada suami, Bu? Cerita dong πŸ˜ƒ