Kamis, 23 Juni 2022

Surat Cinta Untuk Anak Pertamaku

Assalamu'alaikum. Hai, Nak...

Hehe, akhir-akhir ini kamu sering protes yaa kalau ibu panggil 'nak'. Karena kamu merasa panggilan 'nak' itu untuk anak yang masih kecil, sedangkan kamu merasa sudah besar.

"Kakak bu, bukan nak..." begitu katamu. Ah iya ya... anak kesayangannya ibu sebentar lagi jadi kakak. Masyaa Allah tabarakallah.

Maafkan ibu yaa, yang sampai sekarang belum juga terbiasa manggil kamu dengan sebutan 'Kakak'. Masih sering keceplosan panggil nama langsung. Tapi ibu akan berusaha.

Akhirnya yaa, Kak... setelah ratusan doa yang kita langitkan bersama, Insyaa Allah sebentar lagi akan hadir seorang adik bayi di tengah-tengah kita. Seorang adik bayi yang pasti akan menjadi fasilitator untuk kita bertumbuh menjadi pribadi baru, yang semoga jauh lebih baik.

Dulu Kak, hati ibu serasa diremas-remas tiap mendengar kamu berdoa.

"Ya Allah, berikan Faza adek, biar Faza nggak kesepian. Adeknya Faza jangan lama-lama disimpan di langit ya Ya Allah..."

Harus ibu akui, doa-doamu itulah yang menjadi pemantik semangat ayah dan ibu untuk terus berikhtiar dan berdoa lebih kuat lagi agar Allah berkenan menitipkan amanah itu pada kita.

Dan Alhamdulillah, Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim, mengabulkan doa-doa kita.

Maka dari itu Kak, betapa ibu kaget ketika kemarin, kamu tiba-tiba berucap, "Aku harusnya nggak punya adek aja. Nanti kalau aku punya adek, pas lagi mainan, ibu suruh aku 'Zaaa, bikinin adek susu', terus 'Zaaa, jagain adeknya"

Deg!

Ya Allah, nak... maafkan ibu. Maafkan jika selama ini, usaha ibu untuk sounding ke kamu tentang peran seorang kakak, justru membuat kamu merasa terintimidasi oleh bayangan betapa beratnya peran itu bagimu.

Akhir-akhir ini, jujur saja ibu agak kewalahan menghadapi kamu. Ibu sampai merasa, yang dua mingguan ini ibu hadapi sama sekali bukanlah Faza yang ibu kenal. Emosimu sangat labil. Meledak-ledak. Dan sangat menguji kesabaran ayah-ibu, yang sayangnya masih lebih sering tidak sabarnya :'(

Tapi akhirnya ibu sedikit menemukan 'clue', nak. Tentang apa sebab dari labilnya kamu akhir-akhir ini. Mungkin ini akumulasi dari gejolak perasaanmu selama beberapa bulan terakhir ini, sejak kita tau di dalam perut ibu sedang tumbuh adek janin.

Seringkali sepulang ibu kerja, kamu sering minta ditemani mainan, dan sering pula ibu menjawab, "ya Allah, nak... punggungnya ibu sakit sekali, kan ibu sedang hamil..."

Tanpa ibu sadar, ibu terlalu sering menuntut kamu memahami ibu, memahami apa yang ibu rasakan. Dan di saat bersamaan, ibu seolah lupa bahwa kamu juga punya perasaan yang butuh dipahami.

Berkali-kali kamu mengungkapkan kekecewaanmu tentang ibu yang sekarang jarang sekali menemani kamu main karena alasan hamil. Tapi ibu bebal sekali tetap gak mau mengerti perasaanmu. Maafkan ibu ya, nak...

Akhirnya pelan-pelan ibu memahami, bahwa bukan cuma ayah dan ibu yang sedang kerepotan menghandle hati dan pikiran menjelang hadirnya anggota keluarga baru, tapi kamu pun juga merasakan hal yang sama.

Beberapa kali kamu tampak memikirkan sesuatu, lalu mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hangat hati ibu. Seperti kemarin, tiba-tiba kamu bilang, "Yaudah Bu, nanti kalau adek sudah lahir, kalau ayah capek cuci baju, Faza aja yang jemur. Nanti Faza bantu cuci botol susu adek juga."

Masyaa Allah, nak... Kepikiran sekali yaa sama peran baru sebagai kakak yang sebentar lagi akan kamu sandang?

Faza, anakku sayang... percaya sama Ibu, meski nanti sudah ada adek, sama sekali bukan berarti sayangnya ibu untuk kamu akan terbagi apalagi terkurangi. Sayangnya ibu justru akan berkali-lipat lebih besar sehingga tetap cukup dan rata untuk kalian berdua.

Jika nanti dalam perjalanannya kamu merasa ada sikap ayah atau ibu yang seolah berat sebelah, semoga kamu selalu punya hati yang lapang untuk memaafkan kami ya, Nak. Semoga kamu akan selalu paham bahwa itu bukan tolok ukur bahwa sayang kami ke kamu berkurang sejak ada adek.

Faza, anak pertamaku sayang... Ibu tau kamu tidak pernah memilih dilahirkan sebagai anak pertama.

Meski begitu, kamu mungkin akan menanggung beberapa konsekuensi atas sesuatu yang tidak pernah kamu pilih itu, nak. Konsekuensi yang mungkin adakalanya terasa berat.

Mungkin, ayah-ibu akan adakalanya secara tidak langsung 'menuntutmu' untuk bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adikmu. Atau membebankan tanggung jawab yang jauh lebih berat dari yang diterima adik-adikmu. Maafkan, ya nak.

Tidak apa-apa ya, nak. Karena menjadi anak pertama adalah takdir ya telah Allah gariskan untukmu, ayah-ibu yakin, Allah pun juga akan memberikan pundak yang kokoh untuk menanggung itu.

Yang pasti, meski kamu anak pertama, bukan berarti kamu harus selalu kuat, nak. Adakalanya kamu merasa lemah atau ingin menangis. Dan itu boleh. Sesekali merasa lemah justru menunjukkan sifat kemanusiawianmu. Karena sejatinya manusia memang lemah, dan justru itu kita selalu perlu meminta kekuatan dari Allah yang Maha kuat.

Dan, ingat satu hal ini, nak. Sampai kapanpun, sudah sejauh apapun langkahmu kelak, ibu akan selalu siap menjadi tempatmu pulang, saat kamu merasa butuh pelukan untuk menguatkan.

Dear Faza, anak pertamaku... frasa terima kasih rasanya tidak akan cukup untuk mewakili apa yang ingin ibu ungkapkan padamu.

Tapi apa daya, bahasa manusia terbatas, dan terima kasih memang rasanya masih jadi yang paling tepat.

Terima kasih ya, Nak. Terima kasih karena kamu adalah Guru Besar pertama dalam sejarah kehidupan ibu. Guru besar yang menemani ibu bermetamorfosis menjadi manusia baru.

Karena kamu, ibu jadi tau rasanya bertahan dari rasa sakit luar biasa lebih dari 12 jam -- yang ajaibnya langsung hilang begitu saja ketika kamu keluar.

Karena kamu, ibu jadi paham arti berjuang mati-matian untuk bisa memberimu ASI full selama 6 bulan, meski 24 jam hidup ibu rasanya jadi hanya tentang pumping pumping dan pumping.

Karena kamu, ibu jadi bisa sedikit mengalahkan ego untuk tetap bangkit dari rebahan ketika kamu mengeluh lapar. Padahal dulu, ibu akan selalu lebih memilih kelaparan daripada harus bergerak, sampai Mbahbuk harus mengalah menyuapi ibu demia tidak ingin melihat ibu telat makan.

Ya, karena kamu nak... kamu mendobrak zona nyaman yang selama berpuluh tahun ibu pertahankan.

Tapi apakah artinya ibu sudah banyak berkorban untukmu? Tidak, nak. Sama sekali tidak.

Kenapa ibu harus menyebutnya sebagai perngorbanan seolah ibu adalah 'korban'? Padahal kehadiranmu selain karena atas kehendak Allah juga karena ayah-ibu sendiri yang menginginkan.

Artinya, apapun yang ayah-ibu lakukan untukmu adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya ayah-ibu lakukan, sebagai tanggungjawab telah menjadi perantara hadirmu di dunia.

Sepertinya surat ibu sudah terlalu panjang. Semoga suatu hari kelak, entah masih ada ibu di dunia ataupun tidak, kamu punya kesempatan untuk membaca ini ya.

Sekali lagi, tanamkan di benakmu baik-baik, ibu sayang kamu tanpa syarat. Selama ibu ada di dunia, ibu berjanji akan berusaha untuk menjadi tempat paling nyaman untukmu beristirahat dari segala lelah dan bisingnya dunia.


Dari ibu yang penuh kekurangan,

tapi selalu ingin mencintaimu tanpa batasan.

Kamis, 19 Mei 2022

Hamil Kedua: Overview Trimester Kedua

 Ngebuttt nulisnya. Soalnya Insyaa Allah bentar lagi udah masuk trimester ketiga. Kan gak lucu ya kalau anaknya lahir, cerita tentang kehamilannya masih belum beres. Hehehe.

Trimester kedua di kehamilan kedua bisa dibilang lebih berwarna dan nano-nano rasanya.

Kenapa nano-nano? Karena beberapa keluhan khas ibu hamil mulai saya rasakan. Dari yang punggung bagian bawah sering pegel, apalagi kalau habis duduk seharian di kantor. Terus yang agak ganggu adalah sering terbangun tengah malam, lalu susah banget mau tidur lagi. Beberapa kali juga saya ngrasain sesak nafas dan ulu hati yang rasanya penuh sekali. Kayaknya ini efek asam lambung sih.

 

USG-Trimester-2

Oh ya, kalau di kehamilan pertama saya cenderung parnoan, terutama soal makan, di kehamilan kedua ini saya memutuskan untuk lebih santai. Dulu dikit-dikit khawatir, ini boleh gak yaaa buat ibu hamil, dll. Sampai mie instan pun gak berani makan sama sekali. Sekarang? Hajar aja! Haha. Tapi dengan satu prinsip: gak boleh berlebihan. Misal, makan mie instan boleh lah, maksimal sebulan sekali. Itu juga belum tentu.

Selain mie instan, saya juga masih minum kopi. Dan hampir tiap hari. wkwkwk. Soalnya saya baca gapapa kok minum kopi, asal maksimal sehari secangkir kecil. Saya malah seringnya cuma setengah cangkir. Soalnya kalau gak minum kopi, kepala saya pasti pusing sekali. Begitu minum kopi beberapa teguk, eh ilang pusingnya. Hihi.

Usia Kehamilan 16 Minggu

 Di usia kehamilan 16 minggu, saya gak nyangka ternyata dokter Kartika sudah bisa ngasih bocoran perkiraan jenis kelamin si dedek janin. Insyaa Allah sesuai dengan isi doanya Kakak Faza selama ini. Hihi.

Saya dan ayahnya sih masih tetap pada ikrar semula, apapun jenis kelaminnya, akan kami terima dengan penuh sukacita.

Di usia kehamilan ini pula, kami merencanakan untuk menyelenggarakan doa untuk 4 bulan usia kehamilan saya. Acara akan diadakan di masjid, bersama majelis pengajian ibu-ibu sekitar tempat tinggal kami. Semua sudah dipersiapkan dengan matang.

 

Buku 4 bulanan

Tapiii, qodarullah wa maa sya'a fa'ala. Kami hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.

H-3 acara pengajian 4 bulanan, tiba-tiba saya demam tinggi. Sempat muntah-muntah juga. Plus linu di seluruh tulang. Jujur agak parno karna konon katanya demam bisa berdampak pada janin. Akhirnya, sorenya mas suami membawa saya ke IGD.

Di IGD, saya di-swab. Dan yep, ternyata saya positif covid. Wkwkwkw. Saat itu memang kasus Omicron sedang membludak. Tapi dokter menenangkan, Insyaa Allah kalau sudah vaksin 1 dan 2, gejalanya gak akan terlalu berat.

Kemudian, saya diberi infus cairan vit. C di IGD. Setelah infus habis, saya dibolehkan pulang. Alhamdulillah sepulangnya dari IGD, demam saya sudah turun.

Btw, ini kali kedua saya dinyatakan positif covid. Dan Alhamdulillah yang kedua ini udah gak pake parno-parnoan lagi. Bedanya juga, kalau saat kena covid yang pertama, badan saya rasanya kayak dikerjain habis-habisan sama virus -- sehari seolah sehat, besok diare lagi, sehat lagi, ambruk lagi, gitu terus berkali-kali -- di covid yang kedua ini, Alhamdulillah progressnya sangat nyata dari hari ke hari. Hari pertama demam, hari kedua sudah gak demam, tapi ganti batuk. Hari ketiga batuk tiba-tiba hilang, terus ganti pilek. Di hari ke-5 saya swab ulang, dan sudah dinyatakan negatif. Alhamdulillah.

Mulai Periksa Ke Klinik Ngesti Widodo Ungaran

Belajar dari kehamilan pertama, saya ingin memilih tempat untuk persalinan dengan lebih serius. Di persalinan pertama dulu, saya bisa dibilang 'menggampangkan' sekali tentang ini. Milih di puskesmas karena biar yg nanganin cuma bidan dan sesedikit mungkin tim. Gak siap banget kalau harus melahirkan di Rumah Sakit.

Tapi saya lupa memperhatikan aspek lain. Di antaranya kelengkapan fasilitas. Dulu habis melahirkan saya sempat pendarahan, dan dari ciri-cirinya mengalami anemia yang lumayan lama pulihnya. Sempet 3 kali pingsan juga setelah melahirkan. Yakin deh, kalau di tempat persalinan yang lebih mumpuni, saya pasti udah ditransfusi, sehingga mungkin pulihnya lebih cepat.

Di kehamilan kedua ini, kami Insyaa Allah memilih Klinik Ngesti Widodo Ungaran sebagai tempat persalinan.

Selain karena testimoni dari beberapa teman dekat kami saat melahirkan di sana, setelah cari tau lebih dalam, suka banget dengan prinsip gentle birth yang diusung oleh Ngesti Widodo.

Pertama kali saya periksa ke klinik Ngesti Widodo adalah saat usia kehamilan saya 20 minggu. Pelayanannya super ramah dan penuh edukasi. Kayaknya soal pengalaman periksa hamil di Ngesti Widodo, nanti saya cerita di post berbeda aja deh, biar gak kepanjangan.

Prenatal Yoga

Sejak kenal Yoga dan dapat merasakan langsung dampak positifnya sejak rutin yoga promil, saya jadi suka banget sama yoga. Meski sukanya ya masih tahap kadang rajin kadang enggak, hehe. Tapi kalau disuruh milih jenis olahraga, saya mantap milih yoga.

Termasuk saat hamil ini. Saya cukup sering mempratekkan beberapa tutorial prenatal yoga di youtube. Dan Alhamdulillah, berbagai keluhan yang saya rasakan berkurang bangetttt tiap saya rajin yoga. Terutama pegal-pegal di area punggung hingga kaki.

PR di Trimester 2

PR utama dari dokter Kartika maupun Bu Bidan Cahyaning (pemilik Ngesti Widodo) sama sih. Minum minimal 2,5 liter per hari. Yang mana, ini masih berat banget buat saya, hiks.

Dokter Kartika berulang kali bilang, air ketuban saya sedikit. Tapi Bidan Cahyaning bilang, coba cari second opinion soal air ketuban ini.

Bidan Cahyaning juga wanti-wanti saya agar harus sudah mulai olahraga. Lalu ngasih PR tambahan agar saya mulai nungging sehari 2 kali masing-masing 5 menit, karena di usia kehamilan 26 minggu, kepala dedek janin masih di atas bagian kanan.

Pertama Kali Melewati Ramadan Saat Hamil

Saat hamil pertama dulu, saya ketauan hamil tepat di hari terakhir ramadan. Jadi bisa dibilang belum ada pengalaman atau bayangan gimana rasanya puasa saat hamil trimester 2. Jujur agak kepikiran dan grogi, 'kuat gak yaaa?'

Soalnya pernah ngrasain puasa saat menyusui aja rasanya Subhanalllah.... bener-bener lemes, gemeter, kayak mau pingsan 😭 Apalagi hamil, yang mana bayinya masih di badan saya? Gitu yang berkecamuk di pikiran saya

Tapi Masyaa Allah, ternyata sama sekali gak seberat yang saya pikirkan. Alhamdulillah saya kuat puasa, dan gak ngrasa berat-berat amat. Ya lapar dan haus sewajarnya orang puasa gitu. Cuma sempat kebablasan gak bisa bangun sahur 2x, jadi saya gak puasa. Gak berani kalau gak sahur.

 Saat menulis ini, usia kehamilan saya sudah memasuki 28 minggu alias udah masuk trimester 3. JAdi ceritanya lanjut di post berikutnya yaa, Insyaa Allah.

Teriring doa untuk teman-teman yang juga sedang hamil, atau yang masih menjadi pejuang garis dua. Semoga Allah kasih kemudahan untuk segala urusan teman-teman. Aamiin.



Senin, 25 April 2022

Hamil Kedua: Overview Trimester Pertama

Masyaa Allah, masih gak nyangka akhirnya bisa nulis cerita tentang kehamilan kedua :')

Saat saya udah mulai pasrah dan adakalanya hopeless. Pernah di suatu siang di tengah ikhtiar program hamil, saat sedang beberes lemari, saya nangis tersedu-sedu ketika menemukan kaos kaki Faza saat bayi yang belum pernah dipakai sama sekali. Saya ingat sekali dulu saya bilang, nanti buat adeknya aja, soalnya Faza sudah ada beberapa kaos kaki lain. Sedih banget karena saya gak nyangka perjalanannya ternyata akan senaik-turun itu.

Cerita Trimester Pertama Kehamilan Kedua

Dulu hamil pertama nulis ceritanya sih tiap bulan alias tiap habis kontrol ke dokter. Sekarang, yah jangan ditanya. Hihi. Ini aja udah masuk pertengahan Trimester 2, eh baru mau nulis cerita saat trimester satu. Gapapa lah yaaa, yang penting tetap ada dokumentasinya.

Di kehamilan kedua ini, Alhamdulillah masih sama seperti kehamilan pertama. Sama sekali gak ada mual muntah. Gak ada sakit punggung yang banget-banget kayak pas hamil pertama juga. Jadi Alhamdulillah bisa dibilang sangat nyaman.

Cuma mood-nya memang yang jadi kayak roller coaster. Termasuk mood soal makan.  Sering banget ngrasa laper, tapi gak tau mau makan apa. Bukan karna gak ada makanan, melainkan makanan yang ada tuh gak ada yang sesuai mood. Terus akhirnya cranky sendiri. Huhu.

Jadi mudah tersinggung dan 'meledak' pada hal-hal sepele juga.

Tapi Alhamdulillahnya, fase super moody ini gak terlalu lama.

Di kehamilan kali ini, saya dan mas suami memutuskan untuk priksa di klinik dokter kandungan deket rumah aja, Namanya Dr. Kartika, yang dulu juga menjadi salah satu dokter yang saya datangi saat awal-awal promil.

Pertama kali saya datang setelah test pack menunjukkan dua garis yang garis keduanya sangat samar, usia kehamilan saya sekitar 5 minggu. Dan Alhamdulillah ketika pertama kali USG, sudah langsung kelihatan kantung janin dan janinnya.

 

USG Pertama


Dokter Kartika meminta kami datang dua minggu kemudian untuk evaluasi denyut jantung, karna di usia 5 minggu, denyut jantung belum terdeteksi. Saya diresepkan obat penguat kandungan (Microgest), promavit dan folic acid 1000mg.

Ternyata obat penguat ini harganya lumayan banget, bund. Hihi. Total periksa plus obat 1 juta lebih saat itu.

Saya agak kaget waktu mulai minum obat penguat kandungannya. Efeknya bikin super duper lemes banget, plus ngantuk! Padahal obatnya harus diminum sehari dua kali, pagi dan malam. Saya biasanya minum jam 8-nan pagi, dan sekitar jam 10-an saya pasti gak bisa kerja. Cuma bisa tersungkur lunglai di meja kerja. Haha. Alhamdulillah, atasan saya memaklumi.

Dua minggu kemudian, kami datang ke dokter Kartika lagi, dan Alhamdulillah detak jantung si dedek udah bisa terdeteksi. Masyaa Allah. Gak terungkapkan lagi betapa buncah dada kami saat itu, bisa kembali dengar detak jantung yang berasal dari dalam rongga perut saya.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmus sholihat...

 

USG saat UK 12 minggu (akhir trimester 1)

Saya juga saat itu cerita tentang efek obat penguat yang bikin saya gak bisa kerja kalau pagi. Akhirnya oleh dokter Kartika, dosisnya dikurangi menjadi sehari sekali saja. Karna Alhamdulillah saya juga gak ada riwayat keguguran.

Dua kali priksa ke dokter Kartika, Faza juga selalu ikut. Dia senang sekali tentu saja. Apalagi dokter Kartika juga sangat friendly ke anak-anak. Beliau selalu mengikutsertakan si calon Kakak tiap memeriksa si janin.

"Waahh, ini detak jantungnya adek nih kak, kakak denger gak?" semacam-semacam itu.

Ohya, biaya priksa+USG di klinik dokter kartika sebesar Rp 165.000,-. Sedangkan untuk vitamin-vitaminnya boleh ditebus di situ, boleh juga tidak. Ditebus separuh dari resep juga boleh. Fleksibel pokoknya.

Selain priksa ke dokter, saya juga memutuskan untuk priksa ke puskesmas. Biar masuk ke database pemerintah aja sih. Hehehe.

Kalau periksa ke puskesmas, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan jauh lebih detail. Tentang riwayat kehamilan sebelumnya, terutama. Terus pemeriksaannya juga. Diukur lingkar lengan, perut, dll.

Bayar gak? Enggak. Gratis. Dan Alhamdulillah, petugas puskesmas di daerah ini ramah-ramah.

Terus apalagi yaaa yang harus diceritakan di Trimester pertama ini. Saking lamanya tertunda, sampai udah pada lupa kan jadinyaa, hiks.

Udah dulu aja deh sepertinya, nanti saya edit kalau ternyata ada yang kelewatan diceritakan.

Jumat, 18 Maret 2022

Cerita Promil Anak Kedua (8): Jawaban Atas Doa dan Ikhtiar

Selama promil, saya banyak sekali nyimak perjuangan teman-teman pejuang gari dua lainnya. Kebanyakan saya simak melalui sosial media.

Di antara banyak kisah itu, sering sekali saya mendapati cerita tentang penantian sekian tahun, udah ikhtiar macem-macem dari A-Z, eh akhirnya positif hamil hanya dengan minum X -- yang mana rasanya sepele sekali dibanding puluhan ikhtiar lainnya yang pernah dilakukan.

Dari cerita-cerita semacam itu, saya akhirnya menarik kesimpulan. Promil itu bukan tentang ikhtiar apa yang ampuh atau manjur, tapi tentang ikhtiar mana yang Allah ridhoi sebagai perantara hamilnya kita.

Dan ternyata, hal ini juga terjadi pada saya.

Dari judul tulisan ini, pasti sudah bisa ditebak. Ya, akhirnya dengan ijin Allah, saya hamil. Justru setelah dua bulan memutuskan untuk rehat ke dokter seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmussholihat...

Saat menulis ini, usia kandungan saya sudah menginjak usia 20 minggu. Kenapa baru nulis sekarang? Pertama, memang diniatkan baru akan cerita saat usia kandungan sudah menginjak 4 bulan. Kedua, biasa, emang suka nunda-nunda, jadi baru kesampaian saat usia kandungan sudah 5 bulan. Hehehe.

Oke, Bismillah... saya akan cerita dari awal ya. Apapun yang saya ceritakan di sini, semoga saya dihindarkan dari sifat riya', dan semoga Allah menjaga niat saya, bahwa semata-mata niat saya ingin berbagi -- terutama untuk teman-teman sesama pejuang gari dua.

Setelah akhirnya memutuskan istirahat ke dokter, saya lanjut ikhtiar sendiri, seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Tapi ada satu yang kelewat. Yaitu baca surah Yasiin dan Al Waqi'ah setiap hari.

Selama istirahat ke dokter, Alhamdulillah mens saya sudah balik teratur lagi. Gak pernah flek lagi. Saya masih tetap berusaha menjalankan pola hidup sehat. Makan dijaga, olahraga teratur (olahraga saya hanya yoga yang link-nya sudah saya sertakan di postingan sebelumnya. Saya juga masih minum berbagai suplemen seperti yang saya cantumkan di postingan sebelumnya juga.

Tapi yang paling saya rasakan perbedaannya adalah ketenangan hati saya. Saya gak lagi kemrungsung tentang kapan ya saya hamil dll.

Hati saya cenderung lebih tentram dan pasrah. Sudahlah, ikut ketentuan Allah saja. Pas mens, yang biasanya sedih mellow ga karuan juga Alhamdulillah udah biasa aja. Ya tetep ada sedikiittt sedihnya sih, tapi kayak udah nerima aja gitu.

Bahkan, di salah satu periode mens saya, darahnya keluarnya jauh lebih sedikit dari biasanya. Yang biasanya saya mens 7 hari, itu di hari ke-4 darah udah hampir gak keluar lagi.

Saya sempat was-was. Apakah ini salah satu tanda bahwa tingkat kesuburan saya sudah mulai menurun? Apakah memang rejeki anak dari Allah buat kami hanya 1?

Tapi terus saya kembalikan lagi pada Allah. Kalau memang iya, ya sudah, saya harus menerima dengan sabar dan syukur. Jangan sampai hanya karena keinginan memiliki anak kedua, membuat kami jadi malah lupa mensyukuri nikmat berupa kehadiran Faza dalam hidup kami.

Bulan November 2021, sekitar di atas tanggal 10, saya sudah mulai merasakan tanda-tanda menjelang mens seperti yang saya rasakan biasanya. Yaitu nyeri payudara. Cuma yang kali ini, nyerinya jauh lebih nyeri dibanding biasanya.

Hari berganti hari, kok mens saya gak kunjung datang. Tapi nyeri payudaranya semakin  hebat. Perasaan saya mulai gak karuan. Mulai ada rasa Ge Er, apakah saya hamil? Perasaan ini sebenernya ingin sekali saya tepis. Karena saya gak pengen patah hati lagi.

Saya bahkan cenderung mensugesti diri, ah paling besok mens. Gituu terus. Sampai akhirnya datang juga tanggal 20. Saya mulai gak bisa kontrol rasa Ge Er saya. Akhirnya saya bilang ke mas suami yang juga sudah ikut bertanya-tanya kok saya belum mens, untuk minta ijin beli test pack.

Soalnya sepanjang sejarah, meskipun hormon saya sedang kacau, gak pernah sekalipun saya telat mens. Pas hormon kacau, yang ada malah majunya jadi banyak banget kan. Awalnya mas suami bilang gak usah beli test pack dulu. Saya paham sih dia juga was-was seperti saya. Takut ternyata negatif seperti sebelum-sebelumnya, terus sayanya jadi mellow.

Tapi saya yakinkan lagi, Insyaa Allah saya ikhlas apapun hasilnya. Saya test pack biar pikirannya gak gelisah dan galau terus terusan aja. Kalau ternyata negatif, ya artinya hormonku memang belum benar-benar stabil lagi.

Akhirnya, beliau ACC. Pulang kerja kami mampir apotek untuk beli 5 buah test pack. Paginya saya cek. Tapi kali ini gak se deg-degan-an biasanya. Biasanya tiap test pack pasti saya gemetaran banget.

Hasilnya, terlihat garis satu. Saya langsung menghela nafas panjang. Saya letakkan test packnya beberapa saat. Kemudia saya ambil lagi, dan perhatikan lagi garisnya.

"Eh, lho... kok kayak ada garis kedua tapi samar banget ya? Atau hanya perasaanku aja karena saking Ge Ernya?"

Coba saya tunjukkan test pack itu ke mas suami. Mas suami kelihatan banget berusaha untuk stay cool. "Makanya kan ayah bilang jangan langsung test pack," gitu kata beliau. Beliau nyuruh test pack seminggu lagi. Tapi saya mana tahaaaan. Hahaha.

Paginya saya test pack lagi. Masih samar lagi. Pagi berikutnya saya test pack lagi. Tetep samar lagi.

 

cerita promil

 

Akhirnya suami gregetan dan nyuruh langsung daftar ke dokter aja biar sekalian jelas, daripada test pack test pack terus. Hihi.

Akhirnya kami pergi ke dokter. Kalau dihitung dari HPHT, saa datang ke dokter di minggu ke 4 menjelang 5 kalau gak salah.

Dan Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, dokter bilang memang sudah ada kantung rahimnya. Kami disuruh kembali dua minggu kemudian untuk observasi. Kemudian saya diresepkan obat penguat.

Begitulah cerita tentang jawaban atas doa dan ikhtiar saya dan suami. Sesungguhnya semuanya adalah karena Maha Rahman an Rahimnya Allah pada kami. Mohon doa semoga Allah memberi saya dan janin dalam kandungan saya kesehatan dan keselamatan.

Doa terbaik saya untuk teman-teman pejuang garis dua yang masih menanti. Jangan berputus asa dari Rahmat Allah, yaa. Big virtual hug :')


Kamis, 13 Januari 2022

Cerita Promil Anak Kedua (7): Istirahat Hati, Mental dan Dompet

Lanjut yuk ceritanya... Hehe.

Sesuai cerita sebelumnya, setelah penuh kegalauan berunding dengan suami, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dulu ke dokter. Keputusan itu kayaknya direstui oleh semesta, karena qodarullah, obat induksi sel telur yang diresepkan oleh dokter (beda dengan resep induksi sel telur sebelumnya) gak ada di beberapa apotik yang kami datangi, bahkan termasuk di farmasi rumah sakit tempat saya periksa sendiri.

Ya udah, pas.

Sebenernya ada perasaan sayang juga saat memutuskan berhenti ke dokter. Karena perjalanan sudah sejauh ini, terus harus berhenti di tengah jalan lagi. Takutnya nanti saat mau ke dokter lagi, prosesnya juga harus ngulang dari awal. Huhu.

Tapi mau lanjut, kok ya dompet dan mentalnya pengen istirahat banget!

Soal dompet sih jelas ya, gak usah dijelasin juga udah jelas.

Nah kalo soal mental, emang capek gimana sih? Gimana yaaa... hari-hari tuh rasanya jadi kayak gak pernah berhenti kepikiran, bulan ini bakal mens gak yaaa.... terus kerjaannya menghitung hari terus. Begitu mens, periksa lagi, kepikiran lagi. Pas HB sama suami juga jadi kurang bisa menikmati karena sambil mikir, ini bakal jadi gak yaaa ini bakal jadi gak yaaa... wkwkwkw.

Tapi meskipun akhirnya kami memutuskan untuk berhenti ke dokter, bukan berarti kami berhenti berikhtiar. Hanya saja, kami berikhtiar dengan cara lain.

Ikhtiar apa sajakah itu?

Ikhtiar Langit

Kalau Tiktok sering diidentikkan sebagai media sosial yang gak ada manfaatnya karena isinya cuma orang joget-joget, saya sama sekali gak setuju.

Tiktok sama seperti media sosial lainnya. Ada konten positif, ada pula yang negatif. Lagi-lagi kembali kepada pemakainya. Kenapa tiba-tiba ngomongin tiktok? Karena, saya mendapat banyak informasi bermanfaat mengenai promil dari platform ini. Salah satunya tentang promil ikhtiar langit.

Ada banyak versi promil dengan ikhtiar langit. Tapi intinya satu, yaitu merayu Allah melalui ibadah agar berkenan mendengarkan doa kita, karena anak itu sepenuhnya hak prerogatif Allah semata. Ini juga jadi moment di mana saya kembali merenungi, bahwa mungkin selama ini hati dan pikiran saya masih dominan tertumpu pada ikhtiar dunia yang saya lakukan. Secara gak sadar saya seolah 'lupa' bahwa sehebat apapun ikhtiar yang saya lakukan, ketentuannya tetap milik Allah.

Beberapa ikhtiar langit yang saya lakukan saat itu di antaranya:

1. Berusaha memperbaiki ibadah wajib secara umum, dan memperbanyak ibadan sunnah di antaranya sholat dhuha, sholat malam dan puasa sunnah. Saya juga sempat puasa sunnah daud meski hanya sebulan, karena saya sempat sakit dan setelahnya gak lanjut lagi. Lanjutnya puasa senin-kamis saja.

2. Membaca 'Laa ilaha illallah, Almalikul haqqul mubiin, Muhammadurrasulullah shodiqul wa'dil aamiin', sebanyak 40x setiap usai sholat subuh.

3. Membaca surah Maryam ayat 1-11 sesering mungkin. Kalau bisa setiap usah sholat wajib.

4. Mendengarkan Ruqyah promil di Youtube.yang terdiri dari Surah Ali Imran ayat 33-41 (7x).

 

bacaan ruqyah untuk promil

5. Sedekah diniatkan agar Allah berkenan menitipkan amanah seorang anak yang sholih/sholihah untuk kita.


Selain itu saya juga tetap ikhtiar secara jasmani dengan minum beberapa suplemen (beberapanya banyak banget sih, hihi). Di antaranya vitamin D, kapsul minyak zaitun, habbatussauda, plus saya akhirnya memantapkan diri beli suplemen yang harganya tergolong lumayan mahal. Yaitu Ovaboost dan FertileCM, produk dari fairhaven. Saya beli lewat agen resminya karena khawatir palsu kalo beli di seller lain dengan harga lebih murah.

 

suplemen untuk promil

 

Satu lagi, saya juga rutin ngikutin Yoga di channelnya Kak Naomi yang namanya "My Fit Daily Dose". Di channel tersebut ada playlist yang berjudul Yoga Promil. Kayaknya olahraga yang paling cocok buat saya adalah yoga. Selain gerakannya yang kalem dan gak bikin stress badan, gak terlalu bikin capek, saya juga ngrasain banget efeknya.

 

yoga untuk program hamil

 

Sejak rutin yoga, saya jarang banget ngrasain kaku-kaku di badan. Tidur juag lebih nyenyak. Pernah juga suatu hari, mens saya seperti kurang lancar. Di hari ke-4, darah yang keluar udah dikiittt banget dan berwarna coklat tua kehitaman. Saya agak worry karna itu juga salah satu tanda hormon saya belum stabil. Saya langsung ngikuti yoga yang untuk melancarkan menstruasi di channel Kak Naomi juga. Alhamdulillah, bi idznillah darah mens saya keluar lagi dengan lebih normal.

Tapi, yang paling utama dari semua ini, saya berusaha untuk berdamai dengan apapun ketentuan Allah. Tugas saya berikhtiar, adapun hasilnya, biarlah Allah yang menentukan.


 


Selasa, 23 November 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 6): Induksi Ovulasi

 Hai hai, ada yang nunggu cerita lanjutan promil anak kedua saya? Hehe, maapin lama banget yaaa updatenya.

Yaudah yok lanjut ya. Bismillah.

Setelah pada bulan Agustus lalu aku melakukan HSG, saat menstruasi kembali datang di bulan September, seperti biasa aku kembali datang ke dokter konsultan fertilitas di Rumah Sakit Islam Sultan Agung di hari (kalo gak salah) ke-5 menstruasi.

Tentu saja aku gak lupa membawa hasil HSG saya. Saat saya sodorkan dan dilihat oleh dokter Rini, beliau mengatakan hasilnya bagus, gak ada masalah dengan saluran tubaku. Cumaaa, aku masih bertanya-tanya tentang dokter radiologi yang kesulitan 'memasukkan' alat saat HSG hendak dimulai. Saat aku tanya soal itu ke dokter Rini, dokter Rini kekeuh bilang, gak apa-apa. Yaudah lah kalo gitu.

Baca cerita sebelumnya: Cerita Promil Anak Kedua Part 5

Lanjut, seperti biasa (lagi), dokter Rini melakukan USG Transvaginal. Kata beliau, PCO-nya membaik. Lalu beliau meresepkan obat pembesar sel telur atau kalo gak salah istilah lainnya induksi ovulasi. Obatnya diminum mulai hari ke-5 menstruasi, dan aku harus kontrol di hari ke-12 menstruasi untuk melihat ukuran sel telurnya apakah sudah sesuai harapan atau belum.

Singkat cerita, aku datang lagi di hari ke-12 dan dilakukan USG Transvaginal lagi. Haha, yang awalnya takut banget pas pertama USG Transvaginal, sampe lama-lama jadi B aja saking seringnya.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, ukuran sel telurnya sudah sesuai yang diharapkan dokter Rini. Kemudian dokter Rini memberi arahan agar saya disuntik obat pemecah sel telur.

Nah, dimulai nih dramanya.

Saat perawat menelfon bagian farmasi untuk kpnfirmasi apakah obat tersebut ready atau tidak, ternyata jawabannya tida. Konon, obat tersebut memang gak selalu ada di rumah sakit umum, karena jarang sekali yang membutuhkan, dan harganya lumayan mahal.

Padahal, obat itu harus disuntikkan hari itu juga. Akhirnya perawat membantu dengan menelfonkan RSIA Kusuma Pradja, dan Alhamdulillah di sana ready.

Akhirnya aku dan mas suami, di tengah cuaca Semarang yang saat itu kayaknya sedang di puncak panas, siang bolong, tancap gas naik motor ke RSIA Kusuma Pradja untuk menebus obat tersebut.

Oleh perawat RSI Sultan AGung saya dipinjami cooler bag yang sudah dilengkapi ice gel, karena obat pemecah sel telur ini suhunya harus terjaga.

Pas sampai Kusuma Pradja dan tiba saatnya membayar di kasir, aku agak shock. Kenapa? Mahal banget harganya, cuy! Haha. Ya dari awal emang dokternya udah bilang obatnya mahal. Cuma aku kira gak semahal itu. Kirain masih di kisaran ratusan ribu. Ternyata? 1.350.000. Hihi.

Tapi yaudah, karena memang sudah niat, Bismillah. Semoga Allah ridho dengan ikhtiar kami. Cuma itu doa kami saat itu.

Beres urusan di Kusuma Pradja, kami kembali ke RSI Sultan Agung untuk meminta tolong disuntikkan obat tersebut. Sebetulnya, kami disarankan agar suntiknya saat di rumah saja, disuntikkan sendiri oleh suami. Tapi suami gak cukup siap mental untuk melakukan itu. Jadi ya kami minta tolong perawat aja yang nyuntik.

Disuntiknya di daerah bawah pusar. Dan kami diminta berhubungan (kalau gak salah ingat) 48 jam sejak aku disuntik pemecah sel telur itu. Hihi. Kebayang gak sih, berhubungan jadwalnya udah ditentuin gitu?

Sezuzurnya, jadi gak ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Plus, entah kenapa saat itu kok aku kayak udah ada feeling 'gak berhasil'.

Paginya, perutku sakiiittttt banget, Super nyeri. Pas konsul ke dokter, katanya kemungkinan itu nyeri ovulasi. Tapi beneran nyeri banget, sampe aku minta ijin ke atasan untuk berbaring sebentar di ruang arsip kantor.

Singkat cerita, sesuai perkiraan, mensku kembali datang, tepat di tanggal perkiraan menstruasi di aplikasi pencatat siklus mens. Patah hati? Pastinya.  Tapi gak terlalu parah, karena udah ada feeling dari awal.

Hari ketiga mens, balik lagi ke dokter. USH Transvaginal lagi. Subhanallah 😂

Dokternya bilang, coba lagi dengan metode yang sama (induksi ovulasi dan suntik pemecah sel telur). Kalau 3x gak berhasil, disarankan lanjut inseminasi. Wow, langsung jiper tentu saja.

Pertama, suntik pemecah sel telur 2x lagi aja biayanya belum ada bayangan, eh inseminasi. Allahu Akbar 😅

Setelah penuh kegalauan berunding dengan suami yang lebih banyak nurutin apa mauku, akhirnya kami sepakat memutuskan untuk istirahat dulu. Istirahat ke dokter. Mengistirahatkan mental dan dompet. Hehehe.

Tapi bukan berarti kami berhenti berusaha. Kami hanya berpindah ke ikhtiar yang lainnya. Udah kepanjangan, Insyaa Allah menyusul part selanjutnya yaaa.

Senin, 04 Oktober 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part. 5): Titik Terendah Pejuang Garis Dua

 Cerita tentang promil anak kedua kali ini, akan sedikit beda sama cerita-cerita sebelumnya. Kalau sebelum-sebelumnya dominan cerita secara teknisnya, di part kali ini mungkin akan lebih banyak curhatnya.

Dan seperti biasaaa, tulisan-tulisan curhat macam gini, seringnya aku tulis justru saat perasaanya sudah lewat. Jadi bener-bener udah tinggal cerita aja.

Baca cerita part-part sebelumnya: Cerita promil Anak Kedua

Sebelum jadi pejuang garis dua juga, aku udah sering baca cerita perjuangan para pejuang garis dua. Yang aku tangkap dari perjuangan mereka adalah, bahwa pejuang garis dua itu bener-bener diuji secara mental, spiritual dan finansial. Ujian paket komplit.

Itulah kenapa, beberapa pejuang garis dua, biasanya cenderung sensitif, apalagi kalau ada hubungannya dengan masalah anak. Ada salah satu tetanggaku yang tiap habis nengokin bayi baru lahir, pasti langsung nangis berhari-hari di kamar. Ya karena memang seberat itu rasanya.

Qodarullah, aku akhirnya gak hanya sekedar baca kisah mereka. Tapi menjadi salah satu yang mengalaminya langsung.

Dan ternyata memang seberat itu 😂

Jadi, sejak aku mulai konsultasi intensif dengan dokter konsultan fertilitas pada bulan Ramadan lalu, saat mens-ku berkepanjangan, saat itulah rasanya aku ada di titik terendah dalam hidupku.

Mungkin sekitar 3-4 bulan aku mengalami fase titik terendah itu. Bener-bener bisa yang detik ini merasa baik-baik saja, lalu lima menit berikutnya tiba-tiba sediiiihhh bangettt nangis-nangis. Dan siklus seperti itu bisa terjadi berulang-ulang selama sehari. Bayangkan betapa capeknya.

Gambaran tentang malaikat dan setan yang sedang adu argumen seperti yang iasa kita lihat di TV tuh seperti beneran terjadi dalam diriku saat itu. Detik ini bisa khusnudzon bahwa takdir Allah pasti baik. Detik berikutnya mewek karena overthinking; kasian Faza jadi kalau gak punya saudara kandung, nanti gimana dia besarnya, nanti gimana kalau aku dan ayahnya sudah gak ada, dll.

Huhu, beneran deh capek banget kalo inget fase itu 😭

Belum lagi tentang keharusan mengubah gaya hidup. Yep, PCOS gak ada obatnya. Dia hanya bisa dikendalikan dengan modifikasi gaya hidup dan beberapa bantuan obat-obatan.

Modifikasi gaya hidup yang utama adalah mengubah pola makan dan rutin olahraga. Yang mana, tentu saja gak mudah. Apalagi untuk kondisi psikis yang sedang sangat labil.

Aku sempat 'marah'. Selama ini perasaan aku makannya nggak ngawur-ngawur amat. Masih makan sayur dan buah. Ada lho yang hampir tiap hari makannya junk food, gak doyan buah gak doyan sayur, tapi kok kayaknya baik-baik saja? Kok hamilnya gampang-gampang aja?

Tapi lama-lama mikir. Lama-lamanya bener-bener lama ya. Setelah merenung, latihan sadar nafas, minum vitamin D (ini pengaruhnya besar banget ternyata ke kondisi mental), Alhamdulillah lama-lama saya makin tenang. Makin bisa mikir jernih.

Yang paling utama, makin bisa melibatkan Allah dalam semua ini.

Bahwa takdir Allah itu pasti baik. Bahwa Allah gak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan si hamba. Bahwa Allah Maha mendengar segala doa-doa.

Intinya, Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih kalem. Masih tetap ikhtiar semampu yang aku bisa, tapi sambil terus merayu Allah. Sebelumnya kayaknya aku fokus utamanya ke ikhtiar-ikhtiar duniawi, tapi lupa bahwa yang menggenggam segala urusan itu Allah.

Intinya bukan ikhtiar mana yang paling manjur, tapi ikhtiar mana yang Allah ridhoi menjadi wasilah terkabulnya doa kita.

Buat teman-teman para pejuang garis dua, semangat yaaa. Kalau lagi capek, ingat kisah Nabi Zakaria, yang Allah perkenankan mendapat keturunan padahal dia dan pasangannya sudah sangat renta.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah :)

Sabtu, 28 Agustus 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 4): Analisa Sperma dan HSG

Masyaa Allah, akhirnya sampai juga di proses ini. Kadang masih gak nyangka bahwa aku akan melewati episode hidup di mana adegannya adalah punya pengalaman melakukan proses analisa sperma dan HSG (Histerosalpingografi).

Seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya, menurut dokterku, 3 hal yang harus dipastikan sebelum memulai program hamil adalah kondisi sel telur, kondisi saluran telur, dan kondisi sperma. Jadi sebelum 3 hal itu diketahui jelas kondisinya, dokterku belum ngasih obat apapun yang arahnya ke program kehamilan.

Kenapa postingan ini jeda cukup lama dengan pasrt sebelumnya? Karena qodarullah, kami diuji dengan beberapa hal yang bikin proses keduanya benar-benar tuntas. Yaudah yuk saya ceritain satu per satu ya.

Baca Part Sebelumnya: Promil Anak Kedua

Analisa Sperma

Tentu saja ini untuk pak suami ya. Haha, ya iyalah!

Kami memutuskan untuk melakukan tes analisa sperma di Rumah Sakit yang beda dengan rumah Sakit tempat kami promil. Karena apa? Karena RS tempat kami promil kan selingkup dengan tempat kerja kami. Otomatis banyak kenalan di situ. Pak suami malu kalau gak sengaja ketemu sama kenalan saat hari tes-nya. Hehehe.

Yaudah aku sih oke aja, yang penting dia nyaman. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan analisa sperma di RSIA Kusuma -- Rumah Sakit tempat kami kontrol tiap bulan saat aku hamil Faza.

Beberapa hari sebelumnya, saya telfon dulu ke Kusuma untuk membuat janji. Kami memilih hari Sabtu, saat libur kerja. Sebelumnya, kami juga diberitahu bahwa syarat melakukan analisa sperma adalah tidak berhubungan minimal dua hari, dan maksimal 6 hari.

Sabtu pagi kami datang, melakukan pendaftaran lalu diarahkan ke lantai dua. Di lantai dua, kami ketemu dengan petugas laboratoriumnya, lalu diberi penjelasan tentang prosedur yang harus diketahui.

Prosedur yang diberitahu oleh petugas antara lain, sperma sebaiknya dilakukan dengan cara masturbasi. Tapi gak boleh menggunakan bantuan pelumas, sabun, dll. Kalau dengan masturbasi ternyata gak berhasil keluar, diijinkan untuk berhubungan dengan istri. Cuma sebaiknya sebisa mungkin dihindari, demi mendapatkan sampel sperma yang valid, tanpa tercampur dengan cairan vagina istri.

Volume sperma yang keluar juga ada batas minimalnya, cuma kok aku lupa persisnya. Pokoknya kalau yang keluar ternyata kurang dari itu, ya berarti harus diulang lain hari. Wadaw!

Singkat cerita, kami diberi form yang harus diisi (di antaranya tentang jam sperma keluar, cara pengeluaran sperma, dll), ldan diberi tempat untuk menampung sperma (sama seperti tempat untuk menampung urine saat akan tes urine). Lalu kami di arahkan ke ruangan khusus untuk pengeluaran sample sperma. Oh ya, yang lucu adalah, petugasnya kelihatan grogi banget waktu menjelaskan prosedur-prosedur di atas. Hehehe. Mungkin masnya belum nikah.

Ruangan yang digunakan untuk ruang pengambilan sample sperma kayaknya bekas ruangan petinggi RS gitu. Hihi. Jadi cuma ada sofa, AC, TV, lemari, washtafel. Ohya, dengan pintu yang bisa dikunci tentu saja.

Singkat cerita, setelah sperma berhasil keluar, kami segera menyerahkan sampelnya ke petugas. Hasilnya baru bisa diambil Senin, karna saat itu hari Sabtu, dan Ahad tentu saja libur.

Senin sepulang kerja kami ambil hasilnya. Keesokan harinya, kami bawa hasilnya ke dokter Rini, dan dokter Rini bilang gak ada masalah dengan kualitas spermanya. Alhamdulillah.

Ohya, biasa analisa sperma di RSIA Kusuma Semarang sebesar 200 ribu. Lebih dikit (untuk kalo ditambah administrasi).

HSG (Histerosalpingografi)

Histerosalpingografi atau sering disebut dengan istilah HSG adalah sebuah prosedur yang dilakukan untuk melihat apakah ada sumbatan pada saluran telur atau saluran tuba falopi, atau tidak. Karena jika ada sumbatan, maka sperma gak akan bisa ketemu dengan sel telur. Caranya yaitu dengan memasukkan cairan kontras ke dalam tuba falopi, kemudian difoto. Ini tuh mirip foto rontgen gitu. Cuma sebelumnya harus dimasukkan cairan kontras dulu.

Proses HSG yang aku jalani, bisa dibilang agak drama. Hehe. Dan ini yang bikin cerita tentang promil anak kedua agak tertunda lama. Soalnya aku pengen nulisnya setelah HSG bener-bener clear.

Jadi ceritanya, di Rumah Sakit Islam Sultan Agung tempat saya promil, alat untuk HSG sedang rusak, jadi saya harus HSG di Rumah Sakit lain. Kami memutuskan untuk HSG di RSIA Kusuma Pradja Semarang, sama dengan saat suami analisa sperma.

HSG ini hanya boleh dilakukan antara hari ke 9-12 menstruasi. Jadi gak bisa dilakukan sewaktu-waktu. Saat itu, kalo gak salah saya HSG di RSIA Kusuma Pradja pada hari ke-10 menstruasi. Tapi harus bikin janji dulu sebelumnya. Saya bikin janjinya via telfon. Selain hanya boleh dilakukan pada hari ke 9-12 menstruasi, sebelum HSG juga gak boleh berhubungan minimal sejak 2 hari sebelumnya.

Pada hari yang ditentukan, kami datang sekitar jam 9 ke RSIA Kusuma Pradja. Saya bawa bekal kain sarung, cadangan celana dalam, dan pembalut wanita. Ini enggak disuruh sih, inisiatif pribadi aja berdasarkan hasil googling, hehehe.

Singkat cerita, saya dipersilakan masuk ke ruang radiologi, lalu diminta untuk ganti baju dengan baju yang sudah disediakan. Saya juga dipersilakan untuk buang air kecil dulu, di kamar mandi yang ada di dalam ruang radiologi tersebut.

Setelah itu, saya diminta untuk naik semacam meja, yang dilengkapi kamera -- yang merupakan si alat HSG-nya itu. Sayangnya saya gak ambil gambarnya. Jadi saya ambilin dari google aja ya.

 

HSG
Credit: listofhappiness.com

Kemudian dokter melakukan prosedur-prosedur yang sesuai dengan pengalaman orang-orang yang saya baca di internet. Sakit? Enggak. Cuma gak nyaman aja. Yah namanya juga organ intim yang di 'obok-obok'. Pasti gak nyaman lah.

Cumaa yang bikin saya shock adalah, gak lama berselang sejak dokter memulai prosedur, beliau tiba-tiba bilang, "lho, kok gak bisa masuk?". DEG! Aku langsung agak panik. Dokter nyoba lagi, terus bilang lagi, "tuh kan gak bisa masuk". Beliau nyoba lagi, lalu kasih instruksi ke asistennya yang kemudian bilang ke aku, "kami akan menyemprotkan cairan kontras ya, Bu. Mungkin  akan sedikit mules, tarik nafas, ya".

Kemudian dokter memberikan aba-aba, dan mengambil foto. Asistennya masuk ke ruangan kecil, kemudian bilang, "Cairannya gak masuk sama sekali, dok". Terus dokternya langsung bilang, "Wah yowis, nyerah."

Jelas saya makin mlongo. Kaget, panik, takut, overthinking, campur aduk jadi satu. Aku nyoba tanya kenapa kok gak bisa masuk, dokternya cuma jawab singkat, "ya berarti ada sumbatan". Udah, gitu doang, lalu pergi. Meninggalkan aku dengan segala ke-overthinking-anku. *CRY*.

 

hasil HSG

Keluar dari ruangan HSG, mas suami yang dari tadi nungguin di depan karena emang gak boleh ikut masuk tanya gimana, dan seketika itu aku nangis sejadi-jadinya. Mentalku jatuh sejatuh-jatuhnya. Optimismeku sirna. Dahlah pokoknya saat itu semua perasaan negatif campur aduk jadi satu.

Soalnya aku tau, kalo ada masalah dengan salurannya, artinya jalan keluarnya adalah operasi. Atau bayi tabung. Yang mana dua-duanya butuh biaya sangat besar.

Berhari-hari setelahnya hidupku rasanya suram banget. Soal ini nanti deh aku cerita di part selanjutnya.

Long story short, saya membawa hasil tertulis atas HSG hari itu ke dokter Rini - dokter kandungan saya di RSI Sultan Agung. Dokter Rini kaget, heran, sekaligus gak percaya. "Ah, masa sih gak bisa masuk?"

Lalu dokter Rini memutuskan untuk mengecek langsung dengan mencoba memasukkan alat entah apa gitu lah. Sejenis pemeriksaan dalam gitu. lalu dokter Rini bilang, "Ini bisa masuk kok". Huaaa, baru gitu aja saya udah agak lega. Meski tetep belum ketauan kondisi tuba falopi saya.

Oleh dokter Rini akhirnya saya disarankan untuk HSG ulang di Rumah Sakit berbeda. Dokter Rini menyarankan antara di RS Tlogorejo atau RS Dr. Kariadi. Setelah survey, akhirnya saya memutuskan untuk HSG ulang di RS Dr. Kariadi.

Tapi HSG ulang ini tertunda karena saya kembali mengalami flek berkepanjangan seperti Ramadan lalu. Hiks. bahkan sudah minum regumen pun, masih tetep flek. Padahal sebelumnya setelah minum Regumen, flek langsung berhenti. Akhirnya saya konsul ke dr. Rini via WA. Ya Allah, terharu banget aku tuh tiap ketemu dokter baik hati gini, yang gak sungkan membalas pertanyaan pasien melalui chatt.

Dokter Rini langsung ngasih resep baru, dan ngasih arahan untuk melakukan HSG setelah siklus menstruasinya teratur lagi alias sudah gak flek-flek lagi.

Resep yang beliau kasih adalah Diane. Yang juga merupakan pil KB. Hihi, gimana ceritanya promil malah dikasih pil KB?

Ternyata eh ternyata, pil KB itu juga bisa berfungsi sebagai pengatur hormon agar siklus menstruasi menjadi teratur kembali.

Setelah dua kali putaran resep (1 kali resep untuk 1 bulan), Alhamdulillah saya udah gak flek-flek lagi. Bismillah, saatnya HSG (lagi).

HSG Kedua

HSG kedua ternyata masih ada halangan berikutnya. Haha.

Waktu itu, saya dengan sotoy-nya asal datang ke Kariadi tanpa bikin janji dulu. Saya datang di hari ke 12, karena kebetulan bulan itu sampai hari ke 9, sedangkan hari ke 10-nya hari Sabtu (libur). Jadi mau gak mau baru bisa datang pas hari Senin.

Begitu sampai di Kariadi, saya daftar untuk ke Radiologi. Di Radiologi, mbak-mbak CS-nya bilang dikonsulkan dulu. Hasilnya, hari itu sudah gak bisa, karena dokter radiologi perempuan sudah full pasiennya. Yep, saya minta dokternya harus perempuan. Saya patah hati lagi tuh hari itu. Rasanya udah pengen segera tau hasilnya, dan biar bisa segera melangkah ke step berikutnya. Ini udah 3 bulanan stuck gara-gara HSG.

Saat itu saya diarahkan untuk kembali bulan depannya. Dengan catatan, hari pertama mens saya harus konfirmasi melalui telfon ke poli Radiologi, agak bisa dijadwalkan untuk HSG.

Saat menstruasi berikutnya datang, saya segera telfon ke Kariadi. Dan langsung dijadwalkan HSG tanggal 6 Agustus 2021. Pada tanggal tersebut, kami datang lagi ke Poli Radiologi Paviliun Garuda RS Dr. Kariadi. Setelah beres proses pendaftaran, saya diminta ke kasir dulu untuk membayar (info harga ada di akhir tulisan ini ya). Setelah dari kasir, saya diminta untuk ke Radiologi Sentral.

Nunggunya Alhamdulillah gak terlalu lama. Mungkin karena saya pasien umum, bukan BPJS, jadi antriannya cenderung lebih pendek.

Pertama, aku dipanggil masuk oleh dua orang petugas yang masih muda-muda. Kemudian mereka tanya beberapa pertanyaan. Seperti, apakah sudah pernah hamil, sudah pernah melahirkan, melahirkannya sesar atau normal, dll. Mereka juga menjelaskan secara singkat prosedur HSG yang akan aku jalani beberapa saat lagi. Setelah itu, saya dipersilakan untuk menunggu di luar lagi, karena mereka akan menyiapkan alatnya dulu.

Sampai sini, kesan pertama yang aku dapat adalah, petugasnya ramah banget! Friendly. Ruangannya juga terlihat jauh lebih proper dibanding di RSIA Kusuma.

Selang 15 menit-an, saya kembali dipanggil. Sama seperti di Kusuma, saya diminta untuk ganti baju, dan mengosongkan kandung kemih alias buang air kecil. Setelah itu diminta untuk berbaring di atas meja untuk HSG.

Petugasnya ternyata lebih dari dua orang tadi. Ada sekitar 4-5 orang. Perempuan semua, dan Alhamdulillah ramah semua. Jadi bukannya bikin risih, malah aku-nya jadi nyaman. Engga tegang, karena mereka ngajakin ngobrol. Oleh salah satu petugas, aku diberi tau bahwa akan dilakukan pengambilan foto awal. Setelah itu, aku disuruh nunggu bentar, karna dokternya sedang siap-siap.

Selang kurang lebih 5 menit, dokternya datang. Dokternya masih muda sekali, dan RAMAH JUGA. Ya Allah beneran deh aku terharu tiap ketemu nakes yang ramah gini. Waktu di Kusuma, dokternya mana ada ngajak ngobrol basa-basi, enggak sama sekali!

Oh ya, gak lupa aku juga cerita ke dokternya bahwa ini merupakan HSG keduaku, karena yang pertama gagal. Aku juga bawa hasil HSG dari Kusuma. Dengan sangat menenangkan dokternya bilang, "ya udah, Bismillah ya Bu, semoga yang kali ini berhasil"

Oke, saat proses HSG dimulai. Pertama, dokter membersihkan dulu area luar dan dalam vagina. Kemudian mulai memasukkan selang untuk memasukkan cairan kontras. Dan ternyata, dokter juga menemui kesulitan 😢

Bedanya, kali ini dokternya menyampaikan dengan cara yang sangat menenangkan. Beliau mengatakan, "Ibu, ternyata ini memang ada penyulitnya. Jadi sedikit agak lama mungkin ya, Bu".

Saya langsung agak panik lagi, "Terus gimana dok, gak bisa berarti?"

"Semoga bisa. Saya coba lagi ya, Bu" jawab dokternya.

Kemudian dokternya tampak sangat berusaha. Beberapa kali menginstruksikan kepada asistennya untuk minta diambilkan alat yang lain. Sampai akhirnya, Alhamdulillah cairan kontrasnya bisa masuk, dan gambar bisa diambil! Alhamdulillah ya Allah.

Dokternya bilang lagi, dari hasil foto-nya sih bagus, gak ada sumbatan di tuba falopi alias paten, cuma pas masukin selang di awal aja agak ada sumbatan.

 

hasil HSG
 

Singkat cerita, HSG selesai. Hasilnya foto dan keterangan tertulisnya baru bisa diambil Senin pekan depannya.

Dah ah, udah panjang banget.

Oh ya, hampir lupa info harga.

HSG di RSIA Kusuma Pradja tahun kurang lebih 1 juta. Tapi karna saat aku HSG di sana ternyata gak berhasil, aku disuruh bayar 400ribu.

Sedangkan di RS Dr. Kariadi, HSG plus administrasi 616.000 saja. Dengan pelayanan yang jauuhhh lebih baik. Jadi teman-teman di sekitar Semarang yang mau HSG, aku sarankan di Kariadi aja.

Semoga teman-teman sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya yaaa :)

Rabu, 09 Juni 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part 3)

Halohaaa

Bismillah, mau lanjutin cerita lagi yaaa. Tiap nulis, aku berharap semoga ada manfaat yang dibawa dan sampai ke pembaca dari tulisanku ini. Aamiin.

Jadi bertepatan dengan bulan Ramadan 1142 H alias bulan April 2021 Masehi, aku kembali mengalami apa yang aku alami di bulan Desember 2020 lalu. Yup, keluar flek beberapa hari setelah mens (kalo kali ini tepatnya 2 hari setelah mens), dan berkelanjutan sampe lebih dari hari ke 15 menstruasi.

Sedih bangeeettt, karena bertepatan dengan bulan Ramadan, hiks. Utang puasanya jadi banyak, huhu.

Pada hari ke-10/11 menstruasi akhirnya memutuskan untuk datang lagi ke dokter. Gak mau nunda-nunda lagi. Dan kali ini akhirnya saya bulatkan tekad untuk datang ke dokter sub-spesialis Konsultan Fertilitas. Yang Alhamdulillahnya, di Rumah Sakit yang se-naungan dengan tempat kerja saya, ada dokter konsultan fertilitas perempuan. Tepatnya di Rumah Sakit Islam Sultan Agung, dengan dr. Rini Ariani, Sp.Og, K.Fer.

Saat ketemu dr. Rini Ariani, beliau langsung memeriksa saya melalui -- lagi-lagi -- USG Transvaginal.

Dan, taraaa... sesuatu yang sudah familiar bagi saya, tapi belum pernah saya lihat sebelumnya di hasil pemeriksaan saya sendiri akhirnya.

 


Terlihat folikel-folikel kecil dan banyak di layar. Karena kebetulan saya udah lumayan sering baca-baca artikel yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita -- terutama sejak merencanakan untuk hamil lagi -- saya sudah bisa menduga apa yang terjadi, sebelum dokter menjelaskan.

Dan sesuai perkiraan saya, dokter Rini bilang, arahnya ke PCOS. Karena saya juga mengalami tanda-tanda lain seperti munculnya flek ini, rambut rontok parah berkepanjangan, sering merasa capek, dan tumbuh rambut halus di bagian tubuh tertentu yang sebelumnya nggak ada.

Dokter Rini juga bilang, ada indikasi saya kekurangan vitamin D. Konon, itu problem yang sangat umum pada para pekerja kantoran yang jarang terpapar sinar matahari. Dan setelah cari tau apa sih tanda-tanda vitamin D, saya tercengang. Hampir semuanya ada di aku. Huhu.

Aku juga tercengang membaca dampak dari kekurangan vitamin D ini. Padahal selama ini, minum suplemen vitamin D itu sesuatu yang kurang familiar kan ya. Nggak nyangka ternyata perannya buat tubuh sebesar itu.

Meski begitu, dokter Rini tidak (belum) menganjurkan saya untuk melakukan tes darah (tes lab), mengingat biayanya yang gak bisa dibilang murah, dan menurut beliau gambarannya sudah cukup bisa dilihat dari gejala-gejala yang muncul. Huhu, terharu. Dokter yang pengertian sekali. Karena banyak kan dokter yang menganjurkan tes ini-itu, tanpa kepikiran kemampuan finansial pasiennya. Padahal untuk promil, pemeriksaan yang dilakukaan pasti butuh banyak biaya, Jadi menurut beliau, alangkah lebih baik menekan apa yang bisa ditekan. Kecuali memang kondisi mengharuskan melakukan pemeriksaan tersebut.

Tapi, dokter Rini meminta kami untuk melakukan dua tes yang WAJIB dilakukan jika ingin menjalankan promil. Yaitu, tes analisa sperma untuk suami, dan HSG untuk istri.

Saya sempat nawar. Gimana kalau kondisi yang udah kelihatan bermasalah dibereskan dulu? Dalam kasus saya, hormon kacau yang bikin sel telur saya berukuran kecil-kecil itu yang dibereskan dulu.

Dokter Rini menolak. Beliau dokter yang prosedural sekali. Kalau memang mau promil, ya selain harus tau gimana sel telurnya, juga harus tau gimana spermanya, dan gimana saluran tuba falopinya. Karena percuma jika salah satu diperbaiki, tapi ternyata ada masalah lain yang belum ketahuan.

Baiklah.

Meski jujur saya agak shock sih. Shock-nya karena, wow -- lagi-lagi -- saya nggak nyangka akan ada di fase harus menjalani pemeriksaan-pemeriksaan semacam itu, yang sebelumnya cuma saya dengar lewat cerita.

Tapi yaudahlah ya, Bismillah. Que sera sera, whatever will be will be...

Akhirnya kami pun mengatur jadwal kapan saya akan HSG dan kapan suami analisa sperma. Gimana cerita soal HSG dan analisa sperma ini, lanjut lagi di Part 4 yaaa. Biar gak kepanjangan.

Jumat, 28 Mei 2021

Cerita Promil Anak Kedua (Part. 2)

 Bismillah, mau melanjutkan cerita promil anak kedua.

Kemarin waktu part. 1-nya release, ada satu teman dekat yang penasaran banget dengan lanjutan ceritanya. Minta spoiler, tapi aku kekuh nyuruh nunggu cerita part 2-nya di blog ini. Haha. Maafkan, sayaaang.

Hayuk lah, kita mulai ceritanya.

Sebelumnya baca dulu: Part. 1 Cerita Promil Anak Kedua

 

cerita-promil-anak-kedua


Setelah periksa di RSIA Anugerah Semarang dan disarankan untuk mencoba promil alami dulu, kami pun nurut. Balik ke promil alami seperti sebelum-sebelumnya.

Sampai akhirnya tibalah kami di bulan Desember 2020. Pada bulan Desember 2020 ini cukup banyak moment memorable untuk kami. Dimulai dari Faza yang akhirnya dikhitan, sampai... Kami sekeluarga (kecuali ibu mertua dan Faza), dinyatakan positif Covid-19 dan harus menjalani isolasi.

Saat isolasi di Pesantren covid yang disediakan oleh tempat kerja saya, pada hari ketiga saya dibuat kaget. Karena mendapati flek darah di celana dalam. Nggak banyak sih, tapi tetap saja bikin kaget dan was-was. Karena saat itu, saya belum ada seminggu beres mens.

Fleknya pun berlanjut terus bahkan sampai saya selesai isolasi, dan kemudian ketemu siklus mens berikutnya.

Pada saat mens itu, saya lagi-lagi datang ke dokter kandungan. Kali ini saya memilih ke ke klinik praktek dokter kandungan dekat rumah saya. namanya dr. Kartika Budi P, Sp.OG. Dan lagi-lagi, sekalian saya bilang, mau promil.

Tanpa babibu, saya langsung dikasih obat penyubur oleh beliau. Dan disuruh kembali pada hari ke-10 (kalo gak salah ingat) menstruasi, untuk USG Transvaginal.

Soal flek-nya gimana? kata beliau, mungkin stress dan kecapekan. Huhu, itu jawaban klise yang susah bikin saya percaya sebenernya. Tapi jadi masuk akan ketika bulan itu emang bisa dibilang saya stress banget saat harus isolasi.

Yaudah singkat cerita saya minum obat yang diresepkan oleh beliau. Lalu, kembali ke kliniknya di hari yang sudah ditentukan. Hasilnya? Beliau sempat kaget, lho mana kok gak ada telur yang ukurannya besar, padahal udah dikasih penyubur?? Waduh??!!

Tapi setelah beliau amati lagi, beliau bilang, eh sorry-sorry, ada deng. Tapiii, kata beliau yang ada sel telurnya hanya tuba sebelah kiri. Sedangkan yang kanan nggak ada. Saya agak bertanya-tanya, kok gitu? Apakah tuba kanan saya sudah gak berfungsi dengan baik? Sayangnya, pertanyaan itu hanya saya simpan dalam hati :(

Setelah itu, kami dikasih jadwal kapan aja harus berhubungan. Wooowww, jadwalnya banyak bangettt. Bahkan saat hari perkiraan ovulasi, kami diminta berhubungan setiap hari. Padahal bukannya sperma itu butuh waktu kurang lebih dua hari ya untuk 'mematangkan diri'? Entahlah.

Apakah kami patuhi sesuai jadwal yang dikasih itu? Sadly, enggak. Bukan karena gak mau atau gak suka ya 😂 Tapi jujur, bagi kami yang dua-duanya kerja dari pago sampai sore, ditambah sudah ada Faza, jadwal itu terasa gak masuk akal. Gak bisa bayangin lah pokoknya kalo berhubungannya macam 'kejar setoran' gitu. Khawatir malah bikin trauma kalo dipaksakan, huhu. Kualitas nomor 1, oke?! Hehehe.

Yaudah, habis itu akhirnya macet lagi. Kami gak balik untuk priksa lagi, wakakaka.

Setelah itu, saya balik ke mode naik-turun emosi lagi. Adakalanya sediihhh dan bertanya-tanya, kapan yaaa aku hamil lagi? Kenapa yaa aku gak kunjung hamil padahal dulu anak pertama cepet? Dll.

Sampai akhirnya masuk ke fase: ya sudah kalau memang jalannya harus gini. Semua atas pengaturan dari Allah yang Maha sempurna Pengaturannya, kan?

Tapi yaaa, percaya gak, tiap kita mau masuk fase baru yang lebih baik, pasti adaaaa aja cobaannya. Terutama cobaan hati. Waktu saya berusaha untuk 'nyelehke ati', diuji dengan kabar kehamilan anak kedua dari beberapa orang teman yang anaknya kurang lebih seumuran faza, bahkan ada yang jauh lebih kecil dari Faza.

Rasanya? Haha, yagitudeh. Pasti sempat mellow. Iri. Dll.

Beruntungnya, saya punya teman-teman supportif yang selalu ngasih vibe positif. Intinya, tiap orang punya jalannya masing-masing, dan tidak untuk dibandingkan. Alhamdulillah meski gak semudah kelihatannya, akhirnya saya bisa melewati fase itu dengan baik.

Lalu, sampailah kita pada bulan Ramadhan, yang bertepatan dengan bulan April 2021. Lagi-lagi, saya mengalami hal yang sama dengan yang saya alami pada bulan Desember 2020 lalu. Menstruasi saya memanjang. Saya terus-terusan flek hingga 15 hari lebih. Huhu sedih banget, mana pas Ramadhan pula kaaan.

Dan bagi saya, tubuh saya udah makin jelas banget ngasih alarm ketidakberesan.

Tanpa pikir panjang, saya langsung priksa. Dan kali ini, saya milih datang ke dokter kandungan yang punya sub-spesialis sebagai konsultan fertilitas. Atau yang punya gelar K.Fer di belakang gelar Sp.OG-nya.

Sebenernya saya udah tau lamaaa, bahwa kalau merasa ada yang gak beres dengan kesuburan atau ingin program hamil itu, datangnya bukan ke yang hanya Sp.OG, tapi yang K.Fer. Tapi emang dasarnya bandel sih anaknya, harus banget nyoba sana-sini dulu. Haha.

Alhamdulillah, di Rumah Sakit Islam Sultan Agung yang kebetulan merupakan lembaga tempat saya kerja, ada dokter konsultan fertilitas PEREMPUAN. Soalnya itu syarat mutlak dari suami. Huehehe.

Udah ah, lanjutannya di Part. 3 yaaaa. Udah panjang banget soalnya.